Disclaimer: Copyrigth of Harry Potter belongs to JK Rowling. No one mine.

Mungkin kata maaf bosan didengar karena saya selalu menyebutnya setiap awal cerita. Tapi saya bener-bener minta maaf karena lamanya sampai setahun (2010-2011) Dan terima kasih karena kesan membaca tulisan 'mana nih lanjutannya?' adalah cerita saya itu ditunggu. Padahal mungkin aja bicara 'mana nih lanjutannya?' karena kau ngga ada bahan tulisan lain. LOL. Dan saya butuh maaf pada kamu sekali lagi karena udah lama updatenya, chapternya biasa dan ngeboringin.

Tapi Happy Enjoy Read! Review...

- Chapter 10: Kisah Ketua Murid part 1 -

o0o

"Kelas satu ke sini...! Kelas satu ke sini!" Hagrid berseru. Tangan kirinya ada di sekitar mulut dan tangan kanannya sedang mengangkat tinggi-tinggi lenteranya. Akibatnya menjadi tinggi sekali.

"Pergilah ke sana, ikuti kerumanan orang banyak itu... Ini hanya untuk kelas satu!" Harry agak berteriak di samping Hagrid.

"Iya, iya, naik ke kereta... Yang mana saja... Tidak, tidak, kau pasti kedapatan... Kereta itu berjumlah sama dengan yang dibutuhkan..." kata Hermione lembut pada anak kelas dua yang terus saja bertanya.

"Tidakkah mengingatkanmu pada seseorang?" gumam Harry menyeringai sendiri. Merasa cukup ada di sisi Hagrid. Ia menoleh pada Hagrid yang baru saja menyuruh anak sepinggangnya mengambil tempat di satu perahu. "Hagrid, kelihatannya kami harus pergi dulu, kalau perlu mungkin di depan sana ada yang perlu semacam instruksi..."

Hagrid menunduk melihatnya, memindahkan lentera ke tangan yang lain dan langsung menyinari Harry dan Hermione yang telah mendekat juga setuju dengannya. "Oh, iya, juga harus ambil tempat, tuk tuntun anak-anak, yah, kalian pergi saja..." lalu dia menambahkan begitu saja. "Dan, kalian yang ini terliat beda tanpa Ron..."

Harry hanya tertawa pelan. Kemudian cuma berbalik. "Bye!"

"Sampai jumpa, Hagrid!" kata Hermione ceria.

"Ya, ya, sampai jumpa, kalian berdua!" dan dia juga berbalik mendahulukan lentera serta mulai bersenandung.

Harry mencapai kereta untuknya bersama Hermione, tetap saja sesekali mengkoordinir semua murid yang tak teratur, mengganggu orang lain atau diganggu, bermain-main dengan barang-barang di depan stasiun itu. Lebih terang dari jendela stasiun Harry melihat wajah Hermione dan mengatakan, "Aku heran ketua murid serba khusus. Kita dapat kereta khusus pula..."

"Ya," sahut Hermione mendongak melihat kereta berinterior itu serta thestralnya yang terlihat jelas olehnya, sekarang. Mendesah ia mengatakan, "Thestral, menakjubkan..."

Harry mengangkat alis, baru tahu Hermione pertama kali melihat Thestral setelah melihat kematian, orang meninggal. Melihat sekeliling, malah semakin sadar. "Heh, hampir semua orang baru sadar ada sesuatu yang menarik kereta. Jadi itu mukaku dulu saat seperti ini, lihat mereka... Aku sudah duga kalau perang tidak baik, terlalu banyak yang akan bisa melihat Thestral!"

Hermione tidak menyahut, malah mungkin tidak mendengar. Ia sedang di depan kereta dan memandang sekeliling ke beberapa kereta yang mulai bergerak menuju kastil.

Harry melengkungkan bibir, hanya lalu bergerak menarik tangga kereta. Melihat Crookshanks bergelung di kursi itu, tertidur. "Oh iya, Ron mana, Hermione, aku belum melihatnya dari tadi? Juga yang lain; Ginny, Neville, dan Luna?"

"Hm, aku juga mencari tanda-tanda dari mereka, tidak asik hanya berdua sepanjang jalan kereta..." jawab Hermione pelan masih belum memandang dirinya.

Tapi kerumunan di sana menipis dan sudah tidak ada lagi yang menunggu di luar ataupun mencari kereta. Berarti mereka sudah mendapat kereta mereka dan mungkin saja yang sudah jalan.

Harry melihat itu. Mendapat ingatannya begitu saja waktu di departemen misteri kemarin. Ia mengeluarkan tongkatnya dan mengingat caranya dulu seorang unspeakable menunjuk ruangan dari tongkatnya. "Mungkin begini saja - Tunjukkan kereta Ron!"

