Chapter 10 : Pengkhianatan

Sasuke dan dua tangan kanannya, Naruto dan Suigetsu, pulang dengan selamat ke mansion miliknya. Di sana, seperti biasa mereka di sambut oleh pak kepala pelayan dan para pelayan yang berbaris memberi jalan di dalam pintu masuk.

"Selamat datang, tuan Sasuke. Saya sudah dihubungi oleh Tuan Neji sebelum beliau sampai tadi, tentang kabar anda. Saya bersyukur anda semua kembali dengan selamat tanpa terluka sedikitpun." Sambut pak kepala pelayan bernama Shimura Danzo dengan menunduk memberi hormat sebentar kemudian dia berdiri tegak lagi.

"Hn, jadi Neji berhasil membawa Sakura pulang. Seperti yang aku harapkan." Puji Sasuke.

"Itu sudah tentu! Neji memang bisa diandalkan! Ya kan, Suigetsu?"

Suigetsu mengangguk. "Tidak ada yang perlu khawatirkan lagi jika itu menyangkut Neji. Dia yang yang paling sempurna dalam menyelesaikan misi."

Pak Danzo terdiam, wajahnya murung. Begitu pula dengan para pelayan. Itu membuat Sasuke, tidak hanya dia tapi Naruto dan Suigetsu juga bingung.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Sayang sekali, Tuan Sasuke. Tuan Neji dan nona Sakura memang pulang dengan selamat tapi keadaan Tuan Neji sungguh mengkhawatirkan." jelasnya, khawatir.

"APA?!" Suigetsu dan Naruto berteriak kaget dan khawatir.

"Tubuh Tuan Neji bermandikan darah." Salah satu pelayan wanita menginformasikan tanpa ditanya.

"Wajahnya terlalu pucat." Pelayan lain mengikuti.

"Tu-tubuh kakak Neji.. pe-penuh luka peluru." Terakhir, Hinata. Wajahnya pucat mencoba membayangkan kondisi Neji Hyuuga, kakak kandungnya yang beberapa jam lalu ia temui.

"Hinata?! Kau tidak apa-apa?" melihat ekspresi wajah pucah kekasihnya, Naruto menghambur memeluk Hinata.

"Ne-Neji yang 'itu' bisa terluka parah?!" Suigetsu panik mendengar penjelasan para pelayan, bahkan Sasuke. Hanya saja Sasuke mencoba tenang menghadapi situasi ini.

"Dimana Neji sekarang?" tanya Sasuke.

"Tuan Neji sedang di ruang perawatan Tuan, dokter pribadi kita seperti biasa, dokter Shikamaru sedang merawatnya." Jawab Pak Danzo.

Cukup dengan segala penjelasan, Suigetsu melesat kemana Neji di rawat.

"Naruto, aku tidak apa-apa. Susul saja Tuan Suigetsu, kamupun pasti mengkhawatirkan kak Neji." saran Hinata dengan melepas pelukan.

"Tapi Hinata.. Kau pucat sekali. Kau benar tidak apa-apa?" cemas Naruto dan menggenggam kedua tangan Hinata.

"Iya." Hinata mengagguk, berusaha tegar. "Aku hanya khawatir tentang Kak Neji juga. Jarang sekali dia pulang dengan kondisi begitu."

"Ah! Tolong lihatlah keadaan kak Neji, kuharap dia sudah siuman." tambahnya.

"Baiklah, Hinata. Jaga kesehatanmu, aku lihat keadaan Neji dulu, dah!" Naruto melepaskan genggaman tangannya dan pergi menyusul Neji dengan melambaikan tangan ke Hinata.

"Aku juga masih harus mengerjakan tugasku. Dah, Naruto!" Hinata membalas lambaian tangan kekasihnya dan mengikuti para pelayan untuk melanjutkan pekerjaan mereka lagi karena dibubarkan oleh tuan rumah mereka.

Setelah Sasuke menyuruh para pelayan bubar, para pelayan menurut kecuali Pak Danzo, kepala pelayan. Saat ia hendak menyusul Naruto dan Suigetsu ia tertahan oleh Pak Danzo karena pria itu masih mempunyai informasi penting lainnya. Dia melanjutkan berbicara.

"Dan tentang keadaan Nona Sakura, Tuan Sasuke." Lanjut Pak Danzo.

Sasuke langsung menghentikan langkahnya dan menengok kepada Yang Berbicara.

