CHAPTER SEBELUMNYA:

BLAM!

Pintu rumah tertutup sendiri dengan suara yang keras. Seperti ada orang yang membantingnya sekuat tenaga. Lalu terkunci dari luar dengan sendirinya.

KLIK!

Kini Sasuke dan Reiji terjebak dalam rumah kematian yang diisi oleh arwah-arwah penasaran dan para iblis. Sudah menjadi tugas mereka untuk memburu, menyegel dan memusnahkan mereka serta menetralisir rumah tersebut agar tidak dihuni lagi oleh para makhluk gaib. Itulah konflik mereka sebagai pemburu hantu.

.

.

.

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

Multipairing:

Naruto x Koneko

Menma x Kuroka

Rating: M

Genre: supranatural/romance

Setting: AU

Tokoh oc pendukung: Kurosaki Reiji

Kamis, 1 September 2016

.

.

.

THE GUARDIAN OF SACRED BOOK SEASON 2

By Hikasya

.

.

.

Chapter 10. Perang di dunia yokai

.

.

.

Di malam yang tak berbintang dan tiada bulan, di Uzuka Gakuen.

Sekolah yang berbentuk kastil tua, didatangi oleh makhluk gaib yang tak diundang. Makhluk gaib yang berasal dari kelompok hantu jahat yaitu Deidara.

Deidara, seorang pria berambut kuning yang diikat satu seperti samurai, sedang bertarung dengan Menma. Mereka bertarung dan saling mengeluarkan kekuatan supranatural masing-masing. Saling menyerang antara satu sama lain. Tidak ada yang mengalah sedikitpun.

Menggunakan pedang katana yang mempunyai gagang bercorak klasik, Deidara beradu pedang dengan pedang api milik Menma. Mereka saling melompat, menerjang dan bertahan. Deidara yang memiliki tipe kekuatan pemanggil tengkorak-tengkorak hidup dan kemampuan berpedang samurai, terus melancarkan setiap jurus pedang katananya pada Menma. Gerakannya sangat gesit dan mampu memblokir serangan Menma yang menggunakan tubuh berapi. Kecepatan Menma dapat diimbanginya dengan mendaratkan serangan telak pada tubuh Menma dengan pedangnya.

DHUAAAAASH!

Lagi-lagi Menma terpelanting jauh ke belakang setelah perutnya terkena serangan pedang Deidara yang mengakibatkan perutnya terluka parah. Dia pun jatuh dan terseret beberapa meter di tanah.

SRAK! SRAK! SRAK!

Tercetaklah goresan luka melintang yang sangat dalam di perutnya. Darah merah segar merembes dari luka parah itu. Tidak hanya itu, luka goresan juga tampak tercetak di pipi kanannya. Rasanya begitu menyakitkan.

HUP!

Deidara mendarat di tanah dengan mulus lalu dia berlari cepat untuk menyerang Menma lagi. Menma menyadarinya.

"...!"

BETS!

Pedang katana diayunkan secara vertikal ke arah Menma. Menma menghindarinya dengan cara berguling ke arah samping.

DHUAAASH!

Serangan pedang Deidara mengenai tanah. Dia terus menyerang Menma tanpa berhenti sedikitpun.

Menma cepat bangkit berdiri dan mencoba menyerang Deidara. Mengeluarkan kekuatan tubuh yang penuh api dan melompat sambil melayangkan pedang seperti memukul bola golf.

Serangannya meleset. Dengan cepat, Deidara menghilang. Muncul di belakangnya, dan memberikan kejutan serangan balasan.

DHUAAASH!

Punggung Menma berhasil ditebas secara horizontal dengan ujung pedang Deidara. Membuat Menma jatuh ke tanah.

BRUAAAK!

Terkapar dalam keadaan tertelungkup, kabut tipis menyeruak saat dia jatuh. Meringis kesakitan pada punggungnya yang terluka parah lagi. Tubuhnya tidak berapi lagi.

Saat yang bersamaan, Deidara datang dari atas, hendak menusuknya dengan kecepatan yang mengerikan.

Sang kucing hitam yang menunggu, tak jauh dari arena pertarungan itu, sangat panik melihat Deidara akan menusuk Menma dari atas. Dia pun menjerit kencang dengan suara kucingnya.

"MIAAAAAU!"

SRIIIING!

Dalam sekejap mata, dia melompat tinggi dan berubah menjadi seorang gadis nekomata berambut hitam dan mengenakan kimono hitam terusan panjang. Di tangan kanannya, muncul sebuah rantai panjang yang bermuatan listrik hitam.

WHUUUUUUSH!

Dengan kecepatan tinggi, rantai itu meluncur ke arah Deidara yang sedikit lagi akan menusuk Menma dengan pedang. Deidara menyadari serangan rantai gadis nekomata yang diketahui adalah Kuroka.

'Eh? Rantai? Siapa yang menyerangku?' batin Deidara yang sangat panik.

Hantu berambut kuning itu terbang ke arah lain untuk menghindari serangan rantai itu. Kemanapun dia pergi, rantai itu terus mengejarnya tanpa ampun. Sampai dia tidak bisa untuk melawannya.

Tapi, dia tidak menyerah begitu saja.

Dengan memegang erat gagang pedang katananya, dia berbalik untuk menebas rantai bermuatan listrik hitam itu.

Dilayangkannya pedangnya secara diagonal.