Tongkat Hollynya melayang dari telapak dan bergerak cepat seperti kompas menunjuk ke suatu arah dimana jalan setapak lenyap oleh kegelapan pohon cemara serta sebuah kereta yang baru saja tidak terlihat. Menandakan sesuatu.

"Yah, itu menandakan mereka telah berangkat dengan kereta lain..." kata Harry pada Hermione yang dari tadi sedang memperhatikan aksinya. Sekarang benar-benar mereka berdua yang belum jalan.

"Itu tadi bagus, Harry, aku tidak memikirkannya... Dan sekarang sebaiknya kita naik, akan banyak waktu selama upacara penyeleksian nanti untuk berbincang..."

"Yeah, aku bosan dinginnya malam ini, trauma dengan Azkaban... Lagipula aku ingin melihat anak yang terpilih dengan sel pikiranku..." ia tertawa. Membantu Hermione naik yang sambil mengatakan, "Seharusnya aku yang trauma."

Mereka di dalam. Hermione mengambil sisi yang ada kucingnya lalu duduk di sebelahnya tidur. Mengelusnya dengan sayang. "Oh, dia lelap,"

Harry mendengar sambil lalu dan merasakan kereta berderak jalan. Kursi yang didudukinya memang luas buat empat remaja ukuran normal, namun itu terasa seperti singgasana lebar raja dan ratu yang saling berhadapan. Bahkan namanya dan Hermione menggantung di bawah jendela yang memperlihatkan Thestral yang bergerak. Dalamnya lebih nyaman dan luas -bukan karena hanya ada dua orang- daripada kereta lain yang tahun-tahun sebelumnya Harry naiki.

Dan tetap saja itu semua tidak sebanding dengan ada bersama Hermione. Entah kapan ia bisa nekad.

"Harry, kau masih berhutang cerita kenapa kau tidak ingat beberapa hari kemarin! kurasa kau memang tidak ingat, apa yang kau impikan dan kenapa bisa sampai lupa?" kata Hermione mendadak tanpa sungkan.

Harry memandangnya sejenak dalam diam yang dingin. Tentu memutuskan bercerita. Apa yang diimpikannya, dan mengatakan kalau mungkin lima hari ingatannya kemarin, terganti entah bagaimana dan entah yang banyak lainnya dengan lima hari dimimpinya itu.

"...aku masih ingat jelas apa yang ada di mimpi, aku masih sanggup merinci bagaimana kronologis aku diangkat jadi kapten auror, lalu ada kau... Pokoknya ada kamu, Hermione... Tapi aku tidak ingat, sama sekali sedikitpun, apa yang terjadi lima hari lalu..."

Hanya keinginannya saja, ia menambahkan, "Aku tidak mengada-ada, aku sungguhan mengalaminya..."

Hermione menggeleng. "Tidak, tidak, aku tidak menganggapmu berpura-pura... Harry, kau ingat mimpi yang kau ceritakan sebulan lalu, saat kau bilang melambai pada anakmu?"

"Yeah, kenapa?"

"Itu juga soal masa depan kan? Kenapa itu semakin mirip saja kalau mengambil persepsi ini adalah -yah- semacam ramalan, kau tahu?"

"Er, yeah? Aku membaca masa depanku sendiri begitu, lewat mimpi?"

Hermione mengambil napas. "Aku tidak tahu. Tapi, coba hiraukan jikapun itu seandainya memang ramalan tentangmu... Kenapa kau sampai lupa lima hari? Dan bagaimana dengan yang pertama? Kalau itu memang pertama,"

Harry menjawab cepat yang termudah. "Itu yang pertama, aku berani bertaruh." lalu baru mulai berpikir.

Sama seperti yang sebelumnya, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan mimpi-mimpi seperti itu. Maka ia tidak menelaahnya tertarik dan berlebihan. Tapi kalau mau diingat...

"Coba perhatikan apa kau ingat beberapa hari sebelumnya? Coba ingat apakah sama dengan sekarang?" kata Hermione mencoba membantu.

"Sama, aku tidak ingat." gumam Harry termenung memandang sepatu Hermione. Menengadah ia memandang Hermione. "Hal pentingkah soal mimpi-mimpi ini yang bertukar tempat dengan ingatanku seharusnya lima hari sebelum itu?"

Harry menganggapnya tidak berarti sesungguhnya. "Aku malah kurang menganggapnya berguna, kecuali ada hari waktu seseorang berhutang seratus galleon padaku..."

"Bukan, begini," Hermione mencoba sabar membendung ekspresi ingin mengatakan kalau itu adalah hal jelas untuk ditanyakan. "Jika seandainya kau tidak mengarang dan aku tahu kamu jujur, Harry... Bukankah aneh jika ingatan bertukar seperti itu?"

Aneh tentu, "Yeah, tapi ini kan cuma ingatanku bertukar dengan ingatanku yang... Lain?"

