Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

Notes: Tentang Andromeda Black, aku bener2 gag terlalu tau banyak soalnya di HP Lexicon juga kurang keterangannya. Jadi disini aku bikin Andromeda di Hufflepuff, pokoknya asli ngarang semua haha.. Maaf bangetttt yah buat penggemar Andromeda. Disini juga aku bikin Lucius seeker-nya Slytherin. Trus, susah ngebayangin Lucius kaya banget cuma karena warisan sama barang-barang antik (di dunia sihir ada saham gag ya?haha). Jadi aku tambahin disini bisnis keluarga Malfoy juga termasuk usaha permata dan tuan tanah. Yang kayaknya pantes banget sama kegiatan socialite dan philanthropist (dalam kasus keluarga Malfoy artinya uang suap,hehe) mereka. Well, hope u enjoy it!

The Black Queen

Chapter 10

The Girl and Severus Snape

Narcissa kembali ke hiruk pikuknya sekolah sambil memasang mata setiap kali dia sarapan di aula besar. Dia mencari Andromeda. Dan kakaknya itu sama sekali belum nampak bahkan setelah dua minggu semester baru dimulai.

Narcissa memutuskan bahwa Ted Tonks menemukannya dan membawanya kabur, seperti perintah Narcissa waktu itu. Narcissa merasa bersalah lagi dan tidak tahu mana dugaannya yang lebih buruk, pemikiran bahwa Andromeda tidak menyelesaikan pendidikan atau kawin lari dengan darah-lumpur bahkan saat belum tujuh belas tahun. Tiba-tiba Narcissa merasa sangat bersimpati pada ibunya dan memutuskan akan membiarkan ibunya memeluk dan membasahi bahunya selama apapun.

Para guru sudah mulai membebani mereka dengan PR dan latihan yang begitu banyak. Seolah liburan kemarin tugas-tugas itu menumpuk dan sekarang terancam meledak. Narcissa sangat sibuk sehingga perhatiannya teralih. Baik itu tentang si mutan sihir teman Lucius maupun Lucius sendiri. Dan kata-kata Genevive di kereta segera terhapus dari pikirannya, walau tidak secara permanen.

Severus Snape, yang kini kelihatan agak bersih berkat jubah baru dan pencuci rambut dari Narcissa, menyambutnya dengan gembira. Mereka sudah hampir selesai merebus ramuan-ramuan yang ada dalam materi OWL Narcissa.

Narcissa dan Snape kembali ke ruang rekreasi Slytherin dengan riang pada jumat malam. Narcissa akhirnya berhasil membuat Ramuan Penguat-nya dengan sempurna dan merasa kesempatannya untuk mendapat nilai bagus belum pernah sebaik ini.

Ruang rekreasi malam itu tampaknya di dominasi oleh anak-anak kelas lima dan tujuh. Mereka duduk di hadapan meja penuh dengan selebaran dan pamflet.

Narcissa berpisah dengan Snape sambil tersenyum, lebih karena berterimakasih daripada apapun ketika matanya menangkap Lucius menatapnya. Dia sedang, seperti biasa, dikelilingi kelompoknya. Dan juga Bellatrix. Mungkin sedang merencanakan pencurian darah-lumpur berikutnya. Narcissa tidak bereaksi apapun melainkan langsung berjalan menghampiri teman-temannya.

Yvonne dan Genevive tampak sibuk memilah ratusan selebaran, sedangkan Eva membuat ruang kosong tanpa kertas apapun di meja untuk mengecat kukunya.

"Cissy, jadwalmu untuk konsultasi karir." dia mengedikkan kepala ke tempelan memo di agendanya yang terbuka.

Narcissa mencabut memo merah muda dan melihat jadwalnya. Lalu mendesah,

"Senin jam sembilan pagi. Sekarang aku tahu kenapa orang-orang membenci hari senin!"

"Itu bukan tes OWL. Hanya konsultasi karir. Tidak akan susah-susah amat, kan?" komentar Eva sekarang mengipasi kukunya dengan salah satu pamflet.

