-The Chaser-
Walau telat, Happy chinese New Year bagi yang merayakan ^^
After You kill all The Chasers,
You will be The Chaser
Sungjong mengancing kancing terbawah kemeja miliknya. Sekarang tubuhnya sudah dibalut kemeja putih dan celana panjang cokelat karamel. Rambut hitamnya tersisir rapi ke belakang, tampak mengilat setelah keramas.
Ia menghela napas perlahan berkali-kali dengan teratur selama semenit di depan kaca sambil mengamati refleksi dirinya. Ia tampak segar, sehat, dan belia. Memang sudah seharusnya.
Ia punya cita-cita yang tinggi, yaitu menjadi ilmuwan hebat seperti ayahnya. Namun di dalam dirinya ia merasa lelah dan hampir menyerah. Semua yang terjadi berusaha menahan dirinya untuk bertindak lebih jauh. Seakan jika ia memaksakan diri, langit akan bergemuruh untuk mengancamnya lebih keras daripada keadaannya.
Jam tangan yang melingkar di lengan kanannya dilihatnya. Sebenarnya ia masih punya waktu dua jam lagi sebelum pergi, tapi ia tidak suka bersantai-santai dulu. Jadi ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar untuk menemukan apa yang bisa ia kerjakan selama dua jam ke depan.
"Pr sudah. Bersih-bersih juga sudah," gumamnya seraya berkacak pinggang. "Ah, belajar saja. Ujian kenaikan kelas sudah dekat." Ia pun duduk di depan komputer dan mulai mengulang materi pelajaran fisika lewat hologram tersebut. Ayahnya baru membelikannya kemarin.
Baru beberapa paragraf ia baca, ponsel yang ia taruh di atas tumpukan buku bergetar dan memancarkan cahaya hijau. Sungjong mengernyitkan kening melihatnya. Seharusnya kan berwarna putih? Ia pun mengambil benda itu dan memeriksa ada gerangan apa.
Layar ponselnya menunjukkan sebuah peta daerah tempat tinggalnya. Ada sebuah bulatan merah yang menunjukkan posisinya sekarang. Di atasnya sebuah tanda panah berwarna hijau menuju utara berkelap-kelip, menyuruhnya untuk mengikuti arah tersebut.
Sungjong menghela napas berat, entah untuk yang keberapa kalinya hari itu.Kapan ini akan berakhir?
Segera diambil jaketnya di gantungan dan menuju ke bawah. "Eomma, aku pergi sebentar ya," pamitnya pada ibunya yang sedang menurunkan kursi-kursi di bar.
"Mau ke mana kamu? Nanti kita kan mau ke Woolim!" Ibunya memprotes dengan agak kesal.
"Ada urusan sebentar. Aku akan kembali sebelum kita ke sana. Aku janji."
Bel apartemen Jiyoon berbunyi, mengagetkan sang pemilik apartemen yang baru ingin tidur siang. Dengan ogah-ogahan Jiyoon melangkahkan kedua kaki menuju pintu masuk dan mendapati seorang teman.
"Annyeong, Noona," sapa Myungsoo sambil tersenyum tipis.
"Annyeong, Myungsoo. Ada apa?" tanya Jiyoon sambil mengusap sebelah matanya.
"Aku diarahkan ke sini." Myungsoo menunjukkan layar ponselnya yang aplikasi petanya terbuka. Ada dua lingkaran merah yang berkelap-kelip di sana. dan Jiyoon mengenali peta itu, peta komplek tempat ia tinggal.
Jiyoon mengerutkan kening. "Apa-apaan?" Sejenak ia berpikir ia sedang dikerjai, lalu sontak ia menyadari sesuatu. "Jangan bilang kalau... Aish!"
Myungsoo memasukkan ponsenya ke kantung celananya. "Entah apa yang akan terjadi hari ini, Noona." Ia mengangkat bahu.
Jiyoon menggelengkan kepala. "Ayo, masuk dulu."
Begitu tamu tak diundang itu akan masuk, terdengar suara langkah –tidak satu orang—yang tergesa-gesa menuju arah mereka. Myungsoo menoleh dan melihat dua orang bersaudara sepupu. Minho dan Kanata.
"Hei, Myungsoo. Ini apartemen Jiyoon-ssi?" tanya Kanata. Myungsoo mengangguk ambil melirik Jiyoon. Jiyoon pun kembali keluar dan menyambut mereka.
"Kalian juga diarahkan ke sini?" tanyanya.
"Benar," kata Minho.
Ketiga pemuda itu dipersilakan duduk di ruang tamu sementara Jiyoon membawakan minum.
" Sebentar ya, aku mau ambil ponselku dulu," ucap Jiyoon. Beberapa detik kemudian setelah ia menuju kamarnya, ia berjalan cepat menuju ruang tamu kembali dan menunjukkan apa yang ada di ponselnya. "Aku menerima ini 10 menit yang lalu."
Ketiga rekannya itu segera membaca isi pesan yang masuk.
From: unknown
Stay in your house. Don't go anywhere!
Ding dong!
Bel berbunyi lagi. Jiyoon membukakan pintu dan yang datang ternyata Sungjong. Jiyoon keheranan melihat penampilan Sungjong yang sangat rapi, tidak seperti ketiga lelaki ini yang memakai pakaian santai.
"Tinggal 2 orang lagi ya?" gumam Minho. Yang lain mengangguk.
Tiba-tiba, secara serentak, ponsel mereka berlima berdering keras. Setelah saling menatap, mereka pun membuka pesan yang masuk. Isinya membuat mereka saling menatap lagi. Tatapan horor.
"Hyunseung... mati?" lirih Jiyoon. Tubuhnya bergetar dan hampir terjatuh. Namun Minho segera menangkap dan mendudukkannya di sofa.
"Bagaimana bisa? Dia kan The Wanted One!" sembur Kanata tak percaya.
"Hyu..Hyun..Hyuna," kata Jiyoon.
"Kau mau menghubungi siapa?" tanya Sungjong ke Minho yang sudah menempelkan ponsel ke telinganya.
"Hyuna! Cepat ke apartemen Jiyoon sekarang!" sembur Minho panik.
"BODOH! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan, hah?" pekik Jiyoon marah seraya mencengkeram kerah kaus yang Minho kenakan. Ia sudah bisa membayangkan apa reaksi Hyuna ketika ia tahu bahwa Hyunseung meninggal. Kedua orang itu hampir –atau sudah—pacaran? Jiyoon tak tahu pasti. Yang penting, hal ini pasti akan membuat Hyuna terpukul. Oh! Juga Sunggyu yang merupakan sahabat mereka. Kedua mata gadis itu tak bisa membendung air mata lagi. Cairan bening itu telah lolos dari kelopak matanya.
"Noona, hentikan!" kata Myungsoo sambil menarik Jiyoon untuk duduk kembali. "Hyuna pasti mendapatkan pesan dan arahan itu juga. Hal ini tak dapat kita sembunyikan darinya."
