Sehun tak mengatakan apapun saat Luhan terdiam memeluk lutut di atas sofa. Lelaki itu membiarkannya sendiri meski rasanya Luhan ingin sekali memanggil Sehun dan tidur di pelukannya. Saat memeluk Sehun tadi‚ Luhan merasa nyaman. Seluruh rasa takut dan khawatirnya menguap seketika. Hanya karena memeluk Sehun.
Entahlah… Luhan pikir memang benar adanya bahwa ia mulai menyukai Sehun. Ia menyadari hal itu. Entah sejak kapan rasa suka itu mulai ada‚ Luhan tak bisa mengira-ngira itu kapan. Tapi dengan adanya Sehun di sisinya‚ Luhan merasa perasaannya jauh lebih baik. Melebihi saat ia bersama Yifan dulu.
"Minumlah." suara Sehun membuat Luhan mengangkat kepala. Ia menemukan Sehun yang sedang meletakkan secangkir teh hangat untuknya dan duduk di seberang. Luhan memperhatikannya. "Jangan khawatir lagi. Dia tak akan menyakitimu untuk yang ke sekian kalinya."
Luhan menunduk. Ia membenarkan kalimat itu karena Sehun yang mengucapkan.
Kemudian hening. Sehun lebih memilih untuk memberi ruang pada Luhan yang sudah kelihatan lebih baik. Mungkin perempuan itu sedang berpikir tentang suatu hal yang tak bisa ia mengerti. Jalan pikiran perempuan memang rumit. Sehun tak ingin tahu dan tak akan pernah ingin tahu.
"Sehun‚" panggil Luhan sayup. Ia melirik Sehun setelah lelaki itu menyahut dengan dehaman halus. "Apa yang kau katakan pada Kris?"
Lantas Sehun memperhatikan Luhan yang menatap kosong meja di depannya masih dengan memeluk lutut. "Aku hanya bilang kalau kau bukan perempuan yang pantas untuk disakiti. Lalu dia pergi begitu saja."
Mendengarnya pun membuat Luhan meliriknya. "Kris tak akan meninggalkanku dengan mudah hanya karena kalimat itu."
Dan Sehun terkekeh. Lelaki itu bangkit dari duduknya‚ berpindah tempat menjadi di samping Luhan. Perempuan yang dibawanya pulang karena ia terlampau khawatir jika Luhan ada apa-apa lagi ini kemudian dipandangnya. Luhan sedang menatapnya bingung. Dan itu menimbulkan senyum simpul di wajah Sehun.
"Jangan khawatir. Kau aman sekarang."
Luhan masih memandangnya tak mengerti. Sehun membuatnya bingung. Kris tak mungkin meninggalkannya hanya karena kalimat seperti itu. Kris sedang marah. Pasti ada sesuatu yang terjadi diantara kedua lelaki itu yang tak diketahui Luhan.
Ya‚ pasti sesuatu telah terjadi.
…
Setelah menutup pintu kamar Luhan dan bangkit‚ Kris menatap Sehun dengan nyalang. Ia benci dipukul oleh seseorang. Apalagi orang itu adalah orang yang sangat dibencinya. Atasannya Luhan yang bernama Shin Soo Hyun itu.
Lelaki yang Kris yakini bernama Shin Soo Hyun itu―padahal di depannya sekarang adalah Oh Sehun― balas menatapnya nyalang. Lelaki itu berkata‚ "Apa yang membuatmu memperlakukan Luhan seperti itu?"
Dan Kris menjawab‚ "Memang itu urusanmu?"
"Ya." Sehun menjawab. "Dia sekretarisku. Dan aku bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi padanya."
Kris mendengus kegelian. Seringainya muncul dan itu membuat Sehun bersedekap menatapnya. "Sudah kubilang dia tunanganku‚ tuan direktur. Akulah yang memiliki banyak hak padanya."
"Setahuku tunangannya sudah meninggal." balas Sehun sengit. Ia menyipit dan memasang wajah waspada saat tanpa sengaja ia melihat tangan Kris mengepal di sisi tubuhnya. "Kau tak punya hak seperti itu pada Luhan."