"Bukankah itu aneh?"

Harry menyerah dan mengalah. "Yeah, aneh tentunya. Jadi?"

"Jadi," ia mempersiapkan diri dulu, seperti akan mengatakan sesuatu yang diluar logika. "Tidakkah... Tidakkah menurutmu kedua mimpi itu, bersangkut paut? Walau sedikit saja?"

"Sama-sama tentang masa depanku tentu saja, atau mungkin?"

"Bukan," sahut Hermione lembut. "maksudku bukan hanya itu, ada sesuatu yang lain, dan selain itu juga keduanya seperti berurut, mungkin cuma perasaanku, tapi mirip ingin menunjukkan sesuatu..."

Harry bingung. Tapi ia menahan rengutannya dan berusaha paham sekali dengar. Bingung karena yang lebih tertarik adalah Hermione sementara ia jenuh berurusan dengan mimpi. "Mungkin itu kebetulan, Hermione,"

"Ugh, kata itu selalu mengacaukan tiap dua info." Hermione mengeluh, entah pada katanya, atau Harry-nya. "Mungkin aku butuh pendapat lain yang lebih berimajinasi. Oh, ini bukan meledekmu sama sekali, Harry, apalagi menghinamu, maaf!"

Harry hanya tersenyum maklum dan ragu. Bertepatan dengan roda-roda di bawahnya sudah berhenti. Ia dan Hermione turun, berharap belum ada anak kelas satu di dalam karena sepi sekali. "Kurasa kita terlambat," bisik Hermione. Harry diam dan mengangguk. Melangkah ke Aula Besar paling akhir namun tak terperhatikan, masih dengan cuaca mendung di luar serta lilinnya yang meliuki bayangan hantu transparan, menuju meja panjang yang juga ramai. Dan nah, itu dia.

Ron sedang menggerutui Neville. Pasti soal lapar dirinya dan -jarang sekali ikut bergabung- Seamus serta Dean. Harry seperti sebulan belum bertemu dengannya. Agak pangling rambut Ron dicukur pendek, malah berdiri, malah ia bingung itu bisa berdiri. Ia tidak tahu kapan Ron memangkas rambut. Oh, tentu saja di lima hari yang hilang, pikirnya mulai kesal.

"Dari mana saja kalian?" kata Ron keras-keras seperti hampir marah. Sebenarnya biasanya kalau ditujukan untuk Hermione, Harry tidak. Tapi sekarang nampaknya mereka berdua yang dituju Ron. Apalagi posisi sangat strategis untuk Ron karena mereka berdua ada di seberangnya duduk bersebelahan lalu ada Dean.

"Kau yang dari mana?" tanya Hermione balik menuntut. "Aku dan Harry dari tadi ada di kompartemen Ketua Murid, kau tidak kesana-sana sepanjang sisa perjalanan, dan kau juga tidak sedikitpun memperlihatkan diri di stasiun, malah langsung berangkat begitu saja, tidak mencari kami?"

"Yeah, oh, kalian enak-enakan di kompartemen kalian, sementara aku terkurung dalam punyanya Parvati dan si Lavender dan teman-teman gadis genit mereka yang lain..."

"Parvati dan Lav tidak genit," bisik Hermione tajam. Melirik mencari keberadaan mereka yang nyatanya jauh sekali. Ada Ginny dan temannya dekat mereka.

"Tidak, Hermione tidak ketinggalan jaman, hanya saja mereka tidak genit ke sesama jenis mereka, maksudku jenis wanitanya, bukan genitnya..." ujar Ron pada Seamus yang mau bicara di sebelahnya.

"Hei, apa maksudmu terkurung?" tanya Harry.

"Oh, Harry, kompartemen itu seperti neraka, aku tidak mengerti mengapa aku menuruti Parvati, mereka membicarakan hal kewanitaan, membicarakan ciuman bagi gadis," muka Ron sepenuhnya jijik sekali, Harry bisa membayangkannya. "Soal pasangan mereka, atau menurutku pasangan karena banyak sekali, oh, jangan tanya aku yang itu, mereka sudah memberondongku meminta pendapat, jujur saja, muntahku sampai tertelan lagi..."

Dean terkikik. Harry memandang bertanya pada Neville yang mengangkat bahu.

"Kenapa tidak cari kompartemen lain?"

"Kemana?" kata Ron dengan nada hampir marah lagi. Harry mulai tersinggung. "Aku lelah, dan aku ada di gerbong ujung, aku lapar, mengantuk, mencapai gerbong prefek mungkin akan pingsan dan jatuh di sambungan kereta,"

"Well, kau bisa ke kompartemennya Ginny," Hermione melirik Neville. "Neville dan Luna..."

