Udara di dalam ruangan atau gudang tersebut sangat pengap. Seluruh jendela kaca tertutup memperangkap udara yang pengap serta bau menyengat bensin yang bercampur dengan aroma tidak mengenakkan lainnya. Keringat bersama dengan darah mengalir turun dari wajahnya. Pandangan Joonmyun terasa kabur karena hantaman benda tumpul yang mengenai pelipis matanya. Pria itu merintih kesakitan, setiap ia mencoba menggerakkan tubuhnya.

Kepalanya tertunduk tidak bisa menatap para bajingan yang berbalik mengkhianatinya. Joonmyun menggigit bibirnya yang terluka. Rasa perih yang terasa dibibirnya, bahkan tidak bisa mengalahkan rasa malu yang terus menekan dirinya. Joonmyun merasa benar-benar dipermainkan. Tidak pernah sekalipun ia mencurigai Chanyeol yang mulai mengambil alih anak buahnya satu-persatu dan kemudian, bisnis miliknya. Ia terlalu buta akan rasa cemburunya pada Jongin. Ia terlalu buta akan keegoisannya sendiri.

Ia terlalu buta akan pembalasan dendam yang seharusnya tidak pernah ia lakukan.

Joonmyun merasa telah dipergunakan, dibodohi dan.. ia tidak tahu apakah dirinya bisa menahan segala perasaan yang perlahan menghancurkan dirinya dari dalam. Atau apakah ia harus menyerah saja? Membiarkan ajal menjemputnya dan melenyapkan segala ketakutan serta kekecewaan di dalam dirinya.

Joonmyun tidak tahu. Tapi, sepertinya.. pilihan untuk mengakhiri hidupnya adalah pilihan yang termudah. Karena ia tidak bisa hidup lebih lama lagi jika harus melihat sorot mata kecewa dari ayahnya serta Jongin.

Tidak, lebihbaik ia mati saja daripada melihat mereka berdua.


Chapter 9 : Bad Blood


Senyum Jongin perlahan lenyap saat ia mendengar penjelasan dari Jongdae.

Ia jatuh terduduk di atas kursi, merasa bukan hanya dirinya yang melemas tapi dadanya juga terasa menyesak. Sehun berdiri di sampingnya, meremas tangannya dengan lembut, seolah mencoba memberikan suatu kekuatan padanya. Jongin mendengarkan penjelasan Jongdae tentang Joonmyun, bisnis gelapnya dan rencana pria itu bersama Chanyeol untuk mencelakainya. Jongin membalas remasan tangan Sehun, dengan harapan Sehun akan menyangkal semua hal yang Jongdae telah jelaskan padanya. Namun, Sehun hanya terdiam menatapnya. Terpancar suatu kesedihan di dalam matanya yang memberi arti, bahwa apa yang dikatakan Jongdae bukan sekedar mimpi buruknya.

Ini nyata. Kakaknya sendiri berusaha membunuhnya.

Jongin ingin menangis serta menjerit. Bukan karena rasa kecewa atau marahnya kepada kakaknya itu, melainkan rasa bingung akan apa yang sebenarnya ada dikepala Joonmyun. Apa yang sebenarnya dia pikirkan sampai-sampai ia tega melakukan semua ini? Apa dirinya pernah membuat suatu kesalahan padanya? Kepala Jongin terasa seperti akan meledak. Ia masih berusaha menyangkal semua ini, dan berharap ia memiliki bukti untuk menyalahkan tuduhan mereka semua terhadap kakaknya.

Tetapi, pada kenyataannya, ia tidak memiliki bukti dan semua yang Jongdae jelaskan serta tunjukan padanya bukan hanya sekedar asumsi. Melainkan, kenyataan.

Joonmyun benar-benar bersekongkol dengan Chanyeol untuk melukainya.

