Disclaimer: i own nothing but the plot and several OC's
Fiona Dursley Birthday
Drap! Drap! Drap!
Fiona masih meringkuk di bawah selimutnya, tidak menyadari suara langkah kaki di lorong yang terdengar semakin jelas. Fiona menggeliat, menggumam tidak jelas dan menyusup ke dalam selimutnya.
Brak!
Fiona melompat kaget dan hampir terjatuh dari ranjangnya ketika pintu kamarnya terbuka tiba-tiba. Ia melihat ke kanan kirinya dengan bingung.
Seorang anak laki-laki melompat ke atas ranjang, berseru girang sambil terus melompat ke atas dan ke bawah, memantul-mantul di atas ranjang Fiona. "Bangun Fiona! Ini hari ulangtahunmu! Ini ulangtahunmu!"
Jason Dursley, yang kini sudah berusia lima tahun, terus berseru sambil melompat-lompat di atas ranjang kakak perempuannya, menghiraukan gerutuan Fiona yang jelas masih merasa sangat mengantuk dan ingin tidur lebih lama lagi sebelum berangkat ke sekolah.
"Jas! Aku masih mengantuk!" keluh Fiona, menarik kembali selimutnya menutupi kepalanya.
Jason melompat dan membiarkan dirinya jatuh di atas ranjang. Ia berguling dan membuka selimut yang menutupi kepala Fiona. "Tapi ini ulangtahunmu yang kesebelas!"
"Ya dan kita masih punya waktu berjam-jam untuk merayakannya! Sekarang biarkan aku tidur!"
Jason menggeleng mantap, ia menarik selimut Fiona sampai jatuh ke atas lantai. "Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu tidur lagi,"
"Kalau begitu keluarlah! Biarkan aku beristirahat dalam damai!" Fiona mendorong Jason menjauh.
Jason mendengus, "Baiklah!" ia melompat turun dari ranjang dan berjalan dengan melompat-lompat menuju mulut pintu. Sebelum ia keluar dari kamar Fiona, Jason berbalik dan berkata, "Ngomong-ngomong, Mummy memintamu segera bersiap-siap. Ini sudah jam delapan dan kau masuk sekolah jam berapa Fiona?"
"Jam sembilan," gumam Fiona tidak jelas.
Jason nyengir, "Dan sekarang sudah jam delapan, jadi—"
"AKU TERLAMBAT!" Fiona sampai melompat dari kasur saking kagetnya, kakinya terantuk sisi ranjang dan kepalanya beradu dengan meja yang berada di samping ranjangnya. Fiona mengaduh kesakitan sementara Jason tertawa-tawa.
Fiona mendongak panik, mencari-cari jam yang ia yakin menempel di dinding. Jason keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Fiona melihat jamnya.
Baru pukul enam empat puluh.
Masih ada dua jam lebih sebelum ia masuk sekolah.
Perlahan ia mencerna semua kejadian pagi itu.
Dan muncullah satu kesimpulan.
"JASON ALEXANDER DURSLEY AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Jason berteriak dan mulai berlari sementara Fiona mengejar-ngejarnya.
.
Dudley dan Caroline Dursley telah belajar dari pengalamannya mengurus Jason serta Fiona selama bertahun-tahun. Salah satu pengalamannya mengatakan, bahwa jika mereka ingin beristirahat dengan tenang, santai dan tanpa gangguang dari siapapun, mereka hanya harus melakukan satu hal.
Kuncilah pintu kamar sebelum tidur.
Dan itu terbukti efektif. Apalagi setiap Fiona atau Jason berulang tahun, keduanya pasti akan berlarian masuk ke kamar dan mulai melompat-lompat di atas ranjang, tidak peduli kalau mereka berdua sudah terlalu besar untuk hal seperti itu.
Dudley menggumam, ia berbalik dan memeluk Caroline erat.
Caroline menggeliat, mendekatkan dirinya ke dalam pelukan Dudley.
"Selamat pagi," gumam Dudley, mengecup kening Caroline.
Caroline tersenyum, "Selamat pagi,"
Dudley tersenyum, "Pagi yang te—"
"JASON! KEMBALI KE SINI! SEKARANG!"
Caroline dan Dudley mengeluh begitu mendengar suara putri tertua mereka disertai dengan kikikan dan teriakan-teriakan dari putra bungsunya.
"TANGKAP AKU KALAU BISA FIO!"
Dudley menghela nafas, "Aku senang kau sudah mengunci pintunya,"
Caroline membuka matanya lebar-lebar, "Aku kira kau yang menguncinya,"
Dudley langsung terbangun, "Apa? kukira—"
Suara-suara langkah kaki terdengar semakin dekat.
"Oh tidak," keluh keduanya.
Drap! Drap! Drap!
Brak!
"Mummy! Daddy! Tolong!" Jason berlari dan melompat ke atas ranjang, menyusup di antara Dudley dan Caroline yang langsung menggerutu dan mengeluh keras-keras.
Lalu putri mereka masuk ke dalam kamar, terlihat cemberut dan marah. "Jason Dursley! Turun sekarang juga!" Fiona ikut melompat ke atas ranjang untuk mengejar adiknya.
Yang selanjutnya terjadi adalah pergulatan antara Fiona dan Jason di atas ranjang. Juga di atas Dudley dan Caroline.
Dan jeritan Caroline adalah satu-satunya hal yang bisa membuat keadaan kembali tenang. "FIONA CAROLINE DURSLEY! JASON ALEXANDER DURSLEY! TURUN DARI RANJANG! SEKARANG!"
Fiona dan Jason berhenti bergulat. Perlahan mereka berdua turun dari ranjang dengan wajah cemberut, keduanya saling sikut, tampak menyalahkan satu sama lain.
"Apa yang aku bilang pada kalian tentang masuk ke kamar Mum dan Dad?" tanya Caroline yang sudah duduk di tepi ranjang, menatap tajam kedua putranya yang saat ini berdiri di hadapannya.
Dudley memperhatikan dari balik punggung Caroline, ia selalu senang melihat cara Caroline menghadapi anak-anak mereka. Sangat berbeda dari cara Petunia dulu merawatnya, tapi Dudley lebih menyukai cara mendidik Caroline yang membuat Jason atau Fiona tidak manja.
"Kami tidak boleh masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu apalagi langsung melompat ke atas ranjang," gumam Jason dan Fiona.
Caroline mengangguk, "Dan kenapa kalian melanggarnya hari ini?"
Fiona mendongak, "Dia yang mulai!" seru Jason dan Fiona bersamaan, keduanya menunjuk satu sama lain.
"Apa? kau yang membangunkanku!"
"Kau yang mengejar-ngejarku!"
"Cukup kalian berdua!" teriak Caroline lagi.
Jason dan Fiona menunduk, keduanya menggumamkan kata maaf.
"Tidak ada televisi selama satu minggu untuk kalian," kata Caroline akhirnya.
"Apa? tapi Mum—"
"Tidak ada tapi! Itu konsekuensi dari apa yang sudah kalian lakukan! Sekarang sebaiknya kalian kembali ke kamar masing-masing dan bersiap ke sekolah!"
Dan itulah yang membuat Dudley kagum pada Caroline.
Jason dan Fiona melangkah perlahan keluar dari kamar Dudley dan Caroline. Di mulut pintu, Fiona berbalik pada orangtuanya dan tersenyum, "Ini hari ulangtahunku," ujar Fiona.
"Kami tau Fiona," Caroline menghela nafas, tersenyum lembut pada putrinya, "Ah okay, kemari kamu,"
Fiona setengah berlari menghampiri Caroline dan memeluknya erat.
"Selamat ulangtahun Fiona," Caroline mengecup puncak kepala Fiona.
Dudley mengelus Fiona pelan, "Happy birthday princess,"
Fiona terkikik, "Terima kasih Mum, Dad," lalu ia menatap Caroline penuh harap, "Berhubung ini hari ulangtahunku, bagaimana jika—"
"Tidak," potong Caroline cepat. Dudley dan Fiona menaikkan kedua alis mereka. "Tidak ada dispensasi untuk hukumanmu tadi," lanjut Caroline.
Dudley terkekeh. Fiona cemberut.
.
"Jason, hentikkan bermain dengan serealmu dan segera memakannya. Dudley, love, tolong awasi Jason dan pastikan dia menghabiskan sarapannya. Dan Fiona, suratmu tidak akan datang lebih cepat walaupun kau terus mengawasi jendela itu," Caroline menggeleng-geleng.
Fiona membawa mangkuk serealnya dan memilih untuk memakan sarapannya di depan jendela yang terbuka lebar meniupkan angin musim semi yang hangat. Ia menunggu surat Hogwartsnya datang, Fiona tidak sabar untuk mulai berbelanja dengan Lily yang sudah mendapatkan suratnya bulan lalu.
"Apa mungkin surat itu datang terlambat?" Fiona bergumam pada dirinya sendiri.
Dudley yang mendengar itu menjawab, "Sepertinya tidak. Surat untuk Harry datang tepat di hari ulangtahunnya yang kesebelas, begitu pula dengan surat Lily kan?"
Fiona mendesah, "Tapi kenapa suratku belum datang,"
"Mungkin nanti Fiona, sebaiknya kau cepat habiskan sarapanmu," kata Caroline.
Fiona menghela nafas dan kembali berjalan ke dapur untuk menyimpan mangkuknya yang sudah kosong. Baru saja ia hendak kembali ke kamarnya untuk mengambil tas, terdengar suara burung hantu mendekat. Fiona mengenali suara Rowena, burung hantunya, dan segera kembali ke dapur.
Terlihat Rowena bertengger di kursi dan Dudley melepaskan bungkusan yang berada di kakinya. "Oh, ini dari Lily," kata Dudley.
Lalu terlihat lagi dua ekor burung hantu yang tidak Fiona kenali masuk ke dapur, menjatuhkan bungkusan dan surat-surat lalu kembali terbang keluar.
Fiona membuka bungkusan pertama. Sebuah sarung untuk tongkat dengan warna gabungan dari asrama-asrama Hogwarts dari Lily, Fiona segera membuka suratnya.
Selamat ulangtahun Fiona!
Aku sempat bingung bagaimana caranya mengirimkan kado dariku dan orangtuaku untukmu. Dad menggunakan Prongs untuk mengirim surat ke kementrian dan dia belum juga kembali. Lalu Rowena muncul! Aku lega sekali.
Kau sudah mendapatkan suratmu? Dad menyarankanku untuk membeli perlengkapan bersamamu, kita masih punya waktu berbulan-bulan sebelum mulai sekolah. Aku benar-benar tidak sabar ingin segera berangkat ke Hogwarts!
Ngomong-ngomong, sarung itu aku membuatnya sendiri dengan bantuan Nana Molly. Aku harap kau menyukainya.
Lily.
Tentu Fiona menyukainya, gabungan warna Gryffindor, Ravenclaw, Hufflepuff dan Slytherin memang luar biasa dan ia menyukainya. Bahkan Fiona berencana untuk mendesain ulang kamarnya dengan warna-warna itu.
Bungkusan kedua adalah dari Harry dan Hermione. Sebuah tas yang terlihat kecil berwarna biru yang terlihat seperti biru Ravenclaw.
Dear Fiona,
Selamat ulangtahun, kami yakin kau pasti bersemangat sekali menyambut ulangtahunmu tahun ini. Lily terus mengatakan dia tidak sabar ingin pergi ke Hogwarts bersamamu, aku yakin kau juga begitu.
Tas itu sudah diberi mantra peringan dan perluasan tidak terdeteksi, jadi kau bisa membawa buku sebanyak apapun dan tas itu tidak akan bertambah berat sedikit pun. Itulah kenapa kami tidak pernah ketinggalan buku (sebenarnya Hermione yang tidak pernah, aku sering-Harry-). Sekali lagi, selamat ulangtahun Fiona.
Harry dan Hermione Potter.
Bungkusan ketiga dari James. Isinya adalah camilan-camilan seperti cokelat kodok (Jason langsung memekik girang dan meminta cokelat itu dari Fiona), kacang segala rasa dan berbagai manisan lainnya.
Selamat ulangtahun!
Akhirnya tahun ini kau dan Lily akan berangkat ke Hogwarts. Aku berjanji padamu aku akan membawamu berkeliling saat kau masuk Hogwarts nanti(ketika aku bilang berkeliling berarti ke semua tempat termasuk sudut-sudut yang tidak pernah disadari oleh siswa lain).
Aku baru saja pulang dari kunjungan Hogsmaede-ku, jadi aku memutuskan untuk memberimu makanan-makanan dari Honeydukes. Ketika kau tiba di sini, aku akan mengajakmu ke Three Broomstick untuk minum Butterbeer. Itu akan menyenangkan.
Sampai ketemu di liburan musim panas.
James Potter II (aku selalu senang menulis ini)
Fiona tertawa kecil membaca surat dari James. Ia mengesampingkan semua hadiah dan suratnya, hingga Fiona melihat sebuah surat tersembunyi di bawah tumpukan hadiahnya.
Fiona tersenyum lebar ketika menyadari surat darimana itu, tanpa sadar ia berjingkrak-jingkrak sambil berseru, "Aku pergi ke Hogwarts! Aku pergi ke Hogwarts!"
thank you for reading.
