Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Sayonara Memory

Bab 10

Iring-iringan Hinata ternyata lebih bagus daripada yang ada dibayangan Sakura. Gadis indigo yang sekarang dilihatnya, sedang menunduk malu dengan Tsuno Kakushi (kerudung) di atas kepalanya. Kerabat laki-laki Hinata berjalan di belakangnya sambil memegang payung merah bergagang panjang. Hyuuga Hiashi, Hyuuga Hanabi dan Hyuuga Neji ada di antara mereka.

Sakura mengakui kalau Hinata luar biasa cantik. Gadis itu adalah pengantin tercantik yang pernah Sakura temui dalam pesta manapun yang pernah ia hadiri. Sementara itu, Naruto datang dengan mengenakan Hakama hitam selayaknya pengantin laki-laki lain, tak lupa kipas kecil berwarna putih terselip di antara lengan hakamanya. Di belakangnya ada Guru Kakashi, Ketua Yamato, Tsunade Senju, dan Guru Iruka.

Naruto dan Hinata melakukan berbagai ritual adat upacara pernikahan lalu keduanya berkumpul ditengah-tengah altar bersama kerabat ataupun keluarga. Sakura yang melihat kilasan-kilasan adegan menyakitkan itu tak sadar meremat tangannya sendiri yang berkeringat. Para tamu yang hadir di kuil serentak menyanyikan lagu pernikahan yang Sakura sendiri tidak dapat mengikutinya sama sekali. Bibirnya ia katupkan rapat-rapat karena jika mulutnya tak dijaga dengan hati-hati, maka yang akan keluar adalah teriakan histeris akibat dari rasa sedih yang menusuk.

Sakura menekankan dalam hatinya kalau semua ini tidak akan sia-sia. Setelah ini, semuanya akan kembali normal, bahkan akan lebih baik lagi. Tatkala semua undangan berdiri untuk bertepuk tangan, Sakura memergoki Naruto sedang menatap ke arahnya. Awalnya, Sakura mengira ia sedang berhalusinasi, namun akhirnya dugaannya itu terbukti karena tatapan Naruto mengikuti semua gerakannya dan pria pirang itu mengulaskan senyum misterius.

"….segenap tamu ikut berdoa untuk kedua mempelai di hadapan kita," kata sang pendeta tua. Ia mengangkat sebelah tangannya sebagai instruksi kepada semua orang untuk memulai doa.

Tak berapa lama kemudian, sang pendeta meminta Naruto untuk mengucap sumpah pernikahan. Sakura sudah benar-benar putus asa ketika pendeta menautkan jemari Naruto dan Hinata. Setelah ini…semuanya akan selesai. Sakura menguatkan dirinya sendiri.

"Shi-Shika-maru, aku ingin…pulang sekarang!" ucap Sakura terburu-buru.

"Aku sudah menduganya," Shikamaru terdengar mendecakan lidah namun ia tetap bangkit dan merapikan hakamanya sembari menawarkan tangan kepada Sakura. Tanpa pikir panjang Sakura segera mengenggam lengan Shikamaru yang setengah tersingkap dari hakamanya.

Sakura sangat berterimakasih, entah kata-kata hebat apalagi yang harus ia lontarkan kepada seorang Nara Shikamaru. Pria jenius itu tidak banyak bertanya, ia bahkan berusaha membuat Sakura tidak menoleh ke belakang. Gadis itu berjalan dengan canggung, meninggalkan sepasang pengantin yang diliputi was-was dan kekacauan yang baru saja akan dimulai. Sakura menyembunyikan wajahnya dan berjalan dengan sandal kayu yang menimbulkan bunyi gesekan saat dipakai.

Naruto masih memandang kepergian Sakura, manik birunya beralih pada mata Hinata yang tertutup kerudung tipis, lalu kembali memandang sosok Sakura.

Hati kecil Sakura menjerit, ia sempat berharap Naruto akan melihat kepergiannya dan memanggil namanya meski hanya sekali. Namun, logika Sakura segera menepis angan-angannya sendiri. Naruto tidak akan merusak pernikahannya sendiri, tidak juga dengan Tetua desa maupun orang lain, Sakura pun terlalu malu karena ada sebagian dari dirinya yang menginginkan pernikahan ini batal.

Sakura nyaris menoleh kembali sebelum Shikamaru bergumam menyuruh Sakura untuk tidak menoleh. Sementara itu, Naruto bergumam 'berbaliklah' sebanyak yang ia bisa. Hal itu tentu saja mengundang kecurigaan dari sang pendeta tua beberapa detik yang lalu ia menyuruh pengantin pria mengucap sumpah perkawinan akan tetapi saat ini si pria malah menggumamkan kata asing tidak akan pernah ada bahkan tidak akan pernah ada dalam isi sumpah tersebut.

Gumaman Naruto semakin liar saat Sakura hampir mencapai pintu utama kuil.

"SAKURAAA…SAKURA-CHAN!" Naruto mulai kalut, ia secara spontan meneriakkan sebuah nama yang selalu menggantung di ujung lidah dan bibirnya namun tidak pernah bisa keluar apalagi terlepas.

"Sakura…..Sakura…..," Naruto merasa terombang ambing bagai ayunan pendulum. Hatinya tertohok begitu hebatnya saat sosok Sakura semakin memudar.

Ia ditinggalkan…

Seperti dulu….

Dan sekarang….

Lagi….

Sendirian…..

Persemaian cinta yang dulunya subur kini kekeringan dan sekarat.

Ia sudah tak tahan lagi, Sakura sudah cukup menderita, begitupun dengan dirinya. Cinta dan kemarahan Naruto seakan ingin meletup keluar dan membara di udara.

Naruto merasa menjadi pecundang karena membiarkan semua masalah ini berlarut-larut. Sakura pernah membuangnya dan kini gadis itu melakukannya lagi. Naruto berhari-hari mempertanyakan dan meyakinkan diri apakah memang Sakura berniat meninggalkannya. Namun, kali ini Naruto ingin egois. Ia tidak bisa melepas Sakura

"Nanadaime-sama?" Tanya sang pendeta tua.

Hinata tiba-tiba melepas genggaman tangan kiri Naruto lalu membuka tsuno kakushinya.

"Naruto-kun, k-kejarlah dia!" Air mata sudah menggantung diujung mata Hinata, nyaris saja jatuh sebelum akhirnya Hinata menutupinya dengan gerakan mendorong bahu Naruto untuk menjauhinya. Untuk sesaat, Hinata berharap jika mata Naruto rabun dan pemuda rubah itu tidak bisa melihat air mata kesedihannya.

"H-Hinata?"

"Kita sudah pernah membicarakan ini…dan aku menerimanya. Sakura-chan sudah banyak berkorban, aku tidak mau membuatnya lebih menderita lagi. Cepat, jangan sampai dia benar-benar pergi!"

"Tapi kau…," Naruto memandang mata Hinata. Mereka memang sudah membicarakan masalah pernikahan ini. Hinata dan Naruto tidak bisa membatalkan pernikahan. Jalan satu-satunya adalah mengacaukannya di depan seluruh warga desa.

"Kalau Sakura bisa berkorban dengan begitu hebatnya itu artinya aku juga bisa. Kenapa dia bisa dan aku tidak? Sakura sangat membutuhkanmu."

Dalam 20 tahun hidupnya, baru kali ini Naruto mendengar Hinata bicara dengan teramat yakin selain pada saat perang dulu. Gadis Hyuuga itu secara tak langsung telah menyuntikkan semangat kepada pria yang disukainya tersebut.

"Terima kasih, Hinata," Naruto mengangguk mengerti, ia maju selangkah untuk mencium kening Hinata lalu berlari dari hadapan sang pendeta dan puluhan para tamu undangan.

"Nanadaime-sama!" Koharu berteriak sambil menjulurkan tangan seolah ia bisa menggapai tubuh Naruto, "Hinata-hime, apa yang terjadi?"

"Naruto-kun sedang melakukan hal yang seharusnya ia lakukan."

"Kalian sungguh…memalukan." Tandas Utatane Koharu sebelum sosok wanita tua itu ikut menghilang mengikuti Naruto.

Diam-diam Hinata menangis, gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada Neji yang datang mengampirinya. Hinata mengintip dari balik lengan Neji,

"Aku melakukan hal yang benar kan, Nii-sama?"

"Tentu, Hinata-hime. Anda sudah melakukan hal yang paling tepat."


"Aku minta maaf," kata Naruto saat Hinata tiba-tiba memeluknya.

"Naruto-kun," Hinata bergetar, "Apa tidak ada kesempatan b-bagiku? Bisakah kita mencobanya? Beri aku satu kali kesempatan!" Hinata menggigit bibirnya sendiri. Naruto menghela nafas, tanpa ia sadari tangan besarnya bergerak untuk membelai rambut panjang Hinata yang indah. Pria itu menerawang ke langit-langit rumahnya.

"Bisa kan, Naruto-kun?"

Naruto memejamkan matanya, terasa hawa panas yang menyentuh punggung tangannya,

Tangan Hinata.

"Apa kau tahu, aku sudah menyakiti terlalu banyak orang. Aku membuat seorang gadis merana selama berbulan-bulan. Aku tidak mau mtujuhbahnya dengan menyakitimu, Hinata. Kita berdua sama-sama tahu apa yang akan terjadi jika kita melanjutkannya."

"Naruto-kun,"

"Aku sudah terlalu banyak menumpahkan air matanya."

Hinata terdiam sejenak, ada sedikit suara isakan yang kemudian lolos dari bibir gadis cantik itu.

"Aku terlalu mencintainya, tapi aku juga adalah orang yang paling banyak menyakitinya," gumam Naruto.

"Gadis itu…apa dia…,"

"Sakura-chan. Dia Sakura-chan!" jawab Naruto dengan suara ringan seakan-akan mulutnya sudah ia latih untuk mengucapkan nama tersebut selama bertahun-tahun.

Meski ada segumpal rasa kecewa di hati Hinata, namun telinganya sama sekali tidak terkejut mendengar nama kunoichi hebat di Desa Konoha itu. Hinata sendiri sudah menduga semua hal ini, jika ada wanita yang bisa membuat Naruto tergila-gila, gadis itu pastilah Sakura Haruno.

"Kembalilah padanya, Naruto-kun." Hinata mengendurkan pelukannya pada tubuh Naruto.

"Aku minta maaf, Hinata."

"Aku tahu, Naruto-kun."

"Jadi, aku rasa kita harus membatalkan pernikahan ini…,"Naruto menangkap senyum kecil di wajah Hinata.

Hinata mengangguk pelan.

.

.

.

"Aku harusnya tidak pergi, Ino benar, aku bodoh!" Sakura mengusap air matanya yang sedari tadi tertahan.

"Senang kalau kau sudah menyadarinya, tapi mau bagaimana lagi, penyesalan selalu datang pada saat-saat terakhir, bukan?" Shikamaru melirik Sakura yang diam tak menjawab. Punggung gadis itu sedikit berguncang.

"A..ku…aku bodoh, Shikamaru..tapi aku hanya ingin memastikan jika Naruto bahagia. Aku berjanji akan membuatnya bahagia dan sekarang dia s-sudah bahagia," Sakura mengusap air mata yang jatuh dan mulai masuk ke hidungnya.

"Aku benci melihatmu berpura-pura, kau sungguh memuakkan," kata Shikamaru. Manik hitamnya menatap lurus ke depan.

Sakura hanya tersenyum pedih, ia melihat hidung mancung Shikamaru dari balik bulu matanya yang basah oleh air mata.

"Kau benar, aku adalah gadis yang memuakkan. Apa yang aku pikirkan selama ini….,"

Sakura terdiam. Lilitan kimono membuatnya kesulitan berjalan. Semilir angin menempa wajahnya yang basah, mengobrak-abrik jalinan rambut merah muda yang telah ditata sedemikian rupa. Sejumput rambut pink menggantung di dahi Sakura.

Desiran aneh bergolak di hati Sakura. Ia menengok ke belakang dan tidak mendapati apapun. Tidak ada Naruto. Ia mengakui jika Naruto masih tetap mengejarnya meski kehilangan ingatan hanya saja hokage itu tidak mengetahui jika Sakura begitu mencintainya dan hubungan macam apa yang telah mereka jalin. Naruto juga tidak mengingat jika Sakura telah meminta mereka untuk berpisah.

Ah, sejak dari awal memang mereka tidak pernah benar-benar bersama. Kalau pun sekarang mereka tidak bersama, maka tidak ada yang aneh dengan hal tersebut. Mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun tapi kenapa Sakura masih merasa bahwa rongga dadanya sakit, tenggorokannya serasa tercekat setiap saat.

"Bisa kita pulang?"

"Kau tidak berpikir untuk mati kan?" Shikamaru berjalan mendahului Sakura.

"A-aku sedang berusaha menekan keinginanku untuk mati, Shikamaru."

Sementara itu….

"Apa yang harus kami lakukan, tetua?" tanya seorang laki-laki bertopeng anjing.

"Lenyapkan Sakura Haruno. Aku ingin dia lenyap."

Tiga laki-laki bertopeng anjing mengangguk sebelum melesat pergi dan menghilang seperti kabut.

_Sayonara Memory_

Sakura memasang wajah malasnya. Matanya tergantung setengah menyipit. Ia memandang Shikamaru dengan mata malas itu, berusaha mengintimidasi Shikamaru yang sudah mengeluarkan ekspresi mata ngantuknya yang khas. Mulutnya membuka seperti hendak menyemburkan sesuatu namun nyatanya yang keluar hanya sebuah suara lirih yang putus asa.

"Aku ingin sendirian, Shikamaru."

