I'm Fine

10

"Draco sudah kembali ke London." Lucius memberitahu Narcissa saat mereka makan siang bersama.

"Benarkah?" Narcissa bertanya.

"Ia kembali kemarin sore ke gedung apartemen Muggle bodoh-nya itu dan apparently, membawa seorang perempuan, dan anak kecil." Lucius memberitahu. Ia mendapat kabar itu dari anak buahnya tadi pagi.

"Kita harus memaksanya kembali kesini, lagipula siapa perempuan dan anak itu? Apa ia tidak punya pekerjaan selain mengurusi orang lain?" Narcissa mengeluh.

Lucius mengangkat bahunya. "Mungkin ia sengaja, membuat kita marah, atau mungkin ini proyek terbarunya." Lucius memberitahu.

Narcissa menghela nafasnya. Draco memang belakangan ini melakukan terlalu banya hal yang tidak bermanfaat sama sekali, saat pertama-tama ia membuat banyak proyek amal Narcissa dan Lucius tidak protes, sama sekali tidak.

Mereka berdua mengerti kalau proyek amal akan banyak membantu memperbaiki gambar mereka di masyarakat, tapi kemudian ia mulai melakukan banyak hal-hal aneh, ia membangun banyak gedung di Muggle London, menanamkan modal dimana-mana, dan membuat Lucius kesal setengah mati.

Belum lagi kerjanya hanya gonta-ganti perempuan tiap hari, membuat Narcissa frustasi. Narcissa berusaha merancang pernikahan dengan perempuan yang tepat, dan ia sudah benar-benar berusaha keras, apalagi karena Draco sudah menghancurkan begitu banyak usaha yang dilakukannya.

Draco sudah membuat Greengrass bersaudara membencinya, kemudian Milicent Bulstrode dan Tracey Davis yang tersisa tidak lagi banyak, kalau Narcissa tidak salah maka hanya tinggal Hestia dan Flora Carrow dan tentu saja Pansy Parkinson.

Dan dalam kasus Pansy Parkinson, Narcissa, Lucius dan Draco sendiri lebih setuju Draco membujang selama sisa hidupnya daripada menikahi perempuan itu.

"Apa aku harus menemuinya?" Narcissa bertanya.

Lucius menggeleng. "Kau akan menemuinya lalu apa? Paling-paling hanya akan merengek memintanya pulang, kau tidak bisa tegas!" Lucius berseru.

Narcissa memutar matanya. "Kalau begitu kau saja sana! Pergi ke apartement-nya dan paksa ia pulang." Lucius memberitahu.

"Baik! Akan kulakukan!" Lucius berseru.

.

Maura sedang duduk di depan televisi Draco yang terlalu besar. Saat Hermione sedang membuat sarapan dan Maura meminta Draco untuk menyalakan tv, Draco baru menyadari ia bahkan belum pernah menyentuh televisi di penthouse-nya ini.

Hermione akhirnya membantunya menyalakan tv, dan Draco berdalih bahwa ia belum pernah menyentuh tv yang model seperti ini, tapi ia bisa menyalakan tv model lain.

Hermione hanya menggeleng dan pura-pura percaya apa yang dikatakan Draco. Hermione kemudian mengeluh kalau tempat yang mereka tinggali terlalu besarlah, terlalu mewahlah, terlalu tinggilah, dan terlalu terlalu yang lainnya.

Draco kemudian duduk disamping Maura, mencoba mengetahui acara macam apa yang ditonton anaknya itu. Draco berusaha, benar-benar berusaha tapi ia tidak tahan duduk lama-lama melihat badut beruang berwarna ungu dikelilingi anak-anak dan bernyanyi.

Draco menyerah, ia mencium kening Maura kemudian menuju dapur menghampiri Hermione.

"Kau tidak betah menonton Barney?" Hermione bertanya tanpa berpaling sedikitpun dari kompornya.

"Beruang bodoh itu punya nama?" Draco bertanya, memakan roti yang ada di meja. Hermione tertawa pelan.

"Draco."

"Apa?"

"Aku sudah memikirkannya beberapa hari belakangan ini." Hermione memulai, ia sudah tinggal disini empat hari, dan kegiatan mereka bertiga benar-benar monoton.

