Phosphorescent

.

.

You better read this alone in the middle of the night, without a single light. And, who knows who will stay beside, maybe read along with you. Boo!

.

.

Last, LH;OSH

.

.

Hal pertama yang Sehun lakukan padaku setelah dia kembali adalah, memarahiku; apalagi memang? Mengapa aku tidak memberitahunya tentang kondisiku beberapa waktu lalu, mengapa aku terus mengatakan aku baik-baik saja selama dia pergi selama sebelas hari.

Wajahnya kemerahan dan aura di sekelilingnya kurang nyaman. Harusnya dia sadar, itulah yang menjadi alasan terbesarku.

"Aku tidak mau membuatmu khawatir. Kau punya masalah di sana dan aku tidak ingin menjadi beban pikiran."

Raut wajahnya melunak, tiba-tiba aku seperti melihat anak kecil yang habis marajuk. Aku merangsek masuk ke pelukannya, mencoba mengatakan bahwa aku sudah baik-baik saja.

Sehun mendesah, balas memelukku erat dan aku lega dia mengerti. "Terimakasih kau telah baik-baik saja, maafkan aku tidak ada di sampingmu saat mereka menghinamu."

Aku terkesiap; aku menceritakan semua hal yang terjadi selama dia pergi, tapi tidak dengan detail itu. Aku kembali merasa menyedihkan. "Darimana kau tahu hal itu? Baekhyun? Kyungsoo?"

Sehun mengusap punggungku lembut. "Temanku yang memberitahu, tadi pagi dia bilang bahwa mereka menghinamu dan kau melempar sesuatu dengan wajah menangis."

"Jadilah aku bahan gosip terhangat. Kenapa aku baru menyadarinya." Aku mendesah dan dia terkekeh, sedikit terhibur.

"Bukan begitu, semua orang tahu betapa penggosipnya mereka—dan sejujurnya aku heran, kenapa hanya melemparnya? Tidak melakukan hal lain?" Aku terkekeh mendengarnya. "Jadi, setelah kuliah pertama selesai aku menemui mereka; gadis itu, menegurnya sedikit. Dan wajahnya yah, tak usah aku jelaskan."

Aku mencebik. "Jadi kau malah menemui gadis lain lebih dulu daripada kekasihmu? Aku baru tahu kau sejahat ini."

Sehun tertawa. "Aku baru tahu kau bisa semenggemaskan ini."

"Hngh, lalu?"

"Kalau saja kita tidak masih di kelas mungkin aku akan menciummu."

"Hih." Tapi aku tahu Sehun bisa melihat semu merah muda bertabur di pipiku.

Kami masih di salah satu kelas, menghabiskan waktu untuk berbincang setelah mata kuliah selesai.

"Jadi, kau sudah baik-baik saja?"

"Eum." Aku mengangguk. "Cuma rasa perih di tenggorokan saja yang masih sedikit mengganggu, selebihnya aku baik-baik saja. Sekilas aku masih bisa melihat dan merasakan keberadaan mereka, tapi kini aku lebih tenang dan terkendali. Tidak lagi panik dan aku merasa lebih nyaman."

"Tentu kau nyaman, kau tidak berhenti mengusak wajahmu ke dadaku dan membuatku panas dingin memalukan seperti ini."

Aku tertawa, tapi tak berhenti pun menjauhkan diri. Aku sangat merindukan Sehun. Aku memejamkan mata, menikmati aroma tubuhnya yang menyenangkan; kayu-kayuan yang hangat, sedikit sitrus dan semerbak aroma segar lain yang tak bisa aku jelaskan. Dia terasa nyaman dan menyenangkan. Aku sangat beruntung memilikinya di sampingku.

Dan sedikit banyak, hal itu juga membuatku bertanya; apa aku memang pantas bersamanya? Perasaan insekur membuatku sedikit goyah dan khawatir.

Tanpa sadar aku mengeratkan pelukan. Dan Sehun menyadarinya.

"Ada apa?"

"Aku hanya bertanya pada diriku sendiri; apa aku pantas bersamamu? Yah, aku sedikit memikirkan kalimat mereka."

