Another You

Shingeki No Kyojin (c) Hajime Isayama

Rate T+ / M (Biar aman)

Warnings: OOC, Gaje, Typo (mungkin), Yuri, YumiKuri

.

.

.

.

Ymir tidak yakin sudah berapa lama ia tidak melihat Krista, batinnya mengatakan ia belum bertemu Krista bulan ini, terasa ada bagian tubuhnya yang menghilang, dan ia harus cepat-cepat mengambilnya.

"Krista sudah siuman, ia sudah dibawa pulang oleh kedua orang tuanya dari rumah sakit." Ujar Ymir sambil menyuap nasi ke mulutnya.

"Oh, syukurlah!" Sasha membalas dengan mulut penuh makanan. "Tapi, mengapa kau terlihat begitu sedih?"

Ymir menghela nafas, makanan lezat yang tersaji di depannya terlihat begitu memualkan. Ia hanya bermain-main dengan sendoknya tanpa menjawab pertanyaan Sasha. Ymir menceritakan tentang kondisi Krista di rumah sakit, namun ia tak berkata apapun tentang Krista yang berubah menjadi tuna netra.

Setelah Sasha menelan semua makanan yang sudah dikunyahnya, ia memetikkan jarinya di depan wajah Ymir. "Habiskan makananmu, kalau tidak, aku akan memakannya."

"Silahkan," balas Ymir sambil menyodorkan piring makannya. "Aku tidak pernah suka makanan di cafeteria kampus ini."

Sasha mengerutkan bibirnya. Walaupun ia sedikit senang karena Ymir menyerahkan makanannya, ia merasa tertekan karena sifat Ymir yang semakin lama semakin tidak pedulian dengan hal-hal di sekitarnya – walaupun, memang hampir setiap hari ia begitu. Namun, kali ini Sasha yakin ada banyak hal yang Ymir tidak ceritakan. Meskipun hal itu membuat Sasha penasaran, ia memilih untuk diam saja dan berusaha untuk tidak mengungkit masalah-masalah yang mungkin tidak ingin Ymir bahas.

Semua orang mempunyai batas privasi.

"Apakah aku benar-benar tidak diperbolehkan bertemu dengannya lagi walaupun hanya sekali?" Ymir menjatuhkan keningnya di atas meja. "Aku sangat merindukannya..."


Di dalam kamarnya, Ymir begitu penasaran dengan kondisi Krista sekarang. Ia bahkan tidak fokus saat mengerjakan pekerjaan rumahnya. Rasanya berbeda, ada sesuatu yang membebankan dirinya. Ia harus bertemu dengan Krista sekarang, namun kedua orangtuanya pasti mengusir sebelum Ymir memberikan matanya.

Ymir semakin merasa bimbang. Ia ragu akan proses operasinya yang mungkin tidak akan 100 persen mulus, dan apakah Krista akan benar-benar bisa melihat Youkai seperti dirinya. Namun, ia tidak akan pernah tahu jika belum mencoba. Walaupun sekiranya Ymir tak dapat melihat lagi,ia berharap masih akan bisa mendengar Bertholdt dan Reiner.

"Aku masih tidak percaya Si Mata Tiga sialan itu adalah Ayah Krista." Ia menggebrak meja belajarnya, membayangkan lagi wajah Youkai itu yang sangat ia benci. Sejak dulu makhluk itu selalu ingin membuat hidupnya hancur. Andaikan ia bisa membunuhnya sekali lagi.

"Buktikan bila kau benar-benar mencintainya. Donorkan matamu kepadanya, hanya itu yang harus kau lakukan agar aku merestui cinta kalian berdua." Begitulah ucapan sang wanita tegas penyuka abu-abu; ibu angkat Krista. Dalam kata-katanya membuat Ymir yakin, bila Krista dapat melihat lagi, cinta mereka berdua akan abadi.

Sesulit itukah membuktikan cinta? Tidak – setidaknya menurut perspektif Nyonya Lenz – kau hanya perlu memberikan matamu yang berharga kepada orang yang kau cintai, hanya karena alasan yang aneh; seorang makhluk gaib membutakan gadis tak bersalah yang bahkan bukan seorang kriminal. "Siapa yang salah? Dia atau aku?" Siapa yang bertanggung jawab? Ymir, atau ayah kandung Krista? Itu semua tidak lagi penting, karena bagaimanapun juga, Youkai tidak akan mungkin divonis hukuman – dan, tentu saja, Ymir harus mengorbankan kornea matanya jika ia ingin melihat Krista sekali lagi. Ironis, bukan?

Jika saja ada orang lain yang akan melakukannya, namun sepertinya tidak. Dokter Mikasa bilang normalnya donor mata adalah dari kornea mata orang yang sudah meninggal dunia. Namun, akhir-akhir ini kornea mata yang tersisa bahkan kadaluarsa dan yang lainnya sudah dicangkokkan kepada resipien yang membutuhkan.

Ia menggeram, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi, namun, Krista berkata "Semua terjadi karena sebuah alasan. Jangan menyalahkanmu, kau pasti tidak salah. Aku tahu itu." Sebuah alasan? Tentu saja – Krista pasti akan berubah menjadi paranormal sebentar lagi.

Ymir melirik jam, sekarang pukul 5 sore. Ada atau tidak ada shift kerja, Ymir memilih untuk bolos dan tidak bertemu Hanji hari ini. Ia mengambil jaketnya dan pergi keluar.

Ia berdiri di sana, di depan rumah – istana – keluarga Krista. Dengan gugup, ia mengepalkan tangan, bersiap untuk mengetuk. Namun otot di sekitar lengannya terasa kaku, ia sama sekali tidak bisa bergerak. Ia hanya berkeringat dingin disitu dengan banyak dedaunan dan angin bertiup ke sana-kemari.

Sore hari ini begitu indah, jalanan dihiasi dengan banyak dedaunan sakura berwarna merah muda, beberapa petalnya sering kali menghampiri Ymir, dan hinggap di kain bajunya. Entah mengapa suasana kali ini membuatnya tenang, dan ia mulai berani mengetuk pintu sebanyak 3 kali.

Menunggu beberapa detik, tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

"Sepertinya tidak ada orang."

Tepat setelah Ymir membalikkan badan dan melangkahkan kaki menjauh dari pintu, seseorang membuka pintunya.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"

Suara itu terdengar asing di telinganya, ia menoleh ke belakang, dan berdirilah di ambang pintu, seorang pria tinggi berwajah ramah. Suaranya berat dan agak serak, namun Ymir mengerti benar ia menyapa tamu dengan senang.

"Ng..." Ymir terdiam dengan kaki rapat, dan kepala agak menunduk ke bawah. "S-saya... Ymir..."

Dengan cepat pria itu membalas, "Oh! Jadi kau yang bernama Ymir. Kukira kau laki-laki."

Ymir terdiam, sungguh tidak bisa menjawab apa yang baru saja pria di depannya itu katakan. "Apakah aku harus berpakaian seksi atau mengganti nama, atau apa?"

Suasana menjadi hening dan canggung.

"A-ano... Bisakah... saya bertemu dengan Krista?" Ymir mengangkat jari telunjuknya

Sebelum pria itu menjawab, seorang perempuan berjalan di belakangnya, Ymir melihatnya samar. "Ayah...?"

Suara itu.

Gadis di belakang pria itu berjalan dengan begitu pelan, matanya melirik ke segala arah, dan Ymir dapat melihat jelas bahwa ia sedang berusaha menemukan 'Ayah' barunya.

Sang Ayah mengambil tangan gadis itu dan merangkulnya menuju pintu. "Krista, seseorang ingin menemuimu."

Wajah Krista terpampang jelas di depan Ymir. Hatinya terasa campur aduk. Ymir sangat ingin membunuh dirinya sekarang.

Krista tersenyum, "Dokter, kah?"

Ayahnya menoleh kepada Ymir, kemudian kepada putrinya yang sedang ia rangkul. "Ia tidak terlihat seperti dokter. Dan sepertinya ia mengenalmu."

