Chapter 10 : Kenapa Harus Berbohong?

Disclaimer characters belongs to Masashi Kishimoto-sensei

Hinata POV

"Maafkan aku tousan… aku telah mengecewakanmu. Aku putrimu yang buruk" Hinata berujar lirih.

Jantungku berdetak keras untuk sesaat. Tanpa terasa bulir airmata lolos begitu saja dari lavenderku.

Tiba-tiba saja aku teringat ucapan tousan tiga tahun lalu. Tepatnya, saat aku memutuskan untuk meninggalkan rumah tousan karena harus bersekolah di NHS.

FLASHBACK ON

"Tousan…."

Aku menatap sendu pada tousan yang sedang memasukkan semua baju-bajuku ke dalam tas hitam besar. Tousan mengurusi semua keperluanku yang akan ku bawa saat bersekolah di NHS Nanti.

"Hinata, tousan sudah menyiapkan semua keperluanmu disana. Dari mulai baju-bajumu dan banyak lagi. Semua tertata di tas hitam ini, Nak"

Ekspresi tousan memang terlihat biasa saja. Namun aku tau, dalam hatinya dia sedang amat sangat bersedih. Ia harus rela jauh dari putrinya ini.

"Hinata, tousan sangat bangga padamu. Kau telah mendapat beasiswa di NHS. Kau akan tinggal di rumah pamanmu Hisashi yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dia menitipkan rumah itu pada tousan Nak. Tousan harap kau dapat merawat rumah itu dengan baik" ucap Hiashi dengan panjang lebarnya.

Tousan mengelus rambut indigoku dengan lembut. Semua itu membuat hatiku semakin sedih untuk meninggalkannya sendirian disini.

"Hinata putriku, tousan berharap juga kau tidak mengecewakan tousanmu ini Nak. Kau adalah putri kebanggaan tousan. Jangan terlalu memikirkan tousan saat kau disana. Tousan selalu baik-baik saja." Ujar tousan lembut padaku.

Aku mengambil tas hitam besar disisi tousanku. Aku menjinjingnya sampai keujung pintu.

"Jaga diri tousan baik-baik. Hinata sayang tousan. Hinata pamit, tousan"

Senyuman tousan mengiringi kepergianku dari sana.

End Hinata POV.

"Hinata…" panggil Naruto.

Hinata mendongakkan kepalanya. Ia sangat terkejut. Lamunannya buyar seketika.

"Kau melamun, Hinata? Apa yang kau lamunkan?" Tanya Naruto seketika.

"Hikkkkksss….aku melamunkan tousanku,Naruto. Hikkksss" tangis Hinata pecah dengan memeluk erat Naruto.

"Maafkan aku Hinata. Tousanmu membencimu karena aku. Aku akan selalu bersamamu. Berhentilah menangis. Aku mohon…" ucap Naruto dengan mengusap airmataku yang sudah jatuh di pipi dan sedikit membasahi gaun ungu selututku.

"Kalian masih disini rupanya" terdengar suara milik seorang pria.

Hinata dan Naruto menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang pria paruh baya bersurai putih panjang tengah memasuki ruangan. Pria itu tersenyum pada kedua pasangan itu.

"Naruto, ini sudah saatnya. Pendeta sudah menunggu di depan altar." Jiraiya,lelaki paruh baya itu tersenyum pada Naruto.

"Jadi wanita ini yang kau ceritakan padaku kemarin,Naruto? Benarkan?" kilah Jiraiya menatap Hinata.

Naruto hanya mengangguk.

"Kau Hinata bukan? Aku adalah Jiraiya, paman dari Naruto. Aku akan menjadi wali kalian hari ini" ucap Jiraiya pada Hinata.

Hinata hanya tersenyum.

"iya paman Jiraiya-sama. Aku Hinata. Terimakasih karena paman mau menjadi wali kami" selesai berujar Hinata sedikit membungkukkan setengah badannya pada Jiraiya.

"Naruto, kau duluan saja ke depan altar. Aku yang akan membawa Hinatamu kesana"

"Baik paman" Naruto menjawab singkat dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.

