Potongan X: Foto (200 kata)
"Aku tidak tahu," Shino berkata. Kegiatannya menempel lembaran foto belum berhenti.
Kiba menyandarkan punggungnya pada kursi dengan kedua tangan terlipat di belakang. Matanya terpaku pada langit-langit ruang klub fotografi.
"Kau tidak membantu."
Shino mendengus. "Apa jika aku mengatakan, 'Kau harusnya menanggapi surat-surat itu dan lupakan Hinata,' kau akan mengikuti perkataanku?"
Bukan sekali Kiba meminta pendapat teman baiknya itu. Dan Shino tampaknya telah menyerah untuk urusan ini. Pendapat untuk "menjauh dari Hinata" tidak pernah digubris oleh Kiba.
Pun begitu, Shino tahu Kiba tidak sedang membutuhkan jawaban apa pun walaupun ia bertanya. Hanya teman bicara yang ia butuhkan sekarang.
Kiba memalingkan wajahnya pada punggung Shino. Masih menempel foto. Fokus mata kelam itu bergeser ke satu potret.
Di sanalah ia melihat cetakan Hinata. Sayangnya ia tidak sendirian. Walaupun hanya tercitra punggung, jelas rambut kuning itu milik Naruto.
Belum hinggap tiga detik, Shino langsung mencabut foto tersebut. Kiba mengerjap pelan. Pandangannya berpindah pada Shino yang telah membalikkan tubuh.
Raut Shino beriak. "Kau melihatnya…?"
"…Melihat apa?" Muncul senyum terpaksa di wajahnya. Pemuda itu bangkit, mengambil tasnya. "Hari ini cerah. Aku harus membawa Akamaru jalan-jalan."
Ketika pintu tertutup, Shino meremas foto yang ada di tangannya. Walaupun foto itu bukan ia yang menempel, rasa bersalah tetap terecap.
Potongan X selesai—