Krista mengambil langkah maju. Tangan satunya ia gunakan untuk meraba jaket Ymir dari lengan, hingga naik ke rahangnya, dan menuju pipinya. Senyuman Krista kemudian pudar, berubah menjadi sesuatu yang tak dapat Ymir artikan. Dan gadis pirang itu memeluk gadis jangkung di depannya tanpa berkata apa-apa.

Ymir balas memeluk, ia mengelus rambut pirang Krista yang terurai, kini semakin panjang hingga ke bagian pinggang. Sepertinya Krista belum memotong rambutnya.

Mereka terdiam, masih berpelukan, tanpa seorang pun mengeluarkan suara. Hingga tiba-tiba Krista mendekap tubuh Ymir semakin kencang, dan isakan tangis keluar dari mulutnya.

Mengapa ia menangis?

"Aku merindukanmu, Ymir," Krista masih membenamkan wajahnya di jaket Ymir.

"Ya," jawabnya sambil menyisir rambut pirang Krista dari atas kepala "Aku juga merindukanmu."

Ayah Krista berdehem, membuat suasana mengharukan di depannya buyar. "Jadi... kalian benar-benar sepasang kekasih, atau...?" sang Ayah tidak meneruskan, menunggu kedua gadis di depannya menjawab. Namun, dari ekspresinya Ymir tahu bahwa pria itu berpikir hal yang lain.

"Benar, Ayah," Krista menoleh ke Ayahnya dan mengelap air matanya. "Bolehkah aku berjalan-jalan bersama Ymir hari ini?"

Ayahnya mengangkat jari, berpikir sejenak sebelum menjawab "Baiklah. Kau diperbolehkan,"

Krista tersenyum. "Tapi, jangan kembali terlalu lama. Sang Perempuan Naga sedang tidak ada di rumah, kalian beruntung."

Ymir mengangkat satu alis, namun tersenyum. "Ibuku mempunyai julukan baru," Krista berbisik singkat saat kembali tersenyum kepada Ymir. "Ayo, kita pergi." Lalu Ymir menggandeng tangan Krista seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Mereka berjalan, mengobrol dan tertawa bersama membicarakan masa lalu yang memalukan sekaligus lucu di pikiran mereka berdua. Sepanjang perjalanan Krista selalu memejamkan mata, dirinya tetap terlihat bahagia meskipun tidak dapat melihat lagi. Sedangkan Ymir hanya bisa memendam perasaannya bahwa ia sama sekali tidak bahagia melihat Krista seperti ini.

Mereka berjalan di depan stasiun tempat dimana mereka sering pulang bersama saat masih duduk di bangku SMA. Itu adalah momen yang sangat sulit mereka lupakan.

Kemudian mereka menghampiri taman yang biasa dikunjungi anak-anak kecil di siang hari. Lalu duduk di salah satu bangku tempat para orang-orang yang lebih tua duduk. Krista tersenyum, "Anak-anak itu terdengar bahagia." Ymir tidak menjawab. Genggaman di tangannya belum ia lepas sejak tadi, dan ia melihat beberapa petal sakura terjatuh anggun di atas kepala Krista, menghiasi rambutnya yang pirang mengkilat. Di musim gugur seperti ini, Ymir biasanya melihat banyak anak-anak sekolah melemparkan topi wisuda nya.

"Ymir, bila ku boleh tahu, siapa yang bertanggung jawab atas kondisiku ini?" Krista bertanya tanpa menoleh, wajahnya tetap lurus ke depan. "Ibu bilang pelakunya sudah ditangkap, tapi aku hanya ingin tahu. Apakah kau mengenalnya?"

Ymir berpikir cukup lama untuk mengambil jawaban yang benar. "Tidak, aku tidak mengenalnya," ujarnya tanpa ekspresi- karena ia tahu Krista tidak akan bisa membaca wajahnya. "Jadi, bagaimana kabarmu selama ini?" Dengan cepat ia mengganti topik pembicaraan. "Apakah kau masih melukis?"

