Ehem.. Hai :) apa kabar? /kena timpuk/
ampun, berapa lama aku absen dari sini? Ohoho.. Kangen ih.. sumpah ya perjuangan banget pengen publish ni epilog.. Mulai dari fd kena virus, fd keformat, sibuk lembur, ampe folder draft yang tiba-tiba ilang. Satu chapter doang aku ampe ketik ulang 5 kali.. tragedi banget.
Kalo kata adekku si octa sih, ni epilog kena kutuk. kurang asem banget kan? Haha..
Oke, makasi banget buat yang udah review di chapter 9 kemaren..
1. Deshe Lusi
2. Nimarmine
3. Soraya Uehara
4. Yukiko Arashi
5. Haruno Aoi : akhir - ahir.. Ini sebenernya kebiasaan aku yg kebawa dari sosmed, ampe gak sadar . dan buat italic suffiks itu aku suka lupa mulu, huhu
6. Moku-chan
7. NaruHina shipper
8. Naru Gankster
9. Mine
10. Akemi M. R
11. Hyuna Uzuhi
12. Gulliet
13. Imadianaku
14. Livylaval
15. Kithara Blue
16. Reni anggarwati
17. Chimunk
18. Princess Love Naru is Nay
19. MangetsuNaru
20. Shelly
21. Hyunkjh
22. TrilovSasuhina
23. Revme Yanz
24. Jhoony. Chute1
25. My lavender
26. Sarti
27. A. K. A rizky namikaze
28. Lactobacillus
29. Shiro19uzumaki
30. Guest
Title : Lavenderku
Author : sarangchullpa92
Genre : Hurt/Comfort & Romance
Warning : Alternate Universe, amat-amat OOC!, Typos, Ceritanya geje XD,
LAVENDERKU © sarangchullpa92
Naruto © Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T READ
Suasana pagi yang cerah mengawali hari seluruh penghuni mansion Namikaze. Semua maid terlihat sibuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Tiga tuan rumah, sepasang suami-istri dan seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Naruto dan Kirisame sudah duduk manis menempati kursi mereka, menunggu Hinata yang masih sibuk menyeduh susu hangat.
Naruto sibuk memandangi wajah anaknya yang tertunduk, asyik memainkan psp berwarna hitam di kedua tangannya. Pria pirang itu tersenyum kecil saat melihat bibir mungil Kirisame mengerucut imut. Kalah bermain game, mungkin?
"Berhenti memandangiku, papa." Kirisame yang sudah berdandan rapi dengan seragam TK-nya mendelik, menatap Naruto jengah.
Naruto terkekeh, merasa gemas dengan ekspresi kesal Kirisame yang lucu. Dibelainya rambut pirang Kirisame yang dibiarkan panjang sepunggung. "Kau ini lucu sekali, Kiri-kun."
"Aku ini tampan, papa! Bukan lucu," protesnya kesal. Diletakkannya psp hitamnya dengan kasar, lalu melipat kedua tangan kecilnya di depan dada. Sok keren sekali, Naruto menggeleng pelan.
"Berhenti merajuk, Kiri-kun." Kirisame menoleh mendengar teguran ibunya. Iris lavendernya yang serupa dengan Hinata itu melebar penuh binar melihat sang ibu berjalan mendekati meja makan dengan baki berisi tiga gelas susu cokelat hangat di kedua tangannya.
Diraihnya gelas susu yang baru saja disodorkan Hinata dengan semangat, lalu meneguknya hingga tandas.
"Minumnya pelan-pelan sayang, nanti tersedak." Hinata menegur tingkah kelewat semangat anak semata wayangnya itu.
Kirisame menggeleng, tak setuju dengan ucapan sang ibu. "Paman Neji bilang, Kiri harus selalu semangat minum susu kalo Kiri pengen cepet tinggi," ucapnya kalem.
Hinata dan Naruto menghela napas bersamaan saat anak kesayangan mereka mulai menyebut nama 'Neji'. Ekspresi Naruto langsung berubah masam. Ia kesal setiap kali anaknya selalu menyebut-nyebut nama keramat itu disetiap percakapan mereka.
"Ne, Kiri-kun... Hari ini papa yang mengantarmu sekolah ya?" Naruto mencoba mengalihkan pembicaran sebelum anak lelakinya bicara panjang lebar memuji-muji sang kakak ipar.
