Gadis Pencuri
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
NejixTenten slight ItachixTenten
Warning: Typo(s), Nista, Abal, EYD kacau
Don't like Don't read
No Flame!
RnR
.
.
Lampu temaram diatas laci menemani malam sang gadis pencuri yang tengah duduk di sofa kamarnya. Kedua kakinya terlipat dan tangan-tangannya saling bertaut memikirkan apa guna benda yang ada di atas ranjangnya tersebut. Tentu saja, sedari tadi maniknya berhenti pada sebuah kotak persegi panjang berukuran besar yang entah sejak kapan berada diatas ranjangnya. Yang ia tau hanya saat dia membuka pintu kamarnya sepulang bekerja, kotak tersebut sudah duduk dengan anggunya disana.
Sudah hampir setengah jam Tenten memandangi kotak tersebut meski masih berbalut seragam kerjanya. Gadis itu masih belum berani membukanya karena takut kalau ternyata benda itu bukan miliknya. Hei, tapi bukankah benda itu ada di kamarnya, itu artinya benda tersebut adalah miliknya.
Langkah ragu Tenten pilih guna mendekati ranjangnya. Alisnya sesekali berkedut entah karena apa. Beberapa menit kemudian, tangannya sudah berada di sisi kotak dan segera membuka kotak tersebut.
Tatapannya menyorot pada kertas putih yang berada letaknya paling atas. Jemarinya membuka lipatan kertas berukuran sedang tersebut dan membaca guratan tinta berwarna biru yang tergores disana.
'Temukan Pangeranmu malam ini, Tuan Putri. ^^'
Ino Yamanaka
Bibir Tenten bergerak, bergumam lirih "Ino Yamanaka? Siapa dia?"
Kertas ditangan Tenten sudah berpindah ke atas ranjang. Kini fokusnya teralih pada gumplan kain bermotif polos dengan potongan indah di dalam sana.
Dress selutut yang terlipat rapi dan hanya memperlihatkan bagian dada yang tak memiliki lengan tersebut membuat manik karamel sang wanita berhenti. Ujung jemarinya menyentuh manik indah di bagian atas dadanya. Terlihat dengan jelas aksen rumit berbentuk lengkungan berpola indah tertata dengan rapi. Detik berikutnya ia beralih pada high heels di sampingnya. Sepatu bak kaca membuat mata Tenten mengerling takjub mengagumi betapa indahnya sepatu bening tersebut.
"Apa maksudnya ini? Siapa yang meletakkan benda seperti ini disini?" Gumamnya sedikit memiringkan kepalanya ke kiri.
Brakk..
Pintu kamar Tenten yang dibuka paksa oleh seseorang praktis membuatnya tersentak dan menjatuhkan benda di tangannya begitu saja. Detik berikutnya dua bocah kecil masuk dengan wajah ceria.
"Lihatlah Kaasan.. Tousan memberikan baju musim dingin ini untuk kami." Celoteh Tenichi memutar tubuhnya memperlihatkan baju serta sweater tebal nan modis yang melekat di tubuhnya.
"Kami baru saja pulang dari peragaan musim dingin khusus untuk anak-anak di panti asuhan. Semua anak yang ada di sana mendapat bagian pakaian musim dingin. Bukankah Ayahku sangat hebat!" Imbuh Kun makin membuat suasana yang tadinya sunyi semakin meriah.
Bibir Tenten mengulas senyum. Ia menghampiri keduanya memeluk kedua bocah tersebut.
Baik Kun dan Tenichi yang tadinya bergembira seketika mereda. Tatapannya menyorot lurus pada lantai di bawahnya. Pipi mereka ia letakkan diatas kedua bahu Tenten yang masih tidak melepasnya.
"Kaasan.. entah apa yang terjadi pada kalian, tapi melihat Kaasan dan Tousan saling diam satu sama lain tanpa bertegur sapa selama beberapa minggu ini membuat kami begitu sedih." Ujar sang Neji junior dengan suara lirih.
Giliran Tenichi. Gadis kecil itu terlebih dahulu menghela nafas sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan. "Kun-nii benar. Apakah Kaasan tau, saat peragaan busana berlangsung, Tousan terlihat murung walaupun acaranya berlangsung sangat meriah."
Tenten menghela. Ia tidak tau harus berkata apa untuk menanggapi kedua anaknya. Kun benar, sudah lebih dari sebulan ia mendiamkan Neji. Tepatnya sejak malam itu, ketika Neji mengetahui tentang dirinya lebih dalam. Jujur saja, hingga saat ini Tenten juga tidak tau alasan apa yang membuatnya bersikap seperti itu pada Neji. Bukankah kekhawatiran Neji itu wajar? Tapi Tenten rasa itu akan terasa biasa jika mereka benar-benar menikah. Tapi sekarang? Bahkan menjadi kekasihnya pun tidak.
"Kaasan.. kami sedih jika Tousan sedih. Kumohon jangan membuat Tousan sedih." Celoteh Tenichi polos sembari melepas pelukan Tenten disusul Kun.
Manik karamel Tenten menatap Kun dan Tenichi bergantian. Senyuman samat terukir dari sana membuat Kun dan Tenichi makin bingung dibuatnya.
"Apa kalian benar-benar menyayangi Neji Hyuuga?" Tanyanya.
Kedua bocah tersebut menatap Tenten bingung dengan dahi berkerut. "Tentu saja Kaasan. Dia adalah Ayah kami." Jawab mereka hampir bersamaan.
"Bagaimana dengan Itachi Jiisan. Apa dia tidak cukup baik untuk kalian?" Gadis itu beralih menatap Kun.
"Itachi Jiisan sangat baik. Dia yang menjaga Kaasan selama ini. Aku suka padanya. Namun meski begitu, yang aku inginkan hanya Ayahku." Kata Kun berujar dengan tatapan sendu.
Giliran Tenichi yang mendapat giliran. "Lalu bagaimana dengan Menma Jiisan. Apa dia pria yang baik?"
"Menma Jiisan pria yang sangat baik. Dan kelihatannya dia menyayangi aku. Tapi aku sama seperti Kun-nii, aku hanya menginginkan Ayahku. Aku hanya ingin Ayah dan Ibuku. Dan mereka adalah Neji Hyuuga dan Tenten. Bukan Itachi dan Tenten ataupun Menma dan Tenten." Ujar Tenichi dengan suara terisak.
Kembali Tenten mengulas senyumya. Kedua tangannya menarik Kun dan Tenichi kedalam pelukannya. Sesaat kemudian ia mengeratkan pelukannya meletakkan dagunya diatas kedua bahu Kun dan Tenichi yang menyatu sementara kedua tangannya mendekap tengkuk mereka erat. Ia tersenyum damai sembari berkata lirih,
"Kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Tunggu Kaasan yang akan membawa Tousan kepelukan kalian."
'Lalu bagaimana dengan Hiashi-sama? Apa aku bisa mengatasi orang itu?' Batin Tenten bertanya.
.
.
Kini Tenten tengah berdiri di ambang pintu Mall yang sudah di hias sedemikian rupa untuk menyambut para tamu penting yang datang. Setelah lebih dari satu jam ia mempersiapkan semuanya, jadilah sekarang ia berpenampilan berbeda dari gayanya sehari-harinya.