Sejenak Sehun melihat Kris sedang menerawang. Kelihatan berpikir. Setelah itu Kris mengangkat wajah‚ menatapnya sengit‚ lalu pergi dan menyenggol sebelah bahu Sehun sebagai pelampiasan. Sehun menyeringai penuh kemenangan melihat punggung lelaki itu menjauh dan menghilang dari jarak pandangnya. Kemudian Sehun segera membuka pintu kamar yang sedari tadi digedor-gedor Luhan dari dalam. Hendak ia bertanya keadaan Luhan‚ namun perempuan itu sudah terlebih dahulu memeluknya dan menangis.
Sehun membeku. Jantungnya berhenti berdetak. Luhan membuatnya jatuh. Jatuh…
…
Sehun tak bisa berhenti untuk memperhatikan Luhan yang tertidur di pelukannya. Pagi-pagi sekali ia terbangun. Luhan menggeliat dalam pelukannya dan itu membuatnya terganggu. Sementara beberapa jam yang lalu‚ Luhan menangis saat bercerita tentang si kembar yang bernama Yifan dan Kris itu. Sehun pikir banyak beban yang dipikirkan Luhan selama ini. Perempuan itu menangis saat bercerita. Dan Sehun menenangkannya dengan memeluk perempuan itu sampai mereka tertidur di sofa.
Luhan cantik saat tertidur. Wajahnya seperti bayi yang menggemaskan. Rasanya Sehun ingin mengunyah salah satu pipi Luhan atau mencubit ujung hidung Luhan. Aih… Sehun harus bersabar sampai Luhan terbangun dari tidurnya. Sehun tak ingin mengganggu tidurnya perempuan ini.
Beberapa saat berlalu. Pelan-pelan Luhan mulai membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali‚ dan tanpa sengaja mengeratkan pelukan. Ia masih belum sadar bahwa yang dipeluknya itu Sehun‚ bukan guling. Sementara Luhan berusaha untuk kembali tertidur lagi‚ Sehun sendiri justru menahan napas.
Aduh‚ aduh. Luhan membuatnya jantungan!
Dan jantung Sehun yang berdebar keras itu membuat Luhan mengerjap lagi. Telinganya merasakan debaran keras jantung Sehun dan itu membuatnya tersadar. Luhan menarik diri dengan cepat. Ia menatap Sehun yang juga menatapnya.
"Tadi―maaf." Luhan menunduk saat mengatakannya dengan gugup. Segera ia bangkit dari sofa dan berdeham kecil. Diliriknya Sehun yang menahan tawa. Wajahnya memanas.
"Badanmu panas." ujar Sehun tenang. "Tidak usah bekerja saja. Kau pasti kelelahan."
Luhan menunduk. Wajahnya sudah seperti terbakar rasanya. Aduh‚ kenapa panas sekali?!
"Istirahat saja di sini. Aku malas mengantarmu pulang." Sehun menyambung. Ia berdiri dari duduknya dan mengusap puncak kepala Luhan dengan gemas. "Lagipula si Kris itu juga akan kembali mengincarmu. Jangan membuatku khawatir."
Luhan masih diam tanpa kata. Ia hanya melirik Sehun yang terkekeh dan pergi meninggalkannya menuju suatu ruang. Mungkin kamar Sehun. Dan beberapa saat setelah itu‚ Luhan mendengar suara gemericik air di dalam sana. Sehun sedang mandi. Dan wajah Luhan makin memanas. Perempuan itu menepuk-nepuk pipi seraya bergumam‚ "Astaga‚ apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
…
Luhan tak bisa kemana-mana. Ia lupa menanyakan apa password apartemen Sehun sehingga ia tak bisa keluar dari apartemen lelaki itu. Jika ia nekat pulang dan tiba-tiba Kris menunggu di depan rumahnya‚ Luhan tak tahu harus kemana. Maka ia memilih untuk berdiam diri di apartemen Sehun selagi lelaki itu sedang mengurus beberapa pekerjaan dan katanya ingin mampir juga ke rumah salah satu temannya. Sehun berjanji akan pulang sebelum pukul sembilan malam. Dan Luhan mati kebosanan di sini.
Luhan menghela napas. Ia merasa tidak enak badan. Hembusan napasnya terasa panas dan itu menyebalkan. Luhan mendengus-dengus karenanya. Lalu Luhan lupa tak mengambil ponsel serta barang-barangnya dari mobil Sehun. Saat itu ia terlalu kalut pada keadaan. Dan sekarang Luhan juga merasa ia butuh mandi.
