Mwahahahahahahaha! Lylul berhasil membuat cheesy chapter yang super sweeeett! *dibacok* Chapter ini tidak ada konflik, kalian bersenang ria saja membacanya, oke? WARNING! Disini banyak serangan mematikan fluff TRHP!. Cepet kelepek-kelepek? HARAP BACA!
Terima kasih ;D *Dilempar panci sama tetangga*
btw, Lylul saranin buat para readers (mau dilakukan atau tidak, terserah selera kalian) untuk membaca bagian yang ada lirik lagu sambil mendengarkan lagunya, nama lagunya adalah 'Craizier' lagunya Taylor Swift. Soalnya pas sama moodnya ;D

Disclaimer : Lagu-lagu dan karakter disini dimiliki oleh penciptanya masing-masing, bukan milik saya.


======0======0======0======0======

The Dawn

Chapter 10 : Roses

======0======0======0======0======

Harry menatap bayangannya dicermin, raut wajahnya mencerminkan ekspresi gugup, seolah ia sedang menunggu hasil ulangan fisikanya –yang dapat dipastikan akan mendapat nilai yang ditulis dengan tinta merah darah. Ia mengliat-geliat, memutar-mutar tubuhnya didepan cermin untuk memastikan pakaian yang ia kenakan tidak kusut, berantakan, atau kata apapun yang mensinonimkan kata 'buruk' pada pakaiannya.
Draco bersandar pada bingkai pintu yang terbuka, memutar bola mata merkurinya untuk yang kesekian kalinya.

"Demi Zeus, Jupiter, Ra, Merlin, dan seluruh dewa agung yang mungkin ada di dunia, harus berapa kali aku mengatakannya padamu agar kau mengerti? Kau terlihat memukau, Harry! Tidak ada noda, lubang, atau apapun yang mensinonimkan ketidaksempurnaan pada setelanmu! Aku sendiri yang memilihkannya. Kau meragukan kakakmu ini, hah? dan kenapa harus gugup begitu? Ini bukan acara pernikaanmu. Kalau memang ini pernikahanmu, aku juga akan gelisah seperti kambing yang akan disembelih saat Kurban!" celoteh Draco.

Harry menoleh, dan memberikan kakaknya tatapan pembunuh berdarah dingin.
"Ya wajar kalau aku gugup! Ini pesta dansa pertamaku, dan juga kali pertama seseorang mengajakku pergi denganya! Well, walaupun secara teori lelakilah yang harusnya mengajak wanita, aku lelaki, tapi lelaki lain mengajakku berdansa. Agak(?) aneh memang, tapi tetap saja! Aku gugup!" Draco menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

"Benar-benar, deh. Kau tenang saja, dia hanya akan datang menjemputmu ke pesta dansa sekolah dan berdansa denganmu, Bukan mau membawamu pergi untuk kawin lari. Yah, memang akan ada kemungkinan ia akan melakukan itu, tapi aku ragu dia bakal nekat melakukannya jika aku sudah memberi ancaman akan memotong kemaluannya jika ia berani macam-macam. Berhentilah gelalapan tidak jelas seperti itu! kalau kau gelisah terus, malah membuat malammu terasa tidak menyenangkan!"

Harry memanyunkan bibirnya dengan senewen, memutuskan untuk berhenti bersikap paranoid pada setelan yang ia kenakan. Suit berwarna hitam dengan rantai kecil berwarna emas yang berperan sebagai kancing yang menyatukan kedua belah sisi membalut waistcoat berwarna hijau gelap dengan kancing emas metalik dan sedikit warna emas lain dibeberapa sudut, didalamnya terdapat kemeja putih beserta dasi hijau gelap melilit pada kerahnya, liontinnya ikut mengait pada lehernya dan tersembunyi dibalik waistcoat, celana formal yang serasi dengan warna jasnya, serta sepatu hitam mengkilap, adalah pakaian formal yang sekarang ia kenakan. Pilihan warna dan gaya yang dipilihkan oleh Draco memang tepat, terlihat moderen, tak tertinggal mode yang sedang terkenal sekarang, namun terasa aura kebangsawanannya. Benar-benar selera seorang Malfoy.

Warna yang dipilihkan membuat mata hijau zamrud cemerlangnya yang hangat dan lembut terlihat lebih menonjol, Terlebih lagi setelah dipaksa untuk menggunakan kontak lensa bening untuk menggantikan kacamatanya. Warna gelap yang mendominasi setelan tersebut membuat kulit pualamnya tampak kontras dan lebih bercahaya. Harry sekarang sudah terlihat seperti pangeran. Sayangnya, sang pangeran sudah keburu disambar oleh iblis super tampan dan sexy. Para wanita menangis darah menerima kenyataan pahit itu.

Harry menghela nafas, rasanya ia tidak percaya kekasihnya akan mengajaknya pergi ke pesta dansa sekolah yang diadakan sekedar untuk merayakan kemenangan mereka dalam lomba olahraga internasional.
ia mengulang kembali kejadian minggu lalu dikepalanya,

-Flashback a week ago...-

Murid-murid dengan pin berlambang sekolah Hogwarts yang dikenakan khusus untuk anggota OSIS berlarian kesana-kemari membawa kertas-kertas dokumen ditemani beberapa map warna-warni, beberapa murid beserta guru terlihat sibuk menata dan mendekorasi seisi stadion olahraga didalam sekolah dengan cekatan.

Harry menatap semua itu dengan ekspresi cengo,
'Memangnya ada acara apa ya?' bantinnya dalam hati.

Dari pagi tadi, ia sibuk mengekori Ron yang berusaha mengajak beberapa siswi untuk berdansa –yang langsung mentah-mentah ditolak oleh mereka–, Harry tambah bingung dibuatnya. Memangnya untuk apa mengajak mereka berdansa? Ada hubungannya dengan acara ini kah?

Pertanyaannya terjawab saat ia menanyakannya pada Pansy, yang juga sebagai sekertaris OSIS, berlarian kesana-kemari tanpa lelah membawa dokumen. Harry bersyukur ia adalah sahabat yang paling disayangi oleh Pansy, kalau tidak, mungkin ia akan mendapat sebuah timpukan map cuma-cuma diwajah dari gadis berambut hitam lurus itu karena telah mengusik dirinya yang tengah dilanda kesibukan pembuat migraine.

"Oh, acara ini adalah pesta dansa untuk merayakan kemenangan tim olahraga 'The Gryffindors' kita meraih juara pertama dalam lomba olimpiade olahraga internasional mengalahkan sekolah-sekolah elit lainnya. Dan aku menyarankanmu untuk segera mencari pasangan untuk berdansa, Harry. Pasti banyak siswi yang ingin diajak olehmu, apalagi gosip bilang kau menjadi salah satu lelaki populer yang terkenal karena wajah manismu dan sifatmu yang kelewat sopan, baik, dan pemalu itu! aku juga dengar mereka memperbolehkan pasangan sesama jenis untuk berdansa. Theo dan Blaise dipastikan akan pergi bersama. Dan aku akan menunggu sampai Draco pasrah untuk memikirkan pilihan pasangan mana yang cocok untuknya, lalu akhirnya memutuskan untuk mengajakku saja agar dia aman! Menyebalkan!" ocehnya, sambari melambaikan tangannya pada Harry, kemudian kembali berlari menjauh menuju ruang OSIS untuk mengikuti rapat yang kesekian kalinya.

Harry bengong karena syok mendengarnya. Jadi itu sebabnya banyak siswa lelaki mengajak siswi perempuan untuk pergi dengan mereka. Juga beberapa ada yang mengajak sesama lelaki untuk berdansa, seperti salah satu temannya; Theo dan Blaise, Seamus dan Dean, dan sebagainya. Juga beberapa senior seperti Oliver Wood dan Marcus Flint. Keputusan Harry yang tak dapat diganggu gugat tentang acara kali ini adalah; Ia tidak akan pergi. Titik tak ada koma.

Harry pura-pura tidak melihat tatapan penuh harap yang dilontarkan beberapa siswi genit padanya, dan berjalan menuju taman sekolah.
kenapa ia pasrah, dan memutuskan untuk tidak pergi? Bukan karena Hermoine menyetujui ajakan Ron untuk pergi bersamanya, tapi karena ia yakin kekasihnya telah memiliki pasangan. Pastinya ia akan membawa siswi cantik untuk pergi berdansa, sebab Harry tahu vampire itu akan menjaga imejnya sebagai ketua OSIS nan agung disekolah ini. Harry tidak keberatan, lagipula ia juga tidak suka pergi ke acara-acara seperti itu. Diam dirumah sambil menikmati malam yang tenang, merupakan pilihan terbaik yang ia miliki. Harry menghela nafas, membiarkan dirinya bersandar pada batang pohon dibelakangnya.

Baru sedetik punggungnya menyentuh permukaan kasar kulit pohon, bahunya ditarik keatas bersama sisa tubuhnya oleh tangan-tangan seseorang. Mau tidak mau, Harry memekik kaget, walau ia tahu betul siapa yang mengangkatnya naik keatas pohon. Dan terbukti, orang –atau lebih tepatnya 'makhluk'– yang menariknya adalah tidak lain vampire yang secara resmi telah dipanggilnya 'kekasih'.

Sekarang ini mereka berada diposisi yang sama dengan tingkah yang sama sebulan lalu. Harry merengut-rengut,
"Bisa tidak, cara 'pertemuannya' diubah menjadi lebih santai? Aku bisa terkena serangan jantung kalau kau terus melakukan ini!"

Pemuda beriris merah darah yang tengah memangkunya terkekeh, kemudian melayangkan kecupan lembut pada pipi kanannya yang kini memerah.
"Senang bertemu denganmu juga." celetuk Tom, terang-terangan mengabaikan ocehan kekasihnya.

Harry, tentu saja dibuat cemberut oleh itu. Hal itu malah membuat Tom tertawa tergelak-gelak dengan keras, kemudian mencubit pipi Harry yang mengembung. "Hentikan itu! terlalu manis untukku lawan."
Harry menjulurkan lidah sebagai bentuk perlawanannya.

Baru saja ia berpikir ingin menghabiskan waktu luangnya bersama Tom diatas pohon sampai bel tanda usainya istirahat berakhir, Harry teringat akan pesta dansa yang akan diadakan minggu depan. Dengan ragu-ragu, ia bertanya;
"Hey, Tom. Apa kau sudah menemukan pasangan untuk pesta dansa minggu depan?" sang vampire tertawa,

"Tentu saja sudah" Jantung Harry berdetak kencang. Tuh 'kan, benar. Kekasihnya tidak perlu lagi mencari pasangan, ia akan menghabiskan waktu yang amat menyenangkan dirumah.
"Dia 'kan ada dipangkuanku sekarang." Lanjutnya. Harry mengerenyitkan alis,

"Apa? Tapi kukira kau sudah mendapat pasangan wanita?" Tom mendengus mendengarnya,
"Untuk apa aku mengajak banci-banci taman lawang itu, kalau aku sudah memiliki malaikat sebagai kekasih untuk kuajak berdansa? Sungguh sebuah dusta jika aku mengajak salah satu dari mereka."

Itu bukannya membuat pipinya bersemu merah karena malu, lantas membuat Harry merasa khawatir.
"Tapi bagaimana dengan imejmu sebagai ketua OSIS? Mereka mungkin akan beraksi dengan tidak baik." Ujar Harry, mengatakan isi hatinya. Tom mendengus kesal, lalu mencium bibir Harry dengan ganas.

"Siapa yang akan peduli dengan reaksi mereka tentang kita, Harry? Teman shape-shiftermu itu pasangannya juga lelaki, mereka tidak keberatan bukan? Lebih baik aku dibakar hidup-hidup daripada tidak bersamamu. Jadi, Harry James Potter, apakah kau bersedia menjadi pasanganku dipesta dansa minggu depan?"

Harry menatapnya tidak percaya, Tom benar-benar serius. Ia tidak peduli tentang sosok sempurnannya sebagai ketua OSIS, ia lebih mementingkan dirinya, Harry Potter, seorang remaja biasa berotak standar, canggung, dan tak pandai bersosialisasi. Mau tidak mau, karena terlalu senang, Harry mengangguk-angguk dengan amat cepat. Lalu mencium kekasihnya dengan dalam.

-End of flashback from a week ago-

"Sialnya, aku jadi mau-tidak mau harus mengajak Pansy didetik-detik terakhir." curhat Draco, pasrah karena dirinya memang tidak berniat mengikuti pesta dansa maupun memiliki seorang yang ia anggap menarik untuk diajak olehnya.
Ia terpaksa mengajak Pansy menjadi pasangannya baru saja pagi tadi, syukurlah Pansy belum mendapat pasangan.

"Standar seleramu itu ketinggian sih.." celetuk Harry, sembari memutar bola matanya dengan malas. Telinganya sudah bersiap-siap menerima serangan ocehan panjang kakaknya.

"Seorang Malfoy hanya layak mendapat yang terbaik! Kaum wanita disekolah kita itu kebanyakan dibawah rata-rata! Baik penampilan maupun otak! Maximal juga standar pas-pasan! Apalagi kaum Adamnya! Males banget ngajak mereka, mending gak usah pergi dan bersantai dirumah sambil nonton T.V!" Ocehnya. Harry menyembunyikan separuh wajahnya dibelakang salah-satu telapak tangannya dengan pasrah.

Benar-benar deh, selera Draco memang ketinggian. Ia ingat kakaknya pernah membawa sebuah kertas berisikan daftar syarat-syarat seorang perempuan yang layak digandengnya minggu lalu, yang menurut Harry lebih mirip peraturan kerapihan seragam sekolah yang pernah Prof. McGonagall bacakan untuk seluruh murid.
Isinya sebagai berikut (sebagian yang Harry ingat) :

1. Memiliki rambut panjang terurai lembut (panjang minimal sebahu), berwarna pirang berkilau atau hitam malam, terawat dengan baik, tak bercabang, maupun terlihat lepek.

2. Kulit bersih tanpa cela, lembut, tak berminyak, berjerawat, bernoda, maupun memiliki kulit mati. (apalagi jamuran)

3. Bola mata indah, dengan bulu mata lentik, warna mata harus terlihat beda dari yang lain.

4. Bibir tipis, lembut tak pecah-pecah, berwarna merah ranum (minimal pink sehat)

5. Sikap layaknya seorang bangsawan, bermulut manis, tak membantah, poise yang terlatih, dengan manner yang pantas, santun, menghormati tiap orang.

6. Tidak cengeng, angkuh, sombong, keras kepala, egois, dan penakut maupun canggung

7. Fashion sense tidak ketinggalan zaman.

8. Memiliki nilai A+ setidaknya dalam 8-10 mata pelajaran.

9. Berasal dari keluarga terpandang.

Dan masih banyak lagi, Harry tidak ingat sisanya karena kertasnya saja sudah sepanjang kasurnya sendiri, tulisannya memenuhi tiap sudut. Bolak-balik.

Harry mengoceh bahwa tiada makhluk tuhan yang sempurna, semuanya memiliki kekurangan, namun memiliki keunikan tersendiri. Tapi tetap saja, Draco bersikukuh kalau syaratnya tak dapat diganggu-gugat oleh apapun, dan dari minggu sebelumnya ia sudah mengelilingi seantero sekolah untuk mencari gadis yang memenuhi semua syaratnya. Hasilnya? Nihil.

Saat Blaise, Theo, dan Harry diseret untuk ikut bersama Draco 'berburu' siswi yang memenuhi syarat yang dibuatnya, Blaise memutar bola matanya dengan malas tiap lima menit, Theo merengut-rengut kesal sembari mengeluh tak henti-henti, sementara Harry hanya pasrah berusaha 'membantu' kakaknya melakukan 'perburuan' yang sudah jelas bahwa hasilnya nol persen itu.

Saat ia menceritakannya pada kekasihnya, Tom meminta copy-an daftar tersebut, kemudian setelah mendapatkannya, ia melakukan sebuah penelitian. dan menurut hasil penelitian, dari apa yang ia perhitungkannya pada daftar, hanya Harry-lah yang memenuhi syarat-syarat tersebut (ada pengecualian pada nomor 8). Kemungkinan hanya 3-4 syarat saja yang tidak Harry penuhi. Kesimpulannya? Harry-lah yang pantas disandingkan dengan Draco.

Namun yang membuat Draco pasrah meratapi nasibnya untuk mengajak Pansy sebagai jalan aman, dan walaupun seantero sekolah tahu Draco dan Harry tidak memiliki hubungan darah, adalah karena Harry sudah memiliki pasangan –Tom menyeringai dengan keji pada Draco dengan fakta itu–

"Sudahlah Dray, Pansy tidak seburuk itu kok! Ia setidaknya memenuhi beberapa syarat yang kau buat, dan kalian akrab dari kecil!" ujar Harry.

Draco merinding mendengarnya. "Ya, dan aku yakin seratus persen akan mendapatkan penuaan dini cuma-cuma seusai pesta." Celetuknya seraya meresap kopi pada mug ditangannya. Harry kembali memutar bola matanya.

"Oh, aku hampir lupa!"seru Draco tiba-tiba. Ia merogoh saku celananya, menarik sesuatu dari dalam, kemudian memperlihatkannya pada Harry.
sebuah pin emas bundar berbentuk burung Pheonix yang tampak membentangkan sayapnya untuk terbang ke angkasa, bundaran bagai cincin melingkar pada burung tersebut. Lambang yang sama dengan lambang Pheonix pada biola ibunya.

"Aku memesan untuk dibuatkan pin ini. Terbuat dari emas asli. Sebagai jimat keberuntungan untukmu, kau tidak mungkin menenteng biola kesana-kemari bukan?" godanya, ia menyematkan pin tersebut pada kerah suit Harry. Harry bungkam seribu bahasa, kemudian memeluk kakaknya dengan erat.

"Terima kasih, Dray. Ini sangat berarti bagiku." Bisiknya. Draco tersenyum.
"Sama-sama, lil' bro." Mereka melepaskan pelukan, Draco duduk diatas sofa kecil di kamar Harry, sementara Harry duduk diatas kasurnya.

Tak lama kemudian, bunyi klakson mobil yang pastinya bukan milik Draco maupun orang-orang yang Harry kenal menggema dari gerbang depan. Draco bangkit dari duduknya menuju jendela yang menghadap langsung pada teras depan.

"Sepertinya jemputanmu sudah datang. Mari kita lihat, apakah kendaraannya dapat menyaingi Mercedes Benz SLR-ku." Ujarnya penuh keangkuhan. Sekali lagi, Harry memutar bola matanya dengan malas.

Saat Draco telah mencapai jendela, matanya dengan lihai menilai apa yang dilihatnya seraya menyeruput kopi hangatnya. Dari pantulan bayangan pada kaca jendelanya, Harry dapat melihat bola mata kelabu kakaknya membulat sempurna, kemudian ia menyaksikan dengan jelas bagaimana pemuda berambut pirang pucat tersebut menyemburkan kopi yang belum sempat ia telan dari mulutnya kesamping sudut kamar Harry. Spontan, Harry melesat menuju kesamping Draco untuk melihat apa yang membuat kakaknya melakukan sesuatu yang sangat tidak Malfoy-ish sekali.

Mata Harry ikut membelalak lebar seperti Draco. Di depan pagar mansion, terparkir sebuah kendaraan yang hanya dapat diidamkan tiap manusia yang berjalan didunia. Lamboghini Aventador LP700-4 berwarna hitam metalik dengan inosennya memparkirkan diri didepan mansion mereka. Dari pintu pengemudi yang membuka, keluarlah sosok tampan dari dalam, yang tidak lain adalah vampire yang Harry tunggu-tunggu.

Tom mengadahkan kepalanya menuju jendela dimana Draco dan Harry melihatnya, kemudian ia mengembangkan senyum sayang kepada Harry, dan melayangkan seringai angkuh pada Draco. Bagaimana ia dapat melakukannya secara bersamaan masih menjadi misteri.
"Mayat penghisap darah sialan." desis Draco pelan seperti kucing dari dalam mugnya, Ia menyeruput kopinya dengan jengkel.

Harry menyengir lebar, ia berlari keluar dari kamarnya, masih sempat-sempatnya ia memastikan kalau rambutnya masih (sedikit) rapih, dan berseru pada Draco; "Aku pergi dulu, Dray! Sampai ketemu di sekolah nanti!"
Saat ia tengah berlari menuruni tangga, Sirius berdiri menghalanginya.

"Jaga dirimu, Prongslet. Kalau dia melakukan sesuatu, langsung gunakan cincin ularmu itu." ujarnya, seraya mengacak rambut Harry.
Harry tertawa sambil berusaha menghentikan tangan ayah baptisnya menghancurkan tataan rambutnya yang susah payah Draco sisir.

"Siri, hentikan! Draco akan mencincangmu kalau kau menghancurkan rambutku yang susah payah ia tata!" seru Harry. Sirius tertawa,

"Sana, pacarmu sudah menunggu. Remus sedang pergi karena ini masa transformasinya, ia tidak ingin dilihat dengan sosok manusia serigalanya." Harry mengangguk, lalu kembali berlari menuju pintu depan.

"Sampai jumpa, Siri! Aku janji akan pulang sebelum tengah malam, Mungkin!" serunya, seraya melambai pada ayah baptisnya.
"Bye, Cinderella! Have a good night!" goda Sirius.

Harry membuka –lebih mirip mendobrak– pintu depan, kemudian berlari keluar dari pagar otomatis. Tom tersenyum melihat antusiasme kekasihnya, Harry memperlambat larinya sebelum berdiri tepat didepan Tom. Ia memperhatikan tubuh kekasihnya dibalut dengan tuxedo hitam yang sangat cocok ia kenakan, walau tidak menggunakan pita kupu-kupu, ia menggunakan dasi merah gelap polos untuk menggantikannya.

Tom menyeringai jahil,
"Kenapa? Terlalu terpesona oleh sosokku yang menawan?" godanya, Harry memerah karenanya. Tom terkekeh, tangannya menggapai pintu mobil, membukakannya untuk Harry, sementara tangannya yang lain menangkup dagu Harry, bibirnya meraup bibir Harry kedalam ciuman lembut.
"Kau juga membuatku terpesona, mon chéri. Silahkan masuk."

Harry memutar bola matanya, tapi cengiran masih terpapar diwajahnya.
"Aku bukan wanita, Tom." Ujarnya. Namun ia tetap memasuki mobil mewah itu dari pintu yang sengaja Tom bukakan. Tom ikut memasuki mobilnya, sesaat ia memperhatikan kekasihnya yang terlihat lebih menggoda dari biasanya, kemudian tertawa.

"Aaah, aku tidak sabar untuk melihat wajah gadis-gadis itu saat melihatmu. Mereka pasti akan menangis darah melihat pangeran mereka sudah direbut oleh seorang iblis." Ujarnya dengan nada keji yang membuat bulu kuduk Harry berdiri. Merekapun mulai melaju pergi menuju sekolah tempat mereka akan berdansa.


Aula utama Hogwarts benar-benar didekor ulang, semuanya gemerlapan dengan cahaya, musik yang menendang gendang telinga menyelubungi tiap sudut ruangan, beberapa meja panjang dipenuhi dengan hidangan lezat, lantai dansa dipenuhi pasangan yang sedang berdansa, terhanyut kedalam musik yang mengalun kencang, beberapa memilih berdiri untuk menonton sambil mencicipi hidangan yang tersedia diatas meja, sisanya berpesta pora habis-habisan seakan ini hari terakhir mereka hidup di dunia.

Antusiasme Harry berkurang drastis, ia lupa kalau ia tidak menyukai tempat yang dipenuh-sesaki oleh banyak orang, ia lupa ia tidak nyaman dengan suasana berisik, ia lupa ia tidak menyukai ruangan yang terlalu terang menusuk mata, ia lupa ia benci dengan pesta yang penuh dengan orang-orang sinting yang gila pesta, dan paling bodohnya lagi, ia lupa kalau ia sangat parah kalau soal berdansa.

Perlahan, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat menonjol, atau lebih baik lagi, tidak terlihat sama sekali. Tom sedang pergi mengambil minuman untuk mereka, Harry dengan pasrah berusaha bersabar menunggu kekasihnya kembali.

Tepukan lembut dibahunya membuatnya berpaling kebelakang, matanya bertemu dengan iris kelabu Cedric Diggory.
"Hey, Harry. Kau kesini sendirian? Malfoy berdansa dengan Parkinson, walau aku tidak yakin ia menikmatinya, sedang apa kau menyudut sendirian disini?" sapanya ramah, Harry tersenyum lembut.

"Oh, iya, Draco memang sebenarnya tidak berniat pergi dengan Pansy, tapi apa boleh buat, standarnya ketingian sih... Ia terpaksa mengajak Pansy sebagai jalan aman. Dan tidak, aku tidak kesini sendirian, orang yang mengajakku sedang pergi mengambil minuman, mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat melihat kerumunan masal ini.." ujarnya seraya terkekeh kecil, Cedric juga ikut terkekeh.

"Ehm, kalau begitu, kau tidak keberatan kalau aku ajak berdansa? Hanya satu kali saja." Tawarnya. Harry mengerenyitkan alisnya bingung, "Bukannya kau pergi dengan seseorang, Ced?" Cedric mengangkat kedua bahunya tak acuh,

"Ya, aku pergi dengan teman sekelas kita di kelas bahasa inggris, Cho Chang. Tapi ia sedang sibuk berbincang-bincang dengan gadis-gadis lain, dan meminta untuk ditinggal sendiri, padahal baru sekali kami berdansa." Harry tertawa,

"Ooh, poor little Ced, diacuhkan pasangan sendiri. Aku ingin membantu, tapi aku tidak pandai berdansa."

"Oh, ayolah, aku yakin aku bisa mengajarimu beberapa gerakan, sebelum pasanganmu menjemputmu." Ujarnya seraya membungkuk rendah sambil mengulurkan tangan sebagai permintaan untuk berdansa.

Harry baru saja akan menolak dengan lembut, namun suara dehaman menghentikan lidahnya untuk bergerak.
"Maaf, tapi aku akan mengambil pasanganku untuk berdansa." Ujar pemuda didepan Harry dan Cedric.

Cedric kembali menegakkan punggungnya, sembari tersenyum lembut.
"Oh, tentu saja. Aku tadinya ingin meminjamnya untuk berdansa satu kali, tapi setelah melihat pasangannya sudah kembali, aku mengurungkan niatku. Ah, kau Tom Marvollo Riddle 'kan? Senang bertemu denganmu."Cedric bergeser untuk membiarkan Tom meraih lengan Harry dan membawanya pergi dari ruang dansa.

"Stupid Diggory, dia berani-beraninya berusaha merebutmu dariku." Geramnya rendah.
"Dia hanya ingin berdansa satu kali denganku, aku juga baru ingin menolaknya karena aku tak bisa berdansa." Sergah Harry. Tom meliriknya dengan tatapan dingin.

"Oh? Jadi kalau kau bisa berdansa, kau akan berdansa dengannya?" ujarnya dengan nada datar. Harry menggeleng, "Tidak, kalau aku bisa berdansa, aku akan menolaknya karena aku akan memastikan bahwa kau adalah orang pertama yang berdansa denganku." Ia memeluk pinggang Tom dengan erat. Ekspresi dingin Tom mencair, ia tersenyum pada kekasihnya, kemudian merangkulnya erat. Ia memang tidak dapat melawan Harry.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengajarimu berdansa? Kurasa kau tidak merasa nyaman berada di aula, jadi kita berdansa di taman belakang saja, ya?"
Harry tersenyum senang, menganggukan kepalanya dengan cepat.

Saat mereka sampai di taman, mereka begitu terpesona oleh perubahan drastis pada taman tersebut. Hampir seluruh bunga-bunganya diganti oleh bunga mawar merah, rumpun yang tertempa sinar bulan di tengah kegelapan malam terlihat lebih viridian, seluruh pemandangan terlihat pucat namun terkesan eirie.

"Bagaimanapun caranya para tukang kebun itu mengganti seluruh bunga di taman dalam sehari, aku tidak ingin tahu." gumam Harry, Tom mengangguk pelan tanda persetujuaannya dengan opini Harry.

Sang vampire menarik tangan Harry dan menuntunnya menuju pohon willow favorit mereka. Walau sekarang mereka berada jauh dari ruang dansa, suara musik yang menggelegar masih terdengar jelas ditelinga mereka.
"Mau kuajari dansa apa?" ujar Tom lembut.
"Yang sederhana saja, aku ini benar-benar parah kalau soal berdansa. Aku juga masih ragu apakah dansa ini akan berakhir tanpa kakimu membengkak" celetuk Harry, Tom terkekeh."Tenang saja, aku cukup lincah menghindari segala jenis 'serangan' yang mungkin kau berikan dengan tidak sengaja"

Maka, tangan kanan Harry berakhir dengan bertautan dengan tangan Tom, sementara yang lainnya berpegang lembut pada pundak kekasihnya. Salah satu tangan Tom merangkul pinggang Harry, menuntunnya perlahan untuk mengikuti gerakannya. Kaki mereka berpijak-pijak dan bergerak lembut pada rumpun tanpa ampun, mata Harry terus memerhatikan gerakan kakinya, karena khawatir ia akan mengijak kaki kekasihnya.
Tangan yang sebelumnya berdiam pada pinggangnya menyentuh bawah dagunya, dengan pelan mengangkat wajahnya, genangan viridian Harry bertemu dengan sepasang batu garnet Tom.