Kaki jenjangnya yang dibalut sepatu bak crystal yang terlihat sangat pas di kakinya melangkah ragu memasuki ballroom Mall yang sudah terlihat ramai pengunjung. Tidak ada yang Tenten kenali disana. Yang ia tau hanyalah mereka sepertinya dari kalangan atas. Jelas terlihat dari cara mereka berpakaian.
Acara belum dimulai, para undangan sibuk berbincang satu sama lain sementara yang lain mencicipi berbagai hidangan yang disajikan diatas meja. Jelas sekali Tenten ingat apa yang membuatnya hadir di acara ini dengan penampilan yang sangat anggun. Tentu saja karena Kun dan Tenichi. Dua bocah itu berhasil meluluhkan hatinya sekaligus membuatnya menyadari sesuatu. Cinta yang sebenarnya adalah dia yang selalu berada disampingmu, memberikan apa yang kau butuhkan bukan apa yang kau inginkan. Dia yang memandangmu berbeda dari orang lain yang menganggap remeh dirimu. Dia yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada dirimu. Dia yang dapat menemukan setitik kebaikan dalam dirimu ditengah kegelapan hidup yang kau jalani. Ciuman bukanlah pembuktian cinta, begitu juga kebaikan. Pembuktian cinta yang sebenarnya adalah, dalam keadaan terhimpit sekalipun dia tetap melindungimu tak peduli apapun yang terjadi. Tenten memang menemukan itu pada diri Itachi. Tapi satu hal yang membuat sang brunette benar-benar yakin bahwa Neji Hyuuga adalah pria yang akan menjadi pilihan terakhirnya. Hyuuga itu, memberikan seluruh ketulusan yang dia miliki hanya untuk Tenten. Semua yang Hyuuga itu perlihatkan selama Tenten tidak menghiraukannya hanyalah ketulusan murni tanpa ada maksud tertentu bahkan Kun dan Tenichi sekalipun.
Kakinya terus menapak melewati kerumunan orang yang tak melihatnya karena memang Tenten bukanlah sosialita terpandang. Jadi sangat wajar jika tidak ada yang mengenalinya.
Detik berikutnya Tenten terdiam. Maniknya mendapati seorang pria berdiri tak jauh didepannya. Mata lavender pria itu menatapnya dalam tanpa melepas senyumnya. Balutan tuxedo berwarna abu-abu metalic membalut sempurna tubuh atletisnya. Perlahan pria itu melangkah mengahampirinya yang masih terpaku ditempatnya.
Atmosfir di ruangan luas nan mewah tersebut membuat Tenten sesak. Manik indah bak berlian yang menatapnya tanpa henti seolah semakin membuat udara yang mengitari dirinya terasa menghangat bahkan menjurus ke panas. Keringat dingin yang entah bagaimana caranya keluar dari tubuhnya ketika sesaat kemudian pria itu merengkuh dirinya membawanya kedalam dekapan hangat yang tak pernah ia terima dari siapapun. Satu lengan kanannya berada di pinggangnya membawa dirinya makin larut dalam pesona sang pangeran berambut panjang, sementara tangan kirinya berada di kepala bagian belakang. Gadis itu sedikit berjinjit saat Neji semakin merapatkan jarak diantara mereka.
"Terimakasih untuk tidak membuatku kecewa." Desisinya halus tepat di telinga sanga brunette yang masih tak bergerak dalam pelukannya.
"N-Neji.."
Neji melepas pelukannya. Matanya memperhatikan Tenten dari mulai bawah hingga keatas. Tepat seperti yang Neji inginkan. Dress selutut dengan yang berwarna senada dengan tuxedo yang dia kenakan. Menambah kesan mendalam bagi Neji saat melihatnya. Sesaat ujung jemarinya mengenai bekas luka di bahu kiri Tenten yang tertutup sebagian. Merasa area lukanya di sentuh, Tenten mendongak menatap Neji.
"Aku baik-baik saja." Kata Tenten lirih dengan senyum kecut menghiasi wajahnya.
Gerakan cepat Neji yang berniat untuk melepas jas nya dihentikan oleh gadis tersebut. Kedua tangan Tenten mencengkeram erat lengan Neji.
"Hentikan. Jangan rusak penampilanmu hanya untuk menutupi luka ini. Ini acaramu, jangan buat namamu buruk dimata para tamu hanya untuk diriku."
"Berhentilah bicara Tenten. Aku tidak mau melihat seisi ruangan ini menggunjingkan lukamu itu."
"Kumohon. Bisakah kau mendengarkanku kali ini?"
Neji menghela nafas berat menatap malas sang brunette yang menampakkan senyum samar.
Detik berikutnya Tenten berdiri sempurna di atas kedua kakinya setelah benar-benar lepas dari Neji. Ia menyibakkan helaian rambut yang menghiasi sisi kepalanya ke belakang. Menyadari tatapan Neji yang tak juga lepas darinya.
'Ino, kau memang bisa di andalkan.' Batin Neji tersenyum samar.
"Ah, maaf jika penampilanku aneh." Kata Tenten menggaruk kecil tengkuknya yang bebas dari helaian rambut cokelatnya.
"Aneh apanya?! Kau terlihat sangat mengagumkan Tenten!" Seru seseorang menyergap cepat bahunya dari belakang.
Jelas Tenten lihat helaian pirang panjang menutupi sebagian bahu kanannya karena gerakan cepat dari seseorang. Tak lama setelah itu, seorang wanita bermata aquamarine menampakkan wujudnya melalui belakangnya.
"Ino benar. Kau terlihat sangat cantik." Puji Neji bersemu.
"Baiklah, aku akan melanjutkan pekerjaanku. Sebentar lagi acara akan dimulai. Aku kemari hanya ingin bertemu dengan pasangan pangeran. Dan lagi, baju ini sangat pas untuknya. Aku bangga desainku di kenakan olehnya." Kata Ino.
"K-kau yang bernama Ino?" Tenten menatap Ino terkejut. Ino mengangguk sesaat. "Dan tulisan itu..."
"Tulisan apa?" Giliran Neji yang melempar tatapan bingung pada keduanya.
"Ah, bukan tulisan apa-apa Neji." Ujar wanita pirang itu ragu. "A-aku harus pergi. Sepertinya Sakura membutuhkanku. Dan untukmu Tuan Putri, nikmati persembahan istimewa yang sengaja Neji buat hanya untukmu. Sampai bertemu lagi Tenten." Detik berikutnya baik Neji maupun Tenten sudah tak melihat keberadaan gadis itu yang sudah pergi ke backstage.
Gadis yang kini berpenampilan bak wanita sosialita tersebut menoleh cepat pada Neji bermaksud meminta penjelas dari pernyataan yang Ino lontarkan.
"Persembahan istimewa?... Untukku?"
Sang pria melempar wajah kesegala arah mencoba menghindari tatapan si brunette yang makin menajam. Sungguh Neji berharap bumi segera menelannya agar terhindar dari pertanyaan yang tak bisa ia jawab. Bukan tak bisa, lebih tepatnya ia enggan untuk menjawabnya. Karena bagi Neji, membuat acara semacam ini untuk wanita yang dia cintai harusnya bukan sebuah alasan yang mendasarinya. Ini keinginannya.
