Title : Destiny Chapter 10
Genre : Friendship
Rating : Fiction T
Cast : Kyuhyun dan Changmin
Disclaimer : All them belong to themselves and GOD.I own only the plot.
Warning : Typos, Geje , If read don't bash please. Kalau saran dan masukan saya terima.
Summary : Mianhe, belum ada
.
.
.
DESTINY
命運線
歌詞
(Side story of Falling Star & Rising Star)
Chapter 10
.
.
3 Juni 2010
.
[Operasi Kyuhyun sudah selesai dan prosesnya berjalan lancar. Saat ini dia berada dalam perawatan salah satu rumah sakit di Gangnam, Seoul. Kemungkinan Kyuhyun sshi bisa keluar dari rumah sakit pada hari Minggu, tergantung kemajuan kondisinya.]
.
Changmin mendengus kesal membaca berita tentang operasi Kyuhyun. Staff SM membuat pengumuman kepada wartawan dan sepertinya Changmin satu-satunya orang yang tidak tahu tentang hal itu. Ia bertanya-tanya apakah Kyuhyun sudah memberitahunya tetapi ia tidak mengacuhkan, atau Kyuhyun memang benar-benar tidak memberitahunya. Meski begitu, Changmin merasa tenang mengetahui operasi sudah berjalan lancar. Setidaknya perasaan cemasnya tadi menghilang dengan cepat.
Mobil mulai memasuki halaman rumah sakit. Changmin mencari posisi parkir yang menurutnya cukup aman dari pandangan orang banyak, lalu mulai mematut dirinya di cermin. Staff SM sudah menyembunyikan nama rumah sakit tempat sahabatnya dirawat. Ia tidak mau kehadirannya di sini membuat fans yang curiga menjadi yakin, lalu mulai berusaha memotret Kyuhyun diam-diam.
Setelah memastikan penyamarannya sudah cukup, Changmin turun dari mobil. Ia bersyukur menyimpan nomor orang tua Kyuhyun. Kalau tidak, sepertinya sulit untuk menanyakan keberadaan sahabatnya. Pihak agensi melakukan pengamanan agar posisi Kyuhyun tidak diketahui. Berkat ijin yang diberikan Kim Hanna, Changmin bisa melewati penjagaan dengan mulus. Changmin bergerak setenang mungkin agar tidak mengundang kecurigaan orang yang berlalu lalang di rumah sakit itu.
"Changmin sshi." Sebuah sapaan hangat yang akrab di telinganya membuat Changmin urung membuka pintu ruangan di mana Kyuhyun di rawat. Ia menundukkan sedikit tubuhnya sehingga Kim Hanna bisa memeluknya dengan mudah.
"Eommonim, bagaimana keadaan Kyuhyun-ah?"
"Operasinya berhasil. Tadi dia sudah sadar, tapi Uisa bilang Kyuhyunie belum boleh dikunjungi." Kim Hanna melirik ke arah jam tangannya dan tersenyum. "Setengah jam lagi kita boleh masuk. Ah, sebentar, Kyuhyunie menitipkan sesuatu untukmu."
Kim Hanna mengangsurkan sebuah kantung kertas. "Kyuhyunie pesan, agar aku memberikan ini untukmu, Changmin sshi."
Changmin membuka kantung kertas itu dan melongok isinya. Seketika itu juga wajahnya memerah. Kim Hanna yang merasa penasaran dengan reaksi Changmin, ikut melongok ke dalam kantung kertas.
"Tissue toilet? Changmin sshi, lain kali kalau kehabisan tissue toilet, kau bisa menitip pesan padaku. Aku akan membelikannya" kata Kim Hanna dengan wajah polos dan bersungguh-sungguh.
Changmin tidak tahu seperti apa wajahnya saat ini. Ia hanya sanggup menggumamkan ucapan terima kasih.
.
.
Duduk di sebelah ranjang rumah sakit seperti ini, Changmin tidak mau berhitung berapa kali ia melakukannya, dan betapa bosan ia melakukan hal yang sama ini. Memiliki sahabat seperti Kyuhyun membuatnya lagi-lagi terdampar dalam situasi yang tidak menyenangkan untuknya. Lemah? Penyakitan? Sial? Changmin meringis mengingat kata-kata yang kadang digunjingkan orang untuk membicarakan sahabatnya.
Dulu ia merasa sangat marah setiap mendengar kata-kata itu. Ingin rasanya menghajar wajah-wajah yang mencibir sahabatnya kalau ia tidak ingat wajahnya sendiri yang akan terpampang besar-besar di media massa.
"Jangan marah dengan apa yang mereka katakan. Itu hal yang sebenarnya kan?" Changmin masih ingat Kyuhyun tersenyum begitu hangat saat menghiburnya. "Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dipikirkan ataupun dikatakan orang lain. Lagipula aku memang mudah sekali sakit. Aku sendiri berpikir, ada masa-masanya kondisiku begitu memalukan. Begitu rapuh sehingga jika tersenggol sedikit saja, aku akan jatuh."
Changmin membelalakkan matanya melihat Kyuhyun tertawa begitu ringan.
"Kau tahu, Changmin-ah, aku bisa tertidur di mana saja, bahkan sehabis aku tertawa jika tubuhku sudah begitu lelah. Aku bisa membayangkan bagaimana wajah kalian ketika tiba-tiba menemukan aku tertidur sehabis berbicara."
Kyuhyun semakin tergelak sementara Changmin hanya bisa mendesah kesal.
"Tetapi kau sama sekali tidak lemah! Kau juga bukan orang yang sial!"
Changmin tetap merasa marah. Ia tahu, ia yakin orang-orang yang mengenal sahabatnya juga tahu, betapa kuatnya Kyuhyun yang sebenarnya. Sahabatnya itu memiliki mental terkuat dari semua orang yang dikenalnya.
"Tentu saja. Aku juga orang paling beruntung karena memiliki kalian semua. Terutama memiliki kau sebagai sahabatku, Changmin-ah."
Kata-kata Kyuhyun membuat Changmin tertegun. Dipandangnya sahabatnya itu. Wajahnya terasa panas melihat Kyuhyun tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Aku… aku juga merasa beruntung memiliki sahabat sepertimu, Kyuhyun-ah."
Changmin menghela napas. Pikirannya kembali ke saat ini, salah satu saat paling menjemukan di dalam hidupnya, menunggu sahabatnya membuka mata setelah pengaruh obat bius menghilang.
