Tittle : THANK YOU, AND I LOVE YOU
Genre : Romance, Friendship, Little hurt
Cast : Lu Han, Se Hun, EXO's member, Tang Min SNH48, ETC
Warn : Shounen-ai, Boys love, typo, etc
GEKIKARA98
Present
[::THANK YOU, AND I LOVE YOU::]
Chapter 10
AUTHOR POV
Luhan, sosok pemuda culun yang berani sekali mengagumi seorang Tangmin. Gadis cantik nan mungil idaman setiap orang di sekolah maupun diluar sekolah. Gadis yang sekarang telah menjadi seorang tunangan dari Kris, ketua dari geng mengerikan bernama Wolf. Dan luhan tau sendiri akan hal itu.
Setiap hari hanya melamunkan dirinya sendiri yang tampak begitu jelek. Selalu ia berpikir, apakah ia tak punya teman karena tampangnya yang jelek dan gayanya yang culun. Tapi luhan langsung tidak membenarkan tebakannya karena mana mungkin ia tak punya teman karena gayanya yang buruk. Sehun saja mau berteman dengannya. Bahkan kalau dipikir-pikir lagi, sehun itu sangatlah perfect. Wajah tampan, badan tinggi, hebat dalam berkelahi, dan sekarang makin terkenal karena dia berada di kelas unggulan. Kenapa sehun bisa begitu hebat…
"Lu?"
Luhan tersadar dari lamunannya ketika mendengar seseorang menepuk bahu seraya memanggil namanya. Dia menoleh dan tersenyum mendapati sosok sehun yang sedang berdiri dibelakangnya. Luhan sedikit membalikkan badannya.
"Kau baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan sehun, luhan hanya mengangguk dengan senyuman terukir dibibirnya. Dia selalu suka saat sehun memanggil dan menanyakan keadaannya, seperti sedang mengkhawatirkannya. Entah kenapa luhan juga sedikit berharap bahwa sehun memang sedang mengkhawatirkannya.
"Kau jangan sering melamun, itu membuatmu terlihat jelek? Kau tau?"
"Eh?"
Luhan sedikit kaget. Bukankah tanpa melamun saja dirinya sudah terlihat jelek. Kenapa sehun berkata-kata seolah-olah dirinya tak terlihat jelek jika tidak melamun. Yeah, lagi-lagi luhan berharap itu benar-benar jadi kenyataan.
Mengerti dengan raut wajah luhan yang terlihat seperti mempertanyakan sesuatu, sehun langsung berdehem. Harusnya ia sadar dengan apa yang dia katakana barusan.
"Y-yeah, setidaknya kau terlihat lebih baik tidak melamun. Melamun membuatmu terlihat seperti orang bodoh…"
"M-mwo!"
Dahi luhan mengerut. Memanglah jawaban sehun barusan membenarkan bahwa luhan terlihat lebih baik tidak melamun, tapi apa-apaan? Kenapa harus dikatai seperti orang bodoh sih.
"Sudahlah! Ini sudah jam berapa? Kau harus berangkat ke tempat kerjamu kan? Atau mau aku antar?"
"Ck! Tidak usah!"
Merasa kesal, luhan menggendong tas selempangnya. Berjalan duluan meninggalkan sehun yang tadi mengatainya bodoh.
"Ya! Yaa! Kau jangan ngambek begitu? Aissh! Hey!"
. . . .
. . . .
. . . .
Yah, hampir 3 hari berturut-turut luhan menginap di apartemen sehun. Tentu saja luhan mau-mau saja karena ia merasa lebih nyaman di apartemen sehun. Disana ada ranjang besar nan empuk, tentunya ia harus berbagi dengan sehun. Tapi tetap saja terasa nyaman baginya. Kemudian jangan lupakan televisi berukuran 42 inch yang membuat luhan merasa sedang menonton bioskop rumah. Kamar mandi yang begitu mewah, terdapat bath up dan dan shower yang membuat siapapun betah berlama-lama dikamar mandi itu. Luhan juga sangat suka dapur apartemen sehun yang semua peralatannya sangatlah mewah. Luhan juga sangat betah berlama-lama di pantry nya. Luhan merasakan bahwa apartemen sehun seperti rumah kedua setelah rumah mungilnya.