Tapi memangnya tidak apa-apa Luhan mandi di sini?
"Aku pergi dan anggap saja rumah sendiri." begitu kalimat Sehun yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Luhan mengangkat bahu‚ ia tak peduli. Maka dari itu ia bangkit dan pergi menuju kamar mandi. Begitu membuka pintu‚ aroma tubuh milik Sehun yang masih ia ingat menguar di sana. Tentu! Sehun memakai sabun mandi beraroma sama dengan aroma tubuhnya. Luhan melihat sekeliling. Kamar mandinya luas‚ Luhan tak bisa menaikkan rahangnya yang turun.
Ah‚ harus‚ ya‚ ia mengagumi interior kamar mandi seorang lelaki semacam Sehun? Luhan menggeleng-geleng pada dirinya sendiri. Dasar perempuan aneh! Cepat mandi dan tunggu Sehun. Lalu kau bisa pergi dari sini―supaya kau tak hilang kendali untuk tidak memeluk Sehun lagi―eh?
Maka Luhan memutuskan untuk mandi tanpa memikirkan apapun lagi.
Selesainya‚ Luhan bingung harus memakai baju apa. Kemarin ia memakai pakaian kantor sampai ia tertidur di―jangan di sebutkan‚ lah‚ nanti Luhan merona lagi― dan tentu saja itu sudah kotor. Luhan ragu membuka lemari besar yang ada di kamar Sehun. Ia harus meminjamnya‚ atau tetap memakai handuk kimono ini?
Ah‚ astaga… Kenapa Sehun harus mengurungnya di sini?!
Luhan mendengus‚ lagi. Ia benar-benar terpaksa membuka lemari itu. Daripada ia telanjang dan kedinginan? Aih‚ sinting. Lebih baik ia memakai salah satu pakaian Sehun. Jika Sehun marah nanti‚ Luhan akan beralasan‚ "Kau ingin aku kedinginan dan terus menggunakan pakaian kantorku yang mengenaskan itu‚ hm?" dan menjulurkan lidahnya pada Sehun yang kesal. Namun jika dipikir-pikir‚ Sehun tak akan marah padanya hanya karena masalah itu. Sehun kan baik. Bahkan lelaki itu sudah sering menciptakan skinship dengannya.
Ya‚ Sehun tak akan marah. Luhan mengangguk dengan senyum sebelum ia memilih kaus merah kebesaran yang panjangnya hampir setengah pahanya. Ya‚ Luhan bisa memakai ini. Tak apalah. Yang penting ia tak tela―jangan pikirkan itu!
Kemudian Luhan mendengar suara password dan kunci pintu yang terbuka. Luhan melirik jam‚ masih siang. Sehun sudah kembali? Atau mungkin lelaki itu hanya mengambil barang yang tertinggal dan kembali lagi bekerja. Luhan menaikkan kedua alis. Ia membuka pintu‚ memanggil‚ "Se―" yang tiba-tiba terhenti di ujung lidah.
Bukan Sehun yang datang. Melainkan perempuan yang ia ketahui bernama Baekhyun. Perempuan itu juga melihatnya‚ dan menatapnya penuh sangsi dan cukup terkejut untuk sesaat. Luhan mengerjap‚ menutup pintu kamar Sehun dan bersembunyi di sana. Astaga‚ apakah Baekhyun nanti akan berpikiran aneh tentang keadaannya?
Baekhyun yang melihat seorang perempuan berpakaian milik Sehun yang juga pernah bertemu dengannya itu‚ mendadak curiga. Semalam Sehun sama sekali tak mengangkat teleponnya. Semalam juga Baekhyun tak melihat Sehun di kantornya. Mereka bilang Sehun sedang ada meeting dan keluar entah kemana. Maka dari itu Baekhyun menunggu sampai malam. Namun Sehun tak ada kabar sama sekali.
Dan pagi ini‚ ketika Baekhyun benar-benar ingin bicara soal apa yang dikatakan Sehun tempo hari‚ Baekhyun melihat perempuan asing berpakian Sehun! Hei‚ apakah Sehun sefrustasi itu dengannya sampai-sampai ia melakukan hal yang tidak-tidak dengan perempuan lain? Baekhyun curiga setengah mati.
Tentang siapa perempuan itu?
Apakah perempuan itu yang telah meracuni otak Sehun?
Atau perempuan itukah yang menggoda Sehun sampai-sampai Sehun berpaling darinya?