Kirisame memperhatikan sang ayah yang kini tengah menatapnya penuh harap. "Enggak mau, Kiri berangkat sama paman aja," putusnya. Mata lavendernya menatap Naruto setengah enggan. Ckckck, apa yang terjadi dengan anak itu?
"Kenapa menolak lagi ajakan papamu, sayang?"
Kirisame beralih menatap ibunya. "Kiri gak mau berangkat sama papa."
Jawaban bocah berumur lima tahun itu membuat Hinata menatap tak enak pada suaminya yang sudah menekuk wajah. Sejak Kirisame mulai bersekolah, entah kenapa anak kecil itu menjauhinya dan menjadi terobsesi akan sosok Neji. Apapun yang anak itu lakukan pasti selalu berhubungan dengan Neji. Bahkan dia tidak mau memotong rambutnya karena ingin memiliki rambut panjang seperti milik Neji.
Apa-apa Neji, sedikit-sedikit Neji. Walaupun fisiknya menduplikat sempurna sosok Naruto, tapi Kirisame malah seperti menganggap Nejilah ayahnya.
"Ya sudah, papa berangkat duluan ya?" putus Naruto pada akhirnya. Dengan langkah gontai pria tampan itu berjalan keluar setelah menyempatkan diri mengecup kening istri dan anaknya.
Setelah memastikan Naruto berangkat bekerja, Hinata kembali menghampiri Kirisame yang masih duduk di ruang makan. Hatinya resah melihat kerenggangan hubungan Naruto dan anak semata wayang mereka.
"Kiri-kun," panggilnya mencoba memulai pembicaraan.
"Ya, ma?"
"Kiri-kun kenapa selalu bersikap seperti itu sama papa?"
Mata Kirisame melebar mendengar pertanyaan ibunya. Walaupun terdengar lembut tapi tetap bisa membuatnya takut. Apakah ibunya itu marah? Tidak berani menatap ibunya lebih lama, Kirisame menundukkan kepala, menatap kedua lututnya dengan was-was.
"Kenapa tidak menjawab mama, hm?"
Hinata mengusap lembut pipi Kirisame, mengangkat wajah putra kecilnya hingga ia bisa menatap kembali mata seindah bulan yang serupa miliknya itu.
"Kiri... Kiri..."
"Kiri benci sama papa?" tanya Hinata lagi saat melihat anaknya tak mampu menjawab. "Jawab mama sayang, apa Kiri benci papa? Atau papa punya salah sama Kiri?"
"Bu-bukan," lirih Kirisame pada akhirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ki-kiri gak pernah benci papa. Papa juga gak salah apa-apa sama Kiri. Kiri cuma senang sama paman Neji, Kiri senang kalo paman Neji yang nganter jemput Kiri sekolah. Soalnya teman-teman Kiri bilang kalo paman itu keren."
Mau tak mau Hinata tersenyum mendengar jawaban polos Kirisame.
"Teman-teman bilang rambut paman Neji bagus, wajahnya tampan, dan juga sangat keren. Makanya Kiri pengen jadi kayak paman."
Hinata tersenyum saat Kirisame mendongak, menatapnya takut-takut. "Lalu apa tak ada yang Kiri suka dari papa?"
Kirisame memiringkan kepalanya, bingung dengan pertanyaan sang ibu. Apa yang dia suka dari sang ayah? Ayahnya itu pria pirang kelebihan hormon yang gemar tersenyum lebar dan selalu bertingkah konyol saat mencoba menarik perhatiannya. Benar-benar tidak keren!
"Apa Kiri tahu kalo sikap Kiri udah bikin papa sedih?"
"Eung?"
"Kalo sikap Kiri gak dirubah, Kiri nyakitin papa, sayang. Kiri sayang sama papa kan?"
Kirisame buru-buru menganggukkan kepalanya. Biar Naruto konyol begitu, dia tetap papanya kan?
"Kiri ingat apa saja yang udah papa lakuin buat Kiri? Papa selalu kerja keras buat Kiri, gendong Kiri waktu Kiri demam, nemenin Kiri kerjain PR. Papa sayang banget loh sama Kiri."
"Kiri tahu," cicitnya pelan.
