Chapter 10...

panjang banget ya ???

kok gw mesti bilang gitu yach ?

Ya... oke, lanjuttt....

Gin Ichimaru ???

Kalau saja... kalau saja aku tau apa yang terjadi padamu selama ini...

Aku mencoba memahami perasaanmu yang sesungguhnya... Tapi kau terlalu sulit dimengerti. Akupun tak tau... aku membencimu, atau aku membenci diriku sendiri yang telah membencimu...

Rangiku merasa terganggu dengan kata kata itu. Kata kata itu datang dari hatinya sendiri, tapi Rangiku merasa kata kata itu datang jauh mengema dari dasar kegelapan...

"hhh...hhh... " Rangiku merasa nafasnya sesak. Apa ini... pikirnya agak kaget. Terasa ada kelembutan menjalari setiap urat tubuhnya. Mata Rangiku terlalu berat untuk dibuka. Rangiku mencoba mengingat ingat apa yang terjadi padanya sebelum ini.

Aku dan Kira pergi ke rumah Gin... ya... lalu Kira membawaku ke kamar yang dipenuhi buku buku itu... ya... lalu... Kenapa sekarang...

Rangiku merasa diselimuti kehangatan yang sangat hangat. Terasa ada wangi ganjil yang merasuk hidungnya.

Mungkin tentang Hisagi, tentang Fuyu no Hanabi... dan tentang buku buku itu... hanya mimpi... batin Rangiku, sekarang aku berada di tempat tidurku di apartemen... ya... mungkin semua itu hanya mimpi... Ya... hanya mimpi... aku terlalu lelah sampai sampai memimpikan itu semua...

"Rangiku, kamu kenapa ?, " Rangiku mendengar suara yang terasa tidak asing di telinganya. Agak terkejut, dia mencoba membuka matanya. Tapi yang terlihat hanya kegelapan.

Ah... iya... aku berada di apartemenku... aku hanya berhalusinasi... sampai sampai mendengar suara...

Rangiku terlonjak mendadak.

"GIN ?!, " pekiknya.

Mata Rangiku belum bisa terbiasa dengan kegelapan ini. Kepalanya terasa berat. Perlahan ia menaruh lagi kepalanya diatas bantal.

"Biarkan aku istirahat sebentar... " desisnya, entah pada siapa. Rangiku merasa ada seseorang yang menyelimutinya. Begitu... hangat...

Apa yang terjadi padaku... tentang Kira dan semua yang kulalui sebelum ini... bukan mimpi... bukan... lalu kalau itu semua bukan mimpi... aku... aku ada dimana... benarkah yang tadi itu suara Gin ?

Kepala Rangiku masih terasa sakit. Entah dari mana, ada sepasang tangan yang tiba tiba memeluk tubuh Rangiku. Rangiku kaget. Ada desahan nafas tepat di telinganya.

Rangiku hampir saja berbalik menghantam orang itu, jika saja dia tidak melihat sedikit cahaya dari langit yang mulai terang yang muncul dari sebuah celah ruangan itu, memantul pada sesuatu yang berwarna abu abu keperak perakan.

Rangiku menahan tanganya. Wangi yang agak lain itu menusuk hidungnya lagi. Wangi yang sangat lembut. Dan tahulah Rangiku bahwa ia tidak sedang bermimpi.

"Gin... " desisnya lirih, mencoba memastikan.

"Rangiku... kamu kenapa... " suara itu menggema.

DEG!

Jantung Rangiku berdetak lebih keras daripada yang tadi.

Perasaan ini...

"Aku tanya, kamu kenapa... " suara itu terdengar lagi.

Langit mulai memucat sersapu semburat keemasan cahaya matahari. Samar samar Rangiku bisa melihat sebentuk wajah.

"Gin... " desisnya. Yakin. Rangiku yakin bahwa yang ada di hadapanya itu adalah lelaki yang dicarinya selama ini. Laki laki yang telah mengotorinya dengan nafsu. Laki laki yang telah menjejalkan semua penderitaan wanita di tenggorokanya. Senyumnya...

"Kamu aneh... kenapa diam saja, Rangiku ?, " kata Gin. Entah karena merasa terguncang atau kaget, wajah Rangiku pucat pasi. Mulutnya terkunci rapat. Matanya menatap nanar ke arah sosok itu. Ini... dia sosok yang selama ini dicintai Rangiku...