Bangun-sarapan-menonton televisi-bermain-makan siang-tidur siang-bangun. Begitu terus.

"Apa?" Draco bertanya masih mengunyah rotinya, berusaha mempersiapkan dirinya, ia tahu biasanya jika Hermione sudah mengajaknya bicara serius apapun yang akan dikatakannya tidak akan begitu menyenangkan untuk di dengar.

"Aku berencana memasukkan Maura ke taman kanak-kanak." Hermione memberitahu. "Maura sudah cukup umur dan ia harus bisa berinteraksi dengan anak-anak lain seusianya." Hermione memberitahu.

"Taman kanak-kanak Muggle?" Draco bertanya memastikan.

Hermione mengangguk.

"Bukankah itu berbahaya?" Draco bertanya. "Bagaimana jika Maura tiba-tiba menunjukkan kemampuan sihirnya lalu membuat masalah?" Draco bertanya.

Hermione megangguk lagi. "Itu juga yang menjadi masalahnya." Hermione memberitahu. "Tapi kurasa ia bisa mengontrol kekuatannya, aku juga dulu mengalami masalah yang sama dengan Maura tapi kemudian aku bisa mengontrol kekuatanku dan tidak menimbulkan masalah."

Draco tiba-tiba teringat sesuatu. "Um, Hermione." Draco memanggil Hermione.

"Apa?"

"Um, kalau tidak salah, ada taman kanak-kanak yang baru dibuka di Diagon Alley." Draco memberitahu. "Beberapa waktu yang lalu aku mendengar Blaise membicarakan tentang taman kanak-kanak sekaligus tempat penitipan anak ini." Draco memberitahu. "Bisakah kau mempertimbangkannya?" Draco bertanya.

Hermione yang sedang menggerak-gerakkan spatulanya tiba-tiba berhenti.

Seketika yang terdengar hanya suara tv.

"No."

"Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu untuk tidak pernah kembali ke dunia sihir?" Draco bertanya.

Hermione tidak menjawab. Ia kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya.

.

Hermione sedang mengerjakan pekerjaannya di meja kerja yang berada di kamarnya dengan Draco. Sementara Draco berbaring dikasur ia tiba-tiba teringat sesuatu.

"Bisakah kau bilang pada petugas kebersihan untuk tidak datang dan membersihkan apartement ini?" Hermione bertanya pada Draco.

"Kenapa memangnya?" Draco bertanya.

Hermione tidak ingin membuat masalah, sungguh tidak ingin, tapi cleaning lady yang datang dan membersihkan apartement ini setiap paginya benar-benar tidak bersahabat, umurnya mungkin sama dengannya dan Draco, ia masih cukup muda, dan setiap ia datang membersihkan ia akan melihat Hermione dan Maura dengan tatapan sinis dan bergumam sesuatu yang tidak baik di dengar anak-anak.

"Aku bisa membersihkan apartement ini sendiri, lagipula Maura tidak terbiasa dengan kehadiran orang asing." Hermione berbohong.

"Kenapa? Itu kan pekerjaannya, biarkan saja." Draco memberitahu.

Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk.

"Mommy, Daddy, bolehkan aku masuk?" Maura bertanya dari depan pintu.

"Masuk Dear." Draco berseru.

Maura masuk membawa boneka naganya. Ia sudah siap dengan pakaian tidurnya, tapi kemudian ia memasukkan seluruh jari tangan kanannya kedalam mulutnya.

"Maura, ada apa?" Hermione bertanya terdengar kuatir. Maura akan memasukkan tangan kanannya kemulutnya jika terjadi sesuatu, biasanya jika ia sedang ketakutan atau salah satu bagian dari tubuhnya sakit.

Draco melihat Maura bingung, tidak mengerti apa yang terjadi.

"Maura kenapa kau memasukkan tanganmu kemulut?" Draco bertanya.

"Daddy, boleh aku tidur disini?" Maura bertanya.

"Tentu saja, kemarilah." Draco berseru menepuk-nepuk kasurnya. Maura kemudian menaikki kasur itu dan berbaring disamping Draco.

