When I Lonely 10

.

.

.

Pojokan author :

Maaf ada kesalahan penulisan fugaku sama hiashi tapi udah di repair... Gomen membingungkan. :v :v

Akhirnya setelah lama tak update ToT, maaf yah Cuman satu chapter... im going crazy with my life, idenya sedang hang out jadi sedikit keteteran disana sini... soal Kalian yang ngejudge Ino, yah sesuatu juga :v dia dapat peran begitu sih. Khekhe...

Shanaz suka senyum senyum sendiri kalau baca review reader, oalah bisa bikin semangat sama tambah ide. Kebanyakan sih yang nebak fic shanaz suka salah atau shanaz salahin. #ImAuthor this fic (Ketawa jahat HAHAHAHA)

Soal event Naruhina. Sempet ga ya?

Happy reading..

.

.

.

.

"Hinata chan kau baik? Kak Menma menyuruhku untuk mengecek keadaanmu?" teriak Sasori,

Tak ada jawaban. Hinata tidak ingin melakukan apapun selain mengubur dirinya didalam selimut. Hanya itu, dan...

"Hinata" itu suara yang sama persis dengan suara Naruto senpai, apa Kak Menma sudah kembali? Tapi Hinata tidak ingin melihatnya.

"Jangan masuk!" teriak Hinata.

"Aku sudah masuk"

"Pergi! Pergi! Aku tidak ingin melihat kalian. Kau ataupun senpai!"

Sesuatu terjadi saat dia tidak ada, Menma tahu itu dan sekarang Hinata sedang merajuk? Galau? Asal jangan sampai bunuh diri.

Menma menyibak selimut yang menutupi tubuh Hinata, Prihatin akan keadaan gadis itu. "Ayo keluar dan makan sesuatu yang enak" ajak Menma sembari duduk disamping futon Hinata.

"Tidak!"

"Hinata!"

"Aku tidak mau!"

"Hinata, jika kau terus seperti ini, apa kau tahu apa yang akan terjadi pada keponakanku? Sleepymu?"

"Dia masih ada, dia takkan kemana-mana"

"Dia akan meninggalkanmu jika kau terus seperti ini."

"Bohong."

Menma menghela nafas panjang, namun akhirnya Hinata melihatnya dengan dahi berkerut, dia melihat wajah Menma dengan plester yang menutupi sebagian wajahnya.

"Ada apa? Kak Menma habis berkelahi?" tanya Hinata sembari bangun dan menyelidiki wajah Menma.

"Katakanlah begitu, aku sedang sial bertemu dengan preman" jawab Menma. "Apa yang terjadi? Naru melakukan hal buruk lagi?" tanya balik Menma

Hinata mengangguk, dia sendirian saat kembali. Kak Menma malah pergi. Dia ingin menangis dan bersandar tapi dia tetaplah sendirian menghadapi ini. "Kak Menma jahat"

"Jahat?"

"Ketika aku sendirian, harusnya kak Menma ada dan menemaniku. Ketika aku terpuruk, kau malah tidak ada. Kau yang memintaku bergantung padamu, aku.."

Tangan Menma mengelus surai Hinata. Itu kusut dan berantakan, betapa dia menderita karena sendirian "Maaf, ada urusan yang harus aku selesaikan beberapa hari ini"

"Katakan itu sebelum Kak Menma pergi" sela Hinata. Dia tidak suka perasaan kesepian dan dikhianati dua kali ini. membuat dadanya sakit dan dia tak tahu apa obatnya.

"Gomen ne, sekarang aku akan selalu ada untukmu"

Hinata tahu permintaannya egois, namun dia tak dapat menghentikan dirinya untuk mendapatkan sisi Naruto yang sebaik ini, dia ingin merasakannya. Tidak mau kesepian lagi. Tidak ingin sendirian lagi.

"Nah mau makan?" tanya Menma. "Steak kesukaanmu?"

"Iya" jawab Hinata singkat, kalau terus merajuk dia bisa ditinggalkan oleh Kak Menma.

oOo

Masuk ke dalam restoran steak selalu membuat air liur Hinata menetes, dia tidak tahan dengan baunya dan sulit menunggu lama. Menma hanya tersenyum melihat Hinata bersemangat mencari tempat duduk kosong.

"Nona pelayan aku pesan steak sweet beef dengan ekstra mentega panggang" ucap Hinata sebelum pantatnya menyentuh kursi.

Pelayan itu tersenyum, "Baik. Tuan mau pesan apa?" tanya pelayan itu melihat kedatangan Menma ke meja Hinata.

"Sup krim jagung."

"Baik. Mohon tunggu sebentar"

Hinata ingin berteriak 'jangan lama-lama' tapi mengurungkan niatnya sendiri, itu pasti memalukan apalagi ada Kak Menma dihadapannya.

"Kak Menma kenapa? Kakak dari tadi senyum-senyum terus? Apa ada yang salah denganku?" tanya Hinata.

"Ie. Aku senang kau mau makan dan menemuiku."

"Sebenarnya aku takut. Takut sekali. Jika aku terus merajuk, apa kak Menma akan mengabaikanku dan meninggalkan aku?"

Menma mengangguk mengerti.

"Anoo, Kak bolehkah aku meminjam ponselmu untuk menelpon?" tanya Hinata ragu.

"Kau ingin menelpon? Siapa?"

"Aku ingin menelpon rumahku. Aku sedikit khawatir pada keadaan adikku"

"Hmm baiklah" Menma mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Hinata, buru-buru Hinata mengambilnya dan menelpon rumahnya.

Tidak ada jawaban. Apa mimpinya benar? Hinata takut dan dia ingin mencoba untuk yang ke 3 kalinya sebelum memutuskan akan datang ke rumah yang sudah dia tinggalkan untuk mengecek kondisi Hanabi.

'Mosh-Moshi'

Hinata tersentak kaget, dia tak menyangka usahanya berhasil. Ini suara Hanabi.

'Moshi-moshi? Siapa?'

Tanpa menjawab, Hinata langsung menutup telponnya dengan wajah lega. Kamisama, syukurlah Hanabi baik-baik saja. Kalau sampai ayahnya yang mengangkat, Hinata tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Hinata."

"Y-ya? Oh terima kasih telponnya."

"Apa kita harus tinggal bersama?"

"Eh?" Hinata menatap Menma yang sedang serius melihatnya. "Aku masih bisa bekerja kak. Tenang saja"

"Aku takut akan ada hari seperti ini lagi, aku hanya ingin lebih leluasa menjagamu, Hinata."

Tinggal bersama Kak Menma? bukan ide yang buruk. Tapi kenapa rasanya Hinata berat hanya untuk mengatakan ya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan kak Menma saat bersamanya. Katakanlah Hinata belum percaya padanya 100%.

"Aku tahu kau belum percaya padaku."

"B-bukan seperti itu." Sanggah Hinata, harusnya Hinata tidak mempermasalahkan itu? Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, Hinata tinggal pergikan? Ah dia akan sulit menemukan apartemen yang seperti apartemen Nara.

Tangan Menma menyebrangi meja untuk mengelus surai Hinata lagi. " Tidak apa-apa. Maaf sudah memintanya padahal kita tidak punya hubungan apa-apa"

Hubungan? Sama seperti yang Hinata pertanyakan pada Naruto? Hubungan apa yang terjalin diantara mereka. Kak Menma selalu membantu Hinata, apa yang Hinata berikan sebagai rasa terima kasih? bahkan tubuhnya sekalipun tak akan mampu melunasi seluruh hutang budi Hinata pada Kak Menma. Ketidak percayaan apa yang sempat Hinata pertanyakan?

Sama seperti Naruto, apa perasaan ini juga yang menguasai Hinata? Perasaan tidak ingin ditinggalkan? Tangan Hinata menarik Tangan Menma yang bergerak diatas kepalanya dan membawanya untuk Hinata genggam.

