"Satu dari sepuluh ribu, keberuntungan sesungguhnya ialah sekali lagi bertemu denganmu."

—Hinata Hyuuga, Heavenly


"HAAA?! SERIUS, NARUTO SUDAH PUNYA TUNANGAN?!"

Sai menarik tisu untuk mengelap semburan hina saliva yang menciprat wajahnya. "Iya."

Rentetan pertanyaan para wanita yang tidak percaya fakta, jauh lebih mengerikan daripada desingan peluru—ini jaminan mutu. Sai berlajar untuk memercayai itu dan memulas senyum palsu.

Mereka sedang berada di salah satu taman terindah Hokkaido, Shikisai no Oka. Taman dengan berbanjar padang bunga yang aneka warna, seperti lapis-lapis pelangi. Tepatnya, ada di sebuah kafe terbuka, menanti seseorang yang mengundang mereka untuk datang.

"Kok, kami tidak diundang?!" seru Karin, membanting meja sampai kotak tisu nyaris jatuh. "Bahkan Sasuke-kun dan Sakura tunangan saja kami diundang!"

"Dasar, si Naruto pasti tidak modal!" Ino mendengus seraya mengibaskan rambut panjang sepinggangnya. "Makanya kita tidak diundang."

"Apa karena acaranya apa adanya? Astaga, yang penting kan kami diundang datang." Tenten mengerucutkan mulut.

Sakura berdecak cemas. "Ya Tuhan ... pantas saja, Hinata memilih untuk menerima perjodohannya. Ternyata dia sudah lebih dulu tahu, Naruto akan bertunangan duluan."

Temari menoleh pada Shikamaru, mengerutkan kening. Tentu saja, ia ada sebagai istri Shikamaru dan menyaksikan semua peristiwa konyol sebulan lalu. Namun rupanya masih banyak teman-teman mereka yang tidak mengetahui perihal ini.

Shikamaru telah menginstruksikan pada semua yang diundang datang ke pertunangan Naruto, untuk tutup mulut. Tidak mungkin mereka bilang, acara perpaduan keluarga konglomerat Namikaze dan Hyuuga itu amat eksklusif.

Yang datang adalah para petinggi Jieitai, orang-orang elitis perusahaan kedua keluarga, kalangan pejabat, kolega kerja keluarga dan kerabat terdekat. Acara pertunangan itu, walau dibuka dengan kekonyolan, berlangsung mulus dan membahagiakan.

Walau tepat habis itu, Sunrise-Forces (unit Matahari Terbit) dapat telepon untuk melaksanakan misi. Mengawal Perdana Menteri Jepang yang akan mengadakan pertemuan dengan presiden para negara yang bersengketa.

"Aku ... uh, pamit ke toilet, Hinata."

Adalah ucapan penutup konyol Naruto usai pertunangan, sebelum memanjat naik tali tambang pada helikopter yang tidak mau mendarat di helipad agar bisa langsung berangkat.

Wanita-wanita itu akan marah kalau diberitahu, bahwa Naruto dan Hinata bukannya tidak mau mengundang mereka, tapi memang tidak boleh sembarang orang diundang.

Shikamaru menggeleng kecil pada istrinya, lalu menoleh malas pada teman-teman wanita yang masih merutuki Naruto. "Sudahlah, sebentar lagi juga orangnya datang."

Sakura melemaskan buku-buku jarinya dengan mata membara. "Awas saja dia! Shannarooo!"

"Naruto bilang, nanti saat pernikahan, kita semua diundang, kok," Kiba menengahi dengan cengiran setengah hati.

"Iya. Mari kita nikmati ditraktir liburan di sini! Mumpung ditraktir!" Lee mengacungkan gelas sake-nya ke udara.

"Oh, iya! Terima kasih sudah mentraktir kami liburan ke sini, Sasuke-kun!" koor sekelompok wanita itu dengan kompak.

"Akomodasi, hotel, makanan, bahkan diajak menikmati Shikisai no Oka ini dengan eksklusif, semuanya gratis!" Ino merentangkan lengan dengan bebas untuk merangkul Sai.

Karin menyundulkan gelasnya dengan gelas Sakura dan Lee. "Heh, Sakura, kau beruntung sekali sih bisa bersama Sasuke-kun, yang mau membiayaki kita ke sini."

"Itu bukan Sasuke-kun. Yang kutahu, reservasi tempat liburan kita dilakukan atas Namikaze." Sakura mengangkat sebelah alis.

"Namikaze?" Sasuke memincingkan mata, menatap Sakura yang hanya menelengkan kepala balas memandangnya. "Itu kan nama salah satu keluarga konglomerat, Namikaze Group yang merupakan pionir di bidang IT. Ini apa tidak ada yang salah?"

"Namikaze? Bukankah Naruto yang minta kita datang sebelum minggu lajangnya jelang pernikahan dan bertemu tunangannya?" Tenten ikut mengedar pandang ke sekitar. "Tapi mana orangnya? Kok, malah dia yang tidak datang-datang?"

Para anggota unit Matahari Terbit memutar bola mata tatkala Kiba dan unit Narubebe berdiri. Aduh, para partners in-crime si Nine Tailed Fox itu pasti akan berulah lagi. Well, setidaknya, kali ini untuk melakukan hal yang sama, mereka juga sehati.