"Maura ada apa?" Hermione bertanya lagi.

"Mommy, kemarilah." Maura meminta.

Hermione meletakkan penanya kemudian menuju kekasur dan duduk disampin Maura.

"Maura ada apa?" Hermione bertanya lagi.

"Mommy, Daddy, ada hal aneh." Maura memberitahu.

"Apa?" Draco bertanya.

Maura tiba-tiba mengangkat atasan piyamanya dan menunjukkan perutnya yang sedikit buncit.

"Ada apa Maura?" Hermione bertanya tidak mengerti.

"Lihat baik-baik." Maura memberitahu.

Draco dan Hermione kemudian mendekat dan memperhatikan perut Maura baik-baik. Maura menunjuk satu benjolan kecil, benar-benar kecil disebelah kiri perutnya.

"Mommy, aku tidak tahu ini apa!" Maura berseru kuatir. "Aku baru selesai mandi dan menemukan benjolan aneh ini, di punggungku juga ada, di pahaku, dan di lenganku. Mommy, aku kenapa?" Maura bertanya benar-benar terdengar takut.

Hermione diam, ia memperhatikan benjolan-benjolan yang ditunjukkan Maura padanya, yang berada diperutnya, dipunggungnya, dan di tempat-tempat lainnya.

Wajah Draco menjadi pucat, Hermione bersumpah wajahnya yang sudah putih menjadi lebih putih lagi seperti mayat.

"Hermione, Maura terkena cacar naga!" Draco berseru ketakutan, ia melompat dari kasurnya. "Kita harus segera membawanya ke St. Mungo!" Draco berseru panik, ia segera mengambil tongkatnya dan menggendong Maura dengan cepat.

"Draco!" Hermione berseru, ikut berdiri dan menarik tangan Draco sebelum ia berlari ke saluran floo.

"Apa Hermione?" Draco bertanya, terdengar marah. "Kau masih mau bilang kita tidak bisa kedunia sihir? Kau pasti sudah gila!" Draco berseru kesal berusaha melepaskan tangan Hermione darinya dan segera menuju ke saluran floo.

"Tidak bukan begitu, dengarkan aku dulu." Hermione berseru.

"Apalagi? Kau masih berpikiran kalau dunia sihir akan membahayakan Maura? Kau terlalu berpikiran sempit Hermione! Kau tidak lihat Maura sudah dalam keadaan bahaya!"

"Draco, dengarkan aku dulu." Hermione berseru mulai frustasi.

"Apa lagi Hermione? Apa? Kau pikir ada alasan yang lebih penting dari keselamatan Maura?" Draco bertanya penuh emosi.

Maura yang berada di gendongan Draco mulai terlihat bingung dan ketakutan, ia bingung kenapa kedua orangtuanya bertengkar, dan ia mulai takut mendengar keduanya bertengkar apa benjolan-benjolan kecil di tubuhnya itu berbahaya?

"Daddy." Maura berseru pelan, menyentuh dada ayahnya.

"Draco, dengarkan dulu Maura tidak terkena Dragon Pox!" Hermione berseru kencang.

Draco diam, tidak mengerti.

"Draco Malfoy! Dengarkan aku! Maura tidak terkena cacar naga! Ini cacar air." Hermione memberitahu. "Ini penyakit yang menyerang Muggle paling tidak sekali dalam hidupnya, dan ini tidak berbahaya seperti Dragon Pox."

Draco terdiam, Hermione menarik Maura dari gendongannya dan meletakkannya di kasur.

"Maura, boleh Mommy lihat lagi benjolannya?" Hermione bertanya.

Maura mengangguk. Masih sedikit shock karena kedua orangtuanya yang nyaris berteriak satu sama lain.

"Maura, apa kami membuatmu takut?" Hermione bertanya, melihat wajah Maura yang tegang.

Maura mengangguk pelan, memasukkan tangannya kemulut.

"Oh, maafkan kami sayang." Hermione berseru memeluk Maura dan menepuk-nepuk punggungnya.

Maura hanya diam. Draco kemudian mendekat dan duduk di samping Maura.

