10 – Pengakuan

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Drama,Romance

Rated : T

Warning :

AU!, Typo(s), pairing sesuka author.

.

Present~

.

.

Langkah kaki terdengar hingga penghujung ruangan, membuat si surai pirang terpaksa bangun dari acara istirahatnya. Ino, orang biasa memanggilnya, hanya menyender di dinding depan kamar. Suaminya baru pulang.

"Sudah puas jalan-jalannya?"

Kiba yang baru saja melempar tubuhnya ke sofa lantas mendongak. Kaget. Ia tidak sadar kalau sedari tadi Ino memperhatikannya.

"Apa maksudmu jalan-jalan? Aku lembur."

Ino tertawa paksa. "Kamu benar-benar tidak tahu aku ya? Aku bisa dengan mudah mencari nomor rekan kerjamu, semudah aku tahu kamu mencoba mendekatiku dulu."

Kiba memejamkan matanya, ia lelah sekali. Pertengkaran hanya akan membuat emosinya kian menjadi, mengingat ia baru saja terkena serangan mendadak dari Hinata. Ia tidak ingin diserang istrinya juga.

"Aku ingin istirahat sebentar, Ino."

"Ku dengar kantormu sedang ada acara jalan-jalan, tapi kamu malah tidak ikut. Ku kira kamu ingin bersantai di rumah dan menikmati waktu berdua denganku, tapi…" Ino tidak melanjutkan kalimatnya, ia sibuk menahan genangan air matanya sendiri.

Sementara Kiba mulai bergerak gelisah meski matanya tertutup rapat, ingin mengabaikan ucapan Ino tapi sayangnya tidak bisa.

"Apa orang itu Hinata?"

Kiba benar-benar membuka matanya, ia hampir saja marah karena nama Hinata disebut-sebut, tapi urung begitu melihat Ino menangis.

"I-ino…"

"Kalian ada hubungan apa, cepat beritahu aku!"

"Kami hanya teman, bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya?" Laki-laki itu mendekati Ino dan coba menenangkannya.

.

.

.

.

Tapi Kiba salah langkah, karena Ino sudah lebih dulu menyadari sesuatu yang lain. Baju Kiba, baju yang tidak diganti sejak berangkat hari sabtu itu. Bau parfum perempuan.

"Menginap di rumah siapa!" Ino berteriak lagi.

Kiba meraup wajahnya kasar, ia frustasi sekali.

"Oke, aku memang pergi. Tapi aku pergi ke rumah temanku lamaku, aku menginap di sana."

"Oh ya?"

"Iya benar, sudah kan? Kamu tidak perlu curiga begitu padaku. Aku hanya sayang kamu, Ino, dan juga calon bayi kita."

"Kamu masih saja tidak mengerti ya, Kiba. Sudah ku bilang, aku bisa dengan mudah mencari tahu hal-hal yang kamu sembunyikan dariku."

"Apalagi?"

"Parfum perempuan itu tertinggal di bajumu."

Kiba tersentak, ia sampai lupa kalau kemarin bajunya sempat menempel baju Hinata.

.

.

.

Sore hari, Hinata sudah berada di perjalanan pulang dari kantor. Perempuan ini sengaja jalan kaki, karena ia ingin menghabiskan siswa waktu sorenya di luar rumah. Berada berlama-lama di apartemen hanya membuatnya terus-menerus terpikir masalah tempo hari. Jadi, lebih baik jalan-jalan sebentar untuk melepas beban, kan?

Beberapa kali ia melihat banyak pasangan yang jogging sore, membuat pikiran Hinata melayang kemana-mana. Andai saja ya, andai saja takdirnya tidak seburuk yang ia lalui sekarang. Ia pasti juga bisa bepergian dengan orang yang istimewa.

Ponselnya tiba-tiba berdering, Kiba yang menelepon.

Dasar laki-laki ini. Belum puas dengan kejadian tempo hari, hah?

Tapi karena pada dasarnya Hinata tidak setega itu, jadi ia angkat saja. Lebih baik ia marahi saja sekalian si Kiba, biar lelaki itu tahu kalau ucapannya bukan main-main.

"Hinata, aku minta tolong."

.

.