"Jadi Kiri bisa kan rubah sikap Kiri sama papa?" tanya Hinata. Kirisame menatap Hinata sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.
"Janji?"
"Janji!" Buru-buru disambutnya kelingking sang ibu. "Kiri janji nanti mau minta maaf sama papa."
"Anak pintar," puji Hinata. Dikecupnya pipi Kirisame penuh sayang. "Nah, sekarang mama telpon paman dulu, biar Kiri bisa cepat berangkat sekolah."
"Iya," jawab Kirisame lirih.
Maaf jika telah membuatmu sedih papa, Kiri cuma tidak mau saat Kiri terlanjur dekat dengan papa, Kiri jadi tidak bisa melepaskan papa. Kiri takut tidak bisa menerima kebencian papa, saat papa tahu tentang semuanya.
Namikaze's Corp
Shikamaru melenguh malas melihat Naruto yang terus uring-uringan sejak pagi tadi. Mata mengantuknya menatap Naruto yang entah untuk keberapa kali mengacak rambutnya sendiri. Wajahnya tertekuk frustasi, membuat Shikamaru jengah.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Shikamaru pada akhirnya.
"Shika..." Naruto menatap Shikamaru dengan tatapan sendu, membuat Sang Nara merinding. "Ja-jangan menatapku seperti itu bodoh!"
"Kau tahu Shika? Aku sedang sedih. Kau benar, aku memang bodoh. Saking bodohnya sampai anakku sendiri tak mau dekat-dekat denganku."
Ucapan Naruto yang sedikit berlebihan itu sukses membuat kening Shikamaru berkerut. "Apa maksudmu?"
Naruto menunduk lalu menghela napasnya dramatis, seolah beban berat tengah ia pikul sendirian di pundaknya. "Kirisame tidak sayang padaku, Shika."
Shikamaru memutar bola matanya malas, 'drama king,' cibirnya dalam hati.
"Dia lebih sayang pada Neji dibanding aku. Apa-apa Neji, sedikit-sedikit Neji. Memang apa bagusnya sih Neji? Patung es muka datar hati iblis begitu saja diidolakan. Rambut panjang ngikutin Neji, sok-sok kalem ngikutin Neji. Anter jemput sekolah maunya same Neji, yang papanya itu kan aku, bukan Neji. Memangnya kurangku apa sampai dia tak mau dekat denganku?" dumel Naruto panjang lebar. Mata birunya yang mulai berkaca-kaca menatap Shikamaru melas.
"Kau harus menolongku, Shika."
"Tidak mau!"
"Shikaaaa..."
"Dan jangan merengek di depanku!"
Shikamaru melipat tangannya di dada, menatap Naruto intens. "Kau tahu Naruto? Saat ini kau seperti anak kecil yang takut mainannya direbut orang lain," ujarnya dengan nada mencemooh. Senyum penuh kemenangan berkembang di bibirnya kala melihat mata Naruto melebar shock.
"Aku... apa?" tanya Naruto tak percaya. "Kau salah Shika! Aku bukan lagi anak yang takut mainanku direbut orang lain. Tapi aku sudah kalut karena maninanku telah benar-benar direbut orang lain!" ujar Naruto dengan nada meninggi di akhir kalimatnya.
"Kalau begitu rebut lagi mainanmu!" sentak Shikamaru keras.
"A-apa?" Mata biru Sang Namikaze mengerjap pelan.
"Rebut kembali apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu. Kirisame anakmu, bukan anak Neji. Rebut dia dari Neji, Naruto. Rebut perhatiannya. Kau ini pria, seharusnya kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan dan bukannya merengek manja kepadaku seperti ini!"
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Naruto frustasi. Wajahnya sudah benar-benar menyedihkan.
" Pikirkan saja sendiri! Aku lelah, dan sebaiknya aku kembali ke ruanganku saja. Melihatmu membuatku sakit kepala," ujar Shikamaru seraya beranjak dari duduknya.
"Oh ya Naruto?" ucapnya sebelum membuka pintu. "Neji memang jauh lebih keren daripada dirimu. Aku paham benar kenapa Kirisame begitu mengidolakannya. Kau itu bodoh dan sangat payah."
Blam.
