CHAPTER 10
"Kai, lampu merah!" Teriak Kyungsoo mengingatkan.
Ya, Kai tahu itu, bahkan ia bisa melihat sebuah rambu yang melarang untuk berputar arah dipersimpangan jalan itu. Tapi ia telah memperhitungkannya dengan sangat cermat. Kai langsung menurunkan giginya 2 kali dan tepat ketika lampu merah itu menyala, Kai langsung memutar mobilnya, melakukan Drift sehingga mobil itu berputar kesisi lain jalan yang berlawanan dimana disaat itu juga ada sebuah mobil Bus yang baru berjalan setelah beberapa menit yang lalu berhenti di lampu merah.
"KAI!" Teriak Kyungsoo yang langsung menutup wajahnya takut. Jantungnya tiba-tiba saja berhenti berdetak, suaranya tercekat ketika ia semakin mendengar lebih jelas suara klakson mobil bus itu semakin dekat mengarah mereka. Suara itu benar-benar bagakaian pengingat kematian untuknya.
Kai masih mencoba tenang ditengah kepanikan Kyungsoo, ia menarik persenelingnya kembali dengan gerakan cepat dan menginjak gasnya untuk melaju kembali sehingga mobil itu terhindar dari tabrakan. Kai mengendarai mobilnya menggunakan jalan lain yang berlawanan dari sebelumnya. Meninggalkan mobil bus yang hampir menabraknya yang telah berhenti secara mendadak karena ulahnya dan juga mobil-mobil yang mengejarnya, tertinggal jauh karena terkepung oleh mobil lain di lampu merah.
"Belok kanan bukan?" Komentar Kai penuh kebanggaan ketika ia berhasil melarikan diri dari anak buah Suho yang mengejarnya. Namun Kyungsoo sama sekali tak berkomentar, ia masih ketakutan dengan tangan menutup wajahnya. Kai hanya tersenyum kecil lalu membelokkan mobilnya kekanan dan melaju dengan kecepatan tinggi tak meninggalkan jejak sedikitpun yang bisa dilihat oleh orang-orang suruhan Suho.
"Buka matamu, kita aman."
"Aku masih hidup?" Bisik Kyungsoo pelan mampu membuat Kai terkekeh kecil.
"Ayolah tuan putri, kita selamat." Goda Kai namun Kyungsoo hanya bisa terdiam dengan nafas tersenggal ketika ia melepaskan kedua tangan yang sebelumnya menutupi wajahnya dan menemukan Kai yang tengah tersenyum menyebalkan kearahnya.
"Kau gila!" Teriak Kyungsoo marah.
"Maka dari itu, kau bisa menyukaiku." Balas Jongin santai namun Kyungsoo hanya bisa menghapus air matanya yang sempat menetes karena saking takutnya bahwa kemungkinan tadi ia bisa saja mati dalam hitungan detik. Kai yang menyadari itu langsung melirik Kyungsoo. "Maafkan aku, aku melakukan ini agar kita selamat juga." Lanjutnya, tetapi Kyungsoo masih diam tak mau menjawab apapun yang dikatakan Kai. Ia masih merasa syok dan pastinya ketakutan.
Sehun menyodorkan sebuah map berisi berkas-berkas perusahaan, titipan yang diberikan oleh tuan Zhang untuk Zhoumi. "Ini adalah tugas terakhirku dari tuan Zhang," Ucap Sehun sopan. Zhoumi yang mendengar pengutaraan itu langsung mengangkat wajahnya beralih memperhatikan Sehun dan mengabaikan salinan beberapa pekerjaannya yang tengah ia baca. "Aku telah berhenti berkerja sebagai kepala pengawal disana."Lanjutnya.
"Itu berarti kau juga tak bisa lagi mengantar jemput pekerjaan kantorku kepada tuan Zhang?" Tanya Zhoumi.
"Aku minta maaf tentang ini, aku tahu ini terlalu mendadak tapi aku sudah merencanakannya sejak awal bahwa aku harus segera berhenti bekerja di rumah tuan Zhang."
"Apa ada masalah?" Zhoumi menyipitkan matanya. "Kau bisa bekerja denganku, bila kau mau." Lanjutnya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku berencana untuk kembali ke Korea bersama anak dan istriku." Jawab Sehun.
Zhoumi mengangguk mengerti lalu menyimpan berkas-berkas yang ada ditangannya. "Jadi, sampai disini ya." Ucapnya yang langsung berdiri, melangkah dan kini berdiri dihadapan Sehun. "Aku senang bisa mengenalmu dan bekerja denganmu, kau orang yang dapat dipercaya."
Sehun hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Zhoumi membalasnya dengan senyuman hangat lalu menepuk pundak Sehun pelan. "Oh iya.. bila kau ada masalah kau bisa katakan kepadaku. Termasuk polisi-polisi itu. Ada kemungkinan mereka akan memanggilku untuk menjadi saksi atas kematian Yixing, dan kemungkinan kau akan terlibat juga. Tapi kau tak usah segan untuk menghubungiku." Lanjutnya.
Sehun mengangguk dan memberi salam hormat kepada Zhoumi. "Terima kasih atas bantuan Tuan selama ini, aku harus segera pergi sekarang." Ucapnya Sopan.
