Disclaimer
Grand Chase, All related Logo and Characters are trademark of KOG studio.
Refference : +Anima, autorized by Natsumi Mukai
.

-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 4 : Animal Soul [part 1]

.

"Kenapa..."

"Kenapa lagi-lagi ada kalian di sini sih?!" Teriak Elesis pada duo dari grup detektif gaje yang ikut bersamanya di dalam sebuah bus menuju bumi perkemahan.

"Sebagai kakek dari kakek-kakekmu aku bertanggung jawab atas keselamatanmu, jadi aku harus menjagamu 24 jam nonstop!" Seorang yang mengakui sebagai kakek meski penampilan fisiknya masih seperti pemuda berusia 20 tahunan itu duduk dengan santai.

"AKH! Kakek kakek mulu, orang bodoh mana yang mau percaya dengan penampilanmu seperti itu?!" Elesis frustasi sambil menunjuk kearah kakeknya itu, sementara sang kakek dan Rufus tenggelam dalam kerumunan para gadis di kursi paling belakang.

"Kenapa juga aku harus ikut denganmu. Seharusnya kan kau sudah menyeberang." Komentar Rufus bosan sekaligus kesal karena diguyur pertanyaan oleh mudi-mudi satu bus. Meskipun begitu Sieghart nampaknya menikmati, sementara para murid laki-laki menatap tajam kearah mereka berdua.

"Hee.. Kau tak pernah cerita kenal cowok-cowok keren begini Elesis." Puji salah satu dari mereka. Elesis mendengus.

"Hoho.. Aku Ecnard Sieghart, kakek buyut dari si merah di sana." Ia menunjuk Elesis yang diselimuti aura merah hingga siapa pun yang berada disekitarnya mengambil interval 1 meter.

"Mana mungkin?" Gadis-gadis itu terkikik mengira Sieghart sedang bercanda.

"Aku serius ladies~" Ia menunjukkan senyumnya yang paling menawan, membuat sebagian dari mereka pingsan di tempat. Sementara itu sebagian yang lain mulai bertanya pada yang seorang lagi.

"Kalau kakak namanya siapa?" Rufus mengabaikannya.

"Oh ayolah, kau butuh liburan sesekali. Lihat wajah kusut itu." Goda Sieghart pada pemuda disampingnya. Rufus menghela nafas.

"Namaku Rufus Wilde."

"Boleh minta alamat rumahnya?"

"Membiarkanmu mengikuti dan mengganguku tiap hari? Kurasa tidak." Jawab Rufus dingin.

"Apa kakak sudah punya pacar?"

"Setahuku itu bukan urusanmu."

"Umur kakak berapa?"

"219 tahun." Semua termasuk Sieghart dan Elesis menatap dengan tampang -kau-serius?-.

'Oh sial!'

"Aku bercanda, umurku masih 20 tahun." Timpalnya secepat mungkin, masih dengan wajah dan nada datar.

"Ah kakak ada-ada aja." Mereka tertawa.

'Hampir saja.. aku lupa kalau penuaanku lebih lambat.' Batin Rufus.

Meski remaja disekelilingnya percaya begitu saja, Sieghart merasakan kejanggalan pada nada dan gerak-geriknya. Ia memutuskan untuk menanyakannya nanti.

.

"Huaa.. Udaranya segar sekali." Teriak si merah blak-blakan.

"Tempat senyaman ini, paling enak untuk tidur." Sieghart sudah berbaring santai dibawah pohon rindang.

"Enak saja! Kau harus membantu mendirikan tenda lebih dahulu orang asing!" Dengan tenaga super yang diturunkan dari generasi ke generasi, Elesis menyeret Sieghart dari tempat peristirahatannya.

"Mau bagaimanapun orang asing ini kakek buyutmu tau!" Rengek Sieghart sambil mencakar bumi.

Melihat indahnya alam dan merasakan sejuknya udara pegunungan. Angin dingin menyapu kulitnya dengan lembut. Ia terbawa kembali ke masa lalu, ketika seluruh keluarganya masih lengkap dan bertamasya bersama layaknya keluarga bahagia pada umumnya. Senyum dan tawa adalah hal yang biasa. Tanpa sadar ia tersenyum akan kenangan indah yang sudah lama terlupakan itu.

"...rennya."

"Kya.. ...ku akan ...nang."

"Huh?"

Rufus yang baru saja kembali dari masa-masa nostalgianya disambut dengan puluhan pasang mata menatapnya berbinar-binar. Bingung dengan apa yang terjadi selama ia melamun, Elesis datang dan memerintahkan mereka untuk segera kembali ke tugas masing-masing sehingga ia tidak terjebak dalam situasi blank. Setelahnya ia berbalik, memberi acungan jempol dan tatapan -kau-berhutang-padaku-.

Dalam beberapa jam kemudian tenda beserta api unggun sudah selesai dipersiapkan. Murid-murid segera memilih tenda masing-masing baru kemudian mempersapkan makan malam. Para siswi bertugas memasak sementara para siswa bertugas untuk berburu. Oleh karena Sieghart dan Rufus hanya pendamping 'ilegal' jadi mereka duduk selagi menunggu semuanya dipersiapkan.

"Are.. Kalau cuma segini mana cukup."

"Maaf, kami sudah mencapai batas." Melihat ada yang tidak beres Elesis selaku ketua menghampiri.

"Ada apa ini?" Siswa dan Siswi yang sedang berbicara tadi langsung menunduk takut.

"Ano.. Ketua.. buruan yang dikumpulkan anak laki-laki sepertinya masih kurang untuk kita semua." Sang siswi menjelaskan.

"Maafkan kami ketua!" Para siswa serentak bertekuk lutut dihadapan sang ketua.

"Ya ampun." Elesis menepak dahinya.

"Kalau begitu kalian harus lebih banyak belajar dalam hal berburu!" Komentar Sieghart dari seberang api unggun.

"Kalau begitu kenapa tak kau ajari mereka pak tua?" Balas Elesis tak mau kalah.

"Kalau kau memaksa.. Aku akan mengajari mereka besok. Tapi untuk malam ini..." Sieghart mengalihkan pandangannya pada Rufus. Rufus menatap balik dengan bingung.

"Kau saja yang berburu ya?"

"EKH?! Kenapa aku?"

"Kau kan ahlinya."

"Katakan saja kalau kau malas membantu." Rufus mengambil sepasang handgun dari balik jaketnya, membuat para murid panik. Untungnya Elesis menjelaskan bahwa Rufus sebenarnya adalah detektif jadi memiliki senjata api bukanlah hal yang istimewa. Justru setelahnya ia menjadi semakin populer.

"Aw man, aku jadi iri padamu." Kata Sieghart selagi Rufus sedang bersiap-siap.

Sebelum meninggalkan perkemahan, lagi-lagi Elesis memberi acungan jempol dan tatapan -kau-berhutang-padaku-. Sebutir air memunculkan dirinya disamping kepala sang detektif.

.

Dua jam berlalu, sekeranjang ikan dan dua ekor rusa ditangkap olehnya. Merasa sudah cukup ia menyeret mangsanya kembali ke perkemahan. Dalam perjalanan ia menangkap bayangan yang lewat di sudut matanya. Semak bergemerisik disekelilingnya. Sekelebat siluet lewat diantara semak rimbun. Ia menarik pistolnya keluar namun tak terlihat lagi sosok hewan apapun itu.

'Hewan apa tadi itu?'

Sekembalinya Rufus langsung memberikan buruannya kepada para siswi untuk dimasak. Cukup bahkan lebih dari cukup untuk acara kontes makan bagi kakek dan cicitnya yang sekarang saling menatap dengan petir menyambar-nyambar di matanya. Para siswa dan sebagian siswi bersorak untuk Sieghart dan Elesis, sementara sebagian siswi yang lain berkerumun menghujani Rufus dengan segudang pertanyaan yang tidak penting. Ia tak mendengarkan sih, ia justru teringat kembali akan mahluk berbulu orange tadi. Harimau mungkin? Tapi tidak ada loreng. Apa mungkin singa? Singa tidak tertarik dengan hewan yang sudah mati. Hewan apa yang berbulu orange jeruk seperti itu?

"Yo! Kau melamun saja.. Gadis-gadis manis tadi kecewa karena kau sama sekali tidak menanggapi mereka." Sieghart datang dengan piring penuh daging.

"Aku sedang berpikir."

"Soal apa?" Sieghart menggigit makanannya.

"Hewan berbulu yang tingginya hampir sama dengan manusia."

"Hmm... mungkinkah kuda nil?"

"Sejak kapan kuda nil berbulu?" Komentarnya datar.

Sementara mereka berdiskusi tentang keluarga mamalia berbulu dan tak berbulu, para siswa sedang berkumpul mengitari api unggun sambil bercerita cerita seram secara bergantian.

