(A/N) Uculno~ uculnoooo~ /salah

Check on the end of the chapter for more notes :)


Let it go, let it go
Can't hold it back anymore
Let it go, let it go
Turn away and slam the door
I don't care what they're going to say
Let the storm rage on
The cold never bothered me anyway.

[Idina Menzel – Let it Go]

. . .

Puas?

Warning: M for many reasons. AU. OOC possibility: positive. Non-baku. Badass!Marco. Ambigay plus. Menanjak dan menanjak. Hati-hati banyak anak alai.

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

Cover art by F_Crosser on Twitter

. . .

9. Storm

. . .

Sang pemilik dari sepasang manik karamel sedang menerawang keluar jendela. Ia melihat bagaimana kerumunan manusia melangkah di jalan mereka masing-masing, kendaraan yang berlalu-lalang menunjukkan siang hari yang sibuk—lebih tepatnya masuk jam makan siang—seperti biasa di Blok Shiganshina. Kontras dengan ruangan di mana ia berada sekarang.

Di saat teman-temannya asyik memilih menu dan meja untuk makan berbanyak di kantin sekolah, Marco memilih untuk menyendiri di dalam ruang pertemuan ber-AC milik dewan OSIS ditemani oleh sehelai pakaian terlipat rapi yang disangga di atas kedua telapak tangannya. Pandangannya lalu beralih pada pakaian itu—kini satu tangannya bergerak untuk meraba lembut pada bahan kulit mahalnya.

Levi memberikannya pada Marco saat masuk kerja tadi pagi. Marco lalu membuka lipatan pakaian itu dan terbentuklah jaket kulit cokelat sepanjang rusuk berlengan panjang dengan emblem yang tersemat rapi di bagian punggungnya.

.

"Jaga ini baik-baik."

"Sebentar—ini kan—kok bisa—?"

"Kamu pasti tahu apa artinya, kan?"

.

Sungguh benda itu membuatnya lupa akan keputusan yang telah ia tentukan kemarin sore.

"Marco?"

Yang disebut terkesiap, seketika berbalik dan segera menyembunyikan jaket itu dibalik punggungnya. Ketika ia mengetahui siapa yang memanggil, badannya kembali rileks. "O-oh... Armin."

Pemuda pendek berambut pirang bob itu mengangguk sambil tersenyum sebelum melangkah masuk. "Kok sendiri?" tanyanya.

"Ah, enggak... cuma jam istirahat ini aku lagi pingin ganti suasana. Kamu tahu dari mana kalau aku di sini?" balas Marco.

"Ya nyari lah, haha," ungkap Armin lalu duduk di salah satu kursi. "Begini... Kira-kira nanti malam kamu ada waktu?"

Marco nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Iya. Kenapa?"

"Aku, Eren dan Mikasa pingin belajar bareng di tempatmu."

Kedua alis Marco terangkat. "Hm? Bukan apa-apa, tapi... Nggak biasanya kalian mengajakku."

Armin tertawa kecil. "Ya nggak gitu juga, Marco. Sekalian main. Kita bertiga pingin nemenin kamu daripada kamu cuma sendirian di rumah."

Marco diam menatap Armin, sesekali kedua matanya berkedip. Sendirian? Meski ditinggal sang ayah ke luar kota, masih ada ibunya di rumah yang hampir setiap saat berada di kamar mengetik novel dramanya yang harus segera diserahkan pada penerbit tiga hari lagi—baiklah, mungkin tidak secara langsung, namun secara suasana Marco memang sendirian di rumah. Tapi, bukannya masih ada Jean yang suka meneleponnya bahkan sesekali memberi kejutan dengan menyelinap masuk pada malam hari lewat jendela kamarnya? Meskipun itu juga tidak setiap hari.

Ia terkikik. Ya, ia akui kesunyian menunggu waktu untuk bisa mengobrol dengan ibunya yang sedang tidak dikejar deadline dan menunggu kehadiran sahabatnya bukan sesuatu yang Marco suka. "Main aja, Armin. Jarang juga ada teman yang mau main ke rumah," kata Marco pada akhirnya.

"Oke... Nanti aku bilang ke mereka, ya. Habis makan malam bisa?"

Marco mengangguk.

"Baiklah..." Dengan itu, Armin berdiri dan melangkah menuju pintu. Sebelum ia menapakkan kakinya ke luar ruangan, Armin menoleh, "Kamu yakin nggak mau makan siang, Marco?"