Sakura tahu jika sejak tadi Shikamaru mengikutinya. Ia mengetahui jika Shikamaru tidak akan membiarkan dia sendirian

Shikamaru mengangkat bahu dan terus mengikuti Sakura, "Secara teknis aku hanya mengikuti langkah kakiku, dia melangkah lurus, lurus …ke depan, uh-,"

Sakura berbalik dan menghadang tubuh Shikamaru. Tubuh Shikamaru terhenti karena ia menabrak Sakura. Pemuda bermata sipit itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Mata zamrud Sakura menyipit lagi, "Katakan padaku, apa… kau menyukaiku?"

Shikamaru tergagap, mata sipitnya terbelalak sepersekian detik dan rona merah sedikit mewarnai tulang pipinya yang tinggi. Ia mundur lagi selangkah berusaha mengambil jarak dan menggosok tengkuknya sendiri.

"Hahh, kau ini membuatku kaget saja. Pertanyaanmu itu sangat tidak berdasar. Mana mungkin aku menyukaimu…aku tidak biasa mengambil sesuatu yang bukan milikku," Shikamaru mengerling malas, "Kau ingin sendiri kan? Baik. Jaga dirimu, Haruno," Shikamaru meloncat dari dahan satu ke dahan lainnya. Sakura menghela nafas sembari mengawasi Shikamaru yang mulai mengecil di kejauhan.

"Terkadang kau sendiri juga merepotkan, Shikamaru," Sakura membuang nafas lewat mulut.

Shikamaru mengusap wajahnya sebentar. Hakamanya berkibar diterpa angin saat dirinya meloncat dari dahan ke dahan. Pria jenius itu berpikir tentang pertanyaan terakhir Sakura dan tersenyum masam pada dirinya sendiri. Ia merasa agak bodoh sekarang.

.

.

.

Angin bertiup pelan mengiringi desir perasaan Sakura yang tak menentu. Ia berjalan menuju rumahnya yang sepi. Ia akan berdiam diri disana. Tanpa orang tua, tanpa Naruto. Gadis cantik itu tiba-tiba berhenti dan memasang kuda-kuda. Ia mendengar suara berisik dari balik semak-semak. Sakura berjalan perlahan dan tiba-tiba meninju sebuah pohon di balik semak-semak yang mencurigakan tadi. Burung-burung yang terkejut berkoak dan berhamburan terbang dari dahan pohon yang tumbang.

Tidak ada siapa-siapa

Sakura tetap berdiri waspada selama beberapa menit…

Beberapa shuriken terbang melesat ke arah Sakura. Dengan gerakan yang cepat Sakura menepis shuriken-shuriken itu dengan kunai. Gadis berambut pink itu memusatkan chakra di kakinya dan berlari mendaki sebuah pohon saat seorang ninja berpakaian hitam tiba-tiba keluar dari semak sembari berusaha menebas Sakura.

Sakura menggigit bibirnya. Ia ahli dalam pertarungan jarak dekat namun pakaiannya saat ini menyusahkannya untuk bergerak. Saat seorang ninja misterius keluar lagi dari semak yang berlawanan, Sakura terpaksa turun dan menghadapi kedua ninja itu. Gadis cantik itu meninju tanah. Bebatuan beterbangan ke segala arah. Kemudian, gadis cantik itu mengarahkan tinjunya kepada salah satu ninja yang sedang memegang katana.

"SIAPA KALIAN?" bentak Sakura.

Salah satu ninja mengeluarkan tali dan membelit kaki Sakura. Gadis itu meringis dan mengira-ngira jika teknik yang digunakan ninja itu sama dengan teknik senjata yang dikuasai oleh Ten-Ten. Salah satu ninja bertopeng anjing melesat dan mengarahkan katana-nya lagi yang sudah dialiri chakra.

'Anbu?!' batin Sakura.

Sakura menghentakkan kaki ke tanah sehingga tubuhnya melayang ke udara. Dengan sengaja Sakura membuat tebasan pedang ninja misterius bertopeng anjing itu mengenai tali yang mengikat kakinya. Sakura bergantung pada dahan dan mengayunkan tubuhnya dengan mudah untuk berdiri di atas dahan. Pada saat yang sama ninja yang lain menyemburkan api lewat mulutnya dan yang lain melempar kunai yang disertai kertas peledak. Gadis itu meloncat ke dahan yang lain. Ledakan besar menghancurkan dan menghanguskan pohon yang tadinya Sakura tempati. Nafas gadis cantik itu habis, ia terengah-engah. Sakura terpaksa menyobek lengan kimono dan memotong pendek bagian bawah kimononya untuk mempermudah pergerakannya. Kimono cantik itu kini tak memiliki lengan dan panjangnya hanya sebatas paha.

"Beraninya kalian! SHANAROO!" Sakura meninju tanah hanya dengan satu kepal tangan. Tanah tempat Sakura meninju terangkat ke udara. Kedua ninja itu sempat terpental dan terperosok bersama gelombang gempa yang diakibatkan oleh patahan lapisan tanah. Namun keduanya kembali menyerang.

"Kau memang kuat seperti yang sudah kami duga," kata salah satu ninja bertopeng, "Hokage memang tidak sembarangan dalam memilih seorang gadis."

Nafas Sakura tercekat sesaat,

"Ada apa urusan apa kalian dengan Nanadaime-sama?"

"Bukan dengan Naruto-sama tapi denganmu."

'Mereka akan membunuhku,' batin Sakura.

Sakura menendang wajah salah satu dari mereka sehingga sang ninja terlempar jauh dan membentur pepohonan. Tak disangka satu ninja lagi muncul dan melancarkan serangan pada Sakura. Sakura sempat bertanya pada dirinya sendiri berapa jumlah dari ninja-ninja misterius itu. Nafas Sakura terengah-engah. Bagaimana pun melawan beberapa ninja sekaligus bukanlah hal yang mudah apalagi jika mereka bukanlah kumpulan ninja remeh.

Mereka saling bertarung dan memukul satu sama lain, menendang, saling melancarkan berbagai jurus dan menghancurkan pepohonan. Sakura terus melawan sampai saat kedua ninja itu menyerangnya bersamaan. Mereka berdua sama-sama menyerang menggunakan pedang sedangkan Sakura menahannya dengan kunai.

Saat Sakura sedang berkonsentrasi untuk mempertahankan dirinya, tiba-tiba seseorang menembakkan suntik berisi cairan ungu ke pahanya. Sakura sempat melawan kedua ninja yang terus berusaha menebas tubuhnya dan mencabut suntik yang sebagian cairannya sudah masuk ke tubuhnya. Sakura mengenali si penembak racun adalah ninja yang sudah ia kalahkan tadi. Ia bisa melihat jika darah menetes dari balik topeng si ninja. Pandangan gadis itu mengabur dan rasa sakit serta nyeri merambat di seluruh tubuhnya. Separuh tangannya sudah tidak bisa bergerak. Jarinya mati, kakinya serasa lemas.

Sakura meringis. Dengan sisa kekuatannya ia berusaha melarikan diri. Gadis itu meloncati dahan demi dahan dengan sisa chakranya namun tiba-tiba saja ia jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Jatuh begitu saja seperti seonggok daging tak berdaya.

Ketiga ninja tadi mendekati Sakura, "Tidak kusangka racun yang kau kembangkan adalah senjata yang akan mengalahkan dirimu sendiri, Sakura-san."


