Lain seperti hari kemarin, hari ini Baekhyun masuk kedalam kelasnya dengan senyuman cerah diwajahnya. Tubuhnya meloncat-loncat pendek dengan senandung pelan dari bibirnya.
Setelah menaruh tas diatas meja dan duduk dikursinya, Baekhyun memutar tubuhnya, menghadap Tiffany yang duduk dua meja darinya. Tanpa mempedulikan tatapan aneh wanita tersebut, Baekhyun menunjukkan senyumannya. "Pagi Tiff!" setelah itu menatap Chaeyeon yang duduk dibelakang Tiffany. "Pagi Chae!"
Memberikan senyuman terakhirnya, Baekhyun kembali duduk menghadap depan. Tanpa melunturkan senyumannya.
Langkah kaki cepat terdengar mendekat. Baekhyun mengangkat kepalanya, dan mendapati Chaeyeon yang berlari mendekat kearahnya kemudian duduk dikursi depan mejanya. Diikuti Tiffany yang menarik kursi dan duduk disampingnya.
"Jadi... Kau tidak menangis lagi seperti kemarin?"
Baekhyun menggeleng kuat dengan senyuman malu-malu. Ia mengulum bibirnya.
"ByunBaek kau jahat sekali!" ucapan Chaeyeon membuat Baekhyun menatap bingung kearah wanita itu. "Kau tidak berpacaran dengan Sehun!"
Baekhyun menghela nafas lalu merotasikan bola matanya malas. Ia mengibaskan tangannya didepan Chaeyeon.
"BYUN BAEKHYUN!"
Ditengah keterdiaman mereka, sebuah teriakan dan langkah berlari membuat kepala Baekhyun pening. Baekhyun merebahkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya, memilih acuh kepada Jongin yang merusak paginya.
"Ini masih pagi, Jongin. Jangan berteriak."
Bahkan ucapan Tiffany diabaikan oleh lelaki tan tersebut.
Jongin menarik Baekhyun hingga yang lebih mungil menegakkan tubuhnya dengan wajah yang meringis. Tatapan tajam Baekhyun tak diindahkan olehnya.
"Aku melihat statusmu, kau memiliki kekasih! Dan itu bukan Sehun?! Kau memberikan harapan palsu kepada temanku!"
Baekhyun menepis tangan Jongin yang memegang kasar pergelangan tangannya. Ia melirik kearah belakang Jongin, tepatnya pada Sehun yang berdiri disana.
Nafasnya tercekat. Baru menyadari kebodohannya yang menuliskan status di akun media sosialnya bahwa dirinya telah memiliki kekasih. Saking bahagianya, Baekhyun melupakan Sehun yang selama ini menyimpan rasa untuknya dan sudah baik terhadapnya.
"Eum... Sehunna. Maafkan aku..." Baekhyun menatap Sehun dengan tatapan bersalahnya. Ia memainkan jemarinya, sebuah kebiasaan ketika dirinya gugup.
Sehun mendekat kearah Baekhyun, berdiri di serong meja yang ditempati oleh Baekhyun. Tangannya terjulur, mengacak poni Baekhyun yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Tidak apa, Baek. Itu hak mu untuk memilih siapa yang akan menjadi kekasihmu."
"Kau terlalu lelet sih," Jongin mendekati Sehun lalu menyikut pinggang temannya itu. Ia terkekeh mendapati wajah datar Sehun. "Pantas saja kau kemarin galak, Baek. Jadi kemarin sedang bertengkar?" dengan satu tangan yang diletakkan didagunya, kepala yang mengangguk-angguk dan mata yang memicing, Jongin menatap kearah Baekhyun.
Baekhyun mendengus malas. "Pergi kau Jongin."
"Aku memang ingin pergi, sebentar lagi bel masuk. Ayo Sehun!" si lelaki berkulit tan membalikkan tubuhnya meninggalkan kelas Baekhyun.
Sehun kembali menoleh kearah Baekhyun. "Aku duluan, Baek," setelahnya kearah Tiffany dan Chaeyeon. Ia mengikuti langkah Jongin keluar kelas Baekhyun.
Sepeninggalnya dua lelaki tersebut, Baekhyun menghela nafas pelan. Namun ia kembali menahan nafas ketika Chaeyeon berdiri dan memukul mejanya. Ia menatap bingung kearah Chaeyeon.
"Kita sekarang putus!" ucapnya dengan kedua jari telunjuk yang dipisahkan, kemudian berlari menuju meja miliknya.
Tiffany berdiri, menatap aneh kearah Chaeyeon yang duduk dengan bibir yang dikerucutkan. Ia menepuk pundak Baekhyun pelan. "Jangan dipikirkan, dia memang tidak pernah dewasa," yang diberikan anggukkan oleh Baekhyun. "Ngomong-ngomong, selamat ya ByunBaek!"
.
Bunnybtm
ChanBaek
.
Baekhyun memakan makan siangnya dengan lahap. Mengunyah makanan tersebut hingga hancur kemudian menelannya. Mata sipitnya menatap kearah Chaeyeon yang duduk disampingnya.
"Katanya kita putus?"
Wanita Jung disampingnya menatapnya dengan tatapan sinisnya. Namun hal tersebut dapat membuat Baekhyun menahan tawanya. "Itu 'kan tadi, ByunBaek!"