"Aku... " kata Rangiku bergetar, "Aku mimpi apa... "

"kamu tidak mimpi. Aku menemukan mu ketiduran di ruang tamu, makanya aku bawa kamu... "

Bruakk !!!

Rangiku melayangkan kepalan tanganya tepat ke pelipis Gin.

"Argh !, " pekiknya.

"Aku... aku... " kata kata Rangiku tertahan.

"AKU HAMIL DAN ANAKKU LAHIR TANPA AYAH !!! AKU DAN ANAKKU HARUS MENAGGUNG MALU KARENA TERNYATA LAKI LAKI YANG HARUSNYA MENJADI AYAHNYA TERNYATA TAK LEBIH DARI PECUNDANG !!! AKU MENCARIMU SAMPAI SINI, DAN KETIKA AKU BANGUN, AKU SUDAH ADA DI RANJANG YANG SAMA DENGANMU !!! APA SEKARANG AKU TAK PANTAS JIKA MARAH !!! AKU... "

Teriakan Rangiku terhenti mendadak. Tenggorokannya tercekat. Pergelangan tanganya ditahan Gin. Wajah berbingkai rambut keperakan itu akhirnya bisa terlihat jelas seiring dengan naiknya matahari ke langit.

"Kau pantas marah... " kata Gin, terdengar tulus.

"Aku... aku... aku takut... " desis Rangiku.

"Rangiku, kamu demam, badanmu panas sekali tadi malam, sebaiknya tidurlah lagi, " kata Gin. Makhluk di hadapan Rangiku ini tersenyum ke arahnya. Rangiku tertegun.

Jangan ya Tuhan... jangan biarkan ini terjadi dua kali...

"Maafkan aku, tapi Kira sudah menceritakan semuanya. Sebaiknya jangan memaksakan diri untuk bangun, " kata Gin lagi.

Rangiku berbaring, tapi mata keemasanya tak lepas dari wajah Gin.

"Kenapa kau berkata seperti itu ?, " katanya pelan, "Ini pertemuan pertama kita setelah sekian lama... kenapa kau malah bertingkah seolah olah tak ada apa apa diantara kita,"

"apa maksudmu ?, " Gin mengerutkan keningnya.

"Aku tidak tau harus mengintrogasimu dari mana... " kata Rangiku

"Tidak masalah... anggap saja aku berhutang penjelasan padamu, Rangiku, " kata Gin. Kata kata yang membuat Rangiku seakan tak percaya.

"Penjelasan yang mana ?, " Tanya Rangiku.

"Yang manapun itu, yang pasti itu akan membuatmu lega. Tentang apa yang terjadi padaku selama ini, dan tentang alasanku meninggalkanmu... alasan kenapa aku tak mau menemui anakku, dan alasan alasan lainya, termasuk 'pengakuan' dan 'fitnah' yang direkayasa oleh si keparat bermata empat itu !, " Kata Gin. Rangiku tertegun. Keparat bermata empat ? Aizenkah ?

"Apa yang... " Kata kata Rangiku terhenti saat Gin menyentuh bibirnya.

"Percayalah.... aku yang sekarang bukan aku yang dulu lagi... aku yang sekarang adalah aku yang lain... jadi bagaimanapun juga... aku harus melakukan sesuatu padamu. Setidaknya, ini jadi semacam kompensasi... karena kau takkan pernah menemukan 'Gin' yang selama ini kau kenal lagi... " Kata Gin sambil menyibakkan selimut yang menyelubungi dirinya. Gin turun dari ranjang itu dan melangkah keluar.

Rangiku terpaku. Kata kata Gin barusan... apa artinya... apa maknanya... Inikah yang disebut 'Gin' yang lain yang dikatakan Kira ?

Tanpa sadar Rangiku meraba lehernya. Merinding...

Ya tuhan ini pertemuan pertamaku dengan Gin setelah sekian lama... tapi kenapa... kenapa aku merasa...

BERSAMBUNG

Diamond : Pendek amet ?

Silver : Please... emang cuman ini ide yang kemaren transit di pale gw...