Marco tak membalas, kedua remaja itu saling bertatapan. Armin nampak sedikit tersentak ketika Marco mendadak tertawa tanpa alasan. Setelah kembali tenang, sambil tersenyum ia berkata, "Halus sekali, Armin. Kamu masuk tadi bukan buat sekedar janjian, kan?"

Pemuda beriris kobalt itu membalik tubuhnya dan menatap Marco cemas. Ia amati kawannya sejenak lalu berkata dengan pelan, "Kamu mau cerita?"

Marco tidak membalas dan mengalihkan pandangannya ke samping, tak yakin apa yang harus ia katakan. "Armin... mungkin bisa tolong tutup pintunya dulu?" pinta Marco gugup.

Alis Armin meninggi sebelah, namun ia tetap melakukan apa yang diminta. Ketika Armin berbalik, ia disambut dengan kibasan sehelai jaket kulit cokelat dengan punggung yang direntangkan menghadap pandangannya—Armin tak bisa menahan kedua kelopaknya untuk tidak menganga melihat simbol macam apa yang disodorkan padanya.

Perisai perak bersayap dua yang bersilangan itu menatapnya balik.

Armin pun bingung harus bagaimana ketika Marco tersenyum padanya—yang sesungguhnya hanyalah topeng yang berusaha sekuat tenaga untuk menutupi beragam emosi yang menyatu dan berputar kasar di baliknya. Toh mata adalah cermin hati, mereka tidak pernah bohong.

"A-Armin... Aku harus gimana...?" tanya Marco lirih.

Armin menyukai sejarah. Ia percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi saat ini tak lepas dari peristiwa masa lalu. Selain membuatnya penasaran, sekolah sendiri pun ia pelajari sejarahnya.

Sebagai siswa teladan yang tak hanya mengetahui sisi putih namun juga sisi kelam sekolahnya, hal yang terlintas di benak Armin saat ini hanya bagaimana bisa emblem terlarang kebesaran geng SMA Shiganshina yang telah disimpan bertahun-tahun berada di tangan siswa macam Marco Bodt.

.

=sirupmarjan=

.

Teman-temannya tentu langsung menembakkan pertanyaan bertubi-tubi ketika jaket itu Marco tunjukkan terang-terangan di acara kumpul sore di lapangan belakang sekolah yang biasanya.

"TEMAN-TEMAN. TENANG."

Bos mereka kini tak lagi menampilkan senyum seperti biasanya, sepasang iris gelap itu melotot tajam ke puluhan wajah dihadapannya. Nada tegas Marco yang lebih sering ia gunakan ketika berhadapan dengan musuh dengan sukses membuat semuanya langsung tutup mulut.

Marco menghirup udara sebanyak yang ia bisa sebelum ia lepas perlahan untuk menenangkan diri. Ia ceritakan lengkap bagaimana jaket sakral itu berada di tangannya, termasuk menjawab pertanyaan yang diajukan mengenai Levi (yang notabene adalah ketua geng preman pelajar legendaris di masanya) yang kini tengah menjadi bodyguard yang ayahnya berikan agar putranya tak lagi menjadi korban perkelahian—heh, entah apa yang akan terjadi kalau Tuan Bodt mengetahui fakta sebenarnya. Marco tersenyum pahit ketika pikiran itu terlintas.

"Aku nggak tahu lagi harus gimana... Aku nggak tahu lagi mana yang harus kupilih," ungkap Marco, sementara satu tangan memegang kain jaket dengan lemas, wajahnya ia benamkan ke tangan satunya yang menopang pada paha. "Aku nggak tahu sampai kapan ini akan bertahan aku nggak mau membuat mereka kecewa tapi aku juga nggak mau membuat kalian kecewa—"

"MARCO!"

Marco tersentak setelah Eren yang sejak awal duduk di sebelahnya menepuk pundaknya keras. Cemas dan harapan bercampur jadi satu di wajah Eren saat itu.

"Marco, udah," kata Eren. Marco pun mengambil beberapa nafas untuk beberapa saat hingga Eren melanjutkan, "Oke, sekarang di mana Kapten Levi?"

Alis Marco terangkat satu, "Serius, Eren? Kamu menyebutnya 'Kapten'?"

"Kamu aja yang belum tahu. Kan selama kamu jadi ketua, kita belum pernah membahas tentangnya sama sekali sampai sekarang. Sekarang di mana dia?"

Ada yang berkata, "Bodyguard, ya... Perasaan selama ini kita nggak pernah lihat om-om tinggi besar pake baju serba item di sekolah. Ya, nggak?"