Krista menoleh.

Dengan cepat Ymir menyesali perkataannya. "Maaf,"

Kemudian gadis pirang itu tersenyum sekali lagi. "Tidak apa-apa," katanya. Lalu, ia kembali menatap lurus ke depan. "Yah, aku lebih menajamkan indra perasaku sekarang, aku masih bisa menggambar, hanya saja aku tidak bisa melihat hasilnya." Lalu ia tertawa.

Apa yang baru saja ditanya oleh Ymir sama sekali tidak membuat Krista berhenti tersenyum ataupun tertawa. Ymir harap Krista tidak pernah menjawab pertanyaannya barusan, itu hanya membuat Ymir semakin marah pada dirinya sendiri. "Apakah gadis ini dilahirkan untuk tersenyum selama hidupnya walaupun dunia yang ditempatinya tidak sedamai surga?"

"Kenapa..." Ymir berbisik pelan pada dirinya sendiri, walaupun ia tahu Krista pasti mendengarnya. "Kenapa kau melakukan ini? Apa yang membuatmu selalu tersenyum? Apa kau selama ini berpura-pura?"

Krista menoleh kepada Ymir "Aku sama sekali tidak berpura-pura. Aku hanya berusaha menikmati hidup, dan tentu saja, karena ada Ymir disini, aku akan tetap bahagia," Krista menggenggam tangan Ymir semakin erat. "Apakah ibuku melarangmu untuk bertemu denganku selama ini?"

"Ya," Ymir menunduk, tidak kuat menyaksikan Krista yang terus-terusan menatapnya. "Aku hanya diperbolehkan jika sudah memberikan mataku padamu."

Krista melenguh, ia sama sekali tidak diberitahu tentang perjanjian itu.

"Maaf, Krista. Tapi kurasa aku tidak akan melakukannya. Maka mungkin lebih baik kita berpisah saja."

Krista langsung mencegah Ymir pergi dari sisinya dengan menggenggam lengannya lebih erat daripada biasanya. Wajahnya terlihat marah, dan Ymir dapat menyaksikan ketidak-inginannya berpisah dengan satu sama lain. "Itukah yang kau inginkan? Setelah kau memberikan harapan kita akan hidup bersama?"

Tidak. Ymir tidak menginginkan semua ini. Ymir bahkan tidak tahu ia sudah menaruh harapan terbesar di dalam hati Krista. Hidup bersama? Itukah yang Krista inginkan bersamanya? Ymir selalu berpikir bahwa dirinya tidak mungkin pantas bersama Krista.

"Aku tidak memaksa, tapi beritahu aku mengapa." Lanjut gadis buta di sampingnya.

"Lupakan. Kau tidak akan mungkin percaya," Ymir nyaris ingin mengibaskan tangan Krista dari lengannya. "Banyak orang di dunia ini yang lebih pantas hidup bersamamu di hari tuamu nanti, dan itu bukanlah aku."

"Itu tidak benar," Krista membalas dengan cepat, "Hanya kau sendiri yang mengatakannya."

Apa yang dirasakan Ymir selama ini? Cinta sejati, atau cinta penuh kepalsuan? Ymir memang menyayangi Krista, namun apa yang sedang terjadi sekarang membuat Ymir ragu akan perasaannya. "Krista, sungguh, kau tidak akan percaya dengan semua alasanku."

"Coba saja," Gadis pirang itu menantang.

Ymir menghela nafas panjang, berpikir keras untuk memulai dari mana ia berbicara tentang rahasia terbesar yang ia simpan dari Krista selama ini. "Aku bisa... aku bisa melihat mereka,"

Krista terlihat sedikit bingung. "Mereka siapa?"

"Mereka yang tidak terlihat." Lanjut Ymir diikuti dengan anggukan perlahan dari Krista.

"Itukah yang membuatmu bimbang?" Tanya gadis itu. Ia bahkan tidak terkejut ataupun bertingkah tidak percaya – tidak seperti beberapa orang yang pernah ditemuinya. Persepsinya salah besar.

Ymir hanya mengangguk.

Krista tidak mendengar jawaban, namun ia tahu bahwa Ymir mengatakan 'Iya.'

"Apakah itu juga membuatmu berkata bahwa kau tidak baik untukku?"

Ymir mengangguk lagi. Ymir merasa semua hal ini bergantung pada matanya yang 'istimewa'. Karena matanya, ia bisa berteman. Karena matanya, dirinya dan Krista bisa bersama hingga sekarang. Karena matanya juga, Krista kehilangan indra penglihatannya.

"Ymir, jangan pernah berkata seperti itu lagi," Krista mengelus pundaknya. "Kau unik, dan aku tidak akan menemukan dirimu yang lain."

{...Because I will never find another you...}

"Kau tidak tahu aku," Ymir menunjuk dirinya sendiri. "Aku banyak berbohong padamu. Aku sama sekali tidak bisa menjagamu dari bahaya, aku yang membuatmu menjadi seperti ini!" ia membentak dengan penuh air mata menggenang di kelopak matanya. "Kita hanyalah sepasang remaja naif yang tak mengerti arti kehidupan!" Lanjutnya setelah jeda beberapa detik.

"Lantas apa yang membuatmu percaya bahwa aku akan mencintai orang lain setelah kau pergi meninggalkanku?" Krista menjawab dengan ekspresi dingin dan suara yang pelan.

Ymir terdiam. Ia mengeluarkan nafas panjang, berpikir panjang namun tak bisa menjawab pertanyaan yang baru saja Krista katakan. "Ayo, aku harus mengantarmu pulang." Ymir menggandeng tangan Krista, wajahnya terlihat murung, dan ia tidak berbicara sepanjang perjalanan pulang.

.

.

.

.

.

"Ymir," Krista meraih jemari Ymir ketika ia berbalik badan hendak pergi dari depan pintu rumah Krista. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku setelah ini."

Ymir membalikkan badan, mendekap Krista sekali lagi, dan mengecup kening kekasihnya. "Aku janji." Ia tersenyum, tersenyum tulus. Sesuatu yang mungkin tak disadari dirinya sendiri. Krista menaruh telapak tangannya di salah satu pipi Ymir, dan ia merasakan senyum itu.

"Kau tersenyum," Krista tertawa kecil menampakkan gigi putih rapinya. "Kau terlihat begitu menawan."

Terlihat.

Walaupun kata-kata itu sedikit mengusik Ymir, ia tidak memudarkan senyumannya. Ymir mencium bibir Krista singkat sebagai tanda perpisahan sesaat.


Ymir terus membenamkan wajahnya dalam rasa frustasi. Dirinya kini dilanda perasaan putus asa dan depresi berat. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Ia begitu bingung dan tidak terarah bagaikan tersesat di tengah-tengah hutan yang luas. Ymir tidak mungkin meminta izin ibunya untuk memberikan matanya kepada orang lain, pembicaraan mereka pasti akan terarah dengan hal-hal 'aneh' yang sudah mereka sepakati untuk tidak mengungkit masalah itu bertahun-tahun lalu.

Kini tekadnya sudah ditentukan, ia akan memberikan mata berharganya pada Krista. Dia mencoba untuk berharap bahwa kehilangan salah satu indranya yang paling penting tidak terlalu merugikan... jika orang yang ia tolong juga sepadan. Maka ia yakin, Krista tidak akan membuatnya menyesal. Ymir tidak harus takut mengenai biaya, keluarga Krista berjanji akan membiayai semuanya. Namun ibunda Ymir belum tahu apa-apa tentang perjanjian ini.

"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin diam-diam ke rumah sakit dan kembali dengan kondisi yang berbeda. Ibu pasti akan khawatir.." batinnya. Ia harus meminta izin dulu sebelum memberikan matanya kepada Krista, dan ada sedikit kemungkinan bahwa ibunya akan menolak jika Ymir tidak menggunakan alasan tertentu.

