MISS OFFICE GIRL TAJIR

Summary : Kering air mataku mengingat tentangmu. Tentang kita yang tak jodoh. Dulu pernah bermimpi saling memiliki, nyatanya pun tak kesampaian. Perih hati Naruto, tercabik bagai ribuan kertas. Duka yang mendera membuatnya nekat ingin jadi TKW di Jazirah Arab. Berhasil nggak ya teman-temannya menghentikan niat konyolnya itu? Ganti summary

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Family dan Drama

WARNING

Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.

Pair : sementara baru KisaNaru

Maaf jika Ai tak membalas semua review, lagi sibuk ngejar target. Tapi ada satu reviewer yang Ai komentari. Mungkin pairing SasuNaru atau ItaNaru sudah umum, tapi Ai sendiri baru bikin dua, satu untuk Itachi dan satu untuk Sasuke, sisanya Naruto statusnya single dan ShikaNaru. Jadi Ai masih penasaran dengan dua pairing ini. Nggak salah kan bikin lagi. Toh yang minta pairing ini banyak kok.

Tambahan lagi chapter kemarin bukan yang terakhir Kisame muncul, masih ada lagi di chapter-chapter selanjutnya. Kayaknya ini bakalan lama tamatnya, deh. Moga aja nggak sampai tembus 20. Ai juga berharap para reviewer tidak langsung nebak akhir pairing sekarang, nanti kecewa berat lho. Ini baru awal konflik, masih bisa berkembang pairingnya bisa siapa saja. Jadi harap sabar.

Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.

Don't Like Don't Read

Chapter 10

Shui dan Jugo bergegas ke apartemen Itachi setelah mereka dapat info Itachi membawa Nona-nya ke tempatnya. Mereka berdua mengkhawatirkan Naruto. "Dimana Naruto?" tanya Shui begitu pintu apartemen dibuka oleh Itachi, tanpa basa-basi. Ia bahkan melupakan perannya sebagai bencong dan bersikap layaknya cowok gentle.

"Lagi istirahat di kamar. Mau apa kalian?" tanya Itachi dingin, tak suka keasyikannya memandang paras gadisnya terganggu.

"Mau membawanya pu.. Adow. Apaan sih loe?" bentak Shui kesal karena kakinya diinjak Jugo pake hak tinggi. Kebayang dong sakitnya? Ia meringis dan mendelik tajam pada rekannya ini.

"Kami mau menungguinya di sini hingga ia sadar. Boleh?" tanya Jugo mengabaikan delikan tajam rekannya.

"Silakan." Kata Itachi mempersilakan dua orang bodyguard Naruto duduk di ruang tamu. "Jadi apa yang mau kau katakan?" tanya Itachi setelah keduanya menyamankan diri duduk di sofam, mengerti maksud tersembunyi Jugo.

"Gue suka gaya loe, to the point. OK, langsung saja. Gue tahu elo suka Naruto sejak lama. Tapi saya harap anda tak berbuat macam-macam padanya. Jika tidak?" kata Jugo dingin sengaja memberi jeda untuk memberi efek mencekam. Biasanya cara ini ampuh untuk mengintimidasi lawannya. Sayangnya kali ini ia salah sasaran. Itachi menanggapinya dingin.

"Kalo tak, elo mau apa? Elo pikir gue takut?" kata Itachi sinis, memandang rendah dua orang kecoak di hadapannya.

"Elo harus takut karena gue akan melakukan apa saja untuk melindunginya." Balas Jugo tenang, tak terpengaruh.

"Wah wah wahh, aku takut sekali. Elo mau jadi pahlawan kesiangan?" dengus Itachi.

"Terserah apa anggapan elo." kata Jugo beranjak dari tempat duduk, mencari kamar tamu tempat Naruto dibaringkan.

"Kenapa? Kenapa elo berbuat sejauh itu? Karena Minato?" tanya Itachi kemudian, salut dengan dedikasi sang Bodyguard. Apa mungkin Jugo ada hati dengan Narutom hingga ia rela berbuat apa saja untuknya?

"Dia segalanya bagiku. Hidupku hanya untuknya." Kata Jugo mantap. Itulah yang membuat dia rela menyamar jadi bencong sekalipun. Naruto itu penyelamatnya dan keluarganya. Oleh karena itu ia pun bertekad mencurahkan hidupnya untuk melindungi sang Nona dari orang-orang jahat. Ia tahu pasti siapa Uchiha Itachi. Meski terlihat kalem, tenang dan baik, di dalamnya tersimpan sifat menghalalkan segala cara dan menipulatif. Ia khawatir kali ini, ia akan meyakiti hati nona-nya melebihi yang dilakukan Kaa alias Kisame, dulu dan sekarang.