"Jangan melihat ke tanah terus, Harry. Nanti aku cemburu pada benda mati dibawah kita ini," guraunya. "Tatap saja mataku, tak perlu takut menyakiti kakiku, itu tidak sebanding rasa sakitnya kalau kau menyakiti hatiku." Ia mengecup pelan kening Harry. Sebagai balasan, Harry mencium pipinya lembut.

"Aku tidak akan menyakiti hatimu lagi. Sudah cukup rasanya menjauh darimu, aku tak yakin aku sanggup melepasmu lagi" ucap Harry tanpa ada secuilpun keraguan. Tom merangkulnya lebih erat, membenamkan kepalanya kedalam helaian lembut rambut hitam Harry.
"Rasanya tak cukup aku hanya memberimu kecupan, pelukan, maupun kalimat-kalimat manis sebagai gesturku untuk menunjukan betapa aku sangat mencintaimu." bisiknya pelan. Harry mendekatkan tubuhnya lagi pada vampire yang menuntunnya berdansa dengan lembut.

"Cinta memang tak bisa diabadikan dengan gestur fisik maupun terkata, namun kau bisa merasakannya. Terasa nyaman, hangat, segalanya terasa benar dalam duniamu, It is implicit." ucap Harry lembut, menyunggingkan senyum manis pada Tom, yang langsung meleleh melihatnya. Pemuda beriris merah garnet tersebut melayangkan kecupan lembut dibibir kekasihnya sebelum kembali terhanyut dalam mata masing-masing, seraya terus berdansa dengan perlahan.

Seakan merasakan mood mereka, musik pada latar belakang mengganti melodinya yang menggelegar keras tak karuan menjadi lebih lembut dan tak mengginang keras pada gendang telinga.

I've never gone with the wind,
Just let it flow.
Let it take me where it wants to go.
'Till you open the door,
There's so much more..
I've never seen it before.

Mereka terus menatap mata masing-masing tanpa henti, pikiran yang berenang kesana-kemari tak tentu arah, mulai berhenti dan menghampa, hanya tertuju pada sepasang genangan yang berbeda spektrum.
Harry tidak akan pernah mengerti bagaimana dirinya dapat terlibat sejauh ini hanya karena oleh sebuah permainan yang ia dengar dari banyak orang. Mereka bilang itu hanyalah permainan untung-untungan, hanya untuk memuaskan hasrat, siapa yang paling lihai memainkan kartunya, ialah yang menang. Tapi ia tidak pernah sekalipun melihat datangnya ini.

I was trying to fly,
But I couldn't find wings.
Then you came along,
And you changed everything..

Harry menyunggingkan senyum lebar, menunjukan deretan gigi putihnya, seraya tertawa pelan, saat ia melihat Tom terus menatap matanya tanpa henti sampai membuatnya tak sengaja menginjak kaki Harry.
Tom memberinya senyum penyesalan. Kemudian tanpa aba-aba, ia merangkul tubuh Harry lebih erat, mengakatnya cukup tinggi untuk kakinya beberapa senti diatas tanah, lalu memutar tubuh mereka.

You lift my feet off the ground,
Spin me around..
You make me crazier, crazier.
Feels like I'm falling and I,
I'm lost in your eyes.
You make me crazier,
Crazier, crazier..

Harry tertawa geli saat ia kembali memijak tanah dan mereka berhenti berputar, Tom membenamkan kepalanya pada lekuk leher Harry seraya terkekeh. Mereka terus tersenyum geli tanpa menghentikan gerakan lembut mengikuti irama mengalun perlahan.
Tom melirik kesampingnya, matanya melekat pada rangkaian bunga mawar merah yang menjalar.

Watched from a distance as you
Made life your own,
Every sky was your own kind of blue.
And I wanted to know,
How that would feel..

And you made it so real..

You showed me something that I couldn't see,
You opened my eyes and you made me believe.

Harry mengikuti pandangannya, ia terheran, matanya kembali menatap Tom, meminta penjelasan.
Tom hanya tersenyum lembut, keningnya menyentuh kening Harry.

You lift my feet off the ground,
Spin me around..
You make me crazier, crazier.
Feels like I'm falling and I,
I'm lost in your eyes.
You make me crazier,
Crazier, crazier..Ohh..