Maka ia memanggil ibunya untuk berbicara di ruang tamu, tempat dimana mereka sering berdiam di depan perapian yang hangat, hiburan televisi dan suguhan minuman panas yang nikmat. Rumah ini seperti istana bagi Ymir... istana ini tidak akan hilang dari dalam benaknya.

Ymir membuatkan dirinya dan ibunya teh panas dengan mencampurkan 2 sendok teh gula, karena malam hari ini terasa begitu dingin. Ia kembali dengan dua gelas di tangan, ibunya sudah menunggu di sofa dengan selimut menutupi badannya hingga leher.

"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan?" Ujar ibunya sambil memegang secangkir teh hangat itu di dalam selimutnya. Ia memejamkan mata sejenak, memaksimalkan rasa nyaman yang diberikan air hangat itu kepadanya. Sedangkan Ymir hanya terlihat canggung dan tak bergerak. Ymir juga kedinginan, dia hanya menggunakan kaus berlengan panjang berwarna hijau pudar dan celana panjang cingkrang yang bahkan tidak menutupi mata kakinya.

"Itu... jadi... ibu sudah tahu kan sekarang Krista dalam keadaan tuna netra?" Ymir menggosok-gosokan pergelangan tangannya di kain celana yang sedang ia gunakan, dan mengarahkan tangannya ke depan perapian.

Ibunya yang sedang menyeruput teh dengan cepat beralih menoleh kepada putrinya. "Oh, ya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja?"

Ymir mengangguk, melirik cangkir teh nya yang bahkan belum tersentuh sedari tadi. Asap putih tipis mengepul dari atas cairan coklat yang mengkilat dan terlihat menenangkan. "Ya, dia sudah siuman, dan orang tuanya merawat dia di rumah sampai mereka yakin Krista bisa membiasakan diri."

Ibunya menghela nafas panjang, "Baguslah," lalu ia menaruh kembali cangkir tehnya ke atas meja, dan meringkukkan dirinya ke dalam selimut bagaikan bola. "Kau masih berteman dengannya, 'kan?" dia tersenyum sekilas.

Ymir menyambar tangannya ke cangkir teh yang masih utuh dan menggenggamnya erat-erat, "Iya, hanya saja orangtuanya melarangku bertemu dengannya kali ini." jawabnya sambil meminum sedikit teh hangatnya.

"Oh, sayang sekali, apakah itu karena ayah?"

"Seharusnya aku tidak berkata seperti itu." Ymir memejamkan matanya dalam rasa penyesalan. "Sebagian iya, sebagian tidak."

Ibunya menoleh dengan kedua ujung bibirnya terangkat, "Jadi, kau ingin meminta bantuan ibu untuk bertemu lagi dengan Krista?"

Ymir menggeleng sambil tersenyum, "Tidak, aku hanya ingin meminta izin," sebelum ibunya sempat bertanya lagi, Ymir langsung melanjutkan kata-katanya. "Izinkan aku untuk memberikan mataku kepada Krista."

Kedua alis ibunya terangkat, penuh ketakjuban. "Tidak, tidak mungkin," Ia tertawa pelan, "Kau pasti bergurau."

Ymir memasang wajah seriusnya, "Tidak, ibu. Ini serius. Aku ingin bertemu lagi dengan Krista. Aku harus melakukan ini."

"Biarkan orang lain saja yang melakukannya!" Ibunya membalas dengan cepat, gerakan ujung alisnya mengisyaratkan ia sedang marah.

Setelah ibunya membentak, Ymir butuh sedikit waktu untuk mengumpulkan keberaniannya lagi untuk berbicara. Setelah jeda beberapa detik, ibunya terlihat tenang lagi, dan meminta maaf karena telah berteriak. "Tapi aku yang wajib membayar ini, aku yang bersalah, dan aku bertanggung ja-"

Ibunya menanggalkan selimut yang sedang dipakainya, dan beralih mendekat kepada putrinya, menggenggam kedua pundaknya. "Kau tidak bersalah atas apapun, ayahmu pelakunya. Kau tidak perlu melakukan ini."