Satu orang yang berdiri bersandar di bawah pohon menyeletuk dengan seringai mengejek, "Masa' om-om pendek galak rambut item pake jas lengkap yang sering kelihatan di perpus itu, sih?"

"Oi, bocah kurang ajar. Aku dengar itu."

Sontak seluruh kepala preman remaja itu menoleh ke satu orang pria yang disebut tadi tengah berjalan masuk ke area lapangan dengan sepuntung rokok menggantung di antara kedua bibirnya.

Eren mendadak berdiri tegak menghadap Levi kemudian berteriak, "SEMUANYA! KEPADA KAPTEN LEVI! HORMAAAAT! GRAK!"

Dengan cekatan, tangan kanan Eren ia kepalkan erat lalu diletakkan di atas dada kiri sementara tangan kirinya mengepal di balik punggung. Yang lain pun mengikuti, hanya Marco yang kikuk sejenak sebelum melakukan hal yang sama.

Levi melangkah seakan-akan ia adalah sang penguasa—yang memang secara tidak resmi adalah demikian—masuk ke dalam lingkaran preman remaja pelajar berjaket kulit cokelat khas mereka yang berdiri menghadapnya dengan postur tegang dan gemetaran. Mendadak ia berhenti, menghembuskan kepulan asap putih dari bibirnya sebelum menyelipkan stik kecil penyebab kanker itu diantara kedua jari dan memicingkan mata, menyapu pandang kepada seluruhnya.

"Turun," perintah Levi yang kemudian dibalas dengan semua pasang tangan para pemuda itu kembali ke sisi-sisi tubuh mereka takut-takut. "Barisan macam apa ini?"

Hening. Beberapa saling menoleh. Marco menelan ludah sementara Eren menampakkan ekspresi horor di wajahnya.

"Empat baris dari sekarang. SEGERA!"

Takut babak belur dihajar atasan, puluhan remaja itu pun segera menyesuaikan diri kecuali dua pentolan tertentu yang berdiri berhadapan dengan mereka.

Levi kembali berjalan lalu berhenti tepat di depan Eren. Rasanya lucu melihat bagaimana pria mungil itu harus mendongak pada pemuda yang kurang lebih setengah dari usianya dengan badan sepuluh senti lebih tinggi darinya, sementara si pemuda nampak menciut di hadapan sorotan dua bola biru-keabu-abuan yang berkilat ala baja. Tentu orang yang masih waras memilih untuk tetap diam daripada menantang maut head-on.

"Kukira kamu tidak lupa untuk selalu merapikan pasukanmu, Eren," kata Levi dingin.

"M-m-maaf—s-s-saya tidak mengira Kapten b-benar-benar datang hari ini..." balas Eren kaku.

"Beruntung aku dipilih ayahnya jadi bodyguard bos kalian yang sekarang. Aku menjadi punya banyak waktu untuk mengawasi seluruh gerak-gerik kalian."

Marco mengalihkan arah mata ke lain tempat, menggigit bibir bawah sehingga mengundang simpati dari banyak anak buahnya.

Levi melanjutkan langkahnya ke barisan pojok paling depan—lebih tepatnya kepada seorang pemuda yang bersandar di bawah pohon tadi yang kini diciutkan nyalinya dari langkah demi langkah pria yang diduga kuat reinkarnasi dari Napoleon Bonaparte.

"Hei kau, bocah," Levi menyebut.

"I-iya, Kapten Levi?" sahut pemuda itu.

"Pernah dengar peribahasa, 'Don't judge a book by its cover'?"

"U-uh... Sering, Kapten."

"Tahu apa maksudnya, kan?"

"I-iya, Kapten. T-tapi saya rasa... ng-nggak ada satupun buku di sekitar sini—UGH!" Mendadak ia bungkam dengan Levi yang menarik kasar kerah baju si pemuda untuk menjedukkan dahinya dengan dahi malang remaja itu hingga jatuh berlutut di hadapannya.

"Kata 'maksud' berbeda dengan 'arti', dasar payah. Bodt! Periksa tanggal ganti oli otak karatan anak-anakmu ini satu per satu besok hari." gerutu Levi tanpa rasa bersalah sedikitpun, Marco hanya merespon dengan 'Iya, Kapten' dengan pelan.

Keraguan status Levi sebagai bodyguard sang ketua semakin memuncak—terutama di kalangan anak-anak baru—setelah menonton serangkaian peristiwa sore ini.

Levi berjalan kembali ke sisi Marco, membungkuk sejenak untuk memungut sehelai pakaian yang ditinggalkan begitu saja di tanah. Dengan wajah tertekuk-tekuk, ia tepuk-tepuk jaket kulit coklat yang Marco bawa tadi sebelum ia lempar pada pemiliknya dan menyuruhnya untuk segera dikenakan.