Sepeninggal Naruto, Jiraiya menghampiri Hinata dan menghapuskan jejak-jejak airmata yang ada di pipinya.

"jangan menangis. Ini adalah hari bahagiamu,Hinata. Apakah kau mengingat tousanmu?" Jiraiya berkilah sambil memegang bahu Hinata.

Hinata hanya mengangguk lemah.

"kau masih beruntung masih memiliki tousan. Sedang Naruto hanya memilikiku sekarang"

"a-apa maksud,Jiraiya-sama?" Hinata berujar dengan gugup dan heran.

"tanyakan saja nanti pada Naruto" ucap Jiraiya sambil tersenyum

"Baik Jiraiya-sama" Hinata berujar sambil mengangguk.

DIGEREJA SEDERHANA DIKONOHA….

"Kau sudah siap,Hinata?" Tanya Jiraiya.

"i-iya" jawab Hinata gugup.

"aku akan membuka pintunya. Peganglah tangan kiriku" ujar Jiraiya pelan.

Hinata hanya mengangguk. Kemudian ia menyelipkan tangan mungilnya pada tangan kiri Jiraiya.

Ini memang sangat menyedihkan bagi Hinata. Ia berharap ayahnya yang kini akan menjadi walinya. Bukan orang lain. Namun apa daya, ayahnya sudah membuangnya jauh dikehidupannya.

Jiraiya mulai membuka pintu. Ketika pintu dibuka lebar,dapat terlihat suasana ruangan itu sangat sepi. Hanya ada beberapa orang saja di sana. Ia juga dapat melihat seorang pendeta berumur kurang lebih 60 tahunan tersenyum padanya. Jiraiya dan Hinata mulai melangkahkan kaki mereka. Disana juga ada ketiga teman Naruto. Yang dimulai dengan Shikamaru yang menguap-nguap tanda ia bosan hadir disini. Dan Kiba yang menyengir pada Hinata dengan cengiran khas yang memamerkan gigi gingsul bertaringnya. Serta Sasuke yang tersenyum kepada Hinata.

Saat didepan altar, Jiraiya merenggangkan pegangan ditangan kirinya. Ia menarik lembut tangan Hinata dan menyerahkannya ke sisi Naruto. Pendeta yang ada dihadapan mereka mulai menatap mereka secara bergantian. Sang pendeta mulai membaca sebuah kitab dengan bantuan kacamata baca usang miliknya. Pendeta itu kemudian melayangkan sebuah janji suci pada Naruto. Dan Naruto pun kemudian membalas perkataan Pendeta itu. Pertanyaan yang samapun juga dilayangkan pada Hinata. Dan Hinata dengan persekian detik membalas ujaran pendeta itu.

Pendeta itu kemudian menyuruh Naruto dan Hinata untuk bertukar cincin. Tak butuh berlama-lama, sebuah cincin perak nan indah sudah terselip di jari manis mereka.

"Dengan ini, aku memutuskan kalian sebagai sepasang suami istri. Ciumlah istrimu itu,Namikaze Naruto" selesai berkata, tepuk tanganpun riuh terdengar. Dan sebuah ciuman manispun Naruto layangkan pada kening Hinata.

DIAKHIR ACARA….

Kiba, Shikamaru dan Sasuke menghampiri Naruto dan Hinata.

"Dobe, selamat atas pernikahan kalian hari ini" ucap Sasuke dengan tersenyum.

"jaga Hinata baik-baik Naruto. Kini dia jadi tanggungjawabmu,Naruto. Jangan membuat dia menderita!" Kini Shikamaru yang berujar.

"terimakasih kalian sudah datang hari ini. Aku akan menjaga Hinata baik-baik. KALIAN BISA MEMBUNUHKU JIKA AKU MEMBUATNYA MENDERITA" jawab Naruto dengan tegas dan lantang.

"itu yang akan kami ingat darimu Naruto" ucap Kiba dengan tersenyum lebar.

