"Jim?"Yoongi terkejut bukan main saat membuka mata dan melihat punggung telanjang Jimin di depan matanya.
Yoongi tidak tidur semalaman karena semalaman dia sibuk mengutuk dirinya sendiri atas perlakuannya pada Jimin. Sambil memeluk Jimin selama ditempat tidur, kepala Yoongi berteriak ribut memaki Yoongi, membuat Yoongi tidak bisa terpejam sama sekali.
Yoongi akhirnya bisa tertidur saat Jimin menyuruh Yoongi mandi dan Yoongi memilih berendam dengan air hangat yang sudah Jimin siapkan, bahkan rasa hangat dari air itu membuat Yoongi jatuh tertidur di bathtub.
Terlalu nyenyak tertidur, Yoongi sampai tidak menyadari Jimin yang sudah masuk ke kamar mandi, membuka pakaian miliknya dan ikut masuk kedalam bathtub dimana Yoongi jatuh tertidur dengan kepala bersandar nyaman di ujung bathtub.
"Jim?" Panggil Yoongi sekali lagi sambil menegakkan punggungnya, memastikan memang Jimin yang duduk diantara kakinya dan mempertontonkan punggung telanjangnya untuk Yoongi.
"Ne hyung?" Jimin bersuara pelan, tidak mau memperlihatkan wajahnya sama sekali.
"Ke-kenapa?" Yoongi mendadak gugup. Rasanya baru sedetik kepala Yoongi sedikit jernih, sekarang Jimin membuat isi kepala Yoongi kembali tercemar dengan pemandangan yang Jimin berikan.
"Ke-kenapa apanya? Aku- aku hanya ingin mandi bersama Yoongi hyung saja…" Jimin menunduk. Kakinya menekuk dan dadanya bertabrakan dengan dengkulnya.
Yoongi mendesah putus asa. Ini benar-benar kekacauan dan godaan paling parah yang pernah Yoongi alami seumur hidupnya. Yoongi yakin kalau Yoongi menyentuh punggung telanjang Jimin dengan telapak tangannya dan Jimin memberikan respon, matilah dia ditangan Seokjin dan orangtua Jimin.
"Jim, jangan menggodaku. Pakai pakaianmu…" Yoongi mati-matian menahan tangannya agar tidak menyentuh Jimin sama sekali. Tangannya yang ada di pinggirang bathtub, mencengkran keramik bathtub dengan kuat.
"Aku hanya ingin mandi…"
"Jim, hentikan ini" ucap Yoongi tegas.
"Kenapa?" Jimin berbalik menatap Yoongi dengan wajah memerah entah karena kesal atau malu. Dan Yoongi bersumpah tangannya bisa saja membuat keramik pinggiran bathtub yang digenggamnya retak karena terlalu erat dicengkram.
Yoongi menelan ludahnya susah payah. Tubuh atas Jimin jelas-jelas bisa Yoongi lihat dengan jelas sekarang, kepalanya benar-benar bersorak mengatai Yoongi pecundang karena tidak berani menyentuh Jimin, sementara hatinya berusaha menahan tangannya yang sudah gatal ingin menarik Jimin agar menepel ketubuhnya.
"Hyung, aku sudah tidak takut lagi…." Jimin berucap sambil menunduk. Tangannya merayap menyentuh salah satu tangan Yoongi yang mencengkram erat pinggiran bathtub.
Yoongi lagi-lagi mengalami pergolakan paling parah dalam sejarah hidupnya. Jimin menyerah untuknya.
"Jim, kita tidak harus melakukannya. Kita bukan pasangan yang menikah, kau tidak harus memaksakan diri untuk melakukannya." Ucap Yoongi berusaha mati-matian menahan gejolak yang sudah memanas dalam tubuhnya.
"Kau menolakku hyung?" Jimin memandang sayu ke mata Yoongi.
