Chapter 10

Author POV.

Sehun berdiam diri dalam kamarnya. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang. pikirannya sibuk mencari jalan keluar dari masalah buntu ini. Hatinya gelisah tiap kali membayangkan bahwa ia akan berjauhan dengan Kai.

Pinggg...

Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layarnya. Sehun membuka pesan itu. sebuah pesan dengan cantuman vidio berdurasi dua puluh menit.

From: 018945XXX

Sekali bajingan tetaplah bajiangan bukan?

Sehun mengunduh file itu dan memutarnya. Senyuman kecut Sehun terlukis diwajah tirusnya saat ia melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Kai sedang mencumbu seorang wanita berambut pendek dengan gaun seksi. Mereka melakukannya di koridor sebuah hotel. Tangan Kai tak berhenti menggerayangi tubuh si wanita. Wanita itu memekik tinggi saat Kai meremat pantatnya. Hingga mereka sampai pada salah satu kamar, mungkin karena keduanya telah terbakar oleh nafsu, setelah memasuki kamar Kai hanya menendang pintu kamar itu pelan hingga ia tak sadar bahwa pintu itu tak tertutup sempurna.

Air mata Sehun kembali meluncur. Ia tau apa yang selanjutnya akan terjadi. Si perekam vidio ini memasuki kamar itu dengan mudah dan meletakkan alat perekamnya di atas meja menghadap ranjang dimana Kai dan si wanita itu sedang melanjutkan percumbuan mereka. "Kau sangat menggairahkann.." suara wanita itu tertangkap kamera. "Ini buruk, aku baru saja melakukannya. Aku tak ingin menyakitimu Sehun." Dan setelah kalimat Kai selesai, ia langusng membalikkan tubuh wanita itu dan menarik keatas gaun ketatnya. Kai beberapa kali membelai daerah sensitif wanita itu dan rangsangan itu ditanggapi dengan berlebihan oleh si wanita, ia mendesah kencang dan memainkan putingnya sendiri.

Sehun tak sanggup melanjutkan vidio ini. Ia tak ingin semakin sakit. Dan ia memutuskan untuk menghapus vidio laknat ini dari ponselnya. "Remember those 'i love you more'? i bet i won." Sehun meletakkan ponselnya dan kembali melamun.

.

.

.

.

.

.

Jika memang penghianatan datang dari sisi yang memiliki cinta lemah, lalu mengapa keadilan tidak datang ke sisi yang memiliki cinta terkuat? Hidup memang tak adil bagi mereka. Pada keadaan ini kemungkinan terbesar yang bisa terjadi hanyalah perpisahan. Ada kemungkinan kecil untuk bertahan, tapi siapapun yang memilih untuk bertahan harus benar-benar siap untuk merasakan kejamnya kebohongan, dan sakitnya kepura-puraan. Tuhan menciptakan cinta sejati untuk mahluknya, tetapi tidak semua mahluk dapat menemukan cinta sejatinya dengan mudah. Terkadang mereka tertendang pada sebuah keadaan yang membuat mereka semakin jauh dari garis takdir cintanya.

"Sehun kumohon beri aku kesempatan.." Kai meraih tangan Sehun, dan dengan gerakan pelan Sehun menarik tangannya. "Aku akan memberimu kesempatan untuk menjelaskannya padaku. Tapi bukan sekarang. Aku sedang berpikir. Kumohon mengertilah, dan beri aku waktu." Tidak ada nada pedas dan kebencian dari sisi Sehun. ia mengatakannya dengan tenang dan senyuman tipis.

Saat ini Kai dan Sehun telah kembali ke Malibu. Sehun mendiamkan Kai dan hanya mengatakan bahwa ia ingin pulang. Tidak ada untungnya juga jika memaksakan tetap berlibur jika hubungan keduanya sedang tidak baik. Rencana liburan yang telah Kai buat hanya berhasil setengah, dan sisanya hancur karena kebodohannya. "Baiklah kalau begitu, aku akan tidur di kamar lain. Besok aku akan membangunkanmu untuk sarapan." Sehun mengangguk. Ia tidur menyamping membelakangi Kai yang sedang berdiri di samping ranjang. "Aku mencintaimu Sehun." Sehun tak menjawab, ia hanya memejamkan matanya dan berusaha tidur. Pintu tertutup dari luar, "Seharusnya kau menghentikan sandiwaramu." Dan air mata kembali mengalir dari sudut mata Sehun.

.

.

.

Sinar matahari pagi menerangi seluruh penjuru ruangan, suara deburan ombak sama sekali tak terdengar di kamar ini karena teknik pembangunan modern. Suhu musim semi telah berganti dengan suhu musim panas, hangat dan menyejukkan.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, tapi Sehun telah bangun dari beberapa jam yang lalu. Ia berdiri di depan jendela dan memusatkan pandangannya pada titik terjauh lautan. Ribuan pertanyaan muncul dalam kepalanya, tapi ia tak tau kepada siapa ia harus bertanya.

Tok..tok..tok..