Baekhyun memilih mengangkat bahunya dan kembali berfokus pada makan siangnya. Namun matanya menatap sekeliling, mencari seseorang. Sosok satu temannya yang lain tidak terlihat sejak bel makan siang tadi.
"Kau mencari Tiffany?" Baekhyun mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jongin. "Dia dengan pacarnya."
Mulut Baekhyun membentuk O kecil lalu mengangguk-angguk paham. Baekhyun yang ingin melanjutkan makannya, terhenti ketika merasakan tatapan Jongin yang tertuju padanya. Ia mendelikkan matanya kearah Jongin. "Apa?"
"Aku masih tidak menyangka, lelaki manis sepertimu dapat menyakiti hati temanku."
Baekhyun memutar bola matanya malas. Jongin masih saja membahas hal yang seharusnya tidak dibahas. Dengan gemas, Baekhyun menendang kaki Jongin dari bawah meja. Tidak mempedulikan erangan kesakitan dari lelaki berkukit tan itu.
"Kau itu bawel sekali, sih."
Jongin menatap tidak percaya kearah Chaeyeon yang menatap sengit kearahnya. "Lihat! Dia selalu terlihat polos, tapi dia selalu berkata tajam kepadaku!" ia menunjuk-nunjuk kearah Chaeyeon denfan sumpitnya.
"Kau berisik, Jongin."
Dengusan kasar terdengar dari Jongin. Ia menatap Sehun tak kalah sengit karena temannya itu tidak membelanya.
Sehun terkekeh pelan kemudian berdiri dari tempatnya. "Aku ke perpustakaan dulu."
Baekhyun menganggukkan kepalanya kearah Sehun. Setelahnya ia menoleh kearah Chaeyeon, mengedipkan matanya cepat pada wanita itu. "Cepat sana pergi," ia menyikut tangan Chaeyeon, mendorong tubuh wanita itu pelan. Menyuruhnya pergi.
Baekhyun terkekeh ketika Chaeyeon berdiri kemudian meninggalkan tempatnya. Ia kembali menghabiskan makan siangnya lalu menatap Jongin. "Aku selesai," setelah itu berdiri dan meninggalkan tempatnya. Meninggalkan Jongin yang tengah membulatkan matanya.
"Kenapa aku selalu ditinggal sendiri?!"
.
Chaeyeon memilin ujung blazer yang dikenakannya, ia duduk diatas kursi dengan pelan. Tanpa suara sedikitpun. Namun lelaki yang tengah membaca buku disampingnya tetap menyadari kehadirannya.
"Eoh? Chaeyeon? Ada apa?" Sehun meletakkan bukunya, menatap gadis yang duduk disampingnya dengan tatapan heran.
Chaeyeon melirik Sehun dengan ekor matanya. "T-tidak... Aku hanya ingin menemanimu saja."
"Menemaniku?"
"Ya..." kepala Chaeyeon mengangguk cepat. "Siapa tahu, kau sedang bersedih karena Baekhyun sudah memiliki pacar."
Sehun terkekeh pelan kemudian menganggukkan kepalanya. Ia kembali melanjutkan membaca bukunya. "Kau pengertian sekali, sih."
Keduanya larut dalam keheningan. Chaeyeon yang masih setia menundukkan kepala dan menainkan jarinya, sedangkan Sehun kembali larut dalam bacaannya.
"Sehunna..." panggil Chaeyeon dengan suaranya yang pelan. Kepalanya mendongak, menatap Sehun dengan wajah meronanya. "Apakah setelah ini kau akan tetap menyukai lelaki? Maksudku... Apa kau dapat menyukai wanita... sepetiku?"
Chaeyeon kembali menundukkan kepalanya dengan bibir yang ditipiskan. Ia menutup matanya resah, menyesali perkatan yang diucapkan bibirnya tadi.
Kepalanya yang menunduk, mendongak paksa ketika Sehun mengangkat dagunya. Chaeyeon meringis pelan, lalu menggigit bibirnya. Matanya mengerjap cepat, menahan air mata yang akan keluar dari sana. Apa Sehun akan marah kepadanya?
"Mungkin... Aku bisa memikirkan hal itu," Sehun terkekeh pelan lalu mengacak rambut gadia disampingnya itu. Ia tersenyum kecil melihat tubuh Chaeyeon yang terpaku, setelahnya Sehun kembali membaca bukunya.
.
Baekhyun berjalan santai menuju ruang kerja Chanyeol. Tangannya meremas-remas jemarinya, menahan rasa senang yang menggebu-gebu dari dalam dirinya. Senyumannya masih tertahan diwajah cantiknya. Bahkan ketika dirinya bertemu dengan Jongdae dan lelaki itu menyebutnya orang gila, Baekhyun tidak marah seperti biasanya. Ia hanya memberikan senyumannya yang membuat Jongdae meninggalkannya dengan wajah takut.
Sesampainya didepan ruangan Chanyeol, Baekhyun menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu berwarna coklaf didepannya. Kemudian berdiri tenang menunggu panggilan masuk dari dalam.
Namun suara tersebut tak kunjung terdengar.
Baekhyun kembali mengetuk pintu tersebut, kali ini dengan suara yang memanggil nama kekasih barunya itu. Keningnya mengerut, suara Chanyeol tidak terdengar.
"Apa aku masuk saja?"
Baru Baekhyun memegang kenop pintu dan ingin menekannya, sebuah suara terdengar dari sampingnya.
"Baekhyun?"
Ia menoleh, dan mendapati bu Sunbin yang tengah membawa beberapa buku. Baekhyun membungkukkan tubuhnya kearah gurunya tersebut dengan senyuman canggung. Dirinya masih merasa bersalah karena telah berpikir macam-macam tentang wanita didepannya ini.
"Kau mencari pak Chanyeol?"
Baekhyun memgangguk. "Iya, bu... Apa ibu tau dimana pak Chanyeol?"
"Dia tidak masuk hari ini. Katanya ingin mengurus ijazah Magisternya. Dia baru saja lulus dari S2nya."
Baekhyun berdiri diam pada tempatnya. Bahkan ketika bu Sunbin melangkah meninggalkannya, Baekhyun hanya diam. Fakta bahwa Chanyeol yang baru saja lulus dari S2 yang ditempuhnya, membuat sudut hati Baekhyun terasa nyeri. Belum lagi dirinya juga baru mengetahui kalau lelaki itu tidak masuk hari ini.
Helaan nafas berat Baekhyun keluarkan. Lelaki mungil itu memilih kembali ke kelasnya dengan langkah lesunya. Senyuman yang tadinya merekah diwajahnya, seketika meredup.
Sesampainya didepan kelasnya, Baekhyun menggeser pintu kelasnya lalu masuk kedalam. Ketika melihat suasana kelas yang berisik dan teman-temannya berlari keluar kelas dengan wajah senang, Baekhyun mengernyitkan keningnya. Ia mendekat kearah Tiffany yang tengah merapikan barang-barangnya.
"Ada apa ini?" tanyanya sambip menatap teman-temannya.
"Para guru senior akan rapat, dan kita dipulangkan!"
Baekhyun tersentak ketika merasakan dorongan dari belakang, ia menoleh dan menatap jijik kearah Jongin yang merangkulnya. Tubuhnya bergerak acak, mencoba melepaskan diri dari Jongin. Namun dekapan lelaki itu lebih kuat darinya.
"Karena Baekhyun baru saja mempunyai pacar, Baekhyun akan mentraktir kita!"
"Apa-apaan!"
"Yes, bubble tea gratis!"
"Ayo cepat!"
Baekhyun menepuk keningnya, menyadari kalau uang sakunya akan dihabiskan oleh teman-temannya ini.
.
.
Untuk menghabiskan uang saku Baekhyun, mereka memilih kedai bubble tea yang direkomendasikan oleh Sehun. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Yang ditempuh selama 10 menit.
Sesampainya dikedai tersebut, mereka masuk dengan cepat dan langsung berlari menuju kasir. Memesan minuman pilihan mereka, tanpa mempedulikan Baekhyun yang mengerucutkan bibirnya di barisan belakang.
Setelah mengambil pesanan, Jongin memimpin menuju kursi yang akan ditempati. Namun langkah lelaki tan itu terhenti. "Eoh, pak Chanyeol?"
Mendengar nama Chanyeol, Baekhyun langsung berjalan kedepan. Ia menatap datar kearah Chanyeol yang tengah duduk bersama sekumpulan orang yang Baekhyun duga adalah teman-temannya.
Yang dipanggil menoleh, Chanyeol membolakan matanya ketika melihat murid-muridnya berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
"Eoh, kalian sudah pulang sekolah?"
"Guru-guru sedang rapat," Tiffany menjawab pertanyaan gurunya. Sebelumnya ia dan teman-temannya yang lain membungkukkan tubuhnya terlebih dahulu.
Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya. Guru senior memang sedang mengadakan rapat hari ini. Ia melirik kearah Baekhyun yang terpaku menatapnya. Ia memberikan senyuman untuk lelaki mungil itu.
"Ah ya, kenalkan ini murid-muridku," ucapnya kepada teman-temannya.
"Wah... Muridmu tampan dan cantik-cantik ya," Chanyeol hanya terkekeh mendengar ucapan Taecyeon. Ia menyuruh para muridnya untuk segera duduk. Tanpa diduga, mereka memilih duduk disamping kursinya dan teman-temannya.
Pandangan Chanyeol kembali terarah kepada Baekhyun. Menatap lelaki mungil yang telah menjadi kekasihnya dengan senyuman yang susah payah ditahannya. Namun si mungil yang dipandanginya sedari tadi menghindari tatapannya.
Chanyeol yang baru saja ingin memanggil Baekhyun, tersentak ketika mendapat sebuah tepukan dipundaknya. Ia menoleh kearah Minho, si pelaku yang menepuk pundaknya.
"Mau merokok?"
Chanyeol mengangguk kecil. Ia berdiri, mengikuti teman-teman prianya untuk duduk dikursi bagian luar dari kedai. Meninggalkan Jinah dan Jenny yang masih menghabiskan minuman mereka. Sebelum keluar, Chanyeol menyempatkan dirinya untuk kembali menatap kearah Baekhyun, yang dibalas oleh lelaki mungil itu.
Baekhyun mengigit bibir bawahnya, ketika melihat Chanyeol berjalan keluar kedai lalu duduk pada kursi bagian depan. Ketika melihat lelaki itu membakar satu batang rokok, Baekhyun mendengus pelan.
"Pak Chanyeol ternyata merokok."
Ucapan Jongin sama sekali tidak diindahkah oleh Baekhyun. Lelaki mungil itu memilih menaruh kepalanya diatas lipatan tangannya. Semangatnya menguap entah kemana. Tidak hanya ucapan Jongin, Baekhyun bahkan mengabaikan percakapan dan lelucon dari teman-temannya.
Ditengah percakapan mereka, tiba-tiba dua wanita teman Chanyeol menghampiri meja mereka.
"Halo, boleh bergabung?"
"Oh tentu!" suara bersemangat Jongin menjawab pertanyaan dua wanita tersebut.
Jinah dan Jenny duduk diujung meja, disebelah Baekhyun yang kebetulan duduk diujung pula. Dua wanita itu memperkenalkan diri, mencari permulaan yang bagus.
"Jadi... Kalian murid-murid Chanyeol, ya?"
"Ya, seperti yang dikatakan pak Chanyeol tadi."
"Apa Chanyeol di sekolah dekat dengan guru lain atau seorang murid?" pertanyaan dari wanita bernama Jinah membuat meja tersebut menjadi ramai. Hanya Baekhyun yang menatap wanita itu dengan tatapan datar.
"Noona menyukai pak Chanyeol?" Jongin mendesah pelan ketika Jinah mengangguk dengan senyuman malu-malu. "Hm... Sayang sekali," setelahnya ia mengaduh ketika mendapatkan tendangan ditulang keringnya dari Chaeyeon yang duduk didepannya.
"Pak Chanyeol disekolah terlihat tidak dekat dengan siapapun," kali ini Taeyeon yang menjawab.
"Sebenarnya Chanyeol itu membingungkan. Semenjak dia putus dengan Dara eonni, dia tidak pernah dekat dengan siapapun," ucapan Jenny mendapat anggukan dari Jinah. "Makanya, temanku ini jadi ragu untuk mendekati Chanyeol."
Tiba-tiba Baekhyun berdiri lalu mengambil tasnya. Tanpa mengucapkan apapun, ia meninggalkan tempat duduknya. Teman-temannya menatap dirinya bingung. Sehun bergerak cepat, lelaki itu mengikuti langkah Baekhyun.
"Baek, kau mau kemana?"
"Aku ingin pulang."
Ketika dirinya telah dekat dengan pintu keluar, langkah Baekhyun terhenti ketika seseorang menghalanginya. Ia mendongak, mendapati Chanyeol yang menatapnya dengan bingung. Chanyeol yang telah selesai menghisap satu batang rokok miliknya, berniat kembali kedalam. Namun ia mendapatkan Baekhyun yang berjalan cepat dengan rahang yang mengeras.
"Kau mau kemana?"
Baekhyun menatap tajam kearah Chanyeol. Tanpa mempedulikan ucapan lelaki tinggi itu, Baekhyun menarik tangan Sehun. "Sehunna, ayo kita pulang!"
Belum sempat Baekhyun melangkah, Chanyeol menarik dirinya hingga ia kembali berdiri dihadapan tubuh tinggi Chanyeol. Genggamannya pada tangan Sehun dilepas paksa oleh Chanyeol, kini lelaki yang telah menjadi kekasihnya itu memegang kedua pundaknya dengan erat.
"Kenapa kau mengajak Sehun?"
"Lepas, Chanyeol!" tubuh Baekhyun menggeliat, mencoba melepaskan pegangan kuat Chanyeol pada pundaknya. Namun sekeras apapun usahanya, tenang Baekhyun tetap kalah.
Teman-teman Baekhyun berjalan mendekat, menyaksikan lebih jelas dan dekat.
Baekhyun mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan tangisnya yang sedari tadi telah ditahannya. Ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya. "Hiks..."
"Baekhyun!" Chanyeol diserang panik ketika mendengar isak tangis Baekhyun. Ia membawa tubuh Baekhyun mendekat kemudian memeluk pinggang sempit lelaki mungil itu. "Kenapa menangis hm?"
Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng kuat, matanya masih terpejam. "A-aku sangat bodoh! Aku terlalu senang menjadi kekasihmu sampai-sampai aku menulis status berpacaran di akun media sosialku tanpa berpikir panjang," mata sipitnya terbuka, membuat airmatanya merembes keluar membasahi pipinya. Ia menghapus acak air matanya, kemudian menatap kearah Chanyeol sekejap lalu kembali menunduk.
"Tanpa mengenalmu lebih dalam. Aku tidak tau bagaimana dirimu diluar jam mengajar, kita hanya bertemu pada malam hari. Bagaimana masa lalumu, lalu dimana tempat tinggalmu, bahkan aku baru mengetahui kau memiliki mobil semalam. Hari ini kau tidak masuk mengajar saja aku tidak tahu. Dan dengan bodohnya aku menuju ruanganmu. Jika aku tidak bertemu bu Sunbin, aku pasti akan terlihat sangat bodoh menunggumu disana."
Baekhyun tersedak ketika isakan keluar dari bibirnya. Tidak mempedulikan itu, Baekhyun menatap kearah Chanyeol.
"Aku tidak penting untukmu, bukan? Benar, kan Chanyeol? Aku saja tidak mempunyai nomor ponselmu."
