IGNORANCE (ChanBaek)
Summary : "kenapa kau sangat membenciku, Chanyeol? memangnya apa salahku padamu?"/"itu karena kau miskin! dan sekarang enyahlah dari hadapanku!"/"H-hikss..."/...BUGH!/"rasakan itu, Byun! Park Chanyeol dilawan.."/"h-hikss.. sa-sangat sakitt"/"dasar cengeng!"/"Baekhyun, aku sangat mencintaimu_"/DEG!/"_maafkan aku yang bodoh ini.."/"hikss... maaf Yeol-ssi.. tapi a-aku membencimu"/"BAEKHYUN!"/"Hyo, maafkan aku.."/PERGI!"/"Hyomin_"/"KU BILANG PERGI!"/"Saranghae Kyungsoo-ya"/"Na-nado.. paboya."
.
.
.
ChanBaek|BaekYeol|ChanLay
.
Cast : Chanyeol, Baekhyun, Hyomin(Chanyeol's sister), Hyuna(Baekhyun's Mother), Zelo, Jongin,
Kyungsoo, Yixing, Nickhun, Soojung, Sehun, Jiyeon, Luna etc... .
.
Chapter 9 | That's Not Just About You
.
Soundtrack - (Kim Taeyeon - If)
.
- Luhan Side's
pagi itu Luhan telah rapi dengan seragam sekolahnya dan bersiap berangkat menuju sekolahnya, Victoria high school. walaupun dia baru saja keluar dari rumah sakit dan luka diwajahnya juga masih terasa sedikit perih dan memarnya juga belum hilang seluruhnya, hal itu tak menyurutkan niat baik Luhan untuk berangkat sekolah dan bertemu sang pujaan hatinya alias Baekhyun.
Luhan menatap pantulan dirinya dicermin panjang disamping nakasnya dengan senyum lebarnya yang justru terlihat aneh.
"aku akan menunjukkan pada Baekhyun, bahwa aku tidak apa-apa walaupun Chanyeol memukulku hingga masuk rumah sakit.. haha, dia pasti akan terkaget dan me_"
"Sayang.."
tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh seseorang, hal itu tentu saja membuat seorang Xi Luhan terkaget bahkan berteriak dengan keras bak seorang yeoja yang ketakutan jika perawannya akan direbut oleh ajuhssi-ajuhssi mesum. Luhan menolehkan kepalanya dan seketika matanya melotot saat mendapati sosok sang Mama yang berdiri didepan pintu kamar sambil menenteng tas brandit mahalnya.
"Mama!" kaget Luhan sambil melipat kedua tangannya kebelakang, nyonya Xi mendekat dengan gerakan slow motion namun tak bisa dipungkiri jika dia sedang menghawatirkan anak sulungnya itu karena ingin pergi kesekolah, padahal lukanya belum sepenuhnya sembuh.
"Luhan, kau jangan sekolah dulu sayang~ lukamu belum pulih sepenuhnya.." ujar nyonya Xi panic sambil menangkup wajah Luhan dengan kedua tangannya. Luhan menepis tangan Mama-nya itu dengan ekspresi anehnya yang justru membuat sang Mama jadi gemas.
"Mama, aku ingin sekolah! luka ini tidak seberapa bagiku, lagipula aku juga telah dewasa, Ma. Mama selalu saja menganggapku masih seperti anak-anak.."
"dewasa apanya? kau itu baru menginjak 18 tahun, Lu. Mama juga tidak yakin jika kau telah dewasa sepenuhnya.." balas nyonya Xi sambil terkekeh, Luhan menatap nyonya Xi datar.
"memangnya kenapa? aku memang selalu bersikap dewasa dan bijak seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, bukan?"
"hmmm?"
"buktinya aku bisa mengambil alih posisi ayah sebagai menejer dan direktur utama di CA croup dan Diamondplays Corporation? ya, walaupun aku sebenarnya tidak mau karena itu termaksuk merugikanku karena masa remajaku harus dibebani dengan kerjaan yang membuat otakku harus bekerja dua kali lebih cermat dan cepat untuk menetapkan setiap terget produk dan pemasaran perusahaan budget, namun apa? aku bisa melakukannta, itu artinya aku telah dewasa, kan? bahkan aku telah memiliki cafe sendiri dan harus membagi waktuku dengan semua pekerjaan yang melelahkan itu, bahkan waktu 24 jam rasanya tidak cukup bagiku untuk hanya menikmati masa istirahatku.."
"..."
nyonya Xi terdiam menatap sang anak yang ternyata dia katakan telah dewasa itu dengan mata yang berkaca-kaca, Luhan yang masih saja mengoceh dengan kepala menatap jendela itupun akhirnya menyudahi ucapannya yang berbelit-belit namun penting(?) itu dengan menatap sang Mama dengan nanar.
"Ma, mama kenapa? apa aku ada salah berbicara? ucapanku menyakitkan Mama, ya?" tanya Luhan beruntun. nyonya Xi menggeleng.
"ani, Mama pikir kamu masih belum memikirkan hal demikian dengan matang, ternyata Mama salah.. Mama selalu menganggapmu seperti anak kecil karena kelakuanmu yang senang memakan ice cream rasa cokelat sambil menonton Ultramen didepan televisi sambil ditemani Papa, yang selalu bermain Video game bersama Papamu saat malam hari, yang selalu bermain sepak bola disore hari dan selalu berjingkrak keriangan jika berhasil mengalahkan Papamu, hikss.. Mama bahkan menganggapmu masih seperti anak-anak, Lu. maafkan Mama, Wo yea du bu qi, Lu.."
"ehh?" Luhan dibuat bingung.
"yue xao hao wo, Mama. tidak apa-apa.." balas Luhan sambil menghapus jejak air mata Mamanya, nyonya Xi tersenyum lembut.
"xie xie, Luhan.."
"shou, Mama..."
"jika begitu, berarti kau telah menyetujui perjodohanmu dengan anak direktur Zhang?" senyum Luhan perlahan menghilang ketika mendengar perkataan Mamanya itu.
"apa?"
"jadi kau telah setuju jika Mama dan Papa akan menjodohkanmu dengan tuan muda Zhang Yixing?"
"apa?!"
"katamu kau telah dewasa, berarti kau telah tahu hubungan percintaan, Mama rasa kamu pasti akan menerimanya, karena Yixing juga sangat mencintaimu."
"Mwo?!"
"ya, dia yang memintanya sendiri, sayang. Yixing sangat menyukaimu saat pertama dia bertemu denganmu waktu itu.."
"kapan?" Luhan mengrenyit.
"ketika pesta jamuan para klien minggu lalu? kalian kan juga telah saling kenal dan bukankah kalian bersekolah disekolah yang sama? percayalah, dari caranya menatapmu saja sudah bisa Mama yakini bahwa dia menyimpan perasaan padamu, Lu" nyonya Xi tersenyum lebar, Luhan mengrenyit.
"benarkah? tapi Yixing itu adalah kekasih Park Chanyeol, Ma."
Deg!
nyonya Zhang menatap tak percaya Luhan.
"apa? kekasih Park Chanyeol?! anak itu.. bukankah dia yang telah menyebabkanmu masuk rumah sakit?! jadi Zhang Yixing itu adalah kekasihnya?!" pekik nyonya Xi tak percaya, dan Luhan hanya mengangguk.
"..."
terjadi keheningan beberapa menit antara mereka, Luhan dengan pikirannya sendiri begitupun nyonya Xi. tiba-tiba nyonya Xi tersenyum miring setelahnya, hal itu tentu saja membuat Luhan sedikit merasa aneh akan tingkah Mama-nya tersebut.
"jadi Yixing adalah kekasih Chanyeol?"
"y-ya, tentu saja. bahkan mereka terlihat sangat mesra sekali.."
"benarkah?"
"ya, tentu saja" balas Luhan aneh melihat senyum Mamanya itu.
"kenapa Mama tersenyum seperti itu?"
"tidak apa-apa, kau terima saja ya perjodohan ini.."
"Mwo?"
"ini adalah balasan atas perlakuan yang Chanyeol lakukan padamu, lagipula bukannya kau telah baik menegurnya karena dia berciuman didepan kelasnya bersama kekasihnya?"
"..." Luhan hanya diam mendengarkan.
"ehh, tunggu.. kekasihnya? berarti yang berciuman dengan Chanyeol itu adalah Yixing?!"
"ya, tentu saja.. memang siapa lagi?!"
"tapi katanya dia hanya mencintaimu, Lu"
"tapi aku tidak menyukainya, Ma. Mama bisa mencari namja lain, kan? seperti.. Byun Baekhyun contohnya" kata Luhan diakhiri dengan semburat merah dikedua pipinya, mata nyonya Xi memicing.
"apa?! anak itu? hahaha, dia itu tidak pantas untukmu, Lu."
"Mwo?"
dia hanyalah seorang pelayan beruntung yang dapat bekerja dicafemu, kau bahkan tidak berhak menyukai anak miskin itu"
"berhenti mengatakan keburukannya, Ma! Mama bahkan tidak berhak menghinanya!"
BRAKK!
teriak Luhan kesal dan segera mengambil tas ranselnya dan pergi meninggalkan nyonya Xi yang berdiri sendirian dikamarnya dengan mata yang melotot tak percaya, karena itulah pertama kalinya Luhan membentaknya. dan itu karena dirinya berkata merendahkan seorang Byun Baekhyun. nyonya Xi menghela nafas panjang dan beranjak keluar untuk meminta maaf pada anak tersayangnya itu, namun mobil Luhan telah terlihat sangat jauh dari pandangannya.
"LUHAN! MAAFKAN MAMA, SAYANG!" teriak nyonya Xi keras, namun mobil Luhan semakin menjauh meninggalkan kediaman keluarga Xi. nyonya Xi lalu menghela nafas frustasi.
"dia bahkan belum memakan sarapannya sedikitpun, hhh aku sangat menghawatirkannya. semoga tuhan memberkatimu, sayang.."
.
Luhan memarkirkan mobilnya ditempat biasanya memarkir mobil kesayangannya itu dan segera turun dengan gerakan kesal. bagaimanapun dia masih kesal akan ucapan Mamanya tadi yang merendahkan Baekhyun. Luhan berjalan menuju dikoridor lantai satu menuju tangga lantai dua dengan gerakan yang lebih santai, beberapa yeoja disana menyapa wakil ketua OSIS itu dengan ramah dan hanya dibalas senyuman kecil oleh namja pecinta rusa itu. dia melirik arlojinya, pukul 7;52 AM. tiba-tiba..
BRAKKK!
seseorang menabrak Luhan sehingga tubuhnya sedikit oleng kebelakang, sedangkan orang yang menabrak Luhan itu justru jatuh terpental dengan kepala menunduk dan dapat Luhan lihat, bahu kecil namja yang menabraknya itu sedikit bergetar. Luhan mendekat.
"hei, kau tak apa? kenapa kau berlari seperti tadi? apakah ada yang mengejarmu?" tanya Luhan beruntun sambil membungkukkan badannya untuk melihat namja yang Luhan rasa familiar itu.
"...h-hiksss" hanya sebuah isakan yang keluar dari bibir namja mungil itu, hal itu tentu saja membuat Luhan sedikit merasa aneh sekaligus kasihan.
"hey, apakah rasanya sakit sekali? maaf jika begitu, lagipula kau yang menabrakku.." namja itu menggeleng kecil, Luhan mengerutkan dahinya bingung.
"tapi kenapa kau menangis? kelihatannya sangat sakit sekali" kata Luhan sembari mencibir tanpa ada niat membantu namja mungil yang menabraknya tad untuk berdiri. namja itu pun akhirnya mendongakkan kepalanya, dan saat itu Luhan memang lagi menatapnya. terjadilah eye conntact antara keduanya.
DEG!
"Baek-Baekhyun?!"
"Lu-Luhan.. hyung!" Luhan terkaget saat mengetahui namja yang menabraknya tadi adalah Baekhyun. Luhan berinisiatif untuk membantu Baekhyun berdiri, namun..
Plakk!
namja manis itu justru menepis tangan Luhan dan segera berlari dengan tergesa meninggalkan Luhan yang masih shock disana.
"BAEKHYUN!"
teriak Luhan namun tak diperdulikan oleh Baekhyun yang terus berlari entah kemana, Luhan menghela nafas panjang. masih pagi-pagi begini saja dia telah menemukan suatu kejanggalan yang biasanya tak pernah terjadi pada Baekhyun. tiba-tiba Kyungsoo datang dari arah utara sekolah sambil berlari tergesa dengan nafas yang terputus-putus. dan saat dia melewati Luhan, dengan sigap Luhan menahan pergelangan namja bermata eodie itu, hal itu membuat Kyungsoo menghentikan aktifitas berlarian(?)nya dan menatap Luhan dengan tatapan aneh.
"hyung?"
"apa yang terjadi pada Baekhyun? kenapa dia menangis hingga seperti itu? dan kenapa kalian saling mengejar dan meneriaki satu sama lain? apa yang terjadi?!" tanya Luhan beruntun bagai rel kereta api(?), Kyungsoo menggeleng panik.
"tadi Chanyeol membawanya ketaman belakang dan melakukan skinship padanya, kami pikir dia akan melakukan sesuatu. ternyata dia mengatakan yang telah membuat Baekhyun kecewa padanya sehingga dia berlari meninggalkan Chanyeol dengan menangis seperti itu.." jawab Kyungsoo cepat dengan satu tarikan nafas, Luhan mengeraskan rahangnya.
"apa?! skinship?!" ulang Luhan tak percaya, apa tujuan Chanyeol melakukan itu pada Baekhyun? dan apa yang dia katakan sehingga Baekhyun terlihat seperti sangat tersakiti bergitu? pikir Luhan.
"a-apa yang bajingan itu katakan padanya?!" Kyungsoo menggeleng panic.
"molla, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi tadi aku melihat Chanyeol seperti mencium Baekhyun dan setelah itu Baekhyun mulai menangis dan setelahnya dia berbalik memunggungi Baekhyun dan berteriak 'itu karena kau miskin! dan sekarang enyahlah dari hadapanku!' dan hanya itu.. mungkin perkataan itu menyakitkan Baekhyun, sehingga_"
kali ini Luhan tidak lagi mendengarkan lebih panjang penjelasan Kyungsoo, namun langsung melepaskan genggamannya pada tangan Kyungsoo dan segera berlari kearah Kyungsoo datang tadi. Kyungsoo segera takut akan apa yang terjadi nanti antara Luhan dan Chanyeol.
"bagaimana jika kejadia seperti kenarin terulang kembali?! ya tuhan! semoga saja Luhan dan Chanyeol tidak akan melakukan hal yang sama seperti kemarin, lagipula bukankah Luhan juga baru keluar dari rumah sakit? astaga! aku mulai gila! aigoo~ naega deonun micheoga~!"
.
.
.
Hyomin bejalan memasuki gerbang kampusnya 'Kyunghee Univercity' dengan gerakan malasnya, dia memang selalu malas jika masuk kuliah, dasar. gadis berambut karamel panjang itu menatap kebawah, tali sepatunya terlepas. Hyomin menghela nafas panjang dan mulai berjongkok untuk mengikat tali sepatunya. tiba-tiba..
TIIIINNN! TIIIINNN!
seorang mengklakson mobilnya dengan keras, Hyomin menolehkan kepalanya dengan mendelik kesal kepada sang pemilik marsaders biru itu dengan tajam.
"YAKK! BISAKAH KAU MENYINGKIR?! TIDAKKAH KAU LIHAT MOBIL MAHALKU INI MAU LEWAT?!" teriak sang pemilik mobil mewah itu kesal pada Hyomin.
"kau bisa lewat sana, kau tidak lihat aku sedang mengikat tali sepatuku?!" delik Hyomin tajam.
"yack, siswi miskin. mengalahlah, ikat tali sepatumu ditepi sana! aku mau lewat tahu!" Hyomin serta beberapa mahasiswa lain yang mendengar lontaran kata dari namja yang berada didalam mobil sana melotot heboh pada orang sombong itu.
"dia mahasiswa baru ya? sombong sekali"
"benar, apa dia belum tahu siapa itu Park Hyomin? sembarangan saja menghinanya"
"iya, 2 tahun aku kuliah disini belum pernah ada aku mendengar seorang-pun yang menghina Hyomin noona" begitulah kira-kira bisikan-bisikan para siswa-siswi Kyunghee Univercity saat melihat adegan adu mulut sesama anak konglomerat itu.
"apa yang kau katakan?! aku miskin?!"
"kau miskin, bukan? buktinya kau saja pergi tidak menaiki mobil..hahaha"
"Mworago?!"
"apa? aku benar, bukan?"
"kau! dasar namja sombong! aku berdoa semoga kepalamu tertimpa kelapa!"
"Mwo? ahahaha, lucu sekali! iu tidak mungkin terjadi, ajuhmma. sekarang menyingkirlah!" Hyomin menggeretakkan giginya. dia-pun lebih memilih mengalah dan menyingkir daripada beradu mulut dengan siswa baru itu. namja bule itu tersenyum miring dan menutup kaca mobilnya, dan..
CRAAZZZHHHHH~
Wussshhhh~!
rok mini yang Hyomin kenakan terangkat sehingga menampakkan hot pants merahnya, si pembuat masalah 'Wu Yifan' alias Kris tertawa setan dari dalam mobilnya. Hyomin mengeraskan rahangnya.
"yack, awas saja kau! akan kubalas kau nanti! isshhh" kesalnya dengan wajah yang memerah karena menahan malu karena ditertawakan seisi kampus. Hyomin dengan menghentakkan kakinya pergi berlari memasuki kampus.
"woahhh~ dia sangat keterlaluan, kau lihat tadi? bokong Hyomin sunbae kelihatan akibatnya.."
"hmm, dia sangat berani untuk melakukan hal itu pada anak ketua Park" kata salah seorang namja pada teman-temannya yang lainnya.
"ya, kurasa dia anak baru. tapi dia sangat tampan.." tambah seorang yeoja bermata sipit.
"kudengar namanya Wu Yifan, dia baru mendaftar semalam." siswi yang paling tinggi menyahut.
"Mwo? Wu Yifan?! kurasa aku pernah mendengar nama itu.." heboh yang sipit.
"Wu Sectra Company, bukan? bukankah dia adalah anak ketua Wu?" yang namja berkemeja menambahi. yang lain menatapnya tak percaya.
"Mwo? benarkah?!"
"entahlah, jangan bergosip pagi-pagi, biarlah urusan mereka, kalian jangan mengurusi urusan orang lain.." lera salah seorang mahasiswa gembul yang membawa banyak buku.
"kau ini, kami hanya sedang memberikan pendapat tahu, bukan bergossip.." tambah siswi berambut panjang.
"kurasa kampus akan terasa panas setelah ini.." balas yang tinggi kembali.
.
.
.
Chanyeol duduk dipenghujung rooftop dengan tatapan kosongnnya, rambut hitamnya melambai dengan lembut saat angin musim semi menyerbu. tiba-tiba pintu rooftop dibuka dengan kasar oleh seseorang, hal itu membuat Chanyeol sedikit terkaget. namja tampan itu memalingkan wajahnya, dan seketika matanya mendelik tajam saat mendapati sosok Luhan dengan nafas terengah-engah dihadapannya.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA BAEKHYUN?!" teriak Luhan kencang, Chanyeol berdiri dari duduknya dan menatap Luhan sengit.
"apa? apa yang kulakukan?" kata Chanyeol sok polos, Luhan menggretakkan giginya dan menyengkram kerah seragam Chanyeol dengan kuat. Chanyeol tersenyum hambar.
"ada apa denganmu?"
"KAU MENCIUMNYA?!"
"apa?"
BUGH!
satu bogem Luhan melayang kearah rahang Chanyeol, darah segar keluar dari hiding Chanyeol. Chanyeol terseyum miring.
"memangnya kenapa? kau marah jika aku menciumnya?"
BUGH!
"KAU BAJINGAN, PARK CHANYEOL! KEMARIN AKU MASIH BISA BERSABAR SAAT KAU MENGHINANYA, TAPI SEKARANG?!"
BUGH!
"kenapa? kau menyukainya?"
DEG!
Luhan terdiam, kepalan tangannya dan cengkamannya pada kerah leher Chanyeol semakin kuat.
"kau berengsek, Park Chanyeol!"
"kau yang berengsek, Xi Luhan!" sekarang Luhan semakin menggeram ketika Chanyeol mulai membalas ucapannya tak kalah keras..
"apa? kau_"
"kau merebut Yixing dariku, apa yang kau lakukan sehingga dia meninggalkanku dan lebih memilihmu daripada diriku?"
DEG!
"..." Luhan mematung, Chanyeol berdecih dan melepaskan tangan Luhan yang tadi menyengkram kerahnya dengan kasar.
"iya, kan? pasti Yixing memutuskanku karena kau menghasutnya karena kemarin aku memukulimu hingga kau sekarat,kan?"
"a-apa maksudmu?"
"apa kau dan Yixing menjalin hubungan dibelakangku? dan saat aku telah mencintainya begitu dalam, kalian menghancurkanku dengan cara Yixing mengakhiri hubungan kami dan berkata sejujurnya jika kalian bahkan telah bertunangan?"
"..."
"benar, kan?"
"tidak, Chanyeol. ini salah! ini hanyalah perjodohan sepihak!"
"Mwo? perjodohan sepihak?"
"asal kau tahu, AKU TIDAK MENCINTAI ZHANG YIXING, TAPI BYUN BAEKHYUN!"