SKIP TIME

Naruto tidur dengan gelisah. Pertemuannya dengan Kaa tadi sore begitu membekas dan menguras emosinya. Hal itu membuat segala kenangan indah, manis dan pahit dulu berputar kembali, mewujud dalam mimpinya.

Flashback

Naruto 5 tahun.

Naruto kecil sedang bermain di taman sendiri karena Tou Sannya sibuk bekerja. Ka Sannya ikut arisan sedangkan kedua nee-channya entah kemana. Tapi ia tetap bermain riang, bersama teman-teman di kompleks perumahan ditemani pembantunya. Naru kecil berlari kecil mengikuti gerak bolanya yang menggelinding hingga masuk ke dalam danau kecil yang terletak agak jauh dari taman kompleks, dekat perbatasan hutan. Konon danau itu sudah ada sejak perumahan ini dibangun.

Ia tanpa perhitungan, khas anak kecil, masuk ke dalam danau tanpa menyadari bahaya yang ada. Tepat saat bola sudah di tangan, ia akhirnya menyadari kaki kecilnya sudah tak menyentuh tanah, melainkan mengambang di atas air danau. Ia pun panik dan tubuh kecilnya mulai terperosok dalam air. Ia menggapai permukaan air dan berteriak minta tolong.

"Tolongggg… hik hik hikk. Tolong Naru. Naru takut." Isaknya.

Saat itu muncullah Kaa yang masih seorang remaja tanggung. Ia menolong Naruto mengeluarkannya dari dalam danau. Naruto mengucapkan terima kasih. Sejak itulah persahabatan mereka dimulai.

Naruto 6 tahun

Naruto mengunjungi kediaman Kaa, mengajaknya bermain. Tapi Kaa tidak ada di rumah. Kaa sedang melukis, tugas sekolah di taman bunga, samping rumah Kaa.

"Sedang melukis apa?"

"Upacara pernikahan. Ini pengantin pria sedang menyematkan cincin di jari pengantin wanita. Lihat! Bagus kan?"

Naruto kecil terpesona. Matanya berbinar-binar. Ia ingin seperti pengantin itu, memakai gaun putih panjang dengan tiara di kepala dan buket bunga cantik di tangan. "Naru juga ingin seperti pengantin itu."

"Nanti kalo sudah besar, pasti Naru akan jadi pengantin paling cantik sedunia."

"Tapi Naru jelek. Naru takut, tak ada yang mau dengan Naru."

"Kata siapa?"

"Kata teman-teman Naru di sekolah dan Kyuu nee." Kata Naruto polos. Saat itu Naru kecil berwajah buruk rupa. Di pipinya dihiasi bintik-bintik merah, menyebar membuat wajahnya tak mulus. Badannya gembul dan pendek. Sangat berbeda jauh dengan kedua kakaknya.

Kaa menunduk, melihat Naruto dalam. "Kelak saat dewasa, jika tidak ada yang mau dengan Naru, aku mau jadi pengantinmu."

"Janji?"

"Janji."

"Mana buktinya?"

Kaa lalu meraih tutup kaleng yang ia modifikasi jadi cincin. Ia menyematkan cincin itu di jari manis Naru. Naruto senang dan bertekat akan menjaga cincin ini agar nanti ia bisa jadi mempelai Kaa. Memang Kaa kalah tampan dengan kakak-kakak temannya ataupun pacar nee-chan, tapi baginya Kaa itu orang paling tampan nomor dua, sedang nomor satunya papanya.

Naruto 10 tahun

Naruto berlinangan air mata saat di bandara. Kaa melepaskan kepergian sahabat kecilnya itu dengan berat hati. "Kaa jangan lupa janjinya ya?"

"Iya. Naru baik-baik di sana ya?" kata Kaa melapaskan tangan Naruto.

"Sayang ayo cepat. Nanti ketinggalan pesawat lho." Kata Ka Sannya lembut.

