Dibalik Semua Itu

Genre: Romance, Drama

Rating: T

Pairing: KaiShin

Warning: Kaito POV, AU, OOC, gaje, typo, and SHONEN-AI ALERT! (Don't like? Don't read!)

.

Disclamer:

Detective Conan © Aoyama Gosho

Dibalik Semua Itu © MSN1412

.

Summary: Dibalik semua konflik yang melibatkan mereka berdua pada pagi itu, pasti akan ada solusi yang baik dan manis.


"Oh, kasus lagi? Tentang apa sekarang? Oh oke oke. Aku akan ke sana, Keibu. Bye…"

*PIIIP*

Sudah dari tadi, aku menguntip percakapan telepon kekasihku yang kayaknya, mendapatkan kasus lagi dari Megure-Keibu. Serius deh, kapan sih dia bakal menunda kasus-kasus yang meresahkan itu? Itu hanya membuatku kesal. Semua kasus-kasus itu membuat aku tidak bisa menikmati sehari dengannya. Hanya satu hari berdua dengan Kudo Shinichi…

Tak lama kemudian, dia menutup ponselnya itu dan memasukkannya ke kantong celananya. Lalu dia mengarah kepadaku. "Um… Kaito?"

"Ya?" Aku pun mendengus dan menjawabnya dengan sedikit sindir dan kesal.

"Maaf Kai, kalau aku tidak bisa menikmati hari ini denganmu lagi. Tadi Megure-Keibu menelponku dan katanya ada kasus pembunuhan yang terjadi di Taman Kota Beika. Jadi maaf banget ya Kai—"

"Ya sudah, nikmati saja kasus-kasus itu! Lagipula, kau lebih mementingkan kasus itu daripada aku, ya?" ucapku kesal.

"Bu… Bukan itu maksudku, Kai. Hanya saja—"

"Kalau kau pikir aku lebih penting daripada itu, kenapa kau malah menerimanya begitu saja? Kau bisa kan menundanya terlebih dahulu," gumamku.

"Aku tahu itu, Kai. Tapi… semua kasus yang aku hadapi sekarang itu, penting untuk menolong nyawa manusia, dan juga—"

"FINE! Kalau kau mementingkan semua kasus itu daripada aku, aku akan pergi dari sini!"

Aku tidak bisa menahan semua emosi yang aku pendam di dalam hatiku. Mendengar amarahku tadi, aku langsung melangkah menuju pintu depan kediaman Kudo. Tapi, Shinichi langsung mengarahku dan menolehkan mukaku, lalu menampar pipiku dengan kerasnya. Aku pun merintih kesakitan karena tamparan itu, dan aku memandangnya dengan raut muka yang masih kesal meskipun rasa sakitnya masih belum hilang. Begitu aku melihatnya, dia telah memasang wajah yang begitu angkuh, dengan mengertakkan giginya meskipun setetes air jatuh langsung dari pelupilnya. Aku pun langsung bengong, berpikir kalau apakah Shinichi marah terhadapku karena kelakuanku yang tadi?

"Shin… Shinichi?"

"Ternyata kau… Ternyata aku baru tahu kalau kau itu menyebalkan dan egois! Selalu saja ingin mementingkan diri sendiri daripada yang lain!" geram Shinichi.

Aku hanya bisa terdiam.

"Padahal…" Aku melihatnya tertunduk lesu dengan butiran-butiran air yang jatuh ke lantai, "Padahal ketika aku bertemu denganmu pertama kali, kau itu ramah, selalu care terhadapku meskipun… kau begitu overprotective."

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Begitu aku ingin meninggalkan rumahnya, aku melirik kembali dia yang masih tertunduk lesu. Lalu, dia menolehkan kepalanya dan melirikku kembali, tapi dengan wajah yang masih marah kepadaku. Mungkin, dia tidak mau memaafkanku karena itu. Dan aku pun tidak mau memaafkannya, dia bisa memaafkanku asal dia harus menunda kasus-kasus itu dari hidupnya. Aku langsung mengambil jaketku yang digantung di tempat jaket yang terletak di depan pintu depan, mengenakannya dan membuka pintu untuk pergi dari rumahnya… dan dia.

"Kalau kau mau pergi, silahkan! Aku tidak keberatan, kok!" seru Shinichi sebelum aku meninggalkannya. Aku pun meliriknya dengan sinis. Huh! Dia memang lebih mementingkan kasus-kasus yang tidak masuk akal itu daripada aku. Aku pun membanting pintu itu dengan keras-keras dan suasana hening mulai terasa. Tidak ada suara sama sekali, setelah kita bertengkar beberapa menit yang lalu.

Aku bersandar di pintu depan itu dan langsung mengeluh, memandang awan-awan yang bergerak dengan bebasnya di langit yang begitu biru dan cerah pada hari ini. Tapi keadaan hari ini tidak seperti sang langit, malah lebih gelap dan tidak cerah seperti biasanya. Padahal, aku dan Shinichi telah berpacaran selama satu tahun dan hubungan kita tidak ada masalah sama sekali. Tidak seperti hari ini.

Awalnya aku tidak keberatan ketika dia menerima dan menyelidiki kasus-kasus itu. Namanya juga detektif, ingin membantu para polisi yang keberatan untuk mencari kebenaran terhadap semua kasus yang menghadapi mereka. Tetapi, makin lama aku makin tidak tahan dan kesal terhadapnya yang selalu saja pergi dariku hanya karena kasus, kasus, dan kasus! Aku pun berpikir, apa dia tidak mau berdua denganku hanya satu hari saja? Atau, apa dia telah 'berselingkuh' dengan kasus-kasus itu dan mencoba untuk menjauhiku?

Aku pun mengeluh keras dan panjang, lalu meninggalkan kediaman Kudo dan langsung pergi dan berjalan-jalan entah kemana. Hanya ini yang bisa membuatku tenang dari semua ini. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak enak aja, meninggalkannya seperti itu. Tapi ya sudah lah, lha itu urusannya bukan urusanku kok!

'Padahal sudah setahun, Shinichi… Sudah setahun kita telah menjadi begini, dan hubungan kita malah hancur gara-gara masalah sepele hari ini. Kau tahu aku masih mencintaimu, meskipun kelakuanmu itu… sangatlah angkuh dan cepat emosi. Sama sepertiku.'

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku sambil berjalan menelusuri jalan yang begitu sepi. Menyesali akan kejadian hari ini. Aku membanting kepalaku di tiang listrik yang berada di dekatku. Rasanya, hari ini aku merasa aku bodoh sekali…

Yeah, I'm so stupid today…

xXxXxXxXx

Malam telah menjelang, sang bulan muncul diantara para bintang-bintang yang pada malam itu berkelip dengan terangnya pada langit yang telah gelap itu. Aku telah memutuskan untuk pulang ke kediaman Kudo, meskipun aku khawatir kalau Shinichi masih marah terhadapku karena kejadian tadi pagi. Aku begitu bodoh, harusnya aku menerimanya dengan berat hati, bukan dengan kepala panas langsung kepadanya. Tapi, aku berharap kalau dia melupakan kejadian itu, dan bisa memaafkanku saat ini.

Aku langsung melangkah ke pintu depan, mencoba untuk mengetuk pintunya untuk membuka pintu dari dalam. Namun nihil, tidak ada respons. Tapi aku tidak mau menyerah, aku mencoba mengetuk pintu itu sambil memanggil namanya berkali-kali dengan keras, tapi percuma saja.

Ada dua kemungkinan yang langsung muncul dari otakku. Pertama, apa dia masih belum pulang dan masih memecahkan kasus-kasusnya? Atau yang kedua, apa dia masih marah terhadapku sehingga dia tidak mau membukanya dan mempersilahkan aku untuk masuk? Gosh, aku harap dia tidak akan melakukan sebagaimana option kedua yang aku pikirkan itu.

Kucoba untuk memegang ganggang pintu dan memutarnya berkali-kali. Tapi aneh, ketika aku memutarnya, pintu tersebut langsung terbuka dengan sendirinya. Aku pun heran dan segera memasuki rumahnya. Tapi aku berpikir, apa Shinichi tidak mengunci pintunya lagi, selagi dia pergi untuk memecahkan kasus? Entahlah.

"Shinichi?"

Aku mencoba tuk memanggilnya, selagi aku mencarinya di bagian-bagian rumahnya yang begitu besar ini, meskipun tidak ada penerangan. Begitu aku memasuki ruangan yang hanya diberi penerangan, ruangan perpustakaan yang juga menjadi tempat favoritnya, aku melihat dirinya yang sedang tertidur sambil memegang sebuah buku di sofanya. Dari firasatku, sepertinya dia ketiduran selagi dia membaca buku favoritnya yang telah dibaca berkali-kali. Tapi aku heran, kenapa dia malah bersandar di tempat ini setelah menyelesaikan kasusnya? Padahal, dia langsung saja beristirahat dan bergegas ke tempat tidurnya, walaupun tanpa mengganti pakaiannya.

Aku mencoba untuk mendekatinya dengan perlahan-lahan, takut dia kebangunan secara tiba-tiba. Setelah aku berada tepat di depanya, aku pun memandangnya dengan mukaku yang tersipu malu. Astaga, dia begitu tampan ketika dia tidur seperti ini. Aku pun mencoba mengheluskan rambut hitamnya dengan halus dan perlahan-lahan. Lalu, aku menolehnya kembali, dan mencoba untuk mendekatinya lebih dekat.