"Ada apa dengan Sakura? Apa dia terluka?" tanya Sasuke. Saat ini dia tidak sadar, mungkin. Tapi dia memperlihatkan ekpresi paniknya dengan jelas.

Pak Danzo terkejut. Selama lebih dari lima tahun, sejak pertama kali ia direkrut oleh majikannya ini, dia sudah terbiasa dengan sikap dingin dan ekpresi datar darinya. Tuannya selalu minim ekpresi, walaupun ada, itu hanya seringaian dan sikap angkuh. Baru kali ini tuan Sasuke berekpresi kawatir, membuatnya terlihat seperti manusia, hal yang selalu ia pertanyakan, apakah majikannya ini robot ataukah hatinya telah beku. Pak Danzo tentu sangat terkejut tapi ia sudah terlatih untuk bersikap profesional kepada profesinya.

"Tidak ada yang perlu di kawatirkan tuan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa nona Sakura pulang dengan selamat. Tuan Neji kehilangan kesadaran di dalam mobil setelah sampai di depan rumah, kami kaget melihat nona Sakura masuk dengan menggotongnya sendiri; kemudian kami menggantikan tugas nona dan langsung memanggil dokter Shikamaru dari Rumah sakitnya. Setelah dokter Shikamaru datang, nona Sakura melihat sebentar keadaan tuan Neji di luar ruang perawatan kemudian pergi menuju kamarnya. Dari keadaannya, tubuh dan bajunya penuh bercak darah, entar darah tuan Neji ataupun bukan, saya tidak yakin. Tapi kelihatannya kondisi nona lebih baik daripada tuan Neji karena saya tidak melihat nona terlihat kesakitan." Pak Danzo menjelaskan panjang lebar dengan tenang.

"Begitukah? Hahh.." Sasuke mendesah lega. "Dimana dia sekarang?"

"Saya yakin nona masih ada di kamarnya, dia tidak meninggalkan kamarnya sejak masuk." Jawab Pak Danzo. "Tapi.."

"Tapi?"

"Kondisi fisik nona memang terlihat baik-baik saja, tapi saya tidak yakin dengan psikis nona. Saya melihat nona cukup shock atas kejadian ini. Saya bisa memakluminya."

Sasuke terdiam, menyerap informasi dari kepala pelayannya.

"Baiklah, aku akan menemuinya." Sasukepun pergi tanpa melihat balik Pak Danzo yang kini menunduk lagi dan pergi melanjutkan pekerjaannya, entah melakukan apa.

Sakura... Mengkhawatirkan?

Sasuke melangkah menaiki tangga menuju lantai dua dan belok ke kiri di persimpangan arah. Kakinya melangkah untuk menjenguk istrinya di kamar mereka.

Mengingat Sakura, Sasuke sangat tahu bahwa dia memang bukan tipe yang sembrono tapi jika dia sudah nekad, dia akan melakukan hal gila.

Contohnya peristiwa bunuh diri itu. Batin Sasuke, dia mulai lebih khawatir. Diapun mempercepat langkah kakinya.

"Sakura!" Tanpa mengetuk, dia membanting pintu dengan kasar. Matanya bergerak dengan cepat memeriksa sekitar kamar.

Dia berjalan menuju ranjang dan merasa lega atas kenihilan dari apapun yang ia cari, tidak ia temukan disana.

Tidak ada bercak darah. Syukurlah.

Telinganya yang tajam mendengar suara gercik air dari kamar mandi.

"Sakura?" Sasuke berjalan menuju kamar mandi.

Di kamar mandi, dia menemukan istrinya yang dicari. Sakura terduduk lemas dengan punggung menyandar, matanya tertutup dan tidak bergerak di dalam bak mandi dengan pakaian utuh. Tubuhnya basah beserta pakaian dan rambut merah mudanya yang panjang, wajahnya juga, seperti wanita itu sehabis mencuci muka dari sesuatu. Debu atau.. darah? Sesuai informasi dari kepala pelayan bahwa istrinya bermandikan darah seseorang di pakaian dan kulit telanjangnya. Sasuke mempercayainya karena bukti dari warna air di bak mandi yang putih menjadi kecoklatan.

Sasuke mengecek keadaan Sakura, kulitnya dingin karena air, wajahnya masih merah, bukan biru. Kedua lubang hidung Sakura masih menghembuskan nafas. Lega? istrinya hanya tertidur.