"Apa Kak Menma tahu perasaan apa yang aku pertahankan pada Naruto senpai?" tanya Hinata, dia tak kuat menahan beban ini sendirian. Harus ada pengakuan dosa, sebelum hubungan mereka semakin rumit lagi. "Tolong beri aku jawaban setelah aku mengatakanya"

"Ha-i... Perasaan apa itu Hinata?"

"Aku mempertahankan rasa takut. Naruto senpai adalah pria pertama yang aku kenal setelah ayah, aku tahu sejak awal dia hanya memasukanku ke dalam permainan laki-lakinya. Tapi aku terlalu bahagia menjalin hubungan palsu dengannya. Makanya aku rela melakukan apapun untuknya. Rela karena perasaan takut. Takut Naruto senpai meninggalkan aku jika aku tidak ikut dalam permainannya lagi. Takut Naruto senpai meninggalkan aku jika tahu perasaanku yang sesungguhnya. satu-satunya yang kumiliki hanya Naruto senpai"

"Hinata.."

"Saat aku tahu aku punya Sleepy, aku tak bisa mengatakan apa-apa. Bahkan terlintas dibenakku, aku bisa mendapatkan Naruto senpai seutuhnya, menguasainya untuk diriku sendiri. Aku sangat bahagia hanya dengan fikiran seperti itu. Kemudian aku menangisi semuanya. Kenyataan yang bahkan bisa aku tebak sebelum aku mengakuinya. Bukankah aku yang lebih jahat? Naruto senpai selalu tertawa dan membuat hariku cerah saat bersamanya. Tapi aku bahkan tidak memberikan ruang sedikitpun dihatiku untuknya selain perasaan takut."

"Siapapun akan sakit hati mendengarnya, seperti lebih baik kau berbohong daripada berkata jujur." Ucap Menma, "Kau bekerja mati-matian agar bisa melahirkan dengan selamat tanpa diketahui orang tuamu kan? Mandiri di usiamu sudah umum sekarang. Tapi menyembunyikan-"

"Ayahku sudah tahu."

"Eh?" Menma fikir- karena dia ingin menelpon rumah, Menma fikir?

"Aku diusir saat ayah mengetahuinya. Aku bukan lagi bagian Hyuuga. Ayahku memang seperti itu.." jawb Hinata sembari tertawa.

"Jangan tertawa. Jadi ayahmu tahu? Dimana ibumu?"

Hinata bungkam, mengingat seperti apa keluarganya, bagaimana bisa dia mengatakan keburukan itu pada orang lain? Setidaknya ada pelajaran yang dia dapatkan dengan benar di rumah itu dari pendidikan ayahnya. Apa yang terjadi dalam kelurga akan menjadi rahasia.

"Jadi Kak Menma apa jawabanmu?"

"Yah itu" Menma malah terlihat bingung untuk menjawab.

"Pesanan anda." Ucap pelayan mengantarkan piring berisi pesanan mereka.

"Ah aku lapar" ucap Hinata melepaskan tangan Menma dan tersenyum seolah tahu jawaban Menma.

"Aku akan tetap bertanggung jawab!" tegas Menma. "Makanlah"

"Akan aku habiskan sampai tak bersisa" ucap Hinata berusaha melupakan percakapan mereka. Menganggap masalah ini selesai bergitu saja.

PRANG

Menma harus sampai menjatuhkan sendoknya melihat bagaimana cara Hinata memakan steaknya. Dia memakai tangan! Astaga Menma sampai kelabakan dibuatnya. "Hinata. Gunakan garpu dan pisaumu"

"Hmm aku suka makan seperti ini" tolak Hinata, dia menggigit nikmat steaknya. "Oishii" Hinata lupa diri setelah memandang steak dihadapannya dan Sleepy akhirnya mengambil alih Hinata dalam hal cara memakan steak paling nikmat.

"Astaga..." Menma menepuk dahinya dengan perasaan maklum.

