Annyeong haseo ^^
Gamsahamnida untuk yang baca and review ^^
Aduh, seneng bgt momen Suga kepeleset di 2nd muster itu, agh! napa videonya pendek bgt ya! (tapi sayang, chapter kali ini ga da yoonmin-nya... mian!)
Dan, karna udah bahas kasus, ntar di akhir, DONG! ada penjelasan panjang lagi haha, mian...
Btw, selamat membaca ~
.
.
Pandangan Jungkook menyorot Jimin mulai dari pemuda itu keluar pagar bersama Hoseok, ditinggal Hoseok, berlari kecil menuju mobilnya sampai ia duduk tepat di samping Jungkook.
"Good job, Jimin,"ujar Jungkook mulai menjalankan mobil.
Jimin hanya tersenyum tipis. Ia lalu memperhatikan telinga kiri Jungkook, "anda menyuruhku meninggalkan tas agar dapat mendengar pembicaraan Min Yoongi dan Kim Taehyung, Jungkooksshi?"
Jungkook mengangguk.
"Izinkan aku mendengarnya juga,"pinta Jimin masih dengan mata yang tertuju pada headset Jungkook.
Jungkook sempat teralih dari jalan raya untuk memandang Jimin, ingin rasanya ia menolak permintaan itu, karena ia tahu pasti pembicaraan yang sedang disadapnya ini bukanlah sesuatu yang mengenakkan, lagipula ini urusan polisi, kan.
Tapi Jungkook langsung menurut, melepas headset sebelah kanan dan memberikannya untuk Jimin. Meskipun hanya melihat sekilas, tatapan sendu Jimin yang memohon berhasil melemahkan Jungkook.
"Tidak begitu terdengar,"ujar Jimin.
"Ya,"timpal Jungkook, "karena aku cukup bertaruh. Aku tak begitu yakin di mana mereka akan berbicara. Di kamar Min Tae Hee? Di ruang tengah? Atau di mana. Alat penyadap di badanmu bisa saja ditinggalkan di kamar Min Tae Hee, tapi itu berisiko sekali untuk ditemukan oleh mereka berdua. Sedangkan yang ada di tasmu, tersimpan rapi dalam jahitan. Tasmu ada di atas sofa, kan?"
Jimin mengangguk.
"Sepertinya mereka berbicara di pintu depan,"lanjut Jungkook, "setelah mengantarmu pergi sepertinya Kim Taehyung langsung mengajaknya berbicara di sa-"
BRAK
Sontak Jimin menahan napas. Sedang Jungkook beralih diam dengan tenang.
"Heol! Otakmu di mana hha?!"
Jimin menggenggam erat seltbetnya. Itu teriakan Kim Tae Hyung. Dan suara keras sebelumnya-
Min Yoongi. Batin Jimin khawatir.
"Ya, Tuhan. Dia laki-laki Min Yoongi!"
Hening. Ada jeda dari amarah Taehyung dan belum ada balasan dari Yoongi.
"YA! Kau! Berapa kali aku katakan! Adikmu sudah mati! Min Tae Hee sudah mati, Yoongi-a."
"Huh. Apa yang kau bicarakan."
Mereka sudah di ruang tengah sekarang. Bahkan dengusan Yoongi barusan cukup terdengar jelas oleh Jungkook dan Jimin.
"Kau gila. Ya, Tuhan. Min Yoongi sudah gila."
"Tae Hee masih hidup. Kau lihat sendiri tadi, kan."
"Ya! Yoongi-a. Ayah dan adikmu sudah meninggal. Mereka sudah menjadi mayat sejak dua bulan yang lalu. Dan bahkan tadi malam kau melihatnya lagi kan!"
"Apa yang kau bicarakan? Mereka masih hidup! Mereka, mereka masih hidup. Hmph. Pria brengsek itu hanya kabur. Lihat, part time dan beasiswaku habis untuk melunasi hutangnya. Dan Tae Hee, Tae Hee, adikku yang manis, adikku yang manja..."
Jimin menggigit bibir. Nada bicara Yoongi terdengar kacau. Marah? Sedih? Gundah? Remeh? Gugup? Tak jelas, semuanya dicamput aduk. Bisa Jimin bayangkan bagaimana ekspresi Yoongi ketika mengatakan itu, membuatnya dirinya begitu khawatir dan merasa sangat sedih.
"Tae Hee. Tae Hee-ku masih hidup. Kami merayakan natal tadi malam, dia tidur di kamarnya tadi malam, tadi malam... Ugh!"
"Yoongi-a?"
"Uuugh! Kepalaku sakit! Tae Hee! Tae Hee! Tae Hee masih hidup! Jelas-jelas Tae Hee ada di sini tadi."
"Yoongi-a! Bertahanlah! Yoongi-a. Min Yoongi."
"Uuugh!"
"Yoongi-a!"
Tak ada lagi tanda-tanda dialog antara Min Yoongi dan Kim Taehyung.
"Sepertinya Min Yoongi tiba-tiba pingsan,"ujar Jungkook tanpa melihat ke arah Jimin, karena ia yakin ekspresi Jimin yang sekarang hanya akan membuatnya tambah kesal.
Jimin terpaku cukup lama. Mulutnya merengut khawatir. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Min Yoongi. Sedang Jungkook memilih untuk tidak berbicara lagi-karena hanya akan diacuhkan saja oleh Jimin.
Keduanya kemudian hanya diam, tak berkata sepatah katapun sampai tiba di apartemen Jungkook.
.
.
Jungkook baru selesai mandi dan bersiap akan pergi ke kantornya.
"Jungkooksshi,"mata Jimin masih mengekor pada setiap gerakan Jungkook, "Jungkooksshi aku mohon,"pintanya berusaha mendapatkan perhatian Jungkook. Sudah dari sebelum Jungkook mandi ia melakukan ini. Sejak ia mencuri dengar pembicaraan Jungkook dan Seungyoon di telpon.
Jungkook hanya diam. Jangankan perhatian Jimin, keberadaan pemuda yang memohon-mohon padanya itu sama sekali tidak ia gubris. Ia mengambil jaket, memakainya, meraih hape serta dompet, memasukkannya ke saku jaket. Jungkook keluar kamar, membuka kulkas, meminum beberapa teguk mineral dingin lalu bergerak ke pintu depan. Semua ia lakukan tanpa etensi sedikitpun untuk Jimin.
"Jungkooksshi, aku mohon,"ulang Jimin kali ini bergerak cepat mengambil Duffle hitam dan syal putihnya, "aku ingin ikut, Jung-"
BRAK
Jimin meringis. Tubuhnya dihempaskan Jungkook pada dinding.
Hening. Hanya terdengar deru napas Jimin yang barusan sangat terkejut. Ditarik dan dihembus tergesa oleh Jimin. Dadanya kembang kempis memburu udara masuk. Sedang Jungkook bersikap tenang, tenang yang memancarkan aura dingin.
Tatapan keduanya beradu. Jungkook mempersempit jarak mereka dengan ekspresi yang benar-benar marah.
DUK
"Hh!"
Jimin bergidik takut. Satu tangan Jungkook memukul keras dinding di samping wajahnya dan satu tangan lagi meremas kuat pergelangan tangannya.
"Untuk apa kau ikut,"geram Jungkook, "jika akhirnya kau hanya bisa menangis tanpa berbuat apa-apa."
Jimin menelan udara, ludahnya tlah mengering karena sikap Jungkook. Matanya tak berani membalas tatapan Jungkook, "aku tetap ingin mengetahui semuanya,"lirih Jimin, akhirnya bisa mengatakan sesuatu meski dengan bibir yang gemetar.
"Apa yang ingin kau ketahui,"tekan Jungkook, "kau ingin tahu bagaimana aku sudah mendapatkan petunjuk yang sangat besar, kau ingin tahu bagaimana nantinya aku bisa menyudutkan seorang Min Yoongi, kau ingin tahu bagaimana ternyata seorang Min Yoongi terbukti telah membunuh ayahnya sendiri, kau ingin tahu! bagaimana aku yang seharusnya lega karna kasus ini akan terpecahkan namun malah merasa frustasi karna menangkap seseorang yang kau sukai, itu yang ingin kau tahu hha!"
Deru napas Jimin tak membaik, malah semakin sesak. Air matanya berlinang, sudah siap jatuh jika saja ia tidak berjuang mati-matian menguatkan diri.
Bzztt. Bzzzt.
Sesuatu bergetar di saku jaket Jungkook. Panggilan masuk dari Seungyoon.
Jungkook tak bergeming sedikitpun. Jika biasanya akan langsung Jungkook angkat namun tidak untuk kali ini. Tatapan tajamnya tak mengerling sedikitpun. Masih tepat tertuju pada dua bola mata yang sedang gamang untuk menatapnya.
Bzzzt. Bzzzt.
Lagi. Jungkook tak menghiraukan hapenya sama sekali. Jimin melenguh kesakitan, telapak tangannya mulai memucat karena genggaman Jungkook, dan wajahnya semakin tertekan dan ketakutan.
"Kenapa,"bicara Jungkook melunak sekarang, jemarinya melonggar pada pergelangan tangan Jimin, kedua matanya terpejam, perlahan ia membenamkan wajahnya di bahu Jimin, "kenapa kau harus menyukainya? Tak bisakah kau berhenti memiliki pandangan seperti itu setiap kali berhubungan dengan Min Yoongi. Dia seorang pembunuh, Jimin. Dan tak ada yang bisa kau lakukan untuk menolongnya."
Seketika Jimin merengut pilu. Kedua lututnya lemas. Isakan pertama lolos dari mulutnya. Ia menangis.
Jungkook mendekapnya erat. Hanya sebentar. Lalu berlalu pergi setelah menggumamkan kata maaf dengan sangat halus dan lembut.
Meninggalkan Jimin yang sudah tak kuat untuk berdiri, terduduk, menutupi mulutnya agar tidak mengeluarkan rintihan lebih keras lagi.
.
.
"Maaf menunggu lama Jungkook,"seseorang masuk dan langsung duduk di seberang Jungkook.
"Di mana Kim Taehyung sekarang?"tanya Jungkook memijit-mijit pangkal hidungnya. Matanya terpejam erat, wajahnya kusut sekali dan ada desahan kasar disela-sela ia berbicara.
"Dari laporan Joshua beberapa menit lalu, ,"jawab Seungyoon, "Kim Taehyung masih belum keluar dari rumah Min Yoongi."
"Yang aku minta tadi malam?" tanya Jungkook sambil masih seperti tadi. Menutup mata, wajah kusut dan mendesah kasar beberapa kali. Sejak kemarin pikiran Jungkook sudah bercabang ke mana-mana. Dan tadi malam, dengan kehadiran tiba-tiba seorang kenalan Min Yoongi, Jungkook mau tak mau harus rela kepalanya dipaksa untuk bekerja semaksimal mungkin. Isi otak Jungkook sepertinya sedang bertarung sekarang, berdebat mana yang harus ia pikirkan, mana yang harus lebih dulu ia prioritaskan, apa-apa saja yang bisa ia hubungkan, apa-apa saja yang bisa ia susun, bagaimana tindakannya selanjutnya dan satu lagi, yang paling memberatkannya, tangisan Jimin.
"Ne,"angguk Seungyoon, "benar seperti dugaan Jungkook, yang bertanggung jawab atas ruangan itu adalah Kim Taehyung dan seorang lagi, Kang Maru, yang tak ada hubungan sama sekali dengan Min Yoongi. Di sini mereka berdua hanya berperan sebagai asisten pembantu, dikepalai oleh Dr. Anh Jaehyun. Taehyun belum menyelidiki Dr. Anh, masih fokus pada Kim Taehyung dulu.
Sejauh ini kita hanya dapat menyelidiki kehidupan Min Yoongi sejak dua bulan lalu, sebelum itu, hanya kehidupan SMA dan SMP-nya yang hanya dapat kita selidiki. Karena itu, Kim Taehyung in belum ada dalam data kita, mungkin terakhir kali mereka bertemu dua bulan yang lalu.
Kim Taehyung, 20 tahun, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Kedokteran Universitas S. Sudah empat bulan ini ia menjalani koas di Rumah Sakit Universitas S. Tipikal mahasiswa biasa. Keluarganya tinggal di Busan, dia tinggal seorang diri di apartemen yang berjarak 30 menit berjalan kaki dari Rumah Sakit Universitas S. Keahliannya cukup diakui oleh beberapa dosennya. Temannya cukup banyak, tapi hanya sekedar teman, sampai detik ini baru itu yang bisa kami dapatkan. Taehyun masih sedang menyelidiki lebih lanjut."
"Nah, gowamo, hyung,"Jungkook berdiri, "tolong beritahu Taehyun, urusan di Rumah Sakit Universitas S biar aku yang selidiki."
"Ke mana kau sekarang?"
"Langsung ke Rumah Sakit Universitas S."
"Kau tidak ingin istirahat dulu? Wajahmu kusut sekali."
"Well, aku akan istirahat kalau batinku sudah tenang, hyung. Nanti setelah Tae-"
Jungkook terdiam di ambang pintu. Ada Hoseok dan Jimin yang sedang berjalan ke arahnya. Sontak ia mendesah kasar dan menunjukkan ekspresi keengganan yang luar biasa.
"Ada apa?"Seungyoon mendekati Jungkook, melongok dari punggung Jungkook dan memilih pamit begitu mendapati Hoseok dan Jimin tinggal beberapa langkah lagi dari mereka dan Jungkook yang bergumam bahwa sudah ada lagi yang ingin dikatakannya.
"Ya. Jungkook-a, kita bicara dulu sebentar,"Hoseok masuk ke ruangan, menyinggung bahunya dengan bahu Jungkook yang belum bergerak sedari tadi.
Jimin belum mengikuti Hoseok. Kepalanya menekuk namun mencuri lihat ke arah Jungkook yang belum menganggapnya ada.
"Ya! Kalian duduk di sini sekarang,"perintah Hoseok.
Jimin bergerak kikuk menuruti perintah Hoseok, sedang Jungkook, dia hanya mendecak kesal. Sepintas mata Jungkook akhirnya berniat melihat ke arah Jimin yang barusan melewatinya di ambang pintu, satu yang membuatnya cukup tertarik, ada bungkusan besar yang sedang di bawa Jimin.
"Jelaskan semua yang ada di kepalamu dari tadi malam sampai detik ini,"ujar Hoseok pada Jungkook yang masih berdiri di ambang pintu, "ya! kau tak bisa duduk dulu, ya?"
"Aku bisa menjelaskan lewat telpon, hyung. Aku ingin menyelidiki sesuatu dulu,"dengan nada malas Jungkook beralasan.
"Sebentar saja tidak masalah kan. Lebih baik mendengarnya secara langsung. Lagipula aku sudah sangat paham, pikiranmu lebih terbuka saat kau memiliki teman untuk diajak bicara."
"Haah,"Jungkook akhirnya duduk di samping Hoseok. Wajah enggannya sempat hilang ketika Jimin mulai membuka bungkusan yang dibawanya.
"Sambil menungguku datang, dia memasakkan sesuatu,"ujar Hoseok, mulutnya condong ke beberapa kotak yang tutupnya satu-satu sudah dibuka oleh Jimin, "begitu sampai di apartemenmu, kupikir bisa langsung makan sarapan enak, eh, 'Sepertinya Jungkooksshi juga belum sarapan, kita sarapan bersamanya saja, hyung' begitu kata Jimin."
Jungkook mengeluh dalam hati. Jujur, pikirannya sedang rumit, dan penyebab terbesarnya Jimin, kan. Tentu ia ingin menjauh dulu dari Jimin, tapi sekarang Jungkook malah dihadapkan pada perhatian Jimin yang susah sekali untuk ia hiraukan.
"Saat di rumah Min Yoongi anda makan jauh lebih sedikit dari biasanya, Jungkooksshi,"Jimin berkata lembut, tersenyum kepada Jungkook meski lelaki di seberangnya itu tak melihatnya sedikitpun, "tak ada sisa bungkus makanan di mobil anda, sejak itu anda belum makan apapun, kan. Dan kuperhatikan energi anda pasti sangat terkuras karna berpikir keras akhir-akhir ini. Makanlah."
Merdu sekali. Terdengar merdu sekali apa-apa yang keluar dari mulut Jimin sekarang. Nadanya halus apalagi dengan senyuman lembut yang dirindukan Jungkook.
"Selamat makan."
Tangan Jungkook meminta sesuatu dari Jimin. Jimin tersenyum lebar cepat ia menempatkan sumpit di telapak tangan Jungkook. Tidak lupa, untuk Hoseok juga.
.
.
"Pertama,"mulai Jungkook, "kenapa tadi malam aku mengerti meskipun Hyung belum selesai menjelaskannya. Begini-"
"Bukan,"potong Hoseok, "bukan itu yang pertama."
"Eh?"
"Kenapa kau sudah menyiapkan Kue dan Buket Bunga, padahal kau mengaku kedatanganmu tadi malam adalah rencana spontan kan?"
"Aaa. Itu,"Jungkook melirik sebentar ke arah Jimin, "eee. Aku ingin memberikannya untuk Jimin hari ini, mungkin tak akan sempat membelinya tadi malam atau pagi ini, makanya sudah kubeli terlebih dahulu."
"Okeh, okeh,"Hoseok langsung mengangguk-angguk paham, "aku mengerti. Lanjut ke yang tadi."
Dan Jimin, entahlah. Apa dia senang? Apa rona dipipinya sekarang terlihat aneh? Karena cukup kontras dengan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Jungkook tadi pagi.
"Begini Hyung, aku memang tidak mendengar percakapan telpon antara Min Yoongi dan Kim Taehyung, aku tahu Kim Taehyung mengenal Min Tae Hee dan ia mengikuti Min Yoongi pulang karena kau menghubungiku, untuk apa kau menelponku jika kondisinya tidak begitu, kau bisa saja menemuiku setelah Min Yoongi sampai di rumahnya kan. Aku yakin dia teman satu-satunya Min Yoongi. Pasti teman kampusnya. Karena hanya kehidupan kampus Min Yoongi yang sangat sulit untuk kita selidiki, kan. Mereka cukup dekat untuk pergi minum berdua saja dijam segitu. Tapi, tidak bisa dibilang sahabat juga karena sudah lebih dari dua bulan dia tidak menghubungi ataupun menemui Min Yoongi. Berarti bisa dibilang seseorang yang pernah mempunyai keperluan penting dengan Min Yoongi.
Mereka hanya mengobrol sebentar kan dan membawa Min Yoongi ke Rumah Sakit, untuk apa Hyung? Kenapa mereka hanya mengobrol sebentar, kemudian malah pergi ke Rumah Sakit Universitas S. Mereka cukup sehat untuk minum-minum tengah malam begitu, kan. Dan jawabannya seperti yang Hyung katakan, Min Yoongi berlari kencang dengan wajah ketakutan, berarti ada sesuatu yang sudah ditunjukkan Kim Taehyung kepada Min Yoongi. Sesuatu yang membuat Min Yoongi ketakutan dan langsung pulang. Apalagi kalau bukan mayat ayah dan adik perempuannya sendiri. Itu masih dugaanku saja.