Pintu ruangan Naruto tertutup dengan keras, melindungi kepala Shikamaru dari buku agenda yang baru saja dilempar oleh Naruto.
"Kau menyebalkan Shika!" sungut Naruto sebal.
Neji's Car
Menyanyi sepanjang jalan sepulang sekolah adalah kebiasaan Kirisame setiap hari. Ia akan memekik senang kala lagu kesukaannya diputar. Kadang jika manjanya sedang kumat, ia akan merengek pada Neji, meminta paman tampannya itu bernyanyi bersama.
Tapi siang ini situasinya berbeda. Kirisame yang biasanya ceria terlihat murung, membuat Neji keheranan. Ada apa dengan keponakan imutnya itu?
"Kiri-kun?"
"Ya, paman?" Kirisame menoleh dengan gerakan pelan. Seolah malas berbicara dengan siapa pun saat ini, termasuk paman tampan favoritnya.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa,"
Neji mendengus geli melihat sikap sok cool Kirisame. Mengatakan tidak apa-apa dengan tampang putus asa, benar-benar pembohong yang payah.
Neji menghentikan laju mobilnya di halaman depan kediaman Namikaze. Diliriknya sang keponakan yang masih menunduk, belum menyadari jika mereka telah sampai rumah. Jari-jari mungilnya sibuk memilin ujung dasinya sendiri, membuat Neji gemas.
"Jadi, masih tidak mau bercerita?"
Kirisame menoleh, menatap Neji ragu. Otak polos ala anak kecilnya berpikir keras. Cerita atau tidak ya? Kirisame tampak bimbang sesaat, sebelum memutuskan untuk menceritakan semua unek-uneknya.
"Paman, apa Kiri bukan anak papa?"
Kening Neji berkerut. "Apa maksudmu?"
"Jawab sajaaa... Kiri anak papa atau bukan?"
"Tentu saja kau anak pria bodoh itu, memangnya kenapa?"
Kirisame mendelik kala sebutan 'pria bodoh' yang ditujukan Neji untuk papapanya terdengar. Ish, papanya memang konyol, tapi dia tidak bodoh.
"Papa gak bodoh!" ketusnya pelan, membuat Neji terkekeh geli. Ya ampun, keponakannya ini lucu sekali. Selalu bersikap seolah tak peduli, tapi marah saat ada yang menghina papanya. Dasar!
"Well, anggap saja papamu itu memang tidak bodoh. Jadi, ada apa sampai kau bertanya seperti itu?"
"Mama teman-teman Kiri bilang, Kiri bukan anak papa. Mereka bilang, papa ketiban sial karena harus menikahi mama yang hamil oleh laki-laki lain. Jadi, papa benar-benar bukan papa Kiri?"
Deg! Gosip murahan darimana itu? Jelas-jelas adik cantiknya hanya pernah dihamili pria pirang brengsek penggila ramen itu. Dan ketiban sial? Cih! Hinata yang ketiban sial karena harus menikahi pria bodoh itu!
"Siapa yang bicara seperti itu?" tanya Neji setelah puas mengumpat dalam hatinya.
"Semua mama teman-teman bicara seperti itu."
"Dan kau percaya?"
"..."
Kirisame tak berani menjawab. Dia hanya menunduk, enggan menatap Neji.
"Jadi itu sebabnya kau tak pernah mau sekolah dengan papa dan mamamu?"
"Iya. Kiri takut entar papa sama mama dengar, dan mereka jadi berantem."
Neji menghela napasnya. Bisa-bisanya ibu-ibu biang gosip itu membuat keponakannya tersayang tertekan seperti ini.
"Dan karena omongan mereka juga yang membuatmu menjauhi Naruto?"
"Iya. Kalo Kiri jauhin papa, Kiri gak akan terlalu sedih jika suatu saat papa tahu semuanya."
Neji mendengus geli. "Aku jadi tahu kenapa selama ini kau selalu lengket denganku. Tapi kau tak harus menjauhi papamu sendiri."
"Apa itu artinya Kiri benar-benar anak papa?"
"Tentu saja kau anaknya. Anak pria konyol super bodoh Namikaze Naruto."
"Paman gak bohong kan?"
"Tidak."
"Jadi setelah ini Kiri bisa deket-deket papa lagi?"