"Aku lelah, tidakkah aku sudah bilang kalau aku lelah? Aku berkeliling kedelapan gerbong dari Hogwarts Express. Aku ingin sekali duduk, Parvati menawariku dan yah aku terpaksa, kukira akan biasa. Dan aku tidak tahu dimana kompartemen mereka, lalu kau menyuruhku untuk mencarinya padahal mungkin saja mereka ada di kompartemen di bawah kereta..."

"Sebenarnya kami di gerbong kedua." Neville menyela ringan.

"Oh, apalah, aku tetap saja harus mencari kan? Gerbong kedua..." gerutu Ron, mungkin ia merasa dirinya raja. "Dan setelahnya aku mendengar ocehan beo genit itu, lalu sekarang aku harus mendengar ocehan yang menyuruhku berpatroli dua shift. Kenapa tidak kalian saja yang melakukannya?"

"Maaf, aku yang menyuruhmu itu ya?" tanya Harry. Wajar dia lupa dan ingin tahu.

"Dan sekarang kau lupa." dengus Ron kesal memukul kakinya sendiri.

"Apa sebenarnya masalahmu?" kata Harry datar tak peduli lagi.

"Masalahku adalah aku dikelilingi orang-orang aneh." sambar Ron jengkel sambil menunjuk-nunjuk Harry. Di punggung Harry ada yang berdesir, membawa ingatannya dulu. Nada yang sama, maka ia melihat leher Ron, mungkin saja ada kalung di sana. Tapi lehernya tidak terlihat tertutup kerah.

Harry sebenarnya kesal. Tapi melihat ke sekeliling yang memandangnya seperti menunggu kelanjutan, pada Hermione yang cemas dan bersiap untuk menengahi, ia bisa berpikir dewasa lagi.

"Maaf, kalau begitu, Ron, mungkin aku sedang... bukan diriku saat menyuruhmu berpatroli." kata Harry bernada memelas. Setidaknya ia bisa merasakan nafas Hermione dikeluarkan panjang.

Dan setidaknya ia mendapat pelajaran mengontrol Ron adalah jangan dibalas keras juga, karena setelah itu dia berkata, "Lupakanlah, aku juga minta maaf, aku hanya lapar dan hal menyebalkan lainnya yang menumpuk di badanku... Aku heran anak kelas satunya lama sekali, belum menunggu upacara penyeleksiannya, harusnya McGonagall paling tidak memperbolehkan ada cemilan disini..."

"Semoga Hagrid tidak tersesat." kata Seamus. Alis mereka terangkat. Hagrid mustahil tersesat. Mustahil saja, pikir Harry.

Dan memang pada saat itu satu daun pintu Aula Besar berayun terbuka. Masuk anak-anak pendek kelas satu yang takut-takut bersamaan dengan duduknya Hagrid di tiga kursi sekaligus pada belakang meja staf, tampak cerah.

Saat itu Harry baru melihat meja panjang guru yang biasa mempertontonkan para penyihir eksentrik, paling tidak nihil penyihir yang biasa saja. Profesor Trelawney selalu pemegang rekor tereksentrik. Tapi Harry tidak sedang mengamati Profesor Sprout yang mengangkat kursi dan Topi Seleksi yang bisa membuat orang lupa kalau Topi Seleksi sebelumnya hancur, juga tidak sedang menyeksamai lirik di tiap yang keluar dari jahitan Topi Seleksi, dia sedang mengamati bangku yang diisi orang asing dekat kepala sekolah. Cukup biasa penampilannya. Dan ia melihat di sana...

Ia menyenggol tangan Hermione dan mengalihkannya. "Itu Fiona. Dia mengajar..."

Hermione menggeleng-geleng dengan lelah.

"Apa seharusnya aku sudah tahu?" tanya Harry ragu.

"Seharusnya kau sudah tahu, dia mengabari kita akan ikut mengajar di Hogwarts sebagai profesor telaah muggle dua hari lalu, mungkin itu di hari kau lupa..." sahut Hermione sabar.

Harry mulai merasa lupa dirinya tidak enak untuk didengar lagi, yah, tapi itu Hermione. Dan Harry melihat profesor berbadan tambun sebesar genderang perang, mendapat kesimpulan pengajar kelas ramuan tetap profesor Slughorn saat anak pertama diteriaki Hufflepuff dengan suara yang persis dengan dulu.

Hanya dua orang yang tidak Harry kenal, dua penyihir laki-laki. Ia mengamati penyihir yang tepat di kiri profesor McGonagall, ia tidak mendapat apapun yang perlu digembar-gemborkan, beda dengan yang lain dia tidak memakai topi kerucut, penyihir berambut sependek Ron dan berwarna keemasan itu nampaknya tidak mau kehilangan tas jeraminya, karena sudah melingkar di bahunya, ia meletakkan itu di atas meja. Dan mukanya hampir selalu datar yang entah bosan atau mengesankan ketus.