Ia tidak perduli dengan Chanyeol yang entah mengapa kembali untuk pembalasan dendam. Mungkin, ia memang pantas mendapatkannya. Ia tidak bisa menyalahkan Chanyeol jika pemuda itu membencinya. Ia tahu apa yang dirinya renggut dari pemuda itu, dan kata maaf atau penyesalan tidak akan mengembalikan apapun padanya.

"Kau berpikir terlalu keras." Sehun kembali meremas tangannya.

Jongin mengangkat kepalanya, bersitatap dengan kekasihnya itu."Aku.. umm, ini masih terasa tidak nyata. Maksudku, Joonmyun memang bukan kakak terbaik yang aku miliki. Tapi, sekalipun aku tidak pernah mencurigainya karena bagaimanapun juga, dia kakakku. Entah kami sedarah atau tidak, ia tetap kakakku." balas Jongin seraya tersenyum getir. Suaranya terdengar begitu lirih dan semakin mengecil.

Jongdae hanya terdiam memperhatikan mereka berdua, berusaha menghiraukan rasa penasarannya akan kedekatan antara Sehun dan Jongin. Ia mencoba memfokuskan dirinya pada Jongin yang terlihat sangat membutuhkan dukungan. "Kau sudah tahu kalau Joonmyun itu anak angkat?" tanyanya, mendapat delikan tajam dari Sehun. Jongdae meringis setelah menyadari kalau pertanyaannya bukan pertanyaan terbaik untuk ditanyakan saat ini.

"Ya, aku tahu. Ayah tidak pernah menutupinya. Dan mungkin, itulah yang membuat Joonmyun marah? Lalu, berbalik menyerangku seperti ini? Entahlah. Semua ini masih terasa.. tidak nyata bagiku." kali ini, suara Jongin terdengar sedikit bergetar. Pemuda itu tampak kesulitan menahan tangisnya.

Sehun mengelus bahunya dan tidak melepaskan tangannya, meski tatapan Jongdae semakin menuntut padanya. Ia pikir ini bukan saat yang tepat bagi Jongdae, LE atau siapapun untuk mengetahui hubungan mereka. Sehun akan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan soal kabar gembira ini. Sehun menyipitkan matanya pada Jongdae, alisnya bertaut, seolah menyuruhnya untuk diam dan tidak bertanya yang aneh-aneh lagi pada Jongin.

Salah seorang agent menghampiri mereka dengan wajah gelisah. Sehun melihat dia baru saja mendapat panggilan telpon. Firasat buruk mulai menggeluti dirinya. Jongin masih menundukkan kepala, sehingga tidak menyadari kehadiran pria itu. Sementara, Jongdae berbalik menatap salah satu agent yang memiliki tugas sama sepertinya -bekerja di balik meja komputer, mengarahkan para agent dan memberikan informasi- dengan kening mengerut. Sepertinya, pria yang (kata Sehun) tidak peka terhadap sekitarnya itu juga menyadari suatu keanehan pada agent itu.

Apapun berita yang agent itu sampaikan, Sehun yakin itu berita yang sangat buruk.

"Tadi, Mr. Kim menelpon dan memberitahu kalau," Jongin mengangkat kepalanya saat mendengar seorang pria menyebut panggilan formal ayahnya. "Kim Joonmyun diculik oleh seseorang bernama Park Chanyeol. Apa kita harus mengirim agent ke kantor Joonmyun sekarang?"

Mata Jongin membelalak, wajahnya mengeras dan sorot matanya semakin meredup. Ia beralih menatap Sehun yang terlihat samat terkejutnya dengan dirinya. "LE dan Miranda sedang dalam perjalanan ke sana. Aku mau kalian melacak keberadaan ponsel Joonmyun dan nomor yang menghubungi bos kita." perintah Sehun. Namun, mata pria itu tersebut sama sekali tidak beralih dari Jongin.

"Lalu?" tampaknya, perintah Sehun masih dianggap perintah dasar oleh agent itu.