"Tentu, dia papamu."
Kirisame tersenyum lebar. Akhirnya ia mendapat titik terang tentang masalah yang selalu ia pikirkan setahun terakhir ini. Dasar, bisa-bisanya anak sekecil dirinya tahan dengan masalah seperti itu. -_-
Seperti malam-malam biasanya, malam ini keluarga kecil Naruto tengah menyantap makan malam mereka dengan tenang. Hinata melirik Kirisame yang sedari tadi terus mencuri pandang ke arah Naruto yang sedang makan sembari menunduk.
Namikaze kecil itu begitu gelisah. Ingin menyapa sang ayah namun keraguan besar terus menggelayuti perasaannya. 'Gimana Kiri mulainya ya?' pikirnya. Alisnya berkerut, bingung memikirkan bagaimana caranya ia meminta maaf.
"Ada apa Kiri-kun?" Pertanyaan tiba-tiba dari Naruto sukses membuatnya kaget. 'Aduh, bilang apa ya sama papa?' pikirnya panik. Jemarinya menggenggam sumpit makannya sedikit lebih erat. "Tidak apa-apa," ujarnya pelan.
"Sungguh?"
Kirisame mengangguk cepat saat melihat tatapan menyelidik ayahnya. 'Aduh, Kiri musti gimana dong? Mama juga kok diem aja sih,' dumelnya dalam hati.
"Ya sudah, habiskan makananmu. Papa sudah selesai, kalian lanjutkan saja makan. Selamat malam," ujar Naruto sebelum beranjak menuju ruang kerjanya di lantai atas.
Bukan maksud Naruto untuk mengacuhkan anak dan istrinya seperti itu, hanya saja saat ini pikirannya sibuk memikirkan cara untuk mendekatkan dirinya lagi dengan Kirisame.
"Mama, Kiri salah lagi ya?"
Kirisame menundukkan kepalanya, bingung dengan sikap sang ayah yang lain dari biasanya. Malam-malam sebelumnya ayahnya selalu ribut menyuruhnya menghabiskan makanannya, lalu mengajaknya melakukan ini itu walaupun tak pernah ia tanggapi.
"Sebenernya Kiri udah mau ngomong dari tadi, tapi Kiri takut papa marah."
Hinata tersenyum menatap anak semata wayangnya. "Papa gak akan marah kok," ujarnya lembut.
"Beneran ma?"
"Iya, papa kan sayang sekali sama Kiri-kun. Jadi gak mungkin papa marah."
"Tapi Kiri kan udah nakal, ma."
"Siapa bilang? Kiri-kun gak nakal kok. Jagoan mama ini kan pintar banget. Kiri hanya perlu bicara sedikit sama papa, dan semuanya akan selesai."
.
.
Naruto menatap jam yang bertengger di dinding ruang kerjanya. Sudah lewat dua jam sejak ia berada disana seusai makan malam tadi. Diliriknya sesosok anak yang tertidur lelap di pangkuannya. Diusapnya surai pirang sang anak, menatap lekat detail wajah yang benar-benar serupa dengannya itu.
Yeah. Kirisame muncul di ruangannya sejam yang lalu dengan wajah malu-malunya yang menggemaskan. Minta maaf yang walau dengan suara pelan, tapi sanggup membuat Naruto tersenyum lebar. Meski hanya permintaan maaf sederhana, namun ia tahu jika Kirisame benar-benar tulus.
Cklek.
Senyum Naruto mengembang. Iris sapphirenya berbinar menatap Hinata yang kini berjalan ke arahnya.
"Kiri-kun sudah tidur?" Naruto mengangguk, matanya masih menatap Hinata lekat, membuat wanita cantik itu salah tingkah.
"Dia bilang apa?"
"Anak tampan ini minta maaf," ujar Naruto diiringi senyum lebar. Hinata mengangguk mengerti, lblu mengambil alih Kirisame dari pangkuan suaminya yang masih tersenyum seperti orang bodoh. Ups!
Hinata menenggelamkan kepalanya dalam-dalam ke sandaran sofa. Jemari lentiknya bergerak gelisah, meremas helai pirang Naruto yang tengah sibuk mengecupi leher putihnya.