"L-Levi—maksudku, Kapten Levi..." Marco memulai, namun disela oleh Levi yang menatapnya lurus.

"Kau tahu Erwin Smith, kan?" sela Levi.

Marco memiringkan kepalanya sedikit. "... Jendral Kepolisian Nasional yang sekarang?"

Levi mengangguk dan berkata, "Dialah yang membuat dan memakai jaket yang kau pegang sekarang. Dialah yang mendirikan geng ini."

Pita suara Marco terasa tercekat. Gumaman heran dan ketidakpercayaan pun meramaikan seisi lapangan.

"Tidak semua ketua diberi kesempatan untuk mengenakan jaket itu. Sejauh ini baru dia dan aku yang pernah memegangnya. Kau tahu apa artinya, kan? Aku kira kita sudah sepakat, Marco," sela Levi pelan.

Marco tak tahu harus menanggapi apa melihat mereka memandangnya sama seperti ketika ia ditunjuk menjadi orang kedua tertinggi di Dewan OSIS di hadapan ratusan teman seangkatan serta kakak-kakak kelasnya. Rasa bersalah dan dosa besar akan dipikulnya jika ia menghapus senyuman penuh harapan dan rasa percaya dari mereka. Setengah sadar ia remas jaket kulit yang dipegangnya, menggambarkan batinnya yang kembali berkecamuk untuk membuat keputusan yang benar-benar pasti.

Oh.

.

"A-Armin... Aku harus gimana?"

"..."

"I-ini... Ini sudah terlalu berat... Aku sudah tidak tahan lagi."

"... Kalau aku jadi kamu, sih... Aku bakal mikir lagi apa yang membuatku masuk dan mau menjalani hal seperti ini. Tapi yang namanya manusia itu punya batas mereka sendiri, kan? Kalau akhirnya begini ya... mau bagaimana lagi?"

"Armin, tolonglah. I-itu—"

"Orang yang nggak bisa membuang hal yang penting bagi dirinya, nggak akan bisa merubah apa-apa."

"... A... Aku..."

"Memang kadang ada kalanya kita nggak boleh ngambil semuanya, Marco. Layaknya orang makan, kita nggak bisa ngambil semua lauk pauk untuk diri kita sendiri. Selain membuat orang lain nggak dapat bagian, itu juga mengancam kesehatan sendiri, kan?"

"..."

"Sekarang, semuanya tergantung pada dirimu sendiri... Aku percaya padamu, Marco."

.

Semua menarik nafas ketika Marco justru menyerahkan jaket itu kembali pada Levi. Pria yang jauh lebih pendek itu sempat menyorot tajam, baru mereda ketika Marco juga melepas jaket kulit cokelat polos yang melekat padanya sebelum ia jatuhkan dengan ringannya ke tanah.

"Ya... aku sendiri yang memilih jalan ini," gumam Marco pada dirinya sendiri seraya meraih kembali jaket dari tangan Levi. Dengan mulus ia masukkan kedua lengannya bergantian sebelum merapikan tanda identitas barunya. Ia lihat bagaimana wajah kawan-kawannya perlahan mencerah. Marco tatap tangan kanannya sebelum tangan itu mengepal; rasanya seperti ada kekuatan yang mengalir ke sekujur tubuhnya—sensasi yang selalu ia dapatkan ketika adrenalin berada di puncak saat dirinya berada di arena terasa jauh lebih besar.

Terserah apa kata mereka yang terjebak di dalam jurang rutinitas yang semakin lama semakin membuatnya bosan termasuk pada mereka yang enggan mencoba untuk keluar menikmati dunia yang baru.

Ketika seseorang ingin meraih sesuatu, pasti selalu ada yang harus dikorbankan, bukan?

Marco tak bisa menahan senyum yang melebar dan melebar hingga menampakkan deretan gigi-giginya.

Aku bebas.

"Marco..." sebut Eren, Marco menoleh padanya dengan senyum yang berseri-seri. Putra dokter itu hanya menatap Marco heran. "Kamu gila, ya?" komentarnya.

Marco hanya tersenyum.

"Kamu ini mikir apaan sih? Berani banget membuang jabatan dan reputasimu yang kita semua tahu kaya' gimana buat orang-orang macam kita?"