Nafas Hinata semakin tercekat saat mendengar kalimat terakhir itu. Apa maksud ucapan Naruto tadi? Semua melayang-layang dalam pikiran Hinata. Pertanyaan soal orang tua Naruto saja masih terngiang-ngiang diotak Hinata dari tadi.

"karena acara sudah selesai, kami pulang dulu. Berbahagialah kalian hari ini" ujar Kiba yang kemudian pergi diikuti Sasuke dan Shikamaru.

"Naruto, paman pulang dulu. Jaga Hinata baik-baik." Ucap Jiraiya dengan menepuk pundak Naruto dan berjalan pergi dengan segera.

DIKEDIAMAN NARUTO…

Hari sudah beranjak malam. Langit kota konohapun semakin gelap. Naruto membawa Hinata ke kamarnya, sampai dikamar ia melepas jas putihnya dan melemparkan kesembarang arah. Iapun melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya.

"Naruto?"

Suara merdu itu membuat Naruto menoleh seketika. Ditatapnya Hinata dengan lembut.

"sebenarnya…ada yang ingin kutanyakan padamu,Naruto" ucap Hinata dengan gugup.

"kau ingin bertanya apa Hinata? Katakanlah"

"a-aku hanya ingin tahu, dimana sebenarnya orangtuamu? Kenapa paman Jiraiya yang menjadi wali kita hari ini?" ujar Hinata dengan menundukkan wajahnya.

Naruto menjatuhkan diri terduduk diranjang. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Naruto belum merespon Hinata.

"Naruto? Jika kau tidak ingin cerita tidak apa-"

"kedua orang tuaku sudah meninggal Hinata saat kecelakaan pesawat 3 tahun yang lalu." Ucap Naruto dengan memotong perkataan Hinata dengan cepat.

Mendengar hal itu Hinata menjatuhkan airmatanya kembali. Betapa malangnya Naruto yang baru ia ketahui. Hinata masih memiliki ayah, sedangkan Naruto? Dia memiliki siapa? Yah, walaupun Hinata tidak menampik kalau sekarang dia justru seperti seorang yatim piatu walaupun ayahnya masih hidup.

"hey Hinata,kau menangis? Ada apa?" Tanya Naruto bangkit menghampiri Hinata.

"maafkan aku sudah mengingatkanmu pada orangtuamu. Tak seharusnya aku-"

"sudahlah tak apa, aku juga sudah melupakan hal itu Hinata. Itu juga sudah lama bukan? Aku mohon,jangan menangis" ucap Naruto sambil mengusap airmata Hinata dengan lembut.

Hinata menunduk dalam. Naruto menarik dagu Hinata agar menatapnya kali ini.

"dengarkan aku Hinata, kehilangan orang tua adalah masa laluku. Kini masa depanku, yang kumiliki adalah dirimu dan janin yang sedang kau kandung itu. Aku mencintaimu Hinata. Sangat-sangat mencintaimu. Kau tau kenapa aku mencintaimu?" ucap Naruto panjang lebar dan tersenyum pada Hinata.

"k-kenapa kau bisa mencintaiku,Naruto?"

"kau ingin tau sungguh?" ujar Naruto sepertinya menggoda Hinata.

Hinata hanya bisa mengangguk kali ini.

"baiklah akan aku katakan, aku mencintaimu karena kau mirip dengan kaasanku. Dari galaknya dirimu saat pertama kita bertemu, dari rambut berponi panjangmu yang seperti kaasanku dan juga dirimu sangat berbeda dengan wanita-wanita lainnya. Aku tidak tau apa yang menarik. Aku hanya tau,kalau aku tertarik padamu. Maafkan aku yang sudah kasar padamu dulu. Aku kesepian dan merindukan belai kasih seorang wanita. Dan aku mendapatkan itu dari dirimu saja Hinata. Hanya kau dan kau" ujar Naruto yang kemudian memeluk erat Hinata.

Hinata hanya diam mematung. Ia tak tau harus berkata dan merespon apa. Benarkah ini Naruto? Si devil yang begitu jahat,kejam dan kasar dulu. Bagaimana bisa?