Jiyoon menggeleng sambil meremas rambutnya. "Tidak. Ia tidak boleh tahu!"
"Sudah pasti Hyuna mendapatkannya juga. Pencipta permainan ingin membuat kita menderita," ucap Sungjong geram. Kedua tangannya sudah mengepal.
"Apa yang Hyuna bilang?" bisik Kanata ke Minho agar Jiyoon tak mendengarnya.
"Cuma bilang 'ya'." Minho hampir mendapat serangan jantung akibat perlakuan Jiyoon tadi. Belum pernah ia dimarahi perempuan seperti tadi. Biasanya para gadis memuja dan mendukung apa yang dilakukannya. Tapi ini? Aish! Jangan berpikir hal yang tak penting! batinnya.
Selama beberapa menit keadaan sangat hening dan hanya ada suara keran air dari toilet. Karenanya Myungsoo pun berniat membuka percakapan.
"Er, Noona."
"Hm.."
"Kalau boleh tahu, kenapa Noona tidak mau Hyuna tahu kalau Hyunseung Hyung... ya begitulah."
Kalimat Myungsoo itu menarik perhatian Minho, Sungjong dan Kanata.
Jiyoon mengusap air mata dengan tisu. "Mereka berdua itu sudah lebih dari sahabat, tapi belum resmi. Kalian tahu maksudku. Mungkin sudah resmi, aku tidak tahu."
"Dulu aku pernah berpikir kalau mereka berpacaran," gumam Kanata.
Diam lagi. Hal-hal picisan seperti itu tak layak diperbincangkan si suasana tegang seperti ini.
Ding dong!
"Biar aku yang buka," tukas Myungsoo. "Mungkin Hyuna."
Ketika pintu dibuka, tubuh Myungsoo langsung ditubruk seorang gadis yang rambut panjangnya sedikit acak-acakan dan ia memakai mantel yang kebesaran. Myungsoo tahu itu Hyuna. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain berdiri diam di depan pintu, tak membalas pelukan gadis yang sudah menangis begitu kerasnya.
"Eonni. Hyunseung Oppa.. Dia The Chaser!"isak Hyuna. Gadis itu tak tahu kalau yang dipeluknya itu bukan Jiyoon.
Myungsoo membelalakkan matanya tak percaya. Pria yang sudah sering berkumpul bersama mereka itu adalah Pengejar? Apa tidak salah? Jadi, semua ini jebakan? Hyunseung berdusta? "Hyuna, aku bukan Jiyoon Noona," kata Myungsoo pelan, tak mau membuat gadis itu terkejut.
Hyuna pun mengadah setelah mendengarnya. Ia cepat-cepat melepaskan pelukan itu dan masuk ke dalam ruangan. Ketika sampai di ruang tamu, ia mendapati Jiyoon, Sungjong, Minho, dan Kanata. "Jiyoon.. Eonni.."
Jiyoon menoleh. "Hyuna!" Ia berdiri dan menghampiri Hyuna dengan raut wajah khawatir melihat penampilan Hyuna yang agak kumal. "Kau kenapa?" Ia menggenggam kedua pundak Hyuna.
Hyuna hanya menatap Jiyoon dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Hyuna, kumohon. Bicaralah. Ada apa?" tuntut Jiyoon dengan hidung yang mulai memerah lagi. Ia berpikir kalau Hyuna sudah pasti tahu tentang kematian Hyunseung.
Bukannya menjawab, Hyuna malah memeluknya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu, Myungsoo kembali ke ruang tamu, namun tidak duduk. Ia berdiri di dekat kedua gadis itu. Kanata, Minho, dan Sungjong mau tak mau ikutan berdiri karena merasa ada sesuatu yang lebih tak beres.
"Hyunseung Oppa, Eonni. OPPA!" jerit Hyuna seperti sedang memarahi orang yang disebutkannya. Semuanya terkejut melihat Hyuna seperti itu. Teriakannya agak mengerikan.
Myungsoo yang mengetahui masa lalu Hyuna jadi ketakutan dalam hati.
"Iya. Kenapa dia?" tanya Jiyoon, berusaha tenang dan pura-pura tidak tahu. Ia merasakan pelukan Hyuna semakin kencang di pinggangnya. Hal itu membuatnya kesakitan.
"Hyunseung Oppa adalah The Chaser, Eonni. Dia ingin membunuhku!" jawab Hyuna dengan suara bergetar. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Jiyoon lekat-lekat. "Kau dengar itu, Eonni? DIA INGIN MEMBUNUHKU!" pekiknya lagi dengan volume lebih keras.
Kelima anggota The Chaser yang lain membelalakkan mata mereka. Tidak mungkin kan kalau The Chaser itu tujuannya membunuh? Justru merekalah yang harus dibunuh. Tugas mereka hanya memboyong target ke kantor polisi.
"Kenapa bisa?" tanya Jiyoon.
Hyuna pun menjelaskan semuanya dengan cepat. Di awal suaranya pelan. Namun, kian lama suaranya makin keras dan tak terkendali. Air mukanya terlihat mengerikan, sebanding dengan suaranya. Ia bercerita sampai ia membaca semua pesan yang masuk e ponsel Hyunseung.
Jujur, Jiyoon sangat takut melihat Hyuna seperti itu. Kenapa anak semanja ini bisa jadi mengerikan dan tak terkontrol seperti ini? Ia melirik Myungsoo meminta bantuan karena Hyuna terlihat seperti ingin merobek bagian bawah kaus yang dikenakannya. Buku-buku jari gadis termuda itu sudah memerah.
Myungsoo pun menggenggam kedua lengan Hyuna dengan keras namun tak terkesan memaksa. Hyuna menoleh dan mendapati Myungsoo menatapnya prihatin. Tatapan gadis itu pun melunak lalu melepaskan cengkramannya dari baju Jiyoon.
Ia tak tahu kenapa tangannya bisa ada di sana. Ia tak tahu kenapa suaranya menjadi melengking seperti tadi. Ia sadar sepenuhnya dengan apa yang ia lakukan, namun ia tak bisa mengontrol emosinya yang meledak bak vulkanik. Hampir saja ia melukai orang yang disayanginya. Lagi.
"Lebih baik kau duduk dulu," kata Myungsoo dan menuntunnya untuk duduk di sofa tempat Jiyoon berada tadi. Tubuh Hyuna bergetar hebat dan wajahnya seputih kertas.
Jiyoon berbalik dan mengambil gelas di atas meja, lalu mengisinya dengan air dari dalam teko. "Minum dulu," ia menyodorkan gelas itu ke Hyuna, dibantu Myungsoo agar Hyuna dapat meneguknya tanpa menumpahkannya.
Setelah dirasa Hyuna sudah agak tenang, Jiyoon bertanya lagi. "Bisa kau lanjutkan ceritamu, Hyuna?" Bisa ia lihat Myungsoo menggelengkan kepalanya di samping Hyuna. Jiyoon menatapnya bingung, meminta penjelasan.