Begini-begini mereka adalah para tentara yang sudah serasa saudara sedarah. Mereka yang pernah lari cuma dengan kutang dan boxer, disiksa tanpa ampun, dicelup ke air panas dan es batu, makan sedaun pelepah pisang ramai-ramai, bahkan berkubang dalam lumpur, dipanggang matahari maupun diasapi embun pagi, kucel, dekil, dikerubuti kutu bahkan maskeran pun sama-sama.

"Teman-teman, coba lihat ke arah sana," pinta Shino dengan wajah datar dikerubungi nyamuk semak. "Itu pria yang mengundang kita dan menggratiskan biaya telah datang."

Di tengah pematang dan pemisah antara selapis lurus jajaran bunga lavender, serta bunga matahari, yang dipagari semak belukar four-leaf clovers, ada sepasang kekasih yang berjalan dengan tangan bergandengan seraya tertawa.

"Pria yang mengundang kita datang adalah Namikaze Naruto, seorang Letnan Satu dari suatu unit terhebat di Jieitai dan pewaris keluarga konglomerat Namikaze, kebetulan juga alumnus Konoha High School," terang Udon dengan tenang.

Konohamaru ikut menunjuk ke satu arah yang sama. "Nah, di sampingnya itu, tunangan Namikaze Naruto. Wanita karir sukses, seorang CEO Travel Agency yang direkomendasi oleh Kementerian Kebudayaan karena konsep perjalanan yang merepresentasi Jepang, mengapresiasi tiap aspek sejarah negara kita sekelam apa pun itu, serta berbeda karena mengusung budaya Negara kita tercinta, Hinata Hyuuga."

"Enam tahun lalu, mereka pernah disandera berdua saat perang Aka no Hana." Gaara mengangguk khidmat. "Sebulan lalu, keduanya bertunangan. Seminggu lagi, mereka akan menikah."

"Biaya hotel, perjalanan, liburan kita ke sini, makan-minum, dan lain-lain, semuanya gratis dibayari oleh Namikaze Naruto karena dipaksa keluarga Namikaze serta Hyuuga untuk tidak bertugas, agar punya waktu supaya bisa bersama calon istrinya," ujar Chouji, mengangguk-angguk kalem.

"Hinata yang minta datang ke sini, kalau Naruto, dia bilang sih kemana saja boleh, asalkan bersama Hinata." Lee mengelap airmata dengan tisu dan mengacungkan tinju ke udara. "Sejatinya, kita tidak penting untuknya!"

Sai menampilkan senyum yang tampak artifisial di wajahnya. "Keduanya telah lama jadi budak cinta satu sama lain."

"Ta-tapi ... dia ... Naruto Uzumaki, 'kan?" dan bukan hanya Sakura yang kejang jiwa-raga mengetahui realita yang selama ini mereka tidak tahu.

Shikamaru ikut menunjuk ke arah yang sama, menyeringai malas. "Pria pirang yang jongkok di semak-semak sana itu, pakai marga ibunya, makanya kita tidak tahu apa-apa. Disembunyikan keluarga Namikaze karena ayahnya seorang Letjen dan keluarganya punya banyak musuh yang dengki dengan kejayaan keluarga mereka."

Mengetahui raut wajah para wanita yang drastis berubah, Sasuke menyeringai saat menambah,

"Nah, karena ternyata Naruto sudah muncul sekeren dan sekaya itu, seleranya jelas sudah bukan kalian lagi."


"Yah ... bukan four-leaf clover."

Naruto menghela napas, menjatuhkan setangkai yang ia petik asal dari pagar semak Four-leaf clover yang ia lewati dengan Hinata, di antara banjar bunga lavender dan deretan bunga matahari.

"Itu kan satu dari sepuluh ribu." Hinata memeluk lengan Naruto, tersenyum saat menunjukkan gantungan kunci yang berpendar di kancing seleret tas tangannya. "Lihat, kita punya yang tidak akan pernah menua."

Hinata memekik di sela kikik saat Naruto tiba-tiba maju dan mencuri kecupan ringan dari bibirnya. "Naruto-kun ... kenapa kau suka sekali ti-tiba-tiba melakukannya?"

"It tastes heavenly." Naruto terkekeh setelah mencium Hinata, memetik setangkai lili putih, menyelipkan rambut Hinata yang tertiup angin ke belakang telinga serta menyisipkan lili putih itu di sana.

Hinata memerah wajahnya, tidak bisa melakukan apa pun selain memahami isyarat Naruto, berjinjit untuk menaruh kecupan pelan dan dalam di pipi bergaris-garis.

Naruto melihat reaksinya, cengiran melebar saat mengeluarkan bandul kalung yang selalu ia kenakan. Tag ID berukiran Identitas aslinya, bersanding dengan gantungan kunci four-leaf clover yang pernah Hinata berikan padanya.

"Hinata, selain keempat arti yang dulu pernah kauberitahukan padaku, saat kita kencan dan lagi makan di restoran bersama Yujiro, kautahu kalau four-leaf clover punya arti lain?"

"Ada arti lain?" Hinata yang tengah memerhatikan ukiran tulisan you make my life a fairy tale, mendongak pada Naruto yang menaunginya.

Cahaya matahari terpencar dari belakang kepala pirang, dan menggelapkan wajah pria tercinta, membuat mata biru itu yang Hinata (telah memilih untuk) tak pernah bisa lupa berpendar terang.

Naruto tersenyum, menciumkan bisikan lembut pada kekasih hatinya.

"It means, I wanna be your good lover."


(from the Language of Flower, Victorian Era)

Sunflower: There's only you in my eyes.

White lily: It's heavenly to be with you.