Ah tidak, kali ini Kyuhyun hanya tertidur. Operasi kecil yang dijalani tadi pagi hanya membius sahabatnya sebentar saja. Bahkan selang infus yang digunakan selama operasi berlangsung, tidak lagi menusuk pergelangan tangan yang kurus itu. Tetapi Kyuhyun akan mengalami disorientasi selama beberapa jam, kata Kim Hanna; Itulah sebabnya uisa melarang Kyuhyun langsung dikunjungi. Kyuhyun tertidur selama sendirian di dalam kamar, dan masih tertidur ketika Kim Hanna dan Changmin diperbolehkan masuk sejam yang lalu.
"Biar aku yang menungguinya, eommonim." Changmin menawarkan diri saat Kim Hanna harus pergi karena suatu urusan. Ia hanya bisa tersenyum miris ketika Ibu sahabatnya menanyakan apakah ia tidak memiliki jadwal hari itu. Changmin menggeleng dan ia bersyukur Kim Hanna tidak bertanya lebih lanjut.
Namja itu mendesah pelan. Pikirannya melayang ke masa lalu, masa-masa di mana ia begitu disibukkan oleh jadwal. Sekarang, di saat semua kesibukan itu terhenti mendadak, Changmin jadi memiliki banyak waktu untuk berpikir ulang tentang kehidupannya.
"Tahun 2007 ini adalah tahun yang paling berat untukku." Changmin teringat kata-kata Kyuhyun sewaktu dirawat begitu lama di rumah sakit. "Tetapi ini juga tahun yang paling terberkati, Changmin-ah. Meski terbaring di rumah sakit tidak sama dengan beristirahat, aku jadi memiliki waktu banyak untuk berpikir. Aku mengingat kembali apa yang sudah aku lakukan setahun belakangan ini; dan berpikir tentang hubunganku secara pribadi dengan orang lain; Aku juga menghabiskan lebih banyak waktu bersama kedua orang tuaku. Meskipun aku kehilangan banyak hal, tetapi banyak juga yang aku peroleh. Dan aku merasa bersyukur, dengan kejadian ini, aku menyadari hal-hal penting yang selama ini sempat aku abaikan. Aku akan berusaha hidup lebih baik. Jadi jika waktuku tiba untuk kedua kalinya, aku tidak akan memiliki penyesalan lagi seperti kemarin."
"Aku juga tidak mau hidup dengan penyesalan lagi…," gumam Changmin.
Pandangannya mengabur ketika mengingat ketiga hyung-nya yang tidak lagi bersamanya. Begitu banyak kata-kata maupun tindakan yang ingin ia lakukan bersama mereka, tetapi kondisi saat ini tidak memungkinkan. Di sudut hatinya, Changmin merasa sebuah penyesalan yang dalam. Menyesal bahwa semua itu tidak dilakukannya saat mereka masih bersama-sama. Mereka begitu dekat sehingga ia tidak pernah berpikir bahwa suatu saat perpisahan akan terjadi.
Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan Changmin untuk menyadari bahwa Kyuhyun sudah membuka matanya. Yang ia tahu, ketika ia mencoba memandang wajah Kyuhyun, mata sahabatnya itu sudah terbuka.
"Kau datang untuk menjenguk atau melamun?"
Suara Kyuhyun masih terdengar seperti orang mengantuk. Sepasang mata hitamnya menatap Changmin sambil membentuk smirk yang menyebalkan. Smirk yang begitu tipis, namun sinar mata Kyuhyun sudah menyiratkan bahwa namja yang masih terbaring lemas itu tengah tertawa.
Kyuhyun menyentuh pelan telinga yang habis dioperasi sebelum Changmin sempat mencegahnya. Tangannya menyentuh sebuah bantalan kecil dari kasa yang menutupi telinga. Tanpa berkata apapun, mata Kyuhyun kembali melihat ke arah Changmin yang sedari tadi terdiam. Changmin memandangnya dengan wajah merengut.
"Wajahmu jangan seperti itu, ini hanya operasi kecil," kata Kyuhyun, nyaris seperti bisikan.
"Kau tidak memberitahuku?"
"Sudah kubilang ini hanya operasi kecil. Dalam tiga hari aku sudah boleh keluar dari sini." Kyuhyun tersenyum tipis. Ia mengerjapkan matanya yang masih terasa berat untuk dibuka.
"Jadi kau tidak memberitahuku!" Changmin kini mengajukan protes. Sejak awal ia meragukan dugaannya sendiri. Jika Kyuhyun memang sudah memberitahunya tentang operasi ini, Changmin tidak mungkin mengabaikannya. Dan itu menjelaskan kenapa Kyuhyun memberinya tissue toilet. Kyuhyun tahu Changmin akan merasa sangat marah.
"Kondisimu.…"
"Kau tidak memberitahuku!" Changmin mendesis, menahan suaranya tetap serendah mungkin. Tetapi wajahnya sudah memerah karena kekesalan yang menumpuk. "Intinya adalah kau tidak memberitahuku, Kyuhyun-ah! Bahkan kalaupun aku sedang sekarat, kau tetap harus memberitahuku!"
Kyuhyun menautkan kedua alisnya dan memasang mimik lucu. "Apa itu tidak berlebihan? Hanya sebuah op…."
"Aku akan memberitahumu apapun! Bahkan jika aku disengat seekor lebah, aku juga akan memberitahumu!"
"Bagaimana jika ada kecoa di kamarmu?"
"Itu juga!" jawab Changmin cepat. "Kenapa memberiku tissue toilet eoh? Kau tidak tahu seperti apa wajahku ketika menghadapi niga eomma?!"
Kyuhyun tak dapat menahan tawanya lagi. Ia tergelak hingga meringis kesakitan. "Aigoo, Changmin-ah, kau ini…."
"Ya! Jangan tertawa jika itu menyakitimu!" Changmin memandang Kyuhyun dengan cemas. "Kau pikir aku pelawak eoh? Aku ini sedang marah, Kyuhyun-ah; Aku tidak sedang melawak! Jadi berhentilah tertawa!"
"Kau sudah melawak sejak perkenalan pertama kita." Kyuhyun tetap tertawa meski sambil meringis.
Changmin semakin merasa cemas dan duduk di sisi tempat tidur. Ia mencoba menepuk-nepuk sahabatnya agar tidak terus tertawa. Pandangan khawatir itu membuat Kyuhyun perlahan bisa mengendalikan tawanya. Ia kini hanya tersenyum lebar melihat wajah Changmin yang menurutnya begitu lucu.
"Bisakah kau berhenti mencemaskanku, Kyuhyun-ah? Aku memang berjanji akan menerima caramu yang seperti ini. Tetapi, bisakah kita seperti sahabat yang lain? Yang membagi semua kesusahan masing-masing? Sikapmu yang seperti ini membuatku semakin khawatir."