"Sehun kau sudah bangun? Aku membawakanmu sarapan." Suara Kai terdengar dari luar pintu, Sehun menghela nafasnya pelan. pintu kamar terbuka pelan. "Kau sudah bangun?" Kai berjalan ke arah meja kecil di samping jendela. Sehun hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Hatinya kembali sakit. "Selamat pagi Sehun." Kai meraih tangan Sehun agar duduk di kursi depannya. "Pagi Kai." Jawab Sehun pelan. "Makanlah." Kai menyodorkan sepiring pancake dan segelas jus organik pada Sehun. Sehun makan dengan pelan seperti biasa. Dan Kai, ia sesekali memandang Sehun sambil memotong makanannya.

Suasana canggung, Sehun tak mengatakan apapun, dan Kai tak tau bagaimana membuka pembicaraan. "Aku selesai." Sehun meletakkan garpu dan pisaunya bersebelahan. "Habiskan makananmu Sehun." Kai memandang piring dan wajah Sehun bergantian. Sehun menggeleng "Masakanmu sangat lezat, hanya saja aku tidak berselera. Selesaikan makananmu, aku akan menunggu." Sehun tersenyum, dan Kai otomatis juga tersenyum. Tapi sungguh ini bukan Sehun yang biasanya. Sehun memandangi Kai yang sedang makan. Tulang pipinya terangkat karena senyuman tipis, hanya saja tak ada corak merah muda kali ini. Kai tau Sehun sedang memperhatikannya, dan itu membuatnya merasa gugup.

"Aku juga selesai." piring dan gelas jus Kai kosong. "Kau makan dengan baik." Kata Sehun. "Dan kau tidak." Sehun menggeleng pelan. "Aku sedang tidak berselera." Kai memajukan badannya dan menggenggam tangan Sehun. Senyuman Sehun melebar, ia tau cepat atau lambat ini akan terjadi. "Sekarang biarkan aku menjelaskannya." Sehun mengangguk, "Baiklah, aku akan mendengarkan."

"Saat itu kita melakukannya disore hari, dan selesai sekitar jam delapan malam. Aku tau kau lelah, jadi aku membiarkanmu tidur. Tapi bagaimanapun juga, itu masih terlalu awal untukku. jadi aku memutuskan untuk mencari udara segar." Kai berhenti bercerita, ia memandang wajah Sehun. "Aku sungguh bodoh, bagaimana bisa aku melakukannya padamu?" Kai tertawa canggung pada kebodohannya. "Aku siap mendengar apapun darimu." Senyuman tipis Sehun tak pernah luntur dari bibirnya. Ia tak ingin terlihat sedih di depan Kai dan membuat Kai semakin bersalah.

"Aku mengunjungi sebuah club untuk sekedar minum. Disana aku bertemu dengan teman lamaku secara tak sengaja, kami berdua berbincang-bincang sambil minum. Memang ada beberapa wanita yang menemani kami waktu itu, tapi aku selalu menolak sentuhan-sentuhan mereka dan mengatakan bahwa aku telah memiliki kekasih. Pertemuan kami sangat menyenangkan, karena kami lama tak bertemu, kami memilliki banyak hal untuk diceritakan. Dan aku pikir aku minum terlalu banyak, aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya. Tiba-tiba saat aku bangun, aku berada dalam sebuah kamar hotel sendirian."

Sehun mendengarkan dengan baik. 'Kau jelas-jelas sadar dalam vidio itu. Kau bahkan mengatakan tak ingin menyakitiku dengan kelakuanmu.' Kata Sehun dalam hati. "Aku sungguh bodoh Sehun. Aku tak tau apakah aku pantas untuk kau maafkan. Pasti akan sangat sulit bagimu untuk memaafkanku." Wajah Kai memancarkan aura bersalah, dahinya berkerut dan pandangangan matanya berubah menjadi lebih sayu. "Apapun yang akan kau lakukan Sehun, kau harus tau bahwa aku sangat mencintaimu." Kai meremat tangan Sehun. "Aku sungguh mencintaimu. Tidakkah aku terlihat bodoh? Aku mengatakan aku mencintaimu berkali-kali berharap kau akan percaya setelah semua yang terjadi." Kai tertawa rendah. "Oh percayalah Kai Kim, aku lebih bodoh darimu." Kai menatap raut Sehun. Wanita berkulit pucat itu tak takut menatap dalam manik mata Kai.

"Sehun, katakan sesuatu. Kumohon. Kau mungkin akan kembali terpancing untuk mengataiku brengsek setelah aku mengatakan ini, tapi aku sungguh tak tau bagaimana mungkin aku yang memberi cambukan di punggungmu?" Kai menarik tangan Sehun dan mengecupnya. "Kau jelas tau apa penyebabnya." Jawab Sehun lembut. "Maafkan aku, tapi alasan yang sedang kupikirkan terdengar sangat tidak mungkin Sehun." Ia mengusap tangan Sehun lembut. "Aku.. tak tau harus memulai dari mana." Sehun menghela nafasnya dalam.

