Taehyung & CO. [REMAKE NOVEL]
Desclaimer : seluruh cast milik Tuhan, Orang tua, dan agensi.
Lockwood&Co. milik Jonathan Stroud
Friendship, Mysteri, and Horror.
Friendship VminKook with little bit vkook bl.
Typo(s), EYD, Etc.
.
.
.
Kim Taehyung as Anthony Lockwood
Park Jimin as George Cubins
Jeon Jungkook as Lucy Carlyle
.
.
Summary:
Selama lima puluh tahun lebih, wabah hantu menyerang Korea Selatan.
.
Jeon Jungkook, penyelidik paranormal yang masih muda, menginginkan karier cemerlang. Namun, kenyataannya ia malah bergabung dengan agensi pembasmi hantu paling kecil dan kumuh di ibu kota Korea Selatan. Di pimpin oleh Kim Taehyung yang karismatis dan misterius.
.
Ketika salah satu kasus mereka berakhir dengan kekacauan fatal, Taehyung & Co. Memiliki peluang untuk memperbaiki keadaan. Namun sayangnya, itu berarti mereka harus menginap di rumah paling berhantu di korea selatan
.
.
CHAPTER 9
.
Sah-sah saja jika berkata kami─Jimin dan aku─memiliki perbedaan sepanjang beberapa bulan aku bekerja bersama Taehyung. Kami bertengkar tentang hal-hal besar seperti ketika salah satu dari kami terkena garam di wajah atau nyaris teriris akibat ayunan pedang yang lain, dan kami cekcok tentang hal kecil—giliran mencuci pakaian, siapa yang merapihkan dapur, kebiasaan Jimin meninggalkan wadah-hantu di sembarang tempat; seperti di balik pintu toilet. Kami bertengkar hampir tentang segalanya. Yang nyaris tidak pernah kami lakukan adalah berdebat di pihak yang sama.
Saat makan siang hari itu, setelah Haekyung pergi, adalah salah satu kejadian langka tersebut.
Segera setelah Rolls Royce menderu pergi, kami berdua mengomel kepada Taehyung karena tidak berkonsultasi dulu dalam mengambil keputusan. Aku mengingatkannya tentang reputasi Kombae Kaeli Hall yang mengerikan. Jimin berargumen bahwa setidaknya kami butuh waktu dua mingguㅡlebih bagus sebulanㅡuntuk meriset sejarah rumah itu secara menyeluruh. Kurang dari itu artinya bunuh diri.
Taehyung mendengarkan kami tanpa bicara, lalu dengan sikap ceria dia berkata, "Sudah selesai?" katanya. "Bagus. Tiga hal. Pertama mungkin ini satu-satunya kesempatan kita untuk menyelamatkan agensi sebelum benar-benar terpuruk. Kita bisa membayar keluarga Seulgi dan membangunkan DEPRAC sekaligus. Ini penawaran luar biasa dan kita tidak bisa menolaknya. Kedua, aku adalah pemimpin, dan keputusankulah yang dijalankan. Ketiga, bukankah ini pekerjaan paling menarik yang pernah kita dapatkan? Undakan Menjerit? Kamar Merah? Ayolah! Akhirnya kita mendapatkan misi yang sebanding dengan bakat kita! Kalian mau menghabiskan seumur hidup melenyapkan Roh Bayangan di pedesaan? Akhirnya kita mendapatkan pekerjaan sungguhan! Menolaknya adalah dosa besar."
Alasan yang dikemukakannya, terutama nomor dua, tidak meyakinkan kami. Jimin menggosok kacamatanya kuat-kuat menggunakan jumper. "Dosa sebenarnya," katanya, "adalah kondisi konyol yang diminta Haekyung; Tidak boleh pakai suar magnesium. Taehyung, itu sinting!"
Taehyung merenggangkan tubuh di sofa. "Memang permintaan yang aneh."
"Aneh?" aku berseru. "Itu keterlaluan!"
"Orang itu tolol," Kata Jimin, "kalau setengah saja cerita tentang bahaya rumah itu benar, hanya orang gila yang masuk ke sana tanpa persenjataan lengkap!"
Aku mengangguk. "Tidak ada yang bisa menghadapi Tipe Dua tanpa tabung-tabung Api Yunani!"
"Benar! Dan yang kita bicarakan ini adalah gugus Tipe Dua—"
"Dengan bukti kematian yang mereka sebabkan—"
"Tambahan lagi, kita tidak mendapatkan waktu cukup untuk—"
"—meriset catatan historisnya," kata Taehyung. "Ya, ya aku tahu, karena kalian meneriakkan itu semua ke telingaku setiap tiga puluh detik. Bisakah kalian nenek-nenek cerewet diam sebentar dan dengarkan aku? Meski kelihatan eksentrik, Haekyung adalah klien kita, dan kita harus menuruti kemauannya. Kita punya pedang, kan? Dan banyak rantai pelindung. Maka kita tidak benar-benar masuk tanpa persenjataan." Dia mengernyit. "Jungkook, matamu menatap menakutkan lagi."
"Ya, benar. Karena menurutku kau tidak menganggap ini serius."
"Salah. Aku sangat menganggap ini serius. Kita pergi ke Kombae Kaeli Hall, kita mempertaruhkan nyawa, jangan salah." Dia tersenyum. "Tapi bukankah itu memang pekerjaan kita?"
"Hanya jika kita bersenjata lengkap." Jimin menggeram. "Dan satu hal lagi. Alasan Haekyung memilih kita tidak masuk akal. Ada lima belas agensi di Seoul yang lebih besar dan lebih sukses daripada Taehyung & Co. Tapi kau tidak kelihatan terkejut dia mengetuk pintu kita."
Taehyung menggeleng. "Justru sebaliknya, kurasa hebat sekali dia memilih untuk ke sini. Hampir merupakan hal paling menarik dari kasus ini. Maka dari itu kita harus memanfaatkannya dan melihat apa yang akan terjadi. Nah, kalau cuma"
"Tidak," kataku, "Belum semua. Bagaimana dengan Park Jonghun dan liontin? Barangkali kau lupa, tapi kita dirampok dua belas jam yang lalu. Apa yang akan kita lakukan mengenai itu?"
"Aku tidak melupakan Jonghun," kata Taehyung. "Haekyung dan penawarannya harus jadi prioritas kita sekarang. Dia memberi kita empat puluh delapan jam untuk bersiap-siap, dan kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jonghun ada di penjara. Tidak perlu membawa liontin itu ke Chanyeol sekarang juga. Lagi pula, aku tidak kebaratan berusaha memecahkan misteri itu sendiri. Akan jadi bahan baru untuk disampaikan kepada surat kabarkuharap bersama detail kemenangan di Kombae Kaeli Hall."
Dia mengangkat tangan ketika aku mencoba memotongnya. "Tidak, Jungkook, kita tidak akan dirampok lagi. Dan temanmu Kim Hyorin sudah menunggu lima puluh tahun demi keadilan, jadi beberapa hari lagi takkan membuat perbedaan. Oke, waktunya bekerja. Jimin, aku ingin kau memeriksa beberapa hal."
"Jelas sekali," Jimin menggerutu. "Kombae Kaeli Hall."
"Ya, dan beberapa hal lain. Siapkan dirimu, dan cerialah. Waktunya merisetseharusnya kau melonjak-lonjak kegirangan. Jungkook, tugasmu hari ini adalah membantuku membereskan rumah dan memilah-milah peralatan. Semua orang senang? Bagus."
Senang atau tidak, mustahil berdebat dengan Taehyung kalau dia sedang bernuansa hati demikian, dan aku serta Jimin tahu sebaiknya kami tidak memaksa. Tak lama kemudian, Jimin berangkat ke Kantor Arsip, sementara aku bergabung dengan Taehyung di ruang bawah tanah. Maka dua hari persiapan terburu-buru pun di mulai.
.
.
.
Petang pertama itu, Taehyung mengawasi perbaikan dan penambahan pertahanan rumah kami. Kunci baru dipasang di pintu depan, dan jeruji besi yang kuatbisa menghalangi masuknya manusia hidup dan mati sekaligus─dipasang di jendela ruang bawah tanah. Sementara para pekerja melakukan tugas mereka, Taehyung duduk sambil menelepon.
Dia menghubungi Youngjae & Yoshua, penjual rapier, untuk memesan pedang-pedang baru; dia bicara dengan Hongbin dari Cheongdam-dong Street, pemasok terbesar perlengkapan agensi di Seoul, meminta persediaan baru besi dan garam sebagai kompensasi karena kami dilarang membawa suar.
Sementara itu, aku menghabiskan waktu menyusun senjata-senjata pertahanan di lantai ruang bawah tanah. Aku menggosok rantai dan pedang; mengisi wadah-wadah serutan besi. Aku menjumlah kembali koleksi segel besi, memilih kotak-kotak, tali dan jaring rantai yang paling kuat, kemudian memisahkan benda-benda yang lebih kecil ke satu sisi. Akhirnya, dengan menyesal, aku menyingkirkan suar dari sabuk kerja kami dan menyimpan semua kembali ke gudang. Kepala di dalam wadah-hantu mengamati seluruh proses pekerjaanku dengan tampang tertarik, menggerak-gerakkan mulut melalui kaca yang buram, sampai aku jadi jengkel; dan menutupnya dengan kain.
Jimin berada di Kantor Arsip sepanjang hari; dia masih belum kembali saat aku pergi tidur, dan sudah pagi lagi ketika aku terbangun keesokan paginya. Dengan terkejut aku mendapati Taehyung juga sedang bersiap-siap pergi. Dia berdiri di depan cermin di koridor, dengan hati-hati menata topi kain rata di kepala. Dia mengenakan setelan murah dan membawa tas kerja lusuh. Saat aku bicara kepadanya, dia menjawab dalam aksen pedesaan yang sangat berbeda dari aksen yang biasa ia gunakan sehari-hari.
"Bagaimana kedengarannya?" dia bertanya. "Khas orang desa?"
"kurasa begitu, ya. Aku hampir tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Kau sedang apa sih?"
"Aku hendak ke Kombae Kaeli Hall, Aku ingin memeriksa beberapa hal. Aku akan kembali larut malam."
"Ingin ku temani?"
"Mianhae. Ada pekerjaan penting yang perlu kulakukan, Kook, dan aku butuh kau menjaga benteng. Akan ada kiriman dari Yongjae dan Yoshua nanti siang. Kalau mereka datang, bisakah kau memeriksa semua kiriman rapier? Telepon saja Mr. Yoshua jika ada masalah. Tidak perlu mencemaskan barang-barang dari Hongbin; aku yang akan membukanya saat pulang nanti. Kemudian bisakah kau memeriksa ulang tas-tas perlengkapan dan mulai mempersiapkan perbekalan makanan? Juga.." Dia meraba saku jaketnya dan mengeluarkan kotak kaca perak, "Aku ingin kau menyimpan kalung si gadis hantu. Kita akan menanganinya dalam beberapa hari ke depan, tapi sementara itu, simpanlah benda ini dengan hati-hati untukku. Bawa selalu bersamamu, seperti sebelumnya." Dia mengambil tas kerja, melangkah melintasi koridor.
"Oh, dan Jungkook, selain pengirim barang, jangan biarkan orang lain masuk. Teman bertopeng kita bisa jadi melakukan pendekatan yang lebih samar."
.
.
.
.
Senja datang. Matahari musim dingin benar-benar bersinar rendah di atas atap-atap rumah, berupa lingkaran ungu muda pudar. Distrik Gangnam nomor 35 dingin dan kosong, penuh petak-petak kelabu dan lusinan bayang-bayang gelap. Aku sendirian di rumah. Baik Jimin maupun Taehyung belum kembali. Aku menerima pengiriman barang, mengatur ulang tas-tas perlengkapan, menyusun perbekalan makanan dan minuman, juga menyetrika pakaian untuk dikenakan besok pagi. Aku berlatih rapier dengan Esmeralda—boneka jerami kayu yang sering menjadi rival sabetan pedang kami—di ruang bawah tanah. Sekarang aku mondar-mandir di dalam rumah di tengah temaram petang, berjuang menahan frustasi.
Bukan kasus Haekyung yang menggelisahkanku, meski pikiran tentang bahayanya berkerumunan seperti phantom di surut benakku. Aku tahu Taehyung benar. Kami tidak bisa menolak penawaran baik hati yang luar biasa ini jika kami ingin agensi bertahan. Dan meski banyak pertanyaan mengenai kasus ini—keadaan Kamar Merah dan Undakan Menjerit, sebagai awalnya—aku cukup percaya pada kemampuan meriset Jimin sehingga tahu kami tidak akan benar-benar buta.
Namun meski kasus ini layak kami pikirkan baik-baik, aku juga jengkel karena merasa tersingkir. Jimin melakukan hal yang disukainya dengan buku-buku dan kertas, Taehyung yang kuduga sedang mengumpulkan informasi segar tentang Kombae Kaeli Hall. Sementara aku? Terjebak di rumah, membuat sandwich selai dan menumpuk persenjataan. Tidak diragukan lagi pekerjaanku memang penting, tapi tidak membuatku bersemangat. Aku ingin memberi konstribusi lebih.
Dan yang sesungguhnya menggangguku adalah bagaimana kami mengabaikan kasus satu lagi. Aku tidak setuju dengan Taehyung bawa kami harus membiarkan liontin itu menunggu beberapa hari lagi. Dengan perampokan dan tulisan aneh di dalam liontin, bagiku rasanya vital untuk terus bergerak, dan kepercayaanku ini diperkuat oleh telepon mengejutkan yang kuterima petang tadi. Inspektu Chanyeol menghubungi kami, melaporkan bahwa Park Jonghun hendak dibebaskan:
"Tidak cukup bukti," Chanyeol menukas. "Hanya itu masalahnya. Dia tidak mengaku, dan kita tidak bisa membuktikan dia pernah masuk kerumah itu. Sekarang para pengacaranya sibuk, dan itu artinya kita kehabisan waktu. Kecuali jika kebetulan kita mendapatkan bukti lain, Jeon Jungkook, atau lelaki itu sendiri mengaku─aku khawatir besok dia akan bebas."
"Apa?" aku berseru. "Tapi kalian tidak bisa membebaskannya! Jelas-jelas dia bersalah!"
"Ya, tapi kita tidak bisa membuktikannya, kan?" Aku hampir dapat melihat bibir Chanyeol bergetar saat ia berbicara. "Tidak cukup hanya menyebut fakta bahwa dia mengantar Kim Hyorin pulang. Kita tidak memiliki potongan bukti terakhir yang menghubungkannya dengan kejahatan itu. Kalau kalian idiot-idiot tidak membakar rumah, barangkali kami bisa menemukan sesuatu di sana. Sedangkan sekarang, maaf, kelihatannya dia akan bebas dari dakwaan." Sambil mendengus terakhir kali, sang inspektur memutuskan sambungan telepon, membiarkanku berasap.
Kita tidak memiliki potongan bukti terakhir... Tapi barangkali, tentu saja, kami punya bukti.
Aku mengambil kotak kecil dari leherku dan mengangkatnya agar terkena terpaan cahaya yang semakin pudar. Dari balik kaca, rantai emas liontin itu bergoyang-goyang, seperti belut di air dangkal. Tormentumm Meum, Laetitia Mea.. Aku hampir dapat membaca kata-kata itu. Dan di dalamnya, apa tulisannya? K H; H.II.2.115 ya... Entah bagaimana, huruf dan angka itu seperti berisi petunjuk terakhir. Inilah yang diincar Jonghun. Itulah mengapa dia begitu putus asa menginginkan kalung ini. Barangkali, kalau kami memberikan kalung ini kepada Chanyeol, dia akan memecahkan misterinya.
Atau mungkin juga tidak. Mungkin si pembunuh akan tetap bebas, seperti yang sudah dinikmatinya selama lima puluh tahun.
Kemarahan yang dingin dan keras menggelepak dalam diriku. Kalau kami tidak dapat memecahkan kode ini, kesempatan terakhir akan lenyap, Jonghun tidak akan mengakui kejadian sebenarnya, dan tidak ada orang lain yang tahu.
Tidak ada orang lain, kecuali...
Aku menatap kotak kaca di tanganku.
Gagasan mendadak muncul di kepalaku begitu tabu sehingga sejenak aku hanya bisa berdiri terpaku, mendengarkan jantungku yang berdebar kencang. Gagasan ini akan mempertaruhkan nyawaku, meski kurasa aku bisa dengan mudah menghindar; lebih buruk lagi, ada resiko Taehyung jadi murka, sebab dia sudah memberi peringatan tentang melakukan tindakan berbahaya tanpa izin. Kalau punya akal sehat, aku hanya perlu menunggu dia pulang, tapi aku tahu persis dia akan melarangku melakukan eksperimen ini. Bila demikian, hal ini benar-benar menjadi tidak berguna bagiku, sementara si busuk Jonghun menunggu pembebasannya.
Aku mondar-mandir di dalam rumah, mengikuti jalur tanpa tujuan, memikirkan rencana itu matang-matang. Pelan-pelan aku menuruni tangga besi ke ruang bawah tanah. Di dinding belakang, rak artefak berupa garis-garis hitam bertengger. Malam ini tangan si perampok berpendar ungu muda samar, sementara trofi-trofi lain tetap gelap.
Kurasa resiko ini layak diambil. Kalau aku berhasil, kami dapat memecahkan kode aneh di dalam liontin. Aku bisa mendapatkan bukti terakhir bawa Park Jonghun memang bersalah. Kalau aku gagal, lalu kenapa? Taehyung tidak perlu tahu.
Rantai-rantai besi diletakkan di lantai, sudah diminyaki dan diuji, siap dikemas. Aku mengambil yang paling tebal, rantai kuat berukuran lima senti, dan melemparkannya ke ruang pelatihan tempat boneka jerami Joe dan Esmeralda menggelantung dalam keheningan melankolis. Aku mengaturnya membentuk lingkaran dua kali, berdiameter satu setengah meter, dengan ujung-ujung saling bertautan. Untuk memastikan ujung-ujungnya tidak terlepas, aku menjepit dua mata rantai dengan gembok sepeda. Ini perlindungan tingkat tinggi, dijamin bisa menahan Tipe Dua. Rantai ini barangkali dibuat di buat oleh Haekyung Iron. Biasanya agen-agen akan berdiri di dalam lingkaran rantai, aman dari hantu yang bergentayangan.
Hari ini, aku mengubah peraturan.
Tidak ada jendela di ruang latihan, maka suasana sudah sangat gelap. Arlojiku menunjukkan hari baru pukul lima petang, yang biasanya terlalu dini untuk hantu bermanifestasi penuh, namun aku tidak punya pilihan untuk menunggu, Taehyung dan Jimin bisa kembali kapan saja. Lagi pula, kalau sesosok hantu memiliki semangat tinggi, siapa yang tahu seberapa dini mereka akan datang.
Aku melangkah memasuki lingkaran rantai dan mengeluarkan kotak kaca perak dari saku. Sambil berlutut, aku membuka pengait penutupnya, membuka penutup kotak dan membiarkan liontin itu jatuh ke telapak tanganku. Rasanya dingin luar biasa, seperti sesuatu yang diambil dari dalam lemari pembeku. Aku meletakkannya dengan hati-hati di lantai. Kemudian aku berdiri dan melangkah keluar dari lingkaran lantai.
Sejauh ini pekerjaan mudah. Aku tidak berharap segera mendapatkan hasil, maka aku pergi ke area kantor untuk mengambil beberapa benda. Aku hanya pergi sekitar dua menit, tapi ketika kembali , udara di ruang latihan terasa lebih dingin. Joe dan Esmeralda berayun-ayun lembut di rantai mereka.
"Kim Hyorin?" Aku memanggil.
Tidak ada apa-apa—tidak ada jawaban, tapi aku merasakan pelipisku di tekan, sebuah kekuatan samar sedang berkumpul dalam ruangan. Aku berdiri agak jauh dari rantai, dengan sekantong garam di saku dan kertas di tangan.
"Kim Hyorin?" Aku memanggil lagi. "Aku tahu itu kau."
Cahaya perak samar menyinari bagian dalam lingkaran rantai besi. Sosok pudar seorang gadis dalam dua dimensi, terlipat, tertekuk; timbul dan tenggelam.
"Siapa yang membunuhmu, Hyorin?" aku bertanya.
Sosok itu muncul dan berkedip seperti tadi. Aku mendengarkan, tetapi tidak ada suara. Tekanan di kepala membuatku kesakitan sekarang.
"Apakah Park Jonghun?"
Tidak ada perubahansetidaknya yang terlibat. Selama sepersekian detik aku mengira bisa mendengar gumaman samar. Aku menajamkan telinga, mendengarkan, dahiku berdenyut-denyut akibatnya dan... Tidak ada. Lenyap. Jika memang suara itu pernah ada.
Yah, harapaku terlalu tinggi jika menduga akan mendengar sesuatu. Kalau mengintrogasi hantu memang semudah itu, semua pemilik Bakat akan mahir melakukannya. Sedangkan kenyataannya hanya Kim Seokjin yang mampu berbuat itu, mana mungkin ini terjadi padaku? Sebentar lagi aku akan menabur garam, dan membereskan semuanya.
Tapi masih ada satu hal yang ingin ku coba.
Aku memegang fotokopi dari Jimin, kusembunyikan di balik punggung. Sekarang aku menunjukkannya, membuka lipatan kertas, dan melangkah mendekati rantai. Aku memutar kertas sehingga foto Jonghun menghadap lingkaran rantai. Di sanalah lelaki itu, muncul dua kali—dalam foto diri, nyengir lebar dengan dasi hitam, topi dan sarung tangan, dan ada dia juga di dalam foto kelompok di sebelah air mancur, berdiri dekat dengan Kim Hyorin.
"Ini," kataku. "Diakah pelakunya? Apakah J—"
Pekikan psikis melengking, lolongan kepedihan dan kemarahan, membuatku terlontar ke belakang. Udara menerpa ruangan mendorong rantai besi ke luar sampai membentuk lingkaran sempurna, menghamburkan debu batu bata dari dinding ruang bawah tanah. Boneka-boneka jerami berayun begitu keras sampai membentur langit-langit; aku meluncur dengan posisi telentang sambil berteriak, hampir sampai ke pintu; tekanan di kepalaku begitu kuat sehingga rasanya tenggorokkan ku bakal terbelah. Aku menengadah, melihat si hantu berayun-ayun maju mundur di dalam rantai, membentur penghalang, memercikkan plasma yang mendesis kapan saja dia menyentuh tepi rantai. Sosoknya menjadi tidak karuan. Kepalanya panjang, penyok, tubuhnya tipis, tertekuk-tekuk seperti tulang patah. Semua kemiripan dengan si gadis lenyap sudah. Dan pekikan psikis itu masih terdengar nyaring, sampai membuatku terpana dan tuli.
Aku menjatuhkan kertas ketika terlontar, tapi bom garam masih berada di dalam saku. Aku berjuang untuk duduk dan melemparkannya kuat-kuat ke arah lingkaran rantai.
Plastik pecah, garam tersebar; makhluk yang meronta-ronta dan melolong itu lenyap. Seketika suara di dalam kepalaku berhenti.
Aku duduk berselonjor di lantai, mulut menganga lebar, mata mengerjap. Di seberangku, dua boneka jerami berayun-ayun dahsyat; berangsur-angsur gerakan mereka semakin pelan, kemudian berhenti.
"Ahh," ringisku. "Sakit."
"Menurutku juga pasti sakit."
Taehyung dan Jimin berdiri di ambang lengkung, wajah melongo keheranan, menunduk menatapku.
.
.
.
"Tunggu!" kataku, "Berhenti bicara, Jimin hyung! Tunggu! Akan kutunjukkan! Akan kujelaskan!"
Dua menit sudah berlalu, dan aku tidak diberi kesempatan bicara. Oke, itu karena aku sibuk: tugas pertamaku, segera setelah dengingan di kepalaku lenyap, adalah memungut liontin dari dalam lingkaran─yang lebih mudah dikatakan, daripada dilakukan, karena benda tersebut ditutupi oleh kerak garam membeku yang hampir membakar kulitku. Kemudian aku harus mengembalikkannya lagi ke dalam kotak─sekali lagi, bukan pekerjaan mudah, kalau ada Park Jimin berteriak-teriak di telinga. Tapi aku perlu bicara, dan bicara dengan cepat. Taehyung belum mengucapkan apa-apa sama sekali. Ada rona geram merah di pipinya, mulutnya terkatup rapat dan keras.
"Dengar," kataku sambil memungut kertas di lantai. "Aku melakukan apa yang seharusnya kita pikirkan sejak semula. Aku menunjukkan foto-foto ini kepada Kim Hyorin. Foto siapa? Park Jonghun. Apa yang terjadi, Kim Hyorin kalap. Aku belum pernah mendengar pekikan seperti tadi."
"Kau sengaja melepaskannya?" Kata Taehyung. "Itu tolol sekali."
Saat aku menatap wajahnya, hatiku mencelos. "Bukan dibebaskan," kataku putus asa. "Hanya... bebas sedikit. Dan ada hasilnya, sedangkan kemarin-kemarin kita tidak mendapatkan apa-apa."
Jimin mendengus. "Hasil apa? Apakah dia bicara kepadamu? Tidak! Adakah dia menandatangani dokumen resmi yang bisa dijadikan bukti di pengadilan? Tidak!"
"Reaksinya jelas sekali, hyung. Sebab dan akibat. Kau tidak bisa menyangkal hubungannya."
Taehyung mengangguk. "Tetap saja, seharusnya jangan kau lakukan. Berikan kertas itu kepadaku."
Aku menyerahkannya tanpa bicara, mataku terasa panas. Habislah sudah. Lagi-lagi aku mengambil keputusan yang salah. Kali ini aku tahu Taehyung tidak akan memaafkanku. Aku bisa melihat itu dari wajahnya. Ini adalah akhir masa kepegawaianku dalam agensi. Seketika aku menyadari hal berharga yang kubuang-buang begitu saja.
Taehyung melangkah ke samping, sepatu botnya berderak ketika menginjak garam, ia berdiri untuk mengamati kertas di bawah lampu. Aku tidak beruntung dengan Jimin; dia mendekat, dan melotot sedemikian rupa sampai matanya nyaris menyentuh lensa kacamata.
"Aku tidak percaya kau melakukan itu, Jungkook. Kau sinting! Sengaja membebaskan hantu!"
"Itu tadi eksperimen," kataku. "Kenapa kau mengeluh? Kau selalu bermain-main dengan wadah tololmu itu."
"Ini tidak sama. Aku tetap mengunci si hantu dalam wadah. Lagipula, aku melakukan riset ilmiah. Aku bekerja di bawah kondisi terkendali."
"Terkendali? Aku pernah menemukan wadah hantu itu di bak mandi!"
"Benar. Aku sedang menguji reaksi hantu itu terhadap panas."
"Dan reaksinya terhadap berendam di air sabun? Ada gelembung sabun menempel di wadah. Kau memasukkan sabun wangi ke air, dan..." Aku menatapnya curiga, "Kau mandi sambil membawa wadah itu ke bak, Jimin hyung?"
Wajahnya memerah. "Tidak. Bukan seperti itu. Akuaku menghemat waktu. Aku baru hendak masuk ke bak ketika terpikir bahwa aku bisa melakukan eksperimen tentang kekebalan ekstoplasma terhadap suhu hangat. Aku ingin melihat apakah dia akan mengerut—" Dia mengibaskan tangan kuat-kuat. "Tunggu! Kenapa aku yang menjelaskan kepadamu? Kau baru melepaskan hantu di dalam rumah!"
"Jungkook.." Kata Taehyung.
"Aku tidak melepaskannya!" Seruku. "Lihat semua garam itu. Aku memegang kendali penuh."
"Yeah, itulah mengapa kami menemukanmu terkapar di lantai. Hantu itu masih terkurung hanya karena keberuntungan, bukan keahlian. Makhluk sial itu hampir memotong leher kita tempo hari, dan sekarang—"
''Oh, berhentilah mengomel, Jimin hyung. Kau telanjang bersama sesosok hantu—"
"Jeon Jungkook!" Teriakan Taehyung membuat kami terdiam. Taehyung masih berdiri dalam pose yang sama sejak aku dan Jimin mulai bertengkar, di bawah lampu, memegang kertas fotokopi. Wajahnya pucat dan suaranya aneh. "Kau menunjukkan kertas ini kepada Pengunjung?"
"Ya, aku—"
"Bagaimana kau memegangnya? Seperti ini? Atau seperti ini?" Dia memutar tangan dengan cepat.
"Mm, yang terakhir, sepertinya."
"Kau yakin seluruh kertas ini kelihatan?"
"Yah, ya, tapi hanya beberapa detik. Kemudian dia jadi kalap, seperti yang kau lihat."
"Yeah," kata Jimin geram, "kami melihat, Taehyung, sejak tadi kau diam saja. Bisakah kau katakan pada Jungkook dia tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi? Sudah dua kali kita dihadapkan dalam situasi membahayakan. Kita harus bilang─"
"Kita harus bilang, bagus sekali," Taehyung menyela. "Jungkook kau jenius. Kurasa kau mendapatkan hubungan yang paling berarti. Ini petunjuk penting."
Aku hampir sama kagetnya dengan Jimin yang rahang bawahnya jadi mirip ayunan yang bergerak-gerak pelan. "Oh. Trims..," kataku, "Menurutmu... Menurutmu ini akan membantu kasus?"
"Sangat membantu."
"Jadi, kita pergi ke polisi? Kita tunjukkan liontin itu kepada Chanyeol?'
"Belum. Jimin benar; reaksi si hantu tidak bisa dijadikan bukti. Tapi jangan cemas─berkat dirimu, aku yakin kita bisa membawa kisah Kim Hyorin kepada kesimpulan yang memuaskan sebentar lagi."
"Kuharap begitu..." Meski kebingungan, aku juga sangat lega.
"Tapi ada satu hal yang perlu kau ketahui. Park Jonghun akan dibebaskan." Aku bercerita kepada mereka tentang telepon Chanyeol.
Taehyung tersenyum mendadak dia tampak rileks, bahkan ceria. "Tidak usah khawatir," katanya. "Kita sudah memperkuat pengamanan rumah. Tapi tetap saja, kurasa kita jangan meninggalkan liontin saat ke Kombae Kaeli Hall. Bawa benda ini bersamamu, Jungkook─kalungkan di leher. Aku berjanji akan menanganinya tidak lama lagi. Tapi mula-mula.." dia nyengir lebar, "Ada pekerjaan dari Haekyung. Jimin punya berita mengenainya."
"Yeah," kata Jimin. "Aku mendapatkan sesuatu tentang kisah hantu di sana."
Aku menatapnya. "Seburuk yang diceritakan Haekyung?"
"Tidak." Jimin mencopot kacamata dan dengan letih mengucek matanya. "Dari apa yang kutemukan, hampir keadaannya jauh lebih buruk."
.
.
.
TBC
.
.
.
GLOSARIUM
Agensi : Bisnis yang dikhususkan untuk menahan dan menghancurkan hantu.
Ektoplasma : substansi aneh dan bervariasi yang membentuk hantu.
Lavendel : aroma kuat dan manis, tanaman ini diperkirakan mampu menghalau roh jahat.
Rapier : senjata resmi semua agen investigasi cenayang. Ujung pedang terbuat dari besi kadang-kadang dilapisi perak.
Garam : proteksi umum yang digunakan untuk melawan hantu (kurang aktif dibandingkan besi dan perak).
Besi : proteksi penting terhadap hantu dalam berbagai jenis (penangkal hantu).
Perak : penangkal hantu dalam bentuk perhiasan.
Kaca-perak : kaca 'anti hantu' untuk mengurung Sumber.
Bom-garam : senjata bagi agensi berbentuk bola-lempar berukuran kecil yang diisi garam. Pecah jika menghantam dan garam akan menyebar ke segala arah.
Suar magnesium : Senjata penting bagi agensi untuk melawan hantu, berbentuk tabung logam dengan tutup kaca yang bisa dipecahkan, berisi magnesium, besi garam, bubuk mesiu.
Api Yunani: sama persis fungsinya seperti Suar magnesium
Tipe Satu (*) : kelas hantu yang paling umum, paling lemah, dan paling tidak berbahaya.
Tipe Dua (**) : kelas hantu paling berbahaya yang paling sering ditemui. Tipe Dua lebih kuat daripada Tipe Satu dan memiliki sejenis kecerdasan residual. Mereka menyadari kehadiran manusia yang masih hidup, dan kadang-kadang berusaha melukai.
Tipe Tiga (***) : kelas hantu paling langka. Di katakan bahwa Tipe Tiga mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup.
**Spectre : Hantu tipe dua yang paling sering ditemukan. Spectre selalu memiliki penampakan yang jelas dan detail. Biasanya menggunakan gema visual akurat dari orang yang sudah meninggal. Sebagian besar bersikap netral kepada manusia yang masih hidup. Tetapi meski demikian beberapa Spectre gemar melakukan kekerasan, dan menginginkan kontak dengan manusia.
**Pengalih Rupa : Hantu tipe dua yang langka dan berbahaya, cukup kuat untuk mengubah sosok mereka.
*Asap kelabu : Hantu tipe satu yang cenderung membosankan. Muncul sebagai petak-petak tanpa bentuk berupa kabut yang berkilau samar.
*Perempuan Halimun: Hantu Tipe Satu yang melankolis dan pasif, hanya gentayangan dan tidak banyak melawan jika seseorang mencari sumbernya.
**Phantasm : Hantu tipa dua mana saja yang memiliki sosok ringan, rapuh, dan tembus pandang. Phantasm bisa saja hampir tidak kasatmata, selain garis tubuh yang samar dan beberapa detail berkabut dari wajah fiturnya.
**Poltergeist : Jenis kuat dan perusak hantu tipe dua. Poltergeist melepaskan semburan energi supernatural kuat yang mampu mengangkat objek ke udara. Mereka tidak melakukan penampakan
**Spirit Menjerit : Hantu tipe dua yang ditakuti, dapat menunjukan penampakan visual dan mengeluarkan pekikan menakutkan yang mampu membuat para pendengarnya lumpuh akibat ketakutan.
*Roh Bayangan : Hantu standar tipikal tipe satu. Bisa muncul dalam bentuk padat, seperti spactre, atau tembus pandang dan berkabut seperti phantasm. Namun bedanya mereka tidak memiliki kecerdasan seperti jeni-jenis yang disebut tadi.
Malaise : Perasaan lunglai dan sedih yang sering dialami ketika sesosok hantu menghampiri. Malaise bisa semakin parah atau dapat dikatakan menjadi kuncian-hantu (otot-otot memberat, yang terkena ini merasa tidak mampu lagi berpikir atau bergerak bebas; mematung) yang berbahaya.
Miasma : Atmosfer yang tidak nyaman, sering diiringi rasa dan bau tidak enak.
DEPRAC : Departement of Psychical and control (Departemen Riset dan Kendali Cenayang)
Phantom : Nama lain untuk hantu
Pengunjung : Nama lain untuk hantu
.
A/N : Hallo, Kumiko is back! Ada yang kangen kami? Lol. Akhirnya kami benar-benar bisa kembali setelah istirahat selama dua minggu kemarin. Terimakasih untuk kalian yang sudah menunggu dengan sabar work ini. Jangan lupa untuk Review di setiap chapternya! See you~
Sign
Laili Kim & Park Sungra