Zhoumi mengangguk dan mengizinkan Sehun untuk pergi. Setelah mendapatkan izin, Sehun berjalan menjauh dan keluar dari ruangan kerja Zhoumi. Setelah Sehun menutup pintu ruangan itu rapat, ia menghela nafasnya lega. Sebelumnya ia hampir tak bisa bernafas ketika Zhoumi mengatakan kepadanya bahwa ia merupakan orang yang dapat dipercaya. Tapi benarkah? Sepertinya tidak. Ia jauh lebih buruk dari yang Zhoumi lihat saat ini.
Setelah berhasil mengatur nafasnya, Sehun langsung bersiap untuk pergi dan segera bersiap-siap untuk pulang ke Tsinan menemui Luhan dan anaknya agar segera membawa mereka pergi ke Korea. Namun belum setengah jalan ia melangkah meninggalkan tempatnya tadi, suara dering telpon mampu mengejutkan Sehun yang pada dasarnya tengah terburu-buru.
Sehun mengambil ponselnya dan mengeluarkan dari saku jaketnya. Menatap layar ponselnya yang menunjukkan sebuah kontak tak dikenal tengah memanggilnya. Antara ragu, Sehun menatap kesekitaran dimana ia berada sekarang. Tidak ada siapapun, sepi dan hanya ada dirinya di koridor yang mengarahkan jalan langsung menuju ruangan kerja Zhoumi saat ini. Setelah dirasa aman, Sehun mengangkatnya.
"Halo?"
"Aku ragu dengan nomor ini, namun aku yakin dari suaranya kau memang Sehun."
Sehun langsung terperanjat terkejut. Ia terlalu mengenal suara ini, tentu saja ini adalah suara sahabatnya, Kai. Bagaimana bisa dia mendapatkan nomor barunya dan bisa menghubunginya seperti ini.
Sehun mencoba bersikap sebiasa mungkin dan menjawabnya dengan santai. "Ya, aku Sehun. Ada apa?"
"Suaramu terdengar santai bagi orang yang telah membunuh majikannya sendiri."
Sehun merasa ia telah mendapatkan sebuah hantaman yang sangat keras kali ini, benar-benar tepat sasaran. Ia ingat dimalam penembakan Yixing, Kai menangkap basah dirinya dan bahkan menatapnya tajam pada malam itu. Mungkin ketakutan terbesar Sehun sejauh ini memang berada pada Kai. Ia tidak takut polisi ataupun ancaman lainnya, sejujurnya ia lebih takut untuk menghadapi sahabatnya sendiri.
"Kenapa? Terkejut karena aku bisa menghubungimu, Sobat?" Ucap Kai diujung telponnya dengan semua decihan kecil menghina. "Kau memiliki hutang penjelasan kepadaku. Dimana kau sekarang?"
Sehun memejamkan matanya yang langsung melanjutkan langkahnya dengan hati-hati seraya memperhatikan keadaan sekitar.
"Apa maumu?" Bisik Sehun pelan.
"Kau ketakutan?" Ejek Kai.
"Baiklah, aku ada dikediaman Zhoumi. Kau puas?" Ucapnya pelan tapi penuh dengan penekanan.
Kai tertawa meremehkan. "Sudah kuduga," Ungkapnya. "Jangan pernah lari dariku. Aku ingin bicara kepadamu!"
"Apa itu sangat penting?"
"Sepenting mana? Sahabatmu atau bosmu?" Desis Kai dan itu membuat Sehun langsung terdiam tak tahu harus menjawab apa. "Aku tidak ingin bermain lebih lama lagi, kau adalah sahabatku dan aku mengerti dirimu. Bila kau berani lari dariku, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu kembali, termasuk memegang janjiku atas Luhan untukmu."
Sehun memejamkan matanya. Ia langsung berhenti mekangkah dan menengadahkan kepalannya mencoba mencari jalan keluar yang tepat. Kenapa kini Kai menyangkut pautkannya dengan Luhan, apa itu berarti Luhan juga telah mengetahui bahwa ia pelaku sebenarnya dari penembakkan Yixing itu? Sehun bingung dan ia hanya mengusak rambutnya kebelakang mencoba menghilangkan rasa kebingungannya saat ini.
Sehun bahkan belum sempat berpikir untuk memberi jawaban kepada Kai ketika pria itu kembali membuka suaranya. "Aku kecewa padamu, tapi aku akan mencoba untuk tetap mempercayaimu." Ucap Kai yang mampu membuat Sehun sedikit terhenyak perasaannya. "Aku akan segera sampai di Beijing." Lanjutnya yang langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.
Sehun masih menggantung ponselnya yang ada disisi telinganya. Hanya bisa terdiam ketika Kai masih mengatakan bahwa dia mempercayainya. Banyak sekali yang Sehun pikirkan kali ini. Kenapa banyak orang yang mengatakan bahwa dia adalah orang yang dipercayai oleh siapapun? Tapi menurutnya itu tidak sama sekali, Sehun telah melakukan sebuah kesalahan terbesar yang akan selalu membekas menjadi masa lalu kelam juga terburuk yang telah dilakukannya.
Sepertinya Sehun akan jatuh saat ini juga, namun sebelum itu terjadi, ia tak akan membiarkan semua rencana ini berakhir begitu saja. Tekadnya sudah bulat, rasa sakit hatinya tak akan pernah terbayar oleh siapun. Meski Zhang Yixing pada dasarnya tak bersalah sedikitpun kepadanya, tapi orang-orang disekitarnya lah yang membuat ia tertekan hingga bisa melakukan hal buruk sampai sejauh ini. Sehun tersenyum miring saat sadar dengan kenyataan pahit hidupnya yang begitu sangat buruk dan tidak dipedulikan oleh orang lain.
Dengan satu tombol, ia menekan sebuah nomor diponselnya dan memanggil seseorang dalam panggilannya saat ini.
"Kai, dia menuju Beijing. Ia dalam perjalanan menuju kediaman Zhoumi sekarang." Ucapnya santai dengan pandangan lurus menerawang yang sangat tajam dan tentunya berbahaya.
Kai hanya menggeram marah setelah melakukan panggilannya kepada Sehun. Ia menjatuhkan ponselnya keatas Dashboard mobil dan mencengkram kemudinya kuat. "Dia benar-benar bersikap seperti pelaku yang tertangkap basah."
Kyungsoo yang dapat mendengar ungkapan kebencian itu hanya bisa melirik dan memperhatikan Kai yang matanya memerah menyala. Lebih keras dan terlihat sekali aura kemarahannya yang tergambar jelas dari raut wajah serta sikapnya. Kyungsoo terdiam dan kembali memperhatikan jalanan yang tengah dilaluinya. Kini mereka benar-benar kembali ke Beijing. Namun ia masih belum tahu dengan jelas kemana tujuan Kai saat ini. Selama perjalanan, Kai sama sekali tak berbicara kepadanya. Kyungsoo sendiri juga tak berminat untuk bersuara karena keadaan Kai yang sepertinya terlihat tidak baik. Ia ragu untuk bicara kepada Kai ketika dalam situasi seperti ini. Ditambah dengan apa yang dilakukan Kai beberapa saat sebelumnya yang nyaris mencelakakan mereka berdua. Ia tak mengerti kenapa Kai melakukan hal seperti itu.
Kai juga tak sepenuhnya mengabaikan keberadaan Kyungsoo. Ia sesekali melirik memastikan keadaan Kyungsoo bahwa ia baik-baik saja. Namun gadis itu berbeda dari biasanya, seharian ini bahkan Kyungsoo tak berbicara banyak seperti sebelum-sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Kai.
Kyungsoo tersentak akibat pertanyaan tiba-tiba itu dan menatap Kai terkejut. "Ya, aku baik-baik saja."
"Kau tengah memikirkan sesuatu?" Tanya Kai lagi.
"Tidak," Jawab Kyungsoo. "Sejujurnya iya, tadi apa yang kau lakukan?" Tanya Kyungsoo yang mulai bisa membuka percakapannya dan menghilangkan keheningan yang sebelumnya melingkupi mobil ini.
Kai mengernyit menaikkan alisnya tak mengerti. "Ada apa dengan tadi?"
"Dipersimpangan itu, apa yang kau lakukan hingga nekad berbalik arah saat lampu merah tadi? Karena kau, aku berpikir hidupku akan berakhir saat itu juga." Ucap Kyungsoo dan Kai hanya bisa terkekeh mendengar penuturan Kyungsoo. Kyungsoo yang mendapati tawa itu langsung menatap tajam Kai. "Jangan tertawa seperti itu!" Teriaknya.
"Baiklah, maafkan aku." Ucap Kai setelah mengatur tawanya sendiri. "Aku menghindari anak buah Suho hyung?"
"Apa?" Tanya Kyungsoo tak mengerti.
"Ada apanya dengan apa?"
"Bukan, maksudmu kenapa kau harus menghindar dari mereka. Tidak, maksudku kenapa Suho harus mengejar adiknya sendiri. Aishhh ahh.. sudahlah aku bingung." Ia mengerang, menyerah karena harus menjelaskan ketidak mengertiannya saat ini.
Kai melirik dan kembali tersenyum ketika melihat ekspresi kebingungan Kyungsoo yang tengah mengerucutkan bibirnya lucu. Kai kini sedikit menjalankan mobilnya lebih santai dan mulai mengetahui jalanan-jalanan yang harus dilewatinya sehingga tak kembali bertanya kepada Kyungsoo.
"Sepertinya aku lupa mengatakan siapa diriku sebenarnya kepadamu." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya untuk tetap fokus menjalankan mobilnya hati-hati.
"Nah, itu! Ya.. sebenarnya sejak awal aku ingin bertanya siapa dirimu? Kenapa di hotel itu semuanya orang mengormatimu begitu juga dengan Suho. Siapa kalian sebenarnya?" Tanya Kyungsoo penasaran Berbalik menatap Kai dengan antusias.
Kai menghela nafasnya ketika mendengar apa yang dikatakan Kyungsoo tentang rasa penasarannya. Sebenarnya ia tak ingin mengatakannya, karena ia meyakini bahwa Kyungsoo akan ketakutan ketika mengetahui siapa dia sebenarnya namun ada baiknya Kyungsoo harus mengetahui semua tentangnya. Memastikan apa Kyungsoo akan tetap menyukainya atau tidak sama sekali, mungkin.
"Ada beberapa hal yang tidak akan pernah kau mengerti tentang hubunganku dengan Suho hyung, namun bila kau bertanya tentangku, aku akan menjawab secara jelas bahwa aku adalah seorang Mafia."
Hening.
Sama sekali tak aja komentar yang Kai dapatkan. Ia melirik kearah Kyungsoo memastikan, namun gadis yang tengah ditatapnya kini hanya terdiam dengan wajah terkejut yang sulit diartikan, mungkin antara ekspresi bingung atau tidak percaya.
Kai menghela nafasnya kembali. "Aku berasal dari keluarga Mafia, dimulai dari Kakekku yang secara turun temurun mewariskan kekuasannya kepada anak-anaknya. Setelah dari ayahku sekarang beralih kepada Suho. Bisa dikatakan Suho adalah pemimpinnya dan aku adalah anak yang paling disegani oleh seluruh orang di Korea, ya .. itu bila mereka mengenal siapa aku." Jelasnya.
"Kau saudara dari pemimpin Mafia? Dan kau benar-benar seorang mafia?" Tanya Kyungsoo ragu setelah ia bisa dengan jelas mengerti dengan apa yang diceritakan Kai kepadanya.
"Dulu, sekarang tidak lagi. Aku bukanlah seorang Mafia sekarang." Lanjutnya.
Saat itu juga Kyungsoo langsung menutup mulutnya yang sempat menganga tak percaya dan sedikit menggeser tubuhnya ketakutan seolah menghindar dari Kai. Ia menutup matanya erat-erat.
"Berarti kau benar seorang pembunuh, kau perampok, kau pembunuh bertangan dingin,…" Dan Kyungsoo terus mengucapkan beberapa ungkapan yang mampu membuat Kai mengerutkan dahinya tak nyaman dengan apa yang dikatakan Kyungsoo terhadapnya.
"Soo, bukan begitu, dengar aku!" Kai mencoba meraih tangan Kyungsoo namun dengan kuat Kyungsoo langsung menariknya kembali dengan tatapan mata takut dan bibir yang bergetar. Kai yang memperhatikan itu hanya bisa terdiam.
"Kau Mafia, dan kau benar-benar pembunuh. Aku tahu itu! Pantas saja aku merasakan seuatu yang aneh saat pertama kali menginjakkan kakiku dihotel itu. Ternyata aku telah masuk kedalam markas mafia!" Ungkapnya penuh ketakutan. Kai hendak berkomentar namun Kyungsoo jauh lebih cepat kembali berbicara. "Kau pasti akan membunuhku setelah ini? Iya 'kan?"
Kai menatap tak percaya. Kenapa sekarang Kyungsoo kembali menuduhnya akan membunuh Kyungsoo. Itu jelas-jelas tidak mungkin. Kai mewajarkan ketakutan Kyungsoo namun ia tak mewajarkan atas tuduhan yang diberikan Kyungsoo kepadanya.
"Atas dasar apa aku membunuhmu?!" Teriak Kai dengan nafas yang tersenggal, hal itu membuat Kyungsoo langsung beringsut ketakutan atas bentakan Kai yang tiba-tiba itu. Kai mencoba menetralkan kembali emosinya dan kembali menatap Kyungsoo dengan tatapan yang melembut. "Maafkan aku karena aku terlambat mengatakan ini, tapi aku sama sekali tak memiliki niatan buruk kepadamu. Aku masih memiliki banyak hal yang harus segera kuatasi dan membunuhmu bukanlah termasuk kedalam rencanaku."
Kyungsoo berkedip beberapa kali saat melihat ungkapan lembut Kai kepadanya. Ia mencoba menghilangkan rasa ketakutannya dan kembali membuka suaranya ragu.
"Ja.. jadi, apa rencanamu?"
"Rencaku sekarang adalah memulangkanmu." Ucap Kai pelan.
Kyungsoo langsung terdiam membeku saat itu juga. Kai akan memulangkannya itu berarti Kyungsoo telah dibebaskan oleh Kai, tapi kenapa perasaanya tak sesenang dulu? Malah ada sebuah ketidak relaan ketika Kai mengatakan hal itu kepadanya.
"Tunjukkan jalan rumahmu, Eonnimu pasti akan merasa sedih karena adik kesayangannya telah menghilang untuk beberapa hari."
Dan saat itu juga Kyungsoo sadar dengan perasaannya, bahwa tidak ada perasaan bahagia dihatinya melainkan sebuah perasaan sedih. Ia ingin sekali berteriak sekarang, Tolong.. jangan lepaskan aku sekarang.
Kyungsoo terdiam ketika ia tahu dimana ia sekarang. Mobil yang kini telah berhenti sejak beberapa menit yang lalu telah terpakir di tepi jalan yang sepi, berjarak cukup jauh menuju rumahnya yang ada didalam kawasan perumahan. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Sempat ia ingin berkomentar namun ia tak memiliki alasan yang tepat untuk disampaikan.
"Berakhir disini ya?" Desah Kyungsoo.
Kai melirik dan menatap Kyungsoo dalam. "Sebaiknya kau pulang, suatu saat nanti aku akan menemuimu kembali."
Kyungsoo kembali mendesah pelan. Entahlah apa ia harus percaya dengan apa yang dikatakan Kai atau tidak. Atau mungkin Kai memang berniat mencampakkannya sejak awal. Semoga tidak.
"Baiklah. Tapi," Kyungsoo memalingkan wajahnya dan kini menatap lekat mata tajam itu. "Kau telah berjanji untuk mengatakan alasan kenapa kau mau bertanggung jawab kepadaku?"
"Itu.."
"Dan kuharap kau tidak berniat mencampakkanku." Potong Kyungsoo secara jujur.
Kai langsung terdiam beberapa saat. Ia menatap manik mata Kyungsoo dalam yang memancarkan tatapan memohon kepadanya. Kai tidak tahu apa ini adalah waktu yang tepat atau tidak. Yang jelas ia tak mungkin mencampakkan Kyungsoonya. Ia memalingkan wajah untuk sejenak berpikir mencari kata yang tepat. Sekali lagi suara helaan nafas kasar itu dapat Kai dengar.
"Aku sudah menduganya.." Kyungsoo langsung melepas sabuk pengamannya dan berniat membuka pintu untuk meninggalkan suasana sesak yang ada didalam mobil. Namun lengannya seolah ditarik kuat oleh Kai membuatnya berbalik dan kembali menatap mata itu yang semakin dalam menatapnya.
"Aku menyukaimu, ah.. bukan. Aku mencintaimu." Ucapnya halus.
Kyungsoo langsung terdiam, ia bahkan tak bisa bernafas untuk beberapa detik. Bahkan ketika wajah Kai semakin mendekat kearahnya, Kai masih terus menggumamkan pernyataan cinta itu berkali-kali, semakin pelan dan penuh penekanan.
Jantung Kyungsoo berdebar, bibirnya sedikit bergetar ketika ia hendak berkomentar. Namun lidahnya terlalu kelu untuk berucap bahkan ia tak bisa berpikir apa-apa lagi ketika kata aku mencintaimu tak lagi terucap dibirnya digantikan dengan ciuman yang sangat dalam.
Kyungsoo memejamkan matanya, merasakan kelembutan dari ciuman yang diberikan Kai kepadanya. Ia terhanyut dan menempelkan kedua tangannya diantara dada Kai. Ketika ia merasakan detakan jantung Kai yang sama berdebar cepat seperti dirinya, Kyungsoo mengerti. Kai telah membalas perasaannya. Kai benar-benar mencintainya.
Kai menarik pinggang Kyungsoo untuk semakin mendekat memudahkan ia agar semakin memperdalam ciumannya. Begitu juga dengan Kyungsoo yang mengalungkan kedua tangannya diantara leher Kai dan semakin menekankan bibirnya untuk diciumnya lebih dalam. Kyungsoo tak pernah merasakan ciuman yang seperti ini meski faktanya ia telah beberapa kali berciuman dengan Kai tapi lagi-lagi disetiap ciumannya terasa berbeda.
Kai melepaskan ciumannya dengan kecupan-kecupan kecil yang diberikannya lalu kembali menjauhkan wajahnya. Dan saat itu juga Kyungsoo langsung jatuh memeluk erat tubuh Kai, ia bahagia karena pada akhirnya rasa cintanya terbalaskan.
"Maaf aku terlalu pengecut untuk mengatakan ini." Bisik Kai namun Kyungsoo hanya menggeleng pelan. Baginya ini sudah lebih dari cukup. Ini sudah lebih dari membuatnya bahagia. Namun mengingat kenyataan bahwa mereka akan berpisah membuat Kyungsoo ingin menolak itu semua. Ia langsung melepaskan pelukannya, menjauhkan wajahnya dan menyimpan kedua tangannya didada Kai.
Kyungsoo hendak berucap namun Kai segera bicara lebih dulu darinya. "Kau harus kembali kerumahmu, aku tak akan pernah mencampakkanmu. Setelah semua ini berakhir, aku akan kembali." Ucap Kai penuh keyakinan.
Kyungsoo langsung terdiam, seolah Kai sadar dengan apa yang Kyungsoo inginkan sehingga secepat kilat Kai menyuruhnya untuk kembali pulang. Ia tak tahu harus mengatakan apa selain mengangguk dalam diam. Dan Kai membalasnya dengan senyuman.
Kai turun dari dalam mobilnya. Memutar, dan membukakan pintu untuk Kyungsoo. Penculikan tak tersengaja ini telah berakhir. Kyungsoo telah ia bebaskan dan ia ingin Kyungsoo tak lagi merasa ketakutan dengannya. Bagaimanapun gadis ini memiliki keluarga, ia tak ingin menyakiti Kyungsoo bila Kai masih menahannya lebih lama lagi.
Dengan berat hati Kyungsoo turun dari dalam mobilnya. Ia sedikit tertunduk ketika Kai masih menunjukkan senyuman kepadanya. Kyungsoo sama sekali tak bisa tersenyum untuk saat ini. Bahkan untuk sekedar berucap pun ia tak bisa.
Melihat ada rasa kekhawatiran tergambar di wajah Kyungsoo. Kai sedikit menundukkan wajahnya untuk memastikannya lebih jelas lagi dan itu benar-benar membuat Kai semakin khawatir ketika ia sadar bahwa pelupuk mata Kyungsoo telah tergenang oleh air mata yang siap jatuh.
"Kyungsoo.."
Kyungsoo langsung tersenyum menyembunyikan kesedihannya, ia lalu mengalihkan tatapannya dan beralih mengusap luka bekas tembakan yang ada disekitar bahu Kai.
"Apa luka ini akan baik-baik saja saat aku pergi?" Bisik Kyungsoo pelan.
Kai menggenggam tangan Kyungsoo yang tengah mengusap sekitar lukanya yang ia tahu sudah membaik dan kering. Menariknya lalu mengecup punggung tangan itu hangat.
"Aku akan baik-baik saja." Balas Kai meyakinkan.
Mendengar ucapan itu Kyungsoo langsung memeluk tubuh Kai erat. Ia kini menangis, ia tak bisa lagi menahan kesedihannya.
"Kai, bawa aku bersamamu. Aku ingin tetap bersamamu.." Bisik Kyungsoo ditengah isakannya.
Mendengar hal itu Kai langsung menarik pelukan Kyungsoo untuk sedikit memberi jarak dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Apa yang kau katakan Soo? Tidak, kau harus pulang!"
"Kai, kumohon.. aku ingin ikut bersamamu." Balas Kyungsoo memohon.
Kai langsung kembali menarik tubuh Kyungsoo untuk memeluknya. "Dengarkan aku, aku melakukan ini karena aku tak ingin membuatmu terluka. Membiarkanmu terus bersamaku sama saja kau ada dalam bahaya. Kau tahu diriku 'kan?"
"Aku tahu, maka dari itu aku siap dengan semua resikonya."
"Tidak, tidak. Aku tak akan membiarkanmu terluka sedikitpun. Aku ingin kau aman disini," Kai melepaskan pelukannya dan beralih menggenggam erat kedua tangan Kyunsgoo. "Jangan seperti ini, aku tak ingin membuatmu terluka lebih jauh lagi karenaku."
Kyungsoo terdiam dan menundukkan wajahnya membiarkan airmatanya terus jatuh menggenangi pipinya. Bahkan ketika Kai menarik pinggangnya dan memasukkan sesuatu kedalam saku dressnya. Kyungsoo masih diam tak berkutik sedikitpun.
"Simpan ponsel ini. Aku akan menghubungimu kembali." Bisiknya tepat didepan wajah Kyungsoo.
Ia menengadah dan menatap wajah Kai ketika bibirnya telah kembali dibungkam dengan ciuman yang sangat dalam. Hanya sebuah lumatan kecil saja setelah itu kembali terlepas dan hanya kediaman yang terjadi diantara mereka berdua.
Kai menghapus air mata Kyungsoo dikedua pipinya dan membalasnya dengan kecupan dikedua kelopak mata Kyungsoo.
"Pergilah, aku ingin melihatmu benar-benar pulang."
Kyungsoo menggeleng. "Tidak, kau dulu.."
"Kyungsoo.."
Kyungsoo menangkup kedua pipi Kai halus dan membalasnya dengan sentuhan lembut oleh ibu jarinya. "Sekali ini saja, aku ingin melihatmu pergi, memastikan bahwa kau akan benar-benar kembali untukku." Terdapat gurat ketidak inginannya dari wajah Kai namun Kyungsoo tetap menunjukkan wajah memohonnya. "Kumohon." Lanjutnya.
Meski berat akhirnya Kai mengangguk menuruti keinginan Kyungsoo. Ia memberi kecupan terakhir dikening Kyungsoo. Mengatakan untuk kesekian kalinya kata cinta yang tak bisa dibohonginya. Ia melepaskan tangannya dengan enggan lalu berjalan mundur menatap Kyungsoo yang tersenyum menatap kepergiannya. Bahkan ketika Kai telah masuk kedalam mobil. Matanya masih memandang dalam penuh kekhawatiran menatap Kyungsoo yang masih tersenyum padanya.
Kai berjanji kepada dirinya sendiri. Setelah urusan ini berakhir, ia pasti akan kembali untuk Kyungsoo. Ia tak ingin lagi menjadi pria yang egois dan membohongi perasaannya kembali. Kai telah menarik persenelingnya dan kembali menatap wajah Kyungsoo. Ia bisa menangkap Kyungsoo telah bergumam 'aku mencintaimu' hingga akhirnya Kai bisa tersenyum lega membalas senyuman yang terus tersungging diwajah indah itu.
"Aku juga mencintaimu." Gumamnya tanpa melepas pandangannya dari wajah Kyungsoo. Setelah itu ia menginjak gasnya dan langsung menjalankankan mobilnya melanjutkan perjalanan sebenarnya dan meninggalkan Kyungsoo yang menurutnya telah aman karena telah kembali pulang kerumahnya.
Senyum Kyungsoo menghilang ketika mobil itu menjauh pergi hingga akhirnya menghilang tak terihat lagi. Ia berjalan dengan enggan, melangkahkan kakinya penuh kegundahan. Sejujurnya ia bahagia telah bisa kembali pulang namun hatinya tak bisa berbohong bahwa ia masih mencemaskan keadaan Kai, sadar bahwa yang telah dialami mereka sangatlah berbahaya ditambah rencananya yang akan mencari pembunuh sebenarnya setelah ini, bukankah itu lebih bahaya lagi?
Kyungsoo menggelengkan kepalanya menghilangkan pemikiran buruk yang akan menimpa Kai. Ia tahu betul siapa Kai, ia tak akan menyerah ataupun terluka begitu saja meski tindakkannya selalu diluar keinginan, dan ceroboh. Tapi ia yakin Kai pasti akan bertahan. Kali ini ia harus menunjukkan senyumannya. Senyuman yang harus ia berikan kepada keluarganya bahwa ia baik baik saja.