'Hanya sedikit saja. Just a little kiss,' batinku.

"Aku… ketiduran ya, Kai?"

Tiba-tiba, aku terkejut ketika Shinichi mengucapkan sesuatu tepat di depan mukaku. Ternyata dia telah bangun dengan sengaja. Aku langsung menjauhinya dengan mukaku yang tersipu malu. Aduh, apa aku membangunkannya ketika aku hampir menciumnya?

"Umm… Apa aku membangunkanmu?" tanyaku cemas.

"Gak kok. Padahal aku ingin menunggumu pulang, selagi aku sedang membaca buku di sini," ujar Shinichi, "Tapi aku khawatir, kalau kau masih marah-marah karena kasus yang aku kerjakan hari ini."

Di… Dia ketiduran di sini hanya untuk menungguku? Dia pikir dia masih marah setelah aku memarahinya tadi pagi. Aku hanya bisa termenung mendengarnya dan menyesali semua perbuatanku terhadapnya tadi pagi.

"Maaf ya Shinichi, aku membuatmu marah karena kau selalu bekerja untuk kasus. Aku tidak bisa menahan emosiku sambil-sambil aku memarahimu tadi pagi," sesalku.

"Barou… Harusnya aku yang berminta maaf kepadamu."

'Eh? Padahal tadi pagi, aku telah membuatnya—'

"Maafkan aku juga ya, Kai. Aku malah menampar pipimu ketika kau marah terhadapku. Aku juga, Kai. Aku tidak bisa menahan emosiku terhadapmu yang selalu marah kalau aku menghadapi kasus-kasus itu," sesal Shinichi balik.

Setelah itu, aku langsung melangkah menujunya, dan memeluknya dengan erat dan dia memelukku balik dengan mukanya yang tersipu malu. Lalu, kita menatap satu sama lain dengan senyuman khas kita. Aku senang kalau masalah ini telah selesai secepat ini, dan aku senang juga kalau Shinichi tidak memarahiku karena kelakuan bodohku tadi pagi.

"Tidak akan pernah memarahiku karena kasus lagi?" tanya Shinichi.

"Aku janji," jawabku dengan tawaan kecilku. Kali ini, aku tidak akan memarahinya karena kasus yang menghadapinya.

Perlahan-lahan, kita mendekati wajah kita. Dengan pelan, kita menyentuh bibir kita satu sama lain. Dengan lembutnya, aku menciumnya, menelusuri bagian-bagian di dalam mulutnya. Meskipun ada rintihan dan desahan karena ciuman itu, kita tidak menghiraukannya. Semakin lama, ciuman kita pun semakin mendalam. Setelah itu, kita melepaskannya dengan perlahan dan halus, menatap kembali dengan candaan dan tawaan, meskipun muka kita memerah satu sama lain. Seperti, kita telah melupakan semua permasalahan dan pertengkaran hari ini.

"Ayo kita bergegas tidur, Shinichi. Malam telah larut dan kita tidak mau terlambat ke sekolah besok, kan?" ujarku sambil mengecup dahinya.

Dia mengangguk setuju, "Ya."

Segera, kita meninggalkan perpustakaan dan beranjak ke lantai atas untuk beranjak tidur di kamar tidur kita. Dengan perasaan yang bahagia dan tidak ada satu amarah sama sekali. Meskipun langit telah gelap, tapi suasana hubungan kami telah cerah kembali, seperti sang langit yang mencerahkan dunia tadi pagi disaat suasana begitu gelap. Kini aku mengerti, dibalik semua konflik yang kita hadapi…

Pasti, akan ada solusi yang baik dan manis. Seperti kita sekarang…

THE END


A/N: anyeoong semuanya... mumpung nih post oneshot disaat aku lagi menghadapi TO XD *kebukti anak garajin XD*

fic ini dibikin pas lagi nunggu buffering di YouTube yang nunggunya tuh lolaaaa banget-_- tapi kayaknya ada penulisan bahasa yang sedikit nyeleh gitu, ya? ehehehe~ ^^v dan sorry banget kalo ini pendek sependek-pendeknya pendek-_-

oh ya! Come from the Future? chapter 4 lagi dalam proses. tapi, updatenya bakal lama deh :/ soalnya udah ide blank, waktu limited tuk nulis lagi gara-gara pemantapan tuk UN nanti-.-"

okay long chit-chat... akhir kata, sankyuu telah membaca ini! :D last word, review? :3

.

See ya on another oneshot! :D

Love and Peace, MSN1412