Dan…
Kenapa perempuan itu ada di sini? Dengan keadaan seperti itu pula?
Baekhyun mengernyitkan kening tidak suka. Ia menghampiri pintu kamar Sehun‚ mengetuk pintunya kemudian. "Kau‚" panggilnya. Ia tahu jika perempuan yang ada di dalam itu mendengar suaranya.
Luhan menelan ludah susah payah. Gawat! Baekhyun pasti berpikiran aneh-aneh.
"Bisakah kau keluar dan jelaskan apa yang sudah kau lakukan dengan Sehun semalam?"
Pertanyaan sinting. Luhan membatin dalam hati. Ia hanya mampu diam dan tak bergerak di balik pintu.
"Aku tak akan marah." Baekhyun berbohong pada dirinya dan pada Luhan di dalam sana. "Jelaskan dan aku akan mencoba untuk mengerti."
Luhan mulai ragu.
"Tidak apa-apa. Keluarlah."
Luhan menghela napas. Sial‚ ia luluh dengan bujukan Baekhyun. Meski masih ragu‚ Luhan tetap membuka pintu. Ia melihat Baekhyun di depannya‚ menatapnya penuh arti‚ dan Luhan menunduk. Luhan tak yakin jika Baekhyun akan mengerti dengan keadaan. Bukannya begitu‚ Luhan tak ingin kehidupannya diketahui oleh orang yang tak dikenalnya. Apalagi itu Baekhyun‚ perempuan yang entah mengapa‚ melihatnya baru saja‚ ia merasa benci.
Entah itu mengapa‚ Luhan benar-benar tak tahu.
…
Perempuan yang ia ketahui bernama Luhan itu bilang jika Sehun menyelamatkannya dari masalahnya‚ dan membawanya kesini untuk dilindungi. Awalnya Baekhyun tak percaya karena Sehun bukanlah lelaki yang benar-benar peduli pada seorang perempuan―kecuali dengan dirinya‚ Ibunya Sehun‚ dan bertambah lagi dengan Luhan. Namun ketika mengerti bagaimana keadaan Luhan saat ini‚ Baekhyun mulai percaya. Bahwa Sehun sudah berubah sedikit demi sedikit.
Saat ini‚ Baekhyun tak bisa berhenti memperhatikan Luhan saat perempuan itu tertidur di kamarnya. Luhan sakit‚ bisa dilihat dari wajahnya yang pucat. Baekhyun lebih memilih untuk membawa Luhan ke apartemennya dan meminjaminya pakaian. Baekhyun benar-benar tak sudi sebenarnya. Perempuan bernama Luhan inilah yang menyebabkan Sehun berkata‚ "Kalau hanya aku yang jatuh cinta sendirian padamu." padanya tempo hari. Mungkin Luhan sudah mengguna-guna Sehun‚ atau membujuk Sehun supaya lelaki itu bisa menjauh darinya. Sebab Sehun tak pernah menyakiti perasaannya. Dan yang kemarin itu adalah yang pertama kalinya Sehun membuatnya sakit.
Entahlah‚ Baekhyun tak suka dengan Luhan. Namun ia harus menahan diri untuk terlihat baik dihadapan perempuan itu. Soalnya tadi Baekhyun melihat Luhan seperti perempuan lugu yang tak banyak bicara. Terlihat menggemaskan memang. Tapi Baekhyun tetap tak suka!
Menghela napas‚ Baekhyun meraih ponsel. Ia mengirimkan sebuah pesan untuk Sehun kemudian. Ia tak tahu Sehun akan membacanya atau tidak. Yang penting ia sudah mengabari kalau Luhan ada di apartemennya. Biar Sehun bisa cepat pulang dan memulangkan perempuan ini. Lalu ia bisa berbicara mengenai hal kemarin berdua dengan Sehun.
Ada yang salah dengan lelaki itu.
…
Baekhyun : Luhan di apartemenku. Cepat pulangkan dia.
Sehun membaca pesan itu dan menghela napas. Dilihatnya Yixing yang sedang sibuk dengan kertas-kertas di meja‚ lalu dihampirinya perempuan itu.
"Noona." panggilnya pada Yixing.