"Habis... tanpa kalian aku nggak bakalan punya pengalaman-pengalaman yang nggak semua orang punya," ungkap Marco. "Jujur, aku bahkan nggak tahu harus dari mana aku nyeritain semuanya. Yang jelas, bersama kalian itu... aku nggak bakal melupakannya sampai akhir hidupku nanti," pungkasnya.

Eren tercengang. Levi memberinya seringai kecil. Pemuda bersurai cokelat itu hanya mampu menggeleng dengan cengiran lebar sebelum menghadap ke kawan-kawannya dan berseru, "Oke, guys! Beri hormat ke Komandan Bodt! Serahkan jantung kalian!"

Serempak mereka melakukan posisi hormat yang mereka berikan pada Levi: punggung tegak, tangan kanan mengepal di dada kiri dan yang kiri mengepal di balik punggung dan tentunya wajah yang berseri-seri.

Marco benar-benar takjub, bahkan ia merasa kedua tepi matanya terasa panas. Pemuda berbintik itu menoleh ke kanan, mendapati Levi memberinya anggukan kemudian ke kiri kepada Eren.

Eren memberinya hormat dan berkata, "Kami akan terus setia, Komandan Bodt."

Sekali lagi Marco membatin akan tingkah kawan-kawannya yang berlebihan begini, tapi tak apa lah. Sambil tersenyum penuh tekad, ia menghadap kepada mereka dan memberi salut balik dengan mantap.

Aku takkan mengecewakan yang satu ini.

Semua berlangsung bahagia hingga mereka mendengar deru beberapa sepeda motor yang berhenti di luar lapangan.

"Waduh, sekarang Shiganshina modelnya macam tentara begini? Kereeen."

Seluruh pasang mata mengarah pada figur pemuda bertubuh tinggi besar berambut pirang berpenampilan ala biker yang ditemani oleh seorang pemuda jangkung bak pemain basket dan seorang wanita pirang bermuka dingin nan galak dengan penampilan yang seragam, ketiganya duduk di sepeda motor sport mereka masing-masing. Nampaknya tak seorangpun menyadari ketika Levi menajamkan pandangannya kepada trio tadi.

Marco menyapa mereka dengan semangat, "Oh! Hei, Reiner! Bertholdt! Annie!"

Eren menambah dengan wajah yang menampakkan senyum sok, "Sekedar info aja sih, SMA Shiganshina udah begini sejak jaman dahulu kala, bro."

Reiner, si pemuda kekar tadi tersenyum lebar seraya mengangguk-angguk. "Eh, ngomong-ngomong, Marco... aku belum pernah lihat yang disebelahmu itu."

"Ah, iya! Ini umm, mentorku," jawab Marco, merujuk pada Levi. "Dulu mantan ketua SMA Shiganshina juga. Kap—maksudku, uh... Levi, mereka teman-teman dari Roadrunner Titans, geng motor sekitar sini."

Levi hanya mengangguk.

"Ngomong-ngomong ada apa ke sini, bro?" tanya Eren.

Reiner menjentikkan jari. "Nah, itu dia. Sebenarnya kita cuma mau minta... konfirmasi."

"Konfirmasi...?" ulang Marco curiga sementara Levi yang berdiri di sebelahnya memicingkan mata.

"Yep. Bert, coba liatin."

Pemuda jangkung yang disebut menyeka keringat sebelum menurunkan standar dan melangkah turun. Kemudian, ia putar sepeda motor yang ia naiki tadi hingga tampak sisinya yang lain, dimana terdapat goresan putih yang cukup besar di atas permukaan bodi fibernya. Pemuda itu mendengus dan menatap geng remaja di depannya dengan kesal, jemarinya mengetuk-ketuk di atas jok—meski efeknya tak begitu mengintimidasi.

"Jadi... Sekitar satu jam yang lalu ada bocah kurang ajar yang menggores motornya Bert dengan pecahan botol kaca." Reiner memulai, desas-desus pun mulai terdengar. "Yaah singkat cerita, bocah itu kita kasih pelajaran. Terus kita interogasi, dia bilang kalau dia dari SMA Shiganshina."

Bisikan-bisikan pun mulai mengeras, beberapa pun mulai mencari oknum yang siapa tahu bersembunyi di jajaran mereka. Geng ini bolehlah kuat, namun mencari masalah duluan sudah merusak harga diri mereka.

"Bocah tadi juga bilang kalau dia disuruh bosnya," lanjut Reiner, nada bicaranya merendah.

Sepersekian detik Marco merasakan pacu jantungnya yang meningkat. "T-tunggu dulu. Ini salah paham. Satu jam yang lalu kita enggak—Levi?!" Kepanikannya memuncak ketika Levi justru menepuk pundaknya sebelum pergi keluar lapangan.