"Jim, aku bisa gila…"
Yoongi mendorong Jimin ke sudut bathtub didepannya, Yoongi sudah mematikan semua suara-suara yang berteriak dikepala dan hatinya. Semua atensinya sudah jatuh pada Jimin yang sudah mengalungkan tangannya dileher Yoongi. Memasrahkan semuanya pada Yoongi dan mempercayai apapun yang akan Yoongi lakukan padanya pagi ini, tidak akan menyakiti Jimin sama sekali.
.
.
.
RUN TO YOU
.
.
.
"Dokter Seokjin…" Namjoon melambaikan tangannya begitu melihat Seokjin dan Yoonji berjalan bersisian menuju gerbang sekolah.
Seokjin memilih naik taxi karena kurang enak badan. Di depan Seokjin, Namjoon sudah terlihat begitu rapi dengan kemeja hitam digulung sesiku dan juga celana bahan berwarna hitam. Dewasa. Itu kesan pertama yang Seokjin tangkap dari cara berpakaian Namjoon, kemudian diikuti kata rapi, menarik dan menawan. Sepertinya Namjoon benar-benar berdandan dewasa untuk mengimbangi Seokjin.
"Namjoon Oppa…" Yoonji menyapa Namjoon begitu gadis kecil itu sudah berdiri didepan Namjoon dengan sebuah kanvas lukis berukuran sedang ditangannya.
"Hei, Yoonji-a. Sudah siap untuk pameran kesenian hari ini?" Namjoon mengelus kepala Yoonji dan bertanya penuh minat.
"Ne! aku sudah tidak sabar ingin memamerkan hasil lukisanku, Oppa" ucap Yoonji semangat.
"Sudah lama sampainya?" Seokjin yang mengenakan kemeja putih dan sweater rajut berwarna hitam pemberian Yoongi, bertanya basa-basi pada Namjoon.
"Baru saja. Setelah memarkir mobil, aku langsung kegerbang menunggu kalian" ucap Namjoon.
"Ayo masuk, Appa. Oppa…" ajak Yoonji penuh semangat.
"Sini biar Appa bawa" Seokjin mengambil kanvas dengan lukisan milik Yoonji dari tangan anaknya dan membantu Yoonji membawa kanvas menuju lapangan dimana pameran seni diselenggarakan.
"Aku saja" Namjoon menarik kanvas ditangan Seokjin dan membawa kanvas itu ditangan kiri sementara tangan kanan Namjoon memegang tangan Yoonji yang terlihat terlalu bersemangat pagi ini.
"Yoongi Oppa pasti menyesal karena tidak bisa menemaniku ke pameran seni, iyakan Namjoon Oppa?" Yoonji meminta persetujuan pada Namjoon.
"Tentu saja dia akan menyesal" Namjoon mengiyakan.
Sepanjang perjalanan menuju lapangan, Seokjin diam-diam memperhatikan interaksi antara Yoonji dan Namjoon dari belakang. Dadanya menghangat tapi rasanya seperti ada yang mengganjal.
"Kau ini memikirkan apa…" Seokjin berguman pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Dokter Seokjiinn…"
Seokjin menoleh begitu merasa namanya dipanggil seseorang begitu juga dengan Namjoon dan Yoonji yang ikut-ikutan berbalik dan mencari sumber suara yang memanggil Seokjin.
"Minhyuk?" setelah berhasil menemukan sumber suara yang memanggil, Seokjin berjalan menuju Minhyuk yang memanggil namanya. "Apa kabar?" Seokjin menjabat tangan Minhyuk dengan ramah.
"Baik tentu saja. Sudah lama anda tidak ke sekolah. Yoonji anak yang pintar ngomong-ngomong" ucap Minhyuk penuh semangat.
"Terimakasih. Hampir setiap hari aku ke sekolah untuk menjemput Yoonji, Minhyuk-ah. Anda saja yang tidak pernah terlihat"
"Ah, benarkah? Aku pikir bukan anda yang selama ini menjemput Yoonji…." Minhyuk masih berucap penuh semangat sampai matanya menatap Namjoon yang sedang menggandeng tangan Yoonji- muridnya- " Anda suami baru?" Tanya Minhyuk tanpa bisa menahan rasa penasarannya.