Naruto pun dengan berat hati menyusul ibunya. Hati ini sebenarnya tak rela, tapi ia tak kuasa menolak keinginan ayahnya yang ingin menetap di LA untuk mengasah dan mengembangkan potensinya sebagai sutradara bertangan dingin. 'Aku akan menjaga cincin ini hingga hari penikahan itu tiba. Aku akan meminta ka-san mendandani hingga aku jadi cantik nanti dan Kaa tak akan menyesal memilihku jadi mempelai.' Tekad Naruto kecil.

Bertahun-tahun mereka berpisah dan kehilangan kontak karena keluarga Kaa pindah. Akhirnya mereka dipertemukan secara tak sengaja, tepat saat Naruto jadi korban jambret. Kaa lagi-lagi menolongnya. Hubungan mereka berlanjut. Dari bersahabat hingga akhirnya benih-benih cintai itu bersemi di hati keduanya. Akhirnya mereka resmi pacaran.

Naruto berlari kecil, menyusuri jalanan. Ia terburu-buru karena takut telat. Ini kencan pertamanya dan ingin hal ini membekas karena itu semua harus sempurna. Tanpa ia sadari ia menabrak seorang pria tampan dengan tanda lahir seperti keriput di samping hidungnya.

"Maaf maaf maaf, saya tak sengaja. Anda tak apa-apa?" kata Naruto menggumamkan kata maaf.

Itachi seorang pemuda arogan. Berkat kejeniusannya, ia sudah menjadi seorang pembisnis sukses di usia muda. Banyak cewek yang tergila-gila padanya dan jatuh dalam pelukannya mulai dari jajaran selebritis, model, sampai gadis-gadis ingusan berseragam KHS, seperti Naruto. Banyak cara yang mereka lakukan, dan itu sering membuat Itachi mendengus geli. Beberapa yang cantik diantaranya, dan mau diajak kencan semalam, Itachi terima. Anggap saja olahraga di atas ranjang. Kali ini pasti juga sama saja.

'Dasar nggak kreatif. Sok lugu pula dengan penampilan kalemnya.' Rutuk Itachi. "Hn.." gumam Itachi angkuh.

"Hn itu artinya apa? Anda memaafkan saya? Terima kasih banyak." kata Naruto tersenyum lega, membuat Itachi sedikit terpana dengan senyum manis seorang gadis dengan bola mata seperti langit yang cerah. "Ah ya, ini bunga lili sebagai bunga keberuntungan. Ka Sanku bilang bunga ini bagus." Lanjut Naruto.

Seperti robot, Itachi tak kuasa menolak pemberian si penabrak itu, masih terpana dengan wajah bidadarinya yang baru saja mencuri hatinya.

"Naruto?" panggil Kaa dari ujung jalan.

"Sebentar." Kata Naruto. Ia tersenyum tak enak hati. "Maaf temanku sudah memanggil. Aku pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan." Kata Naruto sebelum pergi.

Untuk pertama kalinya ada seorang cewek yang tak bertekuk lutut padanya secara jujur. Gadis bermata biru langit dengan senyum bak mentari menyinari hatinya yang dingin. Ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada gadis itu. Ia memutuskan lamunannya dan mengejar sang gadis untuk menanyakan alamat dan nomor teleponnya. Sayangnya ia kehilangan jejak.

Naruto 18 tahun.

Setelah dua tahun menjalin hubungan, Naruto memberanikan diri memperkenalkan Kaa pada sang ayah. Apa yang ia dapat? Ayahnya menentang keras hubungan mereka. Mereka juga dilarang bertemu lagi.

"Papa tak suka kamu berhubungan dengan dia. Dia tak sederajat dengan kita. Mulai sekarang putuskan hubungan kalian." Kata Minato dingin. 'Paling-paling dia juga sama saja dengan yang lain, yang ingin menjadikan putrinya batu loncatan untuk karirnya di dunia hiburan.' Tambahnya dalam hati.

"Paa…" kata Naruto lirih tak percaya.

"Papamu tak mau lagi dengar apapun. Sekarang masuk." Kata Minato menolak bujukan putri bungsunya dan secara tak langsung mengusir Kaa.

Mata Naruto berkaca-kaca, masih tak percaya, tou sannya yang lembut bersikap seperti itu. Minato berubah jadi dingin semenjak kepergian Ka Sannya setahun yang lalu. Meski sekarang ia sudah menikah lagi, tapi rasanya tetap saja tak sama. Keluarga kecil bahagianya dulu tak lagi ada. Ini pula yang dirasakan kedua kakaknya yang kini berubah jadi lebih liar.

Kaa berdiri dengan kepala terrtunduk malu, menyadari kedudukannya saat ini. Dia memang sudah merasa dia tak pantas untuk Naruto. Tapi apa boleh buat. Dia telalu mencintai gadis ini sejak dulu makanya ia nekat menerima pernyataan cinta Naruto. Sekarang ia harus menerima kenyataan pahit ini harus ia terima.

Sejak hari itu mereka berdua sulit bertemu. Bahkan telepon pun sulit karena ayahnya menyita HPnya dan dia dilarang keluar rumah. Naruto tak kehabisan akal. Segala cara ia tempuh untuk melunakkan hati sang ayah. Setelah semuanya gagal, ia pun milih jalan terakhir mogok makan sedangkan Kaa berdiri di luar pagar, kehujanan menemani sang kekasih hati yang berjuang di sana di dalam rumah.

Karena tak ingin melihat Naruto mati kelaparan, meski diinfus ia menolak kehadiran keluarganya, akhirnya papanya luluh juga. Ia merestui hubungan mereka. Tepat saat hari pertunangan tiba, Kaa tak datang. Mobil yang ia kendarai bersama keluarga kecelakaan. Kakaknya mati sedangkan kaa wajahnya rusak parah. Setelah itu Kaa menghilang dari hidupnya. Naruto kelimpungan mencari Kaa kemana-mana ke seluruh dunia hingga terdampar di Konoha yang asing, jauh dari keluarga, termasuk menyamar jadi OB di perusahaan Uchiha.

Tapi….. kini semua sia-sia. 'Kaa… Kaa…' isaknya lirih dalam tidurnya.

"Aku tahu kamu menerimaku apa adanya. Tapi Aku lelah dan aku ingin menyerah. Karena itu waktu kakakku memintaku menikahi istrinya aku bersedia. Maaf, Nar. Maaf mungkin kita memang tak berjodoh. Tolong lupakan aku." Kata Kisame berlalu pergi.

End Flashback

Kata-kata terakhir Kaa terngiang kembali, membuat tidurnya semakin tidak tenang. Wajahnya memerah, keringat dingin menetes di sepanjang pelipis. Tangan dan kakinya bergerak gelisah tak tentu arah.

"Tidak, Kaa. Tidak… jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Ku mohon. Kaa… Kaa… Tidak…" teriak Naruto sebelum terbangun. Tubuhnya basah oleh keringat, tepat saat Jugo dan Shui masuk ke dalam kamar. Jugo duduk di samping meja menenangkan nonanya sedangkan Shui di samping kanan Naruto. Naruto menangis tersedu-sedu di bahu Jugo hingga punggungnya bergetar.

Jugo membiarkan sang nona melampiaskan rasa sedihnya di dadanya. Ia mengerti duka yang kini dirasakan nonanya. Hampir sejam, Naruto masih menangis, sampai kram bahu Jugo. Itachi yang melihat dari kejauhan hanya bisa mereka kedua tangannya kesal. Kalo bukan dua orang bencong sialan ini, mungkin saat ini dia yang jadi sandaran bahu Naruto.

Air mata sudah tak menetes lagi, tubuh Naruto pun tak lagi bergetar, malah tubuhnya melemas hingga merosot ke bawah. Kalo tak ditahan Jugo, mungkin Naruto sudah jtuh tak elit. Jugo menyentuh dahi Naruto. 'Oh ya Tuhan, tinggi sekali panasnya.' Batinnya. "Shui cepat kau siapkan mobil. Kita bawa nona ke rumah sakit. Aku khawatir kondisi tubuhnya sedang tak baik. Demamnya tinggi sekali." kata Jugo.

Mereka pun bergegas meninggalkan apartemen Itachi dibantu Itachi memapah Naruto ke dalam mobil. Mobil melaju kencang membawa mereka ke rumah sakit. Jugo, Shui dan Itachi cepat-cepat memarkir mobil di tempat parkir dan memanggil perawat yang tadi dihubungi lewat HP sudah berjaga dengan ranjang dorongnya. Semua berjalan cepat. Naruto diperiksa dokter jaga di ruang UGD.

"Bagaimana keadaannya, Dok?"

"Dia kena demam berdarah cukup parah. Sebaiknya dirawat inap di sini. Apa dia kelelahan atau stress akhir-akhir ini?"

"Ya, Dok. Dia terlalu setres sehingga tak terlalu memerhatikan pola makannya."

"Pantas. Ini resepnya tolong ditebus dan anda bisa mengurus masalah administrasi di depan."