"Maafkan Daddy Maura." Draco meraih tangan Maura.

"Apa kalian bertengkat karena aku?" Maura bertanya pelan, tangannya yang basah karena liur sekarang berada di tangan Draco.

Draco melihat Hermione, bingung bagaimana menjawab. Hermione kemudian ikut duduk di sisi lainnya. Mereka bertiga duduk di kasur itu.

"Maura, Mommy dan Daddy minta maaf, kami tidak bermaksud membuatmu takut." Hermione menjelaskan, meraih tangan Maura yang satunya. "Terkadang, orang dewasa memang suka bertengkar dan marah satu sama lain, seperti kau bertengkar dengan Allen." Hermione menjelaskan. "Mommy dan Daddy berdebat tadi karena kami kuatir." Hermione sedikit melotot pada Draco.

Kalau saja Draco mendengarkannya dulu sebelum marah-marah.

"Aku tidak ingin Mommy dan Daddy bertengkar karenaku." Maura mulai menangis. "Aku tidak mau tidak punya Daddy lagi." Maura memberitahu sambil menangis.

Hermione segera memeluk Maura erat, menepuk-nepuk punggungnya dan bergerak-gerak agar membuatnya tenang. Draco tidak tahu yang harus dilakukannya, ia seharusnya tahu kalau ia tidak boleh bertengkar dengan Hermione di depan Maura.

Draco tiba-tiba teringat saat kecil ia paling tidak suka jika kedua orangtuanya bertengkar, dan Draco seketika merasa benar-benar buruk.

"Maafkan Daddy sayang." Draco berseru, segera memeluk Maura dan Hermione.

Tangis Maura mulai reda.

"Aku tidak ingin kalian bertengkar lagi." Maura berseru. "Aku tidak ingin Daddy pergi." Maura memberitahu, masih tersengguk-sengguk karena tangisnya.

"Daddy tidak akan pernah pergi Maura, Daddy tidak akan meninggalkanmu dan Mommy." Draco memberitahu. Maura mengangguk, menghapus air matanya.

"Draco, pergilah ambil jacket Maura di kamarnya, kita harus kerumah sakit." Hermione memberitahu.

Draco tersenyum, mencium kepala Maura lalu pergi melakukan apa yang diperintahkan Hermione padanya.

Hermione juga mencium kening Maura lalu membereskan berkas-berkasnya dengan tongkatnya, ia kemudian mengganti pakaiannya dengan jeans dan sweater tipis dan menyiapkan pakaian untuk Draco.

"Mommy, apa aku harus dirawat di rumah sakit?" Maura bertanya kuatir.

Hermione mengikat rambutnya lalu tersenyum, ia juga mengikat rambut Maura. "Mommy akan coba bicara pada dokternya, semoga ia mengizinkanmu pulang, tapi kau harus bersikap baik dan berpura-pura tidak takut." Hermione memberitahu. "Bisakah kau melakukannya?" Hermione bertanya.

"Jadi agar aku bisa pulang setelah diperiksa aku harus berpura-pura berani?" Maura bertanya.

Hermione mengangguk.

Maura menarik nafasnya. "Baiklah aku akan melakukannya."

.

Sepanjang perjalanan Draco menyetir dalam diam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia benar-benar kuatir akan keadaan Maura, tapi Hermione berkata bahwa Maura akan baik-baik saja.

Ia berusaha fokus menyetir meskipun sedang banyak hal di dalam pikirannya.

Hermione duduk disampingnya dan memangku Maura, memeluknya dan bernyanyi lagu yang tidak dikenalnya.

Mereka sampai di rumah sakit yang dimaksud Hermione kemudian Hermione mengurus semuanya sementara Draco menggendong Maura. Mereka berdua berdiri di samping Maura yang sedang diperiksa oleh dokter. Hermione cukup tenang sementara Draco selalu terlihat seperti akan pingsan.

"Mr dan Mrs Malfoy, anak anda tidak apa-apa, ia hanya terkena cacar air." Dokter itu menjelaskan.

"Kalian bisa merawatnya dirumah atau di rumah sakit."