Yang lebih tinggi menghela nafas pelan kemudian tersenyum. Chanyeol mengelus pipi Baekhyun dengan lembut kemudian mengecup keningnya. "Kau tau, kau sangat menggemaskan."
"Chanyeol..." rengek Baekhyun. Ia tidak mendapatkan respon yang diinginkannya, tubuhnya kembali mengeliat mencoba melepaskan dekapan Chanyeol. Namun bukannya terlepas, Chanyeol malah membalikkan tubuhnya.
"Perkenalkan, ini Byun Baekhyun. Kekasihku."
Baekhyun melebarkan diameter matanya ketika melihat teman-temannya yang menatapnya dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Ia langsung membalikkan tubuhnya, menenggelamkan wajahnya yang memerah pada dada bidang Chanyeol. Ia tidak habis pikir kenapa Chanyeol melakukan hal memalukan seperti tadi.
"Chanyeol, A-ayo pergi."
"Kau tidak mau mengajak Sehun seperti tadi?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat. "T-tidak. Tadi aku sedang marah denganmu. Sekarang ayo cepat pergi," ia mendorong-dorong tubuh Chanyeol agar lelaki itu membawanya pergi dari sana.
Baekhyun sangat malu saat ini. Bagaimana mungkin dirinya membuat 'drama live' ditempat umum seperti ini. Dan bodohnya, dia baru sadar ketika semuanya telah menonton hingga selesai.
Chanyeol terkekeh lalu mengecup pucuk kepala Baekhyun gemas. "Baiklah, ayo." Ia membawa Baekhyun meninggalkan kedai. Menyisakan sekumpulan orang yang menatap keduanya tidak percaya.
Sebuah helaan terdengar dari Sehun. "Sudah aku duga..."
"Aku juga sudah menduga ada sesuatu yang terjadi diantara mereka ketika Baekhyun yang sangat berani kepada pak Chanyeol," Tiffany menggaruk ujung dagunya. "Bagaimana kau dapat menduganya?"
Sehun mengangkat bahunya acuh. "Bagaimana aku tidak tau jika ketika aku sedang jalan dengan Baekhyun, pak Chanyeol selalu mengikuti."
"Lalu kenapa saat Jinah noona bertanya tadi kau diam saja?"
Sehun melirik Jongin malas, temannya ini benar-benar sangat bodoh. "Aku tidak mau mendapatkan omelan Baekhyun!" matanya beralih kearah Chaeyeon yang berdiri disamping Tiffany kemudian menarik tangan gadis itu. "Ayo pulang."
"Hey, kau tidak pulang bersamaku?!"
"Aku bosan bersamamu terus."
Sedangkan Chaeyeon hanya terdiam mengijuti langkah Sehun yang membawanya semakin menjauhi kedai bubble tea tersebut.
.
.
Baekhyun mengedarkan pandangannya, menatap sebuah apartement dimana Chabyeol yang membawanya kemari. Ia tersentak ketika mendapatkan seoasang tangan melingkar pada pinggangnya dari belakang. Kepalanya menoleh dan mendapati Chanyeol yang tengah tersenyum kepadanya.
"Ini tempat tinggalku, aku tinggal sendiri karena kedua orang tuaku tinggal di desa. Sedang kakakku menetap di Thailand bersama dengan suaminya."
Baekhyun hanya diam saat mendapatkan penjelasan dari Chanyeol.
"Hari ini aku tidak pergi mengajar karena aku harus mengurus ijazah milikku. Lalu memutuskan untuk berkumpul dengan teman-temanku. Mereka teman sejak aku menempuh pendidikan S1," Chanyeol membawa tubuh Baekhyun menghadap kearahnya. "27 November itu tanggal lahirku, umurku saat ini 27 Tahun selisih 10 tahun denganmu. Selama ini, aku hanya pernah berkencan dua kali. Dengan mantanku yang bernama Sandara lalu dengan puppy mungil yang manja, yaitu dirimu," Chanyeol mengecup ujung hidung Baekhyun gemas. Kemudian terkekeh ketika lelaki mungil dikapannya itu merengek pelan.
Tangannya mengelus pinggang Baekhyun, sesekali meremasnya pelan. "Boleh aku meminjam ponselmu?"
Tanpa berkata apapun, Baekhyun mengangguk pelan lalu merogoh saku blazernya untuk mengambil ponselnya. Ia memberikannya kepada Chanyeol lalu memperhatikan Chanyeol yang mengetikkan deretan angka di ponselnya. Lalu menelpon nomor tersebut.
Sebuah nada dering terdengar dari saku celana Chanyeol. Yang lebih tinggi mengeluarkan ponselnya kemudian menolak panggilan tersebut.
"Itu nomor ponselku, kau boleh menggubungiku kapan saja kau mau. Mengerti?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan. "Kau tidak harus mengatakannya sekarang jika kau belum siap, Chanyeol."
"Aku tidak mau menyimpan rahasia denganmu, Baek," Chanyeol meletakkan ponselnya dan ponsel Baekhyun. Ia menggenggam tangan Baekhyun lalu mencium jemari lelaki mungil itu.
Tanpa disadari olehnya, Baekhyun yang menegang ketika mendengar kata 'rahasia' keluar dari mulutnya.
"159357, itu password kunci apartement ini. Datanglah kapanpun kau mau. Karena kau kekasihku, apartement ini juga milikmu."