Narcissa diam saja, punggungnya tenggelam di sofa. Segala hal membanggakan yang dilakukan Narcissa untuk mendapatkan nilai baik tidak akan mempesona Professor Slughorn apabila dia sendiri sama sekali belum tahu apa yang akan dilakukannya setelah keluar dari Hogwarts.

"Kau tahu, kita sebenarnya tidak perlu bekerja lagi. Kita pewaris keluarga. Harta kita tidak akan habis dalam tujuh turunan..." kata Eva santai seolah menjawab pertanyaan batin Narcissa.

"Bagaimana kalau semua keluarga berpikir sama dan harta kita akhirnya habis juga?" Genevive menanyakan pertanyaan yang cerdas sambil tetap memilah pamflet dengan cemas.

"Untuk itulah kita menikahi cowok kaya, Gen..." balas Eva sekarang mulai mengecat kuku kakinya.

"Aku juga berpikir demikian." komentar Yvonne sementara matanya masih tetap berfokus pada selebaran di depannya. " Tapi pikiran tentang diam di rumah untuk mengurus suami dan anak saja sudah membuatku mengantuk. Kupikir aku mau menjadi kolumnis di Daily Prophet..."

"Ya, kolumnis politik yang membosankan!" potong Eva, lalu ketiganya cekikikan.

Narcissa pastilah mulai melamun karena Yvonne tiba-tiba menjentikkan jari di depan wajahnya, membuat Narcissa kaget.

"Yah! Kupikir itu ide bagus..." kata Narcissa berusaha santai lagi. "Kolumnis politik... penuh konspirasi. Orang-orang akan mencintaimu atau menginginkanmu mati."

Narcissa bangkit dan mulai mengumpulkan nyawanya untuk membaca pamflet-pamflet itu. Segera menyingkirkan selebaran Jadi kau tertarik bekerja bersama Muggle? dari hadapannya.

"Kurasa Professor Slughorn akan cukup terkesan kalau kau bilang cita-citamu merawat kebun Malfoy Manor dan merak mereka, Cissy..." sindir Eva membuat Yvonne dan Genevive tertawa terbahak.

"Atau mengorganisir barang-barang antik mereka. Perawatan berlian tidak mudah, kau tahu? Begitu juga bertransaksi dengan goblin-goblin licik..." sambung Yvonne disela-sela tawanya.

"Hei! Aku tidak akan menikahi Lucius Malfoy!" protes Narcissa gerah, matanya mau tidak mau memandang ke ujung ruangan, khawatir Lucius akan mendengarnya.

"Belum..." Yvonne mengoreksi sambil nyengir di balik pamflet Daily Prophet-nya.

Narcissa sudah akan membentaknya tapi dia sudah keduluan Eva,

"Cissy, tidak seorang pun berkata 'tidak' pada Lucius. Kau kan mengakuinya sendiri waktu di kereta..."

"Oke! Oke!" potong Genevive melerai ketika melihat wajah Narcissa memerah siap meledak. "Kita bicarakan itu nanti. Bagaimana dengan pesta Valentine Professor Slughorn? Tinggal seminggu lagi. Kita bisa pergi bersama?"

Genevive yang baik hati dan polos berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi dia hanya menambahkan minyak pada api menurut pendapat Narcissa.

Yvonne nyengir lebih lebar mendengarnya,

"Maaf, Gen. Kupikir kau harus cari pasanganmu sendiri. Aku sudah diajak Wentworth Montague kemarin!"

Eva dan Genevive memandang Yvonne dengan mulut ternganga. Narcissa samar-samar mengingat seorang anak laki-laki Slytherin yang kelebihan hormon langsung menyadarkan mereka,

"Montague kelas tiga, Yvonne!"

"Jadi?" kata Yvonne mengangkat bahu. "Kau sudah lihat tubuhnya, kan? Bahkan Michelangelo-nya muggle tidak bisa memahat seperti itu."

Mereka bertiga cekikikan lagi.