"WHAT?" Seokjin berteriak dan begitu sadar, buru-buru Seokjin menutup mulutnya dan melirik kearah Namjoon. "Bu-bukan.." Seokjin Menggelang buru-buru.
"Pacar baru?" kejar Minhyuk.
"Bu-bukan, anda salah paham…"
"Calon suami baru?"
"Bu-bukan juga, sepertinya anda salah paham, Minhyuk-ssi" ucap Seokjin mendadak berubah formal pada Minhyuk.
"Aish, jangan malu-malu begitu dokter Seokjin. Hati-hati ibu-ibu di sekolah ini tidak bisa melihat barang 'panas' sedikit saja. Anda harus menjaga pacar calon suami anda itu. Ngomong-ngomong, dia sangat... Daddy…" Minhyuk mengedipkan matanya dan menepuk bahu Seokjin dua kali sebelum pergi dari hadapan Seokjin dan membungkuk pada Namjoon yang berdiri kebingungan bersama Yoonji disampingnya.
"Tapi, Minhyuk-ssi, anda…" Seokjin ingin menjelaskan tapi Minhyuk sudah lebih dulu pergi meninggalkan Seokjin dan berjalan menuju Namjoon dan Yoonji.
"Yoonji-a… sayangku, ayo ikut. Kita harus meletakkan lukisanmu ditempat yang seharusnya. Bisa tolong katakan pada Daddy-mu untuk menyerahkan lukisan ditangannya itu?" ucap Minhyuk yang hanya ditanggapi wajah bengong tidak mengerti oleh Yoonji dan Namjoon. Daddy? Siapa pula Daddy yang dia maksud?.
"Aigoo…" Minhyuk berguman dramatis dan mengambil lukisan ditangan Namjoon dan juga Yoonji digenggamannya. "Ayo Yoonji-a" Minhyuk menarik tangan Yoonji dan berlalu dari depan Namjoon yang masih memproses tentang apa yang baru saja terjadi padanya.
"Namjoon, maaf soal guru Yoonji tadi…" Seokjin menepuk bahu Namjoon dan tersenyum tak enak hati.
"Dia guru?" Namjoon melirik Seokjin, masih kebingungan.
"Dia wali kelas Yoonji" jelas Seokjin dan Namjoon hanya mengangguk. "Ayo cari tempat duduk" Seokjin menarik pergelangan tangan Namjoon tanpa sadar dan Namjoon hanya tersenyum membiarkan Seokjin menarik tangannya. Kemana saja, bahkan keneraka sekalipun, Namjoon akan ikut. Halah.
.
.
.
"Yoongi hyung, bangun…" Jimin menusuk-nusukkan jarinya dipipi Yoongi yang terlihat sangat lelap dalam tidurnya.
Sehabis melakukan 'itu', Yoongi benar-benar jatuh tertidur dengan memeluk Jimin yang juga ikut tertidur disampingnya.
Yoongi bergerak sedikit dan memeluk Jimin makin erat. Rasanya mengantuk sekali, tapi Yoongi harus bangun karena mereka harus kembali ke Seoul sore ini.
"Hyung, kita bisa ketinggalan kereta" Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya dalam pelukan Yoongi. Usaha terkahir agar Yoongi mau bangun.
"Sebentar lagi…" Yoongi bersuara serak.
"Tapi sudah jam dua. Kita perlu bersiap-siap. Aku juga perlu mandi hyung, badanku lengket…" Jimin mencicit pelan. Malu sendiri dengan ucapannya.
Mendengar suara Jimin yang mengecil diakhir, Yoongi terkekeh. "Ne, ne, aku bangun…" Yoongi melepas pelukannya pada Jimin dan mengucek matanya agar bisa terbuka.
"Hyung, pinggangku sakit…" adu Jimin sambil berusaha mendudukan diri diatas tempat tidur. Keadaan tempat tidur yang berantakan terlihat sama dengan keadaan Jimin yang sama berantakannya. Bajunya terpasang terbalik dan kusut, rambutnya berantakan dan hanya memakai boxer, bersyukur karena tidak ditambahi dengan noda merah disekujur tubuh Jimin.
"Maaf…" ucap Yoongi. Tangannya merayap kearah pinggang Jimin sambil memijit pelan tempat yang Jimin bilang sakit.
"Kau harus tanggung jawab, hyung"
"Apa aku harus menemui orangtua mu sekarang?" Yoongi ikut duduk diatas tempat tidur dan memandang serius kearah Jimin.
Jimin terkekeh melihat wajah serius Yoongi dan mengelus sisi wajah Yoongi dengan tangannya "Memangnya hyung akan bilang apa? Hyung akan bilang kalau hyung sudah melakukan itu padaku ke Appa dan Umma?"
Yoongi hanya terdiam. Benar juga. Bisa-bisa bukan restu yang Yoongi dapat, Yoongi bisa-bisa jadi buronan.
"Lalu harus bagaimana?" Yoongi bertanya kebingungan.
"Hyung, mulai sekarang tidak boleh genit pada orang lain, siapapun itu"
"Memangnya aku pernah genit pada siapa?" Yoongi berucap protes.
"Mana ku tau. Bisa saja hyung genit dengan rekan kerja hyung di agensi, kan?"
"Apa ini? Sepertinya ada yang sedang cemburu buta…" sindir Yoongi.
"Pokoknya hyung tidak boleh melirik orang lain. Yoongi hyung itu Cuma milik Park Jimin!" Jimin memeluk Yoongi. Rasanya sangat malu saat mengucapkan kalimat kekanakan dan egois seperti itu. Bukannya dalam suatu hubungan sudah seharusnya saling percaya?.
"Ne. kalau begitu, hal yang sama juga berlaku untukmu. Kau juga tidak boleh genit pada yang lain dan jangan seperti kemarin, memutuskanku begitu saja tanpa alasan!" Yoongi mengelus punggung Jimin yang masih saja erat memeluknya.
"Aku kan hanya sedang emosi saat itu…" Jimin melakukan pembelaan.
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri, setidaknya, kalau ada hal yang mengganggumu, katakana saja padaku. Mengerti?"
"Ne, Min PD-nim.." Jimin berucap main-main.
Saat sedang sibuk berpelukan, ponsel Yoongi bergetar dan muncul nama Chanyeol di layar ponselnya. Dengan berat hati Yoongi harus melepas pelukan Jimin padanya dan mengambil ponselnya di meja nakas.
"Segera temui aku saat kau tiba di Seoul" suara Chanyeol terdengar mengerikan ditelinga Yoongi dan membuat Yoongi merinding tanpa sebab pasti.
"Eoh? Sajangnim?"
Belum sempat Yoongi bertanya lebih lanjut, sambungan telepon sudah diputuskan sepihak oleh Chanyeol dan membuat Yoongi semakin kebingungan.
"Ada apa, hyung?" Jimin bertanya kebingungan.
"Sajangnim memintaku untuk segera menemuinya saat tiba di Seoul. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai rumah" sesal Yoongi.
Jimin tersentak. Saat mendengar nama Chanyeol, perasaannya mendadak tidak enak.
"Kita harus bersiap-siap kalau begitu, hyung. Mandilah.." usul Jimin.
Yoongi hanya mengangguk dan berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan Jimin yang bersusah payah menjangkau ponselnya yang berada di bawah bantal yang ditidurinya. Disana sudah ada satu pesan dari Chanyeol dan Jimin merasakan hawa dingin menyelimuti seluruh tubuhnya.
'Kita akan bicara serius di rumah'- Chanyeol hyung.
Jimin menelan ludahnya susah payah. Tidak mungkin kan Chanyeol tau kalau dia dan Yoongi sudah 'begitu'? heol.. mereka bahkan baru selesai satu jam yang lalu dan Chanyeol sudah mengetahuinya bukannya itu mengerikan?
Jimin memilih tidak membalas pesan Chanyeol dan berusaha senormal mungkin didepan Yoongi.
.
.
.
"Duduk" perintah Chanyeol mutlak.
Yoongi yang baru saja sampai digedung agensi, langsung disuruh naik menuju ruangan Chanyeol begitu saja. Yoongi yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun, menanggapi santai atasannya dan membungkuk sebelum duduk dihadapan Chanyeol.
"Ne sajangnim?" Yoongi duduk tegak dihadapan Chanyeol.
"Apa yang ku katakan soal tidak tidur bersama pacar?" Mulai Chanyeol.
"Maksud anda?" Yoongi berucap santai tapi penuh kesopanan.
"Kau tidur dengan pacarmu, benar?"
Yoongi tersentak. Matanya menatap membulat pada Chanyeol. Kepalanya sudah terisi hal-hal yang dilakukannya tadi pagi bersama Jimin saat mendengar ucapan Chanyeol, tapi mendadak merinding karena Chanyeol bisa tahu hal yang sangat pribadi seperti itu.
"Ti- tidur?" Yoongi menatap Chanyeol penuh curiga.
"Iya. Kau tidur dengan pacarmu di kamar yang sama!" tuduh Chanyeol.
"Tapi…"
"Tapi apa?!"
"Bagaimana anda bisa tau…" cicit Yoongi menatap horror pada Chanyeol. Dimata Yoongi, Chanyeol sudah berubah tak ubahnya seorang stalker.
"Lihat ini!" Chanyeol meletakkan ponselnya diatas meja dan menunjukan foto dimana ada Yoongi dan Jimin didalamnya. Foto yang semalam Jimin ambil saat dikamar hotel.
"Bagaimana anda bisa mendapatkan foto ini?" Tanya Yoongi ketakutan. Ini benar-benar horror untuk Yoongi, bagaimana bisa Chanyeol mengetahui pacarnya, sementara Yoongi tidak pernah sekalipun menunjukan wajah Jimin pada Chanyeol. Dan kenapa pula dia marah-marah?
"Tidak penting aku mendapatkan foto ini dari mana! Yang pasti kau sudah melanggar peraturan yang ku buat! Kau tidur sekamar dengan Jimin dan bukan dengan Joohyun!" kesal Chanyeol.
Yoongi terdiam. Kepalanya sibuk berpikir dan Yoongi sampai pada satu kesimpulan yang agaknya masuk akal dari seluruh rangkaian kejadian bersama Chanyeol, mulai dari Chanyeol bertanya siapa pacarnya, apa Yoongi mau mendua atau tidak, dan mengatakan Yoongi pria membosankan karena tidak mau mendua dan Chanyeol yang memiliki fotonya dan Jimin yang Jimin update di akun social medianya. Yoongi memandang Chanyeol lama dan dia kembali pada kesimpulan di awal yang diambilnya.
"Maaf kalau saya salah, sajangnim. Tapi, apa anda cemburu?" Tanya Yoongi polos.
Seperti ditampar dengan panci secara tiba-tiba, Chanyeol tersentak dan membulatkan matanya mendengar pertanyaan Yoongi. Sepertinya ada kesalah pahaman yang terjadi antara mereka. Chanyeol yakin, Yoongi pasti menyangka kalau dia punya perasaan khusus pada Yoongi. Well, Jimin, siap-siap rahasiamu terbongkar dan kehilangan sumber informasi paling akurat dilingkungan kerja Yoongi.
TBC
.
.
.
Maaf atas lamanya update ini kakak-kakak
*Ketjup jidat satu-satu*
Aku sibuk….. liburan
*Lari Naruto*