Tentu saja, Danzo sudah memberitahuku di bawah. Kenapa aku bereaksi seperti ini? Kenapa aku overprotektif? Sasuke sendiri bingung dengan dirinya sekarang.

"Sakura? Sakura!" Sasuke menepuk-nepuk pipi istrinya dengan lembut, mencoba membangunkan istrinya. Nihil, ia mengangkatnya dari bak mandi menuju ranjang, tidak peduli tubuh basah istrinya membasahi pakaiannya juga.

Di ranjang, Sasuke menelanjangi Sakura untuk mengecek kondisinya, ia mencoba menemukan barang saja istrinya terluka. Ia bernafas lega kala tubuh istrinya mulus dari luka.

Sasuke kemudian merawat Sakura, ia mengelap air di tubuhnya, mengeringkan rambutnya, dan memakaikan pakaian baru, long dress hijau bergambar Rapunzel tanpa lengan yang sudah jelas satu-satunya pemilik dress ini hanyalah istrinya. Setelah ia mengganti pakaiannya yang basah juga dengan baju rumahan, ia menggendong Sakura lagi dan keluar kamar. Di koridor, ia menemukan seorang pelayan menyapu, Hinata terpanggil oleh majikannya untuk membersihkan kamar dua majikannya.

"Adik Neji, kemari!" perintah Sasuke.

"Y-ya! Tuan?" Kaget, Hinata kemudian berbalik dan mendapati tuannya sedang menggendong istrinya ala tuan putri. Menyadari dia terpanggil oleh sang majikan, ia berlari cepat menghampiri. "Ada apa, tuan? Anda membutuhkan saya?"

"Ya, kau bersihkan ranjang kamarku di dalam." Sasuke menunjuk kamarnya di belakang dengan kepalanya. "Ranjang dan lantainya basah, kemudian air di kamar mandi buang, sekalian kau kuras saja. Mengerti?"

"Ya, tuan! Sa-saya mengerti." Hinata mengangguk kemudian masuk ke kamar setelah majikannya pergi meninggalkannya.

Sasuke membawa Sakura ke kamar lain, kamar kosong dari sekian kamar di lantai dua ini, kamar terdekat dari kamar mereka yang tidak perlu dibersihkan lagi walaupun tidak pernah dipakai. Para pelayan selalu siap sedia membersihkan kamar-kamar di rumah ini untuk situasi mendesak seperti ini.

Sasuke menempatkan Sakura di ranjang kamar kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Selang beberapa menit dia memandangi istrinya yang tenang dan membelai wajahnya, ia meninggalkan kamar setelah memberi ciuman bibir selamat tidur. Sasuke menutup pintu kamar dengan pelan.

Naruto langsung menengok ke samping kiri ketika mendengar suara sepatu di lantai keramik. Sejak tadi ia dan Suigetsu berdiri berdua di depan ruang perawatan, menunggu dokter Shikamaru keluar untuk memberitahu keadaan rekan lainnya.

"Teme! Kenapa kau baru datang? Neji sedang sekarat tahu! Dan kau bukannya menjenguknya langsun! Apa yang kau lakukan tadi?" Naruto menyambut kedatangan sang bos sekaligus teman sejak kecilnya dengan pertanyaan beruntun. Naruto memperhatikan pakaian baru Sasuke. "Oh, kau ganti pakaian. Hmph! Kami saja tidak sempat memikirkan begituan karena terlalu mengkhawatirkan Neji!"

"Bagaimana keadaan Neji? Benar dia kristis?" Tidak memperdulikan pertanyaan Naruto, Sasuke langsung bertanya ke Suigetsu.

"Mungkin. Kami belum tau, si pemalas sok pintar (Shikamaru) itu bahkan tidak mempersilahkan kami masuk. Dia sedang mengoprasi Neji di dalam." balas Suigetsu.

"Hei! Jangan cuekin aku!" Naruto kesal.

"Hn, begitu." Balas singkat Sasuke ke Suigetsu, masih mengacuhkan Naruto.

"Ngomong-ngomong kemana kau tadi, bos? Menemui nona Sakura?" tebak Suigetsu, penasaran.

"Iya. Ternyata bukan Neji saja yang korban pada serangan dadakan di hotel tadi. Sakura.." Sasuke murung tanpa menyembunyikan ekspresinya, membuat Suigetsu sedikit terperangah.