Yixing mendongak. "Ya‚ Sehun?" sahutnya. Lelaki yang baru saja mendeklarasikan bahwa ia lebih muda darinya dua tahun dan ingin memanggilnya noona itu tersenyum. Yixing berpikir bahwa Sehun ini aneh. Dan ya‚ Sehun memang benar-benar aneh.
"Aku ada urusan. Jadi aku pulang dulu‚ ya?"
Yixing mengangguk‚ mengijinkan Sehun pulang duluan meski ia tak tahu mengapa lelaki itu ijin padanya.
Selama perjalanan menuju apartemen‚ Sehun tak bisa berhenti memikirkan Luhan. Apakah perempuan itu baik-baik saja di apartemen Baekhyun? Setahunya‚ Baekhyun bukanlah perempuan yang jahat‚ ia baik luar dalam. Namun begitu berurusan dengan Luhan‚ Sehun yakin Baekhyun akan mengubah sisi baiknya. Sehun mulai berpikiran buruk pada Baekhyun dan pada keadaan Luhan.
Hei‚ Luhan ini sakit. Seharusnya ia tak meninggalkan perempuan itu di apartemen sendirian.
Sesampainya‚ lantas Sehun masuk ke apartemen Baekhyun. Ia melihat Baekhyun dengan santainya membaca majalah di sofa. Sehun tak melihat keberadaan Luhan di sana. Kemudian Sehun menghampiri Baekhyun yang menyadari keberadaannya. Perempuan itu tersenyum manis menyambut kedatangannya.
"Kau benar-benar datang." ujarnya.
Sehun tak menanggapi. "Di mana Luhan?"
Wajah cerah Baekhyun pun luntur. "Kau kemari karena Luhan?" tanyanya pelan. Ia menunduk saat itu.
"Kau bilang aku harus memulangkannya." balas Sehun datar. Tanpa melihat Baekhyun yang memandangnya kesal‚ Sehun berjalan menuju kamar perempuan itu. Luhan pasti di sana.
"Sehun‚" panggilan Baekhyun pun membuat Sehun berhenti melangkah. Baekhyun menghela napas. Ia menghampiri Sehun dan memeluknya dari belakang. Dapat ia rasakan tubuh lelaki ini mengejang kaku. Sebab Baekhyun tak pernah melakukan hal ini‚ jadi itulah yang membuat Sehun terkejut.
"Maaf." ujar Baekhyun pelan.
"Untuk apa?"
"Soal Chanyeol." jawab Baekhyun. "Namanya Chanyeol."
"Aku tak bertanya namanya siapa." balas Sehun dingin.
Baekhyun memejamkan mata‚ lalu menghela napas‚ lagi. "Aku tahu kau sakit hati. Tapi bukan maksudku seperti itu." Sehun diam tak menjawab saat itu. "Aku hanya ingin kau tahu kalau aku senang bisa bertemu dan menyukai Chanyeol. Aku harap dengan begitu kau juga ikut senang."
"Tapi aku sama sekali tidak senang."
Sehun berusaha untuk melepaskan tautan tangan Baekhyun di perutnya. Setelah terlepas‚ Sehun mengambil langkah menjauh‚ tanpa ingin kembali melihat Baekhyun. Sesungguhnya ia masih tak tega. Tapi mau bagaimana lagi? Sehun bukan lelaki yang dengan bodohnya menyembunyikan perasaan sakit. Dia bukan seperti itu.
"Kau malah membuatku sakit. Dan kau senang atas hal itu."
"Tidak‚ bukan begitu." Baekhyun merengek. "Kau tak mengerti."
"Kau hanya mencari-cari alasan supaya aku bisa bertahan untukmu‚ kan?"
"Ti―"
"Berhentilah menjadi orang yang dikejar." ujar Sehun. Ia memandang ujung sepatunya dan melanjutkan‚ "Karena orang yang mengejarmu‚ kini telah beralih mengejar orang lain."
Baekhyun tak menjawab lagi. Kalimat Sehun menusuknya dalam-dalam. Ia hanya diam melihat Sehun masuk ke dalam kamarnya‚ menggendong Luhan yang masih tertidur‚ lalu keluar dari apartemennya. Baekhyun sakit hati. Pada Sehun‚ juga pada Luhan.
…
"Tapi aku sama sekali tidak senang."