"Ayolah. Masa' kita mau bilang dia yang bikin perkara?" kata Reiner retoris, mengarah pada Levi yang melewati lalu menutup gerbang berpagar jaring yang menjadi pembatas antara lapangan dan sekolahan.

"K-kita cuma mau nanya maksud kalian apa. Serius, kita nggak akan macam-macam kalau kalian ngaku, kok," Bertholdt, pemuda pemilik motor yang dimaksud, ikut angkat bicara.

Satu-satunya wanita di situ, Annie, bertepuk tangan tiga kali. Tiba-tiba deru mesin bersama segerombolan orang berpenampilan sangar mengepung mereka dari segala arah, menciutkan nyali para remaja malang itu. "Tolong jangan buat kami melakukan sesuatu yang tidak pas untuk anak-anak seperti kalian," ungkapnya dingin.

Eren pun membela, "Nggak mungkin! Nggak bisa! Kalian juga tahu kan, kita ini gimana?!"

"K-kalau memang begitu keadaannya, beri kami waktu! Kami pastikan jika sungguh ada orang diantara kami yang melakukan itu, akan segera kami beri pelajaran!" tambah Marco.

"Hei, bukannya tadi aku juga bilang kalau bocah itu disuruh bosnya?" sanggah Reiner kesal.

"Apa—OI! AKU NGGAK PERNAH BILANG BEGITU!" bantah Marco panas.

Tak seorangpun berani bicara. Seisi lapangan begitu hening meski bunyi mesin belasan sepeda motor yang tak turut diam. Pandangan tajam membakar dari sepasang bola emas yang berkilatan melawan dalamnya dua jurang lingkaran yang begitu gelap seolah-olah menimbulkan percikan-percikan api yang timbul di antara ketegangan kedua pemimpin. Api baru mereda ketika mereka mendengar sirine polisi dari kejauhan.

"Oke. Oke, jika itu maumu," kata Reiner pelan. Ia naiki lagi sepeda motornya sebelum berkata, "Kami beri kalian tiga hari. Jika lebih dari itu, maaf... kita nggak lagi relasian, kita nggak akan lagi berteman... dan kalian akan hancur."

Roadrunner Titans. Meski lokal, mereka adalah geng motor terkuat di seluruh Distrik Maria. Bukan perkara mudah membuat geng remaja SMA Shiganshina bisa beraliansi dengan mereka, apalagi sekarang sudah hampir dua tahun keduanya menjalin hubungan dan saling percaya satu sama lain.

Sayangnya mereka bukan anak-anak yang 'sok bermain' geng seperti mereka dan geng-geng sekolah lain. Mereka geng sungguhan—sekelompok orang berbahaya yang tak jarang membuat onar. Secara sederhana: Kau berani macam-macam, habislah riwayatmu.

Maka Marco hanya bisa berdiri mematung, mengamati bagaimana trio tadi langsung menyalakan motor mereka masing-masing sebelum berlalu bersama anak-anak buah mereka. Setelah tak lagi tampak, ia tampar wajah sebelah kanannya sendiri. Perlahan jemari tangan itu menekuk dan menekuk hingga tergenggam erat.

Tak ada lagi waktu untuk bermain-main. Segera bertindak atau nyawa semuanya melayang.

"K-Komandan...?" panggil salah satu anak buahnya takut-takut.

Ketika Marco berbalik, saat itu pula aura ceria yang selalu terpancar berubah gelap. Mata cokelat gelap itu tak lagi memberi kehangatannya yang biasa—mereka yang memberanikan diri menatapnya seperti berhadapan langsung dengan lubang hitam. Tubuhnya nampak tegang, ditambah lagi perawakannya yang cukup tinggi dan berisi dari hasil gerak tubuh yang biasa menghantam sak tinju berisi pasir di rumahnya maupun yang berisi nyawa membuat nyali orang-orang di depannya menyusut. Oh, betapa 'beruntungnya' orang-orang yang berhasil melihat seorang Marco Bodt begitu marah seperti saat ini.

Apalagi, Marco yang kini tersenyum justru membuat suasana terasa makin memburuk. "Tenang. Aku bukan tipe orang yang mendatangi kalian satu-satu untuk kutanyai sambil kupukuli. Bukan. Sebelumnya, aku menaruh kepercayaan pada teman-teman kalau orang yang menggores motornya Bertholdt tadi bukan diantara kita. Sekarang, aku akan membagi kita menjadi beberapa kelompok buat berpencar mencari informasi. Tiap kelompok akan mendapat bagian tempat mencarinya masing-masing—tempatnya bisa di dalam sekolah maupun di luar. Kita akan cari sampai manapun. Usahakan sesembunyi mungkin, jangan terlalu membuka masalah yang kita hadapi. Jangan sampai orang-orang yang nggak perlu ikut campur urusan kita."