"Oke, kurasa aku akan mengajak Regulus Black. Kalau itu tidak apa-apa bagimu, Cissy?" Eva bertanya pada Narcissa yang sekarang membelalakkan matanya. " Dia tinggi untuk ukuran anak kelas satu... Dan aku akan senang sekali kalau bisa mengacak-acak rambut hitam lembut warisan keluarga Black-nya... Well, tidak bermaksud menyindir yang pirang ya..." Eva menyeringai memandang rambut pirang Narcissa, yang kini orangnya sendiri sedang berusaha mengatur nafasnya.

"Kalian menikmati mempermainkan aku, ya?" tanyanya sinis.

"Ayolah, Cissy... Kalau kau tidak bisa mengatasi kami, nanti kau akan kesulitan menarik pajak dari tanah milik Lucius!" goda Yvonne sekarang merasa kesenangan.

Narcissa mulai tersenyum lebar karena menyadari mereka sedang bercanda. Yang menyenangkan sebetulnya. Dia jarang merasakan ini sebelumnya.

"Bagaimana denganmu, Cissy?" tanya Eva. "Kau tidak bisa mengajak Gen karena nanti orang-orang akan mulai bertanya..."

"Sori, Gen..." kata Narcissa menatap Genevive dengan sayang, memutuskan untuk ikut serta dalam acara bergurau mereka.

"...dan kau juga tidak bisa mengajak Severus Snape. Kasihan anak sebaik itu kalau dihajar Lucius..."

"Apa?" tanya Narcissa, sekarang kaget, senyumnya menghilang.

"Ya... menurutku kau tidak bisa mengajak siapapun karena mereka pasti tidak mau, takut kepada Lucius. Mungkin kau harus mengajak Lucius sendiri..."

"Tunggu! Tunggu!" seru Narcissa panik kepada Eva. "Apa katamu tentang Snape? Apa yang membuatmu berpikir demikian? Hanya karena kalian mengambil kesempatan dari anak-anak junior bukan berarti aku sama saja!"

"Oh, Cissy... Orang-orang sudah mulai bergosip, tidak tahukah kau?" tanya Eva memandangnya prihatin. "Dia mengikutimu seperti anak anjing dan kau memperlakukannya dengan sayang..."

Baik Yvonne maupun Genevive ikut tertawa juga sekarang. Narcissa langsung berdiri dan mengambil tasnya.

"Baik! Itu sudah cukup. Snape? Eugh! Itu yang terbaik yang kalian punya? Aku mau tidur!" sentaknya lalu berbalik meninggalkan mereka.

"Mereka tetap tidak akan membayar pajaknya meskipun kau merajuk, Cissy!" teriak Yvonne sambil terbahak yang sekarang pasti terdengar oleh semua anak di ruang rekreasi.

Narcissa berlari memasuki kamarnya dan memutuskan bercanda dengan mereka benar-benar ide buruk.

.

.

.

Narcissa terbangun keesokan harinya dengan perasaan gelisah. Dia tidak habis pikir kenapa orang-orang bisa menggosipkannya dengan Snape. Narcissa merasa tersinggung. Dia salah satu dari gadis-gadis yang tercantik di Hogwarts, menurut pendapatnya. Dan mereka menghubungkannya dengan Snape? Ini penghinaan. Narcissa tahu Snape baik dan pintar. Tapi tetap saja.

Narcissa bangkit dari tempat tidurnya, segera mandi dan bersiap-siap. Dia ke ruang rekreasi yang masih kosong lalu menunggu Snape. Matanya terpicing pada lorong yang menuju kamar-kamar anak laki-laki.

Sudah banyak anak-anak yang bangun dan menuju aula besar untuk sarapan sekarang. Narcissa masih menjulurkan kepala untuk mencari Snape ketika terdengar teriakan Genevive kepadanya,

"Cissy! Kau mau nonton latihan Quidditch tidak?"

"Kalian duluan! Sediakan aku tempat!" Narcissa balas berteriak sementara matanya masih mencari-cari.

Lalu Snape keluar bersama teman-teman sekelasnya. Narcissa bangkit dan menghampiri Snape.