"Di rumah." Maura memotong penjelasan dokter itu. "Aku tidak mau dirawat di rumah sakit." Maura menjelaskan, memegang erat boneka naganya.

Dokter itu tersenyum dan mengangguk. "Tidak masalah, aku akan menuliskan resep obat untuk Maura dan menjelaskan perawatan yang perlu dilakukan." Dokter itu memberitahu.

.

"Mommy, boleh aku tidur di kamar kalian malam ini?" Maura bertanya saat mereka sedang duduk di apotek menunggu obat Maura.

"Tentu saja." Hermione berseru.

Nomor antrian mereka berbunyi dari mesin otomatis, menandakan kalau obat yang mereka perlukan sudah siap dan tinggal membayar.

"Um, Draco, apa kau punya uang Muggle?" Hermione bertanya pelan, ia baru sadar ia tidak membawa dompetnya.

Draco mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya pada Hermione.

Hermione tidak tahu bagaimana harus merespon. "Credit card?" Hermione bertanya tidak percaya.

Draco tersenyum penuh kemenangan. "Aku kan sudah bilang kau harus bersiap Hermione,akan begitu banyak hal yang mengejutkan setelah ini." Draco berkata.

Hermione kemudian ke konter, menyelesaikan semua pembayarannya, baik pembayaran obat dan jasa pemeriksaan Maura tadi sementara Maura yang sudah mengantuk sudah hampir tertidur di pangkuan Draco.

"Hermione!" Seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.

Hermione melihat kebelakang dan menemukan Dean Thomas, teman Hogwartsnya berada dibelakangnya.

"Dean!" Hermione berseru kaget.

"Hermione, ternyata benar kau." Dean tersenyum lebar. "Apa yang kau lakukan disini? Aku senang sekali bertemu denganmu, apa kabarmu?" Dean bertanya.

Hermione tersenyum canggung. "Baik, aku baik-baik saja." Hermione menggerakkan tangannya agar Draco melihatnya. "Apa yang kau lakukan disini Dean?" Hermione bertanya.

"Ibuku sakit dan dirawat disini, aku baru akan mengambil obatnya." Dean memberitahu.

Draco melihat Hermione dan menyadari bahwa ia sedang bicara dengan salah satu teman Gryffindor-nya yang entah muncul darimana. Hermione memberi tanda agar Draco membawa Maura pergi. Draco mengerti, ia kemudian membawa Maura yang sudah tertidur pergi keluar.

"Oh Dean, aku benar-benar senang bertemu denganmu tapi aku harus pergi, karena seseorang membutuhkan obat ini." Hermione memberitahu, mengangkat kantung obat yang berada ditangannya.

"Uh, Hermione." Dean bingung ingin bicara apa, ada begitu banyak hal yang ingin ditanyakannya, tapi jelas sekali kalau Hermione berusaha menghindar darinya. "Yeah, Well, baiklah." Dean berseru.

Hermione tersenyum "Senang bertemu denganmu Dean, sampai jumpa lagi." Hermione berseru dan segera pergi keluar.

"Bagaimana bisa ia ada disini?" Draco bertanya begitu Hermione menghampirinya.

"Entahlah, sudahlah ayo kita pulang." Hermione memberitahu, mereka kemudian berjalan ke arah parkiran dan pulang secepat yang mereka bisa.

.

Hermione dan Maura sudah tertidur. Draco masih terbangun dan memperhatikan dua perempuan itu. Maura tidur diantaranya dan Hermione, Maura sudah berjanji ia hanya tidur di kamar mereka untuk hari ini saja.

Sebenarnya Draco tidak benar-benar keberatan jika Maura sering-sering tidur dengan mereka berdua, tapi kemudian ia tahu jika Maura terlalu sering tidur dengan mereka, waktunya dengan Hermione akan semakin berkurang. Hermione sendiri berkata jika Maura terlalu sering tidur dengan mereka maka ia akan semakin manja dan susah mandiri.

Draco menghela nafasnya, sedang begitu banyak hal berada di pikirannya. Sebelum ini ia tidak pernah berpikir dalam tentang hal ini, ia tidak pernah berpikir bagaimana jika Maura sakit? Bagaimana jika Maura sedih? Jika Maura ketakutan?