.

"Membunuh atau dibunuh. Pilih. Pilih, Marco Bodt!"

.

"Ini udah menyangkut nyawa banyak orang, teman-teman... Aku nggak yakin polisi juga bisa menghentikan Roadrunner Titans sendirian. Aku nggak peduli yang mulai masalah ini berasal dari dalam atau dari luar. Sekarang kita dikasih waktu tiga hari. Kita pakai itu baik-baik dan ketika nanti kita berhasil menemukannya..." Marco berhenti sejenak, memandang seluruh pasang mata yang menatapnya di lapangan itu dengan kobaran api yang menyala hebat.

Ia akhiri dengan, "... Kita beri dia pelajaran."

.

=sirupmarjan=

.

Minggu ini tercatat rekor baru.

Sudah tiga batang rokok ia habiskan berturut-turut dan kini ia raih batang keempatnya. Kamarnya pun dipenuhi aroma tembakau meski jendela telah terbuka lebar.

"Heh, kamu ini masih pemula. Jangan maksa, lah."

"Diamlah, Jean."

Jean memberi Marco kunjungan diam-diam lagi malam ini. Sudah jadi kebiasaan Marco untuk membukakan jendela kamarnya yang cukup besar itu sesaat sebelum makan malam agar menjadi pintu masuk bagi sahabat rahasianya. Jadi setelah Marco selesai melahap ayam goreng mentega buatan ibunya, ia langsung naik ke lantai atas dan sudah mendapati Jean yang tengah tiduran di kasurnya.

Kini keduanya duduk berhadapan di samping jendela, lampu kamar menyala terang, sebuah asbak keramik memisahkan keduanya. Marco meraih pemantiknya dan berdecak kesal mengetahui bahwa itu sudah kehabisan bahan bakar.

"Dari punyaku aja, mau nggak?" tawar Jean.

Marco nampak ragu. "Uh... kamu bawa pemantik sendiri nggak, sih?"

"Hehe, enggak. Makanya aku minta kamu terus, tadi," balas Jean sambil meringis.

Marco menghela nafas dan tertawa ringan. "Haha, ya sudahlah." Dengan itu, Marco mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyentuhkan ujung rokoknya ke bara api dari ujung rokok Jean. Sisa jarak wajah mereka tak lebih dari tiga inci, maka ketika Marco selesai secara tak sengaja ia tangkap sepasang cokelat keemasan dengan sorotan tajamnya yang khas padanya. Cepat-cepat ia mundur, tak ingin gejolak aneh itu muncul di saat yang salah.

"Kamu kacau banget hari ini," komentar Jean.

"Ada yang memakai nama gengku buat nyerang Roadrunner Titans," balas Marco cepat dan datar.

Jean nampak kaget.

Marco diam memperhatikan raut wajah pemuda bersurai dua warna di depannya dan melanjutkan, "Kita punya tiga hari buat nyari orang dan kelompoknya."

Jean memalingkan wajah ke arah jaket sakral Marco yang digantung di gantungan baju belakang pintu. "Ck. Menyebalkan,"komentarnya.

Marco tersenyum sinis. Ketika ia hendak membalas, ia mendengar pintu depan diketuk-ketuk dan suara ibunya yang menyambut ketiga tamunya yang telah janji sejak siang tadi untuk kemari.

"Itu siapa?" tanya Jean.

"Sembunyi!" seru Marco dengan suara berbisik.

"Hah? Ngapain?"

"Pokoknya sembunyi!" Kali ini Marco mendorong-dorong Jean untuk bergegas.

"Dimana?! Apa-apaan, sih—WOI—"

Marco membungkam Jean dengan menekan keras jari telunjuknya ke bibir Jean. "SSSSST! Nanti kalau udah selesai bakal kuceritain."

Marco matikan rokok-rokok mereka di asbak sebelum menarik paksa Jean ke depan sebuah lemari baju besar dari kayu di samping meja belajar. Ia buka salah satu pintunya yang berisi ruang luas untuk menggantung beberapa pakaian dan jaket kemudian Jean ia dorong masuk ke dalamnya.

Marco sisakan sedemikian senti pintu yang terbuka agar Jean bisa tetap bernafas. "Kamu di sini dulu sampai mereka pulang, oke? Nggak lama kok, paling lama dua jam mereka udah selesai," ucapnya kemudian.