Luhan menggeliat kecil‚ membuka mata setelah mengerjap beberapa kali. Ia terbangun karena di luar terdengar suara ribut. Ada suara Baekhyun yang sebelumnya terdengar. Lalu tadi itu suara Sehun. Luhan menghembuskan napas‚ masih belum sadar sepenuhnya. Ia masih mengumpulkan nyawanya saat ini.
"Kau malah membuatku sakit. Dan kau senang atas hal itu."
Ah‚ ya. Itu benar suara Sehun. Pasti sedang berbicara dengan Baekhyun.
"Tidak‚ bukan begitu. Kau tak mengerti."
Dan itu suara Baekhyun.
Oh‚ mereka sedang bertengkar? Luhan mengerjap mendengarnya.
"Kau hanya mencari-cari alasan supaya aku bisa bertahan untukmu‚ kan?"
"Ti―"
"Berhentilah menjadi orang yang dikejar. Karena orang yang mengejarmu‚ kini telah beralih mengejar orang lain."
Luhan membulatkan mata samar mendengar hal itu. Sehun berkata seperti itu pada Baekhyun? Hei‚ lelaki itu sudah gila apa? Kenapa bisa dengan gamblangnya ia berkata seperti itu pada Baekhyun yang jelas-jelas ingin sekali meminta maaf dan menjalin hubungan yang sama seperti dulu lagi? Lalu apa katanya? Sehun beralih mengejar orang lain‚ maksudnya?
Mengejar… dirinya?―eh?
Lantas Luhan memejamkan mata saat pintu kamar itu terbuka. Sehun pasti masuk. Dapat ia rasa Sehun menyibak selimut yang ia pakai dan menggendongnya. Luhan berdebar. Ia tak bisa menahan rona merah di pipi saat merasakan debaran jantung Sehun dan hangatnya tubuh lelaki ini. Saat keluar‚ ia tak mendengar suara Baekhyun. Mungkin Baekhyun pias‚ tercenung‚ atau juga tak tahu harus berbuat apa. Baekhyun pasti sakit hati karena kalimat Sehun tadi.
"Kau lucu juga saat pipimu memerah." Sehun berbisik lucu padanya. Dan Luhan berusaha untuk tak tersenyum karena itu. "Kalau sudah bangun‚ bangun saja."
Seketika Luhan membuka mata. Dilihatnya Sehun yang menahan senyum geli tanpa melihatnya saat ini. Luhan merona. Kemudian ia berkata‚ "Turunkan aku."
"Ah‚ aku menggendongmu?" Sehun berhenti berjalan. Luhan merengut dibuatnya.
"Kau pikir kau menggendong hantu?"
Sehun meringis. "Kau ringan sekali soalnya."
Luhan merengut. Ia tak membalas apapun lagi.
…
Ada yang salah‚ Sehun merasa begitu. Saat melihat Luhan memandangi jemarinya dan menghela napas berkali-kali‚ Sehun merasa dirinya tercubit. Tidak‚ hatinya yang tercubit. Sehun ingin sekali mengubah wajah Luhan yang sering terlihat muram dan datar itu berubah menjadi wajah manis yang menghangatkan hati. Sungguh‚ Sehun ingin melakukannya.
"Sehun‚" Luhan memanggilnya‚ membuat Sehun berhenti memperhatikan. "Kenapa kau tak menjalankan mobilnya?" tanyanya.
"Aku hanya sedang berpikir." jawab Sehun. Lelaki itu tak tahu harus berekspresi apa saat Luhan beralih padanya‚ menatapnya‚ menunggu kelanjutan kalimatnya. Sehun berdeham kecil. "Apa yang tadi kau lihat?"
Luhan mengatupkan bibir. "Cincinku." jawabnya pelan. "Aku kehilangannya." jawabnya setelah sekian lama menimang-nimang untuk menjawab atau tidak.
"Kenapa bisa?"
Luhan menunduk. "Aku tak sengaja melemparnya."
Sehun menahan tawa geli. "Kau memang sengaja melemparnya. Mana bisa cincinmu hilang karena alasan seperti itu?"
