Title : Queen of pureblood

Disclaimer : Matsuri Hino, Seokwoo (Orange marmalade)

Author : Hoshina's dark

Genre : Romance, Hurt/comfort

Rate : M

Warning : NTR, abal-abal


Chapter 10 up..!

Happy reading~


Chapter 10

"Apa yang dia lakukan padaku barusan? Kenapa dia melakukan semua itu padaku? Kenapa ia sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun?" gumamnya sembari memegangi kepalanya yang serasa ingin meledak dengan kedua tangannya. Ia bahkan membiarkan dirinya merosot ke bawah dan bersimpuh di lantai kamarnya yang begitu dingin hingga dirinya tertidur diatasnya

....


YUKI POV

Kenapa dia masih peduli padaku? Kalau memang peduli, kenapa dia juga harus mengkhianatiku? Siapa wanita itu? Apa maksudnya mereka melakukan hal itu di depanku? Siapa yang bisa menjawab pertanyaanku ini..?!

YUKI POV END...

.

AUTHOR POV

Keesokan paginya...

"Uhm.. Hoahm..."

Yuki kemudian meregangkan tubuhnya, menggeliat di atas springbed-nya.

"Ah.. Bagaimana bisa aku tidur disini? Perasaan, semalam aku tidur di lantai deh.." gumamnya heran. "Oh iya... Ba san dan ji san.."

Yuki pun segera bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju dapur.

"Karura... Sebenarnya, mereka berdua itu ada masalah apa? Aku sungguh tidak mengerti.." tanya Rido yang sedang asyik dengan berita di koran yang tengah dibacanya.

"Aku sendiri juga tidak tahu... Mungkin soal pendapat mereka yang berbeda.. Atau soal perebutan hak milik?" jawab Karura sembari menghidangkan secangkir darah hangat di atas meja.

"Ohayou, Karura-ba... Rido-ji.." sapa Yuki penuh semangat sembari berlari menuruni tangga.

Sontak saja, Karura dan Rido menoleh ke arah gadis yang baru saja mereka singgung.

"Ahh.. Ohayou mo, Yuki..." balas Rido.

"Kelihatannya semangat sekali... Ada apa?" tanya Karura keheranan.

"Bukannya pagi hari itu, waktu yang tepat untuk meningkatkan mood dan semangat..? Benar kan, humm?"

"Benar juga sih... Baiklah, tak masalah... Melihat keponakan kesayanganku bahagia itu sudah cukup kok.. Umm.. Hari ini, Yuki mau makan apa?" tanya Karura sekali lagi.

"Mungkin cukup secangkir darah kelinci hangat saja ba san.."

"Baiklah, ditunggu yaa.." ujarnya sambil tersenyum.

Karura kemudian mengambil botol darah dari dalam lemari pendingin dan segera menghangatkannya.

"Yuki..." panggil Rido sembari menutup lembaran koran yang tengah dibacanya. Kini pandangannya tertuju pada keponakannya.

"Iya..?"

"Ada yang ingin kutanyakan padamu..." ujar Rido dingin.

"Ji san ingin bertanya soal apa?"

"Apa kalian berdua sedang ada masalah?"

[Glek..!]

Yuki terbungkam seketika. Rasanya, ia sama sekali tidak bisa mengatakan hal apapun pada Rido ji. Termasuk juga soal Kaname.

"Tidak... Sama sekali tidak..." jawab Yuki dengan raut muka berubah dingin. Ia bahkan menunduk dan mulai mengabaikan raut wajah Rido yang berubah serius.

"Lalu, kenapa tadi malam Kaname jadi lebih temperamen..? Perubahannya benar-benar drastis bukan..?"

"..."

Tak berapa lama kemudian, Karura menghampiri mereka berdua dengan secangkir darah hangat sesuai yang diinginkan Yuki di tangannya.