DEG!
Chanyeol menatap tak percaya Luhan, ternyata benar. malaikat lemah bernama Byun Baekhyun itu benar-benar telah menyihir keduanya memasuki alam cintanya.
"K-kau?"
"aku pergi, urusan kita selesai!" ucap Chanyeol dingin dan segera beranjak meninggalkan Luhan yang berada sendirian diatas rooftop.
.
.
.
Chanyeol memasuki rumahnya yang bak istana itu dengan gerakan malasnya, masalah percintaannya yang mengenaskan membuatnya jadi malas untuk bersosialisasi, contohnya tadi dia selalu mengabaikan Zelo dan Jongin dari datang hingga pulang sekolah tiba. bahkan dia mengabaikan ajakan baik Zelo untuk bermain futsal seperti biasanya yang Chanyeol lakukan jika merasa frustasi.
Cklekk
PLAKK!
Chanyeol merasakan pipinya perih saat sesuatu menamparnya dengan sangat keras. bahkan kepalanya sempat oleng, dia memegangi pipinya dan menatap sang pelaku yang menampar dirinya tanpa sebab. dan seketika matanya membola.
DEG!
"Eomma?" Chanyeol menatap tak percaya Eomma-nya alias Song Qian, sedangkan Qian menatapnya dengan tajam dengan muka yang terlihat sangat merah.
"ke-kenapa kau menamparku? apa salahku?!" tanya Chanyeol tak terima. dia menatap kebelakang Eommanya, ada Noona-nya alias Hyomin yang menatapnya iba dengan mata yang berkaca-kaca, dan disampingnya ada Appanya, Nickhun Park yang menggeram dengan wajah merah.
"apa yang kau lakukan, Park Chanyeol?!" teriak Nickhun pada putra sulungnya itu, Chanyeol menatap mereka bingung.
"apa yang kulakukan?"
"kemarin kau memukuli anak presdir Xi hingga masuk rumah sakit! dan karena kau perjanjian kontrak yang telah mereka setujui dengan Green Park Corporation menjadi batal semua! ini adalah bencana besar bagi keluarga kita, seharusnya kau berteman baik dengan anak presdir Xi, bukan malah berbuat onar dan menyebabkannya mengalami cidera! dan karena kau kita semua harus mengganti rugi atas cidera yang dialami Luhan dan mengembalikan kembali saham yang pernah mereka setorkan pada perusahaan kita, kau gila?!"
"bencana besar kata Eomma? Eomma tahu? Luhan bahkan merebuat semua yang kuinginkan dan kumiliki termaksuk kekasihku!" balas Chanyeol tak kalah sengit. mereka semua menatap tak percaya Chanyeol.
"apa?"
"Luhan merebut Yixing dariku, dia bajingan! dan ternyata tidak sia-sia kemarin aku memukulinya hingga sekarat begitu, hahaha"
"..."
Bukk!
Tap Tap Tap
Chanyeol segera pergi meninggalkan ketiganya menuju kamarnya dengan tawa hambarnya yang terlihat menyedihkan. Hyomin menggaruk kepalanya bingung dan lebih memilih mengejar adiknya itu.
"CHANYEOL, TUNGGU NOONA!"
"..."
"AAHHHH! ANAK ITU BENAR-BENAR MEMBUATKU HAMPIR GILA!" teriak Qian frustasi.
"kita harus mencari jalan lain agar presdiar Xi tidak membatalkan kontrak.." Nickhun berujar. Qian menoleh.
"apa kita harus menjodohkan Hyomin dengan Luhan agar presdir Xi menarik kembali ucapannya?"
DEG!
"a-aku?"
.
.
.
TO BE CONTINUED
A/N :
Annyeong? I am back with chap 9! he he he #ditendang#
gimana Chapt ini? banyak konfliknya, kan? tepi Chap depan janji buat moment cb dehhh *ketawabarengchanyeol*#dibakar#
nae ga bakal maksa kok readersnim buat Riview apa nggak, yang penting udah mampir baca nae udah seneng. apalagi yang nge-Riview~ *peluksatu-satu* #ditenggeleminkesungaiHan# hehe, ok! banyak bacot bgt deh saya, sampai jumpa dichapter selanjutnya, Chinguya~
Geumapseumnida^^
.
.
.
thank's to all for Riview
.
I LOVE YOU~!
.
.
.
-XOXOVERDOSEXODUSE
- Jung Hae Ra