Namun semua hal itu bukan berarti membuat luhan senang berteman dengan sehun. Luhan senang berteman dengan sehun karena sehun memanglah sangat baik.
Satu hal yang membuat luhan selalu bingung. Dia tidak pernah menemukan suatu barang atau benda yang berbau tentang The Wolf. Membuat luhan sedikit curiga, apakah ada masalah yang begitu besar hingga sehun sama sekali tidak menyimpan satu kenangan pun tentang kawan-kawan lamanya itu. Hal inilah yang saat ini berputar-putar dikepala luhan saat ia diantar oleh sehun ke restaurant tempat ia bekerja. Walau sampai mobil yang mereka kendarai berhenti, luhan masih tetap melamun.
"Sudah kubilang kan? Kau terlihat sangat jelek jika terus melamun…"
Luhan tersadar dari lamunannya, dia hanya terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa sangat gatal itu.
"Ya sudah, sana cepat masuk sebelum kau terlambat bekerja…"
"N-ne, gomawo…"
Luhan baru saja hendak akan turun setelah membuka pintu mobil. Tapi sebuah tangan menggenggam erat pergelangan tangannya.
Jantung luhan berdetak tak karuan. Sehun menatapnya tanpa berkedip sekali pun. Membuat wajah luhan merona seketika.
"K-kau, pulang malam kan? Apa aku harus menjemputmu?"
"Ee—eh? Ti—i"
"B-bukan, begini, aku harus menjemputmu jam berapa? Ng, aku tidak mau kau pulang sendirian… y-yeah, kau tau kan kalau banyak orang jahat diluaran sana?"
Luhan tertegun mendengar perkataan sehun. Apa sehun mencemaskannya?
Demi Tuhan, wajah luhan memerah mendengarnya. Ini memang bukan sebuah gombalan, apalagi mereka tidak memeliki hubungan yang lebih. Tapi sungguh, luhan benar-benar terkejut dan wajahnya merona mendengar sehun mencemaskannya.
"Jam 10 malam…"
"Ehm, baik. Sebelum jam 10 aku sudah akan disini untuk menunggumu…"
Seketika sehun melepas genggaman tangannya di lengan luhan kemudian menutup pintu yang baru saja luhan buka. Secepat kilat sehun mengendarai mobilnya, meninggalkan luhan yang mematung tepat didepan restaurant. Yah, lebih baik kabur sekarang dari pada harus terus berdebar-debar akan apa yang dia perbuat sendiri pada luhan.
Sial! Sial! Apa yang sudah aku lakukan! Bodoh!
. . . .
"Luhan-hyung? Sedang apa disini? 5 menit lagi shift kerjamu dimulai bukan? Ayo masuk?"
"Ah, n-ne…"
Barusan luhan disadarkan oleh salah satu karyawan di restaurant tempat ia bekerja. Namanya Taemin, salah satu buttler di restaurant. Luhan memang tidak begitu dekat dengannya, tapi setidaknya mereka saling kenal. Luhan juga tidak mematenkan Taemin sebagai teman, karena mereka jarang bicara jika tidak ada pesanan datang.
Berbeda dengan hari ini, tiba-tiba Taemin berbicara banyak hal dengan luhan. Katanya restaurant ini sebentar lagi juga akan didatangi tamu istimewa. Karena itulah Taemin tidak terlalu sibuk dan membantu luhan di dapur. Yah, hanya sekedar memotong sayuran dan buah saja sudah cukup membantu bagi luhan. Memang tidak didapur restaurant itu hanya ada luhan sebagai koki, tapi tentu saja koki yang lain juga sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Hyung, kudengar dari temanku. Yang datang adalah orang yang sangat kaya raya…"
"Hmm, benarkah?"
Sambil mengerjakan masakannya, luhan berusaha menjawab pembicaraan taemin. Ia tidak akan menolak jika ada orang yang ingin yang berbicara.