Sebelum ini yang ada dipikirannya hanya bagaimana jika Maura tidak masuk Slytherin? Dan kemudian Draco sadar kalau ia benar-benar menyedihkan.

Ia berkata pada dirinya sendiri kalau ia siap menjalani hal ini, siap menjadi seorang ayah, siap menjadi orangtua, padahal nyatanya ia belum siap. Ia merasa seperti akan pingsan dan benar-benar takut saat mengira kalau Maura terkena Dragon Pox, ia takut, benar-benar takut.

Meskipun sebenarnya sisi rasionalnya berkata bahwa Maura tidak mungkin terkena Dragon Pox karena ia tidak pernah berdekatan dengan naga atau orang-orang sihir yang mungkin menderita Dragon Pox, begitu melihat benjolan-benjolan itu Draco langsung merasa lemas.

Ia bahkan tidak bisa mengontrol dirinya dan langsung marah dan membentak Hermione dan membuat Maura ketakutan. Ia menyedihkan.

Belum lama menjadi seorang ayah tapi ia sudah merasa gagal.

Dulu, dari dulu ia selalu berpikir, mungkin ia tidak akan menikah dengan perempuan yang dicintainya, bagi Malfoy menikah karena cinta adalah satu dari beberapa hal yang mungkin tidak bisa dilakukan, tapi ia selalu bertekad akan menjadi ayah yang baik.

Lucius bukanlah ayah yang baik, sama sekali tidak, tapi ia juga tidak seburuk yang orang-orang bayangkan. Draco mengakui kalau saja ia punya sosok ayah yang lebih baik, mungkin ia akan menjadi orang yang lebih baik, karena itu ia selalu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi ayah yang baik, sebaik yang ia bisa.

Tapi ia gagal.

Ia membuat Maura menangis, ia membuat Maura sedih, ia membuat Maura takut bahwa ia akan meninggalkannya, fakta bahwa ia bahkan baru mengenal Maura beberapa waktu belakangan ini saja sudah membuatnya kekurangan terlalu banyak poin.

"Draco." Suara pelan Hermione tiba-tiba mengagetkannya.

Draco melihat Hermione.

"Kau tidak tidur?" Hermione bertanya.

Draco diam saja.

"Mau bicara?" Hermione bertanya lagi.

Draco masih tidak menjawab. Akhirnya Hermione berdiri kemudian memberi isyarat agar Draco mengikutinya keluar. Draco perlahan bangun, berusaha tidak membangunkan Maura kemudian keluar, menutup pintu, dan memasang Silencing Spell mencegah agar Maura tidak terbangun karena suaranya dan Hermione.

Hermione sudah duduk di sofa dan Draco kemudian duduk di sampingnya.

"Ada masalah apa?" Hermione bertanya.

Draco menghela nafasnya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha Hermione.

"Aku ayah yang buruk." Draco berseru.

Hermione tertawa.

"Kenapa kau menertawakanku?" Draco berseru kesal.

Hermione tertawa lagi. "Jika aku dibayar satu Galleon setiap kali aku merasa bahwa aku ibu yang buruk maka aku sudah lebih kaya darimu." Hermione memberitahu.

Draco menghela nafasnya.

Hermione meletakkan tangannya di rambut Draco dan mengelusnya pelan, merasakan rambut pria itu yang terlalu halus untuk ukuran seorang pria dewasa.

"Aku tidak ingin seperti Lucius." Draco berseru pelan. "Aku tidak ingin menjadi ayah yang ditakuti, aku tidak ingin menjadi ayah yang jauh, aku ingin Maura menyayangiku."

Hermione tetap mengelus-elus kepala Draco pelan.

"Aku ingin Maura datang padaku jika ia sedih, jika ia takut, jika ia kesal, jika ia ingin bercerita. Aku tidak ingin menjadi sumber ketakutannya." Draco mencurahkan isi hatinya.

"Aku ingin menjadi ayah yang baik Hermione, dan kurasa aku gagal." Draco berseru sedih.

Hermione merunduk dan mencium kening Draco.