Siapa yang menyangka kalau Hinata akhirnya harus berhadapan dengan Ino di kamar rumah sakit. Hinata bahkan setuju-setuju saja saat Kiba bilang bahwa Ino tidak mau ditemani Kiba dan lebih memilih untuk minta dipertemukan dengan Hinata.

Pasti perempuan yang tengah hamil itu sudah tahu tentang dirinya dan Kiba, dan sekarang butuh pengakuan.

'Ah, Hinata… Kau memang bodoh sekali karena mengiyakan ajakan Kiba'

Hinata sudah cemas sejak masuk ke ruangan ini, karena Ino tidak kunjung mengatakan kemauannya. Hanya melirik saja sedari tadi.

"Ino, aku tahu tidak berhak menanyakan ini. Tapi… apa kamu ada masalah dengan Kiba?"

Ino mengangguk.

"Dua hari aku kepikiran tentang Kiba yang tiba-tiba saja pergi, dia bilang mau lembur. Aku tidak tahu kalau akan jadi stress dan masuk rumah sakit begini. Harusnya aku tidak usah memikirkan laki-laki yang begitu." Ino terkekeh.

"Maaf," Hinata menunduk.

"Maaf? Jadi kamu mengakui kalau kamu yang pergi dengan Kiba?" Ino menelisik wajah Hinata yang kian menunduk.

Perempuan itu diam saja, tidak berani menjawab. Ia takut salah bicara, terlebih kalau ia jujur bahwa kemarin ia juga sempat menggoda Kiba hanya untuk memperjelas status diantara mereka. Ino pasti akan lebih syok lagi.

Baru saja memikirkan banyak hal, Hinata merasakan tangannya digenggam. Ino kemudian tersenyum begitu ia mendongak. Cantik sekali.

"Aku tidak akan marah padamu, asalkan kamu jujur padaku. Aku hanya tidak mau bayiku lahir tanpa seorang ayah."

Tapi Hinata hanya menjawabnya dengan maaf, ia tidak sanggup melihat Ino terluka lebih dalam. Ia tidak bisa jujur, karena memang pada dasarnya sejak awal persahabatan antara Hinata dan Kiba tidak didasari rasa sayang antar dua orang teman.

Mereka mungkin sudah saling jatuh cinta sebelum memutuskan untuk jadi sahabat selama 3 tahun sekolah bersama.

"Aku hanya bisa memastikan kalau setelah ini tidak akan ada apa-apa lagi diantara kami." Hinata balas menggenggam tangan Ino.

Ino tersenyum.

"Lagipula aku juga sedang tertarik dengan seseorang, jadi tidak mungkin aku merebut Kiba darimu. Bagiku, Kiba hanya teman lama."

.

.

.

Hinata pamit setelah selesai dengan keperluannya di kamar Ino. Tapi bukannya berjalan menuju pintu keluar, ia justru terjebak di taman belakang rumah sakit. Hinata ingin berdiam diri di sana, ia ingin sendirian dulu.

Mengapa hidup bisa sesulit ini? Begini salah, begitu pun disalahkan. Kenapa juga ia bisa terjebak diantara orang-orang rumit ini, yang mana tiap hari hanya membuat beban di kepalanya semakin banyak saja.

Ino, dia bukan siapa-siapa. Hinata bahkan kenal lebih dulu dengan Kiba, tapi bagaimana bisa perempuan itu dengan mudah mengusirnya dari hidup Kiba? Kenapa? Kenapa bukan Hinata saja yang saat ini duduk manis sambil menyiapkan makan malam untuk laki-laki itu sepulang kerja?

Tapi Kiba, dia sangat egois. Kalau saja perasaannya benar-benar murni untuk Hinata, mana mungkin dia akan menikahi orang lain. Apalagi di umur yang masih muda. Sebegitu tidak tahan kah dia menunggu waktu yang tepat agar Hinata kembali lagi dan menjadi miliknya secara utuh?

Bayangkan saja, sekarang Kiba sudah menikah…

Tapi laki-laki itu masih menginginkannya…

Memangnya apa yang bisa Hinata harapkan dari hubungan seperti itu? Ia masih sayang harga diri, dan lebih baik menyukai orang yang sekarang selalu ada untuknya, daripada mencintai seseorang yang cintanya sudah terbagi.

.

.

