Oke, pertama sekali kita adakan momen bertangis-tangisan dulu.
.
.
.
AAAAAAA. I'VE MISSED YOU GUYS SO MUCH! Ga kerasa udah ninggalin dunia ini selama dua tahun penuh, karena… Well, bukan sibuk sebenernya, tapi entah kenapa terlupakan, dan aku lebih terfokus ke dunia ilustrasi… Bukannya gambarku bagus sih =A= -3
Mungkin kalian udah lupain aku, dan aku udah ganti penname lagi, dan (mungkin) gak akan ganti lagi. Aku ga yakin juga ada yang bakal nyari fic ini setelah hiatus sekian lama TT^TT. Dan lagi, aku bener-bener terharu ngebaca semua review dari kalian, bahkan bertahun-tahun setelah aku tanpa bilang-bilang hiatus. For all you guys out there, suer, aku ngerasa bersalaaaaaah. *sembah sujud*
Aku mau bilang pada semua reviewer maupun silent reader di luar sana. Aku beneran mau nyipok kalian kalo kalian ada di depanku! Walaupun aku nggak bales review kalian, aku bener-bener baca kok! Dan aku pasti akan memuaskan kalian dengan ini! (kok rasanya rada ambigu ya).
Oke, no basa-basi anymore.
WARNING : Explicit OOC for Haruto Sakuraba, Shonen-ai, AU Modern Kingdoms.
If you don't like, please, from the bottom of my heart, I order you to just leave instead of throwing trash onto my fictions. These are my words, I own them. My imaginations are not yours, so you can't order them as you desire them to be. If you want to flame my story, give a constructive suggestions, please.
Jika Anda tidak suka, tolong, dari dasar hati saya, saya memerintahkan Anda untuk tinggalkan saja fic ini daripada melemparinya dengan sampah flame. Ini adalah kata-kata saya, saya yang memilikinya. Imajinasi saya bukan milik Anda, jadi Anda tidak bisa memerintahkan fic ini untuk jadi seperti keinginan Anda. Jika mau mengeflame cerita ini, saya mohon berikanlah kritikan yang bersifat membangun.
A/N : Lowongan OC untuk adik Hiruma dan yang lainnya dibatalkan, hanya disisakan Kakei Rui dan Akaba Cherrie. Karena plot yang sudah dimodifikasi menjadi lebih baik ^^.
.:.: MELTING HEARTS :.:.
An Eyeshield 21 Fanfiction
©2010-2012 jaysiecah
Tenth Chapter : Sleep Tight, My Dear.
Pria itu menengadah ke langit, melalui lubang berbingkai yang melengkapi sebuah ruangan putih. Dingin. Gelap. Cahaya samar-samar menyusup masuk melalui celah berbingkai itu, menampakkan wujud langit yang sedang sendu. Gelap. Mendung. Bersiap untuk menangiskah ia?
Garis wajahnya tegas, runcing, dan mengintimidasi. Siapa sangka akan ada gurat kesedihan di sana?
Perlahan-lahan mata sayunya menangkap pantulan dari seorang anak remaja yang tertidur—terlalu kaku untuk disebut tidur sebenarnya, namun dapat disimpulkan demikian karena ia diletakkan di atas sebuah kasur beroda.
"Sena…"
"…kapan mata indahmu akan terbuka lagi?"
"Kapan aku akan menikmati kehangatan dari kedua bola matamu itu?"
"Seperti cokelat panas warnanya, indah menghangatkan jiwaku yang rasanya sudah seperti beku."
Sena Kobayakawa namanya. Ia lahir sebagai putera mahkota Kerajaan Kobayakawa, notabene terkecil di wilayah Christmas Bowl, namun memiliki kekuatan tersendiri yang membuatnya tidak menghilang. Sena sendiri adalah bocah yang sangat rendah diri, dikarenakan tubuhnya yang memang lemah, dan kemampuan fisik dan intelijen yang kurang.
Kadang dia berpikir : Apa yang kulakukan di dunia ini? Mengapa aku harus dilahirkan jika aku tidak berguna? Namun pertanyaan-pertanyaan itu terbiarkan, tanpa terjawab. Sena, demikian namanya, sadar sepenuhnya bahwa dirinya benar-benar tidak berguna.
Ayahnya adalah keturunan Kobayakawa yang tamak dan egois, memaksakan kehendak dan kelewat keras, bahkan terhadap keluarganya sendiri. Sena tidak suka, namun sekaligus tidak mampu melawan kehendak ayahnya itu. Sikap Kobayakawa Shuuma—Raja terdahulu Kobayakawa—mendukung banyak aspek, memang, namun menyengsarakan pihak terdekatnya.
Rasa rendah diri itu semakin menjadi-jadi ketika ia tidak kuasa menyelamatkan ibunya yang disiksa ayahnya, bahkan sampai akhir hidupnya, hidup ibunya, kandas di tangan ayahnya sendiri. Sena hanya bisa terbelalak dan terisak saat Shuuma memberitakan kepada publik bahwa jatuhnya ibunya dari lantai empat Istana Kobayakawa itu hanyalah kecelakaan.
Air mata buaya itu—air mata penipu itu!
Sena hanya mampu mengepalkan jemarinya, tubuhnya bergetar, seakan siap meledak kapan saja. Ia menahan diri.
Tapi, sampai kapan?
Sena membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali.
Putih, itu yang diterima lensa matanya. Dua bulatan putih yang bersinar.
"…Lampu? Tapi ini bukan kamarku—ah." Ia teringat. Riku dan teman-temannya yang lain telah menyelamatkannya dari Zokugaku.
Dalam upaya membiasakan matanya yang masih kabur, Sena memandang sekeliling. Sudah dapat ditebak, ia berada di salah satu kamar dalam sebuah rumah sakit. Pemuda beriris cokelat madu itu mencoba bangkit, tapi rasa sakit langsung melejit menyerang seluruh sendi-sendinya, "Ah!" rintihnya.
"Kuso Chibi, jangan bergerak dulu. Mau mati, ya?"
Sena yang kaget langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu. Suara familiar itu, tidak mungkin itu bukan Hiruma Yoichi, si Pangeran Setan. Sena menyipitkan matanya, memastikan itu benar Hiruma, "Hiruma-san?" Hiruma bergeming sebentar. "Ya, jelas ini aku, Kuso Chibi. Matamu sudah buta, ya?"
Sena termenung sebentar, sebelum senyumannya merekah kecil, kemudian perlahan berubah menjadi senyuman lebar. Hiruma hanya menatapnya dengan pandangan datar. Walaupun begitu, secercah emosi terpancar di kedua mata tosca Hiruma. Kelegaan, mungkin. Bahagia itu terlalu klise untuk seorang Hiruma Yoichi. Setidaknya ia merasa cukup puas bahwa misinya untuk membawa kembali Sena hidup-hidup, sukses.
Walaupun ia sempat terbawa perasaan di perjalanan membawa Sena yang terluka parah.
Terbawa perasaan itu bukan salah satu ciri yang bisa mendeskripsikan Hiruma. Ia lebih memilih tidak terikat dengan apa pun dan melakukan segalanya hanya untuk dirinya sendiri, demi tujuannya. Dan ia tidak pernah senang jika rencananya gagal. Pertanyaannya, apakah menyelamatkan Sena ini juga adalah sebuah rencana yang 'tidak boleh gagal'? Seandainya pun gagal, apakah ia juga tidak senang? Sena bukan kewajibannya, hidup Sena bukanlah kewajiban yang benar-benar wajib dan harus ia pastikan selamat.
Misi ini bukannya official.
Dan ia tidak seharusnya terbawa perasaan.
Cherrie, Rui, Mamori, dan Akaba masih menunggu Kakei di kursi tunggu, di depan ruang rawat Sena. Mereka berempat sudah ditemani dengan adanya Shin, yang memasang wajah kurang bahagia dengan fakta bahwa ada Sakuraba yang tersenyum seperti anak kecil, yang duduk manis di sebelahnya.
"Seijuro-cchi, sudahlah, jangan pasang tampang seperti itu… Sakuraba-cchi kan tidak mengganggumu dari tadi." Cherrie mulai tidak enak dengan tampang Shin yang mengundang aura muram. Cherrie sendiri sudah berhasil mengatasi kekhawatirannya akan keselamatan Sena, entah kenapa. Jauh di dasar hatinya, ia merasa Sena sudah sadar.
"Masalahnya, keberadaannya saja sudah menggangguku," cetus Shin, "dan dia sama sekali tidak mau tahu soal kekesalanku padanya."
"Ke-kejam!" Sakuraba mendesis.
Yang lainnya tertawa. Keheningan terpecah. Sebelum pintu ruang rawat Sena terbuka.
"Hiruma-san—" Rui tercekat.
"Kenapa bisa—" Cherrie menyambung.
"Ada di dalam?" Mamori menyelesaikan.
Hiruma menyeringai sedikit, sebelum berjalan keluar dari ruang rawat itu.
"Kuso Chibi sudah sadar."
Dengan pernyataan singkat itu, mereka segera menyeruak masuk ke dalam ruang rawat Sena. Akaba sedikit bertubrukan dengan Hiruma karena dia berada di pinggir pintu, sementara Hiruma akan keluar. Ia merasakan kulit Hiruma yang dingin. "Minggir kau, Maniak Gitar Sialan." Umpat Hiruma sambil menatap kesal pada Akaba, lalu berjalan di koridor rumah sakit.
Akaba berhenti sebentar, sementara yang lainnya sudah di dalam. Ia memandang punggung Hiruma yang berjalan menyusuri koridor, menuju lift.
"Kulitnya dingin sekali. Sebenarnya sudah sejak kapan dia berada di dalam sana?"
Markas persembunyian darurat Zokugaku. Letaknya di pinggiran, hampir di perbatasan Kerajaan Kobayakawa dan Shin. Markas itu berupa gedung pemerintahan darurat Kobayakawa saat perang sekitar beberapa puluh tahun yang lalu. Bangunan itu masih kuat dengan fondasi yang kokoh, sangat strategis dan efektif jika seseorang ingin merencanakan sesuatu sekaligus mengintai Kerajaan Kobayakawa.
Rui Habashira dan Taiga Kamiya tentu saja menjaga agar kecurigaan pihak kerajaan yang dimaksud tidak muncul, dengan mengancam dan membunuh penduduk sekitar sana apabila tidak mau menyingkir dari wilayah yang mereka ambil dengan paksa itu. Kamuflase tambahan, penjaga gerbang disamarkan sebagai penduduk lokal dengan pakaian sehari-hari. Cerdas dan licik.
Suasana di sekitar sana sangat sunyi, dengan langit sore berwarna jingga yang indah. Para penjaga sebelumnya berganti shift dengan para penjaga untuk jam malam.
TAP! TAP!
Suara langkah kaki santai terdengar. Mengetuk kesunyian yang tadinya nyaman menjadi was-was, bagi para penjaga yang baru saja bertukar shift.
Seorang pemuda berkaki jenjang terlihat sedang berbicara dengan penjaga gerbang besar. Tampaknya ia berusaha meyakinkan penjaga itu bahwa dirinya memang ada janji temu dengan pimpinan mereka.
Yah, apa daya sih. Tampangnya saja mencurigakan seperti itu.
"Siapa orang itu? Aku baru melihatnya hari ini."
"Aku juga tidak tahu. Berisik sekali, tapinya."
"Suka mengulang kata-kata yang itu-itu saja, lagi."
"Kakinya panjang sekali."
"Terus kalau panjang memangnya kenapa?"
"Aku ingin punya kaki seperti itu~"
"…."
"Ada apa?" Penjaga-penjaga yang meributkan soal pemuda tadi kaget, saat sebuah suara alto seorang wanita terdengar dari belakang mereka. Wanita berambut pirang panjang itu mengernyitkan dahi saat salah satu penjaga menunjuk pemuda tadi, yang masih dengan ricuhnya berdebat dengan penjaga gerbang besar.
Wanita yang biasanya dipanggil Megu atau anego itu menghela napas. Ia mengenal pemuda berisik itu.
Ia kemudian berjalan mendekat ke arah gerbang, kemudian menepuk pundak si penjaga. Mengisyaratkan untuk meninggalkan 'masalah' ini kepadanya. Penjaga tadi menunduk sekilas, lalu kembali ke posnya.
Megu menghela napas lagi.
"Dari sekian banyak tempat yang bisa kau tuju, kenapa harus ke sini?" Gadis itu bertanya, nadanya setengah frustasi, setengah lega, "Kotaro Sasaki."
Pemuda tadi hanya terkekeh lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi, "Kenapa, sih? Harusnya kan kalian senang aku ada di pihak kalian? Reaksi yang tidak smart."
Megu terdiam sebentar. Kemudian melanjutkan lagi, "Aku sudah dengar apa yang kau lakukan di Kerajaan Akaba," Mata wanita itu menatap si lelaki muda dengan tatapan menyelidik, "Lalu kau ke sini untuk melarikan diri atau apa? Tidak mungkin seorang ninja senggang sepertimu 'bermain' ke sini tanpa alasan."
Pemuda berambut hitam jabrik itu menerawang ke atas sambil menumpu telapak tangannya di pinggang. Sedikit berpikir, tampaknya. "Bukan melarikan diri. Aku menawarkan diri untuk menolong Habashira dan Kamiya karena ingin mengasah kemampuanku."
Mendengar alasan itu, mau tak mau Megu curiga. Seorang Kotaro Sasaki, menawarkan diri untuk menolong? Setidaknya dibutuhkan 6 digit angka untuk menyewa seorang ninja dari klan itu barang sehari saja. "Aku mengerti…" Megu mengelus dagunya ala detektif, "Tapi aku yakin kau pasti punya alasan personal. Klan Sasaki tidak pernah menawarkan diri seperti ini."
Kali ini Kotaro terdiam cukup lama. Dan kali ini bukan karena berpikir, melainkan enggan memberitahu dengan jujur. Mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian mengatup lagi dengan cepat. Seperti ikan koi, pikir Megu sambil menahan tawa.
"Tidak berniat menjawab?" Sambungnya setelah sekian lama. Kotaro memandang wanita itu dengan setengah cemas, setengah kesal.
"Sudahlah, aku sudah terlambat. Nanti jumlah bayaran yang aku usulkan dikurangi." Ujarnya sembari berjalan dengan cepat melewati Megu, berusaha menghiraukan gumaman 'ngeles' yang dilontarkan wanita itu.
Sena bukan tipe anak lelaki yang suka diperlakukan spesial. Selain itu, dia bukannya terlahir demikian. Walaupun lahir dari keluarga kerajaan, tetap saja ditindas secara tersembunyi. Menjadi pengecut, dia hanya menghadapinya dengan lapang dada. Penindasan itu terjadi sejak pertama dia masuk ke dalam organisasi sosial bernama sekolah.
Teman yang dia punya juga cuma Mamori Anezaki, seorang siswa dua tahun dia atasnya di sekolah yang sama, merangkap pelayan di istananya. Figur gadis itu bagi Sena seperti seorang ibu yang pada dasarnya sudah tidak dia miliki lagi.
Seperti saat ini.
Sena yang sedang dalam masa pemulihan belum diperbolehkan kembali ke istana. Selain itu, istana juga masih dalam proses rekonstruksi dengan bantuan dana dan bahan dari empat kerajaan yang kalian pasti sudah tahu.
Hari ini sudah masuk sekolah. Sena seharusnya masuk di kelas dua SMU. Mamori pun jadi punya waktu terbatas untuk merawat Sena karena ia juga sudah memasuki jenjang akhir dalam SMU. Cherrie juga sudah kembali ke Kerajaan Akaba untuk memulai pendidikan SMU. Rui juga masuk SMU di Kobayakawa.
Sementara para calon menantu (baca : Akaba, Riku, Shin, dan Hiruma) sudah selesai mengurus perpindahan mereka ke sekolah negeri tempat Sena mengenyam pendidikannya. Hal ini juga yang membuat Sena enggan masuk sekolah. Kalian bisa bayangkan bagaimana hebohnya sebuah sekolah bila empat pangeran yang memiliki kharisma mereka tersendiri itu masuk ke sana. Dengan predikat Putra Mahkota pula! Lengkap sudah impian para gadis.
"Sena, jangan lupa nanti makan buahnya,ya. Aku sudah harus ke sekolah…" Mamori menutur dengan nada kecewa. Hasrat keibuannya enggan meninggalkan Sena sendirian. "Pokoknya, kalau ada apa-apa langsung telepon ke ponselku saja ya! Bye, Sena!"
Dengan itu, Sena sendirian dalam ruang rawatnya.
Sudah beberapa bulan suasananya damai. Meskipun keberadaan Zokugaku tidak kedengaran sejauh ini dan pihak Kobayakawa memasang status siaga, kerajaan itu tampaknya tidak ingin mencari masalah lagi semenjak Agon tertangkap. Para pangeran juga rutin mengunjunginya, minus Hiruma.
Tidak terlalu rutin maksudnya.
Tapi cara mengunjungi si rambut pirang runcing itu sangat menarik. Terkadang masuk lewat jendela, menitipkan bunga dan buah (pernah juga senjata, tapi langsung dibuang Mamori) lewat Mamori, dan paling parah—tiba-tiba ada di bawah ranjang rawat Sena.
Pemuda pemilik mata cokelat hazel itu tersenyum setiap kali mengingat pemuda pirang yang selalu membuat jantungnya berdegup itu—baik karena murni kaget ataupun memang ada perasaan yang menyelip nakal di baliknya.
"Aah, minggu depan sudah harus sekolah…" Sena menghela napas panjang. DIa tidak ingin mengingat perlakuan seorang ketua gangster satu kelas di atasnya, yang selalu menindasnya bersama dengan 'pengikut-pengikut'-nya. Seringnya Sena dipalak. Walaupun dia memiliki uang yang diminta mereka, tapi Sena tidak ingin selamanya begitu. Tidak keren, batinnya.
Sena tahu, dia bukan orang yang kuat untuk hidup sendirian. Bersama orang lain saja hidupnya masih terancam, apalagi sendirian? Karena itu, dia sangat menghargai teman-teman yang setia di sampingnya untuk melalui kesulitan ini.
"Tanpa mereka, aku tidak ada artinya…"
Mess Kerajaan Akaba di Kerajaan Kobayakawa terletak di atas tanah seluas hampir satu hektar. Tempatnya indah, dengan arsitektur Belanda jaman dulu yang sederhana dan fungsional. Dibangun baru sepuluh tahun yang lalu, menjadikannya masih bersih dan terawat. Bunga mawar merah yang mendominasi taman mess itu benar-benar menjadikannya tampak elegan dan berkelas.
Akaba sedang duduk bersantai di balkon kamarnya di lantai dua, menikmati hangatnya mentari menjelang senja yang menyinari kulitnya. Di sebelahnya, di atas meja, terhidang teh chamomile kesukaannya, serta beberapa camilan ringan. Tak lupa dengan Elisaveta, gitarnya.
Iya, aku tahu itu nama itu sedikit kamseupay. Tapi ini Akaba. Mengertilah bahwa seleranya sulit dimengerti.
Siang menjelang sore begini, kebanyakan orang pasti sedikitnya akan mengingat bagian-bagian dari masa lalu. Akaba kali itu merupakan orang yang melakukannya. Bagi seorang Hayato Akaba yang cuek, momen berkesan dalam hidupnya dapat dihitung dengan jari. Karena itu, dia tidak akan pernah melupakannya.
Di bibirnya tersungging sebuah senyum geli ketika mengingat seseorang yang benar-benar membuat hidupnya berbeda.
"Orang itu, ada dimana dia saat ini?"
Akaba mengingat orang yang ditugaskan untuk melindungi dirinya sejak berumur 12 tahun. Aneh baginya, 'pengawal'nya itu sebaya dengannya. Namun ayahnya meyakinkan bahwa anak itu sudah lulus seleksi untuk pengawal pribadi keluarga kerajaan.
Ocehan berisiknya itu, kebiasaannya memajukan bibir ketika marah selalu sukses membuat Akaba menahan tawa untuk menjaga image. Namun dialah yang membuat hidup Akaba sedikitnya lebih berwarna.
Namun tahukah dia, orang yang sedang ada di pikirannya itu saat ini sedang mengawasinya, tanpa sepengetahuannya?
To Be Continued
AGGKQDQWHDXHADHSQHKDLAHDLASH GHDGJFHJVA;;;
FINALLY DONE!
Author udah kelas tiga sekarang, sibuk mamen! Tadinya saya janji mau ngepost ini sekitar beberapa bulan lalu (err…agak ngaret yah…hehehe….orz) tapi jadwal les sungguh ganas menghujam tubuhkuuuu~ aaahngh~~ Akaba-kun jangaaaanh~~~ (abaikan plis)
Dan mengenai pairing baru (yang pasti ente sekalian langsung tahu kan? 8D) saya lagi suka banget Akaba sama Kotarou setelah baca ulang Eyeshield baru-baru ini. Jadi yah~ selamat menikmati buat penyuka pairing cute ini~
Maaf kalo lebih singkat dari biasanya dan kalo ada typo itu karena saya khilaf dan males ngecek orz.
…dan mungkin updatenya agak lama ya… maaf…haha.
Oke, segitu aja dari author. Jaa!