"Luhan," Aku menyesal saat suaranya jatuh, terdengar lelah dan sedikit marah. "Aku bersamamu karena aku mencintaimu, bukan karena kau pantas atau tidak pantas, begitupun kau. Bagiku kau sudah melebihi harapanku. Terlepas dari pertengkaran kita, aku tidak bisa membayangkan kita berpisah. Jangan mengatakan hal bodoh lagi atau aku akan benar-benar marah."

Aku lega mendengarnya, sekaligus bahagia dan bersemu di saat yang sama. Aku mendesah, menghirup aromanya lebih dalam. Aku tahu tindakanku sudah agak terlalu jauh, tapi sepertinya Sehun tidak keberatan. Karena dia juga melakukan hal yang sama.

Sehun menghirup aroma rambutku—dan betapa leganya aku bahwa tadi pagi aku mencuci rambutku. Sepertinya dia mulai menyadari ada yang berbeda.

"Stroberi dan vanilla? Aku tak tahu aromanya akan seenak ini di rambutmu." Yah, aku bersyukur Sehun tidak memberi tanggapan betapa kekanakannya aroma shampoo yang aku gunakan.

Aku menggigit bibir saat ia menggumam di antara helai rambut; membuatku merinding saat nafasnya menyentuh kulit kepalaku.

Ini terasa…

sedikit berbahaya.

"A-aku suka aromanya, kau suka?"

Sehun menghirup lebih dalam dan pelukannya mengerat; o-oh, tidak. Ini akan benar-benar berbahaya. Aku mencoba memberi jarak tapi itu sama sekali tidak berarti.

"Sehun? U-uh…"

"Hmm? Aku suka."

Tuhan, mengapa suaranya jatuh seberat itu? Ini tidak baik untuk jantungku, sangat tidak baik.

Lalu tiba-tiba Sehun bergerak, wajahnya menjadi begitu dekat dengan sisi samping wajahku. Dia mencium pipiku dengan sangat cepat, mengambang dan aku mulai merasakan lututku leleh. Sehun tidak pernah melakukan ini kepadaku!

"S-sehun… U-uh, lepas sebentar?"

"Kenapa lepas sebentar?" Suara serak rendah itu terdengar begitu dekat dengan telinga, hembusan nafasnya membuatku gemetar dan campur aduk.

Aku benar-benar dibuat panas dingin.

"Hmm?"

"Sehun…" Dan kenapa suaraku jadi terdengar seperti mencicit seperti itu? Astaga, Sehun membuatku berdebar. "Lepas sebentar!" Aku berucap tertahan.

Lalu Sehun tertawa, terdengar sangat terhibur. Lelaki ini memelukku sangat erat, sampai membuat ujung kakiku terangkat beberapa senti dari lantai. Dia mencium puncak kepalaku dengan gemas.

"Ahaha… Luhan, astaga, kamu sangat menggemaskan."

Aku dibuat bingung; kenapa dia tertawa?

Sehun membuat jarak meski lengannya masih melingkupi punggung atasku, lalu mengecupku cepat sebelum menggigit bibirnya sendiri dengan wajah begitu terhibur.

Aku menyadari sesuatu bersamaan dengan semu panas yang merambati wajah. "Apa kau sedang mengerjaiku?"

Sehun tertawa lagi dan sial! Dia terlihat begitu tampan.

"Setengahnya aku hanya ingin membalasmu," Sehun menyeringai. "dan setengahnya lagi aku serius." Lanjutnya sembari berbisik di depan wajahku.

Aku memukul dadanya, kesal bukan main dan aku mulai merasa perutku tergelitik.

"Luhan, kuliahmu sudah selesai, kan?"

Aku hanya mencebik dan memalingkan pandang, pertanyaan retoris itu tak perlu kujawab. Aku tahu dia hanya basa-basi.

"Aku ingin makan siang, yah meski sangat telat karena ini sudah sore. Aku belum makan tadi."

Aku mengernyit. "Kau mengajakku kencan?"