Fokus Neji untuk menghindari tatapan Tenten pecah ketika ia menyadari seseorang berdiri di sampingnya.
"Neji-san, selamat atas gelaran pameran busana ini. Sejauh ini acaranya sangat meriah dan berjalan lancar." Kata Hinata melontarkan senyumnya.
"Terimakasih Hinata. Kau juga ikut andil dalam semua ini. Tanpa bantuanmu, mungkin acaranya tidak akan semeriah ini." Kata Neji pada Hinata.
Wanita berambut indigo itu menyelipkan helaian rambut kebelakang telinganya dan beralih pada Tenten yang berdiri tepat di samping Neji.
"Tenten-san, kau terlihat sangat anggun sekali." Puji Hinata.
"Terimakasih Hinata-sama. Kau juga terlihat cantik dengan gaun putih tulangmu itu." Balas Tenten tak kalah ramah.
Neji menoleh kearah lain sesaat lalu mengangguk. Ia menatap kearah Hinata dan Naruto yang berdiri beriringan.
"Nikmati saja acaranya, ada sesuatu yang harus aku lakukan." Kata Neji pada pasangan Uzumaki tersebut.
Naruto dan Hinata mengangguk bersamaan.
"Tenten, jika kau tidak nyaman berada disini, kau bisa pergi ke ruanganku. Setelah urusanku selesai, aku akan segera menemuimu." Katanya sesaat lalu pergi.
Manik karamelnya menatap kepergian Neji yang berjalan kearah luar. Sementara Tenten masih betah memandang Neji, seseorang merangkul bahunya begitu saja dari samping. Membuatnya sontak terkejut dan nyaris menjerit.
"Kau sangat menawan malam ini, Tenten." Pujinya tanpa melepas rangkulannya.
Dug..
Satu kepalan tangan Naruto mendarat begitu saja pada dahi bagian kanan Menma. Pria berambut raven itu meringis dan mengaduh.
"Menma Baka! Bukankah kita sudah membicarakan masalah ini?!" Tukas Naruto memberilan penekanan nada.
"Aku tau.. aku tau. Kami adalah teman di luar restoran. Begitu juga disini. Bukan begitu Brunette?" Balas Menma santai.
"I-itu benar Naruto-sama. Kami hanya teman." Imbuh Tenten.
"Aku sudah tau duduk permasalahannya meski tidak semua. Tapi untunglah ketertarikanku padanya belum masuk ketahap yang lebih dalam. Jadi aku bisa sedikit menekannya. Jika saja Naruto tidak bercerita padaku, mungkin perasaanku akan berubah jadi cinta. Dan jika sampai itu terjadi, bukan hanya orang lain, bahkan dirimu sendiri pun tidak akan kuizinkan untuk memilikimu. Karena hanya aku yang berhak segalanya atas dirimu." Ujarnya menatap dalam Tenten.
Plakk..
Naruto menepis kasar lengan Menma dari bahu Tenten.
"Jangan bicara yang tidak-tidak Baka! Lebih baik kau pergi saja, cari wanita yang bisa kau jadikan mainanmu. Asal jangan Tenten, dia adalah berlian milik seseorang." Usir Naruto.
"Hyuuga Neji maksudmu?" Menma tertawa renyah dan kembali beralih pada Tenten. "Beruntunglah Neji yang menjadi pemilikmu Berlian Brunette. Yakinlah tidak akan ada yang berani menyentuhmu bahkan malaikat maut sekalipun." Goda Menma menyentuh sesaat dagu Tenten dan berlalu pergi.
"Jangan hiraukan perkataanya Tenten. Sebelum dia pergi kemari, dia sempat menenggak segelas Tequilla. Mungkin efek alkohol nya masih bereaksi hingga sekarang." Kata Naruto.
"Tidak apa-apa Naruto sama. Memang seperti itulah Menma yang kukenal." Ujarnya sembari tertawa ragu.
"Tenten, jika kau benar-benar tidak nyaman berada disini, kau bisa pergi keruangan Neji-san. Sebentar lagi acara akan di mulai. Jika kau tetap ingin disini, lebih baik kita mencari bangku sekarang." Tawar Hinata.
"Sepertinya aku akan pergi keruangan Neji saja. Kau benar, aku agak kurang nyaman berada disini. Ini bukanlah tempatku." Jawabnya menggosok kedua lengannya yang tak terbalut apapun.
"Baiklah, mari kuantar keruangan Neji-san." Hinata menggiring pelan Tenten.
"T-tidak perlu Hinata-sama, tunjukkan saja kemana arah ruangan Neji, aku bisa pergi seorang diri." Tolaknya halus.
"Jika itu maumu baiklah. Kau naik saja ke lantai paling atas. Ruangan terbesar dengan pintu dan dinding kaca di lantai tersebut adalah ruangan Neji-san."
"Terimakasih Hinata-sama, Naruto-sama. Aku akan pergi."
Tenten pergi meninggalkan Naruto dan Hinata. Kini yang harus ia lakukan hanyalah mencari lift dan pergi ke ruangan Neji. Entah apa yang sedang dirasakan Tenten tapi gadis itu ingin sendiri.
Selang 10 menit kemudian Tenten sudah menemukan ruangan yang dimaksud tanpa harus susah payah mencari walau baru pertama kali ia kemari. Matanya sudah melihat pintu kaca yang persis seperti Hinata katakan. Tanpa pikir panjang Tenten membuka ruangan tersebut yang terlihat terang seolah ada seseorang disana.
Benar dugaan si brunette. Seseorang sedang berada di dalam ruangan tersebut. Tepatnya ada dua orang disana. Awalnya Tenten tidak menyadari kehadiran orang yang lainnya, namun setelah mendengar suara kecil dari sudut ruangan, otomatis dia beralih dan mendapati seseorang lagi di sudut ruangan tepatnya di depan lemari kaca di salah satu dinding.
Satu dari dua orang tersebut sangat familiar bagi Tenten. Dan karena orang tersebut jugalah kini Tenten merasa es menjalari setiap inci kakinya. Ia membeku dengan nafas yang tertahan di dadanya.
"Sepertinya Neji bangga memilikimu. Kau di undang ke acara ini dan itu membuktikan semuanya." Katanya tajam dengan wajah datar namun terlihat begitu menusuk bagi Tenten.
"Me-memiliki? A-apa maksud anda Hiashi-sama?" Tanya orang yang lainnya menatap heran Tenten dan Hiashi bergantian.
"Sudah kuduga Neji tidak akan bercerita tentang gadis pencuri ini padamu."
Sekali lagi kata-kata yang di lontarkan oleh Hiashi terasa menusuk langsung ke ulu hatinya. Tanpa Tenten sadar sudut mata kanannya berair. Sesaat ia menggunakan jari telunjuknya untuk menghapus lelehan tersebut meski ia tau akan percuma.
"A-aku bukanlah gadis pencuri Hiashi-sama." Balasnya dengan suara bergetar.
"Bukan gadis pencuri untuk beberapa minggu terakhir bukan? Sejak ada Neji kau berhenti mencuri karena kau sudah mendapatkan target terbesarmu. Bukan begitu?"