Melihat reaksi Menma, Hinata meletakkan dagingnya dan menunduk, dia seperti gadis patuh yang sedang dimarahi. Bibirnya diseka dengan anggun, setidaknya dia masih memiliki harga diri sebagai seorang wanita. "Gomen."

"Tidak apa-apa. Lakukan sesukamu. Itu membuatmu nyaman kan?" jawab Menma tak menyangka akan reaksi Hinata.

"Hountou ni?"

"Yaah... kau bisa-"

"Arigatou hmm hmm" ucap Hinata mengambil kembali steaknya dan segera melahapnya.

"Kurasa tidak masalah." Gumam Menma.

oOo

Mengerikan. Kalau saja Menma tak menghentikan Hinata, Hinata bisa malu seumur hidup. Diliriknya Hinata yang sedang berdiri kesal di luar sementara Menma membayar tagihannya.

Coba fikirkan, Hinata ingin menjilat piring bekas steaknya! Dia-, Menma menghela nafas, mereka seperti ayah dan anak.

"Sudah selesai?" tanya Hinata.

"Sudah. Dan jangan pernah berfikir seperti tadi. Lagi!" ucap Menma sembari menahan sedikit rasa malunya.

Hinata tidak tahu kalau kak Menma juga bisa semarah ini? Itukan bukan keinginannya juga, itu maunya Sleepy. Hinata memberikan senyum lebarnya. Dia sungguh berterima kasih Kak Menma ada disampingnya. "Terima kasih, steaknya" ucap Hinata.

"Langsung pulang?" tanya Menma, mereka berjalan perlahan sembari menikmati suasana kota disore hari.

"Huum."

Dengan begini, Hinata tidak akan berkelakuan aneh yang dapat menyebabkan timbulnuya rasa malu pada diri Hinata lagi. Menma mendekati gadis disampingnya takut-takut gadis itu-

"Hilang!" teriak Menma tak mendapati Hinata berjalan disampingnya. "Hinata! Hi- eh?"

"Senpai, belikan aku balon, ya? Senpai yang bulat-bulat bisa tebang itu. Aku mohon senpai!" pinta Hinata sembari menunjuk balon yang tepasang di sebuah toko.

"Mana ada penjual balon di jam segini?" tanya Menma mendekati Hinata. Selain itu, Menma terkejut mendengar Hinata memanggilnya senpai tadi.

"Tapi aku mau balon" ucap Hinata memelas. "Tolong senpai belikan"

"Ahh satu kan?" tanya Menma melihat ke arah toko, semoga mereka mau memberinya sebuah balon.

"Sepuluh" jawab Hinata merentangkan kedua telapak tangannya.

Menma tesenyum, kalau seperti ini, Menma yang bertanggung jawabpun bisa mengalami tsundere, serangan panik, dual kepribadian, pokoknya semua gangguan jiwa akibat permintaan Hinata.

"Ayo belikan" ucap Hinata mendorong punggung Menma untuk masuk.

Menma tak punya pilihan lain selain masuk dan meminta. Dia pasti akan membayarnya jika mereka minta bayaran. Sungguh!

"Permisi"

Cukup lama Menma didalam dan meninggalkan Hinata diluar lagi namun dengan perasaan gembira. "Hmm Hm balon Hmm" gumam Hinata bernyanyi tidak jelas. "Hmm Hmm"

"Ini yang kau pesan Hinata. Sepuluh balon dengan ekstra tambahan 5 balon" ucap Menma mendekati Hinata.

Dengan senang hati Hinata menerimanya dan memeluk salah satu tangan Menma. "Terima kasih kak Menma. Terima kasih"

"Eh? Kau tadi-" ucap Menma terputus. Hinata pasti melakukannya tanpa sadar kalau dia memanggil Menma dengan sebutan senpai.

"Eh? Aku tadi melakukan apa?" tanya Hinata bingung,

"Tidak ada."