Aku bingung ketika dia tersenyum penuh arti.

.

.

.

Aku tak tahu apa yang Sehun pikirkan, tapi aku begitu malu dan bersemu ketika Sehun berkata ingin mencoba mencicipi masakanku. Sehun membawaku ke swalayan dan membuatku malu (lagi!) saat dia yang mendorong troli bertanya aku ingin membuat apa. Berkata dia akan membiarkanku membeli apapun yang aku mau.

Beberapa ibu-ibu yang ada di section sayuran memandang kami dengan tatapan fuwa-fuwa dan bisikan gemas.

"Wah, pasangan muda ya?"

Aku nyaris berasap karena pipiku panas di saat Sehun malah tersenyum lebar dan merangkul pinggangku erat-erat, tersenyum penuh arti.

"Sehun berhenti menatapku dengan senyum aneh!"

Aku sibuk meniriskan spageti di dapur flat milik Sehun dan lelaki menyebalkan itu sibuk memandangiku dari pantry dengan senyum menggelikan. Astaga, aku tahu dia tengah menopang dagu dan tersenyum-senyum seperti idiot.

Yah, Luhan, dia idiot kesayanganmu.

"Sudah, nanti sausmu gosong, lho."

Aku langsung teringat dengan bawang putih dan Bombay yang aku tumis di kompor sebelah. Aku menggerutu dengan wajah panas.

"Setidaknya bantu aku!" Aku sebal diperhatikan seperti itu, membuatku berdebar dan tidak bisa konsentrasi mengerjakan sesuatu.

Sehun tertawa, ia mendekat dan menggantikanku menumis; membiarkanku kembali dengan spageti dan kornet kaleng.

Sehun membantuku mengaduk spageti saat sausnya selesai, dia hanya tersenyum canggung saat aku tanya mengapa dia ingin aku memasak untuknya.

"Aku hanya ingin melihatmu lebih lama."

Aku berdebar, alasan yang dikatakan dengan wajah malu itu membuatku merasakan sesuatu.

Kami menghabiskan spageti yang ternyata lumayan pedas—salahkan Sehun yang tidak bisa membedakan bubuk paprika dengan cabai—sambil menonton film komedi romantis koleksi Sehun di laptopnya.

"Setahuku kau lebih suka film action dan detektif?"

Sehun menelan spageti terakhirnya dan menoleh kepadaku. "Karena setahuku kau suka film romansa? Lagipula rasanya aneh jika sepasang kekasih menonton film action, koleksiku sedikit intens dan yah, banyak darah."

"Kita sepasang kekasih, ya?" Aku terhibur ketika dia nyaris tersedak. "Aku tidak keberatan selama itu bersamamu."

Sehun tergagap, bersemu tipis dan aku senang bisa melihat ekspresi langka itu.

Kami mengganti film tepat setelah selesai mengurusi perut lapar. Berganti dengan film action yang cukup menegangkan; aku menikmatinya dengan cukup baik. Walau tak sebaik aku menikmati pelukan Sehun yang menjadi sandaranku.

Aku duduk tanpa jarak dengannya, menyandar nyaman ke dadanya. Oh, baiklah, abaikan betapa manjanya aku sekarang.

Aku mendapatkan potongan salad buah buatan Sehun di pangkuanku, sibuk mengunyahnya dan sesekali menyuapkan pada Sehun.

"Sehun kau ingin apa?"

"Sepotong apel, Sayang. Ah, coba lihat, Lu, ternyata antagonisnya adalah kakak dari si Heroine, klise seka—hei, kau mengenai hidungku, Luhan."

Aku mendongak dan nyaris tertawa melihat kilatan basah di ujung hidung mancung itu. Sepertinya aku tidak berhati-hati saat menyuapkan apelku.

Sehun memegang garpu dan mengarahkannya sendiri, kilatan jenaka bermain di matanya saat mengunyah. Ah, apakah akan baik-baik saja jika aku sedikit menjahili Sehun?