"Jangan bertanya lagi," kata Myungsoo tanpa suara.
Anak ini menyembunyikan sesuatu dari kami semua, batin Jiyoon.
Harapan Myungsoo tak terkabul karena Hyuna melanjutkan ceritanya.
"Kalian tahu apa yang kulakukan setelah membaca pesan-pesan terkutuk itu?" tanya Hyuna. Semua tak menjawab. Mereka menyimpan keraguan dalam diri masing-masing. "Ya. Aku membunuhnya. Karena itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu Hyunseung Oppa." Ia mengakhirinya dengan senyuman nanar namun sinis.
Di sampingnya, Myungsoo memejamkan mata erat-erat sambil mendesis kecil. Sedangkan keempat orang lainnya hanya bisa tertegun mendengar penjelasan Hyuna yang tak patut dipercayai jika ia tak teriak-teriak seperti tadi. Dan selain Jiyoon, orang yang menyadari gerak-gerik aneh Myungsoo adalah Sungjong. Pemuda yang terkenal dingin itu -Myungsoo- menatap lantai keramik di bawahnya sambil mengeraskan rahang.
"Dugaanku benar," ucap Sungjong.
"Dugaan apa?" tanya Minho. Mereka semua menegakkan punggung, kecuali Hyuna.
"Hyunseung Hyung adalah The Chaser. Aku sebenarnya sudah tahu dari awal, tapi—"
"Kau tahu? Kenapa kau diam saja?" tanya Myungsoo marah. Ia mencengkeram kedua lututnya dengan geram.
"Dengarkan penjelasannya dulu," sela Kanata untuk menenangkan keadaan.
"Waktu itu, sebelum peraturan berubah," Sungjong memulai, "aku melihat lambang Pengejar di atas kepala Hyunseung Hyung ketika ia sedang berdua dengan Hyuna Noona."
"Benar itu?" tanya Jiyoon ke Hyuna.
Hyuna mengangguk. "Ya, aku ingat hari itu. Sungjong memintaku untuk berhati-hati. Ah, aku tidak akan ingat kalau kau tak mengatakannya sekarang, Sungjong-ie. Aku memang bodoh. Seandainya aku ingat." Ia menangis lagi.
"Jadi kenapa Hyunseung bisa menghadiri pertemuan kita?" tanya Kanata.
"Hal itu membingungkanku juga, Hyung," kata Sungjong sambil mengerutkan kening. Kedua alisnya hampir bertemu. "Mungkin waktu itu aku salah lihat ya?"
"Apa mungkin karena tato kedua kelompok sudah sama?" tebak Minho.
"Tidak mungkin," jawab Sungjong dan Kanata bersamaan, lalu saling melirik.
Bip! Bip! Bip! Bip! Bip! Bip!
Enam bunyi identik yang berbunyi berurutan itu berasal dari ponsel mereka masing-masing. Serentak, mereka melihat layar ponsel mereka yang bersinar kehijauan. Entah dorongan dari mana, mereka meletakkan ponsel di atas meja, berdekatan.
Dalam sepersekian detik, garis-garis cahaya dari enam ponsel tersebut menyatu hingga berbentuk limas segienam di atas meja. Pada puncaknya mulai terbentuk gulungan kecil seperti kain wol dari garis-garis abstrak yang menghasilkan suara seperti sengatan tersebut kian membesar dan membentuk tato mereka dalam bentuk 3 dimensi dengan warna aslinya. Tato itu berputar ke timur dengan perlahan ketika sudah terbentuk sempurna, lalu berkelap-kelip samar.
"Selamat sore, wahai para peserta yang kubanggakan," kata sebuah suara yang berasal dari cahaya yang mirip hologram itu. Tak bisa dipastikan itu suara wanita atau pria. Suaranya dalam dan sangat tegas, namun juga tersirat kejahilan dari nadanya.
"Siapa kau?" tuntut Kanata.
Suara itu tak meresponnya lalu melanjutkan, "Terima kasih sudah mengikuti permainan ini dan bertahan dari pengejaran. Semua Pengejar sudah kalian taklukkan. Kini tinggal kalian berenam, Yang Dicari. Khekhekhe." Ia terkekeh aneh, kedengaran seperti kucing bersin. "Tapi permainan ini belum selesai, Sayang. Khekhekhe. Mulai sekarang status kalian berubah menjadi The Chaser. Khukhu." Kekehan terakhir terdengar seperti kukuhan burung hantu.
Mereka berenam tak mengerti.
Minho teringat akan hipotesis yang pernah dilontarkan Hyuna. Yang Dicari berubah statusnya menjadi Pengejar, kemudian anggota-anggota TWO yang baru akan bermunculan. Ini gawat. Ia tak mau mati! Ia tak mau teman-teman seperjuangannya mati juga!
"Ini suara manusia apa hewan?" celetuk Hyuna sinis.
"Program," sahut Minho tak nyambung tanpa melepas pandangannya dari lingkaran itu. "Ini pasti program yang bekerja dalam bentuk sinar tampak layaknya hologram. Program ini dibuat oleh hacker dengan julukan Ion."
"Kau kenapa tahu?" tanya Kanata heran.
"Black Market," ucap Minho sambil melirik teman-temannya satu per satu yang menatapnya curiga. "Aku punya teman dekat yang suka berbelanja di Black Market. Jadi, ya, aku tahu sedikit." Ia tersenyum miris. Wajah Yixing kembali muncul di pikirannya. Bagaimana keadaannya saat ini?
"Hanya ada di Black Market?" tanya Jiyoon. "Ilegal ya?"
"Sudah pasti."
Sinar itu kembali bersuara, "Nah, Peserta yang terhormat. Kini tibalah saatnya. Kalian sudah berada di tahap akhir permainan ini. Tentulah kita tahu pernyataan 'After You kill all The Chasers, You will be The Chaser', namun hanya aku yang tahu maksudnya. Dan hari ini akan kujelaskan arti permainan yang sesungguhnya. Khu.
"Yang ada sekarang adalah The Chaser, yaitu kalian berenam. Tidak ada The Wanted One, oke? Tugas pun ditukar. Artinya, sekarang kalian bertugas membunuh. Nah, siapa yang akan kalian bunuh? Hal ini menarik."
Hening selama beberapa detik. Semua yang ada di ruangan menunggu dengan rasa penasaran dan penuh harapan.
"TADAAAH! Target kalian adalah orang-orang yang sedang bersama kalian ini. Khekhekhe."
"What the heck?" kutuk Myungsoo spontan. Yang lain pun tak kalah terkejutnya.