"Aku akan mendengarkanmu." Kai menggenggam tangan Sehun erat. Ia memandang gelang hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiri Sehun. Cincin permata yang Kai berikan pada Sehun beberapa bulan lalu seolah mengejeknya. Kai menatapnya dalam, memori indah itu kembali berputar. Saat ia untuk pertama kalinya menyatakan perasaannya pada seorang wanita yang ia cintai, saat ia memberikan cincin itu sebagai sebuah tanda kepemilikan untuk Sehun. Senyuman cantik nan tulus itu terbayang dibenak Kai, dan entah mengapa hatinya sakit. Bukankah Sehun yang seharusnya merasakan sakit? Tidak, bukan hanya Sehun. Kai juga kesakitan karena Sehun merasa tersakiti.

"Aku akan mengingatkanmu sekali lagi, bahwa aku bukanlah manusia. Aku bukan mahluk yang bisa seenaknya kau bohongi. Apa aku pernah bercerita bahwa manusia adalah mahluk terendah sebelum hewan dan tumbuhan? Jika belum, aku akan menceritakannya kepadamu. Semua mahluk hidup memiliki tujuan hidup masing-masing, tumbuhan dan hewan diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Lalu untuk apa manusia diciptakan? Untuk mengisi bumi. Mereka dibekali kemampuan dan otak yang cerdas untuk menciptakan barang-barang yang inovatif. Tetapi manusia adalah mahluk yang tamak, mereka tak akan pernah puas setelah menemukan sesuatu." Sehun menelan ludahnya. Sesekali ia melirik Kai, karena bagaimanapun juga ia baru saja mempermalukan kaum Kai.

"Lanjutkan Sehun, aku tak keberatan." Kai tersenyum. "Seperti yang pernah aku ceritakan, manusia hidup berdampingan dengan dunia lain, dunia roh, dan aku adalah salah satu mahluk yang bisa hidup di dua dunia itu. Kau mungkin tak bisa melihat mereka, tetapi aku bisa. Secara hierarki1 kaumku berada jauh diatas manusia, itulah sebabnya kami mengetahui banyak hal tentang alam semesta yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran logis manusia. Mahluk lain menyebut kami dewi, tetapi kami bukanlah satu-satunya dewi yang tercipta. Ada ratusan dewi dari berbagai jenis ciptaan di alam semesta ini. Kami memiliki ikatan yang kuat dengan semesta, dan semesta adalah tuhan kami. Saat kami melakukan kesalahan maka kami akan dihukum." Sehun memejamkan matanya, perasaan bersalah kembali menyelimuti hati dan pikirannya. Kai mengusap kulit Sehun, berharap ia bisa menenangkannya.

"Aku tak pernah tau jenis hukuman apa yang diberikan oleh semesta pada ciptaan pembangkang, sampai akhirnya aku merasakannya sendiri." Alis Kai berkerut. "Kau mengalami hukuman itu?" Sehun tersenyum tipis dan mengangguk. "Kita menyalahi aturan semesta Kai. Dan itu adalah kesalahan terbesarku. Kita menyatukan tubuh, hati dan pikiran kita dan mengesampingkan kenyataan yang akan kita hadapi. Pepatah mengatakan 'Kau bisa memilih jalan apa saja yang ingin kau lalui, tetapi kau tak bisa memilih konsekuensi apa yang akan kau terima.' Tubuh dan rohani kita telah terikat Kai. dan itu adalah penyebab aku merasakan hukuman ini saat kau berhianat."

"Sehun maafkan aku. Aku benar-benar tak sadar melakukannya. Aku sungguh mencintaimu Sehun." Sehun tersenyum. Ia menganggap kalimat cinta Kai hanyalah bualan. Vidio itu membuatnya tak percaya pada Kai sama sekali. Tak peduli siapapun si pengirim, yang ia ketahui Kai sengaja melakukannya.

"Kau tau Kai, aku bukanlah tipe wanita yang akan memberimu kesempatan setelah kau menggoreskan luka. Tetapi karena aku sangat mempercayaimu, aku dengan bodohnya menyuapimu dengan sebuah kesempatan serta harapan. Dan karena kau terbiasa mempermainkan wanita, kau dengan mudah menghancurkan kesempatan yang telah kuberikan. Kau menghancurkan kepercayaanku Kai. Kau menghancurkanku." Suara Sehun bergetar, air mata panas itu meluncur membasahi pipinya.

"Sehun maafkan aku." Kai menarik tangan Sehun ke depan bibirnya. Ia menciumi genggaman tangan si wanita cantik itu. Ia tak tau ia telah menghancurkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. "Kau tau Kai, maaf tak akan merubah apapun. yang terjadi tak akan dapat terulang. Lukaku memang akan sembuh, tapi mungkin bekasnya akan selalu disana."