"Ah maaf" ucap Hinata sadar sudah memeluk tangan Menma. Dia melakukannya karena senang tadi. Namun tangan Menma dengan cepat menahan tangan itu.

"Jangan lepaskan" ucap Menma. "Bisa-bisa kau hilang lagi" tambahnya dengan nada takut.

'Siapapun akan salah paham jika Hinata sedang mode manja seperti ini.' Batin Menma. 'Tidak. Bisa saja dia melakukannya tanpa sengaja?'

Berjalan berdua tanpa rasa rakut ketahuan, ah ini seperti impian yang selalu Hinata dambakan. Hatinya sedikit iri karena melihat siswa SMA yang baru pulang dari sekolah, kapan Hinata akan kembali ke sekolah lagi? Sepertinya tidak akan pernah.

Menma tersentak kaget karena balon yang dipegang Hinata menhalangi pandangannya. "Aku tidak bisa melihat Hinata" ucap Menma sedikit panik.

"Tidak ada tiang sejauh 10 m kedepan." Jawab Hinata serius. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menyembunyikan Menma dari pandangan si rambut kuning yang berjalan dari arah sebaliknya.

"Ah so-souka tapi aku bisa menabrak orang"

"Naruto senpai, mau ke karaoke dulu?" tanya gadis disampingnya.

"Hm boleh" jawab Naruto kalem.

Hinata dan Naruto saling berpapasan. Naruto sempat melirik Hinata dengan pandangan sedih, Hinata berjalan menatap lurus ke depan. Dia mengacuhkan Naruto.

Menma tak berbicara sampai Hinata menyingkirkan balon diwajahnya. Dia dengar nama Naruto diucapkan oleh suara seorang gadis.

"Hinata?"

"Saat aku tak lagi bekerja, kita bisa tinggal bersama? Aku ingin seperti itu, tidak masalah kan?" tanya Hinata.

"Keputusan ada ditanganmu." Jawab Menma.

"Baik"

"Istirahatlah sehari lagi" saran Menma.

oOo

Hinata merebahkan dirinya diatas futon, lelah. Sedikit bibirnya tersenyum setelah satu minggu belakangan dia mengurung diri karena perlakuan Naruto masih membekas diingatannya.

"Sleepy, bagaimana menurutmu dengan Kak Menma?" tanya Hinata. "Ah mama-" Hinata berhenti berbicara. Dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan mama?

"Apa aku pantas jadi mamamu, Sleepy?" tanya Hinata, dia tidak boleh ragu lagi, dia sudah memutuskan dan itu akan segera terwujud.

Melirik sekilas jam digital diatas meja, Hinata menghela nafas, sudah malam. Dia harus pergi mencari pekerjaan besok. Dia tak yakin masih diperbolehkan bekerja disana, tapi dia harus minta maaf.

"Ugh h-" Hinata menahan keinginannya untuk muntah, namun cairan itu sudah sampai dibatas tenggorokannya. Kakinya berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.

"Kenapa sekarang? Ug-" omel Hinata.

Berkali – kali serangan mual itu datang, sampai Hinata lemas dibuatnya. Dia bahkan harus sampai merangkak hanya untuk keluar dari kamar mandinya sendiri.

"Aku tidak tahan lagi" ucap Hinata menempelkan kepalanya dilantai, berbaring secara menyamping. Ada rasa perih yang menjalar dari perutnya. Asam lambung Hinata sedang bergejolak sekarang.

Hinata mual namun tak sanggup pergi ke kamar mandi lagi. 'Disaat seperti ini bisa-bisanya aku memikirkan orang lain datang dan menyelamatkan aku' batin Hinata. Kalau dipaksa dia pasti bisa merangkak sekali lagi ke kamar mandi.

Tak ada yang keluar selain air liur yang menetes ketika mulut Hinata terbuka. Rasa sakit dari lidah yang menegang berbenturan dengan gigi-giginya menambah siksaan Hinata.