"Oh iya, aku hampir lupa... Tadi malam, Kaname memberitahuku agar hari ini juga kau menemuinya di taman Nagayashi.."

Begitu mendengar kalimat yang diucapkan Karura, Yuki sontak menatapnya kaget. Ia merasa bahwa ia sedang bermimpi sekarang.

"Apa..?"

"Bukankah taman itu tidak jauh dari sini? Lagipula, kalian juga sering kesana kan...?"

"Aku tidak mau.." balas Yuki dingin. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya tanpa menyentuh minumannya sedikitpun. "Jangan membahas soal Kaname lagi... Aku sudah tidak peduli soal dia..." lanjutnya sembari berjalan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, sebelum ia sempat menjauh dari paman dan bibinya, tiba-tiba Karura mencegahnya dengan memegang tangannya erat-erat

"Mau tidak mau, kau harus menemuinya... Ba san tidak peduli meski kau sedang bertengkar dengannya karena sesuatu hal yang rumit atau apa... Pokoknya dengarkan perkataanku dan jangan membantah..!" ujar Karura dengan nada menekan dan tatapan tajam.

Yuki diam sejenak. Tatapannya yang dingin, terasa seperti ia tidak akan gentar sedikitpun meski bibinya kini sedang menatapnya penuh kebencian padanya.

"Baiklah, apa boleh buat... Aku akan menemuinya... Hhh... Mungkin saja, Kaname bisa menjelaskan semuanya padaku..." jawabnya tanpa ekspresi sedikitpun. Tanpa banyak bicara lagi, Yuki kemudian menampis pegangan erat Karura dan ia pun segera menaiki tangga kembali menuju kamarnya.

.

.

Di taman, terlihat seorang laki-laki dengan surai coklatnya yang melambai tertiup angin musim panas sedang berdiri tepat di bawah pohon. Pandangannya kini tertuju pada air mancur di tengah taman yang pagi ini penuh dengan beberapa pasangan muda-mudi yang tengah bermesraan. Pikirannya benar-benar kacau. Ia tidak akan pernah menyangka, kedatangan Ruka di kehidupannya akan menghancurkan segala impiannya bersama Yuki.

Tak lama kemudian, yang dinanti pun datang. Yuki yang kini memendam rasa sakit hati hanya bisa memandangnya dengan pandangan sedingin es di kutub utara.

"Akhirnya, kau datang juga... Yuki.." ujar Kaname memulai pembicaraan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Yuki.

"Ada urusan apa kau memanggilku kemari? Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menemuiku lagi..?"

"Dengarkan dulu penjelasanku, Yuki..." ucapnya sembari berbalik ke arah Yuki.

Yuki pun terdiam.

"Aku tahu apa yang membuatmu marah hingga kau melarikan diri pada Zero dan meninggalkanku sendirian disini... Kuharap, kau masih ingat apa yang sebelumnya pernah kukatakan padamu.."

"Lalu, jika Kaname senpai tahu hal itu membuatku marah... Kenapa masih saja dilakukan?"

"Yuki... Wanita itu sebenarnya adalah cerita masa laluku... Jauh sebelum kau ada dalam hidupku, Yuki..."

Yuki lalu mengerutkan alisnya, tak mengerti.

"Apa maksudmu?"

"Hhh... Baiklah, jika belum kuceritakan sejak awal.. Kau tak akan pernah mengerti. Souen Ruka adalah tunangan yang dipilihkan ayahku delapan belas tahun yang lalu.. Tepatnya saat aku berumur kurang lebih enam tahun.. Tepat satu tahun sebelum kelahiranmu... Karena, dalam keluarga Kuran-Rouran hanya akulah yang belum mendapatkan takdirku... Jadi, dengan berat hati aku harus menerima siapapun vampir yang telah dipilihkan oleh ayah dan ibu..."

"Kaname... Senpai..."

Flashback on...

