HALLO, Readers... ARE YOU READY FOR THE NEXT CHAPTER? ARE U WAITING FOR THIS CHAPTER, GUYS? And…. Jeng jeng jeng jeng *sound gagal* this is it! The next chapter of this fanfiction. So it's been a long time and long chapter since the last chapter I've published. Hope you won't feel bored with this fanfiction guys… Thanks for ur review(s), Favorites and follows, GUYS! LOVE U ALL!

NOTE! MUST READ!: Aku minta maaf sebesar-besarnya karena keterlambatan update FF ini (lagi). So, setelah kemarin aku sempat sakit dan aku udah mendingan semenjak minggu lalu. Unfortunately, gak lama setelah aku kasih pengumuman tentang sakitku, kakekku masuk ICU dan meninggal di umur 72 tahun. Aku gak bermaksud buat ngumbar atau minta kasian dari readers tapi di sini aku menjelaskan kenapa aku bisa update lelet super parah dan gak bisa nepatin janjiku minggu lalu, begitu kurang lebih.

CREDIT POSTER: jalilfunny at HSG (High School Graphics)

So, no banyak cingcong, HAPPY READINGG~~~~

.

.

.

Sensasi udara yang kering dan dingin menyapa kulit kedua insan pemuda yang tengah berjalan di sebuah lorong putih yang padat lalu lalang itu. Kedua jemari dan kedua insan itu bertautan, mengikuti dan diikuti tepatnya. Aroma alkohol dan obat-obatan tajam menohok indra penciuman mereka, bahkan mungkin seluruh penghuni bangunan tersebut. Tak ada yang dapat memungkiri bahwa seperti itulah kiranya bawaan sebuah rumah sakit di mana orang-orang yang kesakitan dan lemah akan bertransformasi menjadi seorang yang kuat dan sehat kembali atau hanya tinggal nama.

Dari netranya yang mengedar ke sembarang arah, Taehyung menyadari bagaimana campuran emosi orang-orang di sana, seluruh aura yang keluar dari orang-orang sakit, sekarat hingga mayat-mayat yang terbujur kaku dibalut tangisan sanak saudaranya. Taehyung pusing, sungguh. Tak cukup rasanya hanya dengan berita Jimin namun faktanya, dengan kelebihan yang Taehyung miliki justru membuatnya mungkin akan menjadi salah satu penghuni bangsal rumah sakit juga. Perutnya mual karena tekanan dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada sosok sahabat karibnya dan suasana tak mengenakkan dari bangunan rumah sakit itu. Ia sejujurnya tak tahu ke mana arah langkah kakinya, hanya mengikuti ke mana arah langkah Seok Jin yang menggenggam erat tangannya.

Melalui sela-sela poni berantakan dan berkeringatnya yang menutupi setengah bagian netranya, Taehyung mampu melihat pundak lebar Seok Jin dan tangan berjemari lentik yang memegang telepon tepat di samping telinga Seok Jin. Seok Jin nampak mengedarkan tatapannya ke segala arah seraya bertelepon ria dengan lawan bicaranya. Mungkin Jungkook, tebak Taehyung dalam hati.

"Aku ada di lorong VIP A jadi aku harus ke mana sekarang?", tanya Seok Jin dengan lawan bicaranya di telepon.

"Jika kau bisa melihat pertigaan setelah toilet maka beloklah ke kanan. Setelah itu kau akan melihat ruangan ICU tepat di samping ruangan isolasi. Aku berdiri di luar.", sahut lawan bicaranya yang tak lain adalah sepupunya sendiri, Jungkook.

"Ah, ya aku melihatnya. Tetaplah di sambungan telepon, aku tak ingin tersesat di sini."

"Kau tak akan tersesat, Hyung. Aku tahu kau sudah dekat."

"Apa ada tanda-tanda kedatangan Tuan Park?"

"Aku tidak tahu, Hyung. Tapi Nyonya Park bilang mungkin Tuan Park akan datang sore nanti. Bukan sekarang."

"Oh baiklah, senang mendengarnya. Aku sudah ada di dekat pertigaan. Belok ka–"

"HYUNG, AKU MELIHAT TUAN PARK DARI SEBELAH KIRI PERTIGAAN."

Seok Jin seketika menghentikkan langkahnya, membuat Taehyung menabrak punggung lebar Seok Jin dengan tubuh lemahnya. Dari ujung pertigaan itu, ia mampu melihat sosok Tuan Park berjalan menuju ke arahnya dengan setelah hitam khas pengusaha. Seok Jin hendak berkata kasar namun seketika ia terbungkam ketika netranya bertautan dengan netra Tuan Park. Sial, habis sudah dirinya sekarang.

"Hyung, apa yang kau lakukan di sana, huh? Bawa Taehyung hyung pergi dari sana?!"

"Ada apa, Seok Jin hyung?", tanya Taehyung dengan nada lemahnya. Sesekali Taehyung merutuki bagaimana dampak 'alerginya' terhadap rumah sakit.

"Ada Tuan Park. Aku harus membawamu pergi dari sini."

Setelah memutus saluran teleponnya, Seok Jin menarik Taehyung menuju toilet rumah sakit. Setidaknya ini adalah sebuah pilihan sementara untuk bersembunyi dari Tuan Park. Kebetulan, toilet itu nampak sepi tanpa orang selain mereka. Seok Jin mampu melihat pantulan bayangan mereka dari cermin besar yang terpajang di dalam sana.

Seok Jin menakup wajah pucat Taehyung dan membenahi rambut berantakannya, "Sementara kita bersembunyi di sini dulu. Tetap jaga kesadaranmu. Kita akan segