-LOVE MATERIAL Chapter 10-

Pairing: SoonHoon/HoZi

Caster: Kwon Soonyoung/Lee Jihoon/ Seventeen member's

Lenght: Multi-chapter

Genre: Drama, Hurt Comfort, Sad, Romance.

Rating: T (PG-15)


BGM : IOI - DOWNPOUR (saya ngetik juga sambil dengerin lagu ini, puluhan kali *trololol*)


.

.

...

Hanya sedikit cahaya yang menerangi ruang luas nan megah itu. Dentingan gelas beradu dengan ujung sendok mini. Seseorang yang duduk di atas meja belajar dengan kedua kaki terangkat ke atas itu terlihat menyedihkan.

Satu botol tequila isinya sudah tandas setengah, lembar kertas turut berserakan diatas meja. Getaran ringan berasal dari ponsel hanya dilirik tanpa minat. Benda tipis itu tak tersentuh selama dua hari—ralat, Soonyoung sempat menggenggamnya beberapa jam yang lalu. Puluhan panggilan di abaikan, ratusan pesan tak terbaca. Sama sekali. Sang empu sibuk menikmati kesendirian.

Kembali membenturkan ujung sendok pada benda kristal berisi larutan emas. Meneguknya sesekali, kemudian menyesap potongan lemon yang tersedia di mangkuk kecil. Sejenak pikirannya tenang, ia letakkan dua benda berbeda itu ke tempat semula. Telunjuknya mendarat di lembaran kertas, bergerak memutar, membuat pola-pola semu.

Menyisir barisan abjad yang ia baca beberapa menit lalu.

Kertas pertama,

Seseorang berkata padaku, bagaimana bisa kau tertawa ketika temanmu terjatuh? Kemudian aku menjawab, aku mentertawakan kecerobohan yang dia perbuat. Lalu seseorang itu berkata lagi, ini tidak baik. Seharusnya aku mengunci bibir dan mengulurkan tangan, membantunya berdiri. Kau mengingatnya?

Kertas kedua,

Akhir-akhir ini kulihat kau senang memakai topi, aku menyukainya, Soonyoung.

Kertas ketiga,

Kau meninggalkan kunci mobilmu sembarangan, aku menemukannya di bangku lorong utama, sudah kutitipkan kuncimu pada Heeyeon. Pelupa~

Kertas ke empat,

Perempuan manis yang biasa bermain sembunyi batu di depan rumahku sudah pindah, rasanya aku rindu riuh tawa mereka.

Kertas ke lima dan seterusnya,

Kegiatan apa yang baik dilakukan ketika bosan? Menyanyi? Aku ingin melakukan hal itu, melantunkan suara di hadapan seseorang.

Air hangat bagus untuk matamu yang memerah, lekas sembuh.

Bougenville yang kurawat, tak dapat berbunga lagi. Saat kuperiksa, ternyata akarnya membusuk dan rusak parah. Soonyoung, bagaimana ini bisa terjadi sementara kelopak bunganya masih baik-baik saja?

Aku tak bermaksud melukaimu sungguh, maafkan aku. Jangan memintaku untuk menjauhi Chan, kumohon.

Yang kutahu dari temanku, aroma bunga aster dapat menenangkan pikiran. Kau masih memilikinya di atas meja belajar 'kan? Kuharap kau tidak terlalu larut dengan tugas, istirahat yang cukup.

Yang terbaik untukmu Soonyoung, jaga kesehatan.

Benda tipis itu kembali bergetar, kali ini nama ibunya yang tertera di atas layar. Maka Soonyoung segera meraihnya, menggeser screen display, cukup dengan bersuara, "Aku sedang sibuk dengan tugas akhir, eomma." Setelahnya panggilan kilat itu di akhiri.

Soonyoung mengemas lembaran lusuh itu menjadi satu kemudian ia simpan di dalam laci. Berdiri, lalu membanting tubuh ke ranjang. Ia terlentang dengan sebelah lengan menutupi mata.

Torehan kalimat yang sukses membuat jantungnya jungkir-balik. Kertas warna-warni; berasal dari amplop yang ia pungut beberapa hari lalu, surat yang sebagian isinya sudah menjadi bubur, terendam air keruh.

Empat surat tak tertolong. Sebagian lagi, masih bisa dibaca meskipun sedikit susah. Mengandalkan cahaya lampu, Soonyoung memaksa otaknya mengurai barisan tinta pudar dari kertas yang ia bawa. Yang paling membuat dia tak bisa berpikir tenang, lembar terakhir—kalimat yang tertulis di kertas berwarna merah.

Dia berhasil membuatmu tersenyum tanpa beban, aku terkesan dan aku bahagia. Apa aku lupa berkata? Senyumanmu yang kusukai, Soonyoung, aku merindukannya.

Kusukai? Sejak kapan? Gila!

Kemana perginya 'kebohongan' yang Jihoon lakoni selama ini?

Bukankah dulu dia juga mengatakan hal demikian? Salahkah Soonyoung jika mempunyai pikiran, manis di depan kemudian pahit di belakang? Ya, salah—sebelum hari dimana Jihoon meraung di hadapannya datang. Dusta jika saat itu hatinya baik-baik saja. Menyaksikan embun di mata Jihoon bergoyang saja dia sudah kepalang sakit.

Detik ketika buliran air mata Jihoon membasahi pipi, sakit yang Soonyoung rasakan kian menjadi-jadi. Nyeri.

Kertas merah berarti berhenti. Menyerah.

Dimana letak kalimat kiasan seperti yang ia pikir? Tidak ada. Hanya kalimat sederhana, namun Jihoon terkesan mengutarakan semuanya secara langsung. Seakan-akan mengadukan segala hal yang dia lalui selama Soonyoung menghindar. Betapa dia menyesal, betapa dia merasa bersalah, dan betapa dia ingin kembali?

Soonyoung berguling ke samping, menyalakan lampu tidur, menatap awan kamarnya dengan pandangan berkunang.

Telinganya berdenging; celotehan Jihoon, pekikan tak terima, lengkingan marah, ratapan sesal, tangisan yang menyayat hati—saling bersahutan. Berebut cela menyapa membran timpani. Merambat parah dan berakhir dengan denyutan keras di kepalanya sendiri.

Kenapa dia memeluk Jihoon? Apa maksud dari kata maaf yang ia ucapkan? Bodoh!

"Soonyoung..."

Dia tidak terkejut sama sekali ketika pintu kamarnya terjeblak begitu saja. Derapan tergesa-gesa terdengar. Kemudian ia merasakan ranjangnya bergoyang. "Ya Tuhan, kau kemana saja?"

"Di rumah." Soonyoung masih bertahan dengan posisinya.

"Maksudku dua hari ini, kau dimana? Panggilanku, pesanku tak kau lirik sama sekali."

"Aku sudah membalas satu pesanmu beberapa jam lalu, maafkan aku."

"Aku khawatir, Kwon. Pangkal hidungmu tak terlihat selama dua hari. Aku baru selesai bekerja dan langsung berlari kemari, dasar!"

"Maaf, Jeon."

Soonyoung merangkak, meletakkan kepalanya di lipatan kaki Wonwoo. "Hei, aku lelah, kepalaku berat sebelah. Pusing." Bibir Wonwoo mengetat, banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan terpaksa harus ditelan kembali. Wonwoo merendahkan kepala, mengenduskan hidung. Aroma tajam berbaur dengan aroma masam? Lemon? Wonwoo mengangguk paham begitu benda-benda yang ia curigai benar adanya—terlantar di atas meja.

"Drunk?"

"Setengah tequila tidak akan membuatku mabuk, hanya saja sekarang aku mengantuk."

"Sudah kukatakan puluhan kali padamu, aku tak keberatan kau bercerita banyak hal. Aku bersedia menjadi pendengar setia, aku berjanji tidak akan memangkas ucapanmu lagi sebelum kau benar-benar selesai mengatakan semuanya, asalkan kau tidak terpuruk seperti ini."

"Terima kasih. Untuk sekarang, aku harus menyelesaikan semuanya sendiri."

Wonwoo membatu. "Serahasia itu?" Tanyanya lirih dan kepala Soonyoung menggeleng pelan, "Jangan salah paham. Aku tak ingin orang lain turut sakit kepala dengan peliknya hal yang kuhadapi, itu saja."

Orang lain? Perlu kau catat Wonwoo, kau itu orang lain.

"Baiklah, tidur saja. Kau utang banyak penjelasan padaku. Besok pagi, bersiaplah menjawab ribuan pertanyaan dariku. Eung, omong-omong, boleh aku menginap disini?"

Satu cubitan ringan Soonyoung daratkan di sebelah pinggang Wonwoo. "Berlebihan sekali. Ini bukan hotel, yang jelas siapkan satu juta won untuk harga inap satu malam."

"Dalam sebulan tak bisa membangun apartemen sendiri pastilah rugi, cih!" Sunggingan senyum di bibir Soonyoung dapat Wonwoo tangkap, sebelum kemudian pemuda dengan kantung mata gelap itu jatuh terlelap.

Wonwoo meletakkan tas selempang miliknya di samping kaki ranjang. Bertahan dengan beban berat di atas pangkuan, ia tak henti mengusap surai kelam Soonyoung.

Dia paham apa penyebab ini semua. Siapa lagi? Pemuda pendek bermarga Lee, tentu saja. Wonwoo tahu, tanpa perlu bibir Soonyoung terbuka sekali pun. Sebut saja dia penguntit ulung, rela berdesakan dengan benda-benda usang yang tersusun menyimpang. Merapat pada engsel besi sebuah pintu bobrok di bawah atap fakultas seni.

Membuka daun telinga lebar-lebar, mendumal lirih ketika indera pendengarnya tak mampu menangkap sahutan suara dua insan yang tengah ia pantau. Sia-sia, dia rela terjepit di antara bilah kayu patah demi suara angin yang berhembus. Hanya tangisan Jihoon yang terdengar, itu pun sayup.

Tetapi Wonwoo tidak melewatkan satu insiden—berkat bantuan cela selebar dua jari, dia menengadah dan dapat menyaksikan Soonyoung memeluk tubuh mantan kekasihnya dari belakang. Hampir saja ia melompat dari tempat persembunyian namun urung kala menangkap bayangan seseorang yang tergesa turun dari tangga, wajahnya memerah, tanpa ekspresi.

Pikiran Wonwoo kacau!

Begitu pula dengan Soonyoung, pemuda ini tak benar-benar tidur. Di balik pejaman matanya yang rapat, otaknya sedang bekerja keras menelaah segala hal. Kembali ke surat dengan sapuan tinta hitam, satu-satunya surat yang rapi penuh dengan barisan kalimat alegori.

Ketika aku lelah, tanpa sadar kakiku melangkah ke arah yang salah, aku tersesat, melangkah sendirian, mengikuti jalan setapak yang penuh pepohonan rindang dengan cherry manis di setiap dahannya. Indah sekali. Tetapi aku abai, sibuk dengan kegiatanku sendiri mencari jalan untuk pulang, sesekali memakan buah yang menggantung tidak jauh dari tempatku berdiri.

Jengah. Aku geram—ya, aku mengumpat sepanjang jalan, sebab pepohonan yang berjajar itu bak mentertawakan langkahku yang terkesan berputar-putar. Kemudian setelahnya, ketika aku menemukan jalan keluar, aku pergi begitu saja—berlari ke rumah.

Beberapa hari berikutnya aku datang lagi dengan segenggam rasa terima kasih. Aku baru sadar, pepohonan rindang itu tak mentertawakan aku, bahkan 'dia' bersedia membentangkan rantingnya tinggi-tinggi agar aku tak merasa gerah, agar aku tak merasa lelah, senantiasa memayungiku dengan helai daunnya yang indah. Disana, aku tidak menemukannya lagi.

Soonyoung, pepohonan dengan ranting kokoh itu mati. Kering, daunnya gugur, buahnya berhamburan.

Aku menyesal, sekarang.

Soonyoung, jika aku datang dengan ratusan liter air dan pupuk, akankah 'dia' tumbuh lagi? Bersedia memayungiku yang siap berlarian di jalan yang sama? Adakah harapan untukku memanen rasa sejuk?

Baguslah, denyutan di kepala Soonyoung bertambah parah.


- LOVE MATERIAL Chapter. 10 -


Melupakan seseorang tidak semudah menggoyangkan jempol di tangan.

Jihoon memang mencintai Soonyoung. Walaupun ia terlambat menyadari perasaan itu, setidaknya sekarang; sedikit dari banyaknya beban yang ia tanggung sudah berkurang. Dia berani mengakui perasaan secara langsung di hadapan orang yang bersangkutan.

Ya, dapat dikatakan tak sepenuhnya berhasil sebab dia sendiri kebingungan memulai dari mana? Tidak seperti apa yang ia siapkan sebelumnya, kata-kata yang keluar dari bibirnya terkesan buru-buru dan sebagian kalimat yang sudah ia rangkum bak kertas terlahap api, hangus. Lebih-lebih dia mendapat penolakan. Kalimat tajam yang mampu mengoyak luka di hatinya, komponen rapuh dalam dirinya itu sudah berkali-kali mengucurkan darah.

Jika diingat ulang, Jihoon ingin menangis lagi rasanya.

Lantaran dia sudah tidak mampu lagi menerima pesakitan, terlampau banyak luka yang ia terima. Memantapkan hati, Jihoon memilih berhenti—suka tidak suka, mau tidak mau, belajar melupakan Soonyoung merupakan prioritas nomor satu! Sepenuhnya dia sadar, ini sangatlah sulit dan sangat jauh dari kata gampang. Angkat bahu, pasang wajah garang—kembali seperti sebelumnya.

Lee Jihoon yang terpuruk mati sudah!

"Kau ingin yang mana?"

Suara Seungkwan menyadarkan Jihoon yang terlarut dalam kubang pikirnya sendiri, menerima uluran papan berisi menu makanan. "Gelato vanila sepertinya menyegarkan." Seungkwan mengangguk kemudian menyerahkan lembaran won pada si penjual.

Mereka terdampar disini, menunggu seseorang. Boleh dibilang, sebelumnya Seungkwan melibatkan sedikit pemaksaan. Mengerahkan kemampuan 'seret sampai tempat'. Ia mengamit lengan Jihoon dan membawa sosok pendek itu untuk mengikuti langkahnya, melayangkan tatapan membunuh ketika Jihoon mengangkat bokong dan ingin pergi.

Jihoon gerah setengah mati, dia ingin pulang lalu bergumul dengan selimut di ranjang. Bermanja pada guling kesayangan. Tapi teman tambun bermata lebar ini terlebih dulu menyita waktu santai yang Jihoon punya.

Ia terisolasi di kedai pedagang materil dingin di samping jalan raya.

Masing-masing telapak tangan menggenggam mangkuk kaca berukuran sedang. Kudapan milik Jihoon berwarna putih, sedangkan milik Seungkwan terlihat ramai taburan topping dengan warna merah. Si pendek itu mengernyit geli, "Yang itu rasa apa?"

"Hng? Ini?" Seungkwan mendorong mangkuk miliknya ke arah Jihoon, "Raspberi, kau mau? Akan kubagi denganmu."

"Tidak, tidak, terima kasih. Ini saja sudah lebih dari cukup." Jihoon menolak. Membayangkan makanan dengan taburan berlebihan itu masuk ke perut saja dia kepalang mual. Tanpa banyak kata Seungkwan menarik lengannya kembali, menggali sedikit dari tumpukan gelatonya lalu menjejalkan ke dalam bibirnya sendiri.

"Sebenarnya aku sedang marah, Jihoon."

"Hah?"

"Vonon sudah membatalkan janji kencan dua kali. Siang ini harusnya aku pulang sendirian kemudian mengunci pintu, hukuman tidur di luar rumah tidak kelewatan 'kan, Ji?"

Jihoon terkikik, "Lakukan saja, itu urusan kalian. Saranku, jangan—kasihan dia, tanyakan padanya apa alasan Vernon mengingkari janji, jangan gegabah."

"Aku pun tak tega melakukan ini, terlebih pulang ke rumah ibu adalah hal yang sangat kubenci."

"Kenapa?"

"Aku tak membenci orang tuaku, aku benci mendengar celoteh tetanggatu. Asal kau tahu, setiap kali aku pulang ke rumah, rasa-rasanya aku ingin meremas mulut tak berpendidikan mereka. Senang sekali mengomentari masalah orang lain, berita private sekalipun mereka cepat tanggap seakan memiliki narasumber pribadi. Aku heran sekali."

"Itu risiko."

"Risiko yang menyebalkan."

"Ibarat di lingkungan sekolah—kau yang belajar dan guru yang menilai. Begitu 'kan? Kita yang berperilaku dan orang lain yang menilai. Kau bukan hidup di hutan belatara Seungkwan! Jadi kau harus pintar dan berhati-hati dalam bertingkah laku, kalau baik ya mereka diam, buruk? Banjir cacian."

"Bertingkah bijak pun tak akan menuai pujian. Itu impulsif Jihoon. Aku pribadi, pilih abai—dengar telinga kanan, lepas telinga kiri. Aku makan tidak meminta pada mereka, ayah ibuku kelelahan mencari nafkah tidak pernah mengeluh pada mereka. Santai... bertingkah manis tak sesuai kepribadian itu susah, jadilah, aku tetap seperti ini. Siapa peduli? Terkecuali mereka berani menyentuh kulit, maka aku tak akan tinggal diam."

Jihoon menghembuskan napas lelah, berbicara dengan orang berkepribadian ganda ini percuma saja. "Terserah apa katamu, aku mengalah Seungkwan."

Gagasan dari Jihoon ini hanya Seungkwan balas dengan kendikan bahu. Ia lebih tertarik mengunyah remahan biskuit, mengecap rasa manis yang tertinggal di lidah. Penasaran dengan suatu hal, Seungkwan kembali angkat suara, "Ji, hubunganmu dengan Soonyoung—?" Sosok bermarga Boo itu meralat segera, "Aku tidak jadi bertanya, maaf."

Masalah pribadi yang berkelit itu mana mungkin Jihoon berkenan cerita.

Alih-alih geram, Jihoon justru menampilkan sebuah senyum tipis. "Sudah berakhir. Benar-benar berakhir."

"Sungguh?"

"Ya."

"Kau tidak apa-apa?" tanya Seungkwan ragu-ragu.

Jihoon mengangguk, "Aku serius, Kwan-ah."

Seungkwan tersenyum, dimana arti senyuman itu bukan mencemooh malah sebaliknya, ia lega. Luar biasa lega melihat Jihoon berkata demikian dengan raut tenang. "Kelak, kau akan mendapatkan yang lebih baik dari dia."

"Yang seperti Vernon, harapanku begitu." Setelah berucap, Jihoon terbahak. Sementara Seungkwan sama sekali tak marah, si tembam itu justru mengajukan pertanyaan lain yang membuat Jihoon menghentikan tawa, "Kau benar-benar akan melupakannya?"

"Aku akan berusaha."

"Berusaha? Itu pasti berat untukmu, Ji. Aku mendukungmu."

"Terima kasih, aku mencoba bersikap tenang mulai dari sekarang."

"Meski Soonyoung berjalan di hadapanmu? Menyapamu?" Jihoon tergelak. Menyapa? Yang benar saja. Biarpun ia pernah berharap begitu, namun sepertinya tuturan Seungkwan ini tidak akan pernah menjadi kenyataan.

"Mungkin," Jawabnya nanar.

"Woah, panjang umur. Itu dia, Soonyoung di belakangmu." Seungkwan mengulurkan lengannya ke depan, segera saja Jihoon menoleh dan tak menemukan siapa-siapa. endengar suara tawa Seungkwan yang menggelegar, ia baru sadar jika sedang dikerjau.

Tak berminat mengomel, Jihoon hanya mendengus.

"Kali ini aku tak berbohong, lihatlah... Soonyoung disana, Ji." Jihoon tidak ingin tertipu lagi, ia abaikan celotehan Seungkwan.

Gemas tak ada tanggapan, Seungkwan mencengkeram dagu Jihoon dan memutar kepala bersurai hazel itu ke lain arah. Benar. Soonyoung ada disana, sendirian, tak ada Wonwoo di sebelahnya. Earphone tertancap di telinga, kurva yang bergerak sesekali petanda Soonyoung sedang berbicara dengan seseorang.

Menghubungi Wonwoo, mungkin.

Beberapa detik berikutnya Jihoon membuang wajah. "Sudahlah, gelatomu mencair."

"Dia melangkah kemari, eh? Jihoon, dia kemari." Sungkwan heboh sendiri. Sosok berkaus gelap di sebelahnya menunduk.

Setelahnya Seungwkan diam, ikut bertingkah seolah tak saling kenal. Samar, suara rendah Soonyoung terdengar, pemuda itu memesan dua gelato untuk dibawa pulang. Salahkan Jihoon yang tak dapat mengendalikan engsel leher, dia bermaksud mencuri pandang dan kebetulan sekali Soonyoung sedang menghadap kursi tempatnya singgah. Pemuda itu membalas tatapannya, tatapan biasa.

Tidak ada raut benci lagi.

Jihoon salah tingkah, kembali menunduk, malu sendiri.

Soonyoung bahkan bertingkah seolah pengakuannya sore itu tak pernah terjadi.

Ekor matanya yang kecil mengikuti pergerakan Soonyoung, lama, bahkan ketika si Kwon itu selesai membayar dan lenyap di tikungan lain. Satu tepukan lembut berasal dari Seungkwan. "Hei, aku percaya kau bisa."

Jihoon tidak tahu harus berekspresi seperti apa? Hanya mampu tersenyum, mengaduk-aduk materil dalam pangkuannya. Klise kelam pekan lalu berputar-putar di otak. Jihoon pening mendadak.

Tidak suka dan berat hati. Dua opsi ini sedang dialami oleh seorang Wen Junhui.

Well, siapa yang senang terlibat dalam masalah pelik seseorang? Tidak ada.

Terkeculi orang yang kekurangan konsumsi berita dan mungkin segelintir orang memang menggeluti hobi turut campur dalam hal yang menurut Junhui bukan porsinya. Menari lidah sesuka hati, bermaksud membantu dengan ceceran kalimat petuah. Ini dia, Junhui benci sekali hal ini; banyak manusia yang pandai menilik masalah orang lain tetapi mengurus masalah pribadi, gigit jari. Nihil, bobrok!

Ya, Junhui paham, mungkin sang empu mempercayai dia sebagai tempat berkeluh kesah. Entah memang senang bertukar pendapat dengan Jun, entah nyaman, atau bisa jadi setiap kata yang keluar dari bibirnya membantu. Dia senang bisa membantu meluruskan masalah seseorang, senang sekali. Semacam ada rasa bahagia tersendiri. Lagi pula bantuan lisan tidaklah susah. Dilakukan Junhui senang, tidak di hiraukan pun Junhui tak kan berpikir panjang.

Tetapi itu tidak berlaku jika dia menolak. Terlebih Junhui tak ingin membebani diri dengan masalah yang berkelipatan, sebab dia sendiri merasa belum becus meniti masalah pribadi yang terkesan simpang.

Nilai tambah, orang yang sedang merengek padanya saat ini adalah orang yang cenderung kekanak-kanakan. Bodoh, berperilaku layaknya balita, terlilit masalah yang sebenarnya mudah untuk diselesaikan hanya saja dia kesulitan mencari jalan keluar.

Alhasil, perkaranya menjadi rumit dan berjalan di tempat.

Tak salah jika Junhui memiliki pikiran—Soonyoung baru pertama kali ini pacaran.

"Ayolah, sudah kubilang berkali-kali. Aku tak berminat terlibat dalam masalah kalian," Junhui mendecak, nyaris melarikan diri tetapi lengan Soonyong terlebih dulu tanggal di sikunya, "Duduklah Jun, ini yang terakhir aku janji. Benar-benar janji."

Lelaki berdarah China itu nampak sekali tak berkenan. Bola mata jernihnya menelusuri seisi ruangan, sepi, tentu saja—kelas dosen Lim baru berakhir sepuluh menit yang lalu. Hanya tersisa mereka berdua, acuh tak acuh Junhui meraih satu buku lalu membolak balik kertas berlapis itu dengan asal.

Rasa-rasanya dia salah mengambil jurusan bisnis, nyatanya dia di perlakukan seperti 'pakar' sekarang. Tahu begini, mending dia mengambil jurusan psikologis sekalian!


Soonyoung menghela napas, "Jun, aku sudah bertemu dengan Jihoon."

"Beberapa menit lalu kalian juga bertemu." Jun memberi jeda, "Maksudmu, bertemu dalam artian lain?"

"Ya, begitulah."

Junhui melipat bukunya dengan segera, "Itu artinya sudah beres 'kan? Terlepas dari perihal kalian pilih bersama atau berpisah, aku tak ingin mendengarnya—tak ingin sama sekali. Aku pergi..."

"Tunggu dulu, sial. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu."

"Dan aku tak berminat menjawab pertanyaan yang akan kau ajukan itu," Penolakan. Kedua mata Soonyoung terpejam. Meyakinkan dirinya sendiri, jangan sampai tersulut emosi. Pemuda bermata segaris itu mendesis, "Ayolah Jun, please."

Junhui kembali lengser di kursi, meremas kedua pipinya dengan brutal. "Ya Tuhan, Soonyoung, kau benar-benar pengacau!"

Hening setelahnya.

Menyadari Soonyoung bergeming, Junhui merasa kasihan. Pada akhirnya dia mengalah, menjatuhkan kening di lipatan tangan. "Akan aku dengarkan semuanya dengan posisi seperti ini. Bicaralah, aku tidak akan tidur."

Soonyoung melirik sedikit, lalu mengesah berat, "Kupikir setelah kami bertemu, setelah aku mendengarkan semua penjelasan darinya begitu juga sebaliknya—dia mendengar ucapanku, masalah ini akan berakhir sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi nyatanya aku tetap buta arah, aku merasa disini ada yang salah, Jun... ini aneh."

Jun menimpali dengan samar, "Kau menyangkal semua yang di ucapkan Jihoon, benar?"

Pertanyaan ini sukses membuat Soonyoung tertarik, ia perhatikan Junhui yang mulai bangkit dari posisinya, sosok berkulit kuning itu meniup helai rambut di bagian dahi, "Itu sudah bisa kutebak, Soonyoung. Kau terlalu lama memendam emosi dan kau tipikal orang yang tak pernah mau kalah, ingin menang sendiri."

"Aku tidak ingin menang sendiri, aku berkata sesuai faktanya."

"Fakta? Fakta bahwa kau menyesal sekarang?" Tamparan telak untuk Soonyoung, pemuda itu bungkam. "Kau bukan murid sekolah dasar, berpikirlah realistis. Aku tahu ada hal lain yang ingin kau ketahui bukan? Katakan."

"Selain Seungkwan dan Vernon, kau juga cukup dekat dengan Jihoon, Aku—"

Belum selesai Soonyoung bersuara, Junhui segera memangkas. Menjawab pertanyaan tak lengkap itu dengan lugas, "Kau baru pertama kali menjalin hubungan dengan seseorang, eh? Jika kau pernah berhubungan dengan orang lain sebelum ini, masalahnya tidak akan serumit gumpalan tali. Berapa lama kau bertahan dengan Jihoon? Selama itu apa kau tidak tahu seluk-beluk tentang dia? Bagaimana perilakunya, kepribadiannya? Lebih-lebih kehidupannya. Yang kau tahu hanyalah, kau mencintainya dengan tulus lalu terkuak kebohongan yang membuatmu sakit hati. Kau di manfaatkan, kemudian lepas tangan dan memilih pergi. Kekanakan!"

Soonyoung sudah siap mental dalam urusan ini, dia sudah membentengi diri untuk tidak terbawa suasana meladeni ucapan pedas seorang Junhui. Dia cukup lama mengenal pemuda yang terkenal sopan dan santun itu, maka Soonyoung tak kaget melihat sisi tegas Jun yang tak banyak orang ketahui di luar sana. Ciri berceloteh ringan tapi berbisa. Bahkan, hanya dengan sekali tarikan napas Jun mampu merenteng jawaban dari pertanyaan yang sebenarnya memang ingin Soonyoung ajukan.

"Kutanya padamu Soonyoung, jika selama itu kau tak tahu apa-apa tentang dia... lantas kau dapat bergumam 'mencintainya' dari segi mana? Mana? Mencintai Jihoon dari segi badan atau wajah? Lucu!"

Kartu mati.

Soonyoung mengusap wajahnya kasar, menghalau denyutan kuat yang kini menyerang syaraf di kepala. Semua yang dikatakan Junhui benar, tak ada satupun yang salah.

Itu, itu dia—pertanyaan yang sering membuat kepalanya penuh selama ini, pertanyaan yang terkadang membuat Soonyoung harus berperang batin dan berakhir dengan rasa sesak tak berujung.

Mengingat ia yang berusaha tulus mencintai seseorang, menuai balasan curang, sakit sekali.

"Soonyoung..."

"Hm?" Ia mendongak. Tidak menemukan wajah sebal lagi, kali ini garis wajah Junhui terlihat lebih tenang dan sendu.

"Akan aku ceritakan beberapa hal padamu, tentang dia."

"Kau tidak keberatan?" Tanya Soonyoung lirih, segera Junhui balas dengan gelengan kepala. "Kau sudah berjanji ini yang terakhir, catatlah... ini terakhir juga aku bersedia memberi gagasan dalam masalah kalian."

Soonyoung tak menggeleng tak juga mengangguk, ia diam.

"Soonyoung, aku memang cukup dekat dengan Jihoon. Kau tahu sendiri dia sosok seperti apa? Tidak mudah bergaul dan tak mudah berteman dengan siapapun. Aku beruntung bisa menjadi salah satu orang yang bisa dekat dengannya, tentu saja—meskipun di pertemuan awal kami, aku harus rela bermandi guyuran soda."

Jun tertawa hambar kala mengingat hal itu, lalu melanjutkan, "Tetapi aku tidak tertarik mengetahui sisi lain tentangnya, cukup tahu Jihoon sosok ceria dan tak banyak bicara. Sebelum malam itu, aku menemukan dia terduduk di tanah dengan pandangan kosong. Beberapa orang yang berlalu lalang di belakangnya tertawa, menjadikan Jihoon bahan guyonan pasalnya malam itu dia terlihat layaknya orang kehilangan arah."

"Lebih pantas disebut orang gila ketimbang orang normal. Dengan buntalan berisi kardus sepatu dan beberapa helai pakaian."

Kedua mata Soonyoung membola.

Ingatlah malam dimana kau mempermalukan dia di hadapan semua orang, Soonyoung!

"Matanya kering. Dia tidak menangis tetapi aku paham hatinya tengah berlinang. Dia kebingungan, Soonyoung... mungkin dia tak kan menyadari keberadaanku jika aku tidak menyerukan namanya berulang-ulang. Malam itu juga, aku tahu sepenggal kisah kehidupan tentangnya—dia yang terlunta-lunta, dia yang terbuang, dia yang tak di inginkan."

Junhui tercekat, "Pernah kubilang padamu, di balik hal yang ia lakukan ini pastilah dia memiliki alasan. Soonyoung, dia senang dijejali berbagai macam 'kemewahan' darimu, terlampau senang menikmati hal-hal mewah yang bahkan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hidup berkecukupan yang sudah ia idamkan sedari lama. Sayangnya, Jihoon gelap mata dan beginilah akhirnya."

Masih kental dalam ingat Junhui,

"Jun, malam itu aku bahkan tak tahu harus melakukan apa. Aku berkeliling mencari-cari rumah saudara ayah dan ibuku tetapi mereka tak bersedia membuka pintu. Aku bingung dan menangis pun percuma, tak ada yang peduli. Aku bertahan dengan satu-satunya pakaian basah dan sepasang sepatu yang melekat di kakiku. Sempat memikirkan, esok pagi bagaimana cara agar aku bisa bertahan hidup? Menjual sepatu yang kupakai rasanya tak membantu. Aku pasrah, satu-satunya hal yang berjubel dalam otakku malam itu, esok pagi aku pasti ditemukan mati."

Sumpit dalam capitan jari Jihoon terlepas, si pendek itu menunduk.

Jun tak lagi berselera mengaduk isi mangkuk di hadapannya, mendadak hatinya pedih. "Jangan dilanjutkan, oke? Malam ini aku mendapat hadiah dari ayah. Sisa gajimu kau simpan saja, aku yang traktir." Diusaknya surai halus milik Jihoon.

"Tapi aku sudah berjanji padamu," ujarnya dan Junhui menggeleng, "Gunakan untuk keperluan lain, Ji."

"Terima kasih, Jun... bertemu denganmu seperti ini mengingatkanku dengan kakek Nam." Jihoon melukis senyum, "Kakek yang menemukanku, membawaku masuk ke dalam rumahnya yang hangat, merawatku bak cucunya sendiri. Aku membantunya berjualan, aku di sekolahkan dan dari beliau juga aku meraup banyak pelajaran. Jun, sekarang aku menyesal—kesederhanaan yang kupertahankan lenyap. Aku menyakiti Soonyoung, aku serakah, aku lupa segalanya."

"Buku yang kau temukan, dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa? Yang Jihoon ingat, kunci loker pribadinya menghilang. Sebab itulah dia sering bertanya-tanya, mungkinkah kau yang menemukan kemudian menggeledah barang-barang yang ia simpan?"

Soonyoung sudah kacau dengan kedua tangan menutupi wajah. Hatinya tercabik. Nyeri di dalam sana tak dapat lagi dia tepis, pasalnya kini Soonyoung juga menangis.

Dia bukan orang lancang, sungguh! Mana berani mengorek isi loker seseorang, walaupun seseorang itu kekasihnya sendiri. Dan bagaimana bisa dia sebebal ini? Bagaimana bisa dia terlambat mengetahui itu semua?

Soonyoung, lebih baik kau mati saja!

"Kau menyesal sekarang? Sering kuingatkan padamu, jangan kelewat—" Soonyoung sudah terlebih dulu menyingkirkan meja penghalang lalu mencengkeram erat kerah pakaian Junhui, "Kenapa masalah ini kau sembunyikan dariku? Kenapa baru membeberkan semuanya sekarang, Jun?!"

Sosok bermarga Kwon ini sudah berbakar emosi. Kalap! Rapatan giginya berkerit, kulit wajahnya berubah warna. Satu baku hantam Jun hadiahkan sebagai bentuk perlawanan.

"Sadarlah, Soonyoung! Harusnya kau cari tahu jalan masalahmu sendiri, bukan dariku! Kalian sama-sama salah. Inilah penyebab aku tidak suka setiap kali mendengarmu berkeluh, kau keras kepala, selalu ingin menang sendiri!"

"Ya Tuhan..." Soonyoung mengerang kalah. Kedua tangannya bergerak liar menyakiti dirinya sendiri.

Kau salah. Diabaikan dan tidak dianggap, keduanya sudah kualami jauh sebelum aku bertemu denganmu, jauh sekali.

"Itulah kau Kwon, hanya dengan segores luka di lengan saja sudah merengek, kesakitan, berlari-lari mencari pertolongan. Sementara seseorang disana dengan kepala berdarah bertahan sendirian tanpa bantuan dari siapa-siapa!"

Menyaksikan Soonyoung seperti itu, Junhui iba. Pada dasarnya memang dia orang yang tak memiliki rasa tega. Ia turut merunduk ke bawah, kedua tangannya bertumpu di bahu Soonyoung, meremasnya kuat-kuat, "Kali ini aku ada di pihakmu, kawan. Perbaiki semuanya. Kumohon, sebelum kau benar-benar terlambat nantinya."


- LOVE MATERIAL Chapter.10 -


Diekori adalah hal yang sangat menjengkelkan. Terusik? Itu sudah pasti, lebih-lebih yang melakukan itu adalah orang yang boleh dibilang sedang dihindari.

Jeon Wonwoo mengesah tak terima ketika bangku kayu yang sudah dia siapkan untuk seseorang, ditempati oleh orang yang salah.

Pemuda jangkung dengan cengiran bodoh itu tak mau pindah, bersikeras menempeli kemanapun dia pergi. Bongkahan kantung penuh makanan masih menggantung tanpa ia raih. Jika tahu begini, hari itu dia tidak mungkin mau menuruti permintaan Mingyu. Sekarang siapa yang menanggung beban? Mingyu bersikap seolah Wonwoo sudah membuka portal 'silakan' yang itu sama sekali tidak benar!

Seandainya sang ibu tidak membuka pintu rumah, mungkinlah tak kan ada hari dimana dia semakin kalang kabut bersembunyi dari kejaran pemuda ini.

Mingyu semakin gencar melakukan pendekatan—semakin rajin mengirimi dia pesan, jangan lupakan bungkusan makanan yang bahkan terkadang Wonwoo biarkan begitu saja.

"Hyung, mau cokelat? Roti? Atau steak seperti kapan hari? Aku memasaknya pagi—"

"Kim, tidakkah kau memiliki aktivitas lain selain mengekoriku setiap hari? Aku tidak menyukainya dan aku risih, asal kau tahu." Bombardir untuk Mingyu. Pemuda tampan itu meringis kecil sebelum kemudian mengulum senyum masam.

Ingin membalas ucapan Wonwoo tetapi si manis itu kembali buka suara, "Maaf... maafkan aku, mungkin terdengar menyakitkan untukmu. Tapi Mingyu, kuharap kau paham—aku tipikal orang yang selalu protes dengan hal yang membuatku tidak nyaman. Aku tidak tahu lagi harus menegurmu dengan cara apa dan bagaimana?"

"Beri aku alasan, apa yang membuatmu enggan membuka hati untukku?"

Mingyu memutar letak kursi, atensinya benar-benar terfokus pada sosok berkaca mata bulat itu. Ini benar, Wonwoo memang selalu meminta dia untuk berhenti, tetapi pemuda Jeon ini tidak pernah memberi alasan apa penyebab dia tak berkenan memberi kesempatan. Bilamana Wonwoo dapat memberi setidaknya satu kalimat mungkin Mingyu bisa menjadikan itu pedoman mundur. Mingyu tak sepenuhnya salah disini, mungkin jika ini dialami oleh orang lain, orang lain itu pun pasti melakukan hal sama; menuntut penjelasan.

Wonwoo membencinya? maka atas dasar kesalahan apa? Jika memang Wonwoo tidak menyukai Mingyu karena perilakunya—perilaku yang mana? Sebisa mungkin Mingyu akan berupaya mengubah perilaku buruk itu menjadi lebih baik. Wonwoo sering meminta dia untuk menghindar, tapi nyatanya ketika Mingyu tidak menurut dan memilih bertahan, si manis itu diam. Wonwoo sering mengacau dengan mengomentari makanan yang dia belikan, tapi ketika Mingyu tidak ada—makanan dalam loker itu Wonwoo habiskan diam-diam.

Logikanya, jika memang Wonwoo jera, kemungkinan besar makanan yang ia beli berakhir membusuk dan teronggok dalam tong sampah. Kemungkinan kedua, pukulan akan Mingyu dapat sebab dia tetap menempel pada Wonwoo. Mingyu merasa ada yang salah, semacam Wonwoo memberi harapan namun tak pasti.

"Hyung, kau mendengarku?"

"Aku sudah berapa kali bicara padamu? Aku tidak memiliki alasan lain, berhentilah."

"Baiklah, aku pun sama. Tidak ada alasan kuat untuk menjauhimu 'kan?"

Wonwoo emosi, "Aku tidak menyukaimu, apa kau puas?!" Meja bulat itu bergeser ke samping, Wonwoo menendang benda kayu itu tanpa sadar.

Mingyu mengerang, tenaga Wonwoo boleh dikatakan kecil tapi nyeri di bagian perutnya akibat hantaman tiba-tiba itu tak dapat dipungkiri. "Aku benci diikuti, aku benci diganggu, aku benci semua hal yang kau lakukan padaku, berhentilah! Aku tidak menyukainya Kim Mingyu, kau dengar? Aku membencimu!"

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mingyu tertegun, terlebih kini mereka berdua menjadi pusat perhatian mahasiswa lain.

"Aku tidak pernah berniat membuatmu benci. Aku mencintaimu, hyung... aku mati-matian melakukan segala cara, berharap kau bersedia menoleh barang sedikit, menghargai usahaku yang bisa dikatakan amatlah sulit. Aku tidak pernah mengeluh jera ketika kau memintaku pergi sebelum aku benar-benar tahu apa alasannya."

Mingyu menunduk, dua detik kemudian kembali membawa pandangan pada Wonwoo. "Hyung, aku sakit. Mendengar hal ini darimu secara langsung sejujurnya aku sudah siap sedari lama—tapi alasan kau membenciku, aku... aku..."

"Harusnya kau tahu aku ini bagaimana, aku tidak menyukai segala hal yang membuatku merasa tertekan!"

"Perilakuku selama ini membuatmu tertekan, hyung?" Tanyanya nelangsa.

"Ya, bahkan kau sendiri tak sadar dengan apa yang kau lakukan ini, bukan? Kau tidak tahu bagaimana aku yang merasa jadi orang jahat, setiap hari melayangkan sumpah serapah, berpikir bagaimana cara agar kau tak lagi menggangguku secara berkala, kau kerap membuatku malu, Mingyu—salah satunya sekarang!"

Wonwoo berdiri dari bangku, menatap orang-orang di sekelilingnya secara acak. "Jika kalian berpikir aku tidak mempunyai perasaan dan keras kepala, silakan. Aku tak peduli, ini salahnya sendiri." Tatapan benci dari Wonwoo tepat menghunus kedua manik foxy Mingyu.

"Sesulit itu kah?"

"Sangat! Dan aku lelah!" Wonwoo berteriak pada udara.

"Kau lelah dengan perilakuku tetapi kau tidak lelah mengejar Soonyoung yang bahkan hingga sekarang dia tak menyadari perasaanmu? Hyung, lihat aku!" Mingyu membanting kantung berisi makanan di tangannya kemudian mengguncang bahu Wonwoo. "Lihat aku, hyung. Aku yang mencintaimu, aku... bukan dia. Ya, Jeon Wonwoo!"

"Brengsek!"

Mingyu terdorong mundur setelah satu hantaman ia terima dari Wonwoo. Pemuda berkacamata itu meradang, helaan napas beratnya terdengar. Wonwoo benci dengan lolosan kalimat dari Mingyu; ucapan yang tak seharusnya terdengar oleh orang lain, fakta menyedihkan yang membuat hatinya pedih, Mingyu terkesan mengelukan diri sendiri dan itu sukses membuat Wonwoo semakin muak dengan pemuda tersebut.


Wonwoo melangkah pergi dengan emosi tertahan. Berlari tergesa menuju pintu kafétaria, disusul Mingyu yang mengekor di belakangnya. "Hyung, dengarkan aku."

Cekalan maksimal di pergelangan tangannya sukses membuat Wonwoo hilang keseimbangan, ia membentur dinding, berakhir dengan tas terjatuh dan isinya berserakan.

"Kau puas mempermalukan aku di hadapan orang lain? Kau puas? Puas, Mingyu? Berkacalah! Pantas atau tidak ucapanmu. Jika memang mempermalukan aku membuatmu senang, lakukan. Tapi tidak dengan membawa nama Soonyoung! Puluhan orang di dalam sana menjadi tahu akan hal yang tak seharusnya mereka dengar."

"Hyung... aku tak bermaksud—"

"Ya, aku memang mengharapkan Soonyoung. Kau pun tahu, apa yang sedang kualami. Tetapi kau tidak tahu, bahwa kau ini pengganggu! Tak bermaksud? Percuma! Kalimat menjijikkan dari bibirmu terlanjur di dengar oleh mereka. Sadarlah, kau juga mempermalukan dirimu sendiri."

Wonwoo meremas surai pekat di kepalanya, "Tanpa beban kau mengakui perasaanmu yang tak terbalas di hadapan semua orang. Bertingkah seolah-olah hanya kau yang tertekan? Jelas mereka menganggap akulah biang perkara pertama!"

"Kenapa aku harus malu mengakui perasaanku? Hyung, apa mencintai seseorang itu suatu hal yang menjijikkan? Kenapa aku harus malu? Pun sama sepertimu yang mencintai—"

"Sekali lagi kau bicara maka jangan salahkan aku jika bibirmu terkoyak nantinya!"

Menelan ludah saja sangatlah sulit bagi Mingyu, lidahnya mati rasa. Jangan tanyakan bagaimana keadaan hatinya saat ini? Sinar matanya meredup. Memandangi Wonwoo yang masih saja menampilkan raut tak bersahabat padanya. Napas pemuda manis itu tersengal, masih diliputi emosi.

Mingyu tahu, kata-katanya memang terdengar kelewatan. Tetapi dia mempunyai alasan, dia ingin Wonwoo sadar, dia ingin Wonwoo paham—ada seseorang lain yang siap memberinya tempat bernaung.

Mengabaikan dirinya sendiri, Mingyu iba melihat orang yang ia kasihi ada dalam ambang perasaan yang terkatung-katung. Dia ingin Wonwoo berhenti kemudian berpaling padanya yang sudah berdiri lama di belakang, mengharap balasan, sebagai pelarian sekalipun Mingyu tak peduli.

Yang terpenting Wonwoo tak terluka, itu saja.

"Jangan pernah muncul di hadapanku, kau ingat? Jangan pernah lagi!"

Sosok berbadan kurus itu melipir ke samping, memunguti serakan benda yang berasal dari tasnya. Tidak peduli dengan Mingyu yang masih berdiri diam di petak ketiga dari tempatnya berpijak. Wonwoo ingin menghamburkan segala benda yang ada di hadapannya sekarang. Jika saja bilah kertas dengan klip plastik itu lembaran biasa, mungkin sudah bernasib malang dengan tersumpal di belah bibir si pengganggu.


"Wonwoo-ya."

Samar Wonwoo mendengar suara familiar dari tempat yang sama.

"Soonyoung-ah."

Beginilah dia. Jika sudah merasa terdesak dan terancam. Suaranya bergetar, Wonwoo cepat-cepat mengumpulkan batang pensil yang menggelinding dari tempatnya. Dibantu Soonyoung. Pemuda itu merangsek maju, menumpuk helai kertas kecil yang ia yakini sangat penting.

Dan benar setelahnya, tangisan Wonwoo terdengar.

Hati Mingyu remuk redam.

"Apa yang terjadi?" Soonyoung bertanya lirih. Sesekali mencuri pandangan ke arah Mingyu. Dan Wonwoo menggeleng, mengusapi bagian bulu matanya yang basah menggunakan ujung jari. Merasa tidak harus bertanya lebih lanjut, Soonyoung lantas membantu temannya berdiri.

Wonwoo melingkarkan tangannya di lengan Soonyoung kuat-kuat. "Aku menunggumu lama di kafétaria."

"Maaf, aku baru selesai menyerahkan tugas dosen Kang." Tidak, Soonyoung tidak lupa dengan Mingyu yang menatap tautan tangan Wonwoo—tatapan pilu. Maka Soonyoung berinisiatif melepas kaitan tangan Wonwoo secara halus.

Hampir-hampir saja Wonwoo kembali melingkarkan tangan sebelum suara khas Mingyu terdengar, "Kau pasti mengenalnya 'kan? Tadi terjatuh di belakang." Pemuda berkulit tan itu berdiri di hadapan Soonyoung, mengulurkan sebuah bongkahan.

Wonwoo berhenti bernapas.

Kali ini tatapan Mingyu beralih padanya. "Wonwoo hyung, aku pergi." Pamitnya penuh makna.

Seiring langkah lebar Mingyu menjauh, frekuensi detak jantung Wonwoo kian menjadi-jadi. Benda mungil berbentuk daun semanggi itu ada dalam genggaman Soonyoung. Jangan, kumohon jangan, tinggal selangkah lagi aku bisa bersama Soonyoung, raungnya dalam hati.

Soonyoung membeku di tempat, ia kenal benda kecil itu milik siapa? Cacat di puncak ring platinum itu tak asing di matanya.

Soonyoung memutar badan ke samping. "I—ini ada padamu?" Bermenit tidak ada jawaban dari Wonwoo, Soonyoung menambahkan, "Bisa kau jelaskan padaku bagaimana bisa, Jeon?"

Buku yang kau temukan, dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa? Yang Jihoon ingat, kunci loker pribadinya menghilang. Sebab itulah dia sering bertanya-tanya, mungkinkah kau yang menemukan kemudian menggeledah barang-barang yang ia simpan?

Buku yang ia temukan di dalam tas besar? Dua detik kemudian Soonyoung migrain.

Terkait hal itu, ucapan Junhui secara berkala berebut tempat mengisi ruang berpikirnya. Jihoon yang terbuang, sosok itu terlunta-lunta, bertahan sendirian dan tak mempunyai siapa-siapa. Satu yang membuat kepala Soonyoung nyaris pecah, masih kalimat dari satu orang yang sama, Di dunia yang kejam penuh dengan manusia bertopeng ini apa yang gratis? Berpura-pura simpati kemudian mereka tertawa di belakangmu, kau mana tahu? Soonyoung, topeng itu tidak hanya memiliki satu variasi, berhati-hatilah dan selesaikan semuanya.

Napas Soonyoung memberat, sesak.

Kembali menoleh ke samping, menatap Wonwoo yang gemetaran. Apa ini benar? orang yang selama ini ia percayai merupakan dalang utama dari biang masalah yang ia hadapi?

Soonyoung tidak percaya dan ia merasa sedang di bodoh-bodohi.

Dia ingat Wonwoo yang datang padanya, bermaksud meminjam alat tulis. Soonyoung baru sadar sekarang, bukankah waktu itu ia tak membawa apa-apa selain kertas, dan—tas milik Jihoon? Oh oke, salahkan Soonyoung yang dengan gaya congkak, tanpa berpikir itu lancang; mengorek isi tas milik kekasihnya, mencari-cari benda yang ingin Wonwoo pinjam.

Gerah tak menemukan apa yang ia cari, Soonyoung membongkar muatan dalam kain tebal itu sembarangan, menyerahkan satu pensil dengan ujung berlapis selotip tiga warna pada Wonwoo. Di situlah, garis start dia menemukan buku tanpa sampul yang terbuka tepat di lembaran ke tiga dari belakang—penyebab hubungannya dengan Jihoon berantakan.

Soonyoung melepas tudung hoodie, menggenggam benda di tangannya rapat. "Jeon, katakan padaku bahwa bukan kau yang berdiri di balik semua ini."

Wonwoo masih membisu, tak bersuara, tapi batinnya memaki nama Kim Mingyu.

"Jeon, kau mendengarku?"

Wonwoo baru berani menengadah kala suara Soonyoung terdengar tegas dan datar. Sosok berkulit pucat itu menelan ludah, memberanikan diri meraih lengan Soonyoung, "Itu milikku, Soon—"

Tenggorokan Wonwoo kering saat Soonyoung menghempaskan tangannya patas. "Bukan. Ini bukan milikmu."

"Akan kujelaskan, Soonyoung..."

Seiring langkah kaki Wonwoo menapak ke depan, langkah kaki Soonyoung justru berkurang. Pemuda itu mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi. "Aku menunggu penjelasan, tidak sekarang—aku sendiri yang akan datang menuntut hal itu, darimu."

Gurat kecewa dari garis wajah Soonyoung jelas kentara. Sosok ini berbalik badan, melangkah cepat menjauhi Wonwoo.

Wonwoo mundur, membenturkan punggung di antara dinding keramik di belakangnya. Jatuh ke bawah, ia kembali tersedu. "Brengsek! Brengsek, Kim Mingyu!"

Umpatan ini didengar oleh seseorang, seseorang yang berada tidak jauh dari tempatnya. Kim Mingyu bersembunyi di balik pintu ruangan kosong, sekitar delapan meter dari tempat Wonwoo berada.

Jika ditanya, disini siapa yang lebih terluka? Siapa yang harus marah? Jawabannya adalah Kim Mingyu. Silakan hujat dia, pemuda bodoh! Mencintai seseorang berhati batu, lebih-lebih meliriknya sedikit saja tidak pernah.

Dia ingin keluar dari tempat persembunyian, kemudian menenangkan Wonwoo yang terlihat kesakitan. Tapi kedua kakinya kaku, alih-alih berbalik, Mingyu justru berjalan ke arah berlawanan. Melangkah gontai sembari menepuki dada.

Mingyu ingat benda yang ia temukan di rumah Wonwoo itu milik siapa. Dia baru mengingat hal ini setelah semalam bertemu dengan Jihoon dan sosok pendek itu memiliki benda yang sama, tertempel pada rangkaian kunci pintu rumah.

Mingyu tahu, penyebab pupusnya hubungan Jihoon dan Soonyoung itu perkara apa? Dan, Mingyu sangat tahu pula, Wonwoo terobsesi menarik perhatian Soonyoung. Tetapi Mingyu tak pernah sekalipun berpikir, Wonwoo menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Soonyoung; mengubah tawa seseorang menjadi tangisan, mengubah kebahagiaan seseorang menjadi keterpurukan.

Perasaan Mingyu hancur. Hancur lebur.

Dalam larimu sesekali menolehlah ke belakang. Bukan, bukan untuk memastikan siapa yang berhasil menyentuh garis final, gunakan hatimu—tengoklah seseorang yang sedang tersungkur jatuh.


- LOVE MATERIAL Chapter. 10 -


Today: 07:03 pm.

Jeonghan bilang dia merindukanmu, datanglah.

Libur adalah hal sangat ditunggu-tunggu oleh Jihoon. Dua hari terhitung dengan kemarin ia tak pergi bekerja. Bukan resign ataupun cuti. Hanya saja, bangunan tempat ia bekerja sedang di renovasi.

Dan berkat sebaris pesan dari Jisoo itulah kini ia berada disini. Di dalam bangunan pusat perfilman. Dua sosok lain berdiri di hadapannya, berdiri di depan etalase panjang dengan dua pegawai yang berada di balik meja.

"Pesanlah. Pesankan juga untuk Minghao dan Seokmin, aku yang akan mengatri tiket." Jisoo pamit undur diri.

Menyisakan Jihoon dengan Jeonghan. Sosok berambut sebahu itu tak hentinya melukis senyum, banyak bicara, mendongengkan banyak hal. Omong-omong Jihoon bingung, alasan Jeonghan pergi bersama Jisoo karena Seungcheol sedang marah padanya dan dia ingin menenangkan pikiran.

Tapi Jihoon tak melihat raut sedih dari wajah Jeonghan, sama sekali.

"Untukmu." Jeonghan menyerahkan satu cup kopi. Jihoon menerimanya dengan sopan. Gelas buram berisi cairan pekat itu ia tenteng ke udara. Menyesapnya sesekali, menikmati cairan perpaduan manis dan pahit itu membasahi kerongkongan—rasanya lumayan.

"Terima kasih, hyung."

"Film action atau romansa? Jisoo pasti pilih action."

"Aku tidak tahu, ikut kalian saja."

Dari lain arah, keduanya dapat melihat Jisoo yang berbaris tertib bersama pengunjung lain. Si pemilik mata teduh itu melambaikan tangan.

"Ayo kesana, Ji." Ajakan Jeonghan ini, Jihoon balas dengan gelengan kepala, "Kutunggu disini, hyung. Badanku kecil, berdesakan dengan mereka sepertinya buruk sekali. Sekalian aku menunggu yang lain, Minghao dan Seokmin."

"Baiklah, aku titip ini padamu. Tak keberatan 'kan?" Jihoon mengangguk cepat, meraih dua cup minuman yang sebelumnya ada dalam genggaman Jeonghan.

Sosok berwajah feminim itu pergi, mendekati Jisoo.

Kopi? Ya, dia alergi dengan minuman ini. Well, siapa tahu dengan memaksa beberapa mili masuk ke dalam lambung, alergi yang ia idap berangsur lenyap. Bukankah begitu hukumnya? Jika sudah terbiasa, lama-lama kebal juga! Contohnya dia; terlalu sering dicap hina, dipandang rendah, dicampakkan dan diabaikan, alhasil Jihoon tahan banting.

Oke, perumpamaan ini sangat menyedihkan.

Jihoon masih berdiri di samping jajaran kaca berisi jadwal film yang baru rilis tayang.

Terlalu sibuk berjibaku dengan tugas dan pekerjaan, membaca judul dan genre dari masing-masing papan iklan saja Jihoon tak paham. Siapa nama pemainnya? Film asal negara mana? Jadi, dia hanya melihat, mengangguk sesekali. Berpura-pura mengerti.

Kakinya melangkah lamban mengitari satu persatu barisan papan iklan. Minuman di tangannya sudah berkurang setengah.

Jihoon baru berhenti melangkah ketika samar mendengar lambungnya berbunyi. Disusul rasa mencekik, sengatan panas di dada menyebabkan hembusan napasnya tersendat. Mual di perut lebih mendominasi. Benda-benda di tangannya jatuh ke bawah, isinya tumpah ruah.

Gelagapan, Jihoon menyesal sudah melangkah ke arah yang tak seharusnya; sudut sebelah utara itu lengang, tak ada satupun pengunjung yang berlalu lalang disana. "H—hyung..."

See, untuk menyerukan nama Jisoo saja dia tidak mempunyai tenaga.

"H—hyung, tolong aku..."

Jihoon kelimpungan dengan wajah memerah, terbatuk-batuk, limbung di lantai. Jemarinya menekan dada. Tersengal-sengal, kesakitan, ingin merangkak tetapi tak sanggup.

Dan, telapak tangan seseorang terlebih dulu menangkap tubuhnya sebelum kedua mata Jihoon tertutup.

Si mungil itu hilang kesadaran.


-TBC-


Notes:

Mau ngucapin terima kasih buat yang udah berkenan ngasih masukan buat saya^^ terima kasih banyak~ saya seneng. Wawasan saya dalam ranah tulis jadi semakin luas, terima kasih^^

Saya hobi nyelipin sepenggal dua penggal pesan moral lewat tulisan-tulisan saya, ya semoga saja dapat tersampaikan dengan baik. Maaf kalau kurang sreg~

-Sincerely, Veyyeon21-