"Hukum aku Sehun, pukul aku, sakiti aku sesukamu. Aku bersalah, sungguh bersalah." Kai menghirup aroma tangan Sehun, cairan bening itu keluar dari sudut mata Kai tatkala ia memejamkan mata. Suaranya melemah. Ia terdengar putus asa, kemungkinan terburuk yang berada di pikiran Kai membuatnya semakin takut.

"Aku tak akan menyakitimu Kai. Kau adalah cinta pertamaku. Cinta pertama yang mengenalkanku pada dunia luar. Kau adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Terima kasih." Sehun tersenyum. Ia tak pernah melihat Kai semenyedihkan ini, tapi ia harus berkaca, ia tak jauh lebih menyedihkan dari pada Kai.

"Jangat mengatakan itu Sehun, kau membuatku takut. Kau seolah ingin meninggalkanku, bukankah kau bilang tubuh jiwa dan raga kita telah bersatu? Apa yang akan terjadi jika kau pergi?" Kai meremat tangat Sehun. "Entahlah, yang jelas itu tak akan mempengaruhimu jika memang kau bukan ditakdirkan untukku. kau tak perlu khawatir."

"Kau berpikir itu tak mempengaruhiku? Aku pikir kau salah Sehun. Lalu apa yang akan terjadi kepadamu Sehun? tak ingin kau kesakitan." Sehun tersenyum. "Aku tak tau. Aku akan menyerahkan ini semua pada semesta."

"Kau tau aku sudah terlalu lama tidak berubah. Aku merindukan ekorku." Sehun berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. "Kau bisa berenang di kolam renang. Brenda mengambil cuti musim panasnya." Kai berdiri, jujur saja ia ingin selalu bersama Sehun. Sehun mengangguk mengerti dan berjalan ke luar kamar.

.

.

.

Sehun duduk di tepi kolam dengan kaki memainkan air. Ia berusaha memancing nalurinya untuk berubah. "Bisa kau tinggalkan aku? aku ingin sendirian." Kata Sehun pada Kai yang sedang memperhatikannya. "Baiklah Sehun." Sehun mendengar langkah kaki Kai menjauh. setelah beberapa menit, ia berdiri dan mulai melepas semua pakaiannya. Dalam waktu singkat, sisik-sisik berkilau merah kemerahan itu mulai muncul, kedua kakinya perlahan menyatu membentuk sebuah ekor yang indah. "I miss this feeling." Sehun menjatuhkan diri dalam kolam renang dan berenang ke sudut terjauh kolam itu. Gerakannya tidak terlalu agresif mengingat ia harus sedikit hati-hati karena menyesuaikan tulangnya yang pernah patah.

Ia berenang kesana kemari, meskipun kolam renang ini tak seluas lautan Sehun tetap menikmatinya. Ia tak menyadari bahwa Kai sedang memperhatikannya dari jendela lantai dua. Melihat Sehun yang berenang ke tiap sudut kolam renang membuatnya sadar, kolam renang bukanlah tempat yang diinginkan Sehun. Kolam renang itu terlalu kecil untuk Sehun. "Apa yang harus aku lakukan Sehun?"

Sedangkan Sehun, setelah puas beerenang menyusuri kolam renang ini ia memutuskan untuk duduk dalam dasar kolam. Air dingin kolam membantunya berpikir dengan tenang. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kolam dan memandang dindin lain yang berada dihadapannya. 'Apa aku harus kembali?' Tanya Sehun pada dirinya sendiri. 'Kenyataan menantimu Sehun.' Jawab suara lain dalam kepalanya. 'Aku tau. Aku harap kau membunuhku saja.' jawab Sehun lagi. Jujur saja bagi Sehun mati bukanlah hal yang menakutkan, ia cukup tau banya tentang dunia, dan ia telah hidup terlalu lama. 'Kau tau semesta tak akan pernah melakukan sesuatu seperti apa yang kau minta.' Jawab suara asing itu lagi. 'Aku juga tau itu.' balas Sehun dengan senyuman kecil. Ia tak mendengar apapun seterusnya. Dan ia kembali melamunkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang mungkin terjadi.

Sehun muncul ke permukaan. Ia menemukan segelas jus organik dan beberapa potong daging ikan salmon mentah dengan sebuah note kecil 'waktunya makan siang. Selamat makan .' Sehun meraih gelas jus itu dan meminumnya. "Aku akan merindukan rasa buah-buahan di dunia manusia." Sehun kembali melamun menatap note kecil dari Kai, "Dan aku akan merindukanmu."

.

.

.

.

.

.

"Kai aku ingin bicara." Sehun meletakkan garpu dan pisaunya bersebelahan. Makan malam mereka selesai. karena tak ada brenda, kali ini Kai harus memasak sendiri. "Bicara saja, akan kudengarkan." Kai tersenyum tipis. Kai merasa sikap Sehun kali ini jauh lebih membuatnya takut. Ini memang bukan kali pertama mereka memiliki hubungan buruk, tapi sikap Sehun yang sering tersenyum kecil dan tenang kali ini terkesan berbeda. seolah Sehun menyimpan jutaan rahasia dibalik senyuman cantik itu.