"Lalu, kirim agent terbaik ke lokasi dimana ponsel Jongdae berada. Aku tidak yakin kalau mereka akan menahannya atau malah membiarkan Joonmyun masih memeganya. Tapi, dugaanku mereka pasti membuang ponselnya di suatu tempat di sekitar lokasi Joonmyun yang sebenarnya." kata Jongdae, melirik ke arah Sehun yang membalasnya dengan senyum tipis. Ia tidak tahu hubungan apa yang Sehun miliki dengan anak bosnya. Namun, asal Sehun bahagia dengan apapun yang dimilikinya dengan Jongin, ia akan selalu mendukung sahabatnya itu.

"Bagaimana jika mereka membuang ponsel Joonmyun di tempat yang-"

"God, kau ini banyak argumen ya? Cepat lacak ponsel Joonmyun dan nomor Chanyeol di ponsel bos kita!" potong Jongdae sambil menggeram jengkel.

Senyuman Sehun semakin melebar ketika melihat tingkah sahabatnya. Ia melirik sekilas ke arah Jongin, dan mendapati jika pemuda itu terlihat kesulitan menahan senyumnya. Sehun mengelus pipinya membuat Jongin berbalik menatapnya. Wajah pemuda itu terlihat lebih tenang, namun Sehun bersumpah dapat melihat suatu kemarahan yang memuncak di dalam matanya. "Aku ingin terlibat di dalam misi ini." ujar Jongin tiba-tiba.

Sehun nyaris melepaskan genggaman tangannya karena.. ia tidak akan membiarkan Jongin mempertaruhkan nyawanya demi bajingan yang bahkan tidak pantas disebut sebagai kakaknya itu. Seolah tahu akan jawaban Sehun, Jongin kembali bicara, "Semua ini terjadi karena aku. Aku yakin dia tidak akan membunuh Joonmyun. Karena Joonmyun adalah umpan."

Sehun mengernyitkan dahinya semakin dalam. Mungkin, ia sedang mempertanyakan kewarasan Jongin sekarang. "Kau tahu kalau yang dia inginkan adalah kau. Kau tahu kalau Joonmyun hanya umpan. Dan kau masih mau terlibat di dalam semua 'misi' ini? Jongin, ini bukan Mission Impossible, yang pada akhirnya protagonis menang melawan antogonis, apapun yang terjadi. Apa yang kau anggap misi penyelamatan ini bisa membahayakan nyawamu!"

Jongin nyaris tertawa di depan muka Sehun. Sementara, Sehun menatapnya dengan tajam, menganggap hal ini bukan sesuatu yang lucu atau konyol. "Lantas, bagaimana denganmu? Apa kau tidak mempertimbangkan resikonya? Kau bisa saja mati, Sehun! Tidak ada yang tahu akhir dari misi ini. Seperti katamu, ini bukan Mission Impossible."

Sehun menghela nafas. Ia dapat melihat apa yang Jongin berusaha lakukan padanya. Pemuda itu mencoba memutar meja, menyerang dirinya dengan kata-katanya sendiri. "Tapi, ini pekerjaanku." hanya itu argumen yang dapat Sehun berikan padanya.

"Dan ini masalahku." tukas Jongin, tidak menginginkan argumen atau larangan apapun dari Sehun. Pemuda itu memutuskan kalau ini adalah akhir perdebatan mereka.

Jongdae sangat mengharapkan sekantong popcorn dipangkuannya. Melihat 'sepasang kekasih' berdebat seperti film action-romance seperti ini bukan sesuatu yang dapat dilihatnya setiap hari. Pria itu menahan cengirannya setengah mati, ketika tatapannya bertemu dengan Sehun. "Umm, sebaiknya kalian bersiap-siap. Sepertinya, mereka sudah menemukan sesuatu." Jongdae menunjuk para agent lainnya yang sudah berhasil menemukan lokasi ponsel Joonmyun dengan gerak kepalanya.