"Aku tidak terlalu suka mawar merah." celetuknya, "Mengingatkanku pada sesuatu yang tidak ingin kuambil, namun terpaksa demi kebaikanku sendiri. Apalagi duri yang mereka miliki juga menyebabkan seseorang terluka dan mengeluarkan cairan merah yang membuatku gila. Mawar merah mengartikan cinta, cinta indah untuk ditatap, namun menyakitkan jika terlalu dalam melibatkan diri, juga selalu berakhir walau sedalam apapun cinta kita. Seperti mawar, mereka indah, namun memiliki duri, dan perlahan melayu dan membusuk." Harry terkekeh,

"Ya, kita memang benar. Tapi luka tusukan kecil itu sepadan nilainya dengan kita dapat menggenggamnya dan menyimpannya untuk terus dilihat keindahannya selama masih segar. Dan walau sudah melayu dan membusuk, ingatan akan pernah adanya eksistensinya, akan terus selamanya tersimpan dalam ingatan kita." Harry memberi kecupan lembut pada kening kekasihnya, walau ia harus berjinjit dikarenakan tubuh Tom lebih tinggi darinya.
"Dan mawar merah juga mengingatkanku pada matamu dan dirimu. Indah, namun sedikit..berbahaya." Tom tertawa oleh peryataan itu.

Baby, you showed me what living is for,
I don't want to hide anymore... more...

"Ya, itulah salah satu alasan mengapa aku tidak terlalu menyukai mawar merah. Aku tidak pernah menyukai diriku sendiri yang hidup dengan kutukan seperti ini." Harry baru saja akan menyatakan ketidaksetujuannya, namun langsung terpotong oleh Tom.
"Tapi." cegatnya sebelum Harry merecokinya.

"Tapi, aku menyukai mawar putih. Mereka terlihat indah dengan kesederhanaan mereka, terlihat murni dan tak ternoda dan tak berdosa, bahkan beberapa masih ragu untuk menyentuh mereka. Bukan karena khawatir akan tertusuk duri mereka, tetapi takut mengotori kepolosan mereka dan tak sengaja menjatuhkan kelopak mereka yang terlihat rapuh. Semua pastinya ingin melindungi warna putih bersih mereka dari noda apapun." Jemarinya mengusap lembut pipi Harry, seraya melanjutkan kata-katanya.

"Alasan lain mengapa aku menyukainya, adalah karena mereka mengingatkanku padamu. Memang tak ada bagian fisikmu yang menyerupai ciri mawar putih, tapi jiwamu yang polos, murni, dan inosen itu yang membuatku mengingatkan mereka padamu. Juga jangan lupakan fakta bahwa mawar putih masih memiliki duri, siapapun yang mengaggap dirimu lemah, tidak tahu betapa mengerikannya dirimu kalau sudah marah." guraunya, seraya tertawa. Harry memanyunkan bibirnya karena jengkel.

Tom menangkup pipinya dengan lembut, perlahan mendekatkan wajah mereka, sedikit keraguan didadanya membuatnya terhenti beberapa senti dari bibir Harry. Harry yang melihat keraguan pada mata garnet Tom, memberi senyuman lembut yang tulus, memejamkan kedua mata zamrudnya. Menandakan ia percaya pada Tom.
Tom tak bisa lebih bahagia lagi, ia mengakhiri jarak diantara mereka. Bibir mereka berpautan, tak berkeinginan untuk melepas satu sama lain.
Dada berdesir lembut, tubuh terasa hangat, seperti ada seseorang menyalakan kembang api didalam hati mereka. Harry mengalungkan lengannya pada leher Tom, menariknya lebih dalam pada ciuman mereka. Tom membiarkan tubuhnya ditarik lebih dalam kedalam rasa lembut yang manis, tidak memedulikan dunia disekitarnya. Hanya pada pemuda yang membuat dunianya yang kelabu menghasilkan spektrum jutaan warna.

You lift my feet off the ground,
spin me around..
You make me crazier, crazier.
Feels like I'm falling and I,
I'm lost in your eyes.
You make me crazier,
Crazier, crazier.
Crazier, crazier.

Keduanya terlalu terbuai kedalam dunia mereka sendiri, telinga dimanjakan suara alunan musik nan lembut. Tak menyadari bayangan yang sedari tadi memperhatikan mereka.

"Haah..mereka berdua manis sekali, aku hampir meleleh melihatnya." gumamnya pada diri sendiri."Namun, mereka keberatan tidak ya? Kalau aku sedikit mengganggu mereka?" Ia terkekeh dengan humornya yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Sosok tersebut membalikkan diri, berjalan perlahan meninggalkan taman, namun ia sempat membalik sejenak untuk melihat keduanya lagi.
"Lihat saja, Riddle. Akan kurebut Eve-mu semudah menjentikkan jariku. Hanya vampire sungguhan sajalah yang berhak mendapatkan jiwa murni Eve." tegasnya.

Sosok tersebut menghilang tertelan bayangan yang diciptakan rembulan.


Author's Note :
Gimana? Puas? Mau lagiiiiiiiii? *dilempar bola bowling*
Cliffhanger! Mwahahahahahahahahahahahaha! Nikmatilah siksaan nista dari Lylul! Saya pamit undur diri sebelum readers and reviewers tercinta membantai saya..Au Revoir! #lari kebirit-birit
Lagunya bagus gak? Cocok gak, sama moodnya? Ini Lylul dapet ide ini di detik-detik terakhir sebelum nge-postnya! Juga, mohon maaf bila ada kesalahan menulis. *bersimpuh*

Tolong Review yaaaachhh!

With Love, Lylul ;3
LylMccutie07.