Waktu itu aku lebih fokus pada beberapa kemungkinan dari sikap Kim Taehyung kepada Jimin. Aku kesampingkan dulu kemungkinan apakah Kim Taehyung memang mengetahui Min Yonhwa dan Min Tae Hee itu meninggal atau menghilang. Karena seperti kataku tadi, hanya Hyung dan Joshua yang tahu pasti pembicaraan mereka. Kim Taehyung, yang jelas dia cukup orang waras untuk membedakan Jimin dan Min Tae Hee. Ada tiga kemungkinan yang paling kuat, yang ini sudah aku jelaskan ketika memintamu berpura-pura menjemput Jimin tadi pagi.
Nah, kini mengenai hal-hal yang aku suruh untuk Jimin lakukan. Ketika Jimin yang diyakini Min Yoongi sebagai adiknya tetap menjadi Min Tae Hee meskipun di depan Kim Taehyung, tentu akan menguatkan keyakinan Min Yoongi, membuatnya tak akan ragu mengakui Jimin sebagai Min Tae Hee di hadapan Kim Taehyung. Pasti ada jeda di mana Kim Taehyung merasa bingung, di sana Jimin sudah harus pergi dari hadapan mereka berdua. Dan ketika mereka sudah berdua saja, maka Kim Taehyung pasti akan mengatakan apa yang ia ketahui mengenai Min Tae Hee. Tentu menjadi petunjuk bagi kita.
Dan dugaanku tepat sekali, Hyung. Kim Taehyung sendiri yang bilang bahwa Min Yonhwa dan Min Tae Hee sudah menjadi mayat dua bulan yang lalu. Dan bahkan tadi malam Min Yoongi melihatnya lagi, berarti dugaanku yang lain juga tepat, Kim Taehyung membawa Min Yoongi ke kamar mayat Rumah Sakit Universitas S, ia meyakinkan Min Yoongi bahwa ayah dan adik perempuanya telah benar-benar meninggal. Tadi malam aku langsung menghubungi Seungyoon-hyung untuk menyelidiki siapa yang bertanggung jawab atas kamar mayat Rumah Sakit Universitas S, Kim Taehyung salah satunya. Jadi, pagi tadi aku langsung meminta Seungyoon-hyung dan Taehyun-hyung untuk menyelidiki Kim Taehyung.
Dan apa rencanaku sekarang? Aku akan menyelidiki sendiri kamar mayat Rumah Sakit Universitas S sebelum Kim Taehyung bergerak ke sana. Sampai detik ini Joshua belum menghubungiku, Kim Taehyung sepertinya masih di rumah. Kalau aku jadi Kim Taehyung-"
Jungkook terdiam sebentar, lalu ia berteriak kesal dan cepat menelpon Taehyun.
"Taehyun-hyung!"
"Ne, Jungkook-a?"
"Pergi ke kamar mayat Rumah Sakit Universitas S sekarang juga!"
"Eh?"
"Ke sana sekarang juga, hyung!"
.
.
TBC
Gamsahamnida buat yang udah baca sampai sini ^^
Momen Jikook... mian, Jiminnya cengeng bgt yah? Mau gmn lagi, yang dia tau dia suka ama Yoongi, tapi Yoongi pembunuh, trus Jungkook udah dapet bukti kuat, brarti kasusnya udah mulai kelar kan ya, brarti Yoongi ntar kemungkinan besar bakal ditangkap kan ya, di situ, Jimin cuman ngerasa sedih bgt soalnya dia emang ga bisa nolongin Yoongi kan, makanya setidaknya dia pengen tau apa yang sebenernya terjadi ama Yoongi
Review juseoyo ~
Aduh, pasti udah tau gmn endingnya yah ...
