I DO NOT OWN NARUTO

KARAKTER-KARAKTER NARUTO BUKAN MILIK SAYA

KECUALI Momoka Abe/Abe Momoka, ITU MILIK SAYA.

-..-

-.-

...

Melihat tangisan putri sulungnya yang memohonnya untuk tetap tinggal di sisinya, Hiashi merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Mendengar semua ratapan putrinya itu, hati Ayah mana yang tidak akan terenyuh.

Tangis pilu Hinata membasahi kemeja mahal Hiashi. Dekapan putrinya yang begitu erat menahan kepergiannya. Hati Hiashi menyuruhnya untuk tinggal bersama putrinya, namun di sisi lain, pikirannya menyuruhnya untuk mendorong tubuh putrinya itu dan pergi bersama istrinya; keluarga barunya. kini terjadi pertempuran sengit di dalam diri Hiashi; antara nuraninya yang ingin merangkul putrinya dalam dekapnya dan egonya sebagai seorang suami.

Kian lama, keinginan hati dan pikirannya hanya menjadi semakin kuat dan kuat, hingga membuat Hiashi bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana.

Perlahan, Hiashi menggerakkan salah satu lengannya untuk membalas dekapan putrinya dan menenangkan kesedihan putrinya itu.

Untuk pertama kalinya, Hiashi merasakan sakit di dadanya ketika ia menyaksikan Hinata menangis sembari memeluknya.

Ketika tangan Hiashi hampir sampai ke tempat tujuan, suara rintih Momoka terdengar di telinganya.

"Hiashi..." lengan Momoka hadir di bahu Hiashi dan membuyarkan pikirannya.

Tangannya dengan sekejap berhenti dan merubah arahnya. Dengan cepat, ia memegang bahu putrinya dan mendorongnya dengan keras hingga berhasil melepaskan dekapan putrinya itu dari tubuhnya.

Tubuh Hinata kehilangan keseimbangannya dan akhirnya ia tersungkur ke lantai. Namun, itu semua tidak berhasil memupuskan niat Hinata. Dengan sigap, ia kembali bangkit dan hendak kembali menahan kepergian Ayahnya sebelum tiba-tiba sepasang tangan yang kuat hadir dan menahan tubuh mungil Hinata untuk mengambil langkah lebih jauh.

Hinata berontak.

Dengan sekuat tenaga Hinata berusaha melepaskan dirinya dari dekapan kedua tangan itu, namun tenaga kedua tangan itu terlalu kaut untuknya.

"Lepaskan aku!" teriak Hinata di tengah tangisnya. Lengan mungilnya sibuk , berusaha melepaskan diri. "Lepaskan!" Hinata terus berteriak dan berontak.

"Hentikanlah." Bisik pemilik kedua lengan itu dengan pelan ke telinga Hinata. "Dia sudah pergi."

Mendengar itu, kini Hinata memalingkan wajahnya ke depan dan melihat mobil yang membawa Ayahnya itu pergi meninggalkan rumahnya. Hinata menggelengkan kepalanya berkali-kali dan ia berusaha lebih keras untuk melepaskan dirinya dari dekapan kedua tangan kuat yang sedari tadi menahan dirinya. Akhirnya, Hinata memutuskan untuk menghentakkan kakinya yang saat itu mengenakan sepatu high heel sekuat tenaga ke kaki orang yang ada di belakangnya.

Dalam seketika, dekapan orang itu melemah dan Hinata mengambil kesempatan itu untuk membebaskan dirinya dan berlari, berusaha mengejar mobil yang membawa Ayahnya.

"AYAH!" pekik Hinata dan ia menambah kecepatan larinya.

"Jangan pergi! Ayah! Tidak! Aku mohon. Jangan tinggalkan aku!" teriak Hinata sembari berlari mengejar mobil di hadapannya yang semakin lama terlihat semakin kecil di pandangan matanya.

Setelah berlari cukup lama, Hinata terjatuh. Dari lututnya mengalir darah segar. Namun, Hinata tidak menghiraukannya dan kembali bangkit lalu berlari mengejar mobil itu walau dengan langkah yang tak sempurna hingga akhirnya ia kembali terjatuh saat kedua kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk berlari.

Hinata hanya bisa duduk di jalanan yang kasar dan kotor. Hinata menangis hingga ada seseorang yang datang dan memeluknya dengan erat.

"Sudah kubilang untuk menghentikan semua ini." Ucap orang itu pelan.

"Dia sudah pergi... dia pergi meninggalkanku..." Hinata membalas pelukannya dan mencengkram bagian baju orang itu dengan sangat kuat. "Kenapa dia pergi meninggalkan kita, Kak? Kenapa...?"


