Ten – Confession
Story by Titania aka 16choco25
Cast :
Mouri Ran
Hattori Heiji
Kudo Shinichi
Toyama Kazuha
Kuroba Kaito
Disclaimer – Detective Conan © Aoyama Gosho
.
.
Heiji berusaha keras mengendalikan dirinya sendiri, mencoba memberanikan diri menatap mata Kazuha. Tak ada lagi kesempatan melarikan diri. Waktunya terbatas. "Apa kabar? Hisashiburi―lama tak berjumpa," sapanya kaku sambil duduk di hadapan Kazuha. Gadis itu menundukkan kepalanya, mencoba menghilangkan seluruh rasa takut yang menjalari tubuhnya secara perlahan. Akhirnya sepasang bibir azalea itu mencoba tersenyum.
"Hisashiburi. Kabarku baik. Kau sendiri bagaimana?"
"Baik."
Heiji hanya mengangguk pelan. Tubuh Kazuha mendadak menggigil. Serasa dingin sekali suasana di ruangan ini. Heiji merasa seperti sendirian walau mereka berdua. Gadis ini, sekarang lebih banyak diam. Jika ditanya, dia hanya menjawab seperlunya. Maka itu sekali lagi Heiji mencoba memaksanya bicara padanya. Setidaknya dengan kosa kata yang cukup banyak. Apa lupa akan hubungan mereka dulu? Mengapa situasi sekarang malah seperti anak-anak sekolah dasar yang baru berkenalan di saat penerimaan siswa baru? Demi Tuhan, apa gadis ini menderita amnesia? Suasana ruangan seluas 8 tatami itu semakin hening. Heiji bisa menebak, mungkin gadis itu takut untuk berbicara karena merasa bersalah dan ia takut menyakiti hati Heiji lagi.
Mata Heiji menyipit dengan sendirinya. Dia mengerang dan langsung mengangguk mengerti dan menarik napas panjang. Kini dia tahu alasan mengapa dia sangat peduli pada gadis itu dan selalu berusaha ingin melindunginya dan memperhatikan gadis itu. Rupanya dia mulai merasa bahwa dia benar-benar membutuhkan gadis itu kembali ke sisinya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Lelaki berkulit gelap itu mulai menyadari ada yang berubah dari gadis di hadapannya ini. Serasa ada potongan memori yang terpecah dan terpisahkan dari memoar-memoar hidupnya. Tidak ada lagi gelak tawa yang menghiasi percakapan mereka, tidak ada gerutuan kecil yang selalu sukses membuatnya berkacak pinggang, hingga akhirnya dia memutarbalikkan ingatannya kembali.
Lelaki itu malah memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya dengan gugup. Dia menggeser duduknya di sebelah diiringi tatapan matanya. Heiji menggenggam tangan perlahan sambil menatap mata penuh harap. Kazuha segera berusaha melepaskan genggaman tangannya dengan sekali hentakan. Tapi, tidak bisa. Terlalu kuat. Tenaganya tidak cukup untuk melawan Heiji yang kini mencengkram tangannya begitu erat seperti kesetanan. Seakan-akan tidak ingin berpisah lagi. Keningnya mengernyit.
"Apa benar kau telah..." Bibir Heiji seakan berat.
"Bertunangan dengan Kaito?"
Gadis berkuncir pita itu mengangguk pelan.
Kepalanya seakan ditimpa balok yang sangat berat.
"Heiji, kedatanganku kemari mau mencari Kaito, bukan mencarimu," katanya berusaha tenang.
Heiji mengangguk lugas. "Aku tahu. Dia sedang tertidur di ranjangnya seperti bayi. Tadi malam ia mabuk. Lima gelas bir."
"Aku akan melihat keadaannya. Maka itu lepaskan tanganku." Kazuha mencoba melepaskan genggaman tangan Heiji namun Heiji memegang tangannya semakin erat. Ada sedikit getaran aneh saat menyentuh telapak tangan Heiji. Getaran kerinduan. Dan seakan tidak bisa bernapas lagi. Ia berusaha bangkit, namun ia terduduk kembali. Ran yang mengawasi mereka lewat celah dinding pembatas antar dapur dan ruang tengah, tidak sanggup menahan air matanya. Tak kuat.
"Aku tak mau. Aku tak mau kehilanganmu lagi."
Kazuha langsung menatap Heiji kaget, namun masih dengan tatapan lembutnya. "Kedatanganku kemari untuk mencari Kaito, bukan untuk berurusan denganmu," tegasnya dengan suara serak sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Heiji. Namun Heiji, dengan kekeras kepalaannya yang kolot itu, tak akan melepas tangan semudah itu.
"Terkadang aku mulai merasa memiliki seseorang, ketika seseorang itu jauh dariku," ujar Heiji tegas sambil menatap dengan kedua alis tertaut serius. Kazuha tertegun memandang Heiji yang manik matanya sedang memandangi dengan tegas. Tatapannya melembut.
"Jujurlah. Kau juga punya perasaan seperti itu, bukan, My Sunshine?" desak Heiji. Kazuha terdesak, dia menatap mata Heiji yang memandanginya. Diam-diam ia menikmati sorot mata itu walau rasanya menyakitkan. Dia juga menikmati nada bicara Heiji saat ia kembali memanggilnya My Sunshine. Ia suka artinya. Dulu Heiji selalu memanggilnya My Sunshine.
Cahaya matahariku.
"Aku rindu padamu."
Kazuha langsung menatap Heiji kaget, namun ia tidak merespon.
Heiji mengulang. "Aku rindu padamu."
Aku juga, batin Kazuha dalam hati. Ia tak berani menatap mata Heiji.
Air mata Kazuha mulai menetes pelan-pelan, dan Heiji masih menatapnya lekat. Menunggu jawabannya. Namun ia takkan bisa bersikap jujur saat ini. Baru sekarang ia menyesal telah mencintai seorang lelaki.
Kazuha akhirnya menjawab, ia mendesah pelan. "Tidak..."
"Lalu kenapa kau menangis? Air mata itu untukku, bukan?"
Kazuha terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan singkat itu. Sudah dia sangka. Heiji tahu semuanya. Ia tahu. Heiji mengusap air mata perlahan dengan jari kurusnya, sementara masih terisak kecil. "Benar, bukan? Aku mengenalmu. Aku tahu segalanya tentangmu. Maka itu kau jangan meremehkanku. Melalui raut wajahmu saja, aku sudah tahu perasaanmu padaku."
Kazuha masih menangis. Rupanya yang sensitif dia, namun perasaannya dan Heiji sama-sama labil. Dia terdiam untuk waktu lama. Berpikir keras. Heiji sebenarnya sudah memaafkan gadis itu sebelum gadis itu meminta maaf padanya. Kazuha terisak, dan memutuskan menceritakan semuanya. Tentang kedua orang tuanya yang memaksanya bertunangan dengan Kaito, anak kolega ayahnya, dan sebenarnya ia menyesali keputusan itu. Ia masih sangat mencintai Heiji, namun ia tidak bisa menyangkal keputusan orang tuanya yang memaksanya bila seandainya ia memilih Heiji, ia bisa terancam karena ayahnya akan menghapuskan aset harta miliknya dan juga status keluarganya. Ia tak akan diakui sebagai keturunan Toyama lagi. Kazuha tak tahu apa yang menyebabkan ayahnya memperlakukan aturan seperti itu. Ia menceritakan semuanya dengan sesenggukkan sementara Heiji mendengarkan dengan penuh perhatian, karena ia paham perasaan Kazuha, sangat paham.
"Bolehkah untuk sekarang kita... berteman saja?" Bibir Kazuha seakan tercekat ketika mengucapkannya dan ia terdiam seakan-akan telah salah bicara. Tapi menurutnya ia memang salah bicara.
Harusnya, bolehkah aku kembali padamu? Ia masih memiliki perasaan berharga itu untuk Heiji. Selalu dalam hatinya.
Heiji menoleh terpana, dan mengangguk pelan. Meskipun kebiasaannya adalah saat ia dikhianati seseorang, akan sulit baginya untuk mempercayai orang itu lagi, namun baginya Kazuha adalah pengecualian. Melihat wajahnya kini saja, ia sudah tahu perasaan Kazuha yang sebenarnya padanya.
Tak pernah berubah.
"Sepanjang itu untuk kebahagiaanmu, mengapa tidak?" tukasnya santai sambil tersenyum riang. Heiji memang begitu, selalu menganggap setiap masalah dapat selesai dengan mudah dan tanpa amarah berlebihan.
Kazuha tahu lelaki di hadapannya ini seakan-akan menderita amnesia. Ia cepat melupakan masalah dan mengganti masalah dengan pikiran positif yang membuatnya merasa jauh lebih baik. Tangis Kazuha menguat, namun beberapa detik kemudian ia kembali tenang, mencoba mengontrol tangisannya.
Kazuha terdiam, mencoba keras mencerna kata-kata Heiji barusan. "Kau baik sekali. Maaf. Aku menyakitimu."
Saat mengatakannya, Kazuha merasa hatinya seakan tertusuk-tusuk oleh besi tajam. Heiji mengendurkan pegangan tangannya perlahan sambil tersenyum. Kazuha menghela napas panjang, dan merasakan semuanya kembali padanya, sekarang.
Matanya terpejam dan memori-memori itu mulai terukir jelas di benaknya, membangkitkan rasa ketakutannya yang sudah dikubur dalam-dalam seperti fosil. Tetapi memori-memori itu terus mendesak di kepalanya, memaksa masuk dan menjejali seluruh isi otaknya, seperti jarum jam yang berputar ke arah berlawanan.
"Aku tak merasa sakit. Setidaknya kau mau bicara denganku. Tidak sekaku tadi," cetus Heiji diiringi tawa diujung kalimatnya. Kazuha ikut tertawa, mencoba bersikap normal. Mereka sudah berkomitmen. Hanya sahabat. Kembali ke masa dulu lagi. Sahabat. Kazuha memandang Heiji lagi. Kini dia sudah mulai berani memandang Heiji, walau sekilas. Heiji membalas memandangnya dengan harapan yang masih menggantung di hadapannya.
Kazuha berdeham. "Bagaimana?"
Heiji menoleh ke arah Kazuha. "Apanya?"
"Perasaanmu ketika bertemu denganku."
Heiji tersenyum dengan rona merah di wajahnya. "Serasa bertemu dengan Sinterklas dalam benakku."
Kazuha tertawa halus. Ia tak percaya Tuhan dan Buddha, apalagi Sinterklas karena ia atheis. Namun ia mencoba mengerti. "Aku tak memakai baju merah dan bertubuh gemuk, bukan?"
"Ya. Aku tahu."
Kazuha tersenyum simpul. "Lalu kenapa Sinterklas?"
"Kupikir kau banyak memberikanku kejutan hari ini. Dari tangisan hingga senyum kelegaan."
Kazuha memajukan dagunya. "Begitu." Ia tidak begitu menyesal. Setidaknya ia masih bisa bersama Heiji, walau tak sedekat dulu.
Heiji melirik jam. Nyaris jam sebelas siang. "Kau tidak ingin membangunkan Kaito?" tanya Heiji cemas.
Kazuha melirik pintu kamar Kaito yang masih tertutup. Ia bangkit dari duduknya. "Ya. Kurasa aku akan melakukannya."
Ia berjalan menuju pintu kamar Kaito, namun tiba-tiba ia berbalik, menatap Heiji yang sedang memandanginya dari jarak radius kurang dari semeter. "Heiji."
"Ya?" tanya Heiji sedikit bingung. Kazuha menelan ludah. Ia sedikit ragu, namun Heiji menatapnya penuh pertimbangan, dan ia kembali menelan ludah gugup, melanjutkan dengan hati-hati. "Kumohon kau jangan cemburu bila aku melakukan ini." Aku tak ingin menyakitimu lagi, ucapnya dalam hati.
Heiji tersenyum menenangkan Kazuha. "Tidak akan."
"Onegai―kumohon." Suaranya basah. Kazuha masih merasa tak enak, namun begitu melihat senyum tenang Heiji yang mengangguk dan mengisyaratkan ia untuk segera masuk, ia segera masuk, namun diiringi air mata yang perlahan mengalir keluar melintasi kedua belah pipinya.
Ia tidak kuat membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Heiji.
Sakit, pasti sakit.
.
.
"Kau bicara padanya. Aku tahu itu." Kaito berkacak pinggang dengan kerut di keningnya. Marah. Ia bangkit masih dengan wajah merah. Efek alkohol yang meracuni otaknya masih tersisa. Ia menyingkirkan selimut dari tubuhnya begitu sadar membangunkannya yang masih setengah sadar, dan tanpa diketahui siapapun, ia mengendap-endap mendekati pintu kamarnya dan ia mendengar pembicaraan Heiji dan Kazuha barusan.
"Pada siapa? Heiji? Aku hanya menanyakan kabarnya saja. Kau begitu cemburu," tukas Kazuha kesal.
Apa pedulinya?
"Kau milikku, Kazuha. Kau tak boleh kembali padanya. Karena tempatmu disini. Bersamaku." Kaito merengkuh ke rangkulannya.
Kazuha meronta ingin lepas, namun tangan besi Kaito merengkuhnya, hingga membuatnya tak sanggup lagi bergerak.
Akhirnya Kazuha hanya mampu mengangguk. Diam-diam ia menahan air matanya. Selagi ia masih bersama Kaito, ia tak akan sanggup kembali pada Heiji. Ia tahu benar seperti apa sikap Kaito padanya. Posesif luar biasa.
Maafkan aku, Heiji...
Kazuha memejamkan matanya dalam rangkulan Kaito, berbisik dalam hati yang sunyi.
.
.
Shinichi menenggelamkan tangannya ke dalam air hangat dalam mangkuk air yang berisi garam yang ia letakkan dalam kamarnya. Dia tak peduli walau kegiatannya ini terlihat gila atau bodoh. Teringat gadis berambut hitam legam panjang dan bermata jernih itu. Mouri Ran. Gadis ini benar-benar tegar. Sekali lagi ia tegaskan, Ran berbeda dari gadis-gadis yang pernah ditemuinya. Ada suatu hal yang membuatnya terlihat berbeda di matanya.
Gadis itu selalu berusaha menyimpan masalahnya sendiri. Jika dia menceritakan masalah itu pada orang lain, tidak akan sedetail mungkin. Ia selalu berusaha keras mengontrol emosinya agar ia tidak sembarangan menceritakan masalahnya pada orang lain. Kini Shinichi benar-benar merindukan tawanya saat ia menceritakan banyak hal padanya.
Ia sudah menyadari gadis itu tidak keluar dari kamarnya untuk makan malam selama dua hari lamanya. Sebenarnya ia tahu alasan Ran tidak mau keluar. Alasan sederhana, karena ada Kazuha. Pasti itu. Apa lagi? Shinichi menarik napasnya perlahan dan mengembuskannya pelan-pelan. Ran pun belum pernah mengobrol secara langsung dengan Kazuha.
Cemburu.
"Kalau kau merindukan seseorang, tenggelamkan tanganmu dalam air hangat dan sebut namanya berkali-kali sambil memejamkan mata, pasti rasa rindumu hilang," ucap Ran sambil tersenyum menglihkan Shinichi dari buku yang sedang dibacanya. Shinichi menoleh. Sedikit ingin menertawakannya karena belum tentu hal itu benar-benar terjadi.
"Aku serius, Shinichi." Tatapan matanya menggantung, menatap Shinichi serius. Shinichi bergantian menatapnya serius. Tatapan Ran mengarah keluar jendela, memandangi lautan yang luas terhampar di hadapannya. "Cinta itu layaknya lautan. Kadang menenangkan seperti air surut, namun terkadang membahayakan seperti air pasang. Sumber dari segala kehidupan yang membawa perasaan cinta adalah air. Dan aku sering melakukan hal itu, mencelupkan tanganku ke dalam air hangat dan menyebut nama-nama sahabatku jika aku merindukan mereka."
Shinichi buru-buru mencelupkan tangannya ke dalam air hangat dan menarik napas panjang lebar dan memejamkan matanya secara perlahan dan membayangkan senyum Ran. "Mouri Ran," ujarnya pelan sambil berkali-kali menyebutkan nama Ran dalam hati. Tangannya yang mengambang di dalam air ia kepalkan pelan-pelan. Desir ombak laut yang perlahan memenuhi telinganya berdesir. Shinichi langsung menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku masih rindu padamu, Ran," bisik Shinichi pelan.
Shinichi menghela napas panjang dan mengatupkan mulutnya. Tidak berhasil. Matanya menatapi mangkuk berisi air hangat itu, yang terpantul dalam bayangan Shinichi hanya wajah Ran yang tersenyum. Shinichi membalas senyumnya, dan berkata perlahan seakan memperolok dirinya sendiri. "Padahal baru dua hari aku tidak bertemu denganmu. Kenapa sekarang hatiku merasa sangat khawatir padamu?"
Ia meraih bolpoinnya dan menulis di secarik kertas.
Berapa lama waktu yang kuperlukan untuk merendam tanganku dalam mangkuk air hingga rasa khawatirku hilang darimu? Aku sudah menunggu, dan menunggu, tetapi aku masih tetap mengkhawatirkanmu. Ketika kusebut namamu dalam mangkuk air, gelembung naik menjadi busa. Aku mengikuti saranmu, namun aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Temui aku di ruang makan sekarang. Kau belum makan, bukan?
Kudo Shinichi
Dan Shinichi mengetuk pintu kamar Ran perlahan dan menyelipkan kertas itu di bawah daun pintu.
Ketukan dari pintu kamarnya membuat Ran terpaksa bangkit dari rasa malasnya. Dengan berjinjit-jinjit ia mendekati pintu dan membukanya dengan malas. Sampai hingga akhirnya matanya menangkap sesuatu di bawah celah pintu kamarnya hingga membuatnya terpana sepersekian detik.
Surat. Dari siapa?
.
.
"Kenapa kau memilih mengirim surat padaku?" tanya Ran memprotes sambil mengulurkan kertas yang barusan diselipkan Shinichi di bawah daun pintunya. Shinichi menggaruk kepalanya bingung. Ran tertawa-tawa.
"Kau berkesan sok romantis, padahal kau hanya tinggal memasuki ruanganku dan mengajakku makan. Apa sulitnya? Apalagi isi suratmu seperti puisi cinta. Aku jadi ingin tertawa membacanya. Ketika kusebut namamu dalam mangkuk air, gelembung naik menjadi busa. Aku berpikir mungkin sebenarnya yang kau pakai itu air sabun, padahal kusarankan air hangat biasa. Kalau perlu pakai garam." Ran tertawa keras. Terbahak-bahak.
"Karena kalau aku masuk ke kamarmu di malam hari, Heiji-san dan yang lain pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita," jawab Shinichi santai. "Dan, yah, puisi itu hanya karangan kau tak suka?"
Apa maksudnya dengan 'berpikir yang tidak-tidak'? 'Masuk ke kamarmu di malam hari'? Otak Ran buru-buru mengembara kemana-mana.
"Kau benar-benar mencelupkan tanganmu ke dalam mangkuk yang isinya air hangat itu?" tanya Ran geli, diiringi tawa kecil diujung kalimatnya ketika mengekori langkah Shinichi di ruang makan. Shinichi memanyunkan bibirnya. Ran masih tertawa-tawa. Padahal niatnya hanya ingin mengerjai Shinichi saja saat itu. Bibirnya tersenyum. Aktingnya saat itu berhasil juga.
"Terus, kau bilang, kau menyebut-nyebut namaku, ya. Hahaha..." Ran masih tertawa terbahak-bahak.
Shinichi menatap Ran yang masih tertawa dengan sebal. "Jangan memperolokku. Kau sendiri 'kan, yang mengusulkan padaku tentang cara itu. Tapi tak berhasil."
"Aku biasa melakukannya. Dan bagiku sih, selalu berhasil." Ran duduk di hadapan Shinichi. "Berarti kau merindukanku, ya? Kau 'kan menyebut namaku dan mencelupkan tanganmu ke air hangat itu..." tanya Ran sambil mengedipkan sebelah matanya pada Shinichi. Shinichi menggaruk-garuk kepalanya aneh dan menyipitkan matanya.
"Ya. Aku rindu padamu."
Ran terdiam, menatap mata Shinichi yang serius.
Napasnya tertahan. Benarkah?
"Aku rindu suara cerewetmu," sambung Shinichi, wajah seriusnya berganti tawa konyol. Wajah berharap Ran berubah menjadi wajah kesal. Shinichi menertawakan leluconnya sendiri hingga terbahak-bahak. Ran sebal melihat wajah jahil Shinichi yang seperti itu.
"Kurang ajar!" Ran meninju kepala Shinichi sambil tergelak. Shinichi mengeluarkan sushi sisa makan malam barusan dari dalam lemari dapur. Ran memutar-mutarkan bola matanya ke arah piring besar sushi itu. Masih tersisa banyak. Ran mengambil sumpit di hadapannya. Shinichi meraih piring kecilnya.
"Omong-omong, kenapa kau makan lagi? Kau sudah makan malam, bukan?" tanya Ran sambil menyumpit wasabi. Shinichi menoleh. Mulutnya sibuk mengunyah.
"Aku baru makan tiga potong tamago nigiri."
Ran melotot mendengar jawaban Shinichi. "Kenapa kau tak makan duluan? Kau tidak usah menungguku."
Shinichi langsung meninju kepala Ran pelan.
"Siapa bilang aku menungguimu? Menurutku tipikal gadis sepertimu selalu terbiasa makan ditemani oleh orang lain, bukan? Maka itu aku hanya makan sedikit, agar aku bisa menemanimu makan nanti," tebak Shinichi sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke depan wajah Ran.
Ran tertegun mendengar jawaban Shinichi yang seperti itu. Lima detik kemudian Ran langsung mengangguk sambil tersenyum malu.
"Kau sangat mengenalku." Ia sadar tentang itu.
Shinichi mengangguk diiringi senyum. "Ya." Tentu saja.
Ran menarik napas. "Bagaimana pendapatmu tentang Kazuha-san?" tanyanya tiba-tiba sambil menundukkan kepala layaknya orang mengheningkan cipta. Ekspresi kepasrahan yang cukup menyentuh.
Shinichi nyaris saja tersedak ebi kalau saja ia tidak buru-buru meneguk segelas air tawar di sebelah piring kecilnya. "Apa maksudmu menanyakan hal itu?" protesnya sambil mengusap mulutnya yang basah karena tumpahan air tawar. Ran menghela napas panjang dan mengangkat wajahnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.
Kazuha memang mencoba berbaur dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk Ran, walau gadis berambut panjang itu masih bersikap dingin padanya. Terkadang ia ikut bermain poker bersama Ran, Heiji, Shinichi, dan Kaito walau sebenarnya ia tidak terlalu ahli. Ran belajar untuk benar-benar memahami sifat gadis berkuncir kuda itu. Saat itu Kazuha mengeluarkan kartu prajuritnya dan langsung diambil alih Shinichi. Ran baru menyadari bahwa lelaki itu benar-benar jenius. Sesuatu yang jarang terjadi dalam permainan poker, namun benar-benar ada, muncul dalam deretan kartunya yang terjejer sempurna, royal straight flush, deretan kartu 10, prajurit, raja, ratu, dan as dalam jenis yang sama. Heiji sampai terperangah melihat kemampuan Shinichi bermain kartu. Maklumlah, ia mantan atlet bridge.
Tapi mari kembali ke pokok persoalan utama, Toyama Kazuha. Apa yang harus Ran katakan tentangnya? Gadis yang beruntung, sangat beruntung. Apa yang tidak sempurna darinya? Cantik, berada dalam keluarga terpandang, ramah, cerdas, rendah hati, dan memiliki bisnis sendiri yang dirintisnya dari awal dengan modal sendiri. Dan punya dua orang yang benar-benar mencintainya lebih dari apapun―Heiji dan Kaito. Dan itu hidup yang sempurna. Benar-benar sempurna.
"Yah. Menurutku dia sempurna. Cantik, feminim, lemah lembut. Punya bisnis sendiri, bisnis butik. Dan..." Ran memutarkan bola matanya. "Beruntungnya ia, dicintai dua laki-laki yang sama-sama menyayanginya." Heiji dan Kaito. Ran tersenyum pahit. Shinichi menatap dengan tatapan itu, tatapan tidak biasanya.
"Mm-hm," gumam Shinichi, teringat Kaito dan Heiji. "Jadi kau iri padanya," tembaknya langsung dan Ran langsung meninju kepalanya gemas walau tembakan itu tepat sasaran.
"Aku tidak iri padanya," tegasnya dengan suara bergetar dengan wajah sebal. Ran menggertakkan giginya kesal. Shinichi balik meninju kepalanya gemas. Tentu saja ia tahu.
"Bodoh! Terlihat di wajahmu! 'Aku tak bisa menang darinya.' Tersirat jelas!" Wajah Shinichi mengolok-oloknya dengan konyol. Tangan Ran tak sabar untuk segera meninju kepalanya.
"Oh ya?" cibir Ran kesal. Ia benci bila orang lain mengatakan bahwa ia merasa iri pada seseorang karena seseorang itu lebih baik darinya. Padahal kenyataannya―memang benar. Namun ia benci mendengarnya. Ia masih meninju kepala Shinichi gemas. Lelaki itu memang selalu begitu.
"Menurutku secara kualitas, Toyama-san punya banyak keunggulan dibandingkan denganmu." Shinichi mengutarakan pendapat objektifnya dengan wajah jahil dan Ran mengangguk-angguk. Wajar saja jika Shinichi bilang begitu. memang kekasih idaman setiap lelaki. Ia punya banyak faktor pendukung yang membuatnya menarik. Shinichi juga tak salah bilang seperti itu. Namun wajah itu, wajah jahil Shinichi yang menyebalkan.
"Ya... setiap orang bisa bilang begitu. Namun, menurutmu apa yang kupunya, dan dia tidak punya? Jawab dengan jujur." Ran mendesak.
"Hmm... apa, ya?" Shinichi terdiam sejenak. Ran masih menunggu jawaban Shinichi sambil mengunyah nigiri. "Tapi menurutku, kau lebih galak darinya..." Shinichi memiringkan bibirnya. Ran mengerlingkan matanya. Mungkin lelaki ini perlu ditinju.
"Aku tidak bisa mengalahkannya," ujar Ran lesu. Tatapannya melembut. Pasti teringat . Shinichi memandang Ran dengan matanya yang berkilat. Benar, bukan?
"Kelebihanmu itu, hmm... Kau bisa membuatku merasa jauh lebih baik setiap harinya," jawab Shinichi sambil tersenyum konyol. Ran meninju kepala Shinichi untuk kesekian kalinya. "Bodoh, itu karena aku sudah begitu dekat denganmu belakangan ini. Kau baru saja mengenalnya, mana mungkin ia bisa langsung beradaptasi denganmu, apalagi membuatmu merasa nyaman?"
"Eh? Benarkah?"
Begitu dekat?
Shinichi langsung menyadari bahwa Ran benar-benar sangat memperhatikannya. Ia mempersibuk dirinya membersihkan lensa kameranya.
Ran mengangguk tegas, menertawakan kebodohan Shinichi. Shinichi berpikir kembali. "Mungkin kau lebih galak dibandingkan dia." Ran kembali menyiapkan kepalan tangannya dan Shinichi langsung menghindar dengan lincah.
"Ryoukai! Kau lebih... tegar darinya. Dan kau itu... jago memasak!" puji Shinichi serius sambil tersenyum lebar. Teringat sup buatan Ran tempo hari. "Oh ya, lebih... galak juga, hahaha..."
Ran terdiam dengan bibir tertutup rapat.
Apa benar aku lebih tegar dari ?
"Hontou desuka?" tanyanya memastikan.
Shinichi mengangguk kuat. Ran tersenyum senang. "Oh ya," Ran memiringkan kepalanya, mengalihkan pembicaraan. "Aku dapat tawaran beasiswa. Kuliah bisnis di Inggris."
Inggris? Alis Shinichi terangkat penasaran.
Terbayang betapa jauhnya Inggris dari Jepang. Ran masih berwajah antusias, jadi Shinichi tidak mau merusak kebahagiaan gadis itu. "Jadi begini. Ayahku menetap di Inggris sekarang. London. Ia mendaftarkanku seleksi kuliah program bisnis dan aku lulus. Sayangnya ayahku mendaftarkanku di Inggris, bukan di Amerika seperti yang kuharap-harapkan. Mungkin agar lebih dekat dengan keluarga. Ujiannya tertulis lewat internet. Dan aku berhasil menembus beasiswa kuliah minimal dua tahun. Aku mau mengambilnya. Siapa tahu aku bisa berbisnis sendiri. Aku lelah menjadi sekretaris. Dan disana aku bisa bertemu ayahku. Bagaimana kalau setelah kuliah, aku membuat bisnis makanan sendiri, lalu..."
Dan mulailah Ran bicara tentang mimpi-mimpinya yang sedikit kacau tersebut. Tapi begitulah Ran. Ia adalah gadis pemimpi. Diarinya dipenuhi banyak rencana-rencana gila. Sibuk berkhayal adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Shinichi tersenyum.
"Oh ya, boleh aku meminjam laptopmu? Aku mau mengirim e-mail pada atasanku. Banyak sekali yang harus kuurus di tengah masa cuti. Pembukaan gerai baru, presentasi terbaru, dan lain-lain. Huh, kepalaku nyaris meledak!"
Shinichi hanya tersenyum mendengar omelan Ran yang tak ada habisnya. Disisi lain ia senang atas keberhasilan Ran tersebut, namun disisi lain, entah mengapa ada getaran di hatinya yang berkata bahwa ia tak mau kehilangan gadis itu.
.
.
"Kazuha-rin!" Kaito tersenyum, melambaikan tangan dari jauh. "Aku membawakan buah-buahan segar untukmu!" katanya lagi sambil menyodorkan sekeranjang penuh berisi macam-macam buah-buahan. Kazuha berlari menghampiri Kaito, meraih keranjang itu, dan tersenyum.
"Arigatou."
Kaito mengangguk sambil merengkuh bahu Kazuha sambil tertawa-tawa. Diiringi tatapan berkaca-kaca Ran dari arah belakang tubuh mereka. Ran mendengus keras.
"Oh ya, kau mau membeli makanan ringan? Aku sudah lapar sekali," ujar Kaito sambil menepuk-nepuk perutnya. Ran memalingkan muka. Ingin muntah rasanya mendengar suara itu. Ia tak kuat melihatnya. Bahkan bila mereka berdua hanya saling bertatapan. Saling berbicara satu sama lain. Ran merasa seperti pesawat yang jatuh mendarat ke tanah dengan cepat dan tidak lancar. Hatinya perih melihatnya. Ia buru-buru memalingkan wajahnya dan menutup rapat-rapat telinganya. Namun suara tawa itu masih terdengar samar-samar. Ingin rasanya Ran melangkahkan kakinya pergi jauh dari sini. Namun ia tak sanggup. Ia tak punya lagi tenaga untuk melangkahkan kakinya. Tak kuat.
Kazuha mengembangkan senyumnya. "Kalau begitu, ayo kita pergi ke swalayan terdekat. Aku mau membeli mochi." Kazuha menarik Kaito bangkit dari duduknya dan Kaito langsung mengacak rambut Kazuha gemas.
Mereka pergi dengan bergandengan tangan dan tertawa memandang satu sama lain. Ran berusaha keras menahan rasa sakitnya. Ia merasa ia sudah sangat lelah menangis. Ia memalingkan wajahnya kesal. Tiba-tiba saja Ran menangkap pandangan mata Heiji yang tak biasa ke arah Kaito dan . Ran duduk bersimpuh di lantai, menjajari Heiji yang masih mengaduk-aduk tehnya.
"Ohayou, Heiji."
"Ohayou." Heiji tersenyum, dan senyum itu, Ran tahu, senyum pemaksaan.
Ran tersenyum tenang, namun ia merasa suasana sangat kaku. "Kau mau sarapan? Aku sudah menyiapkan miso dan teriyaki. Mungkin kau akan menyukainya."
Heiji menyeringai, menatap meja makan dengan tatapan liar. "Ya, nanti aku akan memakannya."
"Bagaimana rasanya, Heiji?"
Heiji menoleh heran sambil menegakkan posisi duduknya. "Aku belum merasakan masakanmu, bukan? Kenapa kau menanyakan rasanya?" gerutunya sambil membetulkan posisi gesper ikat pinggangnya. Ran tersenyum perih dengan mata berkaca-kaca. Memandang dan Kaito dari kejauhan.
"Bukan itu. Maksudku, saat kau melihat Kazuha dan Kaito."
Mata Heiji berkilat saat mendengar Ran bicara seperti itu. Heiji tersenyum getir, memandang mata Ran dengan wajah pucat. Suaranya terdengar begitu jauh.
"Kazuha sahabatku, bukan? Mengapa aku harus..."
Alis Ran terangkat, marah. "Jangan berbohong, Heiji. Aku tahu, aku melihat matamu. Aku mengenalmu."
Heiji mendelik-delik gelisah, matanya naik turun. Ran menepuk pundaknya, mencoba menyemangatinya. Dia tak mau membuat Heiji menangis. Walau ia tahu Heiji tak akan bisa menangis karena mungkin air matanya sudah habis. Ran sendiri juga tidak tahan melihat kemesraan itu. Tak tahan.
Itai―menyakitkan.
"Kalau kau sendiri?" tukas Heiji tak berperasaan, dan napas Ran langsung tertahan, entah karena efek terkejut atau marah atas pertanyaan Heiji tadi. "Jawab, apa yang kau rasakan ketika melihat mereka? Saat mereka saling merangkul, tertawa, mengobrol, atau saling berpegangan tangan. Ah, biar kuperjelas. Bahkan ketika mereka hanya saling bertatapan satu sama lain. Ada cinta di mata mereka."
Ada nada marah dalam ucapan Heiji. Lebih tepatnya seperti bentakan. Ran belum pernah mendengarnya bicara dengan nada seperti itu. Dan kata-kata Heiji seakan menghujam jantungnya hingga ia tak bisa bernapas. Otaknya mendadak buntu mencari jawaban. Tatapan mereka bertabrakan dan Ran bisa melihat bara api dalam mata Heiji. Tatapannya kosong.
"Jangan tanya aku," erang Ran dan memaksakan sebentuk senyum. "Aku... seakan tidak bisa lagi merasakan rasa sakit. Aku lelah. Namun kalau kau tanya aku, aku bisa saja menjawab, tentu saja rasanya sakit karena..." Ran berhenti sejenak, mengambil napas. "Ia pria yang kucintai. Itu benar. Aku bohong kalau aku bilang tidak memikirkannya."
Benar.
Heiji tersenyum pahit.
Kata-kata itu keluar dengan cepat seperti peluru yang ditembakkan secara asal dan terburu-buru. Otaknya berpikir secara otomatis dan Ran mungkin bisa membunuh dirinya sendiri karena kegilaannya tersebut.
Heiji mengangkat alisnya. Ia diam saja. Ia tahu, Ran akan bercerita tanpa diminta.
"Walaupun aku tahu," Ran mengembuskan napas sejenak, terisak. Sedikit lega karena sudah meluapkan perasaan terdalamnya. "Kazuha-san mungkin punya banyak kelebihan dibanding diriku. Hingga kau dan Kaito benar-benar mencintainya dengan tulus. Aku tahu benar perasaanmu padanya seperti apa," Ran menatap Heiji yang masih menyimak nada suara penekanannya. "Bodohnya kau, kau mau saja dianggap hanya teman oleh Kazuha. Kalau aku jadi dirimu, aku pasti langsung menolak mentah-mentah tawaran itu. Aku kesal setiap kali memikirkannya. Untuk apa aku melihatnya bahagia namun hatiku tersakiti? Aku lelah menyakiti diriku sendiri."
Heiji terdiam. Tatapan matanya menusuk ke manik hitam mata Ran, membuat Ran merasa semakin marah karena Heiji sangat picik.
"Kadang aku berpikir kau itu dungu," ujarnya dengan nada dingin dan suara basah. "Bodoh, naif, dan aneh. Kenapa kau kembali mendekat ke dasar jurang walau kau tahu kau akan jatuh dan mati? Kenapa kau malah mendekat ke arah api walau tahu api itu bisa menggores tubuhmu?"
"Sebentar," susah payah Heiji berusaha memotong ucapan Ran yang sekarang menatapnya dengan tatapan berapi-api. "Kalau ia bahagia, aku pun bahagia. Sejahat apapun ia, aku tidak boleh menyakitinya lagi. Kau kira aku ini lelaki kejam yang akan..." Heiji tidak berani melanjutkan, namun Ran membalasnya dengan senyum sinis.
"Membalas bersikap jahat padanya?"
Heiji menelan ludah. Pahit.
"Kau tipikal orang yang tidak pernah memikirkan dirimu sendiri. Kau selalu memikirkan perasaan orang lain. Sekarang begini," Ran tidak mau lagi memperkeruh suasana. Ia paham perasaan Heiji, namun ia begitu benci pada sikap Heiji yang seperti itu. "Lihatlah dirimu. Kau mungkin bisa melihat bahagia namun mungkin hatimu akan tersakiti. Kau tidak akan bisa maju bila begini terus, Heiji." Suara Ran parau. Matanya berkilat-kilat. "Hanya seperti jalan di tempat. Tak akan bisa maju."
Tubuh Heiji mengejang. Terdiam menatap kilat mata Ran.
Hanya seperti jalan di tempat. Tak akan bisa maju.
Ran memejamkan matanya. "Kalau seandainya Tuhan mencabut rasa cinta dari hatiku, mungkin aku akan merasa lega. Lega karena terhindar dari rasa sakit yang menghantuiku tiap detiknya. Aku berharap begitu. Aku akan mencoba menghilangkannya."
Tiba-tiba tawa Kaito dan Kazuha terdengar dari luar rumah. Heiji menoleh dan langsung memalingkan wajahnya. Ran berdiri dari duduknya. Kaito dan memasuki pekarangan rumah. Kaito menyodorkan plastik besar berisi makanan ringan pada Ran yang langsung menerimanya dengan tangan terbuka. "Mau mochi? Ada keripik kentang nori juga! Tolong kau masukkan ke dalam kulkas, ya!" tawar Kaito ringan dengan senyum mengembang.
Ran menatap Kaito nanar. Heiji menatap sorot mata Ran yang aneh. Yang tak biasa.
Jangan-jangan dia...
Ran memejamkan matanya, mengembuskan napasnya perlahan.
Hanya seperti jalan di tempat. Tak akan bisa maju.
"Kaito."
Lelaki tinggi itu menoleh ke arah Ran dengan kening berkerut, namun mata Ran menarik diri dari tatapan Kaito. "Ya? Sebaiknya segera kau susun makanan ringan itu dalam kulkas..."
Ran menelan ludah.
Ia sudah tidak tahan lagi.
Ia tak kuat lagi.
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Shikashi, aishitemo ii―Tapi, bolehkah aku mencintaimu?"
Wajah Kaito langsung membeku kaget begitu mendengar ucapan Ran yang tidak disangka-sangka itu. Ran tidak berani menatap mata Kaito yang membelalak kaget dan tidak percaya. Ran terdiam, ia tertunduk, seperti langsung menyadari bahwa tindakannya barusan benar-benar salah. Mata Kazuha membulat. Terperangah mendengar ucapan Ran.
Heiji menggaruk kepalanya kaku.
Ran, tindakanmu benar-benar salah total.
.
.
To be continued.