"Dan kau tau, temanku itu adalah sahabat dekat dari tamu kita ini. Tentunya temanku itu juga cukup kaya…"
"Haha, jadi kau bermaksud yang paling beruntung dari hubungan pertemanan ini adalah kau?"
Taemin mengangguk membenarkan tebakan luhan.
"Temankulah yang merekomendasikan bahwa masakan di restaurant ini adalah yang terbaik. Terutama masakanmu, hyung!" puji taemin.
"Kau bisa saja, aku hanya bekerja disini…"
"Sungguh, kelimanya menyukai masakanmu! Dan juga tunangan dari satu diantara mereka juga mengatakan masakanmu enak!"
Luhan mengernyit. Kelima orang? Tunangan? Familiar sekali cerita dan tokoh-tokoh ini bagi luhan.
"Kapan mereka mengatakan masakanku enak? Dan, bagaimana kau tau?" tanya luhan. Ia merasa tertarik dengan pembicaraan ini. dan tentu saja pekerjaannya sudah selesai.
"Kau ingat saat ada yang menyewa restaurant ini? saat itu ada pesta pertunangan? Sekitar 2 bulan lalu?"
Luhan mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu mungilnya. Berusaha mengingat-ingat.
"Waktu itu, aku tidak sengaja menguping pembicaraan keenam orang yang sedang makan bersama itu. Mereka memuji masakanmu yang enak. Bahkan, temanku Kai menyuruhku untuk memberimu uang tips secara pribadi. Kau masih ingat uang lembur itu sedikit banyak kan? Beberapanya itu dari Kai!"
Mata luhan langsung membulat sempurna mendengar taemin menyebutkan nama Kai. Berbagai hal berputar diotaknya. Kelima orang pria? Seorang gadis? Tunangan? Kai?
"The Wolf…"
"Benar! Itu namanya! Mereka menamai persahabatan mereka dengan nama itu! Yah! The Wolf!"
Seketika wajah cerah luhan langsung meredup. Berarti, orang yang akan datang sebentar lagi itu adalah Kris beserta kawan-kawannya. Dan tak lupa, Tangmin pastinya juga akan datang.
. . . .
. . . .
. . . .
Setelah beberapa kali dipaksa oleh manager dan juga Taemin, luhan akhirnya pasrah dan mau untuk menemui Kris dan kawan-kawan. Yeah, katanya Kris ingin memuji koki restaurant secara langsung. Tentu saja Kris belum tau kalau kokinya adalah luhan. Orang yang sebenarnya ingin Kris lenyapkan setelah sehun pergi dari The Wolf.
Semuanya sedikit tertegun melihat luhan muncul dan mendekati mereka. Luhan dengan seragam kokinya, lengkap dengan kacamata bulat yang terlihat sangat kuno bertengger indah di hidung mancung nan mungilnya.
Bahkan chanyeol sempat tersedak ketika akan memasukkan makanan yang sangat nikmat itu. Suho juga membuka kacamatanya tak percaya. Sedikit bergetar, melihat luhan baginya adalah melihat sosok sehun. Ya, karena luhan sangat dekat dengan luhan.
Dalam hati Kris sedikit mengumpat…
Sial! Jadi dia koki yang selama ini masakannya selalu kupuji, menjijikkan! Lihat saja nanti!
Namun karena tak ingin terlihat begitu angkuh dan seram dihadapan Tangmin, kris berusaha menahan nafsu menghajarnya dan memilih untuk sedikit tersenyum. Kai sampai melotot melihat kris tersenyum kearah luhan. Pikirnya kenapa kris sama sekali tak terlihat marah ataupun sejenisnya.
Sedangkan luhan sendiri?
Keringat dingin sudah mengucur deras disekujur tubuhnya. Dia seperti terperangkap disebuah sarang serigala yang siap akan menerkamnya. Luhan sudah pasrah kalau-kalau orang-orang dihadapannya ini akan menghajarnya sampai tak berbentuk lagi.
"Jadi, kau kokinya?"