"Hai, Snape!" Narcissa melambaikan tangannya meminta perhatian. "Boleh bicara sebentar?"

Entah kenapa wajah Narcissa memerah saat mengatakan ini, mungkin karena sekarang Snape tersenyum canggung dan teman-teman sekelasnya membelalak menatap Narcissa.

"Tentu... Tentu, Cissy!" kata Snape menghampirinya. Narcissa yang sejak sebelum Natal belajar Ramuan kepada Snape, telah memintanya memanggil Narcissa dengan nama kecilnya. Karena 'Miss Black' membuatnya kedengaran seperti Bellatrix. Tapi Narcissa masih memanggilnya 'Snape' karena memanggilnya 'Sev' membuatnya kedengaran seperti si darah-lumpur Lily Evans. Apapun hubungan Snape dengan Lily Evans.

Narcissa mengajaknya ke pojok perapian. Lalu memandang Snape dan bingung harus mulai darimana. Dia melihat Snape sekarang menatapnya seolah Narcissa adalah 'tuannya', yang membuat Narcissa teringat komentar Eva semalam. Narcissa mengalihkan pandangannya.

"Snape, aku minta maaf sebelumnya. Aku akan langsung jujur padamu." kata Narcissa memulai.

Snape tampak bingung sekarang, "Ada apa, Cissy?"

Narcissa menghembuskan nafas beberapa kali,

"Dengar, Snape. Aku akan membuatnya sejelas mungkin. Kita teman kan? Maksudku, aku membeli Ramuan Pelangsing darimu dan kau mengajar aku Ramuan walaupun aku yang senior disini. Itu saja. Kita teman kan? Hanya teman?"

Snape sekarang tersenyum lebar mendengarnya, "Tentu, Cissy. Teman baik. Aku tidak punya banyak teman baik."

Narcissa hampir frustasi sekarang. Entah bagaimana dia akan menjelaskan ini kepada seorang anak berusia dua belas tahun.

"Snape... Orang-orang, yah... menganggap kita... yah kita... ada sesuatu. Berhubungan maksudku..."

Sekarang baik Narcissa maupun Snape sama-sama salah tingkah.

"Tapi kita teman kan? Hanya teman? Teman belajar Ramuan bersama?" Narcissa mendesaknya lagi, sekarang takut kalau Snape benar-benar naksir padanya, lalu Narcissa menolaknya dan Snape akan berhenti membantunya dalam pelajaran Ramuan.

Snape tersenyum sekarang seolah-olah Narcissa adalah anak yang berumur dua belas tahun itu, bukannya dia,

"Ah, Cissy, aku tahu maksudmu... Tidak usah khawatir. Tidak usah dengar anak-anak lain, eh, bergosip. Aku tidak akan berani mengambil milik Lucius."

Narcissa berhenti salah tingkah dan menatap Snape dengan pandangan berbahaya,

"Aku bukan milik Lucius!"

Tetapi Snape tidak mendengarnya, wajahnya sekarang kemerahan, "Jangan khawatir, Cissy. Aku pun sebenarnya, ah... punya seseorang. Seperti kau dan Lucius..."

"Baik, Snape!" potong Narcissa tidak peduli siapapun gadis yang Snape sukai, karena dia mulai menyebut-nyebut Lucius. "Aku senang ini diluruskan. Waktu yang sama hari Senin di kelas Ramuan?"

Snape mengangguk, Narcissa menepuk-nepuk bahunya lalu keluar menuju aula besar.

Aula besar penuh tetapi meja Slytherin hampir kosong. Semua pasti sudah ke lapangan untuk menonton latihan. Narcissa mencari ketiga temannya tapi mereka tidak nampak. Dia lalu memutuskan mengambil sebotol jus labu kuning dan kue muffin blueberry sebelum menyusul mereka.

Anak-anak yang tersisa di meja Slytherin berbisik-bisik sambil menatapnya ketika Narcissa menadahi kue muffinnya dengan tisu. Narcissa tidak heran, mereka pasti sedang bergosip tentang dia dan Snape. Narcissa pergi ke lapangan dengan dagu terangkat.