Kyungsoo hendak memantapkan langkahnya untuk segera kembali kerumah namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja ada dua mobil yang telah berhenti menyudutkannya terparkir tepat dihadapannya. Kyungsoo langsung terdiam takut ketika beberapa orang dari dalam mobil itu keluar dan langsung melangkah mendekatinya.
Kyungsoo semakin ketakutan. Ia hendak berlari menghindar namun seseorang telah membekap mulutnya untuk diam dari belakang. Kyungsoo ingin memberontak namun gerakannya benar-benar terkunci oleh pria besar dibelakangnya yang langsung menyeretnya masuk kedalam mobil dengan kasar.
Ia menangis dan meronta minta dibebaskan.
"Siapa kalian? Lepaskan aku!" Teriaknya dengan penuh isakan. Namun ia tak mendapatkan jawaban apapun bahkan ketika mobil itu langsung melesat jauh dengan kecepatan tinggi.
Kyungsoo kembali berteriak, ia mencoba membuka pintu mobil yang nyatanya telah terkunci rapat. Beberapa kali ia menggedor pintu mobil dari dalam, berteriak meminta dikeluarkan. Namun lagi-lagi mulutnya dibekap kuat. Pandangannya mengabur dan tatapannya menghitam tak bisa melihat apapun.
Tak butuh waktu sejam Kai kini telah tiba diwilayah elit kediaman Zhoumi. Beruntung ia masih mengingat alamat yang secara tak sengaja ia ketahui beberapa hari sejak kematian Zhang Yixing. Sebelumnya ia menganggap informasi Kris sebelum ia ditangkap tak penting tapi diluar dugaan ingatannya tentang alamat kediaman Zhoumi bisa berguna juga.
Kai benar-benar kehilangan kesabarannya. Bahkan ketika ia melihat pintu kayu yang menjulang tinggi sebagai pintu gerbang kediaman Zhoumi, tanpa pikir panjang Kai memilih menabrakkan langsung mobilnya ke gerbang itu meski pada cobaan pertama ia gagal.
Dengan segala emosinya, Kai memundurkan mobilnya cukup jauh. Mencari ancang-ancang untuk bisa mendobrak pintu gerbang itu hingga hancur. Kai malah semakin memicingkan matanya ketika beberapa orang yang bisa dibilang petugas keamanan didalam rumahnya keluar membuka pintu gerbang mencari apa yang terjadi diluar.
"Oh.. selamat datang dalam permainan." Geram Kai dengan seringaiannya. Melihat pintu gerbang yang sedikit terbuka membuat sebuah keberuntungan tak langsung untuknya. Setidaknya ia tidak perlu merusak lebih parah mobil yang tengah digunakannya ini.
Kai langsung menarik persenelingnya dan menginjak pedal gas dengan gerakan cepat, membuat mobil yang dikendarainya melaju kencang mengabaikan teriakan beberapa petugas didepan yang tengah menghalaunya. Seperti tidak ada rasa takut, Kai sama sekali tak menghiraukan keberadaan mereka. Ia sama sekali tak mengerem ataupun sekedar mengurangi kecepatan. Mobilnya langsung melesat semakin mendekat hingga beberapa petugas itu akhirnya menepi dan Kai berhasil mendobrak masuk kedalam kediaman rumah Zhoumi.
Kai mengabaikan orang-orang yang kini mengejarnya hingga akhirnya ia memutuskan menghentikan laju mobilnya tepat disekitar pintu masuk utama rumah besar layaknya istana milik Zhoumi. Kai langsug mematikan mesin mobilnya. Mengeluarkan sebuah pistol dibalik punggungnya dan keluar dengan tenang seraya menodongkan pistol dalam genggamannya kepada orang-orang yang juga sama tengah mengancamnya dengan todongan pistol.
"Beri aku jalan menemui Zhoumi dan aku berjanji tidak akan menyakiti kalian." Ucapnya pelan namun penuh keintimidasian.
Tak mendapatkan respon apapun dari orang-orang yang tengah mengelilinginya. Kai berdecih pelan. "Terserah kalian." Geramnya yang sudah tidak bisa mengatasi kesabarannya.
Tanpa pikir panjang Kai langsung melesatkan beberapa tembakannya kepada orang-orang disekelilingnya hingga mereka terjatuh satu persatu. Ia tak peduli apakah tembakan itu mengenainya atau justru meleset, hal yang terpenting sekarang ia bisa menemui Sehun dan Zhoumi. Menangkap basah mereka yang telah merencanakan pembunuhan Yixing.
Dan itu berhasil, Kai bisa menerobos masuk kedalam ruangan. Kai berjalan dengan tenang, tanpa teriakan, tanpa suara apapun. Dengan todongan senjata yang dipegangnya, beberapa pekerja Zhoumi yang pada dasarnya didalam tak memiliki senjata, hanya bisa diam tak berkutik sedikitpun untuk melawan.
Kai mencari keberadaan sosok yang tengah dicarrinya. Tentu saja itu adalah Sehun, seharusnya dia ada disini tapi kenapa pria ini sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya sedikitpun. Tak ingin menyerah, Ia masih tetap menerobos masuk menobrak satu persatu setiap ruangan yang ada didalam kediaman Zhoumi. Mengabaikan semua ancaman pengawal-pengawal Zhoumi yang kini telah ada dibelakangnya menyuruh untuk berhenti.