"Kau tau aku harus kembali." Sehun menumpukan sikunya di atas meja dan menggenggam telapak tangannya. "Kapan Sehun." Kai tau, cepat atau lambat Sehun akan tetap memutuskan untuk kembali. tapi ia tak pernah menyangka akan secepat ini. "Aku ingin mendiskusikannya denganmu." Senyuman basa-basi Sehun luntur. "Apa jika kau kembali ke asalmu, kau tak akan pernah menemuiku lagi?" Dahi Kai berkerut. "Kau tau dimana aku berada, dan tau bagaimana cara menemuiku. Sedangkan aku tidak tau sama sekali tentangmu." Lanjut Kai.

"Aku akan menemuimu jika memang ada kesempatan." Sehun terdengar tak yakin dengan kalimatnya. "Kesempatan? Apa kau sangat membenciku Sehun? bukankah kau bilang kau bisa menemuiku kapan saja kau mau?" Sehun memang pernah mengatakannya. "Tidak, aku tidak membencimu. Tapi kau membuatku meragukan cinta. Aku pikir cinta adalah hal tersuci yang tak akan bisa didustai. Dan kau mematahkan apa yang kupercaya." Aura dingin memancar dari tubuh Sehun.

"Percuma saja aku mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu jika kau sama sekali tak membuka hati." Senyuman kecut terukir di bibir Kai, ia tak pernah merasa segelisah ini seumur hidupnya. "Malam itu bukan sepenuhnya kesalahanku Sehun. Aku tidak meminta wanita itu tidur denganku, aku bahkan tak ingat wajahnya."

"Itu adalah cerita versimu Kai. Aku tak mungkin mempercayai sesuatu hanya dari satu sisi saja." Sehun menahan suaranya agar tak berteriak. Hatinya kembali sakit karena mengingat kejadian itu. "Tentu saja kau tak mempercayaiku Sehun. Bagimu aku adalah pria bajingan yang selalu mempermainkan wanita bukan? Satu hal yang harus selalu kau ingat Sehun, kau adalah wanita terhebat yang pernah aku temui, kau membuatku percaya pada cinta. Terima kasih." Sehun terdiam.

"Sehun, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tak akan menghalangimu. Kupikir kau terlalu banyak menderita karenaku." Kai menyerah, ia tak ingin menyakiti Sehun. Jika memang ia harus ditinggalkan, maka ia akan menerimanya. Sehun dan Kai terdiam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kapan Sehun?" Kai kembali bersuara.

"Aku bisa pergi kapanpun yang kumau, tapi kurasa semakin cepat semakin baik." Jawab Sehun. "Kalau begitu bisakah kau mengabulkan permintaan terakhirku?" Kai benci mengatakannya, ini terdengar seperti perpisahan. "Aku akan mengabulkannya selama itu tidak memberatkanku. Katakan apa permintaanmu."

"Malam ini, hanya malam ini, bisakah kita melupakan sejenak masalah ini dan menjadi kita yang dulu? Aku merindukan Sehun yang nakal." Sehun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Kai. Dengan senyuman konyolnya Sehun duduk di pangkuan Kai dan memeluk leher Kai erat. "Aku kenyang." Kata Sehun dengan nada manjanya, sepertinya sandiwara telah dimulai.

"Kenyang? Apa yang kau inginkan baby girl?" Kai membelai punggung Sehun. "Eumm.. milk and cuddle?" Sehun memiringkan kepalanya. Kai tersenyum, ia akan benar-benar merindukan Sehun yang seperti ini. "Alright, good girl gets what she wants." Kai bediri dengan Sehun dalam gendongan koalanya. Ia berjalan menuju kulkas dan menyiapkan segelas susu untuk Sehun. "Now princces, here is your milk." Kai menurunkan Sehun dari gendongannya, sehun meminum susu itu dengan cepat dan mengeluarkan sendawaan kecil setelahnya. Kai terkekeh karena tingkah lucu Sehun.

Kai kembali memposisikan Sehun dalam gendongan koalanya. "Baby girl, not there." Kata Kai saat ia merasa Sehun sedang menghisap lehernya. Taring Sehun membelai permukaan kulit Kai, dan itu membuat Kai merasakan sensasi geli yang menyenangkan. Sehun hanya membalas itu dengan kekehan kecil. Kai meremas pantat Sehun dan mendudukkan Sehun diatas counter dapur dan menarik diri agar hisapan Sehun lepas. "Kau benar-benar." Kai melihat pantulan dirinya dari cermin di dapur, ruam merah terlihat jelas di lehernya karena Sehun.

"Aku harus membalas ini." Kata Kai dengan senyuman tipis pada Sehun. Sehun kembali memekik saat Kai tiba-tiba mendekat mengecup dan menggigiti kecil lehernya. Sehun tertawa geli, ia merebahkan punggungnya di atas meja dengan kaki yang masih melingkari pinggang Kai. "Aahh nini.. punggungku sakit." Kai seketika membelalakkan matanya, bagaimana ia bisa lupa bahwa luka di punggung Sehun masih merah. "Baby maafkan aku.." Kai membantu Sehun duduk tegak sambil mengusap pinggangnya pelan. Ia kembali menggendong Sehun dan membawanya ke kamar mereka.