"Dengarkan instruksiku!" nada suara itu menjadi dingin dan kejam. "Kalian harus saling menghabisi. Waktu kalian hanya 30 hari, dihitung hari ini juga. Orang terakhir yang bertahan hidup memenangkan pertandingan. Jika dalam waktu yang telah disebutkan tersisa lebih satu orang, mereka akan kehilangan nyawanya tepat 720 jam setelah bunyi bel yang akan kubunyikan sebentar lagi."
"Bagaimana kau bisa melakukan hal sekeji ini? Pengecut! Tunjukkan rupamu!" bentak Minho berang.
"Rupaku tidak penting, Choi Minho-ssi. Hahaha."
"Kau ada di antara kami," kata Kanata dengan penuh keyakinan. Ia menatap setiap pasang mata di depannya geram.
"Oh, aku tersanjung. Ya, siapa tahu? Khukhukhu."
"Aku akan membunuhmu jika kau sudah berhasil kutangkap!"
"Kuterima tantanganmu, Kanata. Hihi."
"Sialan!" rutuk Hyuna sambil memukul tato itu, yang tidak membuatnya lenyap ataupun rusak. Sinar tersebut tetap kokoh dan tetap berputar pada porosnya. Hyuna hanya terlihat seperti memukul udara kosong. "Aku tak ingin membunuh orang lagi! Biarkan kami hidup tenang!"
"Tidak semudah itu. Kalian adalah remaja-remaja yang pantas mendapatkan tantangan demi bertahan hidup. Terutama kau, Kim Hyuna-ssi. He. Kalian berenam, inilah karma buruk yang kalian petik dari masa lampau. Mau tak mau kalian harus menerimanya. Jika ingin mengubahnya, cobalah untuk bertahan hidup dari kejaran terakhir ini."
"Mengapa kau memilih kami, bukan orang lain? Mengapa kau tak biarkan para polisi saja yang menghukum kriminal-kriminal itu?" tanya Sungjong.
"Lha, aku kan membantu para polisi, Lee Sungjong-ssi. Kyakyakya. Kriminal-kriminal yang kalian habisi itu tak diketahui identitasnya pada awalnya. Ah, jangan pura-pura tak tahu ya kalian. Kalian berlima menanggung dosa berat orang yang paling kalian cintai, sementara yang satunya lagi sekarat."
Keenam remaja itu tampak berpikir. Dosa berat orang yang paling mereka cintai? Dan satu orang yang sekarat? Jadi, 5 dari mereka harus menanggung hal yang jelas-jelas bukan milik mereka?
"Kurasa penjelasanku sudah cukup," kata suara itu. setelahnya terdengar bunyi 'kring' panjang. "Babak terakhir starts! Semoga beruntung. Oh, ya. Hehe. Salah satu di antara kalian ada psikopat yang tak akan segan-segan menghabisi kalian, lho. Sampai ketemu lagi!"
KRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGGG!
D-30
Minho PoV
Masa bodoh dengan statusku sekarang. Aku ingin hidup normal dan tidak ingin berurusan dengan teror itu lagi. Masa bodoh pula dengan tato di pinggangku, tapi aku akan selalu menutupinya. Soalnya, dibersihkan dengan cara apapun pun tak bisa. Tidak mungkin kan kalau kuminta dokter bedah plastik untuk menghilangkannya? Nanti bisa-bisa aku dilaporkan ke polisi. Walaupun mereka bisa disuap dengan materi, aku tetap tak mau mengambil risiko.
Aku menghela napas sambil mengelap peluh yang memenuhi wajahku. Kucoba untuk tidak memikirkannya dengan berlatih keras bersama teman-teman dan pelatihku di gymnasium. Ketika kami sudah selesai hari itu, salah seorang temanku mengajak kami semua untuk menjenguk Seokjin, atlet renang yang waktu itu terluka parah akibat ledakan dari gedung RIC.
Mengenaskan memang. Bukan hanya gedung pusat investigasi itu saja yang hancur, namun juga puluhan rumah penduduk dan sebuah pusat perbelanjaan besar. Korban mencapai ratusan. Berita mengatakan bahwa pemerintah akan memberi dana dan menurunkan pekerja umum untuk memulihkan keadaan. Tak bisa dihiraukan juga penggalangan dana yang dilakukan beberapa organisasi nasional maupun daerah.
"Hyung, apa yang kaulamunkan?" celetuk Hoseok, salah satu atlet lompat tinggi. Aku menggeleng. Dari tadi kulihat kau seperti habis makan yang asam-asam."
"Jangan khawatir. Bukan hal besar, kok," dustaku.
Hoseok tersenyum. "Sebentar lagi ada pertandingan, Hyung," katanya. Aku tahu ia bermaksud untuk mengatakan, "Fokus berlatih dulu, Hyung. Jangan pikirkan yang lain dulu."
Aku mengangguk mantap dan menyunggingkan senyum terbaikku. "Ayo, kita pergi," ajakku. Dan kami berdua pun bergabung bersama beberapa atlet lain menuju rumah sakit dengan berjalan kaki. Sementara lima orang di depanku asyik mengobrol, aku hanya diam dan menjawab seperlunya jika ada yang bertanya.
Tadi pagi aku dapat kabar dari Luhan Hyung bahwa Yixing sudah mulai pulih, namun masih sulit untuk bergerak. Otot-ototnya masih sangat kaku, membuatnya belum bisa berbicara. Tangan dan kakinya yang bengkok sudah bisa diluruskan. Syukurlah. Kuharap dia segera sembuh. Aku sudah tak sabar untuk bertanya tentang pesan yang tak selesai diketiknya tempo hari. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi padanya sampai ia disuntik dengan debilitoxin.
"Seokjin-ah! Yeah!" seru Hoseok ala hiphop begitu masuk ke kamar inap milik Seokjin.
"Dasar, bocah," gerutu Seokjin. "Aku lebih tua darimu tahu!" Ia cemberut pada Hoseok, tapi tersenyum kepadaku dan 4 orang lain yang memberi salam padanya.
"Sudah baikan, Seokjin?" tanyaku.
"Lumayan. Besok aku sudah bisa pulang," jawab Seokjin sambil tersenyum cerah seperti biasanya. "Wah, kalian. Jadi terharu karena kalian menjengukku." Ia memasang wajah seperti ingin menangis bahagia.
Aku ikut senang mendengarnya, namun juga prihatin. Kondisinya kini tak mendukungnya untuk mengikuti kejuaraan nanti. Kudengar ia digantikan atlet lain yang masih junior dan berlatih keras agar tak mengecewakan pelatih dan tentunya, Seokjin sendiri.
Saat sedang asyik mengobrol, tanpa sengaja aku mengalihkan pandangan ke jendela di pintu kamar. Di sana ada seorang remaja laki-laki sedang lewat. Kurasa ia baru saja mengintip kami karena jaraknya begitu dekat dengan pintu. Sayangnya aku tak sempat melihat wajahnya. Ia punya postur yang familiar, apalagi rambutnya. Kalau tak salah...
Kanata's PoV
Begitu mendengar kata 'psikopat', aku jadi ngeri sendiri.