"Baik, dok."

Shui menebus obat di apotik sedangkan Jugo dan Itachi menemani Naruto yang di rawat di kamar VIP. Mereka melihat Naruto diinfus karena tubuhnya drop. Tadi dokter sudah memberikan obat melalui infuse jadi kondisinya lebih stabil. Jugo sudah memberi tahu Minato dan tempat Naruto dirawat. Itachi dalam diam merasa kesal karena gagal menjaga kesehatan Naruto.

"Elo bisa pulang. Minato-san akan segera ke sini."

"Tidak. Gue akan menungguinya hingga minimal ia sadar. Kalo elo mau pulang silahkan saja." tolak Itachi.

"Dengar elo bukan apa-apanya jadi elo nggak punya kewajiban di sini." Kata Jugo mulai kesal.

"Gue calon suaminya. Harap ingat itu." balas Itachi tajam. Akhirnya Jugo mengalah dan membiarkan Itachi ikut menjaga nonanya.

SKIP TIME

"Elo masih di sini? Nggak ke lokasi syuting, mantau keadaan?" tegur Shika saat ia melihat Kiba masih di ruangannya.

"Malas. Lagian di sana udah ada Naruto dan Neji."

"Oh yeah. Bilang aja elo takut."

"Takut apa?"

"Takut elo CLBK ama Hinata."

"Ish enggaklah. Gue ini playboy sejati, nggak mungkin takluk ama cewek gituan."

"Oh yeah. Gue percaya." Sindir Shika halus menyatakan ketidak percayaannya. Sejak Hinata muncul lagi, Kiba jadi berubah. Ia tak lagi menggoda gadis-gadis, kencan dengan model, apalagi one night stand? Nggak la yau.

"Elo sendiri? Elo malah takluk ama OB itu? Sudah kehabisan kenalan cewek cakep?" sindir Kiba balik.

"Apaan sih? Gue hanya main-main dengannya. Dia itu tantangan buat gue. Baru kali ini gue ditolak cewek. Wajar dong kalo gue tertantang. Ntar juga tinggalin. Dia itu nggak sepadan dengan gue. Babu gitu." Kata Shika tajam tak menyadari Temari mendengar ucapan terakhir Shika.

"Oh ya tadi gue dapat telp dari Sasuke. Elo disuruh bantuin Neji, mantau lokasi syuting."

"Naruto kemana?"

"Dia lagi dirawat di rumah sakit."

"Wah kasihan tuh. Kemarin kan dia sehat wal afiat gitu. Eh sekarang opname. Sakit apaan sih?"

"Katanya sih DB. Makanya ia diminta opname sekalian rehat.

"Ntar abis kerja, gue akan menengoknya. Gue cabut dulu ya."

SKIP TIME

Temari melamun sedih. Jadi itu yang ada dipikiran Shikamaru. Dia hanya mainannya sementara. Air mata menetes di pipinya. Dugaannya selama ini benar. Shika tidak sungguh-sungguh padanya. Segala rayuan dan ajakan makan malamnya hanya kamuflase untuk mempermainkannya. Ia tahu seharusnya ia tak boleh melambungkan angannya terlalu tinggin agar saat jatuh nanti tidak terlalu sakit.

Ia tahu itu, tapi hatinya berkata lain. Ia terlanjur jatuh cinta kepada nanas cungkring itu hingga hati ini terasa sakit dengan kenyataan ini. "Bodoh. Kau orang paling idiot di dunia ini, Temari." Gumamnya lirih. Ia menggosok meja pantry kuat-kuat melampiaskan emosinya.

Hanya cinta yang ku punya

Bila ada yang kau pinta

Yang tak pernah ku janjikan

Kilau dunia seperti mereka

Karena aku hanya siang yang tak punya bintang-bintang

Namun akan aku berikan sinar redup seteduh rembulan

Moga dapat kau terima

Andaikan badai menerpa

Karena terlihat di sana

Ada beda yang akan menyiksa

Engkau bagai kumbang raja diantara bunga istana

Namun dosakah bila kau hinggap pada bunga yang diluar istana

Dapatkah engkau tanyakan pada mereka di sana

Apakah cinta tercipta

Hanya untuk para insan yang berada

Lalu kemana agungnya cinta

Bila permata lebihlah berharga

Bukankah Tuhan punya rahasia

Dalam genggam-Nya semua bahagia

Pada siapa dan dimana

Hanya Tuhan yang dapat

Ha ha ha ha

Mengiranya

Jangan ada air mata

Andaikan pisah memaksa

Namun cobalah berpasrah

Bersama kita panjatkan doa

Semoga Tuhan mengharumkan

Suci cinta yang kita genggam

Karenalah dia yang telah gariskan

Untuk kita saling jatuh cinta

"Temari." Tegur Gaara.