". . . . dan di batu nisan tersebut tertulis nama siswa yang meninggal tersebut." Seorang siswa mengakhiri cerita.

"Lumayan seram juga. Nah sekarang giliranku." Elesis berdiri di tepi api unggun.

"Pernahkah kalian mendengar rumor tentang bukit perkemahan ini?" Tanya Elesis sambil menyorotkan senter dari bawah wajahnya untuk membuat kesan seram.

"Konon katanya ada mahluk buas berbulu orange yang menjaga tempat ini dari penyusup." Kalimat barusan menghidupkan alarm pada Rufus. Meskipun jauh, telinganya yang runcing dan tajam dapat mendengar dengan jelas.

"Stt.. aku sedang mendengarkan cerita mereka." Sieghart berhenti berbicara. Ia mengarahkan pandangannya pada Elesis, samar-samar ia dapat mendengar.

"Dulu sekali, tanah yang kita pijak ini sangatlah indah bagaikan surga dunia. Banyak sekali peneliti alam dan ekspedisi dilakukan. Ratusan spesies yang tidak pernah ditemukan di belahan dunia lain, semua ada di sini. Para penjelajah akhirnya mengumumkan kepada publik tentang segala hal yang mereka temukan di tempat ini, termasuk yang paling terkenal adalah Lilium Stargazer. Banyak keluarga konglomerat yang berani membeli mahal untuk setangkai saja bunga lili yang langka dan indah tersebut. Pihak pemerintah menolak untuk menjual karena keterbatasan populasi dan sebaliknya spesies tersebut seharusnya dilestarikan. Para pemburu liar memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan. Mereka menyusup pada malam hari untuk memetik lili yang bermekaran. Hal ini tak berlangsung lama, tepat sehari setelah kejadian entah itu peneliti ataupun pemburu yang datang tidak ada yang pernah kembali. Tim pencari pun hanya sempat memberikan informasi kalau mereka telah diserang oleh mahluk buas yang berbulu orange-putih sebelum akhirnya terputus dengan media komunikasi. Sejak saat itulah tidak ada yang pernah berani datang kemari." Elesis mengakhiri ceritanya.

"Cerita yang bagus merah." Sieghart bertepuk tangan di kejauhan.

"Ketua! Kalau kau tahu ada rumor seperti itu di sini kenapa kau memilih tempat ini untuk berkemah?" Beberapa dari mereka terlihat takut, bahkan ada yang sudah berkemas untuk pulang.

"Oh ayolah, itu semua hanya cerita karanganku saja. Masa begitu saja sudah takut?" Kata Elesis sedikit mengejek.

"Ehm.." Seluruh perhatian beralih pada Rufus yang masih duduk bersandar pohon.

"Pertama, untuk ceritanya cukup meyakinkan." Elesis membusungkan dadanya penuh dengan rasa bangga.

"Lalu.. untuk mahluk berbulu orange dalam ceritamu.. Aku melihatnya sekilas saat berburu di hutan tadi."

.

Neva : 219... EEP?! Jadi selama ini kau adalah kakek-kakek? OAO

Rufus : Aku gak setua itu tau!

Neva : :P

Ru : Sebelum menutup chapter kali ini.. saatnya Re:review~

Ryan : untuk awainotsubasa.. Yap, itu aku.. kalau soal fict yang satu itu baru selesai sebagian kecil, masih banyak yang harus ditulis.. daaaann.. memang author Ru terinspirasi dari Detective Loki, yah meski agak kecewa karena ceritanya gak bener-bener cerita detektif misteri di setiap episode seperti conan.. :3

Sieghart : Untuk Shirokawa Hazuki.. Aku tak mengerti maksudmu.. ==

Rufus : Hei, jangan ditarik! Aduuh.. DX

Ryan : Aku mengerti bagaimana rasanya bro.. *tepuk punggung Rufus*

Rufus : Kalau begitu singkirkan dariku!

Neva : Untuk Kuro no Hime-sama.. Ha'i, Ru-sama sedang mengerjakan lanjutannya... :)

Lime : Untuk Eureca-Cross.. ckckck, tidak baik berbahagia melihat orang lain menderita..

Elesis : tuh, dengerin kata si chibi.. *ditimpuk gavel*

Zero : Aku sama sekali tidak muncul.. *sigh* ..next episode : Animal Soul [part 2]