"Tidak ada teori bagaimana menjadi orangtua yang baik Draco." Hermione memberitahunya. "Kita berdua tidak mungkin menjadi orangtua yang sempurna, kita pasti akan melakukan kesalahan, kau dan aku." Hermione memberitahu.

"Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, berkali-kali, apalagi saat beberapa bulan Maura baru lahir, aku kuatir apa aku bisa menjadi ibu yang baik baginya? Apa aku paling tidak bisa sebaik ibuku? Atau nenekku?" Hermione bergumam sedikit mengingat-ingat.

"Tapi kemudian aku sadar, tidak ada buku pelajaran tentang bagaimana menjadi orangtua yang baik, aku tidak bisa mendapatkan Outstanding atau Exceed Expectation dalam hal ini." Hermione memberitahu.

"Kita harus berusaha sekuat tenaga menjadi orangtua yang baik untuk Maura, mengajarkan hal-hal yang baik padanya, menjadi contoh yang baik untuknya, dan yang paling penting menyanyanginya." Hermione memberitahu.

Draco tersenyum.

"Hanya karena kau membuatnya menangis satu atau dua kali itu bukan berarti kau gagal menjadi orangtua Draco." Hermione memberitahu lagi.

Draco kemudian dengan cepat duduk dan kemudian memeluk Hermione kedalam pelukkannya.

"Thanks Love." Draco bergumam pelan memeluk Hermione erat. Hermione juga memeluk Draco. "Kita akan melakukannya bersama. Kita akan membesarkan Maura bersama." Draco bergumam.

Hermione mengangguk kemudian Draco melepaskan pelukkannya.

"Besok aku akan memberitahu kedua orangtuaku bahwa Maura terkena cacar, dan mereka kemungkinan besar akan datang berkunjung, apa boleh?" Hermione bertanya.

Draco mengangguk. "Tentu saja." Draco menjawab, ia sendiri sebenarnya penasaran ingin bertemu dengan Mrs. Granger.

"Benarkah?" Hermione bertanya. "Kau tidak mau mengajukan syarat bodoh atau semacamnya?" Hermione bertanya memastikan.

Draco menyeringai. "Aku tidak ingin memberikanmu syarat." Draco berseru, "Lagipula syarat terdengar buruk, tapi jika kau ingin mengucapkan terimakasih aku tahu beberapa hal yang bisa kau lakukan untukku." Draco memberitahu.

Hermione memukul tangan Draco pelan. "Horny Bastard." Hermione berseru.

"Ayolah Hermione, lagipula aku sudah memasang Silencing Spell di kamar dan Maura tidak akan terbangun." Draco berseru. "Aku belum pernah melakukan apapun di apartement ini dengan siapapun." Draco memberitahu, ia menggeser duduknya lebih dekat ke Hermione.

"Kita harus mensakralkan tempat ini Hermione, dan kurasa ruang tv dan ruang makan cukup untuk permulaan malam ini." Draco berseru, ia kemudian dengan cepat dan penuh tenaga menari Hermione ke pangkuannya.

Hermione tidak tahu harus melakukan apa, tapi kemudian ia mengatur posisinya dan meletakkan kedua kakinya di posisi yang tepat dan berhadapan dengan Draco merasakan sesuatu yang keras mencoleknya dari bawah.

Hermione tertawa. "Kau tidak bisa sedikit sabar ya?" Hermione bertanya ia kemudian melepas sweaternya dan melemparkannya ke lantai, kemudian kaosnya, saat ia akan melepaskan bra-nya Draco menahan tangannya.

"Let Me." Draco kemudian dengan cepat melepaskan bra Hermione yang berwarna hitam dan melemparkannya entah kemana. "Apa kau tahu kalau payudaramu bertambah besar?" Draco bertanya.

"Well, wanita yang menyusui memang payudaranya akan bertambah besar hal itu tidak bisa dihindari." Hermione menjelaskan.

"I Love them." Kata Draco kemudian menyentuh payudara Hermione dengan tangannya.

"How much?" Hermione bertanya pelan.

"Let me show you instead." Draco seketika merunduk dan mencium buah dada Hermione.

-To Be Continued-

Here we go... Read and Review...