Ino terperanjat saat melihat Naruto melesat meninggalkan Hinata yang menangis tersedu di bahu Neji. Lee dan Shin terlihat kebingungan begitu pula dengan tamu-tamu lain yang langsung bergumam tak jelas saat mendapati upacara pernikahan yang sebelumnya berjalan lancar tiba-tiba menjadi kacau, apalagi Hokage Konohagakure itu pergi sambil menyebut-nyebut nama sahabatnya. Ino menoleh ke belakang dan ia mendapati bahwa bangku Sakura dan Shikamaru sudah kosong. Ino memijat pelipisnya pelan. Gadis berambut pirang itu tidak menyangka jika akan terjadi drama yang sedemikian hebatnya.

"Aku akan pergi mengejar Sakura," kata si gadis pirang pada Lee dan Sai.

"Aku ikut!" Teriak Lee dengan semangat membara.

Ino menyadari bahwa Shin juga sudah menghilang entah kemana. Ia mengendikan bahu sembari berlari dan melesat mengaktifkan chakra di kakinya.

.

.

Naruto berusaha untuk mengejar Sakura, nafasnya terburai liar, wajahnya penuh dengan peluh yang terus diproduksi oleh kelenjar keringat milik pria itu. Jantungnya berdetak kencang, ia sama sekali tidak merasakan bekas chakra Sakura. Tiba-tiba ia melihat Shikamaru yang berjalan pelan sembari memainkan korek milik Asuma-sensei.

"Shikamaru, dimana Sakura?" tanya Naruto agak terburu-buru. Hakama hitamnya sudah tak karuan bentuknya.

Shikamaru menoleh dan langsung melayangkan bogem mentah pada wajah Naruto. Naruto terkesiap dan langsung mundur untuk menghindar. Itu bukan sebuah jawaban yang ia inginkan.

"Shikamaru, kenapa kau memukulku?" Naruto terlihat marah sembari mengusap pipinya yang berdarah karena Shikamaru memukulnya dengan tangan yang pria itu gunakan untuk mengenggam korek api.

"Aku hanya tidak bisa menahan kekesalanku," jawab Shikamaru ringan seolah-olah ia tidak pernah meninju wajah pemimpin desanya.

Naruto mendecih sebal, "Katakan dimana Sakura?"

"Aku tidak tahu," Shikamaru mulai melangkah kembali. Ia tidak mempedulikan gerutuan Naruto yang semakin menjadi-jadi.

"Kau tidak tahu? Aku kan sudah berpesan kepadamu untuk menjaganya," Naruto membentak Shikamaru.

"O, rupanya kau sudah mengingat semuanya. Aku penasaran apa reaksimu akan sama jika aku benar-benar menjaga Sakura" Shikamaru sengaja menahan sesuatu diakhir kalimatnya, "untuk diriku sendiri."

Brengsek. Apa ini saatnya Shikamaru memanas-manasi dirinya?

"J-jangan bercanda! Katakan saja dimana dia?" untuk kesekian kalinya Naruto bertanya kepada Shikamaru. Ubun-ubun Naruto seperti akan berasap ketika menangkap senyum kecil di wajah penasehatnya itu.

"Dia pergi ke arah sana, Tuan Hokage," jawab Shikamaru dengan nada mengejek. Matanya melirik ke arah dimana ia dan Sakura tadi berpisah.

Tanpa berkata apapun Naruto langsung melesat ke arah yang ditunjuk oleh Shikamaru.

Shikamaru membuang nafas, ia memungut daun yang menempel ke dahinya, "Dasar merepotkan."

_Sayonara Memory_

"Saya tidak bisa menemukannya."

"Kami tidak bisa menemukannya."

"Kami juga tidak bisa menemukan Haruno Sakura di seluruh Konoha, Nanadaime-sama."

Naruto mencengkeram kusen jendela di ruang hokage begitu menerima laporan para shinobi yang ia tugaskan untuk mencari Sakura. Ia sendiri tidak berhasil menemukan keberadaan gadis yang selama ini selalu ia cintai itu. Sekalipun Shikamaru sudah menunjukkan arah Sakura pergi namun tidak ada yang ia temui kecuali bekas pertarungan. Pasti ada yang terjadi pada gadis itu sehingga menghilang tanpa jejak sedikitpun. Rumahnya pun kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan kecuali bekas piring yang belum dicuci dan remahan roti di ruang tamu Sakura, juga beberapa baju yang berhamburan.

Ino terus saja menyalahkan Naruto dan berkata jika ia akan membenci Naruto seumur hidupnya jika Sakura tidak ditemukan. Lee juga memberikan tatapan marah saat Naruto bertanya kepada teman-temannya dimana keberadaan Sakura. Dan Naruto tidak bisa berharap sama sekali pada Shikamaru yang dua hari ini diam terus dan bersikap malas-malasan. Malasnya dari malas itu sendiri.

Namun dibalik itu semua, teman-temannya juga sedang mencari keberadaan Sakura. Ino menangis memohon kepada Shikamaru agar rekan setimnya dulu itu memikirkankan segala kemungkinan dan segala strategi untuk mendapatkan Sakura kembali. Sayang sekali, semua izin tetap berada di tangan Naruto dan sekarang ini mereka terlalu marah untuk dapat menemui Naruto dan berbicara dengannya secara baik-baik.

"Tidak ada jejak sama sekali?" tanya Naruto dengan suara berat.

"Tidak ada, Hokage-sama. Maafkan kami," kata para anbu bersamaan.

"Aku yang akan mencarinya sendiri," Naruto berbalik dan melempar jubah kagenya ke atas meja. Ia hanya mengenakan kaos orange dan celana hitam miliknya yang biasa.

Naruto mengutuk dirinya sendiri yang tidak segera turun tangan. Tekanan untuk menyelesaikan semua masalah yang ia timbulkan karena membatalkan pernikahan di muka umum menghambat Naruto untuk mencari Sakura dengan usahanya sendiri. Ia mungkin bisa mengabaikan omelan dari hokage kelima, maupun Koharu namun Klan Hyuga bukan hal yang bisa disepelekan. Naruto harus berbicara dengan Neji dan Ayah Hinata untuk menyelesaikan semua kekacauan.

'Sakura, kumohon tunggu aku!'

.

.

.

Sakura melihat segaris cahaya di atas sana. Jauh sekali.

Cahaya tersebut masuk semakin dalam ke dinding-dinding yang basah dan menyinari sebelah mata gadis cantik berambut merah jambu tersebut. Sakura merasakan tanah yang basah di belakang tengkuknya.

Sakit

Sakit sekali

Gadis itu terbatuk lemah, "A-a…t-to….long," gumam Sakura. Nafasnya tersengal-sengal tapi indera penciumannya tersebut begitu tajam. Ia mencium bau darah dimana-mana. Sakura mengangkat tangan kanannya dan ia samar-samar melihat cairan merah kental yang melumuri jari sampai setengah tangannya, "s-sial."

Ini dimana?

Gadis itu mencoba untuk bangun tapi nampaknya tubuhnya seperti tidak punya rasa kompromi. Ia tidak bisa bergerak. Pinggangnya tertusuk katana, paha dan pergelangan kakinya terkena shuriken dan kunai. Racun yang disuntikkan kepadanya juga sudah mulai bekerja. Dampaknya, gadis itu lumpuh.

Sakura tidak bisa mengingat apapun selain pelariannya hingga terjatuh ke dalam jurang sedalam tiga puluh meter. Ia terbangun di dalam gendongan seorang ninja yang tidak ia ketahui. Dengan tenaga yang ia miliki, Sakura mencoba untuk kabur dan akhirnya terjadi perkelahian yang membuatnya terluka parah sehingga ia memilih untuk menerjunkan diri ke dalam jurang sebelum tertangkap oleh musuh.

Sakura meringis kesakitan saat ia mencoba mengobati dirinya sendiri. Pening yang teramat sangat menghantam kepala pinknya, gadis itu terbatuk lalu muntah darah. Sakura menutup matanya dan menangis, ia mengigit bibirnya keras-keras hingga berdarah.

Ia akan mati?

Disini?

Sakura terbatuk lagi. Ia mengusap air matanya lalu tersenyum pasrah. Bukankah ia ingin mati beberapa jam yang lalu? Kenapa sekarang ia menangis? Kenapa? Kenapa ia harus mengingat Naruto dan Sasuke di saat-saat seperti ini? Kenapa cahaya itu seperti sebuah sinyal kematian untuk Sakura?

Sakura tidak bisa menahan lelehan air matanya yang memaksa untuk keluar. Dengan kepayahan gadis itu mencabut kunai yang sebelumnya menancap di pahanya dan melepas kunai di rambutnya. Gadis itu menulis nama 'Naruto' dengan darahnya dibalik ikat kepala. Dengan chakra terakhirnya, Sakura melempar kunai itu ke udara dan berharap bahwa Naruto akan mengetahui bahwa ia sangat mencintainya. Sakura terbatuk untuk kesekian kalinya, ia tidak punya kekhawatiran lagi. Ayah dan ibunya sudah berada dalam cahaya yang menyilaukan matanya itu dan mungkin sekarang baginya untuk ikut mati.

Saat musim semi datang…

Aku harap kita bisa bertemu lagi, Naruto. Kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Apa…itu mungkin?

Naruto-kun

Sakura merintih, darah segar keluar dari mulutnya. Samar-samar ia mendengar suara musik yang sering Sai mainkan di bawah pohon oak. Gadis berambut pink itu mengusap telapak tangan ke luka di pinggangnya lalu memejamkan mata.

Sayonara

~INTERVAL~

Aku tidak lagi memandangi sakura, Naruto

Terlalu banyak hal yang tersembunyi di balik kelopak rapuhnya

Seperti angin yang membawa kelopak sakura pergi jauh

Kau tahu, dahannya akan selalu diam kaku

Tak berdaya

Takdir juga melakukan hal yang sama, Naruto

Aku pergi karena aku tahu kau tidak mampu menahanku

"Fū! Kembali kemari! Kau itu sakit! Kau sakit, kau dengar aku? Hei!"

Seorang gadis berusia 24 tahun berlarian di lorong rumah sakit yang ukurannya tak seberapa besar. Seorang perempuan berbaju dokter mengejarnya dengan nafas tersengal-sengal. Si perempuan berdecak saat melihat gadis yang bernama Fū itu semakin menambah kecepatannya dan terbang dengan sayap di belakang tubuhnya ke halaman. Lantai rumah sakit yang lebih tinggi karena dibangun dengan penyangga kayu membuat langkah kaki mereka terdengar keras.

"Fū! Berhenti!"

Si perempuan ikut melompat dan mencengkeram lengan si gadis yang sekarang meronta-ronta bersama kepakan sayap capungnya yang berisik.

"Kau ini, sudah berapa kali aku katakan jangan mengacaukan jadwal pemeriksaanmu!" si perempuan memasang wajah horor setelah mengetahui bahwa gadis itu juga mengacaukan sesi pemeriksaan salah seorang Cunnin Takigakure. Meski Fū dalam keadaan cidera namun Sakura tidak akan berbelas kasihan pada gadis berkulit gelap itu.

"Sakura, apa kau berhasil menangkapnya?"tanya salah seorang ninja berambut panjang. Ia kemudian tersenyum saat melihat ninja medis berambut pink itu berhasil menahan Fū dengan kekuatan monster warisan Tsunade Senju.

"Lepaskan aku! Lepaskan! Aku tidak sakit, lepaskan," Fū meronta-ronta. Sayapnya yang berkepak cepat menimbulkan dengung.

Sakura menghela nafas, Fū adalah seorang Jinjuriki ekor tujuh. Dia kuat, punya chakra yang banyak tapi takut pada jarum. Konyol sekali. Dia itu sama seperti…

Naruto

'Sakura, apa yang kau pikirkan?' Sakura menggelengkan kepala untuk menetralkan isi pikiran sialannya.

Sakura menarik Fū ke tanah sehingga gadis berambut turquoise itu harus pasrah dan menyerah. Sakura tersenyum lembut, "Tuan Shibuki begitu mengkhawatirkanmu, kau tahu? Pikirkan dia jika kau main kabur-kaburan seperti tadi."

"D-dia mengkhawatirkanku? S-sangat khawatir?" wajah Fū menjadi merah padam. Gadis yang sering dijuluki anak bandel itu berdeham dan membenahi roknya yang kusut.

"Tentu saja. Tuan Shibuki sangat mengkhawatirkan-,"

"Baiklah. A-aku akan kembali ke ruang pemeriksaan," Potong Fū. Gadis itu langsung melompat dan berlari sekencang mungkin ke dalam rumah sakit.

Sang ninja berambut panjang berjalan santai menghampiri Sakura yang terlihat terpesona dengan kelakuan Fū yang seenaknya. Ninja itu menepuk bahu Sakura,

"Taktik itu akan selalu berhasil. Fū tidak akan pernah bisa menolak perintah Tuan Shibuki," si ninja tertawa sebentar, "aku akan memastikan dia tidak kabur lagi. Sampai ketemu," lanjut sang ninja sebelum masuk ke dalam rumah sakit.

Sakura tertawa kecil. Shibuki-sama dan Fū punya hubungan yang cukup rumit juga. Semua orang di Desa Taki mengetahui jika Shibuki sangat peduli pada Fū dan berusaha melindungi gadis jinjuriki ekor tujuh itu dengan sekuat tenaga. Namun, Fū selalu bersikap masa bodoh dan bertindak seakan-akan dirinya tidak mengetahui perasaan Shibuki. Mungkin karena mereka adalah teman sejak kecil makanya Fū belum melihat Shibuki sebagai seorang pria melainkan hanya sahabat.

