Saat Cerita Berakhir
I trust it all, I trust it all to You
My dreams and all my plans
I trust it all, I trust it all
Forever I am changed, I'll never be the same
.
-Bratt Stanfill, Trust it All-
.
"Apa maksudnya tidak bernapas? Ia jelas-jelas masih hidup!" lantang Sai yakin, meskipun ia meragukan ucapannya sendiri. Darui meletakkan telunjuknya di depan lubang hidung gadis pirang itu sekali lagi, namun nihil, tak ada tanda-tanda aktivitas pernapasan.
"Nihil," ujar Darui sambil menggeleng kearah Sai yang pasi. Pria itu mematung, sementara Darui berusaha merasakan detak jantung di pembuluh lehernya, namun entah mengapa tak berasa juga.
"Tunggu! Aku punya….. tunggu sebentar!" Sai berlari secepat kilat meninggalkan Darui dan gadis pirang ini. Darui kembali memeriksa napas dan detak jantungnya saat seseorang memanggilnya, "Sersan Darui!"
Darui menoleh dan mendapati Lee sedang berlari kearahnya sambil membawa kotak P3K khusus. Tiba di sampingnya, Lee segera memeriksa gadis pirang ini, "Masih hidup?"
"Napasnya sudah tak ada. Aku tidak tahu jika detak jantung. Coba periksa." Setelahnya Lee segera menempelkan jemarinya ke bagian leher gadis itu beberapa saat, "Detak jantungnya lemah. Kita harus melakukan CPR"
Darui meletakkan kepala gadis yang sedari tadi dipangkunya di aspal, lalu mulai melakukan CPR. Sementara Lee mengeluarkan kasa dari P3K untuk menghentikan pendarahan. Bising di sekitar mereka, suara seruan-seruan, baling-baling helikopter, dan suara sirine berbaur menjadi satu. Namun yang perlu mereka risaukan hanyalah nyawa gadis Ini.
"Dia punya masalah dengan paru-parunya" Tiba-tiba Sai dengan suara tersengal muncul sambil membawa tabung oksigen ukuran kecil.
"Darimana?" tanya Darui sementara Sai sudah mulai memasangkan masker oksigen, dibantu oleh Lee. Sai nampaknya terlalu terengah-engah dan terlalu panik untuk menjawab, karena ia hanya menunjuk Cadillac-nya yang terparkir tak jauh dari sana.
Selanjutnya tanpa bicara apa-apa lagi mereka bertiga melakukan upaya penyelamatan semampu mereka sembari menunggu ambulans datang.
-ooo-
Juugo mengernyit memandang tubuh penuh perban Kisame yang kini duduk di atas kursi dengan tangan terborgol. Pria berwajah kasar itu mendongak menatap Juugo yang berdiri tepat di hadapannya, nampak menantang.
"Apa? Kau pikir kau bisa membunuhku dengan tatapan itu, Ha?" sembur Juugo kesal. Kisame tak menjawab.
"Coba jika kau tak kabur tadi. Maka kau takkan babak belur begini, kan?" Juugo nampaknya masih kesal dengan tatapan sengit Kisame yang ditujukan padanya. Juugo kemudian membungkuk untuk memperkecil jarak wajahnya dengan milik Kisame, lalu berbisik tepat di wajahnya, "Dan apa barusan? Kudengar kau baru saja dikalahkan seorang wanita. Hahahahha."
Wajah Kisame merah padam. Antara menahan malu dan amarah. Juugo kembali mundur, lalu membuka berkas yang sedari tadi ia genggam, "Baiklah, Kisame Hoshigaki. Kami masih ada satu urusan lagi denganmu. Pasti kau sudah tidak sabar pergi ke penjara yang amat sejuk itu, bukan? Nah, biar lekas selesai, sekarang marilah bekerjasama."
Kisame tetap membisu sementara Juugo menatapnya tajam, "Mengapa kau membunuh Kankuro?"
Hening sejenak. Juugo membuang napas kasar, lalu kembali bicara dengan intonasi tinggi, "Perlukah aku bertindak kasar lagi padamu!?"