Angin membuat rambutnya beterbangan ketika Narcissa menyusuri tribun menghampiri teman-temannya. Dia duduk disebelah Yvonne yang menatapnya dengan pandangan iba. Narcissa tidak mempedulikannya, dia mulai mengunyah muffin dan menonton para pemain yang sedang pemanasan.

"Pemilihan waktu yang buruk, Cissy." kata Yvonne sinis.

"Apa maksudmu?" Narcissa bertanya setelah menelan muffinnya.

"Kau dan Snape tadi?"

Narcissa tertawa sekarang, "Tenang... Aku hanya meluruskan gosip pada orang yang bersangkutan. Kami hanya teman. Snape sendiri sudah naksir seseorang..."

"Cissy, dia memanggilmu dengan nama kecilmu," potong Eva yang duduk di undakan di bawah Narcissa. "Aku tahu karena teman-teman sekelasnya ribut tadi. Mereka mengira kau mengajaknya ke pesta Valentine Slughorn atau yang lebih parah, menyatakan cinta!"

"Eva berhenti cemas! Dan aku tidak tahu anak laki-laki Slytherin ternyata tukang gosip!" Narcissa mau tidak mau menatap cemas ke arah Snape yang sekarang beringsut-ingsut menuju kumpulan temannya. "Aku dan Snape tidak ada hubungan apa-apa! Jangan dengarkan mereka!"

"Aku tidak cemas, Cissy! Tapi aku tahu siapa disini yang tidak suka dikalahkan!" mata Eva mendelik ke arah Lucius yang duduk jauh diatas mereka dengan kelompoknya. Dia sangat santai dan berkali-kali menyeringai sadis entah mengapa. Lucius seharusnya main sebagai seeker Slytherin, tapi dia memutuskan mengundurkan diri tahun ini. Mungkin dia ingin memfokuskan diri pada tugas-tugas Pelahap Mautnya. Tetapi Narcissa yakin Lucius mundur karena sakit hati pada Madam Hooch yang mendiskualifikasinya puluhan kali karena taktiknya dianggap brutal.

"Aaaah..." desah Genevive mengagetkan. "Jadi... seseorang cemburu..."

Genevive mulai menggelitiki lutut Narcissa dengan senang, sebelum Evan Rosier, si Beater Slytherin, terbang ke arah tribun.

Evan menjatuhkan tongkat pemukulnya ke arah penonton, membuat mereka sibuk menghindar dan berteriak mengejeknya. Kemudian dia berputar lagi diatas tribun dan, dengan kecepatan menakjubkan, menukik ke bawah ke arah penonton.

Terdengar suara orang berteriak keras, lalu gelak tawa. Evan terbang lagi keatas tribun... membawa Snape pada kedua lengannya.

Snape berteriak-teriak, kakinya menendang-nendang ketakutan di udara. Di luar kesadaran ataupun kemauannya, Narcissa mendadak berdiri, menumpahkan jus labu kuningnya ke kepala Eva, dan berteriak,

"SEVERUS!"

Dia masih sempat mendengar teriakan kaget Eva sebelum berlari ke bawah dan berusaha mengejar sapu Evan. Mereka menuju ke danau. Dan Narcissa tahu kemana ini akan berakhir.

Narcissa berlari menyeberangi lapangan Quidditch dengan sisi perut yang sakit sekali, menuju pintu keluar yang mengarah ke danau. Narcissa mengeluarkan tongkatnya, tetapi sebelum tahu mantra apa yang akan digunakan, Evan sudah terbang rendah dan menjatuhkan Snape ke danau.

Narcissa terpaku selama sedetik sementara Evan terbang lagi ke daratan. Snape tidak jatuh ke bagian danau yang terlalu dalam, dia masih bisa berenang, kalau dia bisa berenang... Tapi dia tidak muncul juga. Bahkan tidak ada tanda-tanda perlawanan di air, Snape tampaknya langsung tenggelam.

