Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Warning : AU, Shounen-ai. Banyak kekurangan dalam fanfiksi ini, kritik dan saran diterima.

Langsung aja kalau begitu. Enjoy!

.

"Kau ibu dari Tetsuya?"

.

Semua pandangan mengarah ke tempat Akashi berdiri.

"Bagaimana Akashi-kun bisa tau?"

Akashi mengerjapkan bulu matanya sedang Hayama berguman tak jelas tentang tak mengerti dan bingung.Akashi mengerjap lagi, tangannya menopang dagu dan bibirnya tertarik ke atas. "Kau lupa kalau aku tau segalanya?"

"Kau bukan tuhan, Akashi-kun."

"Heh? J-jadi orang ini ibumu?" tanya Hayama sambil mengacung-acungkan talunjuknya ke arah Mayuzumi Chihiro, orang yang dipanggil Kuroko dengan sebutan okaasan.

Hayama, kau telat mengerti.

Kuroko tetap memeluk Mayuzumi dengan defensif, seakan takut terpisah. Benar saja, terakhir kali ia bertemu lelaki itu, tak kurang enam tahun yang lalu. Saat usianya menginjak sepuluh tahun, Mayuzumi sudah tak pernah tertangkap di kedua kelopak matanya. Adalah hal yang wajar kalau Kuroko merasakan perasaan rindu.

"Tapi hal yang tak bisa kupahami, kalau dia ibumu, apa dia juga hantu sepertimu?"

Warna mata yang berbeda-beda mengalihkan fokus ke arah Mayuzumi yang tetap saja bertampang datar. Hanya saja matanya berkilat-kilat senang, apalagi saat melihat tatapan cemburu yang dilayangkan Akashi. Didekapnya Kuroko lebih erat, membuat Kuroko mulai bergerak tak nyaman.

"Cih, lepaskan Kuroko!" seru Hayama, seketika menarik Kuroko ke sampingnya.

Akashi mendengus tak suka. Ia tau Kuroko menggemaskan, tapi apa harus semua orang menaruh perhatian padanya? Rasanya seperti melihat salah satu adegan harem yang ditampilkan secara live. Biarlah, kali ini Akashi mengampuni Hayama karena rasa penasaran yang kini menyesaki rongga tubuhnya.

"Aku memang hantu. Tapi sekarang tidak lagi."

"Tunggu dulu, apa yang terjadi di sini?' tanya teman Hayama yang hanya bisa speechless bahkan sebelum percakapan aneh ini berlangsung.

"Ah, aku tak peduli! Ayo ke kamar," ucap Hayama sambil menarik Mibuchi Reo, temannya yang lain.

Ucapan Hayama ambigu, membuat Akashi yang pikirannya memang sudah tak sepolos dulu mengangkat tangannya untuk menghalangi langkah Hayama. Kuroko dan Mayuzumi hanya menatap tak peduli. Pada dasarnya Mayuzumi tak mau memperhatikan, sedang Kuroko memang tak mengartikan kata-kata Hayama sebagai sesuatu yang ambigu.

"Tunggu Kotarou, apa yang ingin kau lakukan di apartemenku?"

Hayama menyingkirkan tangan Akashi. "Diamlah, aku hanya mengerjakan proyek akhir semester. Kalau tak boleh, aku akan mengajak Kuroko sebagai gantinya."

Akashi membuang muka, membiarkan Hayama dan Mibuchi menghilang di balik pintu.

"Jadi, apa maksudmu dengan sekarang tidak lagi?" tanya Akashi, tangannya menyilang di depan dada. Pose Akashi yang menurut Kuroko sok keren itu membuat Mayuzumi ingin memukul kepala merahnya. Tapi tentu saja itu hanya sebatas keinginan belaka.

"Karena seseorang mengubahku. Mungkin kau sudah tau mengenai perjanjian, kan?"

Akashi mengangguk.

"Seseorang membuat janji denganku, ingin aku berjanji akan menjadi manusia sampai dia meninggal."

Aneh, ganjil, tak masuk akal. Semua kata-kata itu berputar di benak Akashi. Tapi bukankah dari awal semuanya memang tak masuk akal? Dimulai dari kehadiran Kuroko, hingga kejadian lain yang menyusulnya. Satu lagi kejadian ganjil tak akan membuat Akashi nekat menggantung diri.

Sepertinya dia sudah mulai terbiasa.

Mata Akashi terlihat terbelalak sekejap, kemudian berubah menjadi kilat antusias. "Ayo buat perjanjian denganku, Tetsuya."