Ymir dengan perlahan menaruh kembali cangkir tehnya ke atas meja. "Tidak- ibu tidak mengerti. Aku-"

"Dengarkan ibu, Ymir," sang ibunda menatap lurus wajah putrinya. "Ibu mungkin tidak mengerti sebagian dari masalah yang kau hadapi sekarang, tapi cobalah untuk berpikir rasional. Ayahmu yang melakukan semua itu kepada Krista, kau tidak harus membayar kesalahan orang lain."

Ymir menghela nafas, mengendurkan genggaman tangan ibunya di pundaknya dan berhasil melepaskannya. "Tapi, bu, hanya itu cara agar orang tua Krista menyetujui..."

"Menyetujui...? menyetujui apa?" Ibunya kembali membalut tubuhnya dengan selimut yang ia tinggalkan sesaat.

Ymir menggeram pelan, ia berdiri dari duduknya. "Baiklah, bu. Dengarkan baik-baik." katanya sambil memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri.
"Aku... aku mencintainya... aku menyayangi Krista lebih dari sekedar teman. Kami berdua adalah sepasang kekasih sejak SMA, dan orang tua Krista akan menyetujui cinta kami berdua jika aku membayar kesalahanku; yaitu membawa Krista ke dalam masalah ini sejak awal aku bertemu dengannya." Ymir membalikkan badannya, pergi menjauh sedikit dari sofa.

Ibunya tidak membalas, ia hanya menatap diam punggung putrinya. Ymir membalikkan badan ketika ibunya menyebutkan namanya selembut yang pernah Ymir dengar dulu ketika menenangkannya saat ia menangis. "Ymir, kemarilah." Ia mengayunkan tangannya, mengundang putrinya ke dalam dekapan hangatnya yang lebar.

Ymir dipeluknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang indah, membuat Ymir menangis di atas pundak ibunya. "Maaf, bu, jika aku mengecewakanmu. Aku tidak bisa menjadi seorang putri yang kau inginkan..."

Sang ibunda mengelus kepala putrinya perlahan, mendengarkan segala curahan hati putrinya yang ia lontarkan bertubi-tubi. Kebanyakan dari kata-katanya adalah merendahkan dirinya sendiri sebagai manusia yang suka membawa masalah kepada orang lain. "Berhenti mengatakan itu. Kau tidak layak mendapatkan dan merasakan ini semua," ibunya melepaskan pelukannya sesaat, hanya untuk melihat wajah Ymir yang basah penuh air mata. "Ibu tahu rasanya jatuh cinta, dan itu aneh- sekaligus menyenangkan. Jika kau memang benar-benar mencintainya, maka ibu mengizinkan."

Ymir mengelap air matanya dengan penuh kebahagiaan.

"Tapi apa kau yakin dengan pilihan ini? Pastikan kau tidak akan menyesal."

"Ya." Ymir tidak membalas dengan sangat yakin, karena sejujurnya ia juga tidak terlalu yakin.

"Bagaimana dengan biayanya?"

"Tidak usah dipikirkan," Ymir mengibaskan tangannya. "soal biaya, orang tua Krista janji akan mengurusnya."

"Oh, ya benar," Ibunya menekan keningnya perlahan, "mereka adalah keluarga yang kaya."
"Baiklah, sekarang tidurlah."

"Iya, ibu juga."

"Selamat malam, putriku. Semoga mimpi indah." Ibunya memberi kecupan selamat malam di kening, kemudian berjalan menuju kamar pribadinya.

Ymir melihatnya pergi menjauh, kemudian menoleh ke depan dimana 2 cangkir teh yang ditinggalkan belum dalam keadaan kosong. Ia memilih untuk menenggak keduanya sampai habis, kemudian pergi ke dalam kamarnya dengan perasaan begitu lega dan tenang. Untuk kali ini ia merasa begitu bebas dan ringan, semua berkat ibunya.


Yapppppppppppp makasih yang udah review, favorite, dan follow, author sungguh berterima kasih kepada kalian! Chapter selanjutnya tungguin yahh...

Thanks for reading!