"Busan! Kami menemukan lokasinya di pusat kotu Busan." teriak salah satu agent, yang masih berkutat dengan komputernya.

Sehun kembali beralih menatap Jongin, mendapati pemuda itu sedang menantang dirinya dengan sorot mata yang berani. Dan detik itu juga, Sehun tahu kalau dirinya kalah. Ia tidak akan bisa menahan keinginan Jongin dan membuat pemuda itu duduk diam di markas. Sehun lagi-lagi menghela nafas, merasa misi kali ini lebih berat karena bukan hanya berurusan dengan mafia yang pendendam, tapi juga kekasih barunya yang keras kepala.

"Jadi..?" ada binaran menggoda di dalam mata Jongin. Sehun tidak tahu apakah dia harus menciumnya atau menampar pemuda itu agar sadar.

"Telpon ayahmu. Jika dia setuju, maka aku juga."

Dan itulah keputusan terakhir Sehun, sebelum ia menghampiri para agent yang sedang bekerja untuk segera mendapatkan informasi. Jongin melirik ke arah Jongdae, yang membalas dirinya dengan bahu terangkat naik. Kali ini, giliran Jongin yang menghela nafas. Ia berjalan mencari tempat yang lebih sepi, lalu mengeluarkan ponselnya.

Kontak Dad berada di paling atas dan di bawah kontak ayahnya itu, ada kontak Joonmyun. Jongin tidak bisa menahan emosinya yang benar-benar kacau hari ini. Mungkin, ia sudah merasakan segala macam emosi dalam seharian ini. Jongin menempelkan layar ponsel pada telinganya, tidak sampai semenit ia langsung mendengar suara ayahnya. Pria itu terdengar.. sedih, lelah dan pasti jauh dari kata baik-baik saja.

"Jongin, kau ada dimana sekarang?"

"Aku sedang bersama Sehun di markas."

Ayahnya langsung menjawab dengan cepat, "Syukurlah. Aku mau kau diam di sana, oke? Kumohon jangan bertindak gegabah, Jongin."

Ayahnya sangat mengenal betul dirinya. Tanpa perlu Jongin menjelaskan padanya, pria paruh baya itu sudah tahu akan rencana yang ada di dalam kepalanya. Jongin memutar matanya dengan gelisah. Ia tahu bagaimana perasaan ayahnya itu sekarang. Ia yakin keputusannya ini hanya akan menambah kecemasan pria itu. Namun, Jongin tidak bisa membiarkan dirinya duduk manis, sementara Chanyeol sedang berusaha membunuh kakaknya dan Sehun sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri.

"Aku minta maaf." Jongin menangis. Air mata perlahan turun membasahi pipinya. Ia terisak ketika membayangkan wajah sedih ayahnya di seberang sana. "Ini adalah masalahku. Aku tidak akan membiarkan siapapun terluka hanya untuk menyelesaikan masalah ini. Aku akan menghadapi Chanyeol."

Sejenak, ayahnya hanya terdiam membisu. Jongin menarik nafasnya, mencoba untuk tenang. "Jongin.." pria itu hanya memanggil namanya, tidak mampu untuk melarang atau bahkan memperbolehkannya. Dan jujur saja, respon seperti inilah yang semakin menghancurkan hati Jongin.

"Sekali lagi, aku minta maaf." bisik Jongin. Sebelum akhirnya, dia memutuskan sambungan secara sepihak.

.

.

"Nomor yang kita lacak memang nomor Park Chanyeol." ujar agent dengan code name Luke itu. Agent Luke adalah salah satu hacker terbaik (yang kata Jongdae, berada satu tingkat di bawahnya) di organisasi mereka. "Kabar buruknya, aku tidak bisa melacak keberadaan Chanyeol sekarang. Sepertinya, bajingan itu memiliki program anti-hack diponselnya."