Kuroko yang saat itu (lagi-lagi) memeluk Mayuzumi menoleh dan melayangkan pandang bingung. "Tapi aku tak mau jadi manusia sekarang. Kalau aku jadi manusia, mereka akan menghilang."

Entah kenapa, kata-kata Kuroko membuat Mayuzumi terlonjak. Dipandanganya Kuroko dengan sorot khawatir. "Katakan kau berbohong, Tetsuya," katanya tercekat, tak lagi bisa menyembunyikan perasaan.

Kuroko mengangguk lalu tersenyum lembut. "Dua, Okaasan. Mereka ada dua."

Mayuzumi bangkit terlebih dahulu dan mengobservasi sekeliling. Pandangannya tertumbuk pada kaca di sudut ruangan. Ia menyeret tangan Kuroko secara halus, diikuti dengan Akashi.

Kaget, khawatir, ngeri, terpanjar samar di raut wajah Akashi. Matanya terpaku pada pantulan tiga orang di depan cermin. Tidak, pandangannya hanya terpaku pada Kuroko.

Hantu itu terlihat mengerikkan dengan dua tangan mungil yang menyembul di bagian kanan dan kiri tubuhnya. Mayuzumi mengatakan kalau seorang Zashiki Warashi yang menginjak usia dewasa memang akan mengalami pembelahan yang biasanya berlangsung selama satu bulan. Bagian yang membelah biasanya tak akan bisa terlihat kecuali di depan cermin.

Tapi Mayuzumi tak mengerti kenapa Kuroko bisa dewasa secepat ini.

Kuroko mengatakan kalau pembelahan itu bermula pagi ini. saat itu Kuroko tak sengaja berjalan di depan cermin dan mendapati pemandangan ganjil. Dia lantas mendekat dan mendapati tangan itu telah menyembul di kedua pinggangnya. Semua hal itu membuatnya senang.

"Apa ini?" tanya Akashi sembari menyentuh tangan mungil di sisi kanan. Tapi anehnya, ia tak merasakan apapun di sana.

"Yang sebelah kiri akan menjadi hantu biasa, sedang yang sebelah kanan akan menjadi Zashiki Warashi baru."

Kini lelaki bersurai merah itu paham mengapa Kuroko bisa menyebut Mayuzumi sebagai Okaasan.

Mata Akashi terlihat berkilat senang saat mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Mayuzumi. Pikiran tantang bagaimana damainya hidup yang akan dimilikinya kelak saat Zashiki Warashi baru itu muncul. Pertama, dia akan mengubah Kuroko, kemudian hidup bahagia selamanya.

Rencana yang bagus.

V

Hari telah menginjak sore saat Mayuzumi Chihiro dan Mibuchi Reo berpamitan. "Tetsuya, jangan banyak bergerak ya? Kalau tidak mereka akan patah," bisik Mayuzumi di telinga Kuroko.

Kuroko mengangguk, kemudian tersenyum. Akashi agak cemburu. Sebelum ini, dia tak pernah melihat Kuroko tersenyum tersenyum setulus itu. "Pasti." Mayuzumi membalas senyum Kuroko. "Kapan kira-kira Okaasan kemari lagi?"

"Nanti akan kusempatkan berkunjung saat kosong," katanya.

"Baiklah."

"Nah, aku pulang dulu."

Hayama mengantar Mayuzumi dan Mibuchi sampai lobby, menyisakan Akashi dan Kuroko sendiri di ruang tamu.

"Apa yang dikatakannya tadi?"

Kuroko tau kalau berbohong dari Akashi sama saja mencari mati. Dia tau kalau dia sudah mati, tapi dia tak ingin mati untuk kedua kalinya. "Okaasan menyuruhku agar menjaga diri."

Kuroko tak sepenuhnya berbohong, kan?

"Oh."

V

Hayama tidur di atas sofa dan menatap antusias layar datar di hadapannya. Lelaki itu tengah melihat acara lawak yang menurut Akashi tak ada lucu-lucunya sama sekali. Akashi bahkan tak dapat menangkap apa yang diocehkan para pelawak di dalam sana. Ia tak suka, juga tak tertarik.

"Kotarou, lepaskan tanganmu dari Kuroko," tegur Akashi untuk kesekian kalinya. Ia bosan dengan tingkah laku Hayama yang acuh tak acuh. Meski berapa kalipun Akashi menegur, Hayama tak kunjung menampakkan tanda-tanda akan menjauhkan tangannya dari surai Kuroko.

Begitu mendengar suara bel pintu, Hayama berlari lebih dulu ke sana. Akashi hanya menatap bosan, kemudian menepuk sisa sofa kosong di sebelahnya, mengisyaratkan pada Kuroko untuk duduk di sana.

"Kapan makhluk itu akan keluar, Tetsuya?"

"Masih lama Akashi-kun, memangnya kenapa?"

"Ah tidak. Aku hanya ingin secepatnya mengubahmu menjadi manusia."

"Akashi-kun serius dengan hal itu."

"Kapan aku tak serius dengan niatanku sendiri, Tetsuya?"

Surai merah itu melingkarkan tangannya di perut Kuroko, kemudian menariknya mendekat. Ia puas saat melihat rona merah muda samar di wajah pucat hantu itu. Sentuhan Akashi pada perutnya mulai berubah menjadi gelitikan, membuat Kuroko kegelian. Tak tahan akan rasa itu, ia menghilang dan muncul lagi di belakang sofa dalam mode tak kasat mata.

Akashi bingung. "Tetsuya? Kau dimana?"

Kuroko muncul kembali dalam wujud nyata, tangannya tepat berada di pinggang Akashi, siap menggelitik. Tapi saat jemarinya bersentuhan dengan pinggang Akashi, bukannya geli, Akashi justru membalik tubuhnya dan menarik lengan Kuroko.

Tepat saat itu Akashi samar-samar melihat tangan di pinggang Kuroko terlihat jelas. Tapi semua itu diabaikannya.

Tubuh Kuroko terbanting ke sofa dengan keras. Punggungnya membentur pegangan sofa, membuatnya terbelelak. Tak lama kemudian, teriakan keluar dari bibirnya.

Akashi memucat saat mendapati Kuroko menggeliat kesakitan. Tubuhnya terjatuh dari sofa dan membentur lantai. Terbayang jelas di matanya, manik biru muda Kuroko yang seakan hilang dan hanya diisi dengan warna putih.

Dia pernah melihat hal itu, dan bukan merupakan sesuatu yang baik. Akashi ikut turun dari sofa. Tangannya meraih pundak Zashiki Warashi itu, kemudian mengguncangnya pelan. "Tetsuya tenangkan dirimu. Apa yang terjadi denganmu?"

Tak berpengaruh.

"Tetsuya!"

Bentakan Akashi sukses membuat teriakan Kuroko berhanti. Mata baby blue nya menatap Akashi dengan sorot yang sanggup membuat kepala merah tak dapat mengatakan apapun lagi. Mulut Kuroko bergerak-gerak, tapi tak ada satu katapun yang terlontar keluar.

Sekarang hantu itu terisak. Akashi menarik lembut kepalanya dan menyandarkannya ke dadanya sendiri. Lelaki itu dapat merasakan saat kemejanya mulai basah karena air mata yang dikeluarkan Akashi. Tapi dia tak peduli. Ia akan melakukan apapun agar air mata itu cepat kering.

"Akashi-kun."

Bisa dilihatnya saat ini Kuroko sedang menahan sakit. Semua itu bisa dikenali dari suara yang seperti tercekik dan tubuhnya yang bergetar hebat.

"Ya?"

"Bisa kau membawaku ke depan cermin," pintanya lirih.

Akashi tak mengerti dengan apa yang terjadi. Awalnya ia hanya ingin sedikit bermain-main dan menggoda Kuroko. Tak pernah terlintas di pikirannya untuk membuat Kuroko kesakitan ataupun menangis seperti sekarang.

Diangkatnya Kuroko dan membawnaya dengan kedua tangan. Pelan-pelan ia berjalan ke depan cermin, tak ingin terlalu cepat supaya Kuroko tak jatuh untuk kedua kali.

Begitu mencapai cermin, hal yang bisa dilihatnya hanya Kuroko dan dirinya sendiri. Seketika itu pandangannya segerah beralih ke pinggang Kuroko, yang tak menampakkan apapun. Kedua lengan itu hilang tak berbekas, menyisakan kain baju yang kini dipakai Kuroko.

Kemana gerangan kedua mungil yang tadi melekat di sana?

"Tidak!"

"Tetsuya?"

"Tidak! Tidak! Tidak!"

"Tetsuya!"

Sosok Kuroko menghilang entah kemana, menyisakan Akashi yan menatap pantulan dirinya di cermin.

"Apa yang telah kulakukan?"

TBC

.

Yang review pake akun, Vee bales via PM.

Guest : iya ^^, kan Vee tepatin janji. Bener banget. Hayama buat peran 'nista' aja xD. Itung-itung gantiin perannya Kise yang nggak bisa selalu muncul. Makasih buat RnRnya ^^

Intinya, thanks buat semuanya (yang udah review, read, fave, or follow). Maaf Vee nggak bisa sebutin satu-satu.