Luhan mendengus pelan. Wajahnya sudah memerah. Dan Sehun yang melihatnya sekilas tak bisa menahan senyum senang. Pun tak menanggapi lagi. Sehun menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah Luhan. Sehun bukannya ingin mengantar Luhan pulang. Sehun yakin jika Luhan pulang sekarang‚ Kris akan datang. Perempuan itu berada dalam bahaya berada di sekitar Kris. Dan Sehun tak ingin melihat betapa takutnya Luhan bersama Kris lagi‚ seperti kemarin‚ misalnya. Selain itu‚ Sehun ingin menemukan cincin Luhan. Ya‚ dia ingin‚ tapi tak tahu juga alasannya yang pasti seperti apa. Ia hanya tahu cincin itu dari Yifan‚ tunangannya Luhan yang sudah tiada. Dan setahu Sehun‚ cincin itu berharga bagi Luhan. Jadi mungkin itu alasannya.
Sesampainya‚ rumah Luhan terlihat sepi. Tak ada tanda-tanda keberadaan Kris di sana. Lantas mereka turun dari mobil. Luhan menghadap Sehun yang tiba-tiba berjalan memasuki gerbang rumah. Luhan bingung. Sehun kenapa? Seharusnya kan Sehun kembali lagi ke kantor mengingat betapa banyaknya pekerjaan seorang direktur.
"Kenapa kau masuk?" tanya Luhan.
"Ada yang ketinggalan dan aku baru ingat." jawab Sehun asal. Ia menunggu Luhan membukakan pintu rumah untuknya dan kemudian masuk. Sehun acuh tak acuh pada Luhan yang memandangnya kebingungan. Langsung saja lelaki itu memasuki kamar Luhan yang masih berantakan.
"Kenapa ke kamarku?" Luhan bertanya lagi. "Hei‚ kamarku berantakan‚ tahu."
Sehun tak menjawab. Matanya berpendar kemana-mana. Kemudian ia menemukan cincin yang ia cari berada di dekat kaki meja rias Luhan. Sehun mengambilnya‚ dan memperlihatkannya pada Luhan yang terus saja mengomel di ambang pintu. Melihat cincinnya ditemukan Sehun‚ Luhan mengatupkan bibir. Ia melihat Sehun dan cincin itu bergantian. Lalu mengerjap.
Sehun mencarikan cincin itu untuknya? Atau bagaimana?
Sehun tak bisa menahan senyum geli ketika melihat Luhan keheranan saat ini. Perempuan itu menggemaskan. Dan Sehun tak tahan lagi. Lelaki itu meraih salah satu tangan Luhan dan meletakkan cincin itu di sana. Luhan menatapnya lagi. Kali ini Sehun membalasnya dengan senyum.
"Kupikir kau melemparnya di sini saat kau marah kemarin."
Luhan melirik ke arah lain. Tiba-tiba saja kalimat yang kemarin terucap begitu saja‚ muncul di ingatannya. Raut wajahnya berubah. Luhan kembali muram. Ia tak tahu kenapa ia berkata seperti itu. Marahkah ia? Tapi marah pada siapa? Pada Yifan yang telah meninggalkannya‚ atau pada Kris yang mengekangnya‚ atau pada keadaan yang membuatnya terlihat seperti perempuan menyedihkan?
"Dan aku benci bertunangan dengan orang mati!"
Luhan menghela napas. Ia memandangi cincin itu sejenak. Keputusan untuk melupakan memang baik. Namun ia tak tahu bagaimana cara melupakan seseorang yang membuatnya menyesal.
Adakah yang tahu?
Luhan melirik Sehun. Lelaki itu masih berada di depannya. Kembali lagi ke cincinnya‚ Luhan termenung.
Ia harus melepaskan Yifan. Bagaimanapun itu‚ Yifan sudah tenang di alam sana. Ya‚ memang sudah seharusnya begitu…
"Luhan?"
Luhan tersentak kecil. Suara Sehun membuyarkan pemikirannya. "Ya‚ ada apa?"
"Kau melamun." Sehun bersedekap. "Kenapa kau tak memakainya lagi?"
Luhan menggeleng. "Tidak." jawabnya singkat dan pelan. Ia memandangi cincin itu‚ lalu tersenyum kecil. "Mulai sekarang aku tak akan memakainya lagi."
Kening Sehun berkerut bingung. "Kenapa?" tanyanya. Setengah terkejut‚ juga setengah penasaran.
"Karena seharusnya aku tak mempertahankan hubungan dengan orang yang telah meninggal." jawab Luhan yakin.
Sehun menaikkan kedua alis. Kali ini keterkejutannya bertambah. Astaga‚ Luhan melepas Yifan?
"Sehun‚" giliran Luhan yang membuat Sehun tersentak kecil. "Antarkan aku mengembalikan cincin ini pada Yifan."