Seiring perjalanan, teriakkan dan bayangan Hinata yang berlari dan bahkan ia terus berlari ketika ia habis terjatuh dan melukai lututnya, terus terbayang di benak Hiashi.

Pikirannya melambung pada saat putri sulungnya itu menangis untuk yang pertama kalinya.

Sama seperti yang ia lakukan sekarang; Hinata menangis sembari memeluk Hiashi dengan erat, namun, Hiashi memarahinya habis-habisan karena ia tidak suka melihat anak cengeng karena baginya air mata hanyalah tanda dari kelemahan. Dan kelemahan adalah sesuatu yang paling ia benci di dunia ini.

Dan semenjak hari itu, Hinata kecil tidak pernah menangis.

Hiashi mengerutkan alisnya.

Benar.

Ia tidak pernah melihat putri sulungnya itu menangis semenjak ia memarahinya waktu itu. Namun, ia menyadari, bahwa air mata itu kini sering kali menghiasi kedua pipi putrinya. Suara yang memilukan yang hanya terdengar dari bibirnya di saat ia sedih, kini seolah telah menjadi bagian penting dari dirinya. Sejak kapan Hinata berubah menjadi seperti ini?

Sejak kapan dia menjadi gadis yang... lemah?

Tiba-tiba, bayangan mendiang istrinya terbayang di benak Hiashi. Senyuman Yuriko yang selalu menyambutnya ketika ia pulang kerja, senyuman putra tunggalnya yang selalu nampak saat ia bersama Yuriko dan senyuman Hinata kecil dengan pipinya yang kemerah-merahan terlihat jelas di benaknya, bahkan, Hiashi bisa melihat dirinya sendiri tersenyum di benaknya.

Sejak kapan ia mulai kehilangan rasa hangat yang selalu ia rasakan saat bersama dengan keluarganya itu? Semenjak kapan, semua itu berubah? Kapan... terakhir kali Hiashi merasakan rasa hangat di hatinya? Kenapa sekarang hanya dingin yang dapat ia rasakan?

"Apakah aku telah melewatkan semua kehangatan itu, hingga kini yang tersisa hanyalah dingin?" Tanya Hiashi dalam hati.


2 bulan kemudian...

Hinata terbangun dari mimpinya.

Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya, terutama di keningnya. Nafasnya datang dengan tersengal-sengal dan jantungnya berpacu jauh melebihi batas normal. Pipinya basah, namun, itu semua bukanlah karena keringat, melainkan air mata yang ia teteskan di mimpinya.

Kini, kejadian ini sudah tidak asing lagi baginya. Selama beberapa bulan terakhir, ia sering dihantui oleh mimpi yang sama. Mimpi buruk itu tak hentinya menghantui setiap tidurnya, hingga terkadang hal itu membuat Hinata takut untuk memejamkan kedua matanya.

Berjuta emosi yang harus ia rasakan setiap malamnya, di mana ia harus kembali ke hari saat Ayahnya pergi meninggalkannya. Semua itu, membuat hati Hinata lelah.

Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.

Dengan segera, ia mengambil segelas air putih yang tersedia di meja di samping temat tidurnya.

Hinata diam untuk beberapa saat. Ia mencoba untu menenangkan diri. Perlahan, ia meraba dadanya. Entah kenapa kini timbul suatu perasaan aneh, rasa yang sangat tidak bersahabat. Perasaan barunya itu sangat menyesakkan dadanya, ia merasa sulit bernafas ketika perasaan itu datang. Hinata merasakan rasa sakit di hatinya, setiap kali ia mengingat kata 'Ayah'.

Hinata dan Neji sarapan bersama dan sesekali Hinata akan bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan membuat bekal makan siang untuknya dan Kakaknya. Mereka lalu berangkat kerja bersama dengan Neji yang mengantarnya terlebih dulu ke Rumah Sakit sebelum ia pergi ke Kantor. Selama di perjalanan, mereka mengobrol. Mereka berbicara tentang berbagai hal, namun lebih banyak mengenai pekerjaan mereka dan bagaimana mereka melewati hari sibuk mereka.

Ketika akhir pekan tiba atau ketika Hinata libur dari kerjanya, ia akan menghabiskan waktunya bersama Kakaknya. Namun, ketika Kakaknya sibuk, ia akan menghabiskan waktunya bersama Itachi dan Keluarga Uchiha; khususnya Ibu Itachi, Mikoto Uchiha.

Semua itu kini sudah menjadi rutinitas keseharian Kakak-beradik Hyuuga ini.

Namun, tidak satu pun diantara keduanya yang mengungkit tentang Ayah mereka. Topik itu seolah menjadi salah satu yang menjadi tabu untuk mereka perbincangkan. Semua yang mereka rasakan untuk Ayah mereka telah mereka kubur dalam-dalam di hati mereka masing-masing.