Kisame bertahan membisu. Juugo tertawa sinis, "Kau tahu? Aku tak pernah bertindak kasar kepada orang yang kuinterogasi jika bukan keadaan darurat. Namun kau kasus lain. Bahkan darahku sudah mendidih saat menyeretmu kesini."
Bahkan saat Juugo mulai mengeluarkan pistol pun Kisame tetap membisu. Juugo biasanya paling mahir jika urusan interogasi, namun kali ini emosi sudah menguasainya lebih dulu, "Benar-benar tak mau buka mulut?"
Juugo mengangkat pistolnya ke udara. Kisame tetap diam. Hingga beberapa detik sebelum bagian belakang pistol itu mendarat di wajah Kisame, seseorang membuka pintu dan terkesiap melihat tindakan Juugo, "Woa, woah. Tenang, kawan"
Juugo menoleh, Sasuke sudah menahan tangannya dan kembali meletakkannya di samping tubuh. Sasuke masuk tanpa basa basi dan langsung duduk di kursi yang sedari tadi dibiarkan kosong, tangannya menggenggam sebuah bungkusan plastik.
"Kita langsung saja, ya?" tanyanya pada Kisame yang menatapnya sengit. Sasuke berdeham, "Tidak usah berbelit-belit bertanya mengapa kau membunuh Kankuro. Aku sudah tahu jawabannya."
Air muka Kisame berubah. Wajahnya sedikit banyak menunjukkan keterkejutan meski ia tetap bertahan dalam diam. Sasuke melemparkan bungkusan plastik di atas meja yang membatasi mereka, "Apa isi CD ini?"
-ooo-
Suara sirine ambulans sedari tadi masih terngiang-ngiang di benaknya. Meski sekarang Ino sudah masuk ruang UGD tetap saja itu tak menjamin gadis itu akan baik-baik saja. Masih ada berjuta harapan yang belum tersampaikan. Garis besar dari semua harapan itu, Sai hanya berharap Ino bertahan hidup.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit menenangkan diri di ruang tunggu rumah sakit, seorang polisi wanita berjalan mendekatinya. Sai sudah menduga ini akan menjadi semacam interogasi lagi.
"Selamat sore, saya Sersan Karui dari Kepolisian Tokyo. Apa Anda siap untuk menjawab beberapa pertanyaan sekarang?" Polisi itu duduk di samping Sai, menyunggingkan senyum tipis. Sai membalas kembali dengan senyum tipis.
"Bagaimana kronologisnya Anda bisa sampai membuntuti Kisame dari mulai ia kabur dari kantor polisi hingga ke pelabuhan?" Sersan Karui bertanya dengan tenang. Sai menelan ludah sebelum menjawab, "Saya sedang dalam perjalanan makan siang saat melewati kantor polisi, melihat ada kerusuhan disana, dan lebih jelasnya melihat seorang pria yang wajahnya pernah kulihat di televisi sebagai tersangka berlari dari gerbang menuju jalanan. Saat itu juga aku menduga dia kabur dari tahanan, maka aku terus mengikutinya hingga ke pelabuhan."
Sersan Karui mengangguk-angguk. Pertanyaan berikutnya, "Setelah sampai di transito, apa yang anda lakukan?"
"Saya memarkir mobil di dekat motornya, menyuruh teman saya mengabari polisi, lalu turun dan mengejar-"
"Bukankah sudah diperingatkan untuk tetap berada dalam mobil sampai polisi datang? Mengapa Anda mengambil resiko sebesar itu?" Sersan Karui memotong kalimat Sai dengan dahi berkerut. Sai merasa serbasalah, "Aku, tak bisa tinggal diam. Aku tahu mobil patroli akan sampai lebih lambat dari sebelumnya karena Porsche yang melintang-"
Tiba-tiba Sai melihat sepasang suami istri menyerbu masuk melalui pintu kaca rumah sakit. Para polisi yang berjaga di sekitar pintu segera menyambutnya. Suara parau sang istri bertanya dengan sisa tangis membekas di suaranya, "Apa yang terjadi pada anakku?"
"Anak Ibu terkena luka tembak-"
"Astaga! Bagaimana bisa?" tangis perempuan paruh baya itu kembali pecah. Beberapa polisi berusaha menenangkannya. "Apa yang terjadi? Bagaimana bisa ia berada di lokasi penangkapan pelaku pembunuhan?"
"Ibu tenang dulu. Anak Ibu kini sudah berada di UGD. Kronologisnya akan kami ceritakan-"
"Tidak perlu nanti. Ceritakan sekarang saja padaku" seorang pria berambut pirang berkata tegas. Mata seluruh polisi yang ada disana kini terpaku padanya. Seorang polisi wanita mulai merangkul sang istri dan membawanya ke kursi terdekat. Sai menelan ludah, ia harus menemui orangtua Ino, pikirnya. Maka setelah meminta izin pada Sersan Darui ia bangkit dan berjalan mendekati kerumunan.
Salah seorang polisi sudah mulai menceritakan kronologis tertembaknya Ino saat Sai sampai disana. Dahi Ayah Ino berkerut setelah mendengar lengkap kisahnya dari polisi. Ia bertanya, "Saat itu Ino bersama temannya yang mana? Pria atau wanita?"
"Pria."
Ayah Ino bertanya lagi, "Lalu? Dimana orangnya?"
Jelas sekali pria ini bukan orang biasa. Dari cara polisi menyambutnya tadi orang ini pasti memiliki posisi penting. Sambil berjalan menuju pusat kerumunan, ia jadi teringat ucapan Ino soal orangtuanya yang sibuk. Juga soal Hotel Yamanaka. Maka sudahlah jelas semua. Jadi pria ini pemilik hotel itu? Tapi siapapun pria ini ia tetaplah Ayah Ino, dan bagaimanapun, sebagai seorang pria, Sai harus melakukan tugasnya; bertanggung jawab.
Tiba di pusat kerumunan, Sai beringsut mendekati seorang polisi yang berhadapan langsung dengan Ayah Ino, lalu berkata, "Disini. Saya yang bertanggungjawab atas tertembaknya putri Anda"
-ooo-
Mata Kisame terpaku pada pecahan keping CD dalam bungkusan plastik. Jelas ia terkejut. "Darimana kau mendapatkannya?"
Sasuke tertawa miring, "Dari tempat kau membuangnya, tentu saja."
Kisame masih menatap Sasuke tak percaya. Sasuke mengulang pertanyaannya sekali lagi, namun Kisame masih menolak untuk menjawab.
"Baiklah. Aku tak mau buang waktu lagi. Jadi, Juugo, Kisame ini mengikuti sebuah lomba film pendek dan meminta Kankuro mengeditkan filmnya. Namun nampaknya film itu kalah," ujar Sasuke sambil mendongak pada Juugo yang berdiri di sebelahnya. Juugo memandang bergantian kawannya dan Kisame, sementara Sasuke melalui ujung matanya bisa melihat wajah terkejut Kisame.
"Lalu?"
"Lalu karena butuh uang dan kesal, ia datang ke apartemen Kankuro membawa CD berisi film yang kalah itu, membunuhnya karena amarah, mencuri uangnya, dan-"
"Aku tidak mencuri uangnya!" teriak Kisame. Juugo dan Sasuke saling tatap sejenak, alis mereka terangkat. "Oke, jadi kau tak mencurinya? Hmm.. berarti kami salah. Lalu jika kami salah, bagaimana kelanjutannya, Kisame?"
Kisame mendesis kesal, wajahnya merah padam. "Sejak awal keparat itu memang tak berniat membantuku."
"Hadiah lomba film pendek itu besar sekali. Pasti kau mengincar hadiahnya, bukan? Lalu apa yang membuatmu sampai membunuh Kankuro hanya gara-gara film itu?" kali ini Juugo yang bertanya.
"Ibuku meninggal di rumah sakit gara-gara kekurangan biaya, kau tahu!? Dan semua ini gara-gara keparat sombong itu! Padahal, padahal ia berjanji akan membantuku mencari biaya rumah sakit ibuku. Tapi apa yang ia lakukan? Ia selalu berkelit sibuk ini-itu saat aku memintanya membuatkan film pendek. Itu hanya film pendek berdurasi sepuluh menit!" ujar Kisame setengah berteriak. "Coba bandingkan dengan karyanya di layar lebar yang begitu canggih! Inti dari semua itu ialah ia memang asal-asalan membuatkanku film itu"
Sekali lagi Juugo dan Sasuke saling tatap. Kisame melanjutkan dengan nada lebih rendah, "Dan kau tahu apa akibatnya? Setelah film pendek itu dinyatakan kalah, ibuku merengang nyawa di rumah sakit karena aku tak mampu menutup biaya operasi. Ini semua salah si brengsek itu."
"Aku melihat jajaran pedang antik di rumahmu. Mengapa tak kau jual saja pedang-pedang itu untuk biaya rumah sakit?" tanya Juugo penasaran. Mengapa pula harus repot-repot ikut lomba film pendek dan membunuh orang?
"Tidak bisa. Pedang itu berharga. Pedang itu peninggalan leluhurku…." Erangnya. Sasuke mendengus, "Itu artinya kau yang brengsek"
Juugo menahan tawa sementara Kisame menunduk terpukul. Tak habis pikir pula dengan alasan orang ini membunuh. "Jadi karena itu pula kau mengganti senjata pembunuh? Kau menusuk Kankuro dengan pedang mahalmu itu, lalu baru sadar saat Kankuro sudah terkapar, dan kau tak mungkin meninggalkan pedang mahalmu itu disana, bukan? Jadi kau mencabut pedang itu, pergi ke dapur untuk mengambil pisau, menusukkannya pada luka tusuk Kankuro seolah-olah pisau itulah senjata pembunuhnya. Astaga, rumit sekali."
Kisame memandang Juugo dengan tatapan kosong. Juugo sendiri tengah mendengus geli.
"Tapi kau tak mau repot-repot menghapus darah pada pedang mahalmu itu. Kau hanya menggesek-gesekkannya pada bagian dalam sarung pedangmu. Darah di pedang memang hilang, namun menyisakan darah kering di bagian dalam sarungmu itu. Kau pasti tidak berpikir sampai kesana, kan?" sembur Sasuke. Kisame menyeringai, "Mana peduli aku soal darah"
"Yap. Dan karena sikap tak pedulimu itu kini kau resmi jadi pelaku. Aku malas mengurus pengadilanmu. Kuserahkan saja pada polisi." Sasuke bangkit dari kursinya, mengambil kembali plastik berisi pecahan CD itu.
"Kau sudah tahu semuanya, bukan? Mengapa pula kau perlu menanyaiku lagi?" Kisame bertanya polos. Kali ini Juugo mendekatkan wajahnya lagi ke arah Kisame yang mendongak penasaran, "Karena kami membutuhkan pengakuanmu"
-ooo-
Inoichi Yamanaka mengangguk untuk kesekian kalinya. Setelah Sai menjelaskan panjang-lebar keseluruhan kisah dari mulai pertemuan pertamanya dengan Ino, kasus Kankuro, hingga Ino yang kini berbaring dengan luka tembak menganga di bahunya. Sai awalnya mengira Ayah Ino akan menamparnya atau meninjunya, namun sedari tadi pria berambut pirang itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ino sudah sadar beberapa saat lalu dan saat itu pula ibunya menyerbu masuk ke ruang rawat inap, sementara Sai masih terus melanjutkan kisahnya.
"Tak ada pilihan lain saat itu. Aku tidak bisa membiarkan saja pelakunya kabur sementara-"
"Aku mengerti, Nak. Aku mengerti" Untuk pertama kalinya sejak sekitar lima belas menit lalu, Inoichi membuka mulut. Sai menatap pria itu lekat. "Tidak usah meminta maaf. Tak ada yang salah"
Sai meneguk ludah. Rasa bersalahnya belum berkurang sedikitpun. "Tapi keputusan yang saya buat membahayakan anak Anda. Dan kemungkinan yang paling buruk akhirnya terjadi."
"Paling buruk? Tidak. Ino masih hidup, Nak. Luka tembak itu bahkan belum ada apa-apanya dibanding ribuan sel kanker yang hingga kini masih menggerogoti paru-parunya, asal kau tahu. Ia sudah puluhan kali terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Mungkin ini teguran karena aku tak benar menjaganya." Pria berambut pirang itu berkata dengan nada sedih.
Mata Sai melebar. Ia tak pernah berpikir sampai kesana. Teguran, katanya? Ia ingat benar Ino pernah berkata soal orangtuanya yang amat sibuk, tapi sungguh, ia tak sampai berpikir kesana. Sedari tadi ia sibuk menyalahkan dirinya sendiri.
"Justru aku berterimakasih padamu," pria itu menatap Sai lembut. Seketika Sai jadi teringat akan ayahnya sendiri. "Terimakasih karena telah menjaga Ino"
Menjaga, katanya? Sai bahkan merasa tak melakukan hal apapun yang berarti.
"Tapi aku tidak melakukan apa-apa" balas Sai bingung. Dihadapan orang tua ini ia jadi merasa seperti anak kecil lagi.
Inoichi Yamanaka tertawa, telapak kanannya menepuk pelan bahu Sai. "Aku tahu hal-hal tersirat yang kau sampaikan melalui kisahmu tadi. Ino memercayaimu, kau tahu?"
Sai hanya mengangguk. Agak tidak mengerti. Kemudian pembicaraan mereka terinterupsi Ibu Ino yang keluar dari ruang rawat inap di samping mereka. Wanita yang masih sembap itu memeberi kode kepada suaminya untuk masuk. Inoichi mengangguk, menepuk kembali bahu Sai, berpamitan.
Setelah Ayah Ino menutup pintu, Sai menatap Ibu Ino yang sudah menatapnya lebih dulu, lalu berdiri, hendak meminta maaf.
Namun Sai bahkan belum mengucapkan sepatah katapun saat wanita paruh baya itu berjalan maju untuk mendekapnya. Itu semua terlalu tiba-tiba hingga Sai tak tahu harus melakukan apa. Sai masih disergap kebingungan saat wanita itu terisak di bahunya, "Terima kasih, terima kasih…."
-ooo-
Shisui sendiri yang tadi menggiring Kisame menuju mobil patroli setelah pria licin itu babak belur bertarung dengan Agen Temari. Kini ia sedang berjalan menuju ruang interogasi. Ia mengabulkan permintaan DIH untuk menginterogasi Kisame karena memang mereka yang meringkus Kisame di rumahnya. Dan menurut laporan anak buahnya, interogasinya sudah selesai.
Dan nampaknya anak buahnya benar.
Sebelum Shisui mencapai ruang interogasi, ia melihat Agen Juugo dan Agen Uchiha keluar dari ruang yang ingin ditujunya. Mereka sempat berbincang sejenak di depan pintu sebelum menyadari kehadirannya.
"Bagaimana?" Shisui bertanya ringan sementara kedua pria dihadapannya menghentikan pembicaraan dan menoleh ke arahnya.
"Lancar, tentu saja. Orang itu benar-benar. Sampai Juugo Si Penyabar pun dibuat marah olehnya."komentar Agen Uchiha membuat ia dan Agen Juugo tertawa.
"Baiklah, jika begitu. Sisanya biarkan kami yang proses. Setelah ini pun akan digelar konferensi pers untuk menutup kasus ini. Yang penting kasus ini sudah selesai," Shisui berkata dengan yakin. Kedua agen di hadapannya mengangguk.
"Terima kasih atas kerjasamanya," Shisui mengulurkan tangan, yang disambut bergantian oleh kedua pria dihadapannya.
"Kami hanya membantu Agen Temari," ujar Agen Juugo. "Jadi tolong tak usah libatkan nama kami di konferensi pers. Nanti publik akan berspekulasi macam-macam. Entah mengira kasus ini berhubungan dengan politik atau sindikat teroris atau apalah. Tau sendiri bagaimana kebiasaan masyarakat yang berlebihan"
Shisui tertawa. Memang benar. Jika inteljen terlibat maka masyarakat akan mengira kasus ini berbahaya. "Kami tak berjanji, karena tadi kalian lihat sendiri ada wartawan di depan gerbang tadi."
"Benar juga. Yah, kuharap kalian punya kata-kata bagus nanti jika ditanyai wartawan soal itu" ujar Agen Uchiha. Shisui tersenyum, lalu teringat sesuatu. "Oh ya, bagaimana keadaan Agen Temari? Kulihat tadi ia terluka"
"Ah jika hanya luka seperti itu mana sudi ia ke rumah sakit. Tadi saja ia memaksa ikut ke sini jika tak kularang," jawab Agen Juugo ringan. Shisui tersenyum, mengangguk, baguslah jika tidak apa-apa.
"Kalau begitu… kami pamit dulu, Letnan." Agen Juugo mengangguk sopan. Dibalas anggukan lagi oleh Shisui, lalu setelah megucapkan kata-kata perpisahan, mereka berlalu.
Sambil menatap punggung mereka menjauh, Shisui menghela napas, sekarang gilirannya.
-ooo-
Ino menatap Sai yang baru saja memasuki kamar rawatnya. Pria itu kini tengah berjalan mendekati ranjang tempat ia terbaring lemas. Menarik bangku, Sai lalu duduk di samping ranjang Ino.
"Kau seharusnya tidak melakukan itu." Komentar Sai dingin, mata hitamnya lebih seperti menghakimi di banding mengasihani. Ino hanya menatap balik manik kelam itu datar, tersenyum tipis. "Kau tak layak mati sekarang"
"Kau juga" tandas Sai cepat. Terlalu cepat malah.
"Kau salah. Kau tak mengerti. Aku sudah puluhan kali berbaring disini, menahan sakit, bertanya-tanya apakah Tuhan akan mengambil nyawaku saat itu, namun nyatanya aku masih hidup hingga sekarang." Ino menghela napas, lalu melanjutkan. "Aku sudah biasa merasakannya. Dan melihatmu, aku tak mau kau juga merasakannya; ketidakpastian antara hidup dan mati. Jadi biarlah aku, yang sudah terlalu sering merasakannya, menggantikan posisimu."
"Itu tidak masuk akal!" Sai berseru lantang sambil memajukan tubuhnya. Kilat kemarahan terlihat jelas di matanya. "Semua orang layak untuk hidup. Sehat ataupun sakit. Aku bisa saja menghindari tembakan itu dengan berlari, namun kau malah membahayakan dirimu sendiri."
"Kau bilang seperti itu karena kau tidak mengerti! Kau pikir aku tak merasakan rasa bersalah yang amat sangat jika orangtuaku menangis melhat keadaanku? Mengatur ulang jadwal mereka demi operasiku? Menghabiskan biaya tak terbilang untuk pengobatanku? Kau pikir aku tak merasa bersalah, ha?" Ino mulai terisak. Biasanya ia akan kuat. Walaupun teman-temannya menangis pun ia akan tetap tersenyum, ia akan menyimpan tangisnya untuk saat-saat sendiri. Namun, di depan pria ini, entah mengapa, ia tidak bisa.
"Jangan bilang kau memang berniat bunuh diri." Ujar Sai sambil tersenyum sinis. Ino berusaha kembali berbicara di antara isaknya, "Aku yang memang sudah layak mati! Kau sehat dan…"
"Semua orang sama saja!" Sai bangkit dari kursinya, berteriak tak terkendali. "Benahi pola pikirmu! Apa kau tidak berpikir bagaimana aku menanggung dosa jika sampai kau mati, ha? Bagaimana aku berbicara kepada orangtuamu, Ino? TIDAKKAH KAU BERPIKIR SAMPAI KESANA?"
"Itu bukan salahmu! Aku yang melakukannya! Aku yang mendorong diri sendiri menuju target tembakan. Aku. Bukan kau!" nada suara Ino meninggi, isaknya semakin tak terkendali, padahal ia sudah sekuat tenaga meredamnya.
"Siapa yang akan peduli fakta itu? Semua yang melihatnya akan menganggap aku adalah pengecut. Yang membiarkan perempuan sepertimu menjadi bantalan peluru." Sai masih berbicara dengan nada tinggi, dengan kedua tangan bertengger di pinggang, dengan berdiri menatap dingin Ino yang kini terisak hebat.
Ino hendak menjawab lagi namun napasnya sesak. Isaknya semakin menjadi, kini ia tak berusaha meredam atau menutupinya. Ia membiarkan airmatanya turun tanpa ampun, mengeluarkan emosi yang sedari tadi ditahannya.
Sekitar satu menit Ino tenggelam dalam tangisnya, terlalu sulit bagi bibirnya untuk berbicara sepatahpun. Dan selama itu pula Sai berdiri menatapnya dingin, menghakiminya.
Detik berikutnya Sai kembali duduk. Tatapannya melunak. Tangannya terangkat dan saling menaut di atas ranjang.
"Maafkan aku." Bisiknya serak. Ino tak menjawab, masih sesak oleh isaknya sendiri, hanya menatap Sai datar.
"Aku hanya terbawa emosi, maafkan aku." Ulangnya, memberi penegasan. Ino mengangguk samar, tidak tahu persis apa alasannya untuk mengangguk. Sai kini menatapnya sendu, sementara Ino membalas dengan tatapan datar yang sama. Barulah ketika tangan Sai terulur untuk menggenggam sepasang tangan Ino yang bertaut diatas selimut, mata Ino melebar.
Sai terdiam selama beberapa saat, menatap kosong tangannya sendiri yang tengah memainkan jemari Ino dalam genggamannya. Ino menatap kea rah yang sama, namun dengan tatapan heran.
-ooo-
"Dulu aku menobatkan kau sebagai orang paling ceria yang pernah kutemui. Seperti tak ada beban. Jauh seperti aku yang hanya berkutat dengan pikiran pekerjaan." Ujar Sai sambil menerawang. "Saat itu aku iri, juga heran. Kau tak nampak memiliki masalah sedikitpun. Namun ternyata aku salah. Apa yang aku rasakan tak ada apa-apanya di banding yang kau rasakan."
Isakan Ino sudah berhenti. Namun tatapan Sai tetap terpaku pada jemari Ino yang kurus dan pucat. Diam sejenak, sebelum akhirnya Ino berkata, "Sejak dulu aku sudah tahu kau orang baik. Kau bukan pembunuh yang menyakiti temanmu. Walau saat itu seluruh mata polisi tertuju padamu."
Sai menyeringai, "Itu kesalahanku. Kekonyolanku. Tak perlu di bahas lagi. Toh bukti sudah menyatakan kebenaran."
"Kau menganggapku tegar, Sai? Tidak, kau salah. Aku hanya berpura-pura tegar. Berpura-pura kuat. Padahal sebenarnya…" di ujung kalimatnya, nada suara Ino berubah, menahan tangis. Tatapan Sai segera beralih pada Ino. Gadis itu berhasil menahan tangisnya. Sebagai gantinya, kalimatnya berhenti.
Entah dorongan apa yang membuat Sai mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Ino yang ringkih. Ino hanya tersenyum tipis, "Tanganmu…. Hangat."
Sai ikut tersenyum, baru sadar jika jemari yang sedari tadi di genggamnya begitu dingin. Jemari Ino mulai bergerak membalas genggaman Sai. Telunjuk pucatnya menyusuri ibu jari Sai yang melingkar kuat di tangannya. Sai menatap Ino sungguh-sungguh,"Jangan lakukan itu lagi,"
Ino menggigit bibir, sinar matanya terlihat ragu. Demi melihat keraguan itu Sai mengulang ucapannya, "Janji padaku, jangan lakukan itu lagi."
Ino akhirnya mengangguk, senyum tipis masih menghiasi bibir pucatnya. Sai mendekatkan wajahnya pada Ino, berkata lagi dengan nada rendah, "Kau perlu tahu jika nyawa setiap orang itu berharga."
Setetes airmata meluncur anggun dari pelupuk mata Ino.
Sai bermaksud ingin menyudahi sesi menangis Ino, maka ia bangkit dari kursinya, beralih duduk di tepi ranjang. Berharap tepukan di bahu gadis itu akan menenangkannya. Namun segera setelah Sai mendudukkan dirinya di tepi ranjang, Ino menubruk dan merengkuhnya erat. Gadis itu terisak pelan di bahu Sai, "Aku berjanji"
Sai mengelus-elus punggung Ino lembut. Berusaha menenangkannya. Menyampaikan melalui tiap inchi telapak tangannya bahwa gadis itu tak pernah sendiri. Bahwa gadis itu tak seharusnya menahan ini sendirian. Bahwa ia selalu ada untuknya.
Beberapa detik hening. Ino nampak tak berusaha menghentikan tangis kecilnya. Ino nampak membiarkan tangis itu tumpah sebagaimana mestinya. Seolah dengan turunnya airmata, beban di pundaknya ikut terangkat, dan semua kegundahannya sirna tanpa sisa.
"Jika kau berusaha tegar di depan yang lain….." Sai memulai pembicaraan. "Mengapa kau malah menangis di hadapanku?"
Perlahan Ino melepaskan pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sai hingga pria itu bisa melihat mata sembapnya yang tengah menatap Sai ragu. Dengan ragu pula ia menjawab, "Karena aku memercayaimu?"
"Jadi kau tak memercayai teman-temanmu?" simpul Sai.
Ino menggeleng, "Berarti bukan itu jawabannya." Sai tersenyum tipis sementara Ino sedang berpikir.
"Ah, aku tahu." Ujar Ino akhirnya. Sai menaikkan alis, menunggu jawaban. "Karena aku memercayakan kesedihanku padamu."
Sai terdiam. Ino memercayakan kesedihannya padanya?
"Biar kuralat. Aku memercayakan semuanya padamu. Kesedihan-kesenangan. Aku tak merasa harus menyembunyikannya darimu." Ujar Ino jujur. Sai tahu persis Ino berkata dengan hatinya.
"Kalau begitu terima kasih," ujar Sai, juga dengan hatinya. Ino tersenyum penuh, sementara Sai mengulurkan tangannya menuju puncak kepala Ino. Membelainya pelan.
"Lekas sembuh. Gelar mastermu masih menunggu untuk di raih, bukan?"
Ino mengangguk semangat. "Ya. Lekas pulang. Filmmu juga masih menunggu untuk di selesaikan."
Sai tertawa lepas, begitu juga dengan Ino. Sai lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah. Aku akan luncurkan film itu tepat jadwal. Asal kau janji akan menghadiri gala premiernya."
Ino mengangguk dengan yakin. "Aku berjanji!"
"Ah iya, aku pernah menggarap film bertemakan medis. Satu yang kuingat ialah hormon-hormon yang bekerja dalam tubuh juga membantu proses penyembuhan." Ujar Sai tiba-tiba. Dahi Ino berkerut, "Hormon apa?"
"Namanya Endorfin" balas Sai singkat. Ino hanya mengangguk-angguk, Sai melanjutkan, "Hormon bahagia. Biasanya diproduksi saat olahraga, juga saat…"
"Saat?" tanya Ino penasaran. Namun Sai tidak menjawab, ia malah meraih wajah Ino, lalu mengecup lembut pipinya. Saat Sai hendak kembali mundur untuk melhat ekspresi Ino, gadis itu malah meraih wajah Sai dengan kedua tangannya dan mengecup bibir Sai tak kalah lembut. Hanya dua detik. Setelahnya Sai menarik tubuhnya menjauh, terbelalak melihat ekspresi jenaka Ino dengan pipi yang memerah. Atau mungkin saat ini pipinya sudah memerah juga.
"Astaga." Komentar Sai singkat.
"Kupikir yang terakhir tadi lebih banyak menghasilkan Endorfin." Ujar Ino sambil menyeringai. Sai ikut tersenyum.
Kemudian tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk tergelak dalam tawa.
THE END