Narcissa segera masuk danau dan berenang secepat mungkin. Dia lalu menyelam di tempat yang seingatnya adalah tempat jatuhnya Snape. Sweternya yang lupa dilepas saat berenang tadi sekarang memberatinya seperti anak domba. Dia belum bisa menggunakan Mantra-Gelembung-Kepala, yang berarti waktunya terbatas. Narcissa lega melihat kelepak jubah hitam Snape yang mengambang. Narcissa mendekat secepat mungkin. Air dingin menyakiti hidung dan telinganya.

Wajah Snape sudah ungu, tangannya menggapai-gapai dengan lemas. Narcissa meraihnya lalu menariknya keatas. Yang salah besar, karena Snape bukannya menurut tapi makin memberontak menghentak-hentak. Snape membuat ganggang-ganggang entah apa beterbangan ke wajah Narcissa. Konsentrasi menahan nafasnya sekarang buyar. Snape tampaknya malah menarik Narcissa tenggelam dengan kepanikannya.

Tapi keinginan mempertahankan hidup Narcissa yang menang, saat otaknya tidak bisa berpikir karena hampir kehabisan udara, semua tenaganya keluar. Sekali sentak, Snape yang malang menurut dan akhirnya Narcissa bisa mengangkat tubuhnya ke permukaan.

Narcissa menelan air cukup banyak karena dia berusaha berenang ke darat dan Snape tidak berusaha berenang kemanapun sama sekali. Narcissa harus menariknya dengan susah payah agar tidak tenggelam lagi.

"Cissy! Cissy!" telinga Narcissa yang kemasukan air samar-samar mendengar orang berteriak. Saat sudah mendekat ke daratan, Narcissa baru menyadari ada orang-orang yang berkumpul disana.

Genevive menghampirinya memasuki air. Lalu menariknya sampai berdiri dan memapahnya.

"Apa yang kau lakukan?" teriak Yvonne sekarang menghampirinya juga. "Kau cari mati ya? Kemarin di Malfoy Manor. Dan sekarang ini?"

Narcissa tidak mendengarkan, setelah sampai di atas tanah, dia segera melepaskan Snape dari bahunya, dan berjongkok, lalu batuk-batuk sepuas hati.

Narcissa menoleh saat Genevive selesai menepuk-nepuk punggungnya dan bisa melihat kumpulan orang sekarang. Lucius ada disana, hanya memakai celana panjangnya. Dan kepalanya menggelembung. Tampaknya siap untuk masuk danau. Lucius menarik mantra-nya kembali saat Narcissa menatapnya. Dan wajah asli Lucius membuat Snape lebih ketakutan dibanding tenggelam.

Snape segera berlari ke kastil dengan basah kuyup. Narcissa menatapnya kocar-kacir selama beberapa saat, lalu entah kenapa kemarahannya pada Lucius muncul lagi.

"Kalau kau ingin aku mati, kau tinggal minta!" teriaknya sambil berjalan kearah Lucius.

Yvonne dan Genevive berusaha menahannya, tapi Narcissa telah berhasil melepaskan ganggang-ganggang atau tumbuhan entah apa yang tersangkut di rambutnya dan langsung melemparkannya ke arah Lucius.

Kekagetan Lucius belum apa-apa dibanding kekagetan anak-anak Slytherin lainnya, dan juga Bellatrix yang tampaknya siap masuk ke danau juga kalau melihat kakinya yang tanpa sepatu.

"Dan kalau kau benar-benar lelaki, jangan menyuruh orang lain melakukan pekerjaan kotormu!"

Narcissa menyentakkan Yvonne dan Genevive lalu berlari ke kastil mengikuti jejak Snape. Air mata yang hangat membasahi pipinya yang dingin. Walau terlihat siap melakukan apapun, Lucius menunggu lama untuk menyelamatkannya dari danau. Dan Narcissa tidak berani membayangkan berapa lama yang Lucius butuhkan untuk melindungi Narcissa dari kelompok Pelahap Mautnya sendiri.