"Tidak!" Sela Tenten gak sabaran. "Neji bukanlah target atau apapun yang kau katakan. Dia adalah Ayah dari kedua anakku!" Jawab Tenten dengan suara meninggi.
"A-anak?!" Teriak Matsuri terkejut.
"Tenanglah Matsuri, gadis ini hanya membual. Jangan pedulikan perkataanya." Timpal Hiashi pada Matsuri yang mulai panik.
Tenten memejamkan matanya menghirup pasokan oksigen sebanyak yang ia bisa. Kedua tanganya yang tadinya berada di pintu berpindah ke sisi tubuhnya dalam keadaan terkepal rapat.
"Maaf jika aku menyinggungmu Pak Tua. Tapi Neji adalah Ayah dari Kun dan Tenichi. Berapa kali pun kau mencoba menghibur wanita itu dengan perkataanmu, keadaan tidak akan pernah berubah. Dan satu hal yang harus kau tau. Neji Hyuuga adalah suamiku. Jadi jangan coba-coba untuk memisahkan kami. Kuharap kau mengingat itu Pak Tua." Lontar gadis itu dan segera berlalu dari tempatnya tanpa mempedulikan Hiashi yang menatapanya tajam juga Matsuri yang memandang kepergiannya dengan penuh tanda tanya.
"Hi-Hiashi-sama, a-apa yang gadis itu katakan? N-Neji sudah memiliki anak dan istri?" Tanya Matsuri terbata.
Kedua kaki Matsuri seketika lemas. Namun beruntung dia berdiri di dekat kursi Neji. Jadi tidak ada apapun yang terjadi karena Matsuri jatuh terduduk di atas kursi tersebut.
"Maafkan aku karena menyembunyikan semua ini Matsuri. Tapi aku akan tetap berusaha meyakinkan Neji agar tetap bersamamu." Tukas Hiashi dingin dan segera pergi dari sana.
Dalam diam, tangis Matsuri semakin menjadi. Gaun merah yang dia kenakan mulai basah dibagian dadanya karena lelehan air matanya. Tangan kanannya meremas rok bagian bawahnya hingga kusut. Giginya mengigit bibir bawahnya menahan pedih di hatinya.
"Inikah yang kau sembunyikan dariku? Kau keterlaluan Neji! Kau membiarkanku jatuh cinta pada suami wanita lain." Desisnya parau.
oOo
Kedua telapak tangan gadis brunette yang berdiri di ujung trotoar yang mulai sepi oleh lalu lalang kendaraan, menggosok cepat kedua lengannya yang tak terbalut apapun guna memberi sedikit kehangatan untuk tubuhnya. Jemarinya tak kunjung melepas lengannya dan malah mencengkeram bagian tubuhnya tersebut. Sesaat ia melihat lampu lalu lintas yang masih menyala merah untuk para penyebrang jalan. Wajahnya terlihat sedikit berantakan. Bekas air mata yang menggaris di kedua pipinya semakin memperjelas keadaanya. Ia mengigit bawahnya bergetar dan detik berikutnya ia melangkah melewati zebra cross di depannya setelah ia menyadari lampu hijau menyalang terang.
Sesekali Tenten mengigit ujung kukunya sembari terisak cemas. Ia tetap melangkah kemanapun kedua kakinya membawa dirinya. Namun setelah melewati dua trotoar yang tak jauh dari Mall keluarga Hyuuga, ia berhenti disebuah bar yang cukup besar. Entah apa yang ada dipikirannya, tapi ia merasa tertarik untuk masuk kesana.
Tak peduli apapun lagi, Tenten melangkah lebar dan melewati pintu kaca otomatis yang terbuka begitu ia akan masuk. Ia menyapukan pengelihatannya keseluruh ruangan. Suasana sangat ramai seperti bar-bar yang biasa ia masuki untuk menyembunyikan dirinya dari kejaran para aparat. Hanya saja yang berbeda, bar yang kali ini Tenten masuki hanya dikunjungi oleh mereka yang berpakaian rapi dan berpenampilan glamour. Beruntung bagi Tenten, berkat dress Ino, dia tidak di hentikan oleh para penjaga yang ada di depan.
"Uh~ Nona, kau cantik sekali. Cepol di rambutmu itu sangat menawan, cantik." Goda seorang pria yang setengah sadar sedang berjalan keluar dibantu oleh temannya yang membopongnya.
Tangan Tenten menepis kasar tangan pria mabuk tersebut yang hampir mengenai dagunya.
"Tolong jauhkan temanmu itu dariku, Tuan." Sergah Tenten pada pria yang membopong pemuda mabuk tersebut.
"Maaf Nona atas perlakuan tidak sopannya." Balasnya mempercepat langkah kaki mereka menjauhi Tenten yang perlahan masuk kedalam.
Gadis itu menghampiri meja panjang bartender. Tenten duduk di salah satu kursi kosong tepat di depan bartender yang sedang menunjukkan aksinya. Bartender yang menggunakan polo shirt warna putih tersebut hanya melihat Tenten sekilas lalu meletakkan botol minuman berwarna bening di tangannya. Bartender tersebut memandang Tenten dengan kedua tangan bertumpu diatas meja.
"Ada yang bisa kubantu nona?" Tanyanya dengan alis terangkat ramah.
Tenten membuang muka sesaat lalu kembali lagi. Ia masih menatap datar ke arah bartender meski derap musik jazz yang harusnya meningkatkan mood mengalun indah ditelinganya.
"Berikan apapun, aku akan meminumnya. Tapi jangan yang terlalu keras." Pintanya.
"Biar kutebak.. kau sedang stress dan datang kemari hanya untuk menghibur diri dan bukan untuk mabuk-mabukan, bukan begitu?"
"Iya Tuan Pengertian, bisa kau berikan itu sekarang?" Tukasnya tak sabaran.
"Baiklah, aku mengerti. Kelihatannya Cointreau sangat cocok untukmu saat ini. Sepertinya kami masih memiliki satu botol di ruang penyimpanan. Beri aku waktu 3 menit." Katanya berlalu pergi.
"Baiklah, cepat!"
Tak lama setelah itu, sang bartender kembali dengan sebotol Cointreau di tangan kanannya dan seember kecil es batu di tangan kirinya.
"Ini pesananmu Nona Manis." Ujarnya meletakkan botol berwarna cokelat tersebut di depannya disusul gelas crystal berukuran sedang.
"Terimakasih." Balas Tenten singkat.
"Tambahkan es batu untuk menetralisir kadar alkohol di dalamnya jika kau mau." Imbuhnya meletakkan ember stainless berisi bongkahan es batu kecil di dalamnya.
Lagi-lagi gadis itu hanya membalas dengan tatapan datar. Setelahnya ia menuangkan minuman beralkohol hingga mencapai setengah gelas dan menenggak cairan tersebut hingga habis tas bersisa. Kembali ia menuangkan minuman itu kedalam gelas dan meminumnya kembali. Hal tersebut terjadi hingga minuman tersebut terisisa tinggal seperempat botol.
Hampir setengah jam lamanya Tenten masih betah dengan kegiatannya tuang-tenggak-tuang-tenggak tanpa mempedulikan sekitarnya yang makin ramai karena sudah memasuki jam malam. Namun meski begitu, Tenten tidak merasa mabuk sama sekali. Entah karena urat mabuknya dalam tubuhnya sudah putus karena dibuat gila oleh Neji, atau memang bartender tersebut memilihkan minuman yang kadar alkoholnya rendah.