CRAAAAASH!

Rantai itu tertebas dan menjadi hancur berkeping-keping. Namun, ternyata beberapa rantai lainnya sudah meluncur dari segala penjuru untuk menerjangnya secara bersamaan.

"APA!?"

Dengan gesit, dia menebas rantai-rantai itu sampai hancur. Menggunakan semua teknik pedangnya, rantai-rantai baru terus berdatangan. Terus menebas rantai-rantai itu sampai hancur. Datang lagi, ditebas lagi. Begitulah seterusnya sampai dia kehilangan fokusnya karena saking banyaknya rantai yang menyerangnya dan tidak menyadari sebuah rantai muncul di belakangnya. Lalu rantai itu menebus tubuhnya dari punggung sampai perut dan memberinya kejutan listrik hitam yang berdaya sangat tinggi.

BZZZZZZZZZZT!

Kilatan cahaya hitam mewarnai langit malam di Uzuka Gakuen disertai pekikan panjang dari Deidara.

"WAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Pada akhirnya, tubuhnya yang disengat listrik hitam, menghitam dan kemudian meledak hebat tanpa tersisa sedikitpun.

KABOOOOM!

Satu hantu dari kelompok hantu jahat, berhasil dimusnahkan oleh Kuroka. Hal ini membuat Kuroka puas karena sudah mengalahkannya.

HUP!

Gadis nekomata itu mendarat di tanah. Ia menghelakan napasnya karena sudah menyelesaikan pertarungan ini. Setelah itu, dia tersenyum simpul sendiri.

"Aaaah... Syukurlah Menma berhasil kuselamatkan...," katanya sambil melihat ke arah Menma yang masih terkapar dalam keadaan tengkurap di tanah.

Lalu dia berlari cepat untuk menghampiri Menma. Menma masih merintih kesakitan karena luka-luka parah yang menganga di tubuhnya.

Begitu dekat, Kuroka berlutut di samping Menma dan bertanya.

"Ka-Kamu tidak apa-apa, kan?"

Menyadari ada seorang gadis yang bertanya padanya, Menma mendongakkan kepalanya untuk memandang ke arah Kuroka.

"Ah... Kamu ya... Toujou-san... A-Aku tidak apa-apa...," Menma berusaha bangkit dari baringnya dan masih merasakan perihnya luka yang didapatkannya."A-Aduuuh..."

Kuroka panik dibuatnya. Wajahnya kelihatan kusut.

"Jangan paksakan dirimu, Menma."

"A-Aku baik-baik saja..."

Laki-laki yang mirip dengan Naruto itu, berhasil bangkit dan memilih duduk sebentar di tanah. Tangan kirinya memegang perutnya yang terluka parah. Masih mengadu kesakitan.

"A-Aduh..."

Kuroka memegang bahu Menma.

"Tunggu sebentar...," Kuroka menutup kedua matanya sebentar dan membuka matanya dengan cepat. Seketika muncul sinar putih yang menyilaukan dari kedua mata kuning menyalanya.

SRIIIING!

Menma pun merasakan tubuhnya menghangat dan bersinar terang. Dia kaget setengah mati.

PAAAAATS!

Cahaya putih menyelubungi tubuhnya hanya sedetik saja. Sesudah itu menghilang, membuat semua luka yang didapatkannya menghilang dalam sekejap mata. Kembali dia kaget dengan apa yang terjadi.

"Eh? A-Apa yang terjadi? Luka-lukaku sembuh!?"

Pandangan Menma tertuju pada Kuroka. Tapi, Kuroka tidak ada lagi di sampingnya.

"Kemana dia pergi?"

Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mendapati Kuroka yang sudah berjalan jauh di ujung sana untuk menuju ke belakang sekolah.

Dengan cepat, dia bangkit dan berlari mengejar Kuroka karena merasa tubuhnya kembali sehat sediakala.

"TOUJOU-SAN! TUNGGU!"

Langkah Kuroka terhenti. Dia menolehkan kepalanya di sudut bahu kanannya. Menampakkan wajah yang cantik dan berseri-seri.

"Ada apa?" tanya Kuroka dengan nada datar.

Menma juga menghentikan langkahnya. Berjarak beberapa meter dari Kuroka. Dia tersenyum lebar.

"Terima kasih atas pertolonganmu. Aku sangat menghargainya. Kamu memang gadis nekomata yang sangat baik, Toujou-san."

WHUUUUSH!

Mendadak angin malam berdesir pelan membuat rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar dimainkan angin. Mereka saling menatap dengan lama.

Sedetik kemudian, senyuman manis terukir di wajah Kuroka. Kedua pipinya sedikit memerah.

"Sama-sama. Itu sudah menjadi tugasku untuk membantumu karena kamu adalah temanku. Benar, kan?"

Kuroka menyudutkan kata "teman" pada Menma. Menma kelihatan terpaku. Lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Ya... Kita adalah teman, Tou..."

Belum sempat, Menma melanjutkan perkataannya, Kuroka memotongnya.

"Bisa tidak, kamu panggil aku Kuroka saja?"

Sekali lagi Kuroka tersenyum manis. Membuat Menma terpaku lagi. Kemudian mengangguk lagi.

"Baiklah... Aku memanggilmu Kuroka."

"Hmmm... Aku suka itu... Oh iya, kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai jumpa lagi!"