Senja itu, Kaname kecil tengah duduk santai di bangku taman dengan ditemani Ruka di sampingnya. Pikirannya yang kalut benar-benar membuatnya tersiksa.

"Ruka-chan.." panggil Kaname

"Iya..?"

"Kalau dewa mendengarkan doaku dan tiba-tiba, takdirku dari keluarga Rouran lahir... Apa yang akan kau lakukan?"

Ruka pun terkejut. Ia tak akan pernah menyangka kekasihnya, Kaname akan mengatakan hal itu padanya.

"Apa maksudmu, Kaname-kun?"

"Apa yang akan kau lakukan jika kita harus mengakhiri hubungan kita disini..?"

"Tidak, Kaname-kun..! Aku tidak mau berpisah darimu..!" teriak Ruka. Tanpa sadar, air mata gadis itu menetes keluar melewati pipinya yang polos. "Kalau aku berpisah dari Kaname-kun, aku sama siapa nanti..?" lanjutnya sambil menyeka air mata di pipinya.

Kaname hanya terdiam. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa lagi pada gadis kecil di sampingnya. "Sudahlah... Jangan menangis seperti itu di hadapanku..." ujarnya dingin.

.

Sepulang dari taman, Tetsuga, ayah Kaname tiba-tiba menyambutnya dengan suka cita. Kelihatannya, ada berita yang baik hingga membuat sang ayah sangat gembira sekali.

"Tou san... Ada apa? Kelihatannya bahagia sekali..." tanya Kaname heran.

Tetsuga kemudian berlutut di depannya dengan membelai lembut rambut Kaname. Ditatapnya lekat-lekat mata sang anak. Kebahagian yang menyembunyikan kesedihan terpancar jelas di kedua matanya.

"Kaname... Tou san punya berita baik dan buruk untukmu... Kuharap, Kaname bisa menerimanya ya.."

"Tentu saja, tou san... Aku pasti akan menerima apapun keputusannya..."

"Jadi begini... Semalam, Juri nee telah melahirkan putri tunggalnya.. Namanya Yuki.. Takdir hidupmu kini sudah datang, anakku..."

"Yuki..? Namanya Yuki..?"

"Iya, Yuki... Nama yang bagus bukan..?"

"Itu benar-benar berita yang baik, tou san... Aku senang sekali mendengarnya..."

"Dan, kau pasti mengerti kan.. Apa berita buruk yang akan terjadi setelahnya?"

Kaname terbungkam. Ia terus berpikir, bagaimana caranya ia membuat Ruka mengerti akan keadaan seperti ini. Sepertinya memang tidak ada cara lain lagi selain menjelaskan semuanya pada Ruka, bila ini sudah waktunya ia harus mengakhiri hubungannya dengan gadis tersebut. Ia tidak mau menyalahi aturan dan takdir keluarga yang telah dijalani secara turun temurun dari generasi ke generasi. Apapun yang terjadi, seberat apapun resikonya ia harus bicara.

[Krik... Krik... Krik..]

"Kaname kun..! Kenapa kau tega sekali..?! Kita kan sudah ditakdirkan untuk hidup bersama..."

"Sekali lagi, maafkan aku.. Ruka chan... Aku tidak bisa berbuat apa-apa.."

"Tidak..! Aku tidak mau tahu... Aku tidak peduli..! Meski Kaname kun menyukai siapapun, aku tetap tidak peduli... Aku akan tetap jadi milik Kaname kun... Aku tidak akan meninggalkan Kaname kun.." tukas Ruka egois.

"Ruka chan..."

"Pokoknya, aku akan mengikuti kemanapun Kaname kun pergi..!" teriaknya.

Kaname hanya menatapnya miris. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi padanya. Tanpa disangka-sangka olehnya, Ruka tiba-tiba menghamburkan pelukannya erat-erat kepadanya.

"Aku sayang Kaname kun..." ucapnya pelan.

Kaname terbungkam. Ia bahkan tak berani membalas pelukan erat Ruka seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Usai menemui Ruka, ia pun mengunjungi kediaman keluarga Haruka dan Juri. Ia ingin sekali melihat rupa Yuki, kekasih sekaligus takdir hidupnya. Sesampainya di sana, ia disambut baik oleh Haruka. Bahkan, ia juga diantar menuju ke kamar pribadi istrinya. Disana, terlihat Juri sedang menyusui Yuki.

"Istriku... Lihat, siapa yang datang kali ini? Kaname ingin menemuimu dan juga Yuki.."

"Benarkah? Bawa dia masuk.. Aku juga ingin memperlihatkan putriku padanya..." ujar Juri senang.

"Kau dengar kan, Kaname..? Juri senang akan kedatanganmu kemari..." ucap Haruka dengan senyum ramah terkembang di bibirnya, menatap Kaname penuh kasih sayang yang tak berbeda jauh dengan ayahnya.

"Terima kasih, Haruka ji..."

Haruka membalasnya dengan senyuman. "Masuklah... Aku akan berjaga di luar..." pintanya.

Saat itu juga, Kaname segera masuk kedalam menghampiri tempat tidur Kuran Juri. Sedangkan, Haruka cepat-cepat menutup pintunya dari luar dan pergi untuk berjaga-jaga.

"Kaname... Syukurlah kau datang kemari... Aku ingin memperkenalkan putriku padamu.. Namanya Yuki... Dia cantik bukan?"

"Tentu saja, Ba san.. Dan aku menyukainya... Aku senang, dia lahir untuk menemaniku disini..."

Juri kemudian terkekeh pelan. "Ya, dia kulahirkan untuk menemani seumur hidupmu... Jadi, kau tak perlu khawatir... Takdirmu ada disini... Di pelukanku ini..."

Kaname kemudian mengelus rambut Yuki yang pendek itu perlahan. Wajahnya yang damai, polos, dan tak berdosa itu berhasil membuatnya melupakan sejenak masalah dirinya dengan Ruka.

"Aku akan menjaganya dan mencintainya sepenuh hati... Aku janji untuk itu... Ba san..."

"Aku mempercayaimu, Kaname..." ucap Juri tersenyum manis.

Yuki tiba-tiba menangis dengan kerasnya. Otomatis tangisannya membuat mereka berdua terkejut. Dengan segera, Juri menenangkannya dengan mengusap lembut rambut sang buah hati.

"Kupikir, dia akan senang saat melihat calon suaminya ada disini... Hahaha.." lanjutnya sembari tertawa lepas. Kaname hanya bisa memperhatikan bayi merah tersebut dengan tatapan lembut. Sepertinya ia tidak sabar menunggunya tumbuh dewasa hingga siap mengikat janji suci dengannya dan hidup bahagia bersama anak keturunannya selamanya.

•••

Malam itu, keadaan di kediaman Rouran Haruka semakin memanas. Ia dan istrinya juga Yuki dalam ayunan kini tengah terkepung di tengah-tengah gerombolan pemburu vampir yang tengah meradang.

"Serahkan bayi itu pada kami...!" teriak salah satu diantaranya.

"Juri... Bawa lari Yuki... Jangan sampai siapapun diantara mereka mendapatkannya.."

"Lalu, bagaimana denganmu..?" tanya Juri panik.

"Aku akan menghadapi mereka disini..." jawab Haruka. "Pergilah..." lanjutnya.

"Baiklah... Aku dan Yuki akan menantimu, Haruka..." ucap sang istri yang kemudian membawa putri tunggalnya pergi bersamanya.

"Sial..! Dia melarikan diri..! Kejar wanita itu..!"

Beberapa diantara mereka berpencar untuk mengejar Juri. Akan tetapi, sebelum mereka sempat lolos dari pertahanan Haruka, tiba-tiba mereka terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri.

"Kalian tidak akan pernah kubiarkan menyentuh istri dan putriku.. Apapun itu.."

"Keras kepala sekali...! Fu...fu...fu... Bagaimana jika aku mengatakan bahwa hidupmu akan berakhir dalam hitungan tiga detik dari sekarang?" ucap kepala pemburu itu senang.

Satu...

Pria tersebut segera merogoh saku di celananya tempat ia menyimpan senjata rahasianya.

Dua...

"Good bye, daddy..."

Tiga...

[Dooorr...!]

Di lain tempat...

Juri terus berlari dan berlari. Tidak peduli meski kakinya berdarah karena terus tertusuk batu yang runcing ataupun benda tajam lainnya di jalan, tujuannya hanya satu. Ia hanya ingin putri satu-satunya tetap hidup meski dirinya dan Haruka harus mati di tangan para pemburu vampir keparat itu. Yuki juga tak berhenti menangis. Sepertinya, ia merasakan kepanikan dan kesulitan yang dialami oleh sang ibu saat ini.

"Yuki... Berhentilah menangis.. Ibu ada disini bersamamu.." ucap Juri menenangkannya sambil mendekapnya erat.

Tanpa disadari olehnya, tiba-tiba kabut hitam muncul begitu saja tepat di depannya. Wanita itu kemudian berhenti. Juri pun terkejut. Ia tidak akan pernah menyangka jika dia akan datang disaat-saat seperti ini.

"Kaname... Kau kah itu?"

Seorang anak laki-laki keluar diantara pekatnya kabut hitam tersebut dan kini, ia telah berdiri tepat di depan Kuran Juri.

"Serahkan ia padaku, ba san... Percayalah, semua akan baik-baik saja..."

Juri kemudian berjalan pelan mendekati Kaname dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun segera menyerahkan bayi Yuki pada Kaname.

"Kumohon... Jaga dia baik-baik... Aku mempercayakannya padamu.. Setelah ini, berikan Yuki pada Karura dan mintalah ia untuk mengasuh anakku..."

"Aku mengerti... Ba san..."

Di tengah-tengah mereka bercakap-cakap, tiba-tiba...

"Hei, itu dia..! Tangkap wanita itu..!"

"Pergilah..." pinta Juri sembari tersenyum manis ke arah Kaname. "Dan... Terima kasih..." lanjutnya.

[Dorrr..!]

Sebuah peluru berhasil mengenainya dan kini benda itu telah bersarang di jantung Kuran Juri. Kaname kemudian memejamkan matanya. Ia kemudian menghilang ditelan pekatnya kabut hitam miliknya dengan Yuki yang saat ini telah tertidur dengan tenang di dalam pelukannya.

•••

"Tidak ada pilihan lain... Kita harus segera pindah rumah... Selain untuk menjauhkanmu dari Ruka, keputusan ini juga untuk melindungi Yuki dari intaian para pemburu vampir.."

"Itu keputusan yang bijak, Tetsuga..." ujar Mary.

"Aku mengerti tou san..."

Keesokan harinya, saat semuanya telah siap untuk berangkat tiba-tiba Ruka berlari menghampiri mobil keluarga Kaname. Ia bahkan menggedor-gedor kaca mobil mereka yang akan berangkat menuju tempat yang telah direncanakan.

"Kaname-kun..! Jangan tinggalkan aku..!"

Kaname sama sekali tak bergeming. Ia bahkan tidak melihat ke arah gadis yang berteriak di luar mobil yang tengah ditumpanginya.

"Tou-san... Kita harus segera berangkat.." ujar Kaname dingin.

"Baiklah.. Aku tahu itu, Kaname..."

Tanpa menghiraukan rengekan Ruka, Tetsuga pun segera tancap gas dan otomatis mobil van crimson melaju meninggalkannya. Meski Ruka berusaha mengejarnya, tetapi hal itu tetap saja sia-sia. Mereka tak akan pernah kembali memutar balik meski hanya sekedar untuk mengucapkan salam perpisahan mereka padanya.