Aku pernah berhadapan dengan psikopat di sebuah film. Walaupun tak sungguhan, aku kan juga bertanya-tanya bagaimana jika aku bertemu psikopat asli? Kurasa kalau tak saling mengenal akan lebih baik, karena aku akan langsung kabur. Atau aku tak bisa kabur sama sekali? Psikopat kan tak akan pernah merasa bersalah dan tak kenal ampun jika mereka menyerang orang.
Tapi kali ini, akhir-akhir ini, tanpa sadar aku telah 'bekerja' bersama seorang psikopat yang tak kuketahui siapa itu. Bagaimana aku bisa kabur? Dari novel-novel yang kubaca dan film-film yang kutonton, psikopat memiliki ide cemerlang –bagi mereka—dan mengerikan –bagi orang normal—yang sebagian besar sukses. Bagaimana jika The Wanted One bertitel psikopat ini berciri-ciri seperti itu? Pasti dia akan menang.
Ya ampun, aku terlalu banyak membaca.
Eh, status kami bukan Yang Dicari lagi ya. Lupa.
Setelah mendengar penjelasan dari pemilik permainan gila ini, aku dan ketiga lelaki lain langsung pamit dari apartemen Jiyoon seperti orang yang baru selesai tes ujian masuk universitas, tapi tak bisa mengerjakan sebagian besar soalnya. Hyuna tetap tinggal di sana untuk membersihkan diri dahulu sebelum ia pulang.
Jujur, aku takut melihatnya marah tadi. Ia seperti hantu perawan yang sedang memarahi orang yang sudah membunuhnya, menuntut pertanggungjawaban atas kematiannya. Ia berteriak-teriak dengan mata merah dan air mata bercucuran bersama lunturan eyeliner hitamnya. Tak kusangka ia membunuh Hyunseung tanpa berpikir panjang. Semua ini pasti ada jalan keluarnya kok.
Mengingat suara mengerikan Hyuna kemarin, bulu kudukku berdiri. Duh, apa dia psikopatnya? Rasanya tak mungkin. Sejauh ini ia kulihat normal-normal saja. Jalan-jalan, berbelanja, bermain game, makan cemilan seperti anak SD, manja. Semoga dugaanku tentang dirinya salah.
Omong-omong tentang psikopat, informasi tentang peraturan baru Pengejar menghantuiku. Aku tak mau mati. Namun aku juga tak mau membunuh teman-temanku. Rencana harus segera kususun. Dengan sedikit mengambil pengalaman dari film dan drama, tidak ada yang begitu sulit bagiku bagiku.
Perfect!
Sungjong's PoV
"Sungjong-ah!" panggil seseorang di belakangku. Aku berbalik dan mendapati Minho Hyung sedang berjalan ke arahku sambil tersenyum. Aku sedikit membungkuk untuk menyapanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
Hatiku mencelos. Aku tak ingin mengatakan yang sebenarnya. "Hanya memeriksa kesehatan," jawabku sekenanya. Aku tak sepenuhnya berbohong. Tadi aku mengecek keadaan tubuhku bersama ibuku. "Kau sedang menjenguk seseorang ya? Tadi aku sempat melihat ke dalam ruangan itu untuk memastikan itu kau atau bukan," lanjutku agak kikuk dan malu karena asal mengintip.
"Oh, iya. Temanku korban ledakan," jawabnya pelan.
Aku melebarkan mata. "Apa dia baik-baik saja? Ledakan apa?" sambil bertanya, aku berpikir apakah itu ledakan gedung RIC? Soalnya peristiwa ledakan terakhir ya itu.
"Yaah, patah tulang. Besok sudah bisa pulang. Ledakan gedung RIC."
"Begitu ya. Semoga temanmu cepat sembuh, Hyung."
"Hm. Kau sendirian?"
"Tidak, aku bersama ibuku."
"Baiklah kalau begitu. Aku masuk dulu ya. Sampai ketemu lagi." Minho Hyung melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu yang bernomor 613 itu.
Aku mengembuskan napas dan melangkahkan kaki menuju ruangan tempat ibuku dan dokter yang menanganiku berada.
Biar keberitahu kalian. Aku sekarat. Hidupku divonis hanya sampai 3 tahun lagi. Dokter bilang aku tidak boleh memaksa fisikku atau penyakitku akan bertambah parah dan membuat tubuhku semakin lemah. Jadi aku lebih menggunakan akal. Nilai-nilaiku di sekolah sempurna kecuali untuk pelajaran olahraga. Jujur, baru berlari sejauh 20 meter saja aku sudah sesak napas. Kalau berjalan, batas maksimumku adalah 500 meter. Itu juga pelan-pelan.
Aku tidak pernah mengatakan tentang penyakit mematikan ini kepada teman-teman dan guru-guruku. Mereka hanya tahu bahwa aku punya penyakit astma, jadi mereka bisa menoleransi diriku yang tak selalu ikut pelajaran olahraga. Oh, betapa inginnya aku berenang saat ini. Namun itu hanya membuat paru-paruku tambah susah memasok udara.
Penyakitku banyak. Astma adalah salah satunya. Akut. Tapi yang menyebabkan kematian bukan astma, tapi kanker jaringan otot. Karena itulah aku tak boleh banyak bergerak atau asam laktat yang dihasilkan sel-sel otot akan mempercepat proses pembelahan sel-sel kanker dalam tubuhku. Mereka melemahkan kinerja saraf motorik dalam insan ini sedikit demi sedikit, dari hari ke hari. Mirip ataxia, tapi bukan itu.
Penyakit yang sangat aneh. Kenapa asam laktat bisa mempercepat proses tersebut? Kata dokter, sel-sel kanker yang ada di dalam tubuhku tergolong jenis baru dan disebabkan oleh virus jenis baru juga. Tim dokter pun menjadi cukup kewalahan. Pengobatan dengan sinar alfa, beta, maupun gamma saja tidak berhasil. Bisa kau bayangkan biaya sebanyak apa yang sudah orangtuaku keluarkan untukku yang berpenyakitan ini?
Begitu aku sampai di depan ruangan Dokter Nam, pintu langsung terbuka dan Eomma menyuruhku masuk. Aku pun menurut dan duduk di sebelahnya, di depan Dokter Nam. Katanya keadaanku semakin parah. Pantas saja tubuhku menjadi agak kaku dan sangat pegal akhir-akhir ini. Ya, pastilah. Selama 6 bulan ini aku mengeluarkan tenaga hampir maksimal untuk membunuh Pengejar.
Sayangnya, aku tak terlalu peduli. Aku lebih mementingkan cita-citaku. Toh, cita-citaku ini mengandalkan pikiran dan rohani, bukan jamani.
Kendati demikian, apa aku harus melaksanakan tugas terakhir sebagai Pengejar? Aku sudah capek membunuh orang yang tak kukenal. Kini aku harus membunuh orang-orang yang kukenal baik?