"Ah!" Hinata bahkan belum sempat menjerit ketika tangannya tergelincir membuat tubuhnya oleng dan kepalanya terbentur cukup keras ke sisi kloset.

"It-tai" desis Hinata, sampai selemah inipun Hinata belum juga kehilangan kesadaran. Dia harus mencari bantuan, kalau terus begini dia bisa mati karenanya.

Sasori dengan senang hati membuka pintu, tempat sampahnya penuh dan dia sekalian mencari makan diluar, "Enaknya makan apa ya?" gumam Sasori sembari menutup pintu.

"Sasori senpai" bisik sebuah suara.

Tubuh Sasori menegang. Ini baru pukul 11 lewat dan para penghuni malam sudah memanggilnya untuk dijadikan hadiah pesta, sungguh malang nasibnya hari ini.

Grep! Tangan dingin memeluk kaki Sasori dengan kuat.

Jeritan Sasori harus tertahan, harga dirinya dipertaruhkan sekarang. Tenang, hanya imajinasi saja.

"Saso- tolong!"

"Gyaaah!" teriak Sasori sekuat tenaga. Sungguh dia tak bisa bergerak selain bibirnya yang menjerit-jerit membangunkan tetangga apartemennya.

"Medokusai" umpat Shikamaru keluar dari kamar Sasori.

"Shika tolong aku" ucap Sasori pelan, takut melihat apa yang memeluknya.

"Me-do-ku-sai" eja Shikamaru menutup kemudian mengunci apartemen Sasori dari dalam.

"Shika tolong aku! kau tidak bisa tidur dan mengunci kamar orang lain sedangkan pemiliknya sedang dalam kesusahan!" teriak Sasori.

"Ada ap-" Menma harus berwajah jijik karena Sasori langsung memeluknya erat. "Lepaskan humu" umpat Menma.

"Yada! Kau pasti akan mengabaikanku." Tolak Sasori. "Hantu memeluk kakiku. Tolong aku!"

"Hantu?" Menma melirik pintu kamar Hinata yang terbuka namun tak ada yang keluar atau mengintip dari sana. "Hinata"

"Hantunya bukan Hinata."

"Kak Menma" panggil Hinata. Kali ini Menma dan Sasori melirik kaki Sasori yang sedang dipeluk Hinata.

"Astaga Hinata!?" tanya Menma segera memeluk tubuh Hinata. Wajahnya pucat dan terasa dingin.

"Aku tidak mau sleepy mati"

oOo

Menma memandang sedih pada Hinata, gadis itu tertidur setelah diberi obat tidur. Jangan – jangan mual Hinata gejala keracunan? Menma menepuk pipinya pelan, ada dokter yang memeriksanya tadi, dan dia tidak menanyakan makanan apa yang Hinata makan tadi.

Mereka masih ada di IGD menunggu analisis dokter apakah perlu Hinata rawat inap atau tidak. Sasori ada disamping Menma, lebih tenang dari 10 menit yang lalu.

"Tuan walinya?" tanya si dokter berkacamata, Kabuto.

"Itu.. aku rasa iya." Jawab Menma ragu.

"Sejak kapan dia mual seperti ini?" tanya Kabuto.

"Aku baru menemuinya akhir-akhir ini. Aku tidak tahu"

"Apa Hinata-san sering mengalami nyeri diperutnya?"

Menma harus menggeleng lagi, dia tidak tahu apa-apa mengenai kondisi Hinata secara mendetail. "Aku hanya pernah melihatnya sekali kesakitan, dan pingsan karenanya"

"Sepertinya iya dok, aku tetangga apartemennya. Setiap malam saat pulang bekerja aku sering mendengar suara ringisan dan beberapa kali melihatnya berhenti dan memegang perutnya ditepi jalan" jelas Sasori.

"Hmm, aku akan memeriksa Hinata-san bangun, untuk bertanya detailnya. Beritahu aku jika dia bangun" ucap Kabuto pada perawat yang setia mencatat keterangan Sasori.

"Ha-i" jawabnya.