Yang lain di kanan profesor Flitwick jelas-jelas orang skotlandia karena ia memakainya saat itu juga. Rok merahnya hanya sebatas dengkulnya, dan dengan kemejanya tidak mungkin akan dibilang serasi. Penyihir ini mempunyai selera berpakaian yang terburuk, simpul Harry. Topinya bahkan bowler seperti Fudge. Saat itu ia sedang tertawa normal bersama profesor Flitwick.

Penyeleksian selesai dan Harry tidak membuang waktunya saat McGonagall bertepuk tangan dan piring-piring di depan Harry dipenuhi sosis panggang. Ia tidak lagi menyembunyikan rasa laparnya dan menyiakan itu untuk lama-lama dan berbicara.

Nampaknya profesor McGonagall tahu kapan perut Harry sudah penuh untuk diisi, karena saat dia merasa kenyanglah, profesor McGonagall berdiri dari kursinya.

Beliau tidak perlu berdehem, efeknya sama dengan profesor Dumbledore dulu.

"Terima kasih untuk perhatiannya... Selamat datang di Hogwarts, untuk semua murid kelas satu, dan juga selamat kembali untuk murid teratas. Kami senang menerima keantusiasan anak kelas yang mencoba untuk menyelesaikan tingkatan tahun kemarin, kami bahagia bisa membantu. Bertepatan dengan itu, kita juga kedatangan murid baru. Secara teknis kelas satu tahun ini akan menjadi dua kali lipat, jadi kami harapkan saja itu tidak bermasalah... Mungkin sampai kalian -anak-anak kelas satu- kelas tujuh, jumlah murid kalian akan banyak, selama kami bisa mengaturnya... Kurasa cukup soal kelas dan penting untuk tahu bahwa hutan di terusan halaman itu tetap dilarang untuk dimasuki, bagi siapapun. Kalian..." kaliannya hampir selalu untuk kelas satu menurut Harry, ia hanya menunggu waktu pembubaran dan perkenalan guru. "...dilarang menggunakan sihir di tiap koridor sekolah, menjahili orang lain dengan barang sihir, lalu melanggar jam malam yang berlaku... Selama ada Mr Filch, kuharap kalian selalu ingat..."

Mr Filch menyeringai bangga, atau mengancam, di suatu tempat dekat pintu keluar guru di belakang meja staf sambil menggendong kucing separuh inderanya.

Ron mencondongkan badan ke Seamus dan bersabda, "Bagaimana kita lupa jika semua hukum sekolah tercetak pada setiap jerawatnya,"

Seamus cuma menaikkan alis dan mengangguk-angguk.

"Uji coba Quidditch akan dilaksanakan tergantung kepala asrama masing-masing, para murid yang ingin ikut, cobalah untuk bertanya pada kapten tiap tim yang sangat kuyakin pasti tahu jawabannya, selama itu bukan soal ujian Newt... Tahun kita ini akan sangat normal, meski dengan perombakkan guru; aku sebagai seorang guru yang diangkat menjadi kepala sekolah, tidaklah terlalu sanggup untuk tetap mengajar, jadi ada tiga guru yang harus kita beri sambutan: pertama kita senang akan bersedianya profesor Wilmet Simlar untuk mengisi mata pelajaranku sebelumnya, akan menjadi guru Transfigurasi; juga profesor Sedart Colm yang akan mengisi posisi Pertahanan terhadap Ilmu Hitam; serta profesor Fiona Gallant serta merta akan mengajarkan Telaah Muggle yang baik..."

Terdengar tepuk tangan wajar dari semua meja. Harry bertepuk tangan antusias akan Fiona-nya yang sopan masih duduk setidaknya tersenyum, tidak berlebihan senyum layaknya profesor Wilmet Simlar tadi yang memakai pakaian skotlandia juga sangat mengundang gelak tawa, namun profesor Simlar itu tetap berdiri dan mengangkat tangannya serta tertawa lepas seperti gila. Harry melihat Hermione mengernyit pada guru baru Transfigurasi tersebut. Tidak ada yang memperhatikan profesor satunya lagi yang mendapat posisi Pertahanan, Sedart Colm, dia hanya duduk tenang dan rapih, mengangkat kedua alis tipis jika memang ada alis, tidak tersenyum, dan menyapu hampir satu persatu murid di depannya. Tidak henti-hentinya.

"Aneh-aneh, guru Transfigurasi itu pasti akan sangat menyenangkan," kata Ron tertawa terdengar ke sekeliling. "Dari mana McGonagall mendapatkannya, aku hanya berharap dia bukan dari sirkus,"

Hermione memukul tangan Ron kesal saja. Itu baru penyambutan.

"Apa ada yang pernah melihat guru Pertahanan itu? Aku rasa aku pernah melihatnya..." kata Harry ragu. Tapi ia memang merasa pernah melihat profesor Colm di suatu tempat, mungkin berpapasan.