Kai benar-benar tergesa bahkan ia tak segan menembakkan pelurunya kearah pengawal-pengawal yang masih saja mencoba menghalangi jalannya.
"Sehun, dimana kau?!" Kai berteriak dengan lantang tahu bahwa Sehun tak mungkin pergi begitu saja dan membodohinya seperti ini.
'BRAK'
Kali ini Kai telah mendobrak dengan paksa pintu sebuah ruangan dengan kakinya. Kini pintu besar itu terbuka lebar-lebar memperlihatkan ruangan kerja sang pemilik rumah termasuk juga dengan sosok penguasa rumah itu didalamnya yang tengah duduk dengan tenang menyipitkan mata bingung melihat Kai, sosok yang benar-benar dibencinya secara tiba-tiba berada didalam ruangannya ini.
Kai terpaku dan sedikit menggeram marah melihat ekspresi santai Zhoumi saat melihatnya. Ketika ia hendak merangsek masuk untuk lebih dekat mendekati Zhoumi. Kedua tangannya telah ditahan oleh kedua pengawal bertubuh kekar yang entah sejak kapan berada dibelakangnya, menahannya kuat. Bahkan pistolnya terjatuh ke lantai.
"Maaf Tuan, kami tak bisa menahannya." Ucap seorang pengawal yang masih menahan tubuh Kai yang kini memberontak.
"Sialan! Dimana Sehun?! Aku ingin bertemu dengannya!" Teriaknya mencoba melepaskan genggaman erat disetiap sisi tubuhnya.
Zhoumi masih menatap dengan tenang. Ia duduk tanpa bersuara sedikitpun, namun tatapan matanya tergambar segali terdapat api yang seolah menyala-nyala di dalam mata hitam dan kelamnya.
"Apa kita harus hubungi polisi?" Sahut seorang pengawal lagi karena mulai tak tahan dengan sikap kasar yang merupakan terduga pembunuh Yixing, ia kini memberontak kasar.
"Lepaskan dia." Ucap Zhoumi datar, terdengar santai dan ungkapan itu mampu membuat Kai langsung terdiam bingung begitupun dengan kedua orang yang tengah menahan tangan Kai. "Tinggalkan kami berdua, aku ingin bicara padanya!" Ucapnya tegas.
Kedua pengawal itu otomatis melonggarkan genggamannya dan Kai langsung menghempaskan tangan-tangan menjijikan itu menjauh dari tubuhnya. Hingga para pengawal itu memutuskan keluar setelah mendapatkan intruksi dari atasannya. Meninggalkan suasana mencekam antara Zhoumi dan Kai ketika pintu ruangannya kini tertutup rapat kembali.
Kai menatap tajam pria yang ada cukup jauh dihadapannya. Nafasnya tersenggal-senggal menahan emosi yang tengah meluap-luap dari dalam dirinya. Sebisa mungkin tidak langsung menghatam wajah datar itu dengan sebuah pukulan dari kepalan tangannya. Begitupun dengan Zhoumi yang kini berjalan memutar untuk berdiri didepan meja kerjanya dan menyandarkan sedikit pinggulnya dimeja itu. Menatap dengan tatapan dingin namun membunuh.
Untuk beberapa saat hanya sebuah keheningan diantara mereka. Hingga Zhoumi akhirnya menyeringai, sedikit berdecih dan menyipitkan matanya menghina.
"Pembunuh." Bisik Zhoumi secara sakartis kepada Kai yang langsung membuatnya tak bisa menahan lagi kemarahannya dan mengepalkan tangannya benci dikedua sisi tubuh Kai.
Say haii lagi…
Pembunuhnya udah ketahuan? Udah ketahuan? Gimana pertanyaan chap kemarin udah terjawab di chap ini? Hehe.. kalau masih belum ada bisa tetep ngikutin kok. Soalnya semakin deket ke Ending juga. *ehem Mungkin :3
Makasih sarannya, Maaf jika ada typo atau kalimat yang gak bisa dimengerti, maaf jika kecewa dengan chap ini tapi semoga masih layak buat di nikmatin yahh.. Lalu gimana Kyungsoo? Ikutin aja next chap ya.. *huhu Kyungsoo kena lagi kena lagi. Bow*
Makasih yang masih review/fav/follow. Semangatnya juga buat tetep lanjutin ff ini. Yeahh~
Xobechan56, daebaektaeluv, 1004baekie, Kim YeHyun, MissPark92, kyung1225, Kaisoo32, ruixi1, ryaauliao, Nadhefuji, Re-Panda68, choidebwookyung1214, flowerdyo, Sofia Magdalena, kyungsooxeveryone, hnana, Desta Soo, Lovesoo, DBSJYJ, jihanowl7, ssa91, Rumah Kepompong, ia, fitria96, joonwu, zoldyk, Guest, dwifit, XikaNish, flawsjox, NopwilineKaisoo, Gigi Onta, And, deva94bubletea, CocoBear, Kim Gyuna, guest, Arvita kim.
Maaf gak bisa bales review satu-satu, but Bigthnkssmch :*
Salam Blossom~