Author's PoV
"Eonni, aku pamit," ucap Hyuna seraya bangkit dari sofa.
"Aku antar kau pulang," kata Jiyoon dengan nada khawatir. Ia tak ingin Hyuna kenapa-kenapa di jalan nanti dengan pikiran yang masih kacau begitu.
"Tidak perlu. Terima kasih. Aku sedang ingin sendiri," tolak Hyuna halus, lalu tersenyum. "Aku bukan anak kecil lagi, Eonni. Annyeong."
Jiyoon menatap punggung Hyuna yang semakin menjauh menuju pintu apartemennya. "Hyuna-ya," panggilnya. Hyuna berhenti tanpa berbalik. "Kalau kau ada masalah, datanglah ke sini. Aku akan selalu menjadi pendengar yang baik bagi adikku ini. Oke?"
"Gomawo, Eonni. Sampai jumpa di sekolah."
BLAM!
Jiyoon yakin bahwa ada sesuatu dalam diri Hyuna yang tidak ia ketahui. Masih banyak hal yang belum Hyuna ceritakan pada dirinya. Anak itu memang agak tertutup.
Dan lima tahun silam, ia tahu kalau Hyuna tidak ke Jepang sebagai siswi pertukaran pelajar, melainkan menjadi pasien di Rumah Sakit Jiwa Trilagi. Rasa penasaran menghantui Jiyoon waktu itu, namun ia tak sempat mencari tahu lebih banyak karena pada saat itu ia keburu ditarik pulang oleh kedua orangtuanya. Lagipula, ia merasa bahwa hal ini adalah urusan pribadi keluarga Hyuna.
Jiyoon tak berhak tahu, apalagi ikut campur. Terkadang datang pemikiran, "Aku sudah bersahabat dengannya selama 7 tahun. Kenapa aku tak pernah diceritakan tentang itu? Apakah salah jika aku ingin tahu?" Walaupun demikian, Jiyoon masih tahu batas. Suatu saat, jika waktunya tepat, akan ia tanyakan sendiri.
Tiba-tiba ia memekik tertahan. "Benar juga! Langsung saja ke Trilagi! Ah.. RSJ ya? Gangguan jiwa. Psikopat. Jadi..." Mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Kedua matanya melotot horor. Ini tidak mungkin. Mana tahu psikopat yang disebut peneror itu bukan Hyuna. Tapi mengapa Hyuna bisa menjadi pasien di Trilagi kalau bukan gangguan jiwa? Aku memang harus menyelidiki ini semua!
Tanpa menunggu apa-apa lagi, Jiyoon segera berganti pakaian dan mengambil tas yang selalu dibawanya ketika berpergian. Ia berlari menuju tempat parkir apartemen dan masuk ke mobilnya. Setelah menyalakan mesin, mobilnya pun melesat kencang, Hanya satu tempat yang ada di pikirannya sekarang.
Trilagi Asylum.
Hembusan udara dingin dari pendingin ruangan melambai-lambaikan rambut Myungsoo. Ia selalu mendinginkan kepala di sini, di perpustakaan kota favoritnya, tempat di mana ia mencabut nyawa pengejar pertamanya. Ia tidak membaca buku seperti biasa, tapi tidur dengan lengan bawah sebagai bantal. Pustakawan di sana sudah mengenal Myungsoo dengan baik, jadi ia tak heran lagi mengapa Myungsoo suka tidur di perpustakaan.
Setelah dua jam Myungsoo terlelap, ia terbangun karena seseorang menepuk pundaknya, menyuruhnya bangun. Berbalik dengan malas, ia mendapati Hyuna yang sedang menyunggingkan senyum.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Myungsoo.
"Insting," jawab Hyuna datar dan duduk di kursi sebelah Myungsoo. Ia menatap Myungsoo lekat-lekat.
"Kau mau apa ke sini? Jangan ganggu aku. Biarkan aku tidur." Myungsoo menyembunyikan wajahnya di lengannya lagi.
"Kau tak sadar ya?"
"Apaan sih? Entu saja aku sadar karena sudah kaubangunkan!" kata Myungsoo ketus. Siapapun pasti kesal kalau tidur nyenyaknya terganggu.
Hyuna tersenyum sinis. "Lihat sekelilingmu."
"Hanya ada rak dan buku-buku setebal bantal."
"Itu aku juga tahu. Perhatikan para pengunjung, bodoh."
Myungsoo mendecak kesal sambil mengacak-acak rambutnya, lalu melihat ke sekeliling ruangan tempat mereka berdua berada dilanjutkan ke lantai pertama.
Tidak ada satu pun pengunjung dan pustakawan.
Masih memunggungi Hyuna, Myungsoo mengeluh, "Lihat apa coba? Tidak ada siapa-siapa selain—" Oh, Myungsoo tahu apa maksudnya. Ia segera bangun dan berbalik, lalu mundur perlahan. Ia melihat Hyuna sedang tersenyum manis dengan sebilah pisau yang sudah digenggamnya. Kedua matanya seolah mengatakan, "Hei, kawan. Aku akan membunuhmu lho. Asyik kan?"
"Tenang, Myungsoo. Kamera CCTV sudah mati dan akan berfungsi kembali setelah urusan kita selesai." Hyuna masih duduk, tidak bergeming walaupun jarak Myungsoo dan dirinya semakin jauh. Biasanya, kalau target mundur, pembunuh akan maju, bukan?
"Kau! Singkirkan benda itu!" perintah Myungsoo dingin.
"Takut?"
"Siapa bilang?"
"Kakimu."
"Shit." Myungsoo mengutuk dirinya sendiri. Ia tak berpikir jauh tadi. Dia toh baru bangun tidur.
"Kenapa berhenti?"
"Di belakangku ada tangga setinggi empat meter, Nona Kim."
"Oh. Kupikir kau akan jatuh lalu mati. Jadinya aku tak perlu repot-repot membunuhmu." Hyuna pun cekikikan seperti orang gila.
"Kau ingin memenangkan permainan brengsek ini?" tanya Myungsoo sarkartis. "Hanya orang bodoh sepertimu yang melakukannya."
"Kau juga bodoh jika tak memperjuangkan nyawamu, Myungsoo-ah." Hyuna tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Myungsoo bungkam. Perkataan Hyuna menohoknya seperti bor. Baiklah. Kalau seperti ini, "Kuladeni kau. Kemari."
Hyuna mengangkat sebelah alisnya lalu terbahak. Myungsoo heran melihat temannya seperti itu, tapi disiagakan tubuhnya. Tiba-tiba, Hyuna melemparkan pisaunya. Myungsoo telat berjongkok, sehingga pisau tersebut menggores bahunya. Ia hampir saja terguling-guling ke lantai bawah jika ia tak memanfaatkan kedua tangannya.