Aku menyingkirkan salad, bangkit dan menghadapnya dengan seulas senyum kecil. Aku yakin Sehun bisa melihat pipiku bersemu.

Aku mendapati diriku sendiri begitu ringan, rasa hangat melingkupi tubuhku dan aku sangat bahagia bisa melihat Sehun dengan jarak sedekat ini. Sehun menatapku bingung dengan cara yang menggemaskan. Apakah dia orang yang berhubungan dengan teman masa kecilku dulu atau apapun itu. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, bahwa sejak awal aku memandang mereka dengan cara berbeda. Aku mencintainya, dan aku tahu.

Aku mengecup hidungnya, merasakan sedikit sapuan rasa manis apel di belah bibirku. Aku merasa berdebar sendiri, tapi ini sepadan dengan raut terkejut yang begitu priceless.

"Luhan?"

"Hmm? Apa?" Aku mendekat, mengalungkan kedua tanganku ke lehernya dan terkikik saat Sehun menahan nafas. Aih, Sehun sangat tampan.

Satu helaan nafas darinya dan aku berjuang keras mengulum bibirku agar tidak tersenyum. "Ada apa?"

"Aku yang salah mengartikan atau kau memang ingin aku menciummu?"

Aku berdebar (lagi), tapi ini sudah kepalang basah dan aku tidak bisa mundur—aku tidak ingin mundur. "Suasana hatiku sedang sangat baik saat ini. Aku merindukanmu setelah sekian lama. Jadi?"

Sehun terkekeh. Sorot matanya berubah.

"Naik, lehermu akan sakit jika tetap di posisi ini."

Aku memekik kecil saat Sehun mengangkat tubuhku, menyamankan diriku ke atas pangkuannya. Ini adalah kali pertama aku lebih tinggi dari Sehun, sekarang aku tahu mengapa Sehun sangat suka membuatku mendongak saat kami berbicara dalam jarak dekat.

Aku menemukan diriku kembali jatuh cinta. Seluruh fitur wajahnya terlihat sangat jelas, dan begitu dekat. Aku memejamkan mata saat Sehun menyelipkan anak rambut yang menjuntai ke belakang telinga.

Dia menciumku, lembut tanpa tuntutan. Terasa begitu ringan dan hangat sampai membuatku meleleh. Jantungku berdebar lebih dari sebelumnya ketika Sehun menarik bibir bawahku, menggigitnya main-main dan memberi sesapan lembut. Demi Tuhan aku nyaris mengerang.

Tautan itu terlepas sejenak. Nafas kami saling berbenturan. Aku merasa begitu hangat dan dekat. Kedua tangan Sehun yang memeluk pinggangku mengerat, membuatku lebih dekat dan aku setengah tak peraya akan lenguhan kecil yang meluncur halus dari bibirku.

Aku memberanikan diri mengecupnya lebih dulu, kecupan seringan kepakan sayap kupu-kupu. Hanya singkat, tapi berkali-kali hingga membuat Sehun mengejar bibirku.

Aku terkikik geli dan dia mengerang.

"Luhan, jangan menggodaku." Sehun menarikku mendekat—dan Tuhan, tubuh kami benar-benar melekat tanpa sekat.

Sehun menciumku lagi, tak terlalu lama tapi masih sama berkesan seperti sebelumnya.

"Papamu akan menghajarku jika tahu aku memangku anak gadisnya seperti ini."

"Daan?" Aku menyatukan dahi kami.

Sehun menciumku lagi. "Dan jangan sampai beliau tahu, jika kau tidak ingin melihat kekasihmu yang tampan ini babak belur."

Aku tertawa lembut. Sehun kembali mendekatkan wajahnya, tapi aku menghindar. Sehun membuka pejaman mata dan aku bisa melihat tatapannya yang mulai berkabut.

"Kenapa menolak?

"Siapa yang menolak? Tidak kok."

Aku mencium keningnya lama; pelukan di pinggangku makin erat. Lalu aku bergantian mengecup kelopak matanya, lalu ke belah pipi yang tirus—aku berharap dia lebih banyak makan setelah ini.

