Chapter 9
Nanoha POV
Aku duduk di sofa memeluk lututku sendiri.
Tidak bisa kupercaya ternyata Alicia-chan sudah meninggal sejak hari pernikahan kami. Dan ternyata yang selama ini bersamaku…adalah Fate kembarannya. Dan dari melihat matanya aku bisa langsung tahu kalau Fate berkata jujur. Lagipula aku bisa menanyakannya pada Precia-san atau pergi melihat makamnya, tapi aku merasa tidak kuat saat untuk pergi menemui Precia-san ataupun pergi ke makam Alicia-chan saat ini.
Aku mengingat kejadian-kejadian ketika aku bersama Fate.
Kami berciuman…tidur bersama dan melakukan banyak hal...dan yang paling buruk adalah aku telah memberikan keperawananku pada Fate!! Aku menjadi marah dan juga sekaligus sedih.
Alicia…kamu jahat…kenapa kamu membiarkan aku...
Lalu aku berhenti berpikir sejenak.
Kalau dipikir-pikir aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Alicia-chan...aku sering tidak tahu apa yang dipikirkannya dan aku juga bahkan tidak tahu kalau dia punya saudara kembar..
Tapi aku juga sebal.
Yang pertama karena Alicia sudah meninggal sementara aku sama sekali tidak tahu hingga sekarang
Yang kedua karena aku telah ditipu
Yang ketiga aku tidak tahu apa-apa tentang Alicia-chan
Yang keempat aku bahkan tidak bisa membedakan Fate dengan Alicia-chan.
Tentu saja siapapun juga akan emosi dan hancur hatinya bila mereka berada di posisiku.
Aku pasti sudah melakukan kesalahan di masa lalu yang membuat aku pantas mendapatkan hal seperti ini. Tak kusangka aku akan mengalami hal ini. Hari-hari bahagiaku bersama Alicia-chan musnah hanya dalam satu hari. Dan impianku untuk memiliki rumah tangga yang harmonis dan bahagia pun sirna.
Aku terus membenamkan wajahku ke lututku menangis.
Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk kepalaku dengan ringan. Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat siapa dan ternyata adalah Vivio. Ini adalah hal yang biasa Vivio lakukan ketika menghiburku. Sepertinya aku begitu sibuk menangis hingga aku tidak menyadari kalau Vivio sudah pulang.
"Mama...kenapa nangis?" tanyanya khawatir
"Vivio, mama tidak apa-apa kok" kataku sambil mengelap air mataku.
"Vivio memang tidak tahu apa yang terjadi sama mama tapi mama jangan nangis terus...Vivio juga jadi ikut sedih kalau lihat mama nangis terus..."
Aku melihat Vivio menangis.
Aku memeluk Vivio. "Terima kasih Vivio…"
Berkat Vivio aku jadi bisa sedikit tenang.
Sementara itu Fate
"Dasar bodoh! Kamu ini memang selalu tidak berguna bahkan kamu tidak bisa menjadi Alicia dengan baik!" bentak Precia.
"Maaf..."
"Padahal Alicia itu anak yang baik, ramah, dan sopan, tapi kenapa dia harus meninggal…kenapa bukan kamu saja" dari nadanya terdengar sebal.
Aku merasa seperti mau menangis, seharusnya memang aku saja yang meninggal ya…
Aku memang payah tidak seperti Alicia, Alicia lebih manis, pintar, baik, dan orangnya bersosial, sedangkan aku terkadang menutup diri.
~***~
Saat ini aku sedang berada di kafe favorit dimana aku dan Alicia-chan sering datang kesini. Aku duduk di meja yang biasa kami duduki dan memesan minuman yang biasa kamu minum. Saat aku menyisipnya perlahan-lahan kenangan kita berdua muncul kembali dalam benakku. Suaramu...dan senyummu...meskipun Fate mirip sekali denganmu tapi yang kupikirkan hanyalah kamu Alicia-chan...
__________________________________________________________
Fate POV
Setelah itu malamnya aku pun pulang kembali ke rumah dimana aku bersama dengan Nanoha dan Vivio tinggal.
Kami tidak sengaja bertatap muka. Sebenarnya aku tidak siap untuk bertemu muka dengan Nanoha tapi aku merasa cepat atau lambat aku pasti akan berkonfrontasi dengan Nanoha.
Kami makan malam dengan suasana yang nggak enak. Vivio pun terdiam.
Ketika aku dan Nanoha masuk ke kamar bersama. Nanoha sama sekali tidak bicara apa-apa dan langsung naik ke tempat tidur.
"A aku akan tidur di luar.." entah kenapa hatiku sendiri terasa sakit ketika mengatakannya. Lalu seolah ingin lari aku pun segera keluar dari kamar. Tapi sebelum aku keluar aku mendengar Nanoha berkata.
"Fate..biarpun kalian adalah kembar aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai Alicia...dan biar kutegaskan kalau yang kucintai itu adalah Alicia."
Aku menganggap itu adalah sebuah penolakan dari Nanoha. Aku sedih...
Ketika keluar kamar yang ada dalam benakku adalah Nanoha membenciku, tapi apa boleh buat aku juga tidak bisa menyalahkannya.
Aku menengok ke kamar Vivio yang lampu kamarnya sudah padam mengisyaratkan bahwa dia sudah tidur. Aku merasa sedikit lelah, kemudian aku segera ke dapur dan menenggak segelas air untuk melegakan diriku. Setelah itu aku berjalan menuju sofa di ruang keluarga dan berbaring di atasnya.
Aku menghela nafas panjang.
Bayang-bayang Alicia terus ada di benakku. Bukan karena aku membenci Alicia.
Meskipun Alicia sudah mengatakan alasannya aku tetap tidak mengerti kenapa Alicia memintaku melakukan ini.
Meskipun aku bisa menikah dengan cewek yang kusukai tapi...bagaimanapun juga yang Nanoha cintai adalah Alicia. Dan lagi-lagi perasaan sakit hati yang sepertinya akhir-akhir ini sudah biasa kualami.
Aku mencintai Nanoha dan akan melakukan apa saja untuknya meskipun aku harus menderita. Lalu aku pun tertidur.
Sementara itu Nanoha
Di kamar Nanoha menangis lagi ketika teringat akan Alicia. Pada saat itu HP Nanoha berdering. Nanoha segera menghapus air matanya dan meraih Hpnya, melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini..ternyata Hayate. Nanoha bingung antara mau menjawabnya atau tidak tapi pada dering yang keenam akhirnya Nanoha menjawab.
"Halo Nanoha-chan, gimana kehidupan pengantin barunya?"
Nanoha adalah tipe yang tidak ingin membuat orang lain siapapun itu khawatir terhadap dirinya.
"Baik-baik saja"
"Nanoha-chan, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu terdengar seperti mau menangis?"
"Aku baik-baik saja benar, karena tadi aku habis menonton film yang endingnya sedih, jadinya aku nangis" Tentu saja itu adalah kebohongan yang sempurna.
"Oh gitu, kalau ada apa-apa cepat telpon aku ya"
"Ya, terima kasih Hayate-chan" lalu aku menutup HPku.
Fate POV
Lalu aku bertekad untuk selalu berbuat baik pada Nanoha.
Aku membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekaligus bekerja dan melakukan hal-hal lain untuk menolongnya berharap agar Nanoha mulai menyukaiku.
Tapi Nanoha sama sekali tidak terlihat mulai menyukaiku.
"Fate, yang ada di dalam hatiku hanyalah Alicia-chan jadi...maaf aku tidak bisa..."
Aku benar-benar ditolak...tiap kali kalau aku menunjukkan kasih sayangku padanya dia pasti akan menghindar atau menjauhkan aku darinya. Benar...walau bagaimanapun Alicialah yang menempati hati Nanoha yang terdalam...aku tidak bisa mengalahkannya walau sebesar apapun perasaanku pada Nanoha. Aku memang harus menyerah...pikirku sedih.
__________________________________________________________
Aku menyiapkan stempel surat cerai. Lalu aku segera pulang menemui Nanoha. Nanoha sedang duduk di sofa ruang keluarga aku pun mendekatinya.
Tapi aku begitu kaget ketika melihat Nanoha sedang memegang silet di tangannya dan mengarahkannya ke pergelangan tangannya. Aku langsung segera lari.
"Apa yang kamu lakukan?! Hentikan!" kataku memegang tangannya.
"Lepaskan! Aku sudah tidak tahan lagi!" katanya sambil berusaha melepaskan diri dari genggamanku.
"Sudah seburuk itukah?! Di dunia ini masih ada orang yang jauh lebih menderita dari kamu!"
"Jangan ikut campur! kamu tidak tahu apa-apa tentang perasaanku!"
Nanoha berhasil melepaskan diri dari genggamanku dan bermaksud menggores pergelangan tangannya.
"Jangan!!"
Kali ini aku memegang pergelangan kirinya sehingga siletnya menggores tanganku. "Ukh!" aku meringis kesakitan ketika merasakan ujungnya yang tajam menggores tanganku. Darah segar mulai mengalir dari tanganku.
"Aa.." Nanoha terlihat syok karena yang tergores adalah tanganku. Dia menjatuhkan siletnya dari tangannya. Aku memang sengaja melakukannya, maksudku membiarkannya menggores tanganku supaya dia berhenti mencoba bunuh diri karena aku tahu Nanoha bukan orang yang suka melukai orang lain, meskipun untuk tanganku harus menjadi korban.
Lalu aku kembali ke topik yang semula ingin kubicarakan.
"Nanoha...aku tidak mau memaksamu menjalani kehidupan pernikahan yang tidak indah. Jadi..." aku merasa suaraku gemetar dan dadaku sakit.
"Ceraikan aku..." kataku sambil meletakkan surat cerai dan stempelnya ke atas meja.
"Nanoha...maafkan aku...aku..." aku bermaksud mengatakan kalau aku suka Nanoha tapi segera kubatalkan. "Ah tidak...meskipun status kamu akan jadi janda tapi kamu masih muda dan manis, kamu masih bisa mendapatkan pacar idamanmu, menikah dengannya lalu membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia dengannya." Aku merasa suaraku sudah hancur. "Dengan begini kamu juga tidak perlu bunuh diri kan...jangan menyia-nyiakan hidupmu.."
Alicia maafkan aku…sepertinya aku tidak dapat membahagiakan Nanoha. Sebenarnya aku sangat sangat tidak mau melakukan ini tapi…tapi…
Karena tidak tahan lagi aku segera lari keluar rumah dan membiarkan air mataku mengalir dengan deras. Tapi meskipun berapa kali diusap…air mataku tidak kunjung berhenti.
'Apa boleh buat...hanya ini yang bisa kulakukan agar Nanoha bisa bahagia...'
A/N : Sebenarnya aku tidak mengerti sistem perceraian di Jepang, tapi aku pernah melihat di komik seperti itu, tidak tahu apakah memang benar atau masih berlaku seperti itu. Kalo salah gomen _ nikmati saja ceritanya oke.
