Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM and Nitroplus
AN : Frangipani omake.
Maaf kalau ada karakter yang out of character.
Omake ini berbasis dari cerita Frangipani dengan saniwa lima tahun yang tinggal bersama para touken danshi dalam setting modern.
Mungkin bakal membahas sebagian toudan yang tidak tersorot dalam cerita Frangipani.
Warning! SPOILER FOR FRANGIPANI. Baca Frangipani dulu baru baru baca chapter ini biar lebih ngerti.
Ketika dewan saniwa memanggilnya, saniwa Akinaga hanya bisa menghela nafas. Dia terlampau gugup. Yamanbagiri memegang tangan saniwa yang memilihnya sebagai pedang pertama, berusaha menenangkan saniwa Akinaga yang masih tegang.
"Aku takut." bisik saniwa senior itu.
"Tak apa. Aruji-sama lebih baik dariku." kata Yamanbagiri, mencoba menghibur saniwa agar dia tidak gugup.
"Kamu payah sekali dalam menghiburku. Aku harusnya memilih Kashuu sebagai pedang pertamaku." kata saniwa.
Kata-kata itu menusuk bagi Yamanbagiri. Dia terluka dan langsung merajuk ke pojokan.
"Hey, aku bercanda." saniwa hanya tersenyum kecil.
Dewan saniwa yang beranggotakan seluruh saniwa senior yang paling berpengalaman duduk di bangku ruangan yang menyerupai ruangan seminar. Saniwa Akinaga menghela nafas dan menegakkan tubuhnya.
"Aku mengajukan rencana ini karena menurutku, kita bisa menyegel 'makhluk itu' secara tidak langsung. Aku percaya kalau kita bisa memilih salah satu dari sekian banyak pedang sebagai pedang pelindung, pedang yang memiliki ikatan batin kuat dengan saniwa." Saniwa Akinaga memulai.
Berbagai bisik-bisik sudah bisa terdengar. Saniwa Akinaga menggigit bagian dalam bibirnya.
"Memangnya siapa saniwa yang mau pedang favoritnya dikorbankan?"
"Rencana ini gila! Seharusnya kita tidak perlu setuju dari awal!"
"Para saniwa sekalian, aku mengajukan ini karena aku tahu kalau rencana ini akan berhasil. Aku tidak akan mengajukan rencana ini bila aku tidak yakin sama sekali." tegas saniwa Akinaga.
Saniwa lain terdiam.
"Bagaimana kalau kalian coba dulu? Rencana itu terdengar gila namun rencana itu, memiliki prospek yang bagus." Suara seorang saniwa senior memecah keheningan.
"Saniwa Oda?!"
"Saniwa Oda yang seolah inkarnasi setan itu?"
"Ya ampun...saniwa Akinaga bakal mampus..." bisik-bisik itu menjadi keheningan.
"Aku akan membantu guru. Bagaimanapun, saniwa Akinaga adalah mentor-ku. Aku akan membantu sebisa-ku." kata saniwa Yotsune.
"Aku akan mengawasi saniwa Akinaga bila kalian tidak yakin." kata saniwa Oda.
"Jarang-jarang aku mau membantu. Kalau tidak mau ya sudah." tambahnya wanita dingin itu.
"Saniwa Akinaga, keputusan akhir akan kami umumkan tiga hari lagi."
Akinaga menghela nafas. Bantuan dari saniwa Oda sungguh diluar perkiraan. Yamanbagiri dan Hasebe mengipasi saniwa Akinaga yang menatap kedua tangannya yang masih gemetaran.
"Haha...aku gugup setengah mati..." bisik Akinaga.
"Aruji-sama!" panggil Kashuu.
"Kenapa Kashuu-kun?" tanya Akinaga.
"Ada tamu." jawab Kashuu.
"...Yotsune?" tebak saniwa Akinaga Reijin.
Kashuu mengangguk.
"Suruh dia masuk." kata saniwa.
Tiga hari.
Dalam jangka waktu tiga hari, saniwa Reijin berhasil menanyai seluruh pedangnya satu persatu akan loyalitas mereka. Sebagian dari mereka tak ingin membuang kesempatan mereka untuk mencoba reinkarnasi. Saniwa Reijin sendiri di tugaskan untuk ke dunia manusia. Wanita itu menghela nafas.
Karena, pada dasarnya,dia tidak ingin turun ke dunia manusia yang penuh limitasi.
Karena, bila dia turun ke dunia manusia, dia sulit mengakses kembali kekuatan spiritualnya.
Karena,bila turun ke dunia manusia, Reijin harus berurusan dengan perasaan.
Namun apa daya, keputusan dewan saniwa untuk memaksanya turun ke dunia manusia harus di lakukan bila dia ingin meyakinkan saniwa lain kalau rencana ini akan berhasil.
Puas dengan susunan dan pengaturan keluarga, latar belakang dan segala hal yang harus di urus mengenai kelahiran dan reinkarnasi pedang, saniwa Akinaga mengingat profil salah satu pedangnya.
"Apa mau dikata. Bukan aku yang ingin melakukan ini." komentarnya.
Menjadi manusia itu sulit.
Pendidikan, kebudayaan, politik, aturan, norma sosial...semuanya hanyalah hal fana. Ujung suatu kehidupan adalah kematian. Selruh makhluk hidup akan mati bila waktunya habis. Dan ketika seseorang meninggal, mereka hanya meninggalkan memori. Dan juga, ketika mati, yang mengikuti mereka hanyalah tubuh. Dan ketika tubuh berhenti bekerja, yang tersisa hanyalah jiwa.
Saniwa Akinaga Reijin sejujurnya lebih menyukai hidup di citadel jiwa miliknya di mana waktu tidak terasa dan jiwa pedang-pedangnya bisa beristirahat dan berlatih sesuka hati. Dimana eksistensi mereka adalah eksis namun tidak eksis. Pada akhirnya, seluruh hal fana di dunia manusia akan terkikis oleh waktu. Tidak ada yang namanya "selamanya" di dunia manusia.
Saniwa Akinaga Reijin menatap pintu gerbang ke dunia manusia.
Sebagian besar anggota citadel jiwa miliknya sudah lahir ke dunia manusia terlebih dahulu.
Wanita itu melompat, melewati gerbang yang terbuka di tengah sungai Sanzu.
Waktunya untuk bekerja.