"Kaname-kun...! Meski kau pergi ke ujung dunia sekalipun, aku akan tetap mencarimu dan menemukanmu...! Dan aku berjanji untuk itu...!" ucap Ruka di sela tangisannya.

Flashback off...

Yuki kini tak bisa berkata apa-apa lagi. Cerita Kaname yang sangat panjang itu benar-benar membuatnya bungkam.

"Yuki... Kau pasti mengerti kan bagaimana rasanya jika berada di posisiku saat ini...?"

"Aku..."

Kaname kemudian berjalan menghampiri Yuki dan ia pun lantas memeluknya erat-erat.

"Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, Yuki... Percayalah, aku masih tetap mencintaimu dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah berpaling pada siapapun selain kau, Yuki..."

"Kaname..."

"Kau tidak marah padaku lagi kan..?"

Yuki pun terdiam.

"Kau juga sudah tidak membenciku lagi kan..?"

Dan ia tetap tak angkat bicara.

"Yuki, bagaimana jika kita berjanji akan satu hal..?"

Kaname kemudian menunduk, mendekatkan mulutnya ke telinga Yuki.

"Bagaimana jika kau mengakhiri hubunganmu dengan Zero untukku dan, sebagai permintaan maafku aku akan membunuh Ruka untukmu juga..?" bisiknya.

[Degh...!]

Bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Ia tidak akan pernah percaya, jika Kaname akan tega melakukan hal itu demi meminta maaf padanya. Sebegitu besarnyakah cinta Kaname padanya hingga ia sanggup membunuh siapapun yang berusaha untuk menjauhkan pria itu dari dirinya? Tak peduli, meski ia adalah orang yang pernah mengisi hidup Kaname sebelumnya, apakah ia yakin akan melakukan hal itu? Membunuhnya?

"Apa... Apa maksudmu, Kaname..?"

"Kau pasti mendengarkan apa yang kuceritakan tadi bukan? Jika kau memang benar-benar mendengarkannya, kau juga pasti tahu apa yang telah kujanjikan pada Kuran Juri kan? Aku akan menjagamu dan mencintaimu sepenuh hati... Bukankah seperti itu kata-katanya..?"

"Tapi... Kenapa kau harus membunuhnya juga..? Bukankah dia..."

"Aku tidak peduli... Siapapun yang telah menyakitimu, tidak akan pernah kumaafkan.." potongnya dengan nada yang ditekan.

"Kaname.. Senpai.."

"Tidak akan ada yang pernah bisa memisahkan kita, Yuki... Kau adalah takdirku.. Dan aku adalah takdirmu.. Kita dilahirkan untuk hidup bersama... Bukankah begitu..?"

"Cukup Kaname..." ujar Yuki pelan sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Kaname. "Tanpa membunuhnya pun, aku sudah memaafkanmu... Ini hanya salah paham kan? Bagiku, mendengarkan penjelasanmu itu sudah cukup untuk mengerti semuanya..." lanjutnya sambil menatapnya lembut, tak lupa dengan senyum tenang yang terkembang jelas di bibir kecilnya.

Kaname hanya menatapnya dingin, tanpa ekspresi sedikitpun. Yuki kemudiam tertunduk. Ia ingin mengucapkan sesuatu akan perasaannya sekarang.

"Tapi, maafkan aku... Aku tidak bisa memutuskan Zero secepat itu.. Aku tidak akan mengakhiri hubunganku dengan Zero... Aku sudah cukup bahagia dengannya.. Dia sama sekali tidak pernah berniat menyakitiku..."

[Wusshhh..]

Tiba-tiba angin musim panas yang entah darimana bertiup kencang menerpa mereka berdua disana.

Kaname kemudian memejamkan matanya. Terlihat senyum tipisnya kini terkembang jelas di bibirnya.

"Benarkah itu..? Dia... Membuatmu bahagia.?"

"Iya... Itu benar... Hmm.. Dan aku memaafkanmu, Kaname senpai.. Tetaplah bersama Ruka.. Bukankah dia wanita yang pernah membuatmu bahagia sebelum aku..?"

Kaname kemudian menghembuskan nafasnya berat.

"Baiklah.. Jika itu maumu, aku tidak akan memaksa... Asal kau bahagia, itu sudah cukup untuk menepati janjiku pada ibumu..." ujar Kaname pelan.

Yuki kemudian tersenyum manis ke arahnya.

"Maafkan aku soal kemarin malam ya, Kaname senpai..." ucapnya.

"... Tentu saja aku memaafkanmu, Yuki..."

"Hontou ni..? Yokatta..." ujar Yuki sambil tersenyum.

Ditengah-tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Ruka pun datang untuk menemui Kaname.

"Kaname-kun... Sedang menungguku kah?" tanyanya sembari menyentuh pelan bahu laki-laki tersebut dari belakang.

Kaname sama sekali tidak menghiraukan panggilan Ruka. Sedangkan, Yuki hanya menatap dingin ke arahnya.

"Oh.. Yuki ternyata..? Sedang membicarakan apa ya?"

Tanpa berkata-kata lagi, Yuki segera ber-ojigi di depan wanita tersebut sekaligus di depan Kaname dengan penuh rasa hormat.

"Aku permisi dulu.. Maaf mengganggu urusan kalian.." ujarnya.

Ia kemudian melengang pergi meninggalkan Kaname dan Ruka di belakang.

"Ditanya begitu saja sudah pergi duluan.. Dasar tidak sopan..." gumam Ruka sebal.

Kaname hanya menatap dingin kepergian Yuki. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tak akan ada siapapun yang bisa mengungkapkannya maupun menjelaskannya dengan kata-kata yang mampu dinalar oleh akal manusia.

'Yuki...' panggil namanya dalam hati sendu.

'Kaname... Gomen...' ucap Yuki dalam hati.

[Krik.. Krik.. Krik..]

"Yuki.. Yuki tidak makan..?" tanya Karura yang tengah sibuk menghidangkan makanan di atas meja makan.

"Aku tidak lapar, ba san... Mungkin nanti saja.. Sekarang aku mau mengerjakan pr dulu..." ucapnya datar sembari menaiki tangga meninggalkan ruang makan.

Shiki yang kini sedang berada di ruang makan hanya bisa melihat ibunya yang terlihat gelisah kemudian ia menatap tangga yang baru saja dilewati Yuki.

"Tingkahnya akhir-akhir ini jadi semakin aneh saja... Dia itu kenapa sih..?" komentarnya.

"Ka san juga tidak tahu, Shiki... Mungkin kita perlu menanyainya jika waktunya sudah tepat..." jawab Karura

Usai naik ke atas springbed, Yuki segera membenamkan wajahnya yang sayu ke atas bantalnya. Ia tidak habis pikir tentang sikap Kaname yang sebenarnya padanya.

'Aku benar-benar tidak mengerti... Apa yang sebenarnya Kaname mau dariku?' ucapnya dalam hati. Ia kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri. 'Kenapa aku merasa, masalah ini semakin rumit..? Apa yang harus kulakukan sekarang..?' lanjutnya.

Keesokan paginya...

Yuki saat ini sengaja berangkat sekolah lebih awal dari biasanya. Matanya yang terkantuk-kantuk benar-benar membuatnya tidak bisa melakukan kegiatan apapun kecuali tidur di kelas. Jarang sekali ia melakukan hal ini, tetapi apa boleh buat. Kesalahannyalah yang membuat dirinya harus begadang semalaman hingga dirinya menjadi tidak fokus di sekolah.

"Yuki.. Ayo bangun.." panggil Sayori dan Ikari sembari mengguncang-guncangkan tubuh Yuki yang lemah.