Kyuhyun memandang Changmin beberapa saat sambil berpikir. Akhirnya ia tersenyum.
"Changmin-ah, aku memang seperti ini. Tetapi jika hal itu bisa membuatmu senang, baiklah. Aku akan berusaha mengatakan apapun kepadamu."
"Benarkah?" Seketika itu juga wajah Changmin menjadi cerah. Ia sangat gembira mendengarnya.
"Tentu saja benar." Kyuhyun mengangguk mantap.
"Coba!" Changmin menatap penuh semangat. "Sekarang katakan sesuatu kepadaku."
"Sekarang?" Kyuhyun tersenyum lebar melihat Changmin yang sangat antusias.
"Tentu saja sekarang!" Changmin mengangguk. "Ceritakan apapun kepadaku, hal yang tidak akan kau ceritakan sebelumnya."
"Baiklah." Kyuhyun menegakkan posisinya. Changmin dengan sigap membenarkan posisi bantal sehingga Kyuhyun bisa bersandar dengan nyaman.
"Nah, sekarang katakan." Changmin menunggu sambil tersenyum begitu lebar.
"Aku…"
"Ne?"
Kyuhyun memperhatikan senyum Changmin yang begitu lebar. Sudah bertahun-tahun ia melihat senyuman itu, namun baru kali ini Kyuhyun mengalami perasaan aneh terhadap senyuman itu. Posisinya yang duduk di tempat tidur; Changmin yang menatapnya dengan antusias sambil tersenyum lebar; Kyuhyun merasa pernah mengalaminya.
"Kyuhyun-ah? Kau melamun?"
Suara Changmin membuatnya kembali tersadar dari lamunan. Setelah tersenyum sebagai permohonan maaf, Kyuhyun melambaikan tangannya, memberi kode agar Changmin mendekat. Changmin dengan antusias mendekatkan telinganya kepada Kyuhyun.
"Aku menyukai game."
Perlu beberapa detik untuk Changmin mencerna bisikan itu, sementara Kyuhyun sudah menarik kembali posisi tubuhnya dan tersenyum.
"Ya!" Changmin berdiri sambil menghentakkan kakinya dengan kesal. "Semua orang juga tahu! Apa itu kau sebut rahasia antar sahabat eoh?"
"Aku tidak pernah mengakui hal itu di wawancara. Aku selalu mengelak soal itu." Kyuhyun kembali tertawa melihat wajah Changmin merengut. "Ini pengakuan pertamaku, dan kau yang mendengarnya. Arrachi?"
Changmin berpikir sejenak dan mulai mengakui kebenaran kata-kata Kyuhyun. Baik di radio, televisi, maupun di interview lainnya, Kyuhyun tidak pernah mengakui secara terus terang kalau ia menyukai game. Ia selalu bilang 'hanya kali ini bermain game' atau 'aku mengisi waktu luang dengan membaca buku'. Meski tidak sepenuhnya bohong mengenai buku, tetapi Kyuhyun jauh lebih menyukai bermain game.
"Baiklah, aku terima." Changmin duduk kembali dengan sedih. Ia merasa perasaan senangnya tadi menguap entah ke mana. Tapi ia juga tidak bisa protes karena Kyuhyun sudah berterus-terang kepadanya, meski bukan sesuatu hal yang baru bagi Changmin.
"Aku ingin melihatmu kembali ke panggung."
Tiba-tiba Kyuhyun berbicara dengan serius, membuat Changmin menoleh dan kehilangan kata-kata. Mata Kyuhyun memandang begitu lurus, sehingga Changmin merasa itu sebuah perintah daripada sebuah permintaan.
"Aku ingin melihatmu membuat album baru, melakukan promo ke mana-mana, setelah itu kita akan berduet dan melakukan battle dance. Kau mau berjanji, Changmin-ah? Tidak ada yang boleh membuatmu berhenti bernyanyi. Aku menganggapmu sebagai rival selain sebagai sahabat. Dan aku tidak ingin kehilangan saingan terberatku. Jadi berjanjilah kita akan tetap bersaing."
"Aku…." Changmin menundukkan kepalanya. "Pihak SM sudah mengirimkan surat, mengundang ketiga hyung-ku untuk datang dan bergabung kembali. Sampai saat itu, aku hanya bisa berlatih dan berlatih seperti kemarin."
Changmin meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya dengan erat. "Entah bagaimana caranya, aku akan tetap berada di jalanku. Aku tidak akan meninggalkan sahabatku sendirian di jalan ini. Aku akan terus berjalan dan bersaing denganmu."
"Jika kau kembali dengan album baru, saat itu aku akan…"
Tiba-tiba pintu terbuka. Dua orang namja yang tinggi dan berwajah tampan masuk sambil membawa berbagai macam makanan.
"Annyeong, Kyuhyun hyung." Minho meletakkan barang-barang yang dibawanya lalu memeluk Kyuhyun. "Kalau hyung sudah sembuh, kita makan-makan yang lebih banyak dari ini, arrachi?"
"Ini saja sudah banyak." Kyuhyun memandang kotak-kotak makanan yang ditumpuk oleh Minho, sementara Changmin sibuk mengaturnya untuk bisa dimakan bersama-sama.
"Bagi Changmin hyung, jumlahnya masih sedikit. Aku tidak tahu Changmin hyung akan datang."
"Ya! Apa maksudmu, Minho-ah?" Changmin menjitak pelan kepala Minho. Namja itu menatap tajam kepada sahabatnya. "Kau memberitahu mereka, tetapi tidak memberitahuku eoh? Kyuhyun-ah, kau benar-benar…."
"Kyuhyun hyungnim…"
Panggilan yang lembut dan nyaris tidak terdengar itu memotong kata-kata Changmin. Mereka semua mengarahkan perhatian kepada sosok Jonghyun CN Blue yang sedari tadi berdiam diri. Dengan wajah sedikit tersipu karena semua orang memandangnya, namja itu maju dan duduk di kursi yang tadi ditinggalkan Changmin.
"Aku khawatir waktu tahu hyung akan menjalani operasi. Syukurlah semua sudah berakhir dengan baik." Jonghyun mengangsurkan beberapa buku. "Ini buku-buku yang menarik tentang perjalanan ke luar negeri. Aku membelinya karena hyung menyukainya."
Kyuhyun membaca judul-judul buku itu dengan wajah gembira. "Jepang. Yunani. Ah ini benar-benar bagus. Gomawo, Jonghyun-ah."
"Aku senang kalau hyung menyukainya." Jonghyun tersenyum.
"Aish! Jonghyun-ah, bisakah kau menghilangkan sikap malu-malumu itu? Kau memang member baru Kyuline, tetapi sikapmu seperti….seperti orang yang pertama kali bertemu kekasihnya. Dan itu cuma kau lakukan pada Kyuhyun-ah."
"Itu karena aku sangat mengagumi Kyuhyun hyungnim," jawab Jonghyun terus terang hingga Changmin kehilangan kata-kata.
"Pantas, Kyuhyun-ah hanya bilang 'Kau memiliki banyak kemiripan denganku. Sekarang kau akan menjadi member Kyuline'…. kau langsung bergabung tanpa bantahan apa-apa."
"Changmin-ah, bukankah kau yang bilang, 'Jonghyun CN Blue memiliki penampilan bagus. Ajak dia masuk Kyuline'?" Kyuhyun melempar pandangan menegur kepada Changmin yang berusaha menggoda Jonghyun. "Seharusnya kau berterima kasih karena Jonghyun-ah menerima ajakanku."
Jonghyun memandang Changmin yang merengut sambil tersenyum lebar.
"Kyuhyun hyung juga hyung no 1 buatku," celetuk Minho. Ia berpindah duduk di sisi lain tempat tidur Kyuhyun, memandang Kyuhyun dengan mimik wajah yang menggemaskan sehingga Kyuhyun tertawa sambil mengacak rambutnya.
"Terima kasih, Jonghyun-ah, Minho-ah."
"Ne, ne…. Kyuhyun-ah memang yang terbaik." Changmin mendengus kesal. "Seharusnya aku tidak membuat Kyuline. Aku merasa cemburu sekarang."
"Kenapa? Bukankah Changmin-ah milikku?" goda Kyuhyun, membuat Changmin lagi-lagi kehilangan kata-kata.
Ketiga namja lainnya tergelak melihat Changmin yang salah tingkah. Namun beberapa detik kemudian Changmin tersenyum senang melihat Kyuhyun tampak begitu gembira dikelilingi Minho dan Jonghyun yang sibuk bercerita tentang kegiatan mereka.
.
.
Changmin memasukkan koin ke dalam mesin penjual minuman yang ada di salah satu lorong rumah sakit. Tadi sore ia kembali mengunjungi Kyuhyun setelah memutuskan akan bermalam di rumah sakit untuk menemani sahabatnya. Ia tidak ingin Kyuhyun merasa kesepian. Meski Kyuhyun tidak bercerita apapun, Changmin tahu Kyuhyun merindukan hyungdeul-nya dan berharap mereka mengunjunginya. Tetapi mereka berdua tahu jadwal promo Super Junior sangat padat.
Sudah lewat tengah malam…. Sepertinya mereka tidak akan datang…. Changmin melirik jam dinding yang bertengger di dekat mesin minuman. "Sebaiknya aku membawakan minuman hangat untuk Kyuhyun-ah."
Baru saja Changmin memilih minuman untuk Kyuhyun, sesosok tubuh yang tidak asing baginya tampak berbelok menuju koridor tempat kamar Kyuhyun berada. Tanpa mempedulikan minuman yang sudah keluar, Changmin berlari hingga ke ujung, mencoba melihat sosok tadi dengan lebih jelas. Namja itu tersenyum lebar saat mengenali punggung orang yang berjaket merah dengan celana motif mencolok itu. Kedua tangannya penuh dengan berbagai kantung yang Changmin duga berisi makanan dan minuman.
"Aku akan mencari makan di luar supaya mereka bisa bebas bercakap-cakap."
Setelah mengambil minuman hangat yang dibelinya tadi, Changmin berjalan ke luar rumah sakit dengan perasaan gembira.
.
.
Heechul membuka pintu kamar tempat Kyuhyun dirawat begitu saja, sama sekali tidak berhati-hati agar tidak membangunkan dongsaengnya. Wajahnya tersenyum lebar saat sepasang mata memandangnya dengan heran.
"Heechul hyung?" Kyuhyun langsung menegakkan posisi duduknya.
"Sudah kuduga kau menunggu kami." Heechul mengembangkan smirk-nya. "Bukankah semua yang paling terkenal harus muncul belakangan? Kau setuju, Kyuhyunie?"
Kyuhyun tertawa melihat Heechul mengibaskan rambutnya. "Milky skin white Kim Heechul memang seperti itu."
"Ya! Magnae jelek! Kau harus memanggilku hyung!"
"Arra…arra… Heechul hyung yang cantik sekaligus tampan, hyung adalah bintang utama malam ini."
"Itu baru bagus."
Heechul mengambil kursi di sisi Kyuhyun dan duduk. Ia meletakkan isi tas yang di bawanya ke pangkuan Kyuhyun. "Aku bertanya kepada uisa tentang makanan dan minuman apa yang bisa kau makan. Hanya alkohol dan makanan yang menimbulkan bersin yang dilarang. Kau bahkan tidak diinfus."
"Aku hanya operasi kecil, hyung," kata Kyuhyun sambil membuka salah satu kotak pizza. Ia langsung mengambil sepotong dan memakannya dengan lahap. Ia tidak menyadari Heechul diam-diam tersenyum melihatnya.
"Kalau aku tidak datang, sampai kapan kau menunggu?"
"Heechul hyung pasti datang. Bukankah begitu?" Kyuhyun mengambil lembaran pizza selanjutnya. Perutnya benar-benar terasa lapar. "Hyung dari Yongstreet?"
Heechul mengangguk. "Kami sempat minum-minum dahulu karena ada kru yang berulang tahun. Setelah itu baru aku ke sini. Ya! Jangan terlalu bersemangat!" Heechul mengambil tissue dan menghapus saus yang tercecer di mulut sang magnae. "Apakah masih terasa sakit?"
"Tidak sama sekali." Kyuhyun sibuk mengintip makanan apa saja yang dibawa Heechul. Kini ia mengambil semangkuk bibimbap.
"Kyuhyun sshi harus beristirahat selama 3 hari di rumah sakit dan 3 minggu untuk pemulihan. Telinganya masih akan terasa sakit sampai 2 minggu setelah operasi bahkan lebih, tergantung kecepatan pemulihannya. Tetapi telinga kadang tidak bisa merasakan sakit. Sebagai gantinya, kepalanya akan mengalami pusing yang hebat. Hindari dia dari apapun yang memicu tertawa keras dan bersin, baik situasi maupun makanan. Ia masih belum boleh bergerak dengan tiba-tiba atau mengalami guncangan."
Heechul memandang Kyuhyun yang bersikap biasa-biasa saja sambil mengingat keterangan uisa tadi. Sebelum berkunjung ke kamar, Heechul memilih mencari dokter untuk menanyakan segala hal yang perlu ia ketahui tentang Kyuhyun. Ia tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa membahayakan kesembuhan magnae-nya. Ia juga ingin member lain dan manager mengetahui apa yang harus mereka ketahui untuk menjaga Kyuhyun.
"Jangan terlalu keras tertawa."
Kyuhyun tertegun mendengar kata-kata Heechul hingga tangannya berhenti menyuap.
"Dan jangan bilang tidak sakit jika kau merasakan sakit."
"Arraseo, hyung," jawab Kyuhyun.
Untuk beberapa saat Kyuhyun tidak berbicara lagi. Ia hanya mendengarkan cerita Heechul sambil menyantap makanan yang dibawakan. Ketika Kyuhyun hendak membuka sebuah kaleng minuman, Heechul mengambil alih.
"Ingat, kau tidak boleh terguncang tiba-tiba." Heechul menyerahkan kembali minuman yang sudah terbuka itu.
Kyuhyun menggembungkan pipinya dengan kesal. "Hyung, kau terlalu paranoid. Membuka minuman kaleng tidak akan membuatku terguncang. Apalagi minuman ini tidak mengandung alkohol. Hanya jus buah."
"Kalau aku bilang tidak boleh, artinya tidak boleh."
Kyuhyun memilih diam dan meneguk habis minumannya. Ia kembali mendengarkan cerita Heechul yang memiliki begitu banyak teman baik lelaki maupun perempuan, dari agensi yang sama maupun berbeda. Pengalaman Heechul selalu menarik baginya, apalagi cara Heechul bercerita begitu ekspresif. Sesekali Heechul memarahinya jika Kyuhyun tertawa, namun di sisi lain Heechul selalu menceritakan sesuatu dengan begitu lucu.
"Hyung, meski kelihatannya kau membenciku dan sangat menakutkan bagiku; Namun setiap aku berada di rumah sakit, hyung pertama yang menengokku adalah Heechul hyung," kata Kyuhyun ketika sekali lagi Heechul memarahinya karena tertawa, dan memandangnya dengan perasaan cemas yang terlihat jelas. "Apa kau hanya peduli padaku jika aku sakit?"
"Apa aku terlihat seperti itu di matamu?" Heechul mendelik.
Kyuhyun mengangguk.
"Kau takut padaku?"
Kyuhyun lagi-lagi mengangguk.
"Ya! Kim Kyuhyun! Aku tidak percaya!" Heechul nyaris mencubit kedua pipi Kyuhyun dengan gemas, seandainya bantalan kasa di telinga Kyuhyun tidak menyadarkannya. "Kau tidak pernah menuruti kata-kataku; Jadi mana mungkin kau takut padaku eoh?"
"Aku benar-benar takut padamu, hyung," jawab Kyuhyun mencoba meyakinkan. "Hanya saja, mulutku lebih cepat dari otakku ketika melawanmu."
"Ck." Heechul berdecak. Ia mengacak pelan rambut Kyuhyun, berhati-hati agar tidak membuat kepala Kyuhyun terlalu keras bergoyang. "Mengenai apa yang kau katakan tadi, itu karena aku pernah tinggal lama di rumah sakit…."
"Saat kecelakaan mobil 4 tahun lalu?"
Heechul mengangguk. "Berbaring di rumah sakit itu rasanya sangat menyedihkan; Membuat frustasi; Apalagi ketika merasakan sakit sendirian. Karena itu, aku selalu senang meluangkan waktu untuk mengunjungimu di rumah sakit."
"Aku tidak suka menginap di rumah sakit, hyung! Kau tidak perlu menunggu aku masuk rumah sakit untuk mempedulikanku." Kyuhyun merajuk.
Heechul tergelak, mengelus rambut Kyuhyun dengan sayang.
"Mungkin karena kita di beberapa sisi sangat sama dan sekaligus sangat berbeda di sisi lain, maka aku terlihat membencimu." Heechul menghela napas panjang. "Mianhe, Kyuhyunie. Saat debut, kau masuk di saat yang sangat tidak tepat. Saat itu emosiku sangat tinggi dan aku sangat kecewa dengan segala sesuatunya. Bergabungnya kau dengan kami membuat semuanya meledak."
Sebuah senyuman terukir di wajah namja yang cantik sekaligus tampan itu. "Tetapi kau tidak pernah membenciku untuk apapun yang aku lakukan dan katakan."
"Kata eomma, jika seseorang membenci kita, kita harus menyayangi orang itu lebih banyak lagi. Tidak ada gunanya membalas kebencian dengan kebencian bukan? Eomma yakin kalau perasaan sayang jauh lebih kuat dari benci."
"Kau mempercayainya?"
"Aku mempercayainya." Kyuhyun tersipu. "Apakah itu terdengar aneh?"
"Tidak. Sama sekali tidak." Heechul tersenyum. "Hyung harap kau segera pulih dan keluar dari rumah sakit. Setelah itu, Hyung akan lebih sering mengajakmu keluar bersama."
"Benarkah?" Kyuhyun memandang penuh harap.
"Ne. Meski kau tidak berada di rumah sakit, hyung akan menjagamu dengan baik."
"Berdua saja? Tidak bersama Hong Ki-ah?"
"Kau ini cemburuan sekali." Heechul tergelak. "Ne, hanya kita berdua. Kau harus segera sembuh, arrachi?"
Kyuhyun mengangguk penuh semangat hingga Heechul memarahinya. Ia sedikit tersipu ketika Heechul menarik bantal yang dijadikan tempatnya bersandar; menepuk bantal itu hingga kembali ke bentuk semula; lalu menyelipkannya di antara punggung Kyuhyun dan kepala tempat tidur. Kyuhyun merasa jauh lebih nyaman.
"Hyung, kenapa kau memperhatikanku seperti ini?"
"Bukankah kau juga melakukan hal yang sama bagi kami?" tanya Heechul. Ia mulai menyingkirkan kemasan-kemasan makanan dari sekitar mereka, dan membuangnya ke tempat sampah.
"Apa kalian sebenarnya tidak seperti ini?"
Heechul kembali duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur. Namja itu meringis. "Kau dengar sendiri apa yang Sungie ceritakan di SSTP kan? Waktu sebelum debut, Sungie terkapar 15 hari di rumah sakit, dan selama itu tidak seorangpun dari kami yang menjenguknya. Padahal ia sangat berharap satu saja dari kami menjenguknya di antara 15 hari itu."
Kyuhyun melebarkan matanya tak percaya. "Jadi itu sungguhan? Hyungdeul tega sekali…."
Heechul tersenyum dan kembali mengacak rambut Kyuhyun dengan pelan, takut menyakitinya. "Kau yang mengubah semua itu, Kyuhyunie. Entah kau sadari atau tidak, caramu memperhatikan dan memperlakukan orang lain, membuat kami berubah. Terima kasih tetap bertahan menjadi salah satu bagian dari kami."
"Pada dasarnya kalian memang orang baik." Kyuhyun menutup pipinya yang memerah dengan kedua tangannya. "Hyung, bisakah kita membicarakan hal lain saja?"
Heechul ikut merasa salah tingkah. Namun sesuatu melintas di kepalanya, membuat namja itu memandang Kyuhyun penuh rasa ingin tahu. "Bagaimana dengan twittermu?"
"Eh?"
"Kau waktu itu menyembunyikan sesuatu kan? Kau menulis Thanks Note yang menyebalkan itu; Menyebut kami semua tanpa embel-embel hyung."
"Itu agar kita merasa lebih akrab, hyung." Kyuhyun membela diri.
"Apa maksudmu lebih akrab? Mana ada aturan seperti itu?" Heechul ingin sekali menjitak kepala Kyuhyun kalau saja tidak ingat sang magnae baru saja menjalani operasi. "Kenapa twittermu tidak kau gunakan? Sudah 2 bulan kau membuatnya!"
"Aku menggunakannya untuk mengomentari status Ryeowookie, tetapi ia tidak menanggapiku…." Kyuhyun menekuk wajahnya dengan murung.
"Kau memberitahu dia kalau itu twittermu?"
"Haruskah?" Kyuhyun mengerjapkan kedua matanya yang bulat.
"Aigoo, Kyuhyunie… Sebelum kau membuatnya, banyak sekali twitter yang mengaku sebagai dirimu. Kau harus memberitahu Ryeowookie sehingga dia tahu itu benar-benar kau!"
"Aku akan memberitahunya nanti," jawab Kyuhyun.
"Lalu, ada apa dengan foto twitter-mu?"
"Ada apa?"
"Kenapa kau tidak memuatnya dengan foto dan lain-lain, seperti pada cyworld-mu yang selalu berganti lagu dan foto itu."
"Ah…." Kyuhyun tersenyum. "Aku menyukainya."
"Menyukai apa?"
"Menyukai telur putih dengan latar ungu itu. Kyuhyun si telur ungu. Bukankah itu bagus?" Kyuhyun meletakkan telapak tangannya sedemikian rupa di bawah dagunya, membingkai kedua pipinya sambil tersenyum lebar.
Heechul memutar matanya tak percaya.
"Lakukan saja apa yang membuatmu senang, Kyuhyunie." Heechul menyerah kali ini.
.
.
Changmin terbangun ketika seseorang mengguncang tubuhnya.
"Changmin-ah, bangun! Kau tidak boleh tidur di tempat umum seperti ini!"
"Tapi aku masih mengantuk…," gumam Changmin kembali meringkukkan tubuhnya.
"Ya! Changmin-ah! Apa hyung perlu menyirammu dengan sebotol air?!"
"M…mwo?!" Changmin tersentak mendengar teriakan di telinganya itu. Ia langsung berusaha untuk duduk sambil mencoba membuka matanya, agar bisa melihat lebih jelas. "….Heechul hyung?"
Perlahan Changmin mulai teringat di mana ia berada. Ia bermaksud menunggu Heechul pulang dengan duduk di sofa yang ada di salah satu ruang tunggu rumah sakit, namun tanpa sadar ia jatuh tertidur.
"Lain kali bergabung saja dengan kami. Kyuhyunie tadi mencemaskanmu yang tidak juga kembali."
"Ah, mianhe… Aku hanya ingin ia memiliki waktu yang lebih bebas denganmu, hyung." Changmin dengan tergesa-gesa bangkit berdiri. Perasaan mengantuk membuatnya sedikit terhuyung sehingga Heechul menopangnya hingga Changmin bisa benar-benar berdiri tegak.
"Tidak usah buru-buru. Aku sudah meyakinkannya bahwa seorang Shim Changmin bisa menjaga diri dengan baik." Heechul tertawa lepas. "Aku tidak bisa kembali ke sini dalam beberapa hari. Apakah kau akan menjaga Kyuhyunie?"
"Aku akan menemaninya setiap hari. Hyung tidak perlu khawatir."
"Gomawoyo, Changmin-ah." Heechul membalikkan tubuhnya, bersiap meninggalkan rumah sakit.
"Hyung." Changmin menahan tangan Heechul. Ia sedikit gugup ketika Heechul memandangnya penuh tanya. "Kyuhyun-ah sebenarnya merasa kesepian tanpa kalian."
"Aku tahu. Jangan khawatir, Changmin-ah, kami akan memikirkan sesuatu untuk uri baby." Heechul menyunggingkan smirk-nya sebelum berlalu. "Sekarang kembalilah. Dia pasti mencemaskanmu."
.
.
"Kenapa baru kembali?"
Sebuah pertanyaan langsung menyambutnya begitu Changmin melangkah masuk. Changmin tersenyum sambil meminta maaf. Ia menceritakan pertemuannya dengan Heechul.
"Heechul hyung terlihat unik di mata orang lain, tetapi jika kita mengenalnya, dia benar-benar orang yang hangat," puji Changmin.
"Dia hyungku," sahut Kyuhyun tanpa menyembunyikan perasaan bangganya. "Aku memang dikelilingi orang-orang yang baik."
Changmin memandang sahabatnya itu dan tersenyum lebar. "Dalam agamaku, itu semua karena karma. Kau melakukan hal yang baik, jadi kau mendapat karma yang baik juga. Kyuhyun-ah, kau harus menjaga dirimu baik-baik, karena kau sangat berharga bagi kami."
"Ne…ne…arraseo." Kyuhyun menarik selimutnya, bersiap untuk tidur. "Changmin-ah, ketika aku bangun, kau tidak boleh berada di sini, arrachi? Kau harus kembali ke dorm dan berlatih bersama Yunho hyung."
Tanpa menunggu jawaban Changmin, Kyuhyun mematikan lampu dan memejamkan matanya.
"Jjaljayo, Changmin-ah."
"Jjaljayo, Caramel Macchiato…"
.
.
4 Juni 2010
Seperti kemarin, Changmin menunggui Kyuhyun di rumah sakit. Berapa kalipun Kyuhyun mengusirnya untuk pulang, Changmin bergeming.
"Aku sudah menurutimu untuk tidak di sini ketika kau bangun. Aku juga sudah berlatih bersama Yunho hyung sepanjang siang. Jadi ijinkan aku sore ini menemanimu, Kyuhyun-ah." Changmin menolak ketika Kyuhyun kembali memintanya pulang dan beristirahat di dorm.
"Kau sudah berjanji akan mengikuti apapun kata-kataku, Changmin-ah!"
"Ini balasan karena kau tidak memberitahuku tapi memberitahu Minho-ah dan Jonghyun-ah!" Changmin bersikeras. "Diamlah, Caramel Macchiato, aku sangat lapar dan mengantuk. Apa kau tega membiarkanku menyetir malam-malam?"
"Ini masih jam 5 sore. Apa kau mabuk?" Belum sempat Changmin menjawab, Kyuhyun tiba-tiba teringat sesuatu. "Changmin-ah, hyungdeul akan tampil di Music Bank sore ini. Ppali! Aku ingin menontonnya!"
"Ah, CNBlue juga!" Changmin bergegas mencari saluran yang Kyuhyun inginkan, melupakan apa yang mereka percakapkan sebelumnya. Keduanya menghela napas lega ketika mengetahui acara baru saja di mulai. Sambil menunggu, Changmin mengeluarkan makanan yang dibawanya ke atas nakas.
"Ada bagian untukku?"
"Tentu saja." Changmin tersenyum. Ia merapatkan meja beroda ke ranjang Kyuhyun. Meja itu bisa diletakkan merapat ke tempat tidur sehingga pasien dapat makan dengan nyaman.
Karena Kyuhyun tidak perlu berbaring terus menerus, ia duduk bersila di atas tempat tidur sehingga ada ruang yang cukup untuk mereka berdua dengan daun meja berada di tengah-tengah mereka.
Changmin mengatur makanan yang akan lebih dulu mereka santap, lalu menaruh sisanya di atas nakas.
"Hyungdeul tampil di awal!" Kyuhyun tampak bersemangat. Mulutnya bernyanyi mengikuti lagu Bonamana, dan tubuhnya bergerak berirama, membuat Changmin sibuk mengingatkan supaya Kyuhyun jangan melakukan gerakan mendadak. Kyuhyun baru menyantap makanannya setelah Super Junior selesai tampil.
"Uhm, Kyuhyun-ah, bagaimana ulang tahunmu kemarin?" Changmin bertanya sambil mengambil 2 porsi jjangmyeon sebagai menu mereka selanjutnya.
"Ulang tahunku?" Kyuhyun tidak mengalihkan pandangannya dari televisi meski penampilan Super Junior sudah berakhir.
"Ne. Aku saat itu sibuk mengurung diri di kamar sehingga melupakannya. Mianhe, Kyuhyun-ah. Apakah kau melewati ulang tahunmu dengan menyenangkan?"
Kini Kyuhyun mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Changmin. Wajahnya tampak memerah ketika teringat hari ulang tahunnya beberapa bulan lalu. "Aigoo, itu benar-benar…"
"Ada apa? Ada hal yang menarik?" Changmin bersiap menyimak.
Kyuhyun mengangguk. Teralihkan seluruhnya dari televisi. "Saat itu High1 Seoul Music Awards. Kami sedang memiliki begitu banyak masalah. Aku juga dalam kondisi yang sama sepertimu, Changmin-ah, rasanya semua terlihat gelap."
Changmin menunggu dengan sabar ketika Kyuhyun berusaha mengingat rincian kejadiannya. "Meski begitu, aku masih memiliki pengharapan. Karena itu aku bilang di awal acara, bahwa aku berharap sesuatu yang baik akan terjadi. Dan kami mendapat tiga penghargaan saat itu; Bonsang, High1 Seoul Music Awards, dan Special Hallyu award. Tiga penghargaan di hari ulang tahunku."
"Hanya itu?" Changmin tak percaya. "Apa yang membuat wajahmu memerah tadi?"
"Ah, sabar sedikit! Kita belum sampai ke bagian terbaik." Kyuhyun tertawa lebar. "Saat komersial break, tiba-tiba hyungdeul membuka sebuah kotak berisi kue ulang tahun pemberian ELF, menyalakan lilinnya, dan mereka mulai bernyanyi sambil bertepuk tangan!"
"Mwo? Di acara sebesar itu?"
Kyuhyun mengangguk dengan wajah memelas. "Aku rasanya ingin menenggelamkan diriku ke kolong meja, tetapi beberapa hoobae mulai menyalamiku. Aku hanya bisa menyembunyikan wajahku dengan tangan saat kamera terarah kepada kami. Aku bahkan tidak ingat siapa yang menarik tanganku dan menggenggamkan pisau untuk memotong kue. Aku benar-benar tidak sanggup menerimanya. Itu…itu terlalu…."
"Terlalu manis kan?" Changmin meneruskan ketika Kyuhyun hanya menepuk pipinya yang mulai memanas.
"Kami begitu banyak masalah, dan yang kami lakukan hanya mempertahankan senyum kami di depan fans. Tapi malam itu, aku tetap merasakan bahwa hyungdeul dengan tulus berbahagia atas ulang tahunku. Dan akhirnya, kami menerima kecaman dari banyak pihak karena merayakan ulang tahun di tengah acara." Kyuhyun tergelak dengan keras, meski akhirnya meringis karena merasakan sakit.
"Katamu tadi, hyungdeul menyalakan lilin saat komersial break…"
"Begitulah. Tetapi tidak semua peduli tentang hal itu. Yang mereka katakan di media, kami melakukannya di tengah acara. Tidak ada keterangan tambahan lainnya." Kyuhyun kembali meringis sehingga Changmin memintanya untuk tidak tertawa. "Gwenchana, Changmin-ah, ceritaku belum selesai."
Kyuhyun mengibaskan tangannya. "Tidak sampai di situ saja. Ketika SNSD melakukan encore sehabis menerima Daeesang, hyungdeul memaksaku naik ke atas panggung. Ryeowookie bahkan merangkulku dengan erat sambil menemaniku ke atas."
"Apa yang kalian lakukan di sana?"
"Entah apa yang Ryeowookie katakan, aku didorong utnuk maju ke depan dan menarikan Gee bersama-sama. Aku bersyukur Ryeowookie menemaniku saat itu. Ah, Yesung hyung tampil!"
Kyuhyun menunjuk ke arah layar penuh semangat. "Hari ini penampilan live pertama Yesung hyung. Aigoo, kau lihat Changmin-ah?"
"Super Junior memang seperti itu." Changmin tergelak melihat Donghae, Ryeowook, Eunhyuk, dan Shindong berdiri di sudut panggung. Bahkan Leeteuk membawa sebuah foto Yesung untuk menunjukkan dukungannya.
"Padahal kami baru saja dimarahi karena merayakan ulang tahun di tengah acara." Walaupun mulutnya melontarkan protes, mulut yang sama juga tersenyum melihat kelakuan hyungdeul. "Ah, suara Yesung hyung selalu berhasil membuat orang menangis…" Kyuhyun menghapus cepat air mata yang menghalangi pandangan matanya.
Changmin diam-diam memperhatikan Kyuhyun. Meski tersenyum menatap televisi, mata sahabatnya itu terlihat kesepian. Sama seperti sepasang mata anak laki-laki yang dulu dilihatnya.
"Aku memang selalu takut sendirian, Changmin-ah, tetapi orang yang benar-benar kesepian adalah Kyuhyunie."
Changmin teringat kata-kata Donghae sewaktu ia menggoda namja itu yang selalu ingin ditemani saat melakukan apapun. Bahkan Donghae perlu menelepon seseorang saat tengah berada di dalam toilet.
"Kau ingin berada bersama mereka di atas panggung, Caramel Macchiato?" Changmin tanpa sadar menggenggam tangan Kyuhyun sehingga sahabatnya itu memandang dengan heran. Changmin tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum saat melihat mata Kyuhyun tidak sekelam tadi saat melihatnya. "Kau tidak akan pernah kesepian, Kyuhyun-ah. Aku akan datang kapanpun kau membutuhkanku. Kau tinggal mengatakannya. Benar. Kau hanya tinggal mengatakannya…"
Kyuhyun mengalihkan pandangan ke televisi untuk menghindari tatapan Changmin. Saat itulah ia melihat sosok yang menjadi bagian Kyu-line baru-baru ini.
"Itu Jonghyun-ah!" Kyuhyun berseru senang sehingga Changmin kembali menonton televisi. "Whoaaa! Mereka semua memainkan alat musik!"
"Aku ingin menjadi gitar di tangan Jonghyun-ah," gelak Changmin.
Keduanya menikmati lagu yang dibawakan CNBlue sambil sesekali bersenandung mengikuti irama. Namun setibanya di penghujung acara, keduanya memandang dengan cemas.
"Wonder Girls bukan saingan yang ringan," gumam Kyuhyun. Ia menggigit bibir bawahnya menahan gugup ketika di poin pertama Wonder Girls unggul 3900 dari Super Junior. Sedangkan di poin kedua Super Junior hanya unggul 539 angka.
"Mereka menang, Kyuhyun-ah! Mereka menang!" seru Changmin saat di poin ketiga Super Junior unggul 5068.
"Ssst! Diamlah! Masih ada poin keempat!" Kyuhyun menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Semoga menang…. Semoga kami menang," doanya penuh harap.
"Yes! Yes! Yes!" Kyuhyun mengacungkan kedua kepalan tangannya ke atas ketika di poin keempat Super Junior kembali unggul dan memastikan kemenangan mereka. Changmin nyaris berteriak kalau saja Kyuhyun tidak mengingatkannya bahwa mereka tengah berada di rumah sakit. Namun keduanya tetap berpelukan untuk meluapkan kegembiraan mereka menyambut kemenangan Super Junior. DI layar, tampak Leeteuk yang tengah memberikan pidato kemenangan.
"KYUHYUN-AH!" Tiba-tiba suara teriakan Siwon yang begitu keras membuat keduanya kembali memperhatikan layar televisi.
"KAMSAHAMNIDA!" Leeteuk berteriak tak kalah kerasnya sementara musik Bonamana mulai mengalun.
"Apa-apaan mereka?" tanya Kyuhyun sambil menggembungkan pipinya. Changmin sendiri teringat kata-kata Heechul dan mulai menyimak televisi dengan rasa penasaran.
Tidak ada yang aneh. Member Super Junior mulai melontarkan seruan-seruan, sama seperti saat Bonamana hendak dimulai.
Ddanddaranddan, ddanddaranddan, ddanddaranddan, Ddadaddarabba
Ddanddaranddan, ddanddaranddan, ddanddaranddan, ddadaddarabba
"KYUHYUN-AH, ULJIMAAAAA!" teriak Ryeowook sambil menunjuk ke arah layar.
"Mwo?!" Kyuhyun menegakkan duduknya. "Hyungdeul sedang apa? Aigoo, nanti semua fans mengira aku sedang menangis! Aish!"
Musik Bonamana semakin keras menghentak sementara artis lain mulai mengosongkan panggung, memberi tempat untuk Super Junior melakukan encore. Satu persatu bait Bonamana dinyanyikan, tetapi syairnya mereka ganti sedemikian rupa, membuat jantung Kyuhyun berdegub semakin keras. Changmin melirik sahabatnya, melihat senyuman yang tertahan itu sedikit demi sedikit berubah menjadi senyuman lebar.
Neon alkkamalkka alkkamalkka neomu yeppeun KYUHYUN-AH!
Apakah kamu tahu atau tidak, apakah kamu sadari atau tidak, kamu begitu menawan, KYUHYUN-AH!
Nal michyeotdago malhaedo nan niga jotda KYUHYUN-AH!
Bahkan jika mereka menyebutku gila, aku mencintaimu, KYUHYUN-AH!
Nuga jeonhaejweo my baby KYUHYUN-AH!
Seseorang tolong katakan kepada my baby KYUHYUN-AH!
to my baby KYUHYUN-AH!
kepada my baby KYUHYUN-AH!
naega yeogi itdago marya KYUHYUN-AH! Gidarinda marya
Bahwa aku ada di sini KYUHYUN-AH! Menunggu di sini
Lagu Bonamana ala hyungdeul masih terus berkumandang, tetapi Kyuhyun hanya bisa memegang kedua pipinya yang terasa panas. Ia memandang Changmin dengan putus asa.
"Aigoo, bagaimana ini, Changmin-ah? Aku tidak bisa berhenti tersenyum."
Air mata yang ditahan Kyuhyun sejak tadi, kini menuruni wajahnya yang tirus.
.
.
.
TBC
.
Akhirnya chapter ini selesai juga hiks terharu
Tetapi tidak jadi ending di chapter 10 kkkk
Setelah ini aku akan menghilang dulu selama 2 minggu,
karena RS4 kudu naik cetak 2 minggu lagi
Sampai saat itu tiba, mohon bersabar untuk kelanjutan ff ini maupun yang lainnya
Terima kasih yang sudah membaca ff ini
Jangan lupa review yach.
Setiap review kalian membuatku semangat menulis hehehe
Sekali lagi terima kasih
KAMSAHAMNIDA