"Sudah kuduga ini akan Terjadi. Beruntung bukan Grappa yang ada di depanmu. Jika cairan itu yang kau tenggak, untuk mengangkat membuka kedua matamu saja mungkin kau tidak sanggup." Kata seseorang dari belakang.
Kedua mata Tenten melebar melihat kehadiran Itachi yang tiba-tiba duduk di kursi kosong di sampingnya. Kelopak mata Itachi menyipit lembut menatap Tenten yang masih terkejut karena kehadiran Itachi. Sesaat mata Itachi melihat sebagian luka yang ada di bahu gadis itu. Wajahnya berubah masam dengan tatapan penuh sesal.
"I-Itachi-san.."
"Jujur saja aku terkejut saat melihatmu disini." Katanya dengan senyuman samar.
"Aku juga terkejut melihatmu disini." Gadis itu membuang muka.
"Cukup lama aku tidak melihatmu. Dan saat melihatmu disini dengan penampilan seperti ini membuatku sedikit ragu untuk menghampirimu khawatir jika itu bukan dirimu."
"Pakaian ini membuatku tidak nyaman." Singkatnya sembari menarik ujung gaun bagian bawahnya.
"Tapi kau terlihat sangat menawan. Benar kata pria tadi, cepolmu terlihat sangat cantik. Aku suka." Puji pria itu memperhatikan cepolan satu tinggi diatas kepala Tenten. Pandangan Itachi turun kearah helain tipis rambut Tenten yang tak terikat di bagian sisi wajahnya. Menghiasi kedua pipinya menemani juntaian anting bermodel panjang di kedua telinganya.
"S-Sejak kapan Itachi-san berada disini?"
"Mungkin sejak satu jam yang lalu. Sebelum kau berada disini."
Lagi-lagi Tenten bergidik mendengar kata-kata Itachi.
"Kenapa kau ada disini? Bukankah acara masih berlangsung?" Tanya Itachi.
"Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman berada disana."
"Dan kau memilih tempat ini?"
Tenten mengangguk.
"Apa ada hubungannya dengan Neji?"
Gadis itu diam dan hanya menatap kosong gelasnya.
"Maaf jika aku terlalu ikut campur. Tapi aku sungguh tidak bisa melihatmu seperti ini. Terlebih selama aku mengenalmu, aku tidak pernah melihatmu masuk ketempat seperti ini dan menenggak minuman keras seperti itu."
"Tidak perlu merasa khawatir Itachi-san. Aku baik-baik saja. Baik tanpamu ataupun Neji, mungkin. Untuk saat ini, satu-satunya prioritas hidupku adalah Kun dan Tenichi. Mereka adalah anak-anakku."
"Apa itu artinya kau sudah menentukan pilihan?"
"..."
"Aku akan mencoba untuk menerimanya. Meski bukan hal yang mudah, tapi jika dengan membiarkan kau bersamanya sebagai tebusan atas dosaku padamu di masa lalu, aku akan merasa senang."
"Ah, s-sungguh.. aku tidak mempermasalahkan kejadian itu. Semuanya sudah terjadi dan telah berlalu bagiku. Jangan merasa bersalah Itachi-san, Demi Tuhan aku sudah melupakannya."
Itachi tertawa renyah menatap Tenten. "Kau bercanda? Kejadian seperti itu akan menjadi ingatan permanen dalam kepalaku. Seperti dirimu yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun."
Dapat Tenten lihat jelas semu merah di kedua pipi Itachi. Begitu juga sebaliknya, manik Itachi segera melebar ketika semburat di wajah Tenten muncul.
"Lalu, kenapa Itachi-san berada disini?" Tanya Tenten menggaruk tengkuknya ragu guna mengalihkan pembicaraan.
Pria itu menenggak sesaat minuman yang sejak tadi berada ditangannya sebelum menjawab pertanyaan Tenten.
"Aku di undang. Kupikir hanya Sasuke karena Sakura ikut andil dalam peragaan itu. Tapi tidak kusangka, undangan bertuliskan namaku terbujur indah di atas meja kerjaku minggu lalu." Jelasnya meletakkan gelasnya di atas meja.
"Lalu.. kenapa kau bisa ada disini?"
"Tadinya aku memang berada disana. Namun sama sepertimu. Sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat pelarian."
"Apa berhubungan dengan perusahaan?"
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya meng-iyakan pertanyaan Tenten melalui mimik wajah santai.
"Kuharap bukan hal yang besar."
Itachi mengarahkan wajahnya kearah lain menghindari tatapan sendu Tenten yang mengarah kepadanya.
"Apa aku salah?"
"Perusahaan mengalami kerugian besar." Balas Itachi singkat tanpa merubah posisinya.
"Kerugian?"
"Proyek besar kerjasama antara perusahaan Hyuuga dan Uchiha hancur total."
"Bagaimana bisa?" Tanyanya tercekat.
"Dana yang sudah kami alokasikan untuk pembangunan sebesar 75 persen dari penyediaan sudah kami berikan kepada perusahaan konstruksi yang ternyata fiktif. Perusahaan fiktif tersebut membawa kabur semua uang kami dan perusahaan-perusahaan besar lainnya yang terikat kontrak kerjasama dengannya."
"Itachi-san.."
"Semua ini salahku. Jika saja aku lebih teliti lagi, mungkin kejadian memalukan seperti ini tidak pernah terjadi."
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Itachi-san. Semua bertanggung jawab atas masalah itu." Gadis itu mengelus lembut bahu kiri Itachi.
"Terimakasih."
Tenten membeku ditempatnya. Ia mengingat kembali perkataan Itachi yang sempat menyebut nama Hyuuga. Itu artinya,
'Neji!'
Tap..
Kedua kaki Tenten yang tadinya menggantung segera menapak keras diatas lantai gelap dibawahnya. Ia lantas berlari keluar tanpa peduli panggilan bartender yang meminta uang pembayaran untuk minuman yang ia pesan. Juga tak mempedulikan panggilan Itachi yang menyerukan namanya.
"Biarkan dia pergi. Masukan tagihannya kedalam billku." Kata Itachi pada bartender yang masih menatap kepergian Tenten.
oOo
Tuk..
Gelas bening berisi air mineral bersuara pelan ketika sang pemilik meletakkan benda bening tersebut di atas meja kaca ruang tamu. Lelaki itu mengusap wajahnya menggunakan satu tangannya frustasi.
"Kau masih tak mau mengubah keputusanmu?"
Neji tetap bungkam mendengar pertanyaan terakhir yang Hiashi lontarkan sejak satu jam yang lalu.
"Wanitamu kacau Neji. Dia bukan gadis baik-baik." Imbuh Hiashi memandang tajam pria yang masih menunduk tersebut.
"Kau hanya melihat dari masa lalunya. Coba lihat sisi lain dari dirinya, dia gadis yang baik bahkan mungkin lebih baik dari Hinata."
"Omong kosong. Berani-beraninya kau membandingkan Hinata dengannya? Lebih baik kau pikirkan lagi keputusanmu untuk melanjutkan hidupmu dengannya daripada kau menyesalinya kelak."