Dengan cepat, Kuroka menghilang dari hadapan Menma. Menma terperanjat dan tidak ingin Kuroka pergi darinya. Hatinya mengharapkan Kuroka tetap di sini untuk menemaninya berjaga dan ingin mengetahui lebih banyak tentang Kuroka. Namun, sayangnya Kuroka cepat pergi sehingga kesempatan emas itu tidak bisa dia katakan pada Kuroka.

Entah mengapa dia begitu ingin dekat dengan gadis nekomata itu. Dia sendiri bertanya-tanya dengan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini.

Tiba-tiba...

"Miau... Miau... Krrrr..."

Terdengarlah suara yang sangat lembut dan mengusap-usap kepalanya di dekat kaki Menma. Menma pun melihat ke bawah.

Rupanya si kucing hitam bermata kuning menyala, Shadow. Muncul mendadak dan mengeong minta digendong oleh Menma.

Menma tertawa kecil sambil mengambil Shadow. Digendongnya dalam dekapan hangatnya.

"Hahaha... Shadow... Kamu mengagetkan aku... Kamu darimana sih?"

"Miau... Miau... Krrrr... Krrrrrr..."

Shadow menjawab dengan nada manja dan mendekatkan dirinya pada Menma. Kepalanya dielus-elus pelan dengan tangan Menma. Kedua pipinya merona merah.

Tersenyum dengan perasaan yang berbunga-bunga, Menma melihat ke arah langit yang gelap tanpa ada bintang ataupun bulan seraya berkata pada kucingnya.

"Shadow... Tahu tidak?"

Shadow alias Kuroka melihat ke arah wajah Menma. Dia memasang telinganya baik-baik untuk mendengar apa yang akan dikatakan Menma padanya.

"Aku... Merasa... Kalau aku sekarang jatuh cinta pada seorang gadis. Ya, aku jatuh cinta lagi sekarang. Aku akui itu...," ucap Menma dengan penuh perasaan."Gadis itu bukan manusia. Tapi, gadis dunia gaib. Apa mungkin aku bisa mendapatkan cintanya? Apakah manusia dan makhluk gaib bisa bersatu? Yang aku tahu bahwa pacar Naruto dahulunya adalah seorang yokai. Tapi, berkat buku bertuah, pacar Naruto itu berubah menjadi manusia seutuhnya sekarang. Naruto akan menikah dengannya tidak lama lagi. Terus Kaasan terus mendesakku untuk mencari pacar agar aku bisa cepat menikah sebelum Naruto menikah. Aku tidak mau dijodohkan. Aku mau menikah dengan gadis pilihan yang aku cintai. Secepatnya aku akan mencari calon istri yang tepat untuk menikah denganku setelah tamat SMA..."

Angin malam terus bertiup seiring debaran jantung Shadow alias Kuroka semakin kencang saja ketika mendengar kelanjutan perkataan Menma.

"Calon istriku sudah kutemukan. Namun, aku tidak tahu apa pilihanku ini tepat atau tidak. Aku tidak akan terburu-buru untuk menyatakan perasaanku padanya. Butuh waktu lama lagi untuk menyakinkan dia adalah gadis yang baik. Yang penting, terlebih dahulu yang harus kulakukan adalah mencari tahu tentang siapa dia dan tentang keluarganya. Jangan sampai aku salah memilih lagi..."

Sejenak Menma menghelakan napasnya dan menurunkan pandangannya. Dia menatap wajah kucingnya yang terus memandang ke arahnya.

"Kamu ingin tahu siapa gadis yang aku sukai itu, Shadow?"

"Meooong!"

"Hehehe... Baiklah... Akan kuberitahu namanya. Dia adalah...

DHUAAAAR!

Tiba-tiba lagi, muncul serangan yang meledak di belakang Menma. Secara refleks, Menma menoleh ke arah ledakan itu.

JREEEENG!

Di antara kepulan asap yang bertebaran akibat ledakan, tampak seekor serigala berkaki dua berwarna hitam. Bermata merah menyala. Wajahnya menyeramkan. Tinggi dan berbadan besar. Kedua tangan dan kedua kakinya berkuku tajam.

Spontan, Menma dan kucing hitam sangat kaget akan kedatangannya. Menma mundur beberapa langkah dengan wajah yang pucat.

"WEREWOLF!"

"Grrrr...," manusia serigala itu menyeringai dan menampakkan gigi-gigi taringnya yang sangat tajam."Grrr... Serahkan buku bertuah itu! Kalau tidak, aku akan merobek-robek tubuhmu itu, Guardian!"

Kedua mata sang Guardian menajam dan berkilat. Dia berwajah garang.

"TIDAK AKAN PERNAH KUSERAHKAN BUKU BERTUAH ITU PADAMU!"

"Kalau begitu, RASAKAN INI! GROAAAAAR!"

Terjadilah pertarungan yang sengit antara Menma dan werewolf. Si kucing hitam pun menjauh dari arena pertarungan lagi. Menunggu di tempat yang aman sampai Menma mengalahkan musuhnya itu.

.

.

.

Di dunia yokai.

Di istana berbentuk pagoda, tepatnya di kamar sang putri bungsu Raja yokai. Tampak sang putri terlelap dalam pangkuan sang pangeran. Kepalanya terletak di atas paha sang pangeran. Rambut putihnya dielus pelan oleh sang pangeran. Terbaring dalam keadaan miring ke kanan, tepatnya di atas tempat tidur.

Koneko tertidur bersama Naruto yang menemaninya di malam dunia yokai yang bersinar dan dingin. Naruto tidak tidur. Dia duduk di tepi tempat tidur, di mana pahanya dijadikan bantal untuk menyanggah kepala Koneko. Koneko mendengkur halus. Sepertinya dia kecapekan karena sudah melewati hari-hari sulit di dunia vampire hitam. Apalagi dia menjadi mengantuk usai makan malam bersama Naruto. Lalu Naruto menyuruhnya untuk beristirahat dan akan selalu menemaninya sampai dia selesai beristirahat.

Suasana yang remang-remang karena hanya diterangi oleh cahaya obor-obor yang terpasang di sepanjang dinding. Mereka berdua diliputi perasaan yang bahagia karena bisa bersama lagi seperti ini. Bahkan sepertinya mereka tidak ingin berpisah lagi pasca insiden ini. Mereka ingin bersama setiap saat.

Pandangan Naruto terus mengarah pada Koneko. Pandangannya itu melembut dan penuh rasa kasih sayang. Terpancarkan kehangatan hati yang tersampaikan melalui sikap perhatiannya pada sang kekasih. Ingin melindunginya sebelum bahaya itu datang. Takut Sairaorg datang dan merebut gadisnya dari tangannya. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.

Dia pun bergumam dengan pelan, membisikkan kata-kata untuk Koneko yang masih tertidur.

"Aku akan melindungimu, Koneko-chan..."

Begitulah. Dia tersenyum setelah mengatakannya.

Tiba-tiba...

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamar diketuk keras oleh seseorang. Naruto menyadarinya dan dengan hati-hati meletakkan kepala Koneko di atas tempat tidur. Kemudian berjalan cepat untuk membukakan pintu.

GRATAK!

Pintu terbuka. Tampak seorang gadis berambut biru pendek dan berpakaian zirah besi khas kerajaan yokai. Bertelinga dan berekor kucing sewarna dengan rambutnya. Dia menyandang sebuah pedang di sabuk kain yang melingkari pinggangnya. Berdiri berhadapan dengan Naruto.

Naruto menatapnya dengan seksama. Gadis itu berkata padanya.

"Maaf, mengganggu anda dan Koneko-hime...," gadis itu memberi hormat pada Naruto."Namaku Xenovia, panglima perang baru yang menggantikan Gaara. Saya datang untuk menyampaikan pesan dari Baginda Raja untuk anda, Guardian."

Naruto menjadi bengong.

"Eh? Pesan apa?"

Gadis nekomata biru yang bernama Xenovia itu menatap wajah Naruto.

"Pasukan kerajaan yokai singa dan pasukan vampire hitam akan menyerbu ke kerajaan ini. Hal itu kami ketahui dari Gaara-san. Tiga puluh menit lagi, mereka akan tiba di kerajaan ini."

"...!"

Mendengar itu, Naruto sangat kaget. Kedua matanya membulat sempurna.

"Apa?! Pasukan yokai singa dan pasukan vampire hitam menyerbu ke sini!? Jangan-jangan mereka sudah mengetahui kalau Koneko-hime ada di sini...," Naruto tampak panik."Koneko-hime dalam bahaya sekarang! Apa yang sebaiknya kita lakukan, Xenovia-san?"

Dengan tenang, Xenovia mencoba memberikan solusinya.

"Biar saya yang membawa Koneko-hime ke tempat yang aman agar Sairaorg tidak bisa menemukannya. Anda tidak usah takut dengan keadaan Koneko-hime. Saya akan menjamin keselamatannya."

Naruto mengangguk dengan cepat. Wajahnya menjadi sangat serius.

"Ya, aku mengerti. Aku percayakan Koneko-hime padamu. Aku juga berencana akan ikut membantu Raja untuk melawan mereka."

Xenovia juga mengangguk.

"Baiklah, Guardian. Sebaiknya anda katakan ini pada Koneko-hime. Saya akan menunggu di sini jika kalian sudah selesai berbicara di dalam."

"Tunggu sebentar, aku akan menutup pintu ini."

"Silakan..."

Pintu ditutup Naruto lagi. Dia berbalik dan berjalan untuk menghampiri Koneko yang tertidur di tempat tidur. Tapi, karena tidak merasakan Naruto yang berada di dekatnya, membuat Koneko terbangun bersamaan Naruto sudah duduk lagi di sampingnya.

"Hmmm... Naruto-kun... Kamu kemana saja? Siapa sih yang menemuimu?" tanya Koneko yang sudah duduk sambil mengusap-usap matanya dengan tangannya.

"Xenovia yang datang...," jawab Naruto yang tersenyum.

"Hm... Xenovia? Siapa? Aku tidak kenal."

"Katanya panglima baru pengganti Gaara."

"Hah? Panglima baru pengganti Gaara?"

"Iya."

"Aaaah... Kenapa Tousama mengganti posisi Gaara dengan orang lain? Aku tidak habis pikir dengan sikap Tousama yang sangat aneh... Huh... Rasanya sangat menyebalkan..."

Wajah Koneko sedikit manyun. Naruto tersenyum lagi dibuatnya.

"Oh iya... Jangan bahas itu lagi. Ada yang ingin aku bilang padamu."

"Apa?"

"Sairaorg... Dan pasukannya... Akan datang ke sini... Mungkin mereka sudah tahu kalau kamu ada di sini..."

"...!"

Kedua mata Koneko membulat sempurna. Dia sangat kaget dengan kabar ini.

Spontan, dia menjadi sangat panik.

"A-Apa!? Sairaorg sudah tahu kalau aku ada di sini!?"

"Iya. Karena itu kamu harus pergi dari sini sebelum mereka tiba. Aku minta kamu pergi bersama Xenovia sekarang juga. Xenovia akan membawamu ke tempat yang aman supaya Sairaorg tidak bisa menemukanmu lagi. Kamu mau, kan?"

Naruto memandang wajah Koneko lekat-lekat. Wajah Koneko berubah menjadi kusut.

"Terus kamu? Kamu juga akan pergi bersamaku, kan?"

Naruto menggelengkan kepalanya dengan pelan dan memegang bahu Koneko.

"Tidak. Aku tidak ikut bersamamu. Aku akan membantu ayahmu untuk memerangi pasukan Sairaorg itu dan aku juga ingin mengalahkan Sairaorg itu. Hari ini juga, aku akan membalas kekalahanku waktu itu pada yokai singa yang menculikmu itu. Aku tidak akan membiarkannya hidup!"

"Tapi... Naruto-kun. Aku ingin bersamamu. Aku tidak akan mau pergi dari sini tanpa ada kamu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu jika kamu berhadapan lagi dengan Sairaorg. Sairaorg sangat sulit untuk dikalahkan. Aku mohon... Jangan ikut..."

"Jangan cemas. Aku tidak akan apa-apa," kedua tangan Naruto memegang dua pipi Koneko."Kamu tidak usah berpikiran buruk seperti itu. Aku yakin kali ini aku bisa mengalahkan Sairaorg. Aku akan melindungimu. Itulah janjiku."

"Naruto-kun... Tapi..."

"Tidak apa-apa. Yang penting kamu segera pergi bersama Xenovia-san sekarang. Ikutilah kemanapun Xenovia-san membawamu. Aku yakin dia bisa melindungimu selama aku tidak ada bersamamu. Aku akan membantu ayahmu dan menyelamatkan kerajaan ini. Kamu mengerti, kan?"

Dengan hati yang sangat cemas, Koneko terpaksa menuruti apa yang dikatakan Naruto. Dia mengangguk pelan. Senyuman terukir di wajah tampan Naruto.

"Bagus. Itu baru Koneko-chan yang kuat."

"Hm... Iya. Hati-hati ya Naruto-kun! Kalahkan Sairaorg itu! Aku yakin kamu bisa melakukannya."

"Tentu. Itu pasti."

Sekali lagi Naruto tersenyum. Begitu juga dengan Koneko. Mereka tersenyum bersama sambil memandang antara satu sama lainnya.

Setelah itu, mereka bangkit berdiri dan saling bergandengan tangan bersama. Sebelum langkah mereka mencapai pintu, Naruto menoleh ke arah Koneko.

"Koneko-chan... Tunggu dulu..."

Koneko juga memandang ke arah Naruto.

"Ah, apa?"

Mereka berdiri saling berhadapan. Naruto melepaskan tangannya dari tangan Koneko. Lalu kedua tangannya bergerak untuk memegang dua pipi Koneko. Memandang kedua mata Koneko dengan lama.

"Sebentar lagi, kita berpisah untuk sementara. Aku harap kamu baik-baik saja setelah aku membereskan semua ini. Setelah semuanya selesai, aku akan kembali untuk menemuimu. Aku akan kalahkan Sairaorg itu untukmu. Doakan aku agar aku berhasil memusnahkan Sairaorg dari dunia ini."

Gadis berambut putih terpaku. Sedetik kemudian, dia menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Semoga kamu berhasil, Naruto-kun!"

Naruto juga menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah Koneko. Koneko menyadarinya dan menyipitkan matanya dengan lembut. Kedua pipinya merona merah. Jantungnya berdebar-debar sangat kencang.

Bibir mereka saling menempel. Berciuman dengan lembut. Naruto menekan dua pipi Koneko dengan dua tangannya. Lalu kedua tangannya menurun dan bergerak untuk membelit pinggang Koneko. Koneko juga melakukan hal yang sama. Kedua tangannya bergerak untuk mengalungi leher Naruto. Mereka berpelukan dengan erat sambil berciuman.

Mereka melakukannya selama dua menit, setelah itu mereka melepaskan ciuman masing-masing. Masih berpelukan dengan erat, mereka memandang dalam jarak yang sangat dekat. Wajah mereka sama-sama memerah.

"Kita pergi sekarang."

"Iya, Naruto-kun."

Untuk terakhir, Naruto mencium pipi kanan Koneko. Barulah mereka melepaskan diri mereka dan bergandengan tangan lagi untuk keluar dari kamar. Di mana Xenovia menunggu mereka di dekat kamar tersebut.

Pintu terbuka. Naruto dan Koneko keluar. Xenovia memberi hormat pada mereka.

"Selamat malam, Koneko-hime."

"Se-Selamat malam... Kamu Xenovia ya?"

"Benar. Saya panglima perang baru yang menggantikan Gaara-san," Xenovia mengangguk tegas."Saya datang untuk membawa Koneko-hime pergi dari sini atas perintah Baginda Raja. Tak lama lagi, Sairaorg dan pasukannya akan menyerang kerajaan ini. Untuk itu, saya harus mengutamakan keselamatan Koneko-hime terlebih dahulu. Saya harus membawa Koneko-hime ke tempat yang aman sekarang juga."

Melirik ke arah Naruto dengan wajah kusut, Koneko tidak mau pergi bersama Xenovia sekarang. Naruto mengisyaratkannya agar cepat pergi dengan anggukan kepalanya. Koneko mengerti dan terpaksa menurutinya. Dia melihat ke arah Xenovia.

"Ba-Baiklah... Aku akan ikut bersamamu, Xenovia-san."

"Kalau begitu, ayo ikut saya sekarang, Koneko-hime."

"Iya."

Naruto melepaskan tangannya dari tangan Koneko begitu Koneko menatap padanya lagi. Wajah Koneko semakin kusut. Tapi, Naruto tersenyum sambil membelai rambutnya sebentar.

"Ikuti saja. Ingat dengan apa yang kukatakan tadi. Kamu mengerti, kan?"

"Iya, aku mengerti."

Xenovia juga menyahut. Dia menggenggam tangan Koneko.

"Baiklah... Waktu kita tidak banyak. Kita harus pergi sekarang, Koneko-hime!"

Koneko mengangguk dan menurut saat tangannya ditarik oleh Xenovia. Tapi, dia menyempatkan dirinya untuk menengok ke belakang seiring dirinya diseret pergi oleh Xenovia dengan tergesa-gesa. Pandangannya begitu sedih ketika meninggalkan Naruto yang berdiri sendirian di depan kamar itu. Tidak ada satupun yang lewat di lorong berkabut dan remang-remang itu kecuali mereka bertiga.

"Naruto-kun...," ujar Koneko dengan nada lirih yang kemudian bernada keras."JANGAN SAMPAI MATI! KALAHKAN SAIRAORG! AKU AKAN MENUNGGUMU SAMPAI KAMU KEMBALI!"

Begitulah pesan darinya sampai dirinya menghilang bersama Xenovia dalam kabut tebal itu. Naruto mengangguk seraya membalas pesannya dengan suara yang keras.

"AKU TIDAK KALAH! AKU PASTI KEMBALI UNTUK MENEMUIMU LAGI! TUNGGULAH AKU, KONEKO-CHAN!"

Tidak ada jawaban dari Koneko. Suara Naruto menggema kemana-mana sepanjang lorong itu. Sepertinya Koneko sudah dibawa menghilang bersama Xenovia.

KIIITS!

Kedua mata Naruto menajam. Raut wajahnya berubah menjadi serius. Kedua tangannya mengepal kuat. Mulai bersemangat penuh untuk membalaskan kekalahannya pada Sairaorg. Akan dia buktikan bahwa dia mampu mengalahkan yokai yang tertangguh di dunia yokai ini, demi janjinya pada Koneko.

'Sairaorg... Lihat saja! Begitu kau datang ke istana ini, aku akan menantang bertarung denganmu. Aku akan memusnahkanmu hari ini! Ini demi Koneko-chan yang kucintai!'

.

.

.

Benar saja, tak lama kemudian, Sairaorg dan pasukan kerajaan yokai singanya beserta pasukan kerajaan vampire hitam datang untuk menyerbu istana kerajaan yokai nekomata. Mereka berjumlah sangat banyak dan berdiri tepat di depan istana pagoda tersebut. Tampak Sairaorg yang berdiri paling depan untuk memimpin barisan bala tentaranya.

Berpakaian khas kerajaan yokai singa serba hitam, Sairaorg menatap ke istana pagoda tersebut. Di mana pasukan yokai nekomata sudah berdiri untuk menghadang jalannya agar tidak bisa masuk ke dalam istana. Di barisan paling depan, tampak Gaara dan Raja yokai yang memimpin pasukan yokai nekomata. Mereka tidak akan membiarkan Sairaorg dan pasukannya menyerbu untuk menghancurkan kerajaan mereka hanya demi merebut sang putri bungsu.

Dengan wajah yang menyeramkan bagaikan singa, Sairaorg bersuara nyaring dan menggema ke seantero dunia yokai. Penuh amarah yang berapi-api.

"Aku datang untuk menjemput Koneko-hime ke sini. CEPAT SERAHKAN KONEKO-HIME PADAKU! KALAU TIDAK, PARA PASUKANKU AKAN MENYERANG KERAJAAN INI!"

Gaara berwajah datar saat mendengarnya. Raja yokai pun menjawab perkataan Sairaorg.

"Aku tidak akan menyerahkan putriku pada yokai jahat sepertimu. Putriku sudah mempunyai calonnya sendiri. Jangan mengharapkan dia lagi...," nada suara Raja yokai terdengar tenang."Aku akan melindungi putriku dengan semua kekuatanku. Aku tidak akan membiarkanmu menyerbu masuk ke dalam istana ini. Kalau perlu, kita berperang sekarang!"

"Ya, itu benar."

Tiba-tiba muncul seseorang yang menyahut perkataan sang Raja, berjalan di antara pasukan yokai nekomata. Semua makhluk melihat ke arahnya.

JREEENG!

Rupanya Naruto. Dia berjalan pelan dengan wajah yang sangat serius. Lalu berhenti berjalan dan memilih berdiri di samping Raja yokai.

Sairaorg menjadi geram ketika bertemu pandang dengan Naruto, yang berjarak beberapa meter darinya.

"Kau... Guardian... Ternyata kau memang masih hidup."

"Aku memang masih hidup karena sang Kami-sama mengizinkan aku cepat siuman dari komaku selama lima hari. Keberuntungan memihak padaku sehingga aku bisa menemukan Koneko-hime sebelum Koneko-hime menikah denganmu. Itu artinya sang Kami-sama mentakdirkan bahwa aku adalah jodoh Koneko-hime. Bukan kau, Sairaorg. Akulah yang pantas menjadi suaminya Koneko-hime. Koneko-hime adalah milikku!"

"Apa?!"

Kedua mata Sairaorg terlihat sangat emosi. Wajahnya mengeras. Gigi-giginya menggeretak keras. Kedua tangannya mengepal kuat.

Amarahnya naik dengan cepat sampai ke ubun-ubun. Dia menatap Naruto dengan tajam.

"KURANG AJAR! KAU TELAH MEREBUT CALON ISTRIKU! HARI INI JUGA, AKU AKAN MENGHANCURKANMU DAN JUGA MENGHANCURKAN KERAJAAN YOKAI NEKOMATA INI!" segera saja Sairaorg berteriak keras untuk memberikan perintah pada para pasukannya."PASUKANKU, SERANG MEREKA SEKARANG!"

"GROAAAAAAR!"

"YAAAAAA!"

Para pasukan Sairaorg yang terdiri dari singa-singa dan kelelawar-kelelawar hitam langsung menyerbu ke arah pasukan nekomata.

Sang Raja yokai juga memberikan perintah pada para pasukannya.

"PERANG SUDAH DIMULAI! PASUKAN NEKOMATA, SERANG MEREKA!"

"MIAAU!"

Semua nekomata berukuran sekitar satu-dua meter langsung menyahut perkataan sang Raja dan melompat cepat ke arah pasukan Sairaorg. Mereka pun bertarung ala kekuatan hewan biasa tanpa menggunakan kekuatan supranatural. Tapi, ada sebagian dari mereka bertarung dengan kekuatan supranatural dan ada juga yang berubah menjadi manusia untuk bertarung dengan menggunakan pedang.

Sebaiknya Gaara dan Raja yokai masih berdiri di tempat ketika semua pasukan mereka sudah mulai bertarung dengan pasukan Sairaorg. Suasana menjadi ricuh dan tegang di malam yang larut di dunia yokai.

Sementara Naruto dan Sairaorg sudah maju ke medan perang. Mereka bertarung dengan menggunakan kekuatan supranatural. Bukan menggunakan pedang lagi.

Melihat pemandangan ricuh di depan istana yokai, Gaara bertanya pada sang Raja.

"Raja yokai, haruskah aku ikut membantu dalam perang ini?"

Sang Raja yokai menjawab.

"Silakan kau maju duluan, Gaara."

"Terima kasih, Yang mulia."

Dengan cepat, Gaara berubah wujud menjadi nekomata merah. Dia berlari cepat menuju ke arena peperangan dan melompat ganas untuk menerkam salah satu singa yang berhasil menerkam seekor nekomata.

WHUUUUUSH! BUAAAAK! DUAAAAK! BLAAAAAAR! DHUAAAAAR!

Berbagai suara keras sampai suara ledakan mewarnai peperangan antara yokai singa, vampire hitam, dan yokai nekomata. Hingga sebuah kekuatan supranatural yang diluncurkan dari seekor singa, meleset dan sukses mengenai bagian sisi depan istana pagoda tersebut. Membuat Gaara dan Raja yokai kaget melihatnya.

DHUAAAAAR!

Ledakan besar menghancurkan bagian sisi depan istana. Menimbulkan kebakaran hebat karena istana tersebut terbuat dari kayu. Namun, nekomata-nekomata lain memadamkan api dengan kekuatan supranatural mereka yaitu menggunakan elemen air. Dengan cepat, api padam dalam sekejap mata.

Apa boleh buat, sang Raja yokai pun bergegas membantu bala tentaranya untuk melindungi istananya agar tidak terbakar lagi. Dia pun berubah wujud menjadi nekomata putih berukuran 2 meter.

HUP!

Dia melompat dan menerjang setiap prajurit Sairaorg serta mengeluarkan jurus andalannya yang bisa mengendalikan lubang hitam dimensi. Lubang hitam dimensi yang merupakan letak penyimpanan semua energi kekuatan kegelapannya.

Di sisi lain, Naruto bertarung dengan Sairaorg. Mereka saling menyerang antara satu sama lain.

Dengan menggunakan kekuatan elemen es, Naruto mengendalikannya dari jarak jauh. Tanpa menggunakan pedang yukianesa, es itu menjalar seperti akar-akar pohon yang merambat dan bergerak tidak beraturan untuk mengejar Sairaorg. Tanpa menyentuh kekuatan elemen es itu, Naruto hanya membaca mantra sambil terus memusatkan pikirannya untuk menyerang Sairaorg.

WHUUUUUSH!

Es-es meluncur dengan kecepatan mengerikan dan mengejar Sairaorg dari belakang. Sairaorg terbang cepat untuk menghindari serangan itu. Tapi, dia sempat juga mengeluarkan serangan balasan pada Naruto yang berdiam diri di kejauhan sana.

SET!

Sairaorg mengangkat tangan kirinya ke atas. Memusatkan pikiran ke arah Naruto meskipun dia dikejar oleh sekumpulan es yang merambat. Sehingga Naruto dikelilingi garis merah yang tidak kasat mata. Dia menyeringai sinis sambil mengepalkan tangan kirinya. Berseru keras.

"FLAMEBAGE SHOT!"

Dalam jarak 10 meter, serangan itu mampu melumpuhkan musuhnya. Meledakkan tubuh musuhnya dengan suara yang sangat keras.

KABOOOM!

Lingkaran merah di sekitar Naruto menjadi pusat ledakan keras itu. Serangan es menjalar tadi menghilang dan tidak mengejar Sairaorg itu.

HUP!

Sairaorg mendarat dengan mulus di tanah. Memandang ke arah bekas pusat ledakan yang telah berasap. Menyangka Naruto sudah mati terkena ledakan itu. Membuat dia merasa senang sesaat.

"Fufufu... Guardian... Pasti dia sudah kalah. Tidak ada yang pernah bisa selamat dari seranganku yang satu ini. Pasti dia sudah mati..."

Tiba-tiba...

DUAAAAK!

Muncul tendangan dari samping dan sukses mengenai pipi kiri Sairaorg sehingga Sairaorg jatuh terguling di tanah.

BRUAAAK!

Sang pangeran yokai terkejut bukan main. Dia terkapar dan melihat ke arah seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Seseorang yang tak lain adalah...

"NARUTO!?"

Ya, tentu saja. Dia adalah Naruto. Keadaan tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada luka maupun gosong karena terbakar. Berdiri tepat di depan mata Sairaorg sekarang.

Kedua mata Sairaorg melebar. Memegang pipi kirinya yang sudah membiru. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ba-Bagaimana mungkin kau bisa selamat, Naruto?" tanyanya dengan wajah yang sedikit syok.

"Tentu saja. Aku bisa selamat dengan teknik pelindung esku," jawab Naruto dengan wajah datar."Aku mengetahui lingkaran merah yang mengelilingi diriku meskipun aku berkonsentrasi untuk menyerangmu dengan menggunakan elemen esku. Aku mempunyai mata gaib yang bisa melihat sesuatu apa saja yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Jadi, jangan anggap remeh kemampuanku sebagai Guardian. Sairaorg, aku akan mengalahkanmu!"

Dengan sigap, Naruto bergerak maju untuk menyerang Sairaorg. Kali ini tubuhnya mengeluarkan cahaya merah seperti api. Sekujur tubuhnya dipenuhi api yang berkobar-kobar. Dia menggunakan elemen api. Teknik yang sama seperti Menma. Inilah jurus yang diajarkan kakeknya. Kakek yang merupakan ayah kandung Minato.

WHUUUUSH!

Naruto bergerak dengan kecepatan mengerikan. Tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Kemudian dari tangan kanannya, cahaya merah mengobar dan membentuk pedang panjang. Sairaorg bangkit berdiri dari acara terkaparnya dan memunculkan pedangnya secara ajaib di tangan kanannya.

Dia bisa melihat pergerakan Naruto lewat mata singanya yang sangat tajam. Naruto semakin dekat dengannya sambil mengayunkan pedang secara vertikal. Melompat cepat ke arahnya dengan ganas.

Sairaorg tidak diam begitu, dengan menggunakan teknik "Blade Shelter", dia memutar tubuhnya 360° sambil menebaskan pedangnya secara horizontal. Dari bilah pedangnya, keluarlah gelombang api hitam yang memanjang seperti lidah.

BWOOOOSH!

Dua elemen api akan beradu. Saat bersamaan, pedang Naruto akan menebas Sairaorg dari atas.

WHUUUSH!

Serangan pedang Sairaorg juga akan menebas Naruto dari samping kanan.

Tidak dapat dielakkan. Serangan pedang api Naruto sukses mengenai bahu kanan Sairaorg. Sebaliknya serangan pedang gelombang api hitam Sairaorg berhasil mengenai sisi kiri tubuh Naruto.

Terjadilah ledakan kecil di tubuh masing-masing.

BLAAAAR! BLAAAAAR!

Spontan, keduanya terlempar ke belakang begitu saja dari dua sisi yang berlawanan. Terjatuh dan terseret beberapa meter.

SRAK! SRAK! SRAK!

Keduanya terkapar dengan luka bakar yang didapatkannya. Meringis kesakitan sambil menatap ke arah lawan masing-masing.

Namun, keduanya bangkit berdiri secara perlahan-lahan dengan kompak. Mencoba menyerang sekali lagi.

"Aku tidak akan kalah!" ucap Naruto dengan wajah yang garang."Ini demi janjiku pada Koneko-chan, aku akan melindunginya walaupun nyawaku taruhannya."

Setelah mengatakan itu, sekali lagi dia melesat maju dengan tubuh bercahaya kuning dan memunculkan pedang panjang di tangan kanannya. Begitu juga dengan Sairaorg.

Dua lelaki itu saling melompat ke udara di antara peperangan yang masih berlangsung.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Sekian dan terima kasih.

Dilanjutkan di chapter 11.

Senin, 5 September 2016