Luhan membulatkan matanya tak percaya, suara kris begitu tenang dan terkesan lembut walaupun dibuat-buat. Senyum juga terkembang diwajah sangarnya. Sungguh pemandangan ini sedikit memuakkan buat Kai, Chen, dan Chanyeol tidak terkecuali Suho yang sekarang memasang wajah datarnya.
Hanya terkejut dan tak menjawab, manager sedikit menyenggol sikut luhan.
"N-ne, saya yang memasak untuk tuan. Terimakasih telah berkenan menyantap masakan saya…" ucap luhan seraya membungkukkan tubuhnya.
"Masakanmu enak sekali, kau harus kuberi hadiah untuk semua kerja kerasmu ini…" gumam kris pelan. Sebuah seringai mengerikan tercetak diwajah tampannya.
"Eoh? Ternyata kau bekerja menjadi koki disini? Tidak kusangka masakanmu ternyata enak?" celetuk Tangmin yang sejak tadi heran dan terkagum-kagum melihat luhan dengan seragam kokinya.
"N-ne…" luhan menangguk membenarkan. Sungguh, ia juga kagum melihat sosok Tangmin yang terlihat sangat cantik malam ini.
Kris mengernyit bingung, dia bingung karena sikap tangmin yang seolah-olah kenal dengan luhan. Pikiran buruk mulai terlintas dikepalanya.
"Kau mengenalinya, baby?" tanya kris. Seperti tak suka mengetahui tangmin berbicara seolah-olah kenal dengan luhan. Tangmin mengangguk seraya tersenyum, manis sekali senyumnya.
"Dia sekelas denganku. Dan beberapa hari yang lalu dia dihukum karena telah meninggalkan kelas bersama Oh Sehun. Dia dihukum bergelantung dengan kepala dibawah di tiang gawang. Aku berlari untuk mengambil bola kearahnya. Kau ingat kan kalau aku bercerita ada orang yang lucu dikelasku? Itulah Luhan! Hehe" jelas tangmin panjang lebar, diakhiri dengan tawa renyahnya.
Kris yang mendengarnya langsung melirik luhan dengan sebuah seringaian dibibirnya. Luhan terus menunduk tak berani menatap anggota The Wolf.
Yah, sepertinya ada aura mengerikan tengah terpancar disekitar restaurant ini.
'Ternyata kau ingin lebih cepat mengakhiri hidupmu, Xi Luhan…'
Tanpa luhan sadari, kris mengembarngkan seringaian yang pasti membuat bulu kuduk langsung berdiri. Seringaian itu hanya disadari oleh anggota The Wolf sendiri. Mereka saling menatap satu sama lain dan ikut menyeringai seperti yang kris lakukan. Kecuali Suho yang memasang wajah datar. Tak perlu ditanya mengapa ia berwajah seperti itu karena sebelum bergabung dengan The Wolf dia sudah memang terlihat seperti itu.
. . . .
. . . .
. . . .
Dilain tempat,
Kini sehun sedang tersenyum-senyum sendiri membayangkan sosok luhan disetiap sudut ruang apartemennya. Mulai dari pantry, disana pasti luhan akan memasak, membuat minuman, atau mencuci piring-piring maupun gelas kotor sambil mengomel dan terkadang bersenandung kecil. Mengepel bersih seluruh lantai ruangan. Membereskan sprei ranjang yang mereka pakai untuk tidur berdua. Sehun terkikik geli mengingat bahwa luhan jadi tampak seperti pembantu, atau lebih tampak seperti sosok…
"Pendamping hidup…"
Gumam sehun pelan. Sekilas ia melirik arloji yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Tersenyum melihat waktu luhan pulang masih sekitar sejam lagi. Sehun perlu bersiap-siap, sekalian dia akan mengajak luhan jalan-jalan. Yeah, tentu saja karena ini malam minggu jadi tak perlu belajar pikirnya.
Selesai dengan persiapannya, sehun mengambil kunci mobil sambil bersiul selama berjalan di koridor gedung apartemen. Memasuki lift dan menekan tombol lantai satu. Keluar dari lift, sehun berjalan menuju basement untuk ke tempat parkir mobilnya.