"sekarang kau tidurlah, aku tau kau lelah. Udara malam tak baik bagi kesehatan janinmu"

Hinata hanya mengangguk pelan. Naruto membimbing Hinata menuju ranjang dan membantunya berbaring disana.

Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Hinata.

"selamat malam Hinata" Naruto menyapa Hinata dan berjalan kearah pintu.

Hinata hanya menatap punggung Naruto lekat. Kemudian Narutopun pergi.

"selamat malam Naruto" gumam Hinata mulai memejamkan lavendernya.

"HINATAAAA!" Teriak seseorang dibalik lorong-lorong hitam.

"Naruto? Kaukah itu?" gumam Hinata mulai panik.

Hinata terus berlari menyusuri lorong-lorong itu. Ia tak tau ada dimana. Berlari dan terus berlari. Hingga ia sampai di sebuah ruangan, ia buka pintu itu dengan gugup. Dilihatnya sosok Naruto yang tengah bersimbah darah. Dilihatnya juga seorang pria yang ia kenal menancapkan sebuah pisau pada tubuh Naruto.

"PEIN,JANGAN!" teriak Hinata sekeras-kerasnya yang ia bisa.

"terlambat, aku sudah membunuhnya" ujar Pein dengan tersenyum licik.

TIDAKKKKKKKKKK…..

"NARUTOOOO!"

Hinata menjerit keras memanggil Naruto. Ia terbangun dan terduduk bersandar di punggung ranjang. Keringat mengalir deras dipelipisnya. Nafasnyapun terengah-engah. Ia tak kuasa menahan airmata dari lavendernya.

"ada apa menjerit Hinata?"

Naruto memasuki kamar dan duduk disamping Hinata segera mungkin.

"a-aku bermimpi Pein membunuhmu Naruto. Aku takut. Sangat takut." Jawab Hinata setengah takut.

Naruto hanya terkekeh pelan mendengar itu.

"jangan tertawa, ini tidak lucu Naruto." Hinata kesal. Dan mengerucutkan bibirnya.

"kau takut itu terjadi,eh? Kenapa? Apa kau mulai mencintaiku ?" ujar Naruto menggoda Hinata.

"aku tidak mencintaimu Naruto, tidak pernah." Hinata mengelak untuk jujur.

"kenapa harus takut, itu hanya mimpi. Kau lihat,aku baik-baik saja. Memangnya kenapa kalau itu terjadi?"

"cukup…jangan katakan itu padaku Naruto. Aku mohon. Aku tidak ingin itu terjadi. Berjanjilah kau akan selalu bersamaku. Aku mohonnnn" Hinata berujar dengan nada merengek. Lavendernya berkilat bening.

"aku berjanji padamu Hinata. Demi janin yang kau kandung itu. Lebih baik kau tidur dan aku akan menjagamu agar kau tidak mimpi buruk lagi" ujar Naruto dengan membaringkan Hinata kembali dan menyelimutinya.

CUP…

"itu tanda janjiku padamu Hinata. Dan aku tidak akan mengingkarinya. Tidurlah Sayang" ucap Naruto menenangkannya.

Naruto mengelus surai indigo Hinata hingga Hinata bisa tertidur kembali dengan tenang.

"kenapa kau tidak jujur,kalau kau mencintaiku Hinata?" gumam Naruto dalam hati.

"kenapa harus berbohong?"

TBC

###

Waduh gomen nieh,yuni telat update. Soalnya banyak tugas kuliah yang harus yuni kelarin dengan cepat dengan deadline yang mepet jg. Yuni ga maksud PHP kok. Gomenasai yah :D

gomen kali ini yuni ga bisa bales semua review yang masuk. Tapi yuni mau ngucapin banyak-banyak terimakasih karena kalian sudah review fic yuni ini. 2 chap lagi tamat kok. Yuni cepetin, soalnya takut pada bosen baca fic yuni yang gaje ini :v :D

untuk chap 11 nya mungkin tanggal 20 september :D

untuk kata terakhir, REVIEW sangat yuni butuhkan untuk menamatkan fic ini :D ARRIGATOU :*