"Apa kau ingin menonton film baby?" tanya Kai. Ia menempatkan tubuh Sehun di atas ranjang sambil meraih remot tv. "No, aku ingin cuddle." Sehun meraih leher Kai dan memeluknya. Kai tersenyum, ia menghirup aroma rambut Sehun dalam. Ia tau ini akan jadi yang terakhir untuknya. "Baiklah, kalau begitu kita cari posisi yang nyaman untukmu." Kai mengubah posisinya, ia menarik Sehun agar berbantalkan lengan kirinya dan membawa tangan kiri Sehun memeluk tubuhnya. Dengan begini punggung Sehun tak akan terhimpit.

"Apa kau merasa nyaman?" Kai menarik Sehun lebih dalam. Sehun mengangguk sambil memejamkan mata. "Apa kau yakin ingin tidur?" Sehun merasa dahinya dikecup lama oleh Kai. "Tidak. aku belum mengantuk. Jangan paksa aku." Sehun mengangkat tubuhnya dengan berpangku pada sikunya. Ia sengaja memasang wajah cemberut sebagai tanda protes. Kai terkekeh melihat tingkah menggemaskan Sehun. "Baiklah baiklah little girl, kau sungguh menggemaskan." Bibir merah yang sedang cemberut itu Kai kecup sekilas.

"Mengapa sebentar sekali?" Sehun kembali mengeluarkan nada protesnya. "Ha?" Kai mengangkat alis kanannya karena tak mengerti maksud Sehun. "Mengapaa hanya dikecup sebentar?" Sehun memutar matanya. "Jika kau ingin yang lama, maka kau harus berusaha mendapatkannya." Kai menyeringai, dan kurang dari satu detik Sehun langsung mendekatkan diri ke bibir Kai. Tapi Kai cekatan, ia menghindari Sehun dengan baik. Suara tawaan Kai dan pekikan kesal Sehun memenuhi ruangan. Kai selalu menghindar, ia juga menutup bibirnya agar Sehun tak bisa mendapat apa yang ia inginkan.

"Ya sudah kalau tidak mau!" Sehun cemberut dan memukul dada Kai, ia baru saja akan beranjak dari dada Kai tapi Kai sudah menariknya dan melumat bibir merah Sehun. lumatan itu bergerak dengan pelan dan lembut. Tidak ada nafas memburu yang dipenuhi hafsu. Mereka berusaha menikmati rasa satu sama lain. Sehun mengeratkan rengkuhannya pada bahu lebar Kai. "Nggh.." Nafas berat Sehun terdengar oleh keduanya karena Kai tak sengaja menggigit bibir Sehun terlalu keras.

Lidah mereka kembali bermain, saling membelai dan menyentuh. Kai mengusap punggung dan paha atas Sehun pelan. Aroma alami Sehun bagaikan obat penenang bagi Kai. Sehun mengangkat kakinya melingkari pinggang Kai, ia ingin sekali menghapus semua bekas wanita itu di tubuh Kai. Dengan gerakan kasar Sehun melepas ciumannya dan "Hachhuuww.." Sehun bersin di dada Kai, Kai tertawa karena kerandoman Sehun. "Baby apa kau baik-baik saja?" Tanya Kai dengan tawaan pelan. Sehun ikut tertawa "Ya, entahlah tiba-tiba ingin bersin." Ia mengusap-usapkan dahi dan pipinya di dada Kai.

"Kau sangat hangat." Kata Sehun sambil mengecup dada Kai. Kai menyukai Sehun yang manja, Ia menarik Sehun kembali mendekat dan menggigit ujung hidungnya. Sehun mengerutkan alisnya dan membalas Kai dengan menjilati dagunya. "Kau benar-benar memancingku Sehun." Kata Kai dengan suara rendah. "Ups, apa aku ketahuan?" Sesal Sehun tanpa tanda penyesalan. "Dasar gadis nakal." Dan Kai kembali melumat bibirnya.

Lidah mereka kembali saling membelai. Gaun pendek Sehun naik ke pinggang saat Sehun merasakan ada telapak tangan yang memainkan pantatnya. Ia memang sudah terbiasa dengan sentuhan Kai, tapi ia akan tetap merasa gugup tiap kali Kai menyentuh bagian-bagian privatnya. Kai mengarahkan tangan Sehun yang memeluk bahunya pada gundukan kejantanannya. Belum sepenuhnya tegang, dan Sehun dengan lemah lembut mengusapnya dari luar.