Hinata tahu, di mana Ayahnya kini tinggal bersama keluarga barunya. Ingin hati untuk menemui Ayahnya dan melihat bagaimana keadaannya. Sering hati bertanya-tanya akan kesehatannya, namun, ia takut; Hinata takut... hatinya tidak sanggup untuk terluka lagi.

Hinata takut untuk menghadapi kenyataan bahwa Ayahnya lebih memilih keluarga barunya dibandingkan dirinya.

Neji mengetahui bahwa Adiknya kerap kali menatap pintu kamar Ayahnya dengan pandangan sedih, namun, ia tidak pernah bertanya atau membahasnya. Ia hanya mengabaikannya, seolah ia tidak pernah melihat tatapan mata itu. Karena itu adalah salah satu jalannya untuk menjaga hati Adiknya tersayang.

Sedangkan Hinata, ia tahu, Kakaknya tidak pernah menyinggung tentang Ayah mereka dan ia pun tahu Kakaknya sering memergokinya memandangi pintu kamar Ayahnya namun ia tetap tidak berkata apa-apa karena Kakaknya khawatir padanya. Maka, kini ia berusaha untuk menekan perasaan rindunya pada Sang Ayah demi menjaga hatinya yang sudah terluka dan demi menjaga perasaan Kakaknya. Karena ia tidak mau, hubungan Kakaknya dan Ayahnya menjadi lebih buruk dari pada ini.

Di sisi lain, Hiashi kini kerap terpikirkan akan putri sulungnya dan putra tunggalnya.

Semakin lama ia berpikir, semakin ia mulai mempertanyakan sikapnya sendiri. Keputusannya.

"Hiashi? Apa kau mendengarkanku?" tanya istrinya.

Hiashi tersadar dari lamunannya. "Ah, apa yang tadi kau katakan?"

"Sampai kapan kita harus tinggal di sini?!" Momoka menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kau bilang kita hanya akan tinggal di sini sebentar. Tapi ini sudah lebih dari sebentar!"

"Apa kau tidak betah tinggal di sini?"

"Aku tidak bisa tinggal di sini. Tidak bisakah kau lihat?! Kota kecil seperti ini?! Konoha jauh lebih baik! Ayolah, Sayang, kita kembali saja ke Konoha. Ya?" bujuk Momoka pada Hiashi dengan manja.

"Tidak bisa. Kita tidak bisa begitu saja kembali ke Konoha. Ayah tidak akan senang dengan hal itu."

Momoka mengerutkan dahinya. "Kenapa kau butuh persetujuannya untuk setiap hal? Sebenarnya, apa sih yang membuatnya menyuruhmu pindah ke sini? Terus, bagaimana dengan perusahaan jika kau tidak kembali ke Konoha?! Siapa yang akan mengurusnya?!"

Hiashi hanya diam.

"Kenapa kau diam?!" tanya Momoka menuntut jawaban. Hiashi tetap diam seriu bahasa. "Ah, sudahlah!" gumam Momoka kesal dan ia pergi begitu saja, namun, Hiashi menghentikannya.

"Malam ini, ayo kita makan malam di luar. Ajak Hanabi."

"Ah, aku permisi ke toilet dulu. Kalian lanjutkan saja makannya. Aku tidak akan lama." Ucap Momoka sebelum ia pergi meninggalkan Hiashi dan Anak mereka.

Momoka berjalan dengan elegan menuju toilet wanita. Setelah ia merapihkan penampilannya di toilet, Momoka keluar dan mulai melangkahkan kakinya, namun karena ia kurang hati-hati, akhirnya ia bertabrakan dengan seseorang.

"Momoka?" tanya orang yang tak sengaja ia tabrak.

Momoka memandangi sosok yang ada di hadapannya dengan seksama, lalu dia ingat. Laki-laki yang sudah berumur yang ada di hadapannya itu adalah salah satu produser sekaligus penulis yang sangat terkenal.

Lelaki itu meraih lengan Momoka dan mencium punggung telapak tangannya.

"Jiraya? Apa benar ini kau?" Momoka terlihat terkejut, namun ia tetap bisa memberikan sebuah senyuman cantik dan menawan pada pria di hadapannya. "Bukankah kau sedang berada di pulau pribadimu?"

"Aku baru kembali kemarin." Jawab lelaki itu dengan senyuman genit di wajahnya. "Itu karena..." Lalu ia merendahkan tubuhnya sedikit agar ia bisa selevel dengan Momoka dan berbisik di telinganya. "Aku merindukanmu. Momoka."

To be continue...