"Tidak ada yang kusesali Hiashi-sama. Aku bahagia bersamanya dan kedua anakku. Sejak awal hingga akhir aku akan tetap seperti itu. Jadi kumohon berhentilah untuk menyodorkan Matsuri padaku. Aku sudah memiliki keluarga."
"Bukankah dulu kau sendiri yang memilih Matsuri? Tapi kenapa sekarang kau malah meninggalkannya dan memilih gadis tanpa asal-usul seperti istrimu."
"Tenten Hyuuga. Dia memiliki asal-usul dan jangan memanggilnya dengan sebutan 'wanita itu' dia memiliki nama dan juga marga."
"Marga Hyuuga bukan untuk wanita tak terdidik seperti dirinya. Kau tau kenapa aku ingin kau dan Matsuri bersatu? Karena keturunan wanita Hyuuga terakhir yang sudah menyandang marga Uzumaki, dan tidak lama lagi Hanabi juga akan mengganti nama marganya menjadi Sarutobi. Dan untuk menggantikannya, aku ingin wanita baik-baik yang sudah jelas asal-usulnya. Kau adalah harapanku untuk penerus generasi Hyuuga, Neji. Kau satu-satunya."
Neji berdiri cepat memandang Hiashi yang duduk di sofa tunggal.
"Hiashi-sama, Tenten adalah istriku. Mau seperti apapun kau berkata, kita sudah terikat di hadapan Tuhan. Jangan coba-coba menghinanya karena itu sama saja kau menginjak-injak harga diriku. Jika kau tidak suka padanya, lakukan apapun yang kau mau. Jangan kacaukan keluarga kami. Nafasmu adalah Hinata dan Hanabi, begitu juga Tenten, dia adalah nyawaku. Aku tidak peduli kau mengambil semua yang aku miliki, tapi untuk Tenten.. tidak akan kubiarkan orang lain menyentuhnya bahkan dirimu sekalipun." Pria itu berbalik melangkah pergi menuju kamarnya di lantai atas. "Dan satu lagi.. Dia adalah Tenten Hyuuga bagaimanapun keadaanya. Hyuuga yang tersemat pada namanya bukanlah dari namamu atau Hyuuga yang lainnya. Tapi dari namaku dan mendiang Ayahku. Hisashi Hyuuga."
Kata-kata tersebut menjadi kalimat terakhir Neji setelah sekian lama berargumen dengan Hiashi. Ia melangkah cepat menuju kamarnya dengan mimik wajah tak karuan. Sudah cukup ia mendengar kerugian yang di alami perusahaanya. Rencananya pulang untuk menenangkan diri malah menjadi lebih parah karena Hiashi sudah menunggunya untuk meneceramahinya. Sangat memuakkan bukan?
Brakk..
Pria itu membanting pintunya begitu ia sudah berada di dalam kamar. Kedua tangannya terkepal dan matanya menyalang geram. Ia melepas kasar jasnya lalu melempar benda tersebut begitu saja ke atas ranjang.
"Aw.."
Suara rintihan kecil jelas terdengar bersamaan dengan mendaratnya potongan jas tersebut di atas ranjang. Manik lavender Neji melebar ketika ia mengetahui kedua anaknya berada di balik jas tersebut.
Perlahan Kun dan Tenichi menurunkan jas tersebut dari wajah mereka. Ekspresi takut bercampur khawatir mereka tampakkan.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Neji terkejut.
"A-aku takut pada Hiashi-sama. Maka dari itu kami kemari." Kata Kun serak.
"Kami kemari karena khawatir pada Tousan." Imbuh Kun meralat perkataan Tenichi.
Pria itu tekekeh kecil lalu duduk di bawah ranjang dengan kedua kaki terbujur. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Kun dan Tenichi untuk mendekat. Kedua bocah tersebut mendekat lalu meletakkan dagu mereka diatas bahu Neji. Pria itu memeluk kepala mereka hangat.
"Tousan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir." Ujar Neji mencium puncak kepala keduanya bergantian.
Tangan kecil Tenichi memeluk leher Neji dari belakang. Disusul Kun yang mengalungkan kedua tangannya di dada Neji. Pria itu terpejam pelan merasakan pelukan hangat dari kedua anaknya. Perlahan kepalanya ia sandarkan pada ranjang.
"Tousan sangat menyayangi kalian." Lirih Neji diiringi hembusan nafas berat.
"Kami juga." Sahut mereka bersamaan.
"Tidak ada yang perlu di takutkan anak-anak. Selama Tousan berada disini, tidak akan ada yang bisa menyentuh kalian berdua. Ingat itu." Imbuh Neji mengecup puncak kepala kedua anaknya bergantian.
"Dimana Kaasan?" Tanya Tenichi.
"Dia mungkin sedang di peragaan busana bersenang-senang dengan orang-orang disana."
Klikk..
"Neji.." Lirih seseorang membuka pintu kamarnya.
"Kaasan!" Seru Tenichi.
Mendengar teriakan Tenichi, Neji sontak bangkit dan membuka kedua matanya.
"Tenten."
Gadis itu duduk tepat di depan Neji dengan kaki bersimpuh. Sementara Neji membenarkan posisinya dengan duduk bersila tanpa melepas sandarannya pada tepi ranjang.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Neji.
"Aku khawatir denganmu." Balas Tenten dengan nafas memburu.
Mata Neji beralih pada kedua kaki Tenten. Salah satu heels di sepatunya patah.
"Kenapa dengan kakimu?" Tanya Neji lagi dengan wajah menyelidik.
Tepat setelah Neji bertanya, Tenten merasakan nyeri di punggung kakinya. Ia lantas melepas sepatu yang masih di kenakannya disertai sedikit ringisan. Jelas terlihat garis merah lecet di kaki putih sebelah kanannya setelah benda tersebut lepas dari kakinya. Ia mendelik sesaat sembari memijat kecil kakinya.
"Aku berlari tadi. Hanya sedikit lecet tapi aku baik-baik saja." Kata Tenten menghibur ketiga manusia di hadapannya.
Tenten lalu melepas sepatu di kaki kirinya. Lagi-lagi ia melihat luka melepuh di bagian belakang tungkainya. Ia mengigit bibir bawahnya menahan sakit.
"Ini juga luka kecil. Sebentar lagi juga pasti sembuh." Imbuhnya terkekeh.
"Kaasan kau terluka." Kata Tenichi melepas rengkuhannya pada Neji lalu turun mendekati Tenten dan duduk tepat di sebelah kaki gadis itu.
"Kaasan baik-baik saja Tenichi." Gadis itu menepuk pipi Tenichi lembut.
Neji masih betah menatap Tenten dalam diam. Hatinya berkecamuk melihat gadis di hadapannya dengan keadaan yang sangat kacau. Helaian rambutnya mencuat kemana-mana, heels sepatunya patah, dan mini dress yang terlihat basah karena keringat. Apakah salah jika Neji menganggap Tenten sudah memiliki perasaan yang sama seperti apa yang dia rasakan?
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Neji singkat.
"Aku khawatir padamu."
"Hanya itu?" Sebelah alis Neji terangkat.
Tenten mengangguk.
"Kun, Tenichi, tidurlah. Ini sudah larut. Besok kalian harus pergi kesekolah." Kata Neji pada kedua anaknya.