Sehun mengangguk paham. Lalu, mulai mengamati peta keberadaan ponsel Joonmyun. "Busan? Entah mengapa, aku memiliki firasat kalau Joonmyun memang berada di sana." ucap Sehun. Pria itu tampak sangat yakin akan dugaannya.

"Well, mungkin saja. Aku akan mengirim pesan pada bos kita agar pria itu lebih tenang. Karena setidaknya kita memiliki progress jauh lebih cepat dari pihak kepolisian." Agent Luke melemparkan seulas senyum tipis padanya, menunjukkan dua lesung pipit pria itu.

Sehun langsung memasang ekapresi bingung dan alisnya bertaut. "Memangnya, bos kita melapor pada polisi?"

"Tentu saja, tidak. Dia tidak ingin menarik perhatian media. Dan, oh, tapi katanya kalau kita tidak bisa menemukan Joomyun dalam secepat mungkin. Dia terpaksa meminta bantuan polisi dan kalau bisa, FBI." jelas Agent Luke, membuat wajah Sehun berubah menjadi lebih lega. Well, ada baiknya kalau mereka tidak perlu berurusan dengan pihak kepolisian atau FBI. Sehun bukan salah satu penggemar kedua organisasi itu. Karena menurutnya, bekerja bersama mereka hanya akan memperlambat progress saja dengan berbagai macam investigasi yang terlalu dilebih-lebihkan

"Berarti, kita tinggal menunggu kabar dari para Agent yang sedang menuju Busan?"

"Ya, bisa dibilang begitu." Agent Luke mulai meregangkan otot-otot pada tubuhnya yang terasa pegal.

Sehun memutar matanya. "Thanks, Yixing."

Agent Luke -atau nama aslinya Zhang Yixing- langsung mendengus jengkel. "Panggil aku Luke!" dia nyaris terdengar seperti merengek, membuat LE yang baru saja tiba dan mendengar dirinya, ikut mencibirnya.

"Shut up, Zhang Yixing!" seru LE sambil mendelik ke arahnya.

Sehun beralih pada LE dan Miranda yang baru saja kembali dari KIM&CO Enterprises. LE yang berniat menuntut penjelasan darinya, langsung membungkan mulutnya ketika melihat Jongin yang berjalan menghampiri mereka. Miranda menatap pemuda yang jelas lebih muda dari mereka semua itu dengan tatapan menilai, lalu beralih menatap Sehun. Sementara, Jongdae yang sedang beristirahat sebentar dikursinya semakin menginginkan popcorn.

"Jongin, aku sangat-"

"It's okay, LE." Sehun memotong wanita itu. Karena, sungguh, ia tidak membutuhkan rasa prihatin atau kasihan dari siapapun sekarang.

Jongin berdiri di samping Sehun. Jarak di antara mereka sangatlah tipis dan tangan mereka sesekali bersentuhan. Miranda menarik seulas senyum kecil, menyadari apa yang terjadi di antara mereka. Wanita itu berdeham keras membuat seluruh perhatian tertuju padanya. "Aku butuh minum." ujarnya terdengar sangat random bagi Sehun.

Sehun memicingkan matanya, berharap tidak ada yang Miranda rencanakan untuk mengacaukan hari yang sudah sangat buruk ini bagi Jongin ataupun dirinya. "Aku bisa mengambilkan minum untukmu!" celetuk Jongdae seraya bangkit bangun.

Miranda mendelik ke arahnya, lalu memutar matanya. "Antar saja aku ke dapur. Kau bukan babuku, Jongdae." balas Miranda.

Jongdae nyaris meloncat kegirangan dan kemudian, salto di depan muka Sehun. "Oke, oke, ayo ikut aku!" seru Jongdae benar-benar bersemangat. Miranda menghela nafas sangat keras, sebelum akhirnya mengikuti pria itu.