Tersenyum bangga melihat mobil mewahnya –Lamborgini Gallardo yang terlihat keren dengan warna perpaduan hitam dan putih. Sehun teringat jelas ketika pertama kali luhan menaiki mobilnya ini, ia sangat terkagum-kagum dengan kemewahannya. Sehun juga merasa berterimakasih kepada orang tuanya yang telah menghadiahkan mobil ini untuknya, walau pada awalnya sehun tidak begitu menyukainya. Tapi sehun langsung menyukainya karena luhan sangat senang naik mobil ini.
Sebelum benar-benar menginjak gas mobilnya, sehun melirik sekilas jam tangannya.
"Setengah jam lagi, sebaiknya aku menghadiahkannya bubble tea karena kerja kerasnya. Hahaha…" gumam sehun sampai akhirnya ia menginjak gas mobilnya dan meluncur ke jalanan meninggalkan basement.
. . . .
. . . .
Luhan masih setia berdiri dihadapan tamu yang sejak tadi memuji masakannya. Awalnya ia memang sedikit takut karena dia berada dihadapan para anggota The Wolf. Tapi rasa takutnya sedikit berkurang karena pujian-pujian para tamu yang memesan masakannya.
Suasana lumayan kondusif karena semuanya bersikap biasa saja. Seperti kris yang terus mengobrol ringan dengan tangmin mengenai makanan. Dan yang lain hanya terus menyantap makanan masing-masing sambil bergurau hal yang tidak menyindir tentang luhan.
Diluar sana, sehun sudah sampai tepat 15 menit sebelum luhan akan selesai dari pekerjaannya. Sehun memiliki sebuah rencana. Ia ingin mengagetkan luhan didalam dapur restaurant. Lagi pula, 15 menit sebelum restaurant tutup kan mana mungkin ada orang yang masih akan datang untuk pesan makanan. Jadi sehun memutuskan untuk membawa bingkisan berisi dua cup bubble tea itu dan berjalan masuk kedalam restaurant dengan wajah penuh senyum, sampai akhirnya…
Sehun mendapati luhan tengah berada dihadapan orang-orang yang tak asing baginya. Terutama orang yang sekarang tengah memeluk pinggang seorang gadis yang sehun ketahui adalah tangmin, gadis yang luhan kagumi.
Seketika waktu seperti berhenti,
Banyak pikiran berputar-putar diotak sehun…
Membayangkan bagaimana perasaan luhan saat melihat gadis yang disukainya berada pada pelukan orang lain, apalagi dihadapan Wolf. Apa yang akan Wolf lakukan pada luhan?
Kris menyeringai melihat sosok sehun sedang berdiri mematung tak jauh darinya. Seringaiannya membuat wajah sehun langsung berubah drastis. Wajah dingin itu, wajah yang pernah sehun tunjukkan padanya setahun lalu, wajah ketika Oh Sehun marah besar.
"Eoh, sehun?"
Luhan menoleh dan mendapati sosok sehun yang berdiri dengan sebuah bingkisan ditangannya. Sehun tersenyum ketika luhan sadar akan kedatangannya, terlihat senyum yang begitu dipaksakan dari bibirnya.
"Kau, tunggulah sebentar ne?" bisik luhan dari kejauhan. Memang sehun tak dapat mendengar ucapan luhan, tapi ia bisa membaca gerakan bibir luhan. Ia mengangguk kemudian duduk disebuah kursi yang kosong. Wajahnya kembali dingin. Sungguh ia sangat muak melihat gerombolan itu berada ditempat orang yang sangat berarti baginya,-luhan.
"Kami selesai dengan makanan kami. Luhan-sshi, kami berterimakasih karena masakan yang kau buat sangatlah enak. Kau memang koki yang sangat hebat…"
Prok! Prok! Prok!
Kris bertepuk tangan seraya mengucapkan pujian lagi terhadap luhan. Sungguh, itu hanyalah sebuah acting belaka.
Bajingan! Kau tak perlu sok baik seperti itu, Sial! Kenapa dia ada disini!
Sehun yang mendengar terus saja mengumpat dalam hati. Luhan yang tak tau apa-apa hanya tersipu karena pujian yang dilemparkan untuknya.