"Walaupun aku belum pernah lihat, aku tidak khawatir." kata Ron.

"Kalau kali ini memang belum pernah kita lihat sebelumnya, Harry, profesor Colm murni sekali baru kulihat, apalagi kukenal, tapi... Kau bilang kamu pernah melihatnya, dimana?" tanya Hermione ingin tahu.

Harry menggeleng. "Aku tidak tahu, aku hanya merasa pernah melihatnya saja. Lupakanlah, mungkin hanya perasaanku..."

"Kalau kali ini? Hermione, apa maksud dari itu?" tanya Ron bernada curiga. Menunduk mungkin tidak ingin didengar sebelahnya.

Harry mengerti itu soal mimpi Harry saat di kereta, yang telah dibilang aneh oleh Hermione. Dan Hermione yang nampak menimbang sesuatu, mau cerita atau tidak. Harry hanya mengamatinya. Juga bersamaan terdengar kursi-kursi berdencit mundur, penduduknya telah berdiri dan akan tidur.

Harry telah berencana untuk langsung tidur dari lama sekali, dan ia yakin akan pulas. Malam pertama di sekolah selalu malam paling enak tertidur tanpa belum ada beban di sekolah. Bersama lima sekawan, kumpulan poster atau tanaman yang dirawat Neville, cuaca dingin yang nyaman di ranjang tiang empat dan di dalam kelambu... Ruang rekreasi harusnya nyaman sekali...

Hermione melihat sekelilingnya. Menghiraukan pertanyaan yang teranulir karena kebutuhan sebagai Ketua Murid, begitu pula Ron sebagai prefek.

"Nanti kami ceritakan," kata Hermione dengan terburu-buru. "Kamu tentu tahu apa yang semestinya dilakukan, Ron, sebagai pemegang kekuasaan prefek, aku juga begitu, panggillah Parvati... Parvati!" Hermione memberi isyarat dengan tangannya pada Parvati yang telah bergerak setelah mengucapkan salam pada Lavender. "Kami harus berpencar, selamat malam, Ron, sampai besok! Ayo, Harry!"

Harry tidak menangkap apapun, dan mengucapkan, "Sampai nanti," pada Ron. Dan segera berpisah saat Parvati mengatakan sesuatu ke Ron. Harry kembali menuntun dan mengatur semua murid. Juga mengatur prefek.

"Untung kata kunci semua asrama telah tersebar di kereta, jadi kita tidak terlalu repot." kata Hermione lelah. Menunjukkan satu kelompok anak kecil Ravenclaw ketika telah sampai di lantai teratas pada ruang rekreasi Ravenclaw. Dan sekejap sepi karena semuanya telah terbawa prefek, hanya tinggal dia dan Hermione di depan persimpangan koridor.

"Sudah selesai, kukira," gumam Harry kurang yakin pada Hermione.

"Memang sudah selesai, para prefek juga akan sekalian beristirahat di ruang rekreasinya, tidak ada yang perlu dibina lagi," aneh Harry mendengar penyebutan ruang rekreasi tidak lagi berujung Gryffindor, melainkan sekarang baginya 'masing-masing'.

"Tentu saja kita juga butuh bukan? Ayo ke sana!"

"Kau tahu dimana ruang ketua muridnya?" tanya Hermione lebih dulu. Harry bukan sedang menebak itu pertanyaan menguji atau Hermione memang tidak tahu. Tapi ia sedang bingung, dan baru ingat.

"Bukankah- OH ya, ketua murid mempunyai ruang sendiri, oh tidak, aku belum mengucapkan salam sama sekali dengan Ginny, aku langsung pergi, kukira... Oh," ujarnya baru ingat.

Harry berpaling pada Hermione yang sedang mengasihani diri Harry. Dan Harry berkata, "Bagaimana menurutmu jika aku ke ruang rekreasi Gryffindor dulu?"

"Well, jujur saja, itu terserah padamu. Tapi kalau aku sarankan akan bisa menghabiskan banyak waktu besok pagi, jika sekarang pergi cepat tertidur. Lagipula menurutku Ginny juga akan langsung lurus ke kamarnya..."

Harry menimbang. Setelah waktu yang tidak bisa terbilang lama, tentu saja karena faktor Hermione, dia mengatakan, "Jadi dimana ruang ketua muridnya?"

Hermione tersenyum tipis, akan sesuatu. "Sudah kuduga kamu tidak tahu, tapi kurasa kalau soal ini memang profesor McGonagall merasa cukup memberitahuku jika kita memang sudah akur, katanya. Ikuti aku, Harry, tidak terlalu memutar jauh dari sini sebenarnya kalau diingat!"

Harry hanya mengangkat alis. Tidak bertanya dan tidak mencoba sok memimpin ke tempat yang hanya ada di dalam peta perampoknya, tapi tak pernah dia berusaha telusuri. Menjejerinya setelah beberapa langkah dan mengobrolkan satu dua topik ringan.