"Apa dia tidak menyadari perasaan Shibuki-sama?" Sakura bertanya pada dirinya sendiri, tiba-tiba ia tertawa keras, "Aku lupa, Fū kan sangat mirip Naruto. Gadis bodoh!" Sakura tidak bisa menghentikan tawanya sampai membuat seisi rumah sakit ketakutan. Sadar atau tidak Fū dan Shibuki mengingatkan dirinya pada sosok Naruto dan dirinya sendiri.

Naruto

Apa…kau baik-baik saja?


Sudah 4 tahun semenjak peristiwa pernikahan yang gagal itu berlalu Sakura tidak pernah menginjakkan kaki lagi di Konoha. Di hari yang sama ia hampir mati di jurang di perbatasan Desa Konoha dan Desa Taki. Jika saja salah seorang ninja dari Takigakure tidak menemukannya maka bisa dipastikan bahwa hari itu adalah hari terakhir Sakura melihat dunia. Ninja penjaga perbatasan yang menemukan Sakura lalu membawa gadis itu ke Desa Taki dan Shibuki mengobati Sakura dengan air danau keramat di desa mereka.

Fū yang pernah bertemu Sakura di ujian Cunnin di Sunagakure nyaris berteriak saat melihat gadis itu sekarat. Mereka sempat waspada saat mendapati kondisi Sakura yang tanpa identitas dengan baju yang tidak layak lagi disebut baju.

Setelah sadar dari kondisi koma, Sakura memohon untuk tidak memberitahu keberadaannya pada Konoha. Shibuki pernah berpikir jika hal tersebut akan memancing konflik dengan Konoha namun Sakura meyakinkan jika nyawanya akan lebih dalam bahaya jika ia kembali ke desa asalnya itu. Dengan berat hati ia menceritakan penyerangan terhadap dirinya dan sedikit permasalahan antara dirinya, Naruto dan Tetua desa. Shibuki yang memang pada dasarnya sangat baik hati hanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan dimana Sakura dirawat tanpa sepatah katapun. Beberapa hari kemudian ia mendapat pemberitahuan jika pemimpin Desa Taki sudah mempersiapkan tempat tinggal untuknya dan menugaskannya sebagai ninja medis di rumah sakit di Desa Taki. Dengan kemampuan Sakura yang sudah cukup maju maka tidak sulit untuk gadis itu menyesuaikan dirinya dengan pengobatan di Takigakura, terutama kebiasaan warga desa tersebut untuk memanfaatkan air terjun dan pohon keramat. Sakura juga sudah lumayan berteman baik dengan Fū yang tingkat kejahilannya dikategorikan luar biasa. Gadis jinjuriki itu akan terus berkata 'beres' dan tetap melakukan hal yang ia inginkan, seperti halnya hari ini.

"Sakura, apa kau merasa senang berada di sini?" tanya Fū tiba-tiba. Gadis itu mengunyah bola-bola nasi yang sengaja rumah sakit siapkan untuk anak-anak yang sakit.

Mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang ke flat masing-masing. Kebetulan tempat tinggal Sakura bersebelahan dengan Fū, sesuai pengaturan Shibuki. Flat itu tentu saja tidak gratis, Shibuki mengatakan jika Sakura boleh membayar sewanya jika ia sudah dapat pekerjaan. Pria itu tahu benar jika harga diri Sakura akan terluka jika dikasihani sampai sedemikian rupa.

"Tentu saja. Semua orang disini sangat baik," Sakura tersenyum ramah.

"Aku iri sekali. Mereka semua bisa menerimamu dengan cepat sedangkan aku…sangat sulit untuk mendapat kepercayaan mereka," Fū menunduk lesu.

Sakura mengusap puncak kepala Fū, "Sekarang mereka semua menyayangimu. Aku mempercayaimu semenjak pertama kali kita bertemu. Sejak di Sunagakure dan saat kita bertemu lagi disini."

"Yey! Impianku untuk punya 100 orang teman akan segera terwujud. Tunggu dulu, biar aku hitung dulu, Shibuki, Gaara, Matsuri, Temari, Kankuro, Neji, Laki-laki gendut Chouji, Laki-laki jenius Shikamaru, kau, Ah Naruto…,"

Deg

Sakura mengusap dahinya yang tiba-tiba berkeringat. Sudah empat tahun ia tidak bertemu dengannya. Ino, apakah gadis itu baik-baik saja? Apa dia sudah dapat pacar? Lalu Shikamaru, apa yang sekarang sedang dia kerjakan? Hinata, bagaimana kabarnya? Naruto, apa dia sudah sembuh?

"Mengesankan sekali Fū. Aku juga punya sahabat di Konoha. Dia dari klan Yamanaka. Yamanaka Ino," Sakura dan Fū berbelok ke bangunan dimana flat mereka berada.

"…Gaara, Matsuri, Temari- benarkah? Kau keren sekali!" Fū kehilangan hitungannya saat mencapai angka 42 dan ia kembali menghitung kembali. Gadis itu tersenyum kuda, "jadi kau mau tinggal disini terus? Menjadi ninja Taki?" Fū mengingat Sakura yang menolak untuk menjadi ninja Taki.

"Aku tidak tahu, apakah aku harus kembali ke Konoha suatu saat nanti? Aku tidak pernah benar-benar punya rumah, Fū. Aku sudah meninggalkannya sejak lama."

"Kenapa tidak punya rumah? Apa harga sewa flat di Konoha sangat mahal? Tidak ada bangunan kosong lagi? Begitu padat?" Fū menggerakkan tangan membentuk bulatan besar untuk menggambarkan maksudnya. Fū terkadang terlalu sungkan untuk bertanya tentang masalah pribadi Sakura karena Shibuki selalu melarangnya. Jadi, selama empat tahun perkenalannya dengan Sakura, Fū hanya bisa menduga-duga alasan apa yang membuat Sakura lari dari desanya.

"Ah tidak, bukan seperti itu, ru-,"

"Kenapa tidak?" potong Fū terdengar tidak sabar. Ia mencondongkan wajahnya untuk mendapatkan jawaban yang lebih cepat.

"Rumah adalah tempat dimana kau merasa pulang, Fū, bukan sekedar bangunan. Kau tahu maksudku kan?" Sakura berhenti begitupun dengan Fū. Fū menerawang perasaan Sakura. Luka apa yang temannya itu sembunyikan?

Fū tertegun, gadis itu melihat kepahitan tergurat di senyum Sakura. Sakura bukan tidak mendengar kabar sama sekali dari Konoha khususnya tentang Naruto. Kabarnya Shinobi terkuat di desanya itu memerintahkan beberapa orang untuk mencari sesuatu. Akibatnya, beberapa desa menduga jika Naruto mengincar senjata rahasia atau bahkan berniat untuk membuat senjata rahasia namun Sakura merasa bahwa sang hokage itu sedang mencari dirinya. Setidaknya dengan alasan bahwa salah satu kunoichinya menghilang. Sakura tidak berharap banyak.

Pencarian memang dilakukan kepada negara-negara yang sekiranya punya riwayat hubungan yang buruk dengan Konoha atau desa dimana tempat para penjahat kelas S berasal. Untungnya Naruto tidak menduga bahwa Takigakure menyembunyikan Sakura meski salah satu personil Akatsuki –Kakuzu- berasal dari desa itu. Sakura telah berhasil meyakinkan Shibuki dan Fū sedangkan Konoha pasti akan berpikir kalau Takigakure tidak akan mengotori reputasi bagus mereka dengan menyembunyikan Kunoichi Konohagakure.

Fū pura-pura batuk yang bodohnya ia lakukan dengan keras,

"Aku paham. Entah kenapa aku merasa beruntung. Aku memiliki Shibuki," Fū jujur pada dirinya sendiri lalu nyengir lebar sampai mata indahnya itu tertutup, sedangkan Sakura mendongakkan kepala dan melihat seekor elang terbang memutar di langit. Cahaya matahari menyinari bulu burung itu sehingga terlihat berkilat-kilat. Mengingatkannya pada senyum seseorang yang selalu secerah mentari,

Uzumaki Naruto.

.

.

.

Sakura menumpahkan cairan dalam tabung yang berasap. Shibuki datang ke rumah sakit dan memberitahu jika Naruto –sang hokage- akan menyambangi Takigakure untuk membahas kerja sama antara Konoha dan Takigakure. Shibuki berkata jika ia akan merasa bersalah sekali jika tidak memberitahu Sakura perkara hal ini. Konoha adalah desa yang besar dan kunjungan mereka sangat penting untuk Takigakure.

"Terima kasih sudah memberitahuku, Shibuki-sama. Anda tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasi semuanya," Sakura berjongkok untuk mengelap cairan yang ia tumpahkan. Kain yang Sakura gunakan langsung berlubang pada saat yang sama. Cairan korosif.

"Aku….kau tahu…kau bisa menemuinya atau menghindar jika kau mau," Shibuki membantu Sakura.

"J-jangan sentuh ini. Berbahaya sekali, Shibuki-sama. Dan…aku hanya akan melihatnya dari jauh," Sakura memberi jeda pada setiap kata-katanya, "Itu saja."

Sakura berbalik dan melepas sarung tangan karetnya dengan perasaan gamang. Ia mengabaikan Shibuki yang juga terlihat khawatir.

Haruskah ia pergi melihat Naruto?

_Sayonara Memory_

"Nanadaime-sama-,"

"Mana yang harus aku tanda tangani?" tanya Naruto dingin.

Perasaan Naruto tidak membaik setelah dirinya sampai di Takigakure. Desa yang tersembunyi di balik air terjun itu memberinya pemandangan baru namun tidak dengan hatinya. Setelah bertemu dengan Shibuki, Naruto langsung menuju ke penginapan yang sudah disiapkan dan duduk sendirian. Musim semi sudah memasuki bulan kedua sudah tapi suhu di Takigakure masih cukup dingin, mungkin karena Desa Taki dikelilingi rimbunnya pohon dan tersembunyi dibalik air terjun. Tidak seperti di Konoha, bunga sakura di Takigakure tidak terlalu banyak, salah satunya berada di depan kamar Naruto. Ada sebuah pohon sakura berukuran sedang yang sedang menggugurkan bungannya. Naruto terus mengamatinya.

"T-tidak. Shibuki-sama bilang akan nada festival musim semi di sini. Apa Nanadaime-sama ingin keluar dan melihatnya?" tanya Raido Namiase.

"Kau saja," jawab Naruto singkat. Masih tidak mengalihkan pandangannya dari pohon sakura.

"Hai, Nanadaime-sama?! S-saya berada di luar jika Nanadaime-sama membutuhkan saya."

Raido Namiase menghilang di balik pintu. Ia bergidik. Naruto yang sekarang benar-benar beda dengan Naruto yang empat tahun lalu ia kenal. Hokagenya itu sekarang lebih mirip Kazekage yang selalu diam dan tidak doyan bercanda seperti dulu.

Naruto menghela nafas berat. Hidupnya sudah tidak sama lagi. Kehilangan Sakura sama seperti kehilangan semangat hidup. Naruto merasa sangat sedih karena kehilangan dua rekan dalam timnya.

Mata biru Naruto menangkap sosok anak-anak yang berlarian melewati pohon sakura sambil membawa layangan dan umbul-umbul berbentuk ikan. Oke, sekarang dia sedikit penasaran. Naruto membuka jendela dan melompat menuju kerumunan anak-anak itu.

"Hai semuanya!" sapa Naruto pada empat orang anak yang kira-kira berusia 8 tahun.

Anak-anak itu mengernyit heran. Apa yang dilakukan oleh paman aneh itu?

"Jii-san siapa?" sahut salah seorang dari mereka.

"Jii-san? Aku? jii-san? Jangan bercanda, aku ini masih muda tahu," Naruto memasang wajah sebal.

"Jii-san mau apa?" sahut anak lain.

"Sudah kubilang aku masih muda…ah, sudahlah, lupakan saja," Naruto mengibaskan tangan di depan dadanya sendiri, "A-aku ingin melihat festival musim semi. Apa kalian mau kesana? Aku orang baru. Aku tidak tahu apa-apa disini."

"Apa paman bodoh?"

"Apa katamu? Lelucon dari mana itu? Aku ini hokage. Aku ninja terkuat," Naruto terbatuk lalu ia membusungkan dadanya.

"Aku bahkan bisa membuat kebohongan yang lebih baik dari itu," bisik salah seorang anak.

Tiba-tiba Naruto tertawa. Ia hanya ingin tertawa. Sudah lama sekali…

Sikap Naruto berputar 180 derajat ketika berhadapan dengan anak-anak. Anak-anak adalah harta bagi setiap desa. Di tangan mereka inilah masa depan desa berada dan Naruto tidak akan menyakiti satu anak pun hanya karena kepahitan yang ia sandang. Lagipula, tidak ada anak-anak yang terlibat dalam kisah sedihnya. Beruntung sekali.

"Kami memang mau kesana. Jika paman mau kesana…," anak pertama yang menyahutinya mengamati Naruto dari atas sampai bawah, "Baiklah! Ayo!," ekspresinya berubah menjadi ceria seketika, "Hari ini perawat dari rumah sakit akan membagikan permen apel di festival. Paman juga harus ikut! Ayo!"

"Perawat?" Naruto berpikir keras, "sepertinya bagus. Hei tunggu aku bocah!"

.

.

.

"Sakura, apa permennya kurang?" tanya Fū sembari memakan permen apel kelimanya. Entah ada angin apa yang membuat gadis itu memaksa untuk membagi-bagikan permen gratis pada anak-anak. Ya, meskipun yang Fū lakukan sejak tadi hanya duduk dan makan permen.

"Jika kau memakannya terus, kita tidak akan punya cukup permen, Fū. Kemarikan!" Sakura merebut kotak permen yang sejak tadi di kuasai oleh Fū.

Anak-anak datang dengan kecerian dan Sakura ingin menambah keceriaan itu dengan permen apel. Takigakure punya populasi yang tidak terlalu banyak karena tingkat kesehatan di desa itu kurang baik. Kedatangan Sakura agaknya membawa perubahan baru karena mantan ninja medis Konoha itu berusaha untuk membuat anak-anak tidak takut dengan rumah sakit. Salah satunya dengan cara seperti ini.

"Baik…baik!" sahut Fū seraya meludahkan karamel yang menyangkut di sela-sela giginya.

"Bagikan pada anak-anak," kata Sakura agak menekankan perintah.

"Beres…beres. Oh, disana ada penjual sakura mochi," Fū langsung terbang begitu saja, lupa pada perkataannya sedetik yang lalu.

"Astaga, gadis itu. Pantas saja Tuan Shibuki bilang Fū tidak bisa dikontrol, membuatku se-,"

"Nee-chan, kami mau permen apel," si anak memberi tanda 5 dengan kelima jarinya.

Sakura tersenyum manis dan memberikan permen apel pada keempat anak di depannya. Tunggu dulu…hanya empat?

"Empat? Tapi kan kalian minta lima permen?!" tanya Sakura.

"Iya, Nee-chan. Paman yang disana itu bilang kalau mau permen apel," si anak menunjuk seorang pria yang berdiri di bawah pohon sakura.

Sakura mendongakkan kepala dan melihat orang yang ditunjuk oleh anak tadi. Sakura terkesiap.

Uzumaki Naruto

Bagaimana ini?

Pria berambut cepak itu hanya berdiri di bawah pohon sakura sembari mengenggam ikat kepala yang ternoda darah kering. Diam. Tapi, tatapan matanya mampu membombardir Sakura dengan dahsyatnya. Sakura menggigit bibirnya. Apa yang harus ia lakukan?

Gadis itu kebingungan. Ia sengaja memilih untuk membagikan permen pada saat ini karena ia menyangka bahwa rombongan Naruto baru akan melihat festival pada saat malam hari.

Kenapa? Kenapa dia di sana dan melihatnya dengan mata kesakitan seperti itu?

'Kumohon, jangan tatap aku seperti itu.'

Sakura meradang

"Nee-chan? Sakura nee-chan? Bisa kami ambil permennya?" keempat anak di depan Sakura melihat satu sama lain lalu mengambil permen dari tangan Sakura dan menghampiri Naruto yang menunggu di bawah pohon. Mereka mengulurkan permen apel pada Naruto lalu pergi lagi sambil mengangkat umbul-umbul ikan.

Naruto menerima permen dari keempat anak itu dengan senang hati. Ia kembali memandangi Sakura dengan mata birunya itu. Ia mungkin saja sedang bermimpi namun entah kenapa ia tidak ingin bangun sekarang juga. Ini mimpi indah.

Matahari mulai menggelincir ke Barat. Sinar matahari menyinari sebagian wajah Naruto sama seperti hari dimana Sakura memutuskan hubungannya dengan Naruto di perjalanan pulang bersama Rock Lee. Guguran bunga sakura untuk sesaat membuat Sakura sesak. Mungkin bukan karena bunga sakuranya….tapi tatapan Naruto.

Sialan. Sakura tidak bisa mengalihkan pandangannya.

"N-Naruto?!" gumam Sakura.

Gadis itu mencoba mencari bantuan, pegangan, apapun. Ia terus memandangi Naruto seolah-olah tiada hari esok seakan-akan jika ia berkedip Naruto akan menghilang atau pria itu bisa muncul dihadapannya dalam waktu sepersekon detik. Ia merasakan sesak yang teramat sangat karena Sakura lupa caranya bernafas.

Saat musim semi datang…

Naruto melangkah mendekati Sakura. Mata birunya tak berkedip sekalipun. Pria itu memangkas jaraknya dengan Sakura yang berdiri mematung di seberang jalan. Kerumunan orang tak menyulitkan pria berambut pirang itu untuk menyadari ekspresi apa yang Sakura pasang. Gadisnya itu diam ….air mata mengalir dari kedua mata emeraldnya…mengalir deras seperti sudah ditahan bertahun-tahun. Sakura gemetaran. Ia kebingungan sampai menyenggol sebuah permen apel yang berakhir jatuh ke tanah.

Aku harap kita bisa bertemu lagi, Naruto. Kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Apa…itu mungkin?

"Jadi, kau disini, Sakura-chan? Sudah lama aku mencarimu. Keyakinanku terbukti benar, kau belum mati."

"N-Naruto?!"

Naruto mengingatnya.

"Akhirnya aku menemukanmu. Bisa kita pulang?"

"Tapi aku-,"

"Kau berharap bisa lari? Aku tidak akan membiarkannya karena aku ini seorang hokage. Kau itu milikku. Aku tidak akan melepaskanmu, Sakura-chan, karena bahagia bersamamu adalah janji seumur hidupku."

.

.

.

TAMAT

.

.

.

.

.

.

.

Jawab pertanyaanku, Sakura

Hn

Apa kau membenciku?

Sangat

Apa kau ingin membunuhku?

Ingin kulakukan saat ini juga

Apa kau mencintaiku?

Karena rasa cintaku itu aku tidak sanggup untuk membenci dan membunuhmu

.

"Aku tidak menyangka kau akan benar-benar datang pada musim semi. Ini sihir."

"Memangnya ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Hanya permohonan bodoh, kau tidak perlu tahu."

"Aa…ayolah beritahu aku. Ada apa? Beritahu aku."

"Lupakan saja. Tidak penting. Cepat habiskan ramenmu atau aku akan meninggalkanmu sendirian."

"Lagi? Kami-sama!"

"Aku ada janji belanja dengan Ino, baka."

"Aku baru makan, Sakura."

"Siapa suruh kau tidak makan dan malah memandangiku terus. Ya sudahlah, lupakan saja, aku akan pergi sekarang. Aku pergi dulu Teuchi Jii-san. Tuan hokage ini yang akan membayar semuanya."

"Oi! Sakura-chan. Tunggu! Tunggu aku. Aku penasaran dengan musim semi….dan…dan…beraninya kau meninggalkanku. Aku ini calon suamimu..Oi! Sakura! Tunggu!"

Karena sejak dulu kau sudah mengenggam jantungku dan memompanya, Sakura

Kau adalah hidupku

.

.

.

REALLY END

.

.

.

I don't know what to say but..

Aku mengakhirinya begitu saja. Sudah terlalu lama ditinggalkan dan ide nya udah kocar kacir ngibrit kabur entah kemana. Aku harap ga mengecewakan kalian yang sudah berharap fic ini update. Maaf juga pada kalian yang berharap di chapter ini ada adegan ena ena, kalian harus gigit jari hehe.

Cygnus bingung apakah harus bikin epilog. Karena aku pikir petualangan mereka sudah cukup. Tapi aku akan aku pertimbangkan jika kalian menginginkannya.

Terima kasih untuk semua orang yang sudah mendukung, yang sudah review, yang sudah memfavorite kan, memfollow, yang sudah mengingatkan Cygnus untuk update. And forever and always thanks to Google, Internet and Wifi. I love you.

Untuk author curhat sama Cygnus karena lupa sama ide dan sibuk terus….I love you sis.

Sampai jumpa di fanfic selanjutnya.