Sehun memandang Luhan yang memandangnya serius. Ia tak mengerti mengapa perempuan yang selalu saja muram karena Yifan itu kini beralih memilih untuk melupakan Yifan. Memang keputusan yang bagus. Luhan tak akan berwajah muram saat teringat tentang Yifan. Tapi bagaimana bisa? Setahu Sehun‚ rasa sayang dan menyesal milik Luhan pada Yifan lebih besar daripada rasa ingin melupakan Yifan. Nah‚ trus―
"Sehun‚" Luhan memelas kali ini. "Kumohon…"
Sehun menghela napas. Berpikir sebentar‚ ia mengangguk. Dapat ia lihat Luhan tersenyum untuknya. Senyum yang cantik. Sehun suka―dan Sehun jatuh hati karena senyum itu. Serius!
…
Angin sepoi‚ hamparan hijau‚ serta ilalang yang bergoyang pelan. Sehun melihat dan merasakan hal-hal itu sepanjang jalan ia mengekori Luhan. Perempuan itu dengan rambut terurainya‚ terlihat begitu cantik meski hanya dari belakang. Rambut Luhan berwarna hitam‚ sepunggung‚ dan bergelombang karena terlalu sering digulung rapi saat bekerja. Tubuh Luhan terlihat mungil meski untuk ukuran seorang perempuan‚ Luhan termasuk tinggi. Pakaian milik Baekhyun yang ia pakai―dress selutut berwarna peach― terlihat sangat cocok untuk tubuhnya. Baru kali ini Sehun melihat Luhan berpenampilan lembut seperti ini. Biasanya Luhan memakai pakaian formal yang rapi. Sehun bosan melihat tampilan itu.
Sehun tetap memberi jarak dan ruang untuk Luhan ketika perempuan itu berhenti di salah satu nisan. Di sana adalah tempat Yifan beristirahat untuk selamanya. Luhan berdiri di sana‚ seperti tak melakukan apa-apa jika dilihat dari belakang. Padahal Luhan sedang menyapa dengan canggung‚ serta menahan tangis akan sakit dan rindu yang ia rasa selama ini.
Ah‚ Sehun sungguh tak ingin melihat perempuan itu menangis jika saja hal itu terjadi. Maka dari itu Sehun segera beranjak dari sana‚ dan menunggu Luhan di mobil. Biar Luhan menumpahkan semuanya dulu pada Yifan. Sehun tak ingin mengganggu.
Ia hanya ingin berpikir. Tentang Luhan. Sehun sering bertemu dengannya. Sadar atau tidak‚ setelah itu‚ Sehun sering sekali memperhatikan Luhan. Meski pada awalnya Luhan sulit untuk beradaptasi dengannya‚ namun pada akhirnya perempuan itu selalu menghampirinya. Mereka banyak bercerita. Sehingga baik Sehun maupun Luhan‚ mereka tahu cerita cinta masing-masing.
Luhan?
Dia cantik.
Senyumnya membuat Sehun berdebar.
Tatapan matanya lembut.
Suaranya membuat Sehun damai.
Salah tingkah dan malunya membuat Sehun gemas.
Dan…
Sehun pikir ia telah menyukai perempuan itu. Entah sejak kapan rasa suka itu mulai datang‚ Sehun tak tahu. Ia hanya yakin bahwa Luhan sudah mencuri hatinya.
Yah… Mau bagaimana lagi? Sehun menggidikkan bahu seraya tersenyum geli pada dirinya sendiri. Hei‚ dia baru sadar kalau dia menyukai Luhan. Dan baginya itu lucu. Iya‚ lucu. Sebab Sehun jatuh hati pada perempuan berwajah muram yang selalu membuatnya penasaran sedari dulu. Luhan benar-benar sukses membuatnya jatuh.
…
To be continued…
Hai! Aku balik! Lumayan lama lah ya.. Dan semoga kalian ngga bosen nunggu updatenya ff ini :""))
Oiya. Ada ngga yang nunggu ff Lucky One ku? Ada? Ada? Kalo ada mohonlah bersabar. Aku lagi ngestuck :")
Udahlahyaa.. Aku nggabanyak cuap-cuap kali ini. Kubiarkan kalian membaca dan menulis review untuk ff ini.
Sorry for typo(s)!
See yaa~