LE yang daritadi hanya memperhatikan, mendecak kagum karena akhirnya Kim Jongdae berhasil mendapatkan perhatian Miranda. "Itu.. pacar Jongdae?" tanya Jongin tiba-tiba.

Sehun nyaris tersedak air liurnya sendiri. Sedangkan, LE berusaha keras menahan tawanya yang nyaris meledak. "Umm, aku tidak tahu." jawab LE, saat melihat delikan tajam Sehun yang terarah padanya. Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu pergi begitu saja menghampiri salah satu agent.

Kini, tinggalah Sehun dan Jongin yang saling menahan diri untuk tidak menggenggam tangan satu sama lain. Jongin menatap Sehun dengan lekat, begitupun dengan Sehun. Entah apa yang ada di dalam pria itu, sehingga selalu membuatnya kembali tenang dan berani menghadapi segala macam masalah yang sempat ditakutinya.

Tanpa ada Sehun di sisinya sekarang, mungkin.. ia tidak akan bisa melewati semua ini dengan pikiran jernih. Mungkin, ia sudah melakukan hal-hal bodoh sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan semuanya.

"Bagaimana tanggapan ayahmu?" tanya Sehun, memecah keheningan di antara mereka berdua.

Jongin hanya bisa mendengar suara Sehun. Sebising atau sekeras apapun suara yang lainnya, hanya suara Sehun yang dapat didengarnya. "Dia.. mengizinkanku." Bohong.

Jongin menggigit bibirnya. Ia menunggu respon Sehun yang entah itu berupa penolakan atau persetujuan. Namun, beberapa detik berlalu, dan pria itu hanya terdiam menatapnya.

"Aku sangat ingin mencium bibirmu." bisik Sehun, mendekatkan wajahnya pada telinga Jongin.

Jongin menggigit bibir, berusaha untuk menahan senyumannya. "Kalau begitu, cium aku." tantangnya.

Sehun mendekatkan hidungnya pada surai rambut Jongin, menghirup aroma khas pemuda itu. "Setelah kita menyelesaikan semua ini, aku akan menciummu sampai kau tidak bernafas." bisiknya lagi, lalu tertasa kecil persis di samping telinga Jongin.

Jongin tidak bisa menahan senyumnya lebih lama lagi. Ia menggenggam tangan Sehun, dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Apapun yang terjadi.

"Oh Sehun, aku mencintaimu." bisik Jongin, mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun.

Sehun menatap matanya dengan lekat, mengekspresikan seluruh perasaannya terhadap Jongin lewat sorot matanya yang meneduhkan. "I love you too, you brat. Seperti janjiku sebelumnya, aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkan Chanyeol atau siapapun melukaimu. Karena bagiku.. aku tahu kedengarannya sangat eww, tapi.. kau adalah segalanya."

Jongin menahan nafasnya. Ini bukan hanya soal kata-kata manis Sehun yang meluluhkannya. Melainkan, soal kesungguhan pria itu yang terpancar dari mata serta senyumnya. Jongin tahu ini bukan saatnya untuk merasa bahagia. Namun, sekali ini saja, Jongin ingin menerima perasaan bahagia itu. Membiarkan perasaan itu menghangatkan dirinya serta membuat dirinya tidak berhenti tersenyum.

"Kau juga, Sehun." Sehun masih menatapnya dengan senyum lebar. Jongin menarik nafas dan kembali berkata;

"Kau juga segalanya bagiku."

.

.


Rin's note :

2 atau 3 chapter lagi.. fanfic ini end HOHOHO

next chapter bakal full-action and kind of plot twist (i guess).. dan aku bakal update ff ini rabu depan (janji gak bakal ngarett)

Duhh, mau ngomong apa lagi ya lol.. ohh, tbh di awal chapter aku nge-blank abis cuma pas pertengahan aku udah lebih enjoy ngetiknya haha

p.s if u want to ask something or talk to me.. just ask me on my askfm or u can PM me