"Kenapa kau jawab pertanyaan Suigetsu, bukan pertanyaanku? Tidak adil!" Naruto makin kesal.

Sementara Naruto mendumel, Suigetsu dan Sasuke lanjut dengan percakapan mereka, tidak sedikitpun memberi tanggapan ke Naruto.

"Wanita pendongengmu itu juga, bos? Bagaimana keadaan nona?"

"Fisiknya baik-baik saja, tapi batinnya tidak. Sepertinya ini akan menjadi masalah lagi nanti. Hahh.. padahal baru saja beberapa hari ini dia tenang." Sasuke menghela nafas.

"Susah juga ya? Inikah lika-liku kehidupan bagi pasangan yang telah terikat bersama? Akan ku catat, ternyata wanita itu memang lebih baik sekali pakai." Suigetsu menyeringai jahil.

"Mungkin juga. Tapi hal seperti itupun sudah membuatku bosan dan muak." Sasuke berwajah masam membayangkan masa lalunya.

"Sebenarnya aku bisa mengerti itu." jujur Suigetsu. "Tapi aku tetap tidak mengerti kenapa nona Sakura yang kau pilih dari sekian banyak wanita, bos? Benar-benar membingungkan!" Suigetsu terlihat frustasi karena memikirkannya.

"Berbicara tentang Sakura, sekarang dia sedang tertidur di kamar sebelah dari kamar kami." Sasuke memgalihkan pembicaran, Suigetsu sedikit kecewa. "Kamar kami sebelumnya sedang dibersihkan pelayan. Jangan kau lupa dan memakai kamar seenaknya setelah ini dan masuk ke kamar baru kami atau.." Sasuke memperingati Suigetsu, setengah mengancam.

"Oh.. Tentu saja, bos..." Suigetsu nyengir ketakutan.

"Ini berlaku untukmu juga, Dobe!" Sasuke menatap tajam teman sejak kecilnya.

"Tenang saja, Teme!" Naruto yang menguping pembicaraan mengerti.

Kemudian percakapan berakhir karena dokter Shikamaru keluar dari kamar. Suigetsu dan Naruto langsung bereaksi tegang.

"Ah, Uchiha... Kau sudah datang.. rupanya?" sapa Shikamaru, malas.

"Shikamaru, bagaimana keadaan Neji?" tanpa basa-basi, Sasuke langsung to the point.

Shikamaru menghela nafas berat. "Keadaannya benar-benar kritis tadi, tapi sekarang tidak apa-apa, operasi telah berhasil. Tapi dia belum boleh beraktifitas, kondisi Si Hyuuga ini masih harus berada dalam pantauanku secara intensif."

Ia menghela nafas lagi dan mengeluh pelan. "Hahh..! Merepotkan. Kelihatannya aku harus menginap disini lagi, lebih baik ke rumah sakit saja, sana!"

Mendengar kabar dari Shikamaru, Suigetsu dan Naruto terdiam kaget. Lain dengan Sasuke, ia sudah menyadarinya sejak Shikamaru keluar ruangan. Ia mengenal Shikamaru sudah cukup lama dan mengakui pekerjaannya, karena itu ia merekrutnya sebagai dokter pribadi. Ia langsung mempunyai firasat buruk ketika melihat sikap tubuh Shikamaru yang selalu lesu menjadi semakin lesu dari biasanya.

Memecah keheningan, Shikamaru melanjutkan. "Si Hyuuga ini sedang tidur di dalam, jika kalian ingin melihat keadaannya, silahkan. "

"Baiklah, Shikamaru. Aku akan mempersiapkan kamar untukmu seperti biasa. Aku akan menyuruh Kepala pelayan untuk mengantarmu." jawab Sasuke kemudian mengotak-atik HP-nya, hendak meghubungi kepala pelayan.

"Terimakasih. Tapi aku ingin memperingatimu satu hal, Uchiha." balas Shikamaru, serius.

"Ayo masuk!" tidak peduli peringatan Shikamaru, Naruto membuka pintu ruang dimana Neji berbaring dan masuk.

Lain dengan Suigetsu dan Sasuke yang tidak berotak pendek seperti Si Uzumaki tadi, mereka menyimak dengan serius apa yang mau dokter pribadi mereka katakan.

"Aku dengar kau dan Sabaku mulai bertikai lagi, dan kau pasti tahu hubunganku dengan Temari Sabaku."

"Ah! Benar juga! Kau kan tergila-gila dengan wanita pirang itu!" Suigetsu baru sadar. Sasuke semakin memasang ekspresi serius.