"Berhenti sebentar,"
Tanpa mengindahkan ucapan Hinata, Naruto malah makin tenggelam dalam kegiatannya. Dibelainya punggung Hinata dan tangannya sesekali menarik piyama sang istri agar terbuka.
"Naruto-kun berhenti sebentar, aku ingin bicara."
Hinata menatap Naruto memohon, membuat suami tampannya itu tak tega mengacuhkan permintaannya lebih lama. Naruto bangun, menyangga di sikunya dan menatap ke bawah saat Hinata masih berusaha menormalkan deru napasnya yang memburu.
"Kau ini, aku baru saja mulai." Naruto kembali merapatkan tubuhnya pada Hinata. Dengan itu Hinata mengulurkan tangannya, mengusap keringat di pelipis Naruto, wajahnya tersenyum. "Sebentar saja, ya?"
.
.
Naruto berada di belakang Hinata sekarang, memeluk wanita cantik itu erat. Dikecupnya cincin putih yang melingkar di jari manis Hinata, lalu membawa jemari lentik itu kedalam genggaman jemarinya sendiri.
"Tadi Neji-nii menelpon," ujar Hinata memulai percakapan mereka.
"Lalu?"
"Neji-nii memberitahuku tentang alasan kenapa selama ini Kiri-kun menjaga jarak darimu. Ternyata gosip lima tahun lalu itu masih ada dan Kiri-kun mendengarnya.
Naruto mengernyitkan alisnya heran. Gosip? Gosip macam apa yang bisa membuat putranya menjauh?
"Gosip apa sayang?"
"Tentang Kiri-kun yang bukan anak kandung Naruto-kun."
Naruto makin heran mendengar jawaban Hinata. Kirisame bukan anaknya? Yang benar saja!
"Memang mereka bilang Kiri-kun anak siapa?" Hinata menatap Naruto sebentar sebelum tersenyum kecil. "Seseorang bernama Yahiko."
"Yahiko siapa? Kenalanmu? Atau malah mantan pacarmu?"
"Bukan."
Naruto menatap bingung kepada Hinata. "Kalau bukan kenalanmu kenapa gosip itu bisa muncul?"
"Katanya karena Kiri-kun berambut pirang, sama seperti Yahiko-san."
"Tapi rambut pirangnya turunan dariku! Memangnya yang punya rambut pirang cuma dia saja!" protes Naruto. Sepertinya pria itu mulai kesal. Haha, anaknya digosipkan merupakan anak pria lain itu benar-benar menyebalkan.
"Jika gosip itu sudah ada sejak lima tahun lalu, kenapa kau tak pernah bicara sayang?"
"Dulu aku hanya tak ingin membebanimu dengan hal kecil seperti itu, karena kupikir gosip itu akan hilang dengan sendirinya. Aku tak menyangka ternyata gosip itu malah menimbulkan masalah sekarang."
Naruto tersenyum, "Kau ini!" Ditariknya tubuh Hinata supaya makin merapat di pelukannya. "Tapi sayang, kenapa harus Yahiko itu? Memangnya kau pernah dekat dengannya?"
Hinata tertawa mendengar ada nada cemburu dalam pertanyaan suaminya. Dia kemudian memutar tubuhnya, balas memeluk Naruto.
"Bukan pernah dekat, hanya saja dulu dia pernah menjadi model iklan produk perusahaan. Aku kan dulu bekerja di bagian pemasaran, tentu saja aku terlibat dalam pembuatan iklan itu. Dia orangnya sedikit rewel, dari semua staff dia hanya mau mendengar perintahku. Mungkin dari sana gosip itu muncul.
Naruto merengut, "Pembuat gosip itu benar-benar keterlaluan! Gara-gara mereka Kiri-kun jadi menjauhiku."
Hinata menegakkan duduknya, mengelus surai pirang Naruto. "Tapi syukurlah sekarang Kiri-kun sudah tidak salah paham lagi."
Menghela napas, Naruto meraih tangan Hinata, menggenggamnya lembut. "Kau benar. Kiri-kun sudah bermanja-manja lagi tadi padaku, dan berita baiknya dia ingin aku mengantarnya sekolah mulai besok."
"Itu bagus."
Naruto menarik pinggang Hinata, kembali merapatkan tubuh mereka. "Karena masalahnya sudah selesai, boleh kan aku melanjutkan yang tadi?"