. . . .
. . . .
Semua anggota The Wolf dan tangmin sudah pergi duluan meninggalkan kris. Tentu saja kris berbohong soal dia yang akan ke toilet sebentar. Jujur, ia sangat ingin meledek sehun saat ini juga. ia benar-benar menunggu semuanya pergi. Luhan sendiri masih berganti baju diruang loker karyawan restaurant tadi sudah sehun suruh untuk ke mobil duluan. Jadi yang tersisa diruang restaurant hanyalah kris dan sehun yang saling melempar pandangan menusuk. Keduanya duduk dikursi yang jaraknya tidak begitu jauh.
"Itukah orang yang kau kejar-kejar selama ini?" tanya kris menyindir soal luhan. Sehun hanya diam tak menjawab pertanyaan kris.
"Cih, apa orang culun itu mainan baru yang menyenangkan untukmu?"
Sehun langsung melotot mendengar pertanyaan kris. Kesal karena luhan dianggap mainan oleh kris.
"Jangan kau samakan diriku denganmu, sialan…" gumam sehun sedikit tak santai.
Kris tertawa meremehkan, sehun benar-benar lucu baginya. Padahal menurut sehun hal ini tak ada lucunya sama sekali. Sehun sedikit merengut melihat kris berjalan mendekatinya. Wajahnya kembali datar dan dingin ketika menyadari kris mendekatinya seraya akan berbisik.
"Hey, bahkan aku bisa menghancurkannya dengan satu tangan saja…" gumam kris di telinga sehun.
"Bukankah sudah kukatakan padamu sebelumnya…" balas sehun, sedikit menggantungkan kalimatnya. Membuat kris menjauh sedikit dan menatap sehun dengan pertanyaan apa.
"Kalau kau berani menyentuh kulitnya barang seinci pun, akan kuhajar kau dan kujadikan makanan anjing…"
Kris tertawa lagi, seberarti itukah luhan untuk sehun?
"Aku tidak takut dengan ancaman murahan darimu, dasar gay!" kris tersenyum puas dengan ledekannya pada sehun.
"Gay, lebih baik daripada harus menjadi bajingan busuk sepertimu. Cuihh!"
Dan ludah yang sehun lemparkan tepat disebelah kaki kris mengakhiri pembicaraan panas tersebut. Sehun meninggalkan kris yang tengah emosi karena perbuatan lancang sehun barusan. Sungguh harga diri kris jatuh ketika ada seseorang yang berani meludah tepat dihadapannya, tanpa rasa takut sama sekali.
. . . . .
. . . . .
"Sehun kau lama sekali, apa yang kau lakukan di toilet selama itu hah?" kesal luhan ketika sehun memasuki mobil dan memasang setbelt nya dalam diam. Sehun hanya diam tak menjawab pertanyaan luhan. Ia hanya meyodorkan sebuah bingkisan berisi cup bubble tea. Sepertinya malam minggu ini sehun dan luhan tidak bisa jalan-jalan karena sehun terlalu mengkhawatirkan luhan. Dia hanya ingin luhan aman bersamanya di apartemen. Sehun berjanji akan menjaga luhan…
Lu, aku berjanji akan menjagamu. Aku tak akan membiarkan bajingan tengik itu menyentuhmu.
Aku janji akan selalu menjagamu, Xiao Lu….
Chapter 10
TBC
[::THANK YOU, AND I LOVE YOU::]
..
HALLO!
Cukup lama tak jumpa yah!
Akhirnya saya mulai memunculkan sedikit percekcokan antara wolf dan hunhan disini…
Semoga cukup memuaskan yah! LOL
Terimakasih yah, yang udah review di chapter kemaren…
Oh iya, saya ada project baru nih. RATED M! :D
Tapi sebelumnya mau tanya, menurut kalian LUHAN itu paling cocok jadi anak dari couple apa?
CHANBAEK? SULAY? KRISTAO? KAISOO? CHENMIN?
Tolong dijawab yah? :D
Sampai jumpa di chapter berikutnya yah?