Wajah Shikamaru sedikit merona mendengar asumsi benar dari Suigetsu. Dia berdeham pelan untuk kembali fokus. "Yang ingin aku katakan adalah... Aku harap kalian tidak memaksaku untuk menyatukan pekerjaan dan kehidupan pribadiku. Walaupun kita sudah saling mengenal, aku bukan salah satu dari kalian, hanya seorang dokter biasa. Tugasku tidak lebih untuk mengobati pasien, jangan membuatku terjerat dalam pertikaian kalian. Kuharap kalian hargai permohonanku ini." jelas Shikamaru panjang lebar.

Suigetsu dan Sasuke terdiam, menyerap perkataan Shikamaru.

"Jadi.. apa yang mau kau katakan, Shikamaru?" tanya Suigetsu, menahan amarah. "Kau tidak mau memihak kami dan juga Sabaku, rubah yang penusuk kami dari belakang itu? Melihat posisimu, kau tahu kau akan terlibat pertikaian ini suatu saat, kan? Jika itu terjadi, pihak mana yang akan kau pilih?!"

Shikamaru menghela nafas lagi. "Hahh.. Jika itu terjadi.." dia menghentikan perkataannya sebelum melanjutkan. "Yang ada di depanmu itu hanyalah seorang pria yang setia terhadap kekasihnya, sudah jelas, kan." ini merupakan sebuah pernyataan.

Suigetsu tertegun. Kemudian dia merengut kerah baju Shikamaru. "Kau..! Brengsek! Kau mau berkhianat juga?!"

"Berkhianat? Aku hanya pria yang sedang tergila-gila dengan seorang wanita luar biasa." Shikamaru berwajah datar. Dia menggengam tangan Suigetsu dan melepaskannya dari kerah bajunya secara paksa. "Maaf jika aku buta tentang dunia. Dan tidak, aku tidak merasa bersalah tentang ini." Shikamaru menatap Sasuke, menantang. "Ingat tentang Obito Uchiha yang berkhianat demi kekasih kakakmu, Uchiha? Dengan berat hati, aku sedang mengamalkan pelajaran yang dia ciptakan kepada kita." Dia mengatakan hal ini tapi wajahnya terlihat tidak bersalah.

"Kau..! Akan kubunuh kau!" Dengan geram Suigetsu mengeluarkan pistolnya.

"Hentikan, Suigetsu! Kita masih membutuhkan dia untuk menyembuhkan Neji." cegah Sasuke.

"Apa?! Kenapa, bos? Kita bisa meminta dokter lain! Aku yakin banyak dokter selain dia yang bisa menyembuhkan Neji!" Suigetsu tidak rela.

"Aku tahu. Tapi kita mengenal siapa itu Shikamaru, tentu kita tahu kenapa dia bisa direkrut ke dunia kita ini. Dia tidak pernah bertindak sebelum merencanakan sesuatu secara matang terlebih dahulu. Termasuk pernyataan perang secara terang-terangannya saat ini." Sasuke menjelaskan. "Benar kan, Shikamaru?"

"Yah.. begitulah." Shikamaru tersenyum licik.

Suigetsu menodongkan pistolnya ke Shikamaru. "Kau..! Apa yang kau lakukan kepada Neji?!"

"Hanya racun dengan reaksi lamban ciptaan baruku. Itu tidak berpengaruh kepada kesembuhan luka-lukanya saat ini, tenang saja. Tapi hanya aku satu-satunya orang yang bisa membuat obat penawarnya. Jadi jangan coba-coba kalian menyentuhku jika masih menginginkan keselamatan Neji Hyuuga." Senyum Shikamaru melebar mengatakan ini.

"Brengsekk!!" Suigetsu semakin ingin menekan pelatuk ke arah Shikamaru, tapi ia tetap tidak berani membantah perintah bosnya. Apalagi karena menyangkut keselamatan rekannya juga. "Ck!" Decaknya, dengan berat hati ia mengantongi pistolnya lagi.

"Tuan Sasuke, ada apa? Anda memanggil saya?" Tiba-tiba Pak kepala pelayan akhirnya datang menghampiri mereka bertiga karena dipanggil.

"Ya. Danzo, tolong siapkan kamar untuk Shikamaru menginap, dia masih harus merawat Neji disini." perintah Sasuke.