"Ahh.." Desah Sehun saat merasa tangan Kai memasuki celana dalamnya. "Kau sudah basah Sehun." Kai membelai belahan kewanitaan Sehun pelan, jari tengahnya ia masukan perlahan dalam Sehun. tubuh Sehun menegang, ia ikut bergerak pelan sesuai tempo yang Kai atur. Sehun memejamkan matanya menikmati apa yang sedang Kai lakukan, dan hal itu membuat Kai semakin bersemangat. Kai menarik jarinya keluar. Ia menarik gaun Sehun hingga hanya tersisa celana dalam hitam yang telah melorot dan bra hitam. Kai menaikkan tubuh Sehun agar ia sejajar dengan dada Sehun. Tubuh mereka miring saling berhadapan, dengan satu tangan Kai bisa membuka pengait bra itu dan mulai memainkan salah satu bagian sensitif Sehun. Kai memainkan puting Sehun dengan lidahnya, mengulum, menghisap dan menggigitinya kecil.

"Nini.." Panggil Sehun, Kai tersenyum karena panggilan Sehun yang terdengar menggelikan. Tapi tak dipungkiri ia menyukainya. Beberapa ruam merah keunguan tercetak di area dada Sehun. Kai mengamatinya sekilas dan menjulatnya beberapa kali. Dengan gerakan lemah lembut Kai menyandarkan punggung Sehun pada bantal yang bertumpu pada kepala ranjang. Kai melepas bra dan celana dalam Sehun, Sehun telanjang dan Kai menyukai pemandangan ini. Ia mengamati tubuh Sehun dari kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip. "Jangan menatapku seperti itu." Sehun kembali merajuk. Kai mendengar rajukan Sehun, ia memusatkan pandangannya pada raut wanitanya. 'Aku sungguh mencintaimu Sehun.' Kata Kai dalam hati.

"Apa aku akan bercinta dengan orang gila? Berhenti tersenyummmm.." Sehun merasa canggung karena Kai melamun menatap tepat ke matanya. Mendengar ocehan Sehun, Kai kembali tersadar. Ia tertawa karena melihat semburat merah di pipi Sehun. "Orang gila? Aku akan menunjukkan kepadamu seberapa hebat orang gila ini dalam urusan ranjang." Kai membuka kedua kaki Sehun dan mulai menenggelamkan kepalanya di sela-sela kakinya. "Ahh.." Sehun kembali mendesah saat lidah itu membelai klitorisnya.

Seperti yang Kai lakukan pada putingnya, ia kembali melakukannya pada bagian kewanitaan Sehun. menjilat, menghisap, dan merabanya dengan gigi. Aroma hormon yang terbakar nafsu menguar dari tubuh keduanya. Nafas berat Kai membelai area bawah pusar Sehun. "Ahh theree.." Sehun mengalami orgasme pertamanya hanya dalam beberapa menit. Kai tak berhenti bergerak, tubuh Sehun melengkung saat titik itu disentuh Kai berkali-kali. Sehun meremas spreinya erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Nini lepas bajumu." Sehun memerintah Kai, ia sudah telanjang tapi Kai bahkan masih berpakaian lengkap dengan kaus kaki.

"Baiklah." Kai turun dari ranjang dan melepas kemeja biru mudanya yang mulai kusut. Sehun mengamati tiap pergerakan Kai. Mulai dari tangan berotot itu yang sedang melepas tiap kancing kemejanya, hingga saat tangan itu melepas kancing celana bahannya. "Kau menyukai apa yang kau lihat baby girl?" tanya Kai. Kai tau Sehun mengamatinya. Raut tegang Sehun berubah, ia mencebikkan bibirnya dengan pipi terangkat membentuk senyuman. Kai melepas kain terakhir dari tubuhnya hingga kini keduanya sama-sama telanjang.

"Baby, lebih baik kau berada di atas. Jadi punggungmu akan lebih aman." Kai memijat kejantanannya pelan. Sehun menuruti Kai, Kai duduk bersandar pada kepala ranjang dan Sehun duduk di atas pahanya. Ia memijat milik Kai. Kulitnya bersentuhan dengan kulit Kai dan menghantarkan kearsi tersendiri yang membuat keduanya semakin bersemangat. Sehun menempatkan ujung Kai di depan lubangnya dan memasukkannya pelan. "Youre so tight baby." Sehun mendongakkan kepalanya saat ia merasakan perih.

Ia bergerak pelan, keatas dan kebawah. Kai menikmati permainan Sehun, ia mengamati figur sempurna Sehun yang sedang mencari kenikmatannya. Desahan pelan Sehun terdengar, rasa perih itu perlahan luntur berganti kenikmatan. Sehun mengalungkan tangannya pada leher Kai dan Kai meletakkan tangannya dipinggang Sehun memberi dorongan. Desahan Sehun mengeras dan itu berarti Sehun kembali menemukan titiknya. Rematannya di bahu Kai mengencang, dan nafasnya menderu. Sedangkan Kai, ia memang sudah tegang secara sempurna tapi titik itu masih belum terasa. "Ahhh.." Sehun mengeluarkan cairan orgasme pertamanya. Tubuhnya lemas dan pandangannya berkunang-kunang untuk sementara. Nafas keduanya beradu.