"Tapi bukankah Kaasan butuh obat? Biar aku ambilkan." Balas Kun turun dari ranjang Neji.
"Biarlah Kaasan menjadi urusan Tousan. Kalian cepatlah tidur." Sergah Neji tak sabaran.
"Baiklah." Jawab Kun dan Tenichi serentak diiring anggukan lemah. "Selamat malam Tousan, Kaasan." Kata mereka sesaat sebelum mereka keluar dari kamar Neji.
"Selamat malam." Balas Neji.
"Baiklah kalau begitu, aku harus menidurkan mereka. Aku senang kau baik-baik saja." Gadis itu beranjak berdiri sedetik setelah pintu kamar tertutup.
Brukk..
Tanpa Tenten sadari, Neji menarik tangan kanannya begitu ia setengah berdiri untuk duduk di pangkuannya. Tepatnya di tempat kosong di antara kaki dan tubuhnya. Terkejut? Tidak perlu ditanya. Tenten merasa dirinya di serang stroke ringan ketika ia menyadari dirinya kini duduk di tengah kaki Neji yang bersila diatas lantai.
"Siapa bilang aku baik-baik saja?" Desis Neji tepat di telinga Tenten.
"N-Neji, Kun dan Tenichi menungguku." Lirihnya dengan mata terpejam rapat.
"Malam ini bukan mereka yang membutuhkanmu. Tapi aku. Temani aku malam ini."
"T-tapi.."
Kedua tangan Neji melingkari pinggang Tenten. Deru nafas sang Hyuuga yang terdengar sangat tipis mengenai bagian tengkuk sang brunette yang bebas tanpa sehelai rambut pun. Sesaat kemudian Neji meletakkan dagunya diatas bahu kiri Tenten tanpa melepas wajah lelahnya.
"Banyak yang kulalui hari ini Tenten. Hanya kau yang aku butuhkan." Ujarnya dengan mata terpejam.
"N-Neji, baiklah kita bicara. Tapi jangan seperti ini." Gadis itu berkata gugup.
Tidak mempedulikan Tenten, Neji malah makin mengeratkan rengkuhannya.
"Jika ini masalah perusahaan, aku sudah mendengarnya. Jika ada yang bisa kulakukan, aku akan melakukannya."
"Cukup berada di sisiku selamanya. Aku butuh nafasmu untuk menopang jantungku."
"Bagaimana dengan wanita itu? Sepertinya dia sangat mencintaimu?"
"Matsuri? Aku sungguh tidak peduli padanya. Hanya kau yang aku inginkan."
"Lalu Hiashi-sama?"
"Persetan dengannya. Dia bukan Ayahku. Dia tidak berhak mengaturku."
"Neji, aku.."
Pria itu melepas pelukannya membuat Tenten berhenti bicara. Ia memberi jarak antara wajahnya dan Tenten agar akses untuk melihat gadis itu tak terhalangi.
"Sejak kau berada disini, kau tidak pernah sedikit pun mengizinkaku memejamkan mataku, kau tidak pernah membiarkan sedetik pun otakku untuk berpikir hal-hal yang lain selain dirimu. Jika orang lain membutuhkan nafas untuk mereka hidup, maka aku membutuhkanmu."
Kedua tatapan mereka semakin dalam. Udara di sekitar ruangan yang semula dingin menjadi hangat. Mereka dapat merasakan debaman jantung mereka masing-masing. Keringat dingin Tenten mengucur deras di dahinya. Sementara Neji masih tak bosan memandang penuh wajah gadis yang sangat ia cintai.
"Kau merebut semua yang aku miliki. Hatiku yang hanya berisi tentang dirimu, waktuku yang kuhabiskan untuk memikirkanmu, ingatanku yang kau buat hanya mengingat dirimu seorang. Tidakkah kau sadari kau adalah wanita paling egois yang pernah kukenal."
Ujung jemari Neji melepas ikatan cepol yang menahan rambut Tenten agar tidak terurai. Sedetik kemudian rambut panjang cokelat tersebut tergerai. Mengeluarkan semerbak wangi buah dan mengisi paru-paru Neji. Membuat pria itu makin gila rasanya.
"Tanpamu, bukan hanya Kun dan Tenichi yang tidak bisa hidup, aku juga bisa mati.. jika kau berada di pelukan orang lain."
"N-Neji.."
"Tetaplah disini, bersamaku. Aku memohon bukan untuk Kun ataupun Tenichi. Aku meminta untuk diriku sendiri. Kau adalah sisi lain dari diriku yang tidak akan pernah bisa kulepas bahkan hingga aku mati sekalipun."
Pria itu menyentuh permukaan luka di bahu Tenten yang menonjol dengan tatapan nanar. Setiap ujung jarinya bergerak di permukaan tersebut, Tenten merasa darahnya berdesir tidak karuan. Sensasi geli membuat bulu roma di tangan dan tengkuknya seketika berdiri.
"Maaf jika aku selalu kasar padamu disaat pertama kali kita bertemu. Aku bahkan mengancam akan merebut kesucianmu hingga membuatmu takut berada di dekatku. Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu. Membuang semua hal buruk di masa lalu antara kau dan aku. Mengubahnya menjadi sesuatu seperti yang kau inginkan."
Gadis itu mengarahkan tubuhnya kesamping. Ia mengehentikan maniknya tepat di mata Neji.
"Jangan membual Neji, apa yang kau harapkan dari gadis sial sepertiku?" Tukasnya tajam dengan suara lirih.
"Siapa yang kau sebut gadis sial? Aku tidak peduli kau gadis sial atau gadis pendosa sekalipun. Yang aku tau hanyalah aku mencintaimu."
"Itachi-"
"Jangan bicarakan dia! Akan kupatahkan lehernya jika berani merenggutmu dariku dan anak-anakku." Sela Neji dingin dan tajam.
"Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah dulu kau sangat membenciku?"
"Aku tidak pernah membencimu. Aku hanya terkejut karena keadaan yang tidak masuk akal seperti ini tiba-tiba terjadi padaku."
"Katakan sesuatu untuk meyakinkanku bahwa memilihmu adalah pilihan terakhirku."
Tangan Neji naik. Di letakkan kedua telapak hangat itu pada kedua pipi Tenten yang menatap kosong lantai di bawah mereka. Neji mengarahkan kepala gadis itu untuk menghadapnya. Sedetik kemudian kedua dahi manusia tersebut beradu. Manik karamel menutup gugup, sementara sorot dalam dari mata lavender menatap penuh kasih sang gadis pencuri yang tak pernah ia bayangkan masuk kedalam hidupnya.
"Aku.. mengerti apapun yang tidak kau katakan, mendengar apapun yang tidak kau ucapkan. Aku, tidak pernah memandang kekuranganmu sebagai kelemahan melainkan sebagai sebuah keindahan. Kau.. ada di hatiku, ada dalam jiwaku, ada di setiap nafasku dan ada di dalam cinta itu sendiri."
Gadis itu terkekeh remeh tanpa membuka matanya.