"Hinata akan segera sembuhkan, kak Menma?" tanya Sasori takut.

"Semoga. Kau pulanglah duluan, aku yang akan menemaninya"

"Tapi-"

"Hinata sudah menjadi tanggung jawabku." Sela Menma.

Sasori ingin membantah lagi, tapi kenyataannya memang Hinata seperti diperhatikan oleh kak Menma sejak kedatangannya ke apartemen Nara. "Ah baiklah. Kalau kak Menma butuh bantuan, telpon saja aku" ucap Sasori.

Dengan berat hati, Sasori meninggalkan Menma dan Hinata, dia akan kembali besok untuk menjenguk Hinata lagi. Menyedihkan sekali melihat salah satu tetangganya sakit, kalau saja Sasori lebih peka dan menanyakan keadaan ringisan Hinata setiap malam. Ya sudahlah, ini sudah terjadi.

"Tuan, bisa lengkapi administrasinya terlebih dahulu?" Ucap seorang perawat.

"Baik" jawab Menma berjalan ke loket depan.

Tirai disamping ranjang Hinata terbuka, "Kakak" gumamnya pelan sembari mendekati Hinata dengan terpincang-pincang.

Hanabi berdiri di samping ranjang Hinata, tangannya dipenuhi luka lebam dan cakaran hingga sebagian wajahnya. Hanabi sudah mencapai batasnya untuk bersabar dibully setiap hari.

Hari ini dia melawan sebanyak yang dia bisa, mencakar, mengigit dan menjambak para siswi sialan itu. "Kakak" gumamnya lagi, "Lihat kak aku melawan mereka lagi. Kali ini aku membuat banyak bukti untuk melaporkan mereka ke kantor polisi."

Hinata tak juga bangun membuat Hanabi sedih. "Tunggulah sebentar lagi, mama akan menjemput dan membawa kita bersamanya" janji Hanabi, dia harus menyembunyikan Hinata dari pandangan ayahnya.

Tepat saat Hanabi menutup tirai ranjangnya dan Hinata, Hiashi datang. Langkahnya masih bertahan dengan gaya berwibawanya. "Hanabi" Hiashi menahan dirinya untuk memarahi Hanabi di depan umum. Dia ingat harus tetap tenang.

Hanabi tidak ingin pulang, karena dia tahu ayahnya sedang marah namun dia sembunyikan didepan umum. Namun jika terus di sini, ayahnya bisa saja menghajar Hinata lagi. Mengusir Hinata belum cukup bagi Hiashi

"Ayo pulang"

"Ha-i." Jawab Hanabi pelan dan mengikuti Hiashi.

Berat untuk Hinata membuka matanya, namun dia ingin bangun dan mendapati dirinya berada di kamar rawat.

"Jangan bergerak dulu" ucap Menma khawatir, sembari membantu Hinata duduk.

"Sleepy!" Hinata meraba perutnya yang sudah mulai berisi, masih ada namun Hinata melirik Menma untuk memastikan ini bukanlah mimpi belaka.

"Dia baik-baik saja, kau jangan khawatir" jawab Menma. Tangannya terasa hangat mengenggam Hinata.

"Senpai..." bisik Hinata tanpa sadar. Meskipun orang lain yang ada disampingnya dan mengenggam erat tangannya, Hinata masih merintih dan memanggil Naruto. Hinata patut dibenci untuk ini. "Gomen," lirih Hinata.

Menma menggeleng pelan. "Jika kau merasa baik dengan menganggapku Naruto, kau bisa melakukannya sesukamu. Panggil aku senpai atau namanya."

"Tapi kalian berbeda."

"Kami lahir dari rahim yang sama. Kau jangan khawatir"

"Bagaimana dengan perasaanmu?"

Menma diam, "Jangan pedulikan perasaanku. Ini hukuman"

Hinata melepaskan genggaman Menma. tidak bisa seperti itu, jelas tidak bisa. Ada apa dengan kak Menma, Perasaan manusia tak bisa terluka terus menerus.