"Tuan Neji? Boleh saja tahu bagaimana keadaan beliau? Saya mengerti ini bukan tempat saya, tapi saya dan para pelayan, terutama adik tuan Neji juga sangat menanti kabar kesehatan tuan Neji." pinta Danzo, prihatin.

"Dia baik-baik saja. Shikamaru menetap lagi disini sementarapun untuk memastikan hal itu terjadi." jelas Sasuke.

"Ah.. Syukurlah." Danzo mendesah lega. "Baiklah, dokter Shikamaru. Mohon ikuti saya." Kemudian Danzopun bersama Shikamaru untunk menjalankan tugasnya.

"Ayo masuk." perintah Sasuke dan masuk ke ruang perawatan. Suigetsu mengikuti dibelakang dengan mengeluh pelan tentang ancaman Shikamaru.

Sasuke dan Suigetsu akhirnya melihat sendiri kondisi dari Neji Hyuuga, pria itu terbaring lemas di ranjang pasien, tubuhnya penuh dengan perban kecuali bagian kepala, alat pernafasan terpasang di mulut sampai hidung, lengan kirinya terinfus alat infus. Mata Neji terpejam, masih belum siuman.

"Neji.." Naruto menatap prihatin, ia bahkan tidak tau harus berkata apa melihat sosok rekan kerjanya dan tangan kanan dari teman sejak kecilnya, sosok yang diam-diam ia kagumi. "Lukanya.."

"Lukanya separah ini?" Suigetsu takjub, Neji memang sering terluka karena pekerjaan mereka berbahaya. Tapi baru kali ini dia terluka sebegitu parah, bahkan ia yakin dirinya dan Naruto tidak pernah mengalami lupa separah ini dalam aksi mereka. "Sabaku sialan!" geramnya.

"Sabaku berkhianat. Kita salah memilih mereka menjadi rekan kita, ck! Seharusnya kita lebih berhati-hati memilih rekan." keluh Naruto.

"Mereka saja yang serigala berbulu domba, bukan salah kita." hibur Suigetsu.

"Memang, sih." Naruto setuju. "Tetap saja.."

Selagi kedua anak buahnya mengumpati mafia Sabaku, Sasuke hanya dia menatapi tangan kanannya, sang bodyguard istrinya.

Dipikir lagi, ia akhirnya membuka mulut karena menyadari bahwa dua orang miliknya terluka. Luka masing-masing dari masing-masing orang, satu fisik dan satu batin. Sasuke menjadi naik pitam. Dia..

Menyeringai.

Naruto dan Suigetsu menatap wajah bos mereka. Mereka tidak merasa aneh sama sekali dengan ekspresi bosnya, tidak bagi mereka. Bagi mereka ini hal yang wajar karena disaat seperti ini Sasuke... menyeringai.

Seakan seringaian milik Sasuke menular, mereka berdua juga ikut menyeringai bersamaan.

"Benar juga, tidak ada gunanya mengutuk dalam diam. Lagipula itu bukan gaya kita, ya kan, bos?" Suigetsu mengeluarkan pistolnya lagi dan mempersiapkannya, dia sangat siap menggunakannya kapan saja.

"Tentu saja. Kita harus membalas mereka sepuluh kali lipat, aku benar kan, Sasuke?" Naruto menggenggam tangan kirinya (tangan yang biasa ia gunakan untuk menembak) dengan tangan kanan, menghentikan gemetar tangan itu karena antusias. "Aku tidak sabar untuk beraksi." Naruto menjilat bibirnya.

"Jika memang mereka menginginkan perang..." Sasuke menghentikan bicaranya, sebenar. Tidak perlu waktu lama untuk.. "Sungguh, itu adalah tawaran yang sukar kita tolak, ya kan?" Sasuke menatap Suigetsu dan Naruto. Tatapan matanya tajam dan penuh tekad, berbeda sekali dengan bibirnya yang melengkung riang dengan seriangaian gila.

Suigetsu dan Naruto yang ditatap mengangguk setuju. "Dengan senang hati kita akan menerimanya." balas Suigetsu dan Naruto bersamaan.

Seringaian gila Sasuke melebar.

Kalian telah melukai anak buahku dan Sakuraku, aku akan tidak akan memaafkan kalian, Sabaku. Aku pastikan aku akan pembantaian ini. Heheh! batin Sasuke, disertai sumpah serapah yang pasti ia laksanakan di masa depan.

Bersambung...