"Tolong bikinin kopi dan bawa ke ruangan saya."

"Baik Gaara-sama."

"Itu apa?"

"Oh ini bunga. Sepulang kerja nanti, saya mau menjenguk Naruto."

"Oh begitu. Nanti sama saya saja. Saya juga mau ke sana."

"Terima kasih Gaara sama."

"Panggil saja Gaara tanpa embel-embel sama. Nggak enak dengernya. Aku tunggu kopinya." Kata Gaara sebelum beranjak pergi.

Temari tersenyum dengan kepergian Gaara. Diantara pimpinannya yang lain mungkin hanya Gaara yang sedikit lebih baik. Ia memperlakukan karyawannya dengan baik dan tidak demen main cewek. Ia merasa sedikit tersanjung direkturnya ini menawari tumpangan tanpa maksud tertentu. Ia yakin itu karena Gaara juga pernah melakukannya pada OB-OB yang lain, menawari tumpangan jika kebetulan mereka berpapasan di jalan.

SKIP TIME

"Ya, cut." Kata Pain puas dengan syuting adegan 200. Bentar lagi film ini kelar sesuai target. Mereka akhirnya berhasil mengatasi segala masalah yang muncul. Chemistry antar pemain juga bagus dan terjalin dengan baik. Ia puas.

"Bagus, Sakura. Ini baru Haruno Sakura yang ku kenal. Acting loe jempolan." Puji Pain.

"Trims. Ini juga berkat bimbingan elo." kata Sakura merendah. Matanya celingukan, kayaknya ada yang kurang dari tadi.

"Elo nyari apa?" tegur Pain heran.

"Naruto mana? Nggak kelihatan dari tadi."

"Dia lagi opname di rumah sakit."

"Kasihan, nanti aku akan menjenguknya."

"Ya, memang. Denger-denger ia kena DB. Mungkin setres dengan syuting film kali ini. Aku duluan ya, sampai ketemu lagi di rumah sakit." Kata Pain karena Konan istrinya sudah menunggu di mobil, menjemputnya.

Sakura beranjak menuju ke ruang ganti. Ia berhenti di tengah jalan karena melihat Tentan lagi termenung sedih, bersandar di dinding. "Elo kenapa, Ten?" tegur Sakura pada teman baiknya ini sejak dulu.

"Lihat dia kayak lagi orang lagi patah hati. Menyebalkan." Komentar Tenten.

"Siapa?"

"Tuh." Katanya menunjuk seorang cowok yang dari tadi dipandangnya.

"Oh, Neji. Elo masih naksir dia? Terus gebetanmu yang sekarang bagaimana?"

"Mana mungkin gue naksir bajingan seperti itu lagi? Ngaco loe. Gue udah putus dengannya seminggu yang lalu. Ngomong-ngomong elo lihat Naruto? Dari tadi nggak kelihatan."

"Dia lagi opname di rumah sakit karena DB."

"Benarkah? Pantas Neji kelimpungan seperti orang patah hati." Gumam Tenten tanpa sadar.

"Elo beneran masih naksir dia ya?" goda Sakura yang dibalas cubitan kecil di pinggang. Adududuhhh teriak Sakura kesakitan karena dicubitin Tenten. "Gue mau jenguk dia? Elo mau ikut?" lanjutnya.

"Boleh saja. Ntar naik taksi bareng."

"Gue ganti baju dulu ya." Kata Sakura pamitan.

Ia masuk ruang ganti tanpa sadar menemukan dompet di lantai. Ia buka isinya siapa tahu ada tanda pengenalnya biar ketahuan siapa pemiliknya. Isinya beberapa lembar uang yen, kartu debit, KTP. Ia baca KTPnya ternyata punya Karin. Ia sudah mau nutup lagi dompetnya sampai ia lihat selembar foto seorang cowok. "Ini bukan Sasuke. Kenapa ada foto ini di dompet Karin. Ini kan…."

TBC

Ini chap terpanjang yang pernah Ai buat. Ai jor joran di sini, ngebut ngetik biar cepat publis demi para reader semua. Terakhir please RNR