Kai mengulum bibir Sehun dan menghisapnya mesra. "Aku akan bergerak lagi." Sehun kembali bergerak. Buah dada Sehun bergerak seirama dengan gerakannya. Dan kali ini Sehun dapat menemukan titik Kai. satu tangan Sehun pindah ke dadanya. Ia meremasnya untuk menambah rangsangan. Kai mengerutkan dahinya saat titik itu semakin dekat. "Keep going baby." Nafas berat dan geraman renedah Kai membuat nafsu Sehun terbakar. Ia bergerak semakin cepat saat merasakan milik Kai berkedut di dalamnya. "Aahhh.."/"Arrgghh" mereka keluar bersamaan. Sehun ambruk dalam pelukan Kai. Ia bisa cairan hangat Kai memenuhi kewanitaannya.

Kai memeluk tubuh telanjang Sehun. Secara tak sengaja ia melihat bekas cambukan memanjang di punggung mulus Sehun. Dan kenyataan kembali menghantamnya. "Aku sangat mencintaimu Sehun." Kai memeluk tubuh berpeluh Sehun erat. Sehun mendengarnya, tapi tekatnya sudah bulat. Ia tak ingin ikut campur dalam dunia manusia lagi. Ini cukup untuk pertama dan terakhir kalinya. Sehun kembali kesakitan, tapi kali ini bukan fisiknya. Melainkan hatinya.

.

.

.

.

.

.

Cuaca hari ini terbilang baik, angin yang berhembus tak terlalu kencang dan matahari yang bersinar terang. Tetapi hari ini bukan hari terindah Sehun dan Kai. "Sehun, aku akan selalu menunggumu kembali." Kai menggendong tubuh mermaid Sehun. Mereka berjalan menuruni tebing. Sehun tak menjawab apapun. ia tak ingin menjanjikan sesuatu yang bahkan dirinya tak yakin. Ombak laut yang tadinya tenang berubah sedikit lebih agresif seolah menyambut kembalinya sang berlian. Kai berjalan mencari titik yang cocok.

"Aku tak percaya ini akan terjadi." Kai mendudukkan Sehun di pasir. Pandangannnya sendu, ia benar-benar tak rela jika harus ditinggalkan seperti ini. Kai memeluk Sehun erat, pakaiannya basah kuyup karena ombak yang besar. "Kaii.." Sehun menarik dirinya. "Sehun aku mencintaimu." Air mata Kai jatuh begitu saja. "Aku akan selalu menunggumu Sehun. kembalilah jika kau ingin kembali." Kai mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Sehun. ciuman terakhir mereka. "Aku harus pergi." Sehun memutuskan ciuman mereka. Semakin lama ia tertahan bersama Kai, semakin sulit untuknya. "Aku tau. Maafkan aku Sehun." Kai mengecup dahi Sehun. "Selamat tinggal Kai." Kai melepas pelukannya pelan. "Sampai jumpa lagi Sehun." Kai selalu membenci perpisahan, karena itu ia tak pernah mengucapkan 'selamat tinggal'.

Ia melihat Sehun berenang menjauh. Air matanya kembali jatuh. Ia merasa sangat bodoh. Wanita yang sangat ia cintai pergi menjauh dan ia tak dapat melakukan apapun untuk mencegahnya. Tidakkah Sehun sangat hebat, ia bisa membuat Kai –si bajingan yang selalu mempermainkan wanita- tergila-gila karenanya. Di dunia ini memang tak ada yang bisa membaca garis takdir, dengan siapa mereka akan jatuh cinta, kapan seseorang akan mati, bagaimana seseorang akan jatuh sakit. Semua sudah tertulis dan terikat oleh benang takdir. Jika memang cinta mereka sejati, maka bagaimanapun caranya mereka akan kembali dipertemukan. Tapi tak semua cerita cinta sejati berakhir dengan bahagia.

TBC

Hierarki: urutan tingkatan atau jenjang jabatan (pangkat kedudukan)

Sebenernya dividio itu Kai emang lagi gak sadar, dan dia ngebayangin si cewek itu Sehun makanya dia nyebut nama Sehun. tapi kalo dilihat dari perspektif Sehun, Sehun merasa dia juga nggak salah ngambil kesimpulan. Karena dia mikirnya Kai itu kayak ngingetin diri sendiri tentang Sehun.

Maaf kalo chapter ini kek nggk nyambung, author nulis ini ditengah2 kesibukan. Jadi agak nggk konsen. Ini juga nggak dibaca ulang. Jadi maap kalo banyak typo. Yang pengen author tekankan disini adalah, Sehun memutuskan pergi dan nggk kembali karena dia nggk pengen ikut campur urusan manusia lagi. Semakin dia ikut campur, semakin besar kemungkinan dia bakal disakiti sama si manusia (Kai).

Kalo ada yang nggak jelas, kalian bisa tanya di review, ntar aku jawab di chapter depan.

Anyway kalian pengennya Sehun berubah jadi manusia atau tetep mermaid?

Mohon reviewnya teman teman. See u chapter depan;) doain nggk molor updatenya x_x

Third story of redaddict.