"...nah, kurasa di sinilah, Harry, Ruang Ketua Murid!" kata Hermione dengan senang, mengibaskan tangannya seperti seorang pemandu wisata yang sedang mempertontonkan pemandangan sangat indah air terjun yang jatuh ke jurang di antara padang rumput segar. Tapi Harry takut kalau di depannya hanya berupa tembok.

"Erm-" gumam Harry, cukup tidak yakin untuk menyalahi. Bisa saja ruangan Hogwarts lebih aneh dari berada di balik tembok. "Bagaimana caranya masuk?"

"Aku juga sudah menduga itu..." kata Hermione bernada pemandu wisata dengan senang yang sama. Ia menyentuh tongkatnya sendiri pada tembok. "Cara yang sama, gunakan tongkatmu sendiri!"

Berikutnya setengah badan Hermione terdorong masuk begitu saja tanpa sepengetahuan Harry beberapa detik sebelum dia bertanya. "Apa lagi? Apa mantranya?"

Suara Hermione terdengar samar-samar. "Tunjuk saja tongkatmu, selanjutnya akan-" dan suaranya hilang.

"Apa? Hermione, apa?" kata Harry keras-keras, menengok ke sisinya dan merasa sinting berteriak sendirian. Maka dia mengeluarkan tongkat. Menunjuk sekenanya ujung tongkat yang memiliki pengalaman lebih dari tongkat manapun, tongkatnya pernah patah, kepada tembok batu besar yang nampak jingga dalam cahaya obor, dan dia kembali bingung saat tak terjadi apapun.

"Erm, Hermione, bisa minta sedikit bantuan, di sini, kalau tidak repot," gumamnya seperti tidak terlalu berniat Hermione muncul lagi, padahal itu yang dibutuhkannya.

Harry merasa ada kejutan aneh di belakang lehernya, ia tidak menoleh tahu tidak ada siapapun atau apapun. Ia hanya tahu kalau ia cuma perlu mendorong tubuhnya di antara kain pembatas ruang. Dan itu mengingatkannya akan palang rintangan di King's Cross. Sebentar gelap, melangkah, lalu muncul lagi di ruangan lain.

Ia tidak jadi memikirkan dan mengatakan sedikit candaan ringan soal membantu lebih di luar, pandangannya sepenuhnya teralih pada yang disebut ruang ketua murid ini. Mewah istilahnya jika hanya untuk Harry dan Hermione.

Hermione muncul lagi dari berkeliling. Masih menjadi pemandu wisata mungkin, ia mengatakan, "Dan selanjutnya kau akan tahu sendiri apa yang harus dilakukan. Kunci dengan tongkat sihir orang yang diizinkan masuk, bagus sekali bukan? kemungkinan diseludupi hanya jika tongkat kita dicuri, dan kemungkinan mustahil kalau tongkatku yang baru kembali akan hilang lagi... Bagaimana, Harry, pendapatmu?"

"Brilian." gumam Harry masih memandang keliling dengan mulutnya yang terbuka dan jadinya membentuk sebuah senyum yang aneh. "Apa yang bisa kubilang?"

"Well, brilian sudah cukup menggambarkan."

"Aku pernah tahu keberadaan ruangan ini, tapi peta perampok tidak bisa..."

"Atau tidak mau."

Harry melanjutkan, "Atau tidak mau, kurasa tetap tidak bisa, bagaimana caranya untuk masuk kesini. Fred dan George selalu bilang ini hanya gudang, penasaran mereka pun menyurut, begitu pula aku. Itu karena belum pernah ada yang sama sekali membicarakan ruangan ketua murid, tampak masih sangat rahasia bagi murid biasa..."

"Dan kita harus melestarikan itu jika memang begitu caranya, jangan coba jadi yang pertama!" desis Hermione dengan nada mengancam.

"Well, aku akan mencobanya," kata Harry dengan kedua tangan terangkat seperti penjahat yang ditangkap.

Hermione mendengus. Lalu memalingkan wajah pada perapian, meluncur ke kursi berlengan hampir bersamaan.

"Jadi kita akan tinggal disini?" kata Harry lagi setelah duduk, tidak biasanya sebenarnya dia duduk, biasanya langsung tidur sepulang pesta awal tahun.

"Kita akan tinggal disini." ulang Hermione dengan mendesah, tersenyum pada perapian.

Mungkin perapian itu menghipnotis, karena Harry juga tersenyum padanya, lebih seperti senyum mengenang ketimbang karena keadaan. "Selama satu tahun ya?"

"Kurang lebih satu tahun pelajaran." kata Hermione lagi balik.