Tak puas, Hyuna melemparkan sebilah kunai. Benda runcing itu hampir saja menancap telapak tangan Myungsoo dan lantai papan perpustakaan jika ia tak menarik tangannya tersebut. Ia segera berlari menuruni tangga selagi Hyuna mengejarnya dan tak henti-hentinya melemparkan kunai yang jumlahnya tak terhitung. Entah dari mana gadis itu mendapatkan senjata asal Jepang itu.
"AH!" ringis Myungsoo dan tergulling-guling ke bawah akibat kaki kirinya tertancap kunai. Sialan! Kenapa tak shuriken saja sih? Pasti tidak sesakit ini! Batinnya dalam hati.
Hyuna melemparkan kunai terakhir dan benda itu menancap di perut Myungsoo. Laki-laki itu meringis keras. Hyuna menghampiri Myungsoo santai dengan wajah tanpa ekspresi. Myungsoo berusaha bangkit, tapi tubuhnya tak bisa digerakkan.
"Kau tak akan bisa bergerak. Sudah kububuhi debilitoxin di senjataku." Hyuna berkata sambil mengeluarkan sebuah kapak dari tasnya.
Myungsoo menatap Hyuna tak percaya. "Jangan bilang kau yang meracuni teman Minho itu?"
"Kalau iya, kenapa?" Hyuna terkikik. Tubuhnya menjulang di samping tubuh Myungsoo yang terbaring lemas.
"Apa? Jadi kau penerornya?"
Hyuna berjongkok dan memasang wajah imut. "Iya atau bukan, ya? Mau tahu aja atau mau tahu banget? Hihihi."
"Bahasa dari mana itu? Dasar psikopat!"
"Memang!"
"Kau pastilah peneror itu."
"Kami berelasi."
"Maksudmu?"
"Aku tak ada waktu untuk menjelaskan. Setelah kau mati, aku akan menghabisi yang lainnya. Khukhukhu," ujar Hyuna dan berdiri. Ia angkat kapaknya tinggi-tinggi, kedua matanya membesar, dan senyumnya sinis. Myungsoo tak bisa apa-apa lagi dengan tubuh beracun. "Selamat tinggal, Kim Myungsoo." Setelah itu, kapak pun mengayun dengan efek slow motion di mata Myungsoo. Ia mengatupkan mata.
"Myungsoo-ssi!"
"HAH!" pekik Myungsoo. Napasnya memburu. Ia menoleh ke sana ke mari dengan wajah linglung. Ia duduk di lantai dua bersama pengunjung lain yang menatapnya aneh. Di sampingnya berdiri Nyonya Jung, pustakawan yang dikenal baik olehnya. Myungsoo mengecek tubuhnya. Tidak terluka.
Mimpi.
"Myungsoo-ssi, kau tidak apa-apa?" tanya Nyonya Jung. Myungsoo mengangguk seraya mengelap peluh di keningnya. "Baiklah kalau begitu. Saya hanya ingin bilang kalau perpustakaan akan segera tutup."
"Iya. Aku akan segera pergi."
Fiuh. Mimpi yang aneh, tapi seakan memberi petunjuk.
Ia pun menyandangkan tas ke bahunya dan keluar dari perpustakaan setelah sebelumnya pamit kepada Nyonya Jung.
Pintu masuk Trilagi Asylum menutup di belakang Jiyoon. Wajahnya lesu. Ia tak dapat banyak informasi karena pihak rumah sakit harus merahasiakan identitas setiap pasien mereka. Namun yang pasti, Hyuna pernah menjalani perawatan di sana.
Saat sedang membujuk pengurus administrasi agar mau memberitahunya tentang pasien yang bernama Hyuna, seorang dokter menghampirinya.
"Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter wanita itu ramah sambil menatap Jiyoon heran.
Jiyoon membungkuk. "Annyeonghaseyo. Jeon Jiyoon imnida."
"Saya Dokter Jung. Tadi saya dengar kamu menyebut nama Hyuna. Benar itu?"
"Iya, benar. Dokter tahu sesuatu?"
Dokter Jung tersenyum tipis. "Silakan ikut saya."
Jiyoon dibawa Dokter Jung ke taman rumah sakit yang asri yang terletak di belakang gedung, lalu duduk di sebuah kursi panjang dekat air mancur. Jiyoon melihat banyak pasien yang sedang bermain-main di sana. Tertawa-tawa seperti tak ada beban dalam hidupnya sambil ditemani perawat maupun pengunjung mereka.
"Nah, kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan Hyuna?" tanya Dokter Jung.
"Saya sahabatnya dari kecil, Dok."
"Berapa lama, pastinya?"
"Sekitar 7 tahun."
"Begitu ya." Dokter Jung menengadah ke langit senja. Jiyoon mengagumi wajahnya yang cantik walaupun sudah ada kerutan di matanya. Ia melihat nametag di dada kanan Dokter Jung.
Jung Daeun.
"Dokter kenal Hyuna?"
"Ya. Bagaimana dia sekarang? Sudah lama kami tak bertemu."
"Baik-baik saja, Dok."
"Sekolahnya di mana sekarang?"
"Holy Art Academy."
"Akademi seni?" tanya Dokter Jung heran.
"Iya. Kenapa, Dok?"
Daeun menggeleng. "Tidak apa-apa. Dulu ia bilang kalau ia mau jadi dokter."
Kini giliran Jiyoon yang heran. Hyuna ingin jadi dokter? Ia tak pernah tahu kalau Hyuna tertarik dengan dunia medis.
Mereka terdiam sejenak sampai Jiyoon bertanya, "Bagaimana Dokter mengenal Hyuna?"
"Hm.. Sudah lama sekali," jawabnya sambil kembali menatap langit. "Jiyoon-ssi, mengapa kamu ke sini sambil menyebut nama Hyuna?"
"Em.." Jiyoon berpikir sebentar. Daeun pastilah bisa dipercaya karena ia seorang dokter. Tidak apa-apa kalau ia menceritakannya. "5 tahun lalu, saya pernah melihat Hyuna di sini, memakai baju pasien Trilagi. Maksud saya ke sini adalah untuk bertanya apakah Hyuna pernah menjadi pasien di sini."
"Benar. Saya yang menangani dia dulu."
"Kalau boleh tahu, apa yang terjadi padanya, Dok?"
"Maaf, saya tidak bisa memberitahu kamu. Yang penting, secara umum, kamu tahu kan karena apa orang bisa menjadi pasien di sini?" kata Daeun lembut, tak ada nada kesal sedikitpun. Dokter adalah pemegang rahasia terhebat.
Jiyoon mengangguk.
"Jiyoon-ssi. 5 tahun lalu kamu ada di sini dan tanpa sengaja melihat Hyuna. Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bukan pasien kan?" tanya Daeun bercanda.
Jiyoon tertawa kecil. "Bukan, Dok. Waktu itu saya bersama orangtua menjenguk salah seorang kerabat." Daeun merasa agak resah ketika ia tahu ada orang selain keluarga Hyuna yang mengetahui tentang anak itu.