"Dunia keras yang kulalui selama ini membuatku belajar sesuatu untuk tidak terlalu dalam mencintai, tidak terlalu dalam untuk percaya, dan tidak terlalu berharap lebih, karena semua itu mampu melukaiku lebih dalam. Karena cinta itu seperti api. Kita tidak tahu apakah dia akan menghangatkan atau malah akan membakar."
"Lalu katakan padaku, bagaimana caranya untuk memadamkan api itu? Aku benci pada tidak seimbangnya antara temu dan rindu, aku benci kau yang tak kunjung sadar bahwa aku menunggumu. Cinta sepihak ini membunuhku." Neji bersuara parau.
"Aku tidak tau bagaimana caranya untuk membuatku yakin untuk memilihmu. Tuhan tidak merancang pikiranku untuk mengetahui apa yang aku inginkan dari pria yang kucintai sementara beralas tikar pun aku akan bahagia bila itu bersamanya. Namun untuk saat ini, cukup menjadi Ayah yang baik bagi Kun dan Tenichi. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Lengan Tenten yang sedari tadi berada disisi tubuhnya, terangkat keatas melingkari leher Neji. Ia memusnahkan jarak diantara mereka dengan mendekap hangat sang Hyuuga di atas pangkuan pria tersebut. Kedua bahunya naik perlahan menyamankan posisi tubuhnya pada Neji. Sesaat setelahnya Tenten merasa dua tangan kekar naik kepunggungnya.
"Aku akan melakukannya tanpa kau minta."
Gadis itu melepaskan pelukannya. Kedua tangannya berpindah ke tengkuk Neji.
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat besok. Bagaimana menurutmu?" Serunya berbinar.
"Kemana?"
"Kemanapun aku membawamu."
"Hanya berdua?"
"Tidak. Tentu saja dengan Kun dan Tenichi."
"Oh ayolah, aku ingin berdua saja."
"Belum lima menit kau bersumpah akan menjadi Ayah yang baik untuk Kun dan Tenichi."
"Baiklah baiklah, kita berempat."
"Bagus." Balas Tenten puas dengan senyum mengembang. "Baiklah, sepertinya sudah saatnya untukku lepas dari posisi ini." Ujar Tenten dengan senyum kecut.
"Tidak. Kita akan seperti ini sampai batas waktu yang belum kutentukan." Jawab sang Hyuuga santai.
"J-jangan bercanda Neji. Aku butuh baju ganti, aku kedinginan dan tidak nyaman menggunakan baju ini."
Blatz..
Jas Neji yang tadinya berada di atas ranjang berpindah cepat membalut punggung Tenten setelah pria itu menyambar dengan sebelah tangannya.
Tenten merona padam begitu kepalanya direngkuh perlahan kearah dada Neji. Semakin pucat ketika Neji berdesis lirih tepat di telinganya.
"Hangatkan aku.. Tenten Hyuuga."
To Be Continued..
Huhah~ Ran kembali lagi :)) Roman-romannya bakal ada fanfic yang akan tamat ya, mengingat NejiTen yang sudah.. Ah sudahlah, bukan di chapter depan kok tamatnya :"D Maafkan Ran yang tidak bisa fast update. Kesibukan Ran dan tanggungan fanfic lain yang juga belum rampung menjadi alasan kenapa Ran nggak bisa fast update :")) Well, gimana dengan chapter ini? Semakin nista kah X"D
Leny Chan: Ehehehe~ sepertinya agak susah kalo update kilat. Tapi jangan khawatir, Ran bakal terus update kok :))
Nazlia Haibara: Iya, enak banget kayanya jadi Tenten ya :"D Eh, first kiss Tenten sama Itachi? Nazlia coba deh baca lagi chapter 4 Di situ Neji udah nyosor Tenten duluan kok :")) Noh..noh.. udah pada ngakuin perasaan masing-masing :"D Ciee~ Tenten udah ngakuin perasaannya ciee~ *di jyuken*
Sooya: Syukurlah Tenten udah suka sama Neji :"D Ambivalence akan di lanjutkan setelah fanfic ini. Di tunggu ne :))
Arigato: Hai hai~ Arigato juga udah baca dan untuk review nya :))
FyCha HyuuRa: Itachi akan mundur pelan-pelan dari Tenten. Mungkin di chapter yang akan datang ada scene mereka berdua untuk membicarakan itu :)) Maafkam kalo tidak update kilat T.T *di lempar tombak*
Shikadaii: Ow ow ow~ Scenen keluarga kecil itu? :3 Ada doonngg pastii~ XD Tunggu ne :"D
Rossadilla17: Hu'um, saking cintanya sampe nanya-nanya kaya gitu. Terharu deh jadinya *mewek* Iya, jujur biar nggak di embat sama orang lain :"D Neji posesif amat yak :v
Sherry Ai: Neji tidak akan tau hohoho~ XD Nggak ngebayangin kalo Neji sampe tau. Bisa-bisa Ran di lempar ke planet mars. Secara yang bikin adegan kissu Itachi Tenten kan Ran X"D Boleh dibungkus. Mau pedes apa enggak? XD
Shinji R: Lagi-lagi nggak update kilat T_T Gomen ne
SriBiyondo: Perlu pelemasan sepertinya :"D Gomen tidak bisa update cepat. Terkendala kesibukan T.T
Marin Choi: Yosh! Ran aja tanpa embel-embel senpai :")) No~ nggak perlu minta maaf Marin-san :)) Well, nggak bisa update kilat seperti sebelumnya :"D Tapi Ran akan berusaha untuk update secepat mungkin kok *di gorok*
Yuni: Ran juga minat sama ItaTen. OTP awal semenjak nonton Naruto :"D Tapi setelah tau canon pair nya, pupus sudah harapan Ran untuk ItaTen :"D Ahaha~ tadinya mau di update 20 chapter sekaligus, tapi takut Yuni-san gumoh nanti :"D *nggak deh. chapternya nggak sebanyak itu*
Anna: Peran Kun dan Tenichi Ran simpan untuk chapter depan. Chapter ini perbincangan keluarga kecil ini hanya untuk pemanasan :"D *minta di tendang* No~ kemungkinan nggak akan sampe 15 chapter kok. Ran nggak bisa bikin fanfic sepanjang itu :"D
Hera: Tenten sudah mengakui juga kalo dia suka sama Neji XD *tebar confetti*
RanMegumiKWSuper: Iyes~ Tenten hanya butuh sedikit dorongan :"D No fast update Ran-san :3 Gomen
Riyah Septia: Hiya~ terharu :"D Kenapa Itachi sama Tenten di pairkan? Karena Ran suka mereka :"D Mereka sama-sama jago kalo soal senjata. Sama-sama fokus kalo udah di medan tempur. Sama-sama pengguna benang chakra untuk pengendalian segalanya XD Maka dari itu Ran suka :)) NejiTen romance.. yang di atas masih kurang ya? Tunggu chapter depan ya :")) Ehehe~ seiring berjalannya waktu konfliknya akan hilang dengan sendirinya kok :)) Fanfic tanpa konflik kaya Neji tanpa Tenten, Hampa X"D
Nunut: Maaf kalo nggak update cepet. See you di next chapter Nunut-san :"))
Yosh! Ran ucapkan terimakasih untuk reader yang berkenan untuk membaca dan meninggalkan review untuk fanfic abal ini :")) See you minna-san :"D
Log in? Cek PM ;))