"Aneh sekali rasanya, potret Nyonya Gemuk hanya tinggal dua koridor lagi, dan aku di ruangan yang cara masuknya tidak bisa sambil mendengar nyanyiannya, paling tidak aku ingin mengucapkan kata kunci dan menyuruhnya berayun..."

Hermione tertawa pelan. Kalau diperhatikan, tanpa Ron, Harry akan banyak omong. Tidak akan canggung seperti dugaannya karena bagaimanapun Harry adalah anak pendiam.

"Anak pendiam yang mudah naik pitam." bisik Hermione untuk dan hanya terdengar dirinya sendiri. Tersenyum buat api yang menari.

Setengah percik masuk ke telinga Harry. "Ya, Hermione, kau mengatakan sesuatu?"

Hermione menggeleng sambil menarik napas dan membuangnya, merasakan hawa udara dingin dari jendela yang terbuka olehnya baru saja.

Harry tidak mempermasalahkannya. Tidak ada yang dipermasalahkannya saat ini. Memandang sekeliling pada ruangan yang luar biasa sekali lagi saat merasakan desakan untuk tertidur, ia ingin sekali kini merasakan tidur. Ia dari kemarin tidak merasakannya mulai karena ramuan anti-tidur sampai hilang harinya.

"Ruangan yang luas, tapi sedikit penghuni. Karena mulai hari ini aku hanya sendirian di satu kamar, kurasa aku secepat mungkin akan merindukan ruang rekreasi dengan dengkuran teman-teman kamarku dan semua anak Gryffindor..."

"Aku akan menemanimu," jawab Hermione enteng. Ada suatu sentakan aneh meski mereka berdua masih sama memandang perapian dan ia melanjutkan setelah entah memberi jeda. "Tentu saja selama masih terbangun."

"Yeah, makasih untuk itu, Hermione! Aku akan melakukan hal yang sama..." kata Harry.

"Kapan saja, Harry!" dengan tersenyum lembut. Jujur saja mengetahui senyuman itu selalu keluar, Harry segan sekali untuk tidak meliriknya. Dia murni suka melihat senyum Hermione.

Mungkin gadis yang telah terbiasa bersifat ketus, jika tersenyum akan super sangat menakjubkan, batin Harry.

"Masih banyak hari untuk memikirkan semua hal yang akan terjadi meski di hari pertama dan hari-hari selanjutnya, kita butuh tidur, tahun kedelapan dan tugas sebagai murid Newt serta Ketua Murid baru akan terasa besok dan aku khawatir seterusnya..." kata Hermione bangkit dari kursinya, namun tetap tersenyum. "besok malam, kita baru memulai patroli keliling kastil, nah, Harry, aku ingin tidur, bagaimana denganmu?"

"Yah," Harry ikut bangkit. "Aku tidak memaksa mendapat teman di sini..."

"Itu kamarmu, naik ke tangga spiral, aku ada di ujung lorong bertangga itu. Barangkali kita ingin bertukar pendapat di waktu aku ada di kamarku, aku berangkat duluan, malam, Harry!"

"Malam!" seru Harry saat Hermione sudah agak terlihat dan setelah lambaian tangan dia menghilang.

Ia sendiri hanya berdiri, sedikit membingungi apa yang ingin dilakukan saat itu, masih banyak yang perlu dipikirkan, membutuhkan penjelasan, atau paling tidak isi ruangan ini mau dilihat-lihat -kunci dengan tongkat sihir sendiri, yang benar saja, makin ruang terasing kalau begitu- tapi urusan badan lelah menutupi kemungkinan melakukan hal lain. Tidak peduli mungkin saja besok terlalu lelah lagi akan persiapan Newt yang tak terpikirkan Harry akan tanggung tidak dari awal.

Apa yang bisa ditemuinya di kamar ketua murid laki-laki, terlewatkan begitu saja saat ia menukar piama dan merebahkan tubuhnya lalu tertidur begitu saja. Sudah biasa untuk tersenyum karena selalu terbesit wajah seorang ketua murid perempuan.

.

.

BERSAMBUNG


AN: Yang diatas, waktu Hermione dan Harry bicara mengenai chapter sebelumnya, itu belum penjelasan utuh, malah lebih tepat hanya untuk membuat mengerti. Sebenarnya agak mengacu pada si antagonis, mungkin saja baru jelas kalau dia muncul, dan itu berminggu-minggu lagi, saat sudah chapter entah keberapa.

Saya hanya mencoba menyampaikan jangan terfokus pada romance Harry dan Hermione yang- kau tahulah. Ada yang ditakuti teramat besar oleh saya, dan tentu saja tidak ingin itu terjadi, saya takut pembaca menyesal. Tapi jangan coba untuk khawatir, pasti akhir bahagia, mana enak tanpa akhir bahagia jika baca reviewnya nanti kan? meski saya takut, kalau diambil istilahnya, 'Sebenarnya' sudah berlumut. Terima kasih.