"Jangan menggangguku..." balas Yuki dengan suara parau. Kepalanya masih terbenam di dalam lipatan tangannya di atas meja.

"Baiklah, biarkan aku yang membangunkannya.." ucap seseorang di belakang mereka berdua yang otomatis, Sayori dan Ikari mundur menjauhi Yuki dengan penuh rasa hormat.

Tuk...!

Tanpa banyak bicara, orang tersebut segera memukul kepala Yuki dengan sensu* yang ia bawa setiap hari. Lantas, hal tersebut sukses membuat Yuki yang terserang kantuk berat langsung terbangun akibat pukulan keras yang diberikan oleh Yagari sensei.

"Cross Yuki... Hari ini, kepala sekolah Kaien ingin bicara denganmu..." ujar Yagari tegas.

"Ukh... Untuk apa sih..? Menyebalkan.." ujarnya sembari mengelus bagian kepalanya yang sakit akibat pukulan yang cukup keras tadi. "Lebih baik, aku tidur saja..."

Tuk...!

Ketika Yuki hampir menjatuhkan kepalanya ke atas meja, tiba-tiba Yagari sensei kembali memukulnya dan kini, pukulannya lebih keras dari yang sebelumnya.

"Huuhhh..! Iya, iya... Aku segera kesana..!" gerutu Yuki sembari bangkit dan kemudian berjalan dengan langkah gontai menuju ruang kepala sekolah.

"Terima kasih sudah membantuku membangunkan Yuki..." ujar Yagari dengan wajah serius.

"I.. Iya... Itu tak masalah, sensei..." jawab Ikari dan Sayori gugup.

Yagari lalu berjalan pelan meninggalkan kelas tersebut dengan tangan yang terlipat di dada menyusul Yuki yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

'Untuk apa kepala sekolah Kaien memanggilku..? Apa soal Shizuka..? Ataukah soal Kaname..?' tanya Yuki tak mengerti dalam hati.

[Krieettt...]

Karena terlalu lama menunggu kedatangan seseorang yang diinginkannya, Kaien kemudian keluar dari ruangannya untuk menunggunya di luar.

"Dimana dua orang itu... Lama sekali.." gumamnya kesal.

Tak perlu waktu lama baginya untuk menunggu diluar. Karena, dua orang yang dimaksud telah datang. Mereka terlihat sedang berjalan pelan menuju ke ruangannya.

"Akhirnya, kalian berdua datang juga..." ucapnya senang.

"Sumimasen, Kaien richijou... Tadi, sempat ada sedikit masalah di kelas.. Tapi, tak perlu khawatir masalahnya juga tidak terlalu serius.." balas Yagari.

"Aahh.. Daijoubu... Cepatlah masuk.. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan kalian. Terutama, kau... Yuki hime..." ucapnya sembari menatap wajah bantal Yuki dengan senyum penuh arti.

[Degh..!]

Yuki benar-benar tersentak kaget begitu ia mendengar kata 'hime' di belakang namanya. 'Sepertinya, ada hal yang tidak beres disini..' pikirnya.

AUTHOR POV END...

.

.

つづく...

(Bersambung...)


A/N :

Akhirnya, chapter 9 dan 10 sudah selesai...

Maaf, kalau author agak lelet meng-up cerita ini.. Yaahh, author juga sibuk luar biasa.. Jadi, maafkan~ *sujud sujud*. Author juga lagi deg deg an nunggu pengumuman sbm.. Aaa..! Doakan author semoga lolos dan bisa keterima di ptn yang terbaik buat author.. Amien~

Untuk sementara ini, tak ada OC disini.. Jadi, tak ada yang bisa author perkenalkan.. Hehe.

Kalau ada typo atau alur gaje, tolong kritik sarannya ya~

Yosh, sampai jumpa di chapter selanjunya..! Daahh~ *melambaikan tangan*