"Ah, begitu ya."
Jiyoon berdiri. "Kalau begitu, saya permisi ya, Dok. Terima kasih atas waktunya."
Daeun ikut berdiri. "Sama-sama. Err, Jiyoon-ssi."
"Ya?"
"Tolong rahasiakan ini ya. Yang tahu Hyuna pernah menjadi pasien di sini hanya keluarganya... dan kamu."
"Baik, Dok. Anda tak ingin titip salam ke Hyuna?"
"Lebih baik jangan."
"Ya. Sampai jumpa, Dok."
Ia memang tak berhak tahu. Tapi ada kemungkinan baginya untuk mencari tahu. Mengorek informasi dari Hyuna sedikit demi sedikit secara tak disadari Hyuna. Tapi bagaimana ya caranya? Jiyoon bukannya egois. Ia hanya ingin melindungi Hyuna.
Setelah menghela napas, ia melangkahkan kaki menuju mobilnya.
"Ya! Taehyung-ah! Jangan ke sana!" seru seorang gadis kepada laki-laki yang kelihatannya berumur tujuh belas tahun. Taehyung berjalan lurus tanpa menatap wanita yang kemungkinan adalah kakak atau adiknya. Soalnya wajah mereka mirip.
"Noona tunggu saja di mobil. Jangan khawatirkan aku. Aku sudah besar," kata Taehyung sambil menoleh tanpa menghentikan gerak kakinya. Tatapannya bertemu dengan Jiyoon, lalu ia membungkuk. Jiyoon balas membungkuk dan terus berjalan.
"Taehyung-ah! Noona tak mau kau terluka lagi. Psikopat itu tidak bisa sembuh!" kakak Taehyung berseru lagi dan mengejar adiknya.
"Hyuna bukan psikopat lagi! Aku yakin dia sudah sembuh!" Taehyung menatap kakaknya geram.
Langkah Jiyoon terhenti. Hyuna? Psikopat? Jiyoon menajamkan pendengaran dan pura-pura mengikat tali sepatu.
"Kalau dia sudah sembuh, untuk apa kau ke sini?"
"Ya aku hanya ingin memastikan bahwa dia sudah keluar dari tempat ini dan hidup layaknya orang normal, Noona."
"Appa dan Eomma sudah mengeluarkan banyak uang untukmu agar bisa melupakan psikopat itu, tapi kau tetap saja tidak berubah. Kenapa sih kau ini?"
"Jangan panggil Hyuna psikopat! Dia teman baikku dan aku berhak tahu seperti apa dia sekarang."
Suara kakak-beradik itu semakin menjauh sehingga Jiyoon tak bisa menguping lagi. Jadi, psikopat yang dimaksud peneror benar-benar Hyuna? Anak yang bernama Taehyung itu pernah mengenal Hyuna dan mengetahui rahasia ini? Apa hubungan Taehyung dengan masalah kejiwaan Hyuna?
Jiyoon tak henti-hentinya bertanya dalam hati. Ia harus segera mencari tahu.
D-27
Seberkas sinar matahari menyusup masuk dari celah gorden jendela kamar milik atlet lari kebanggaan Korea Selatan, Choi Minho. Pertandingan olahraga akan diadakan 2 minggu lagi. Begitu pulang dari latihan yang keras, ia langsung mandi dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Ia merasa sangat lelah hari ini, entah mengapa. Biasanya ia masih sanggup berjalan-jalan bersama teman-temannya setelah latihan, tapi kali ini tidak. Mungkin karena tadi habis dimarahi pelatih akibat dirinya yang tak konsentrasi dan sering melamun. Otaknya pun jadi ikut-ikutan lelah.
Ia memejamkan mata, tapi rasa kantuk tak kunjung tiba. Diputuskannya untuk memainkan permainan di ponselnya untuk menghilangkan kebosanan. Kemudian, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Nomor awalnya juga bukan kode negara tempatnya berada.
"Yeoboseyo?" sapanya.
"Hei! Ini aku."
Minho terduduk. "Astaga! Yixing! Kau sudah sembuh?" Wajahnya cerah seketika. Akhirnya teman dekatnya itu pulih juga!
"Hm, lumayan. Mungkin 3 hari lagi aku sudah bisa kembali ke sana."
"Syukurlah. Kami semua rindu padamu, tahu."
"Wah. Wah. Tak biasanya aku dirindukan. Haha."
"Tentulah kami merindukan wajah datarmu."
"Kurang ajar. Eh, sebelum aku kena musibah, aku mengecek akunku di Black Market."
"Lalu?"
"Rencana kita berjalan lancar. Program ciptaanku dibeli seseorang."
Minho menganga, lalu tersenyum penuh kemenangan. Banyak harapan yang muncul di kepalanya. "Serius? Kau berhasil melacaknya, tidak?"
"..." Terdengar helaan napas. "Berhasil sih. Tapi lokasinya sudah seperti yang kuduga."
"Tunggu, Yixing. Kau yakin yang membelinya orang Korea? Hanya satu orang kan?"
"Yep. Sudah kuatur agar yang membeli programku hanya bisa terlihat oleh penduduk Seoul, kota di mana orang iseng yang kita lacak waktu itu berada."
"Kau memang jenius, Yixing." Minho yakin sekali kalau yang membeli itu pastilah si peneror. Yixing akan segera menutup pesanan setelah ada satu orang yang membeli program tersebut.
"Tapi aku tidak yakin apakah yang membelinya itu orang iseng tersebut atau bukan."
"Aku yakin."
"Kenapa?"
"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu." Tepat. Yixing hanya membantu Minho, tapi tidak tahu-menahu tentang i balik permintaan Minho. Yixing bersedia membantu karena ia ingin menyibukkan diri. Dan ia mendapatkan imbalan.
"Baiklah. Jadi, waktu itu aku dapati lokasinya di sebuah restoran bernama Miracle. Ia pasti orang yang cerdas. Ia tak mau aku tahu di mana tempat tinggalnya berada."
Minho langsung kecewa. Tapi, setidaknya ia harus menghargai kerja keras Yixing. Apalagi ia baru sembuh. Siapa sih yang berani-beraninya meracuni orang sebaik —walau angkuh— Yixing? "Restoran ya."
"Hm.."
"Baiklah. Terima kasih... Ion."
tbc
Maaf kalau banyak typo. Saya tidak mengecek ulang lagi.
Saya butuh kritik.
Ada ga yang berpikir kalo cerita ini mirip The Hunger Games karya Suzane Collins? Kalau ada, saya cuma mau bilang: ide cerita ini sudah ada sebelum saya kenal HG kok. Serius! Jadi, cuma kebetulan aja yah ^^
Terima kasih sudah membaca ^^
Petunjuk ke-3:
Satu di antara dua
Balasan review:
Lee Jihye: di chapt special story-nya memang difokuskan ke masa lalu Hyuna :) makasih udah baca n review ^^