"A-apa? Bukankah itu berlebihan?"
"Tidak juga. Sebut saja ini sebuah latihan jika kita menikah nanti."
Wajah Baekhyun memerah hingga ketelinganya. "Ish, Chanyeollie~" rengeknya manja. Namun senyuman senang terlihat diwajahnya.
Chanyeol tersenyum kemudian mengecup kening dan pelipis Baekhyun. Ia mengeratkan pelukkannya pada pinggang Baekhyun. "Baekhyun, jangan berkata bahwa kau tidak penting untukku. Kau sangat berarti bagiku, maafkan kecerobohanku."
"Tidak... Aku yang terlalu kekanakan."
Chanyeol membelai lembut pipi Baekhyun. Tersenyum teduh pada lelaki mungil di dekapannya itu, kemudian mengecup kening Baekhyun. Ciumannya turun ke hidung lalu bibir tipis Baekhyun.
Menyesap pelan bibir tipis tersebut, Chanyeol semakin menurunkan ciumannya pada rahang Baekhyun. Kepala Baekhyun yang mendongak, membuat dirinya semakin lelauasa memberikan kecupan-kecupan pada kulit rahang dan leher lelaki mungilnya.
Tangannya yang awalnya berada pada pinggang Baekhyun, turun hingga menempel di pipi bokong Baekhyun. Meremas pelan bokong tersebut, diikuti dengan hisapan kuat pada ceruk leher Baekhyun.
"Anh~"
Erangan Baekhyun membuat Chanyeol semakin berani. Remasan pada bokong Baekhyun semakin acak, ia juga menempelkan selangkangannya dengan selangkangan Baekhyun. Menggesekkan bagian tersebut dengan gerakan memutar yang pelan.
Wajahnya kembali berhadapan dengan wajah Baekhyun. Tatapannya dibalas dengan tatapan sayu Baekhyun. "Bolehkah?" anggukan dari si mungil membawa Chanyeol untuk meraup bibir tipisnya. Tidak hanya menempelkannya, Chanyeol mengulum, menghisap dan menggigit bibir kenyal Baekhyun. Lidahnya juga melesak masuk kedalam, menyapa deretan gigi dan lidah Baekhyun.
Tangannya bergerak membuka tiap kain yang melekat ditubuh Baekhyun. Dimulai dari blazer sekolah Baekhyun kemudian kemejanya. Selesai dengan bagian atas, Chanyeol mepaskan gesper Baekhyun lalu menurunkan celananya. Membuat tubuh mungil Baekhyun hanya tertutupi kaos kaki putih pada telapak kakinya.
Chanyeol juga membuka kemejanya, membiarkan tubuhnya yang memiliki otot samar terlihat jelas.
Pagutan mereka terlepas ketika Baekhyun mendorong tubuhnya. "Berjanjilah untuk pelan-pelan. I-ini yang pertama untukku."
Chanyeol tidak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya. "Kau serius?" anggukan kecil dari Baekhyun membuat senyuman diwajahnya merekah. "Jadi aku orang yang special, hm?" ia mengangkat tubuh Baekhyun pada gendongan koalanya. "Aku berjanji akan sangat lembut."
Langkah kakinya membawa mereka memasuki kamarnya. Ia merebahkan tubuh Baekhyun pelan diatas kasurnya kemudian menindih pelan tubuh Baekhyun. Chanyeol kembali membawa Baekhyun pada pagutan basahnya. Tangannya membelai apapun yang dicapai, namun memberikan belaian 'lebih' pada dada Baekhyun yang mengeras.
"Ahh Chan~"
Chanyeol menekan puting Baekhyun kuat. "Sebut namaku, sayang," usai mengucapkan itu, Chanyeol menjulurkan lidahnya untuk membasahi puting Baekhyun. Mengulum puting tersebut lalu menghisapnya kuat.
Chanyeol menjepit puting Baekhyun dengan kedua belah bibirnya, kemudian ia menggerakkan kepalanya menggeleng cepat. Ia juga menggunakan giginya.
"Akh! Channie~" Baekhyun memekik dengan dada yang semakin membusung. Tangannya bergerak menyentuh penisnya, namun dengan cepat Chanyeol menyingkirkan tangannya.
Tubuh tinggi Chanyeol semakin turun. Setelah memberikan sentuhan akhir pada puting Baekhyun, lelaki itu menuju pusat tubuh Baekhyun. Ia terkekeh melihat penis merah muda Baekhyun yang menegang.
"Imut sekali~" Chanyeol menyentil ujung penis Baekhyun lalu terkekeh ketika lelaki mungil itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merengek malu. Kepala Chanyeol mendekat, membasahi batang penis Baekhyun dengan lidahnya.
"Eungh~ aahh anh~"
Chanyeol menahan pinggang Baekhyun yang terangkat keatas. Ia memasukkan seluruh batang penis kedalam mulutnya, menyelimuti penis Baekhyun dengan rongga mulut hangatnya. Tidak hanya itu, lidah Chanyeol masih menjilati batang penis Baekhyun dengan lincahnya.
Jemari Chanyeol bergerak membelai lubang Baekhyun. Memutari kerutan disana dengan ibu jarinya, lalu memasukkan ujung jarinya kedalam sana.
Tubuh Baekhyun tersentak, merasakan sakit ketika jari Chanyeol perlahan memasuki dirinya. Tangannya meremas sprei dibawahnya saat Chanyeol menambahkan dua jarinya.
"Aahh Chanyeollie!"
Masih dengan menikmati penis Baekhyun, Chanyeol menggerakkan ketiga jarinya yang berada didalam Baekhyun. Dimulai dengan tempo yang pelan, Chanyeol tersenyum senang mendengar rintihan manja Baekhyun. Kemudian tempo yang diberikan Chanyeol semakin cepat dan menuntut. Lelaki tinggi itu melebarkan lubang Baekhyun, menyediakan jalan yang mudah untuk miliknya nanti.
"Aahh aahh Chanyeollie~ pelan... saja aahh enak~"
Chanyeol melepaskan jarinya dari lubang Baekhyun, bersamaan dengan penis Baekhyun yang ia lepaskan dari kulumannya. Matanya menatap lapar lubang Baekhyun yang berkedut-kedut. Untuk menahan dirinya, Chanyeol menghela nafasnya.
Chanyeoll menarik tubuh lemas Baekhyun agar terduduk. Ia mengarahkan Baekhyun agar menghadap kearahnya dengan tubuh yang menungging. Celananya ia turunkan kebawah, bersamaan dengan boxer yang dikenakannya. Penis besarnya yang menegang terpampang jelas dihadapan Baekhyun.
"Kau suka, sayang?"
Baekhyun mengangguk pelan. Matanya terpaku pada penis Chanyeol dihadapannya. Ia memang pernah melihat penis Chanyeol sebelumnya ketika tidak sengaja mereka melakukan video call dari blog miliknya. Namun ketika melihatnya langsung, Baekhyun hanya dapat terpaku dengan mulut yang terbuka. Bahkan diriny tersadar ketika merasakan liurnya mengalir dari sudut bibirnya.
"B-besar sekali..."
"Kau pasti akan senang nanti," Chanyeol memegang penisnya lalu menepuk-nepuk ujungnya pada pipi Baekhyun.
Baekhyun menipiskan bibirnya, tersenyum malu-malu dengan wajah yang merona. Dengan canggung, Baekhyun meraih penis Chanyeol kemudian mengurutnya pelan. Ia meringis pelan, penis Chanyeol tidak dapat digenggam seluruhnya dengan satu tangannya.
Baekhyun mengurut batang penis Chanyeol dari ujung hingga ke pangkalnya, melakukannya berulang kali. Tangannya yang lain asik memainkan bola kembar Chanyeol. Bibirnya ia gigit, menahan sisi liarnya yang perlahan mulai keluar saat melihat penis Chanyeol.
"Uuhh Baek..."
Apalagi geraman seksi Chanyeol yang memenuhi gendang telinganya.
'Ya Tuhan... Kuatkan aku.'
Matanya terpejam saat lubangnya berkedut hebat.
Tanpa menatap kearah Chanyeol, Baekhyun memasukkan ujung penis Chanyeol kedalam mulutnya. Mengulumnya dengan sensual, memainkan ujung lidahnya pada lubang kencing Chanyeol. Semakin dalam ia memasukkan penis Chanyeol, hingga ujung tumpul batang penis Chanyeol mengenai tenggorokannya. Baekhyun melotot saat menyadari hanya sebagian kecil dari penis Chanyeol yang masuk kedalam mulutnya.
Sisa penis Chanyeol yang tidak masuk kedalam mulutnya, Baekhyun remas dengan kedua tangannya. Matanya terpejam, menikmati 'permen' barunya. Pinggulnya bergoyang gelisah, lubangnya memerlukan sesuatu.
Baekhyun melepaskan kulumannya ketika Chanyeol menarik tubuhnya. Baekhyun menjilat sisa salivanya diujung penis Chanyeol lalu menghadap kekasihnya itu.
"Untuk yang pertama, kau sangat hebat Baek."
Chanyeol kembali menindih tubuh Baekhyun dan meraup bibirnya. Memainkan bibir Baekhyun.
Setelah melepaskan pagutannya, Chanyeol membuka kedua kaki Baekhyun lebar dan membiarkan kaki itu menggantung diudara. Ia masuk kedalam kangkangan Baekhyun, memegang penisnya yang langsung ia tepuk-tepukkan pada lubang Baekhyun. Meludahi sedikit lubang Baekhyun, Chanyeol perlahan memasukkan penisnya.
"Aouhh~" longlongan Baekhyun menggema. "Pelan-pelan aahss!"
Baekhyun terus meremas sprei hingga penis Chanyeol masuk seluruhnya. Tubuhnya bergetar hebat, merasa nikmat yang berlebih. Penis Chanyeol sangat panjang, bahkan Baekhyun dapat merasakan penis Chanyeol menyentuh ususnya.
Pinggul Baekhyun bergoyang pelan, menyuruh Chanyeol untuk mengenjot dirinya.
Penis Chanyeol bergerak keluar, hingga pada ujungnya Chanyeop menghentak kuat tubuh Baekhyun. Ia lakukan gerakan pelan tersebut cukup lama.
"Ahh! Anhh~ ouuhh~"
Desahan putuh-putus Baekhyun benar-benar membuat Chanyeol ketagihan.
Baekhyun yang tidak pias dengan gerakan pelan Chanyeol merengek manja dengan pinggul yang ikut bergerak. Namun gerakan pinggulnya berhenti ketika Chanyeol menahan pinggangnya.
"Anhh~ Chanyeollie~"
"Yang sabar, sayang. Kau akan mendapatkannya sebentar lagi."
Chanyeol kembali dengan gerakan pelannya. Ia memejamkan matanya, merasakan remasan-remasan lubang Baekhyun lalu bagaimana sensasi urat-urat penisnya yang bergesekkan dengan dinding lubang Baekhyun. Chanyeol benar-benar menggila.
Ketika membuka matanya, Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun yang menangis frustasi. Lelaki mungil itu meremas kuat sprei lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Rengekan-rengekan tetap ia keluarkan.
Chanyeol menyentuh puting Baekhyun, menyentilnya pelan. Ia tersenyum miring ketika rengekan Baekhyun semakin keras. Matanya menatap penuh napsu pada tubuh Baekhyun yang melengkung dengan dada yang membusung. Chanyeol langsung merendahkan posisi tubuhnya untuk meraup puting merah muda Baekhyun.
"Nyaaah~"
Baekhyun berteriak nikmat dengan gelengan frustasi. Ia menekan kepala Chanyeol dan menggerakan pinggulnya. Mengharapkan Chanyeol bergerak lebih cepat. Bibirnya membentuk sebuah senyuman puas saat Chanyeol ikut menggerakkan pinggulnya cepat.
Kedua kaki Baekhyun melingkar di pinggang Chanyeol. Menekan pinggang Chanyol dengan kakinya ketika lelaki itu menghentakkan penisnya didalamnya. Lubang analnya ia mainkan, meremas penis Chanyeol dengan lebih kuat. Baekhyun sudah tidak peduli jika sisi liarnya keluar. Yang ingin dirasakanya saat in hanyalah kenikmatan yang diberikan oleh Chanyeol.
Baekhyun menarik kepala Chanyeol dari dadanya, membawa bibirnya meraup bibir Chanyeol. Menghisap-hisap kedua belah bibir Chanyeol, menggigitnya juga. Tangannya meremas penisnya, membantu puncak kenikmatannya untuk segera datang.
"Aahh aahh Chanyeollie~ Aku datang uuhh~"
"Bersama sayang sssh. Aku mencintaimu."
Pandangan Baekhyun memutih ketika puncak kenikmatan menghampirinya. Karena saking nikmatnya, Baekhyun tidak menjawab pernyataan cinta dari Chanyeol. Ia merasakan Chanyeol yang menaruh dirinya disamping tubuhnya. Baekhyun langsung meringkuk memeluk tubuh tinggi Chanyeol, tanpa ada niat untuk melepaskan penis Chanyeol dari lubangnya. Ia sangat menyukai sensasi penis lemas Chanyeol yang berada dilubangnya.
"Aku lelah~" ucap Baekhyun dengan suara anak-anaknya. Ia tersenyum ketika Chanyeol mengelus surainya lalu mencium keningnya.
"Istirahatlah, Baek."
Baekhyun mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Keheningan tercipta disana, Baekhyun belum tertidur karena sangat asik mendengarkan detak jantung Chanyeol. Ia tersenyum tipis, merasa nyaman dengan Chanyeol yang memainkan rambutnya.
"Baek... Kau sudah tidur?"
"Belum, ada apa?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Baekhyun menjauhkan kepalanya dar8 dada Chanyeol. Ia menatap bingung kearah Chanyeol yang masih setia memainkan rambutnya.
"Bertanya apa?"
"Tapi kau harus menjawabnya jujur."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya, menurutnya Chanyeol terlalu bertele-tele. "Cepat katakan saja~ aku akan menjawabnya dengan jujur."
Senyuman Chanyeol entah kenapa membuat Baekhyun menjadi tegang.
"Katakan, Baek. Apa alasanmu membuat blog Bunnybtm?"
Baekhyun menahan nafasnya saat pertanyaan tersebut keluar dengan lancar dari bibir Chanyeol.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batinnya memekik panik.
.
End
.
Terima kasih untuk yang sudah mensupport cerita ini *bow.
.
.
.
.
.
.
Engga kok canda :v
.
Eh tapi selesai sampe sini aja kali ya biar greget .g
Cie cie yang naena :v hayo mana suaranya yang kemarin nagih nagih naena terus u,u nih nikmatin ya kkk. Chapter ini juga udaaaah paling panjang dari chapter chapter lainnya hehe. Btw si Baekhyun kasian amat ya, abis dikasih enak sama Chanyeol eh langsung dikasih pertanyaan panik :v
Buat mengantisipasi pertanyaan, 'kok yang pertama buat Baekhyun? Kan si Baekhyun suka share video dia nyolo' semoga kalian ngerti mksd pertama Baekhyun disini ya. Maksudnya, ini PERTAMA buat Baekhyun ngelakuin sama MANUSIA. Sama RUDAL/? Asli, bukan RUDAL mainan dari karet/dildo. Karena Chanyeol kan first love, Baekkie kkk. Paham tak?.-.
Udah ah gamau banyak omong nanti disangka norak .g
Terima kasih buat yang udah review, fave dan follow cerita ini~ aku sayang kalian semua muaaaaaaaaaah *cipuk
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kalo sempet hehe. Gutbay~