"A-apa?"
Hinata bahkan belum selesai mencerna kalimat Naruto saat pria itu mulai menempelkan bibir merek. Dia terus diam bahkan saat ia merasakan lengan kekar suaminya merengkuh tubuhnya, membawanya kedalam pangkuan.
"Sayang, kenapa diam saja?"
Menggeleng lemah, Hinata menyembunyikan wajahnya yang merah padam di lekukan leher Naruto. "Aku hanya kaget."
Naruto terkekeh, "Kita sudah lima tahun menikah, kenapa masih malu-malu begitu sih?" Naruto berdiri dengan cepat, menggendong Hinata menuju kamar mereka. "Ayo kita membuat adik untuk Kiri-kun!"
Hinata mengerang, merasakan sinar mentari yang masuk dari celah tirai jendela kamarnya. Ia melirik ke sebelah, hanya untuk mendapati sepasang mata biru yang sedang menatapnya. "Pagi," sapanya dengan suara serak.
"Pagi sayang."
Naruto mengelus surai indigo Hinata, menariknya untuk bersandar di dadanya. "Masih lelah?" tanyanya sambil memeluk tubuh polos Hinata dalam dekapannya. Hinata hanya bergumam, ia tak menjawab dan lebih memilih menghirup aroma Naruto yang memabukkan.
"Hinata."
"Naruto-kun, apa kau bahagia hidup bersamaku dan Kiri-kun?"
Naruto tertawa, lucu mendengar pertanyaan sang istri yang tiba-tiba. Dikecupnya pucuk kepala Hinata dengan sayang. "Tentu saja aku bahagia sayang. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Entahlah, kupikir aku hanya takut kalau kau bosan padaku."
"Kau ini bicara apa sih?" Naruto kembali menghimpit tubuh Hinata dibawahnya. Ditatapnya sepasang mata bulan itu lekat. "Kau itu istriku, ibu dari anakku, tempatku pulang. Bagaimana mungkin aku bosan pada seseorang yang begitu penting sepertimu."
Wajah Hinata memerah seketika, sejak kapan suami tampannya itu pandai menggombal? Tubuhnya menegang kalo Naruto makin mendekatkan wajahnya.
"Kau tahu sayang, kau seperti bunga lavender. Bunga cantik yang membawa ketenangan. Aku tak tahu apa yang telah kau lakukan padaku, tapi sejak aku sadar aku mencintaimu, sejak saat itu pula aku sadar aku tak bisa hidup tanpamu."
Hinata tidak tahu sudah semerah apa wajahnya sekarang. Kalimat-kalimat cheesy Naruto yang harusnya membuatnya mual, nyatanya malah membuatnya berdebar tak karuan.
"Kau Hinataku, wanitaku satu-satunya, lavenderku yang paling cantik." Naruto mengecup bibir Hinata, menyesap manis yang sudah menjadi candunya lima tahun terakhir ini.
"Aku masih lelah, jangan lagi..." Hinata merengek ketika Naruto mulai menyingkap selimut yang membungkus tubuh polos mereka.
"Ayolah, sekali saja!"
Menghela napas. Hinata tahu ia takkan pernah bisa menolak suaminya. "Tapi 'sekali' dalam kamusmu itu benar-benar tak bisa dipercaya."
"Haha, I Love you sayang."
"Hm... Me too."
Aku tak tahu sejak kapan ini dimulai, tapi kau tahu sayang, kau dan malaikat kecil kita telah menjadi nomer satuku. Aku begitu bergantung padamu. Aku minta maaf karena pernah menorehkan perih di hatimu. Tapi aku bersumpah dengan nyawaku, itu akan menjadi yang pertama dan terakhir. Aku akan mati di tanganmu jika aku berani melukai hatimu lagi. Itsumo aishiteru my lavender.
END
Banzai! Akhirnya nemu End juga nih fic.. Hohoho..
Terimakasih buat temen-temen semuanya. Yang udah mau baca, review, sama kepoin fic ini.
fic ini dapet 86 favorites, 66 followers, 57.813 views, dan 274 review.. (shock sendiri gue betapa menjamurnya silent reader.. ohoho..)
Last, review lagi ya.. :) I love you all..
-sarangchullpa92-