"Hinata." Panggil Menma, sekarang tangannya mengelus surai Hinata lembut. "Saat kau bilang tidak mau Sleepy mati. Aku bertekad akan melakukan apapun untuk kalian, jadi jangan sia-siakan tekad yang sudah kubuat ini" bibir Menma tersenyum tipis, tidak seperti Naruto yang suka tersenyum lebar.

Jelas mereka sangat berbeda, namun Hinata hanyalah gadis egois yang menginginkan kenyamanan dirinya sendiri. Hinata mengangguk. "Kalau begitu, peluk aku senpai" ucap Hinata pelan.

Tangan Menma bergerak menuju bahu Hinata dan menariknya ke arah tubuhnya. Menyelimuti Hinata dengan kehangatan tubuhnya. Kilasan mimpi buruk perlakuan Naruto membuat Hinata ketakutan lagi, "Senpai, le-lepaskan" bisik Hinata takut.

"Aku akan menjaga kalian. Jangan takut. Hinata" ucap Menma menenangkan.

Seperti angin segar, kata-kata Menma membuat Hinata tenang. "Aku percaya, senpai. Itu hanya mimpi buruk" ucap Hinata.

"Itu memang mimpi buruk," Menma melepaskan pelukan Hinata, sudah cukup untuk hari ini. "Kita harus memberitahu dokter, dia ingin menunjukan keajaiban padamu"

Menma berdiri untuk mengambil telpon kabel di dinding dan menekan angka 1 untuk berbicara dengan petugas piket hari ini. "Tolong sampaikan pada dokter Kabuto, kalau pasien dikamar 22 sudah siuman. Terima kasih"

Hinata menatap Menma yang tersenyum lagi sembari berbalik, dia berdiri cukup lama sampai seorang suster masuk dan membawa kursi roda untuk Hinata.

"Aku bisa berjalan sendiri" tolak Hinata dengan pipi bersemu.

"Hinata kau masih lemah, turuti saja permintaan suster"

"Aku tidak mau"

"Demi Sleepy."

Hinata harus diam untuk mempertimbangkan apa yang Menma katakan. "De-demi Sleepy" ucap Hinata.

Suster itu maklum dan tersenyum sembari membantu Hinata duduk di kursi roda. Menma mengekori Hinata menuju ruang praktek dokter Kabuto.

Setelah masuk Hinata harus berbaring di ranjang periksa sampai dokter Kabuto muncul dari balik pintu masuk dan langsung menghampiri Hinata. "Hinata-san, apa ada yang masih sakit?" tanya dokter kabuto.

"Aku sudah merasa lebih baik sekarang" ucap Hinata.

"Suster bisa tolong bantu Hinata-san" ucap Kabuto sembari menggunakan sarung tangan.

"Maaf Hinata-san, saya akan membuka piama anda dibagian perut." Izin sang suster, setelah mendapat anggukan dari Hinata tangannya dengan cekatan membuka kancing piama dan mengoleskan gel lembut yang terasa dingin.

Hinata merasa gugup entah untuk apa. Dia sampai harus menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Debaran jantungnya menggila.

"Apa ini pertama kali anda melakukan USG?"

Hinata mengangguk pelan, Dokter Kabuto tersenyum lagi sembari menempelkan sebuah alat di atas perut Hinata yang berisi Sleepy.

Deg.

Deg.

Deg.

Hinata sangat gugup, sampai-sampai Hinata bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.

Dug.

Dug.

Dug.

"Kau dengar Hinata-san, itu suara jantung kedua janinmu" ucap dokter Kabuto.

Jadi tadi bukan suara jantung Hinata? Itu suara jantung Sleepy. Dua Sleepy, rasanya seperti keajaiban yang memenuhi tubuh Hinata secara tiba-tiba.

"Kak-"

Menma menyeka sedikit airmata yang keluar dari matanya. "Ini menyentuh hatiku" ucap Menma.

.

.

.

.

Tbc...