Jean baru mengerti alasannya ketika melihat Marco membawa tiga remaja memasuki kamarnya; seorang remaja laki-laki berambut pirang, gadis bersurai hitam dengan fisik ala model wanita Asia beserta satu orang yang semakin membuat Jean paham kenapa ia harus bersembunyi di sini. Eren Jaeger.

Dari percakapan yang Jean terpaksa dengar, si gadis cantik bernama Mikasa dan si remaja lelaki pirang bernama Armin adalah orang luar geng yang juga mengerti kehidupan dua pentolan utama geng SMA Shiganshina itu. Ia dengarkan pula kronologi peristiwa yang membuat Marco begitu tertekan hingga memecahkan rekor seperti tadi sebelum dilanjutkan dengan belajar bersama. Nampaknya, si pirang kecil itu menjadi semacam guru les dadakan di sana.

Jean menghela nafas lega (perlahan) setelah berhasil bertahan satu setengah jam di ruangan yang sempit dan panas dalam posisi duduk dengan kaki terlipat sampai dibawah dagu. Ketiga teman Marco itu pun segera berkemas-kemas sebelum berpamitan. Marco antar ketiganya keluar, tak kembali untuk beberapa saat sebelum kembali lagi ke kamar.

"Untung nggak sampai dua jam. Iya kan, Jean?" ujar Marco lalu terkikik.

"Uhh... Yeah... Dan aku kepanasan!" ungkap Jean sebelum membuka pintu lemari persembunyiannya dan merangkak keluar. Ia ambil nafas dalam berkali-kali untuk memasok oksigen yang cukup sebelum berdiri dan melepas jaket yang dikenakannya disusul melepas kaos band-nya yang lembab.

Marco berharap bahwa Jean tak ada maksud apa-apa karena aksinya barusan telah mengembalikan semacam lompatan-lompatan listrik di perutnya. Nampaknya lompatan-lompatan itu terpicu dari bagaimana serangkaian otot lengan itu berkontraksi, butiran keringat mengerling akibat pantulan cahaya lampu ketika pemiliknya merenggangkan lengannya yang kaku ke belakang kepala sembari mengucapkan rasa leganya setelah keluar dari celah sempit tadi. Sepertinya pula arus listrik tadi membuat dari leher ke atas terasa memanas...

Sesama cowok ya biasa aja, hei!

"Nah, Marco, jadi main GT—"

Tak mereka duga pintu kamar dibuka tiba-tiba dan disusul dengan suara seseorang yang tak mereka kira akan kembali lagi, "Eeeh, sori, Marco! Lihat buku tulis—"

Waktu terasa berjalan begitu lambat. Mata mereka membulat horor melihat bagaimana sepasang bola turqoise itu menajam disertai aura membunuh yang semakin lama semakin kuat.

"Ngapain Muka Kuda Brengsek ini di sini?" desis Eren.

Jean kini juga menyorot Eren begitu intens, siap maju kapanpun ia mau. "Jaeger..." geramnya.

Untuk sementara ini, Marco hanya mampu menelan ludah.

# # # # # TBC? # # # # #


(A/N)

Marco's moved on. /eh

Kenapa endingnya jadi sinetron begini-

Errr ini udah berapa lama ya? *dihajar readers*
Ehehehehehee maafkan saya update fic ini jadi superrr lama- saya kena writer block disela-sela 'nggodhog' fic ini dan ke-switch ke art-mode kelamaan ditambah tugas-tugas kuliah ya jadinya begini /bobokan

Dan akhirnya bisa nulis sampe dua belas halaman MS Word yeeeaaahooo 8D

Niatnya saya update pas liburan semester kemarin tapi karena ada project mendesak ya udahlah ngalah dulu ( ;_;)... yang jelas makasih semuanya buat yang udah nyempetin review di chapter kemarin, ada Ai-Kazoku06, Quniharada, Naoka Izashi dan cloudmaker, matur nuwun! Kalau bukan karena kalian mungkin saya bakal lupa terus buat update fic ini :')

Sekedar info aja sih, tumblr saya ganti URL *didepak* jadi [f-X-er. Tumblr .com], jadi temen-temen yang mau ikutan main (dan mungkin nyetok Sirup MarJan lebih banyak? Eheee~), monggo silahkan mampir! :D

Dan ya, Marco nampaknya sudah mulai lupa... Sampai kapan ia akan bertahan?

Mohon kritik/saran/review-nya. Saya masih belajar. :)