"Luhan…" Suaranya terdengar rendah saat aku menyusuri tulang rahang yang sedikit kesat karena bekas bercukur, tapi sama sekali bukan masalah besar, aku menyukainya. Aku mencium sudut bibirnya cukup lama.

"Luhan, kau tahu ini bisa menjadi lebih berbahaya, kan?"

Aku hanya tertawa tanpa suara.

"Aku tak tahu apa yang terjadi padamu tapi baiklah; kita hanya berdua di sini dan aku tak akan menahan diri." Sehun balik menciumi wajahku, rasa geli menyebar dan aku merasakan sengatan listrik voltase rendah di sekujur tubuhku.

Saat dia nyaris mencapai bagian leher di bawah daun telinga aku menghentikannya. Baiklah, Luhan, kau salah langkah karena Sehun tidak sepenuhnya lelaki baik-baik. Dan tiap laki-laki punya sisi bukan lelaki baik-baik yang ada jauh di dalam.

"Sehun… A-akh, Sehun, bukan hanya kita berdua yang ada di sini." Seketika Sehun berhenti. Ia sedikit kaku saat menatapku.

"Ada berapa di sini? Banyak? Apakah berpotensi untuk mengganggu? Atau itu hanya akal-akalanmu saja agar aku berhenti? Tidak adil sekali, padahal kau yang mulai duluan." Sehun mengeryit tak suka. Astaga, sisi lain Sehun yang satu ini membuatku tak tahan.

"Aku tidak bohong, kok." Aku mencuri satu kecupan. "Aku tak tahu, aku hanya merasakan satu, aku merasa tak akan mengganggu. Ingat perempuan berpakaian hijau muda dan putih yang kainnya menjuntai berlapis yang pernah aku ceritakan?" Dia mengangguk. Aku menahan fakta bahwa aku sebenarnya merasa diawasi; bukan dalam konteks negatif, tapi lebih seperti tatapan Mama saat melihat aku diantar teman laki-lakiku pulang saat masih sekolah menengah pertama dulu. Aku tersenyum tanpa sadar.

"Dan…" Aku sangat menikmati ekspresi tidak sabar Sehun. Aku berbisik di telinganya. "aku tidak ingin kau berhenti, kok."

Tangan Sehun berpindah memeluk punggungku, menciumku lebih dalam dan lebih intens dibanding sebelumnya. Sehun melingkupi tubuhku dengan pelukan erat, aku yakin Sehun tidak akan melepaskanku barang sebentar.

Atau bahkan, mungkin aku baru akan keluar dari sini esok hari.

.

.

.

Aku terbangun saat jam menunjukkan tengah malam. Kami menghabiskan banyak waktu untuk bermesraan dan bercumbu, tapi Sehun tidak melakukan hal yang lebih jauh. Dia mampu menahan diri dan aku tak tahu lagi akan berapa kali Sehun membuatku kembali jatuh cinta.

Sehun tidak membiarkan aku pulang, dia menahanku dengan berbagai alasan dan aku merasa dia sangat menggemaskan. Setelah mandi (tolong jangan mempedulikan hoodie kebesaran yang aku pakai saat ini), Sehun menemaniku mengerjakan beberapa tugas. Yah, dia hanya menemani, merecokiku dengan pelukan dan kecupan mengambang di tengkuk.

Lalu tiba-tiba saja, entah mengapa aku tertidur dan terbangun di atas ranjang Sehun yang harum. Dia di sampingku, tidur dengan lelap, tangannya menjadi bantalan kepalaku, dan tak ada skinship lain. Dia bahkan memberi jarak. Aku tersenyum. Dia menghormatiku.

Aku menyentuh wajahnya dengan ujung jari, menyusurinya perlahan. Sampai dia merasa terganggu dan membuka mata perlahan. Dia masih terlihat sangat mengantuk, dan usahanya untuk membuka mata begitu menggemaskan.

"Kau terbangun? Maaf."

Sehun menggeleng. "Tak apa. Kenapa kau sendiri terbangun? Mimpi buruk?"