Baru saja hendak pergi dari taman, tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang. Awalnya Hinata tidak tahu, ia hanya peduli pada tatapan orang-orang yang menatapnya penasaran. Aduh, ia jadi malu sekali.

"Aku minta maaf, Hinata."

Kiba.

Laki-laki ini.

"Lepas,"

"Sebentar saja, Hinata. Aku ingin menjelaskannya. Aku tidak mau kamu kabur ketika aku bicara, jadi biarkan aku memelukmu seperti ini."

Ya sudahlah.

Kali ini saja Hinata biarkan.

"Seharian ini aku berpikir, dan ternyata pikiranku tidak bisa jauh-jauh darimu."

'Ya, karena lebih baik tubuhmu yang jauh-jauh dariku.'

"Aku sedih saat Ino menyalahkanku, tapi aku tetap tidak merasa ingin berpisah darimu. Karena kita baru saja bertemu lagi setelah sekian lama."

'Bodoh. Justru masalah ini bermula karena acara NOSTALGILA kemarin.'

"Hinata, jangan jauh-jauh dariku, ya?"

Hinata melepaskan tangan Kiba dari perutnya, dan tanpa basa-basi langsung menampar pipi kiri lelaki di hadapannya itu. Ia lantas menghela napas.

"Semua masalah ini bermula darimu, jangan libatkan aku lagi."

Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan Kiba. Kiba jelas kaget.

"Kenapa kamu menamparku lagi?"

"Supaya kamu sadar kalau kamu sudah punya istri."

"Aku tahu aku punya Ino, dan aku tidak pernah berpikir untuk melepaskannya."

"Lalu apa yang kamu lakukan padaku sekarang?"

"Hatiku masih untukmu."

Hinata tidak tahan lagi, ia menangis di depan Kiba. Ia tiba-tiba jadi marah sekali.

Kiba yang menolak untuk mengerti situasi justru mendekat, tapi beruntungnya Hinata jauh lebih peka dan mundur.

"Kiba, aku tidak pernah ingin membencimu. Sejak dulu, kamu satu-satunya orang yang bersedia berada di sisiku, sementara orang lain bahkan tidak ada yang mau mendekatiku. Aku pun sudah bilang, aku juga dulu menyukaimu. Tapi kalau kamu mengungkit ini lagi sekarang, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kehidupan kita sudah berubah."

Hinata kembali menghela napas, berusaha mati-matian menghentikan air matanya.

"Baiklah, aku akan mengaku. Aku sedang suka dengan Gaara, dan kehidupanku yang sekarang jadi jauh lebih baik karena ada dia. Aku sudah tidak pernah memikirkanmu lagi."

Hinata memandangi Kiba yang diam saja.

Hinata tahu ia keterlaluan, sampai membawa-bawa nama Gaara agar masalahnya selesai.

"Ah, begitu. Baguslah, kalau kamu sudah menemukan penggantiku." Kiba menggaruk tengkuknya, dan kemudian pergi.

.

.

.

Hinata tahu, Kiba bukannya jahat, dan bukannya tukang selingkuh, atau julukan buruk lain yang orang berikan padanya. Kiba hanya butuh waktu untuk berpikir, karena semua yang ia alami selalu saja tiba-tiba. Dalam hal ini, mungkin bisa dibilang Hinata lah yang paling mengerti lelaki itu.

Kematian orang tuanya yang tiba-tiba.

Kedatangan Hinata yang tiba-tiba.

Dan juga… pernikahannya di usia 22 tahun masih terlalu muda.

Kiba pasti jauh lebih menderita dari yang orang lain pikirkan.

Tapi Hinata tidak punya hak untuk memberikan pundaknya, karena ada Ino yang pasti jauh lebih bisa memberikan segalanya untuk Kiba.

.

.

.

TBC

Hemeh, makin menye-menye nih epep. Btw, aku ga pede lagi nulis apa sebenernya ._.

Tapi aku tetep coba berusaha nulis sampai selesai, karena aku tau rasanya digantung itu nggak enak :(

Jadi kalian sabar nunggu sampai selesai, kan? :(

Oke deh, sampai jumpa di chapter selanjutnya

Jangan lupa review sebelum membaca

.

.

.

Salam manis,

Waan Mew