Aku menggeleng. Aku jarang mendapat mimpi buruk, hanya satu mimpi abstrak yang masih mengisi bunga tidurku. "Bukan mimpi buruk, aku tak tahu seperti apa jelasnya. Tapi setiap aku terbangun, aku selalu merasakan diriku bertanya-tanya; kenapa aku harus mengalami semua ini?" kataku pada akhirnya.

Sehun benar-benar kehilangan rasa kantuknya, menatapku penuh perhatian. Dan tiba-tiba saja aku merasakan mataku memanas.

"Hei, Luhan?" Dia khawatir, mendekat dan mengecup keningku.

"Aku baik, aku baik-baik saja. Hanya saja, tiga tahun aku mendapatkan hidup yang tenang tanpa terbayang bisa melihat mereka meski samar. Tapi kemudian hal itu kembali dan hal buruk datang satu demi satu. Aku benar-benar tak mengerti, kedua orangtuaku antara tahu dan tidak; mereka bungkam, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Aku ingin percaya, tapi aku pun masih takut jika suatu saat hal ini terulang lagi. Hal itu mungkin bukan hal baru, sudah sejak lahir aku dihantui hal-hal seperti itu; tapi aku tak pernah terbiasa. Aku masih takut."

Aku berusaha tersenyum.

Tatapan mata Sehun begitu teduh dan menenangkan. "Ada aku, kau tenang saja. Ada banyak orang yang sayang padamu, mereka ada di sekelilingmu. Dan kurasa, perempuan berpakaian putih-hijau itu tak akan membiarkanmu merasakan hal yang sama, kurasa?"

Ketika itu, aku merasakan hawa sejuk menenangkan melingkupiku. Aku mencoba mengedarkan pandang, mencari siluet perempuan itu. Tapi aku tak lagi bisa melihatnya meski samar seperti sebelumnya, tapi keberadaannya masih sangat terasa. Dan aku bersyukur, meskipun aku tidak sepenuhnya mengerti.

Sehun menangkup wajahku dengan satu telapak tangan, mendekatkan wajahnya.

"Aku yakin kau akan baik-baik saja setelah ini, Luhan."

"Terimakasih, Sehun."

"Jadi, apa aku boleh memelukmu?"

Aku terkekeh, bergerak masuk ke pelukannya. "Eum, hanya kali ini."

"Oke, kita akan tidur sampai malam kembali datang besok."

Aku tertawa, memilih memejamkan mata karena kantuk mulai kembali datang. Saat kesadaranku di ambang batas, aku mendengar sebuah suara yang terasa asing dan familiar sekaligus.

"Aku bersamamu, Luhan…"

Seperti aku yang membiarkan diriku kembali terbuai alam mimpi, aku pun membiarkan semuanya masih seperti sebelumnya. Samar, tak terjelaskan, tapi terasa begitu dekat.

.

.

.

.

.

.

Saya hngh sendiri waktu mengetik cuddle scene. Tolong, saya nggak kuat. *ugh Yah, ini cukup fluff, kan? Sudah, bilang saja iya. *apaini*maafkansaya

Saya tidak bisa menjelaskan dengan gamblang soal alasan mengapa 'Luhan' mengalami semua itu, karena buat saya sendiri dan beberapa orang yang kisahnya masuk ke sini; semuanya masih sangat kabur. Chapter kemarin itu benar; ruqyah. Dan itu seriusan sakitnya, nggak main-main. Tapi entah bagi yang lain. Apa yang saya ketik kemarin mungkin hanya menjelaskan sampai setengahnya. :")

Terimakasih untuk yang membaca, memfavoritkan, mengikuti, bahkan sampai mengetik review untuk "Phosphorescent" ini. ^^ Saya senang, ternyata di saat Fic HunHan makin sepi masih ada yang melirik Fic saya yang abal ini. Maafkan update yang tidak menentu karena real life yang menuntut sangat banyak.

Jan tagih VVL dulu, saya pusing sama itu. :"

.

.

.

Phosphorescent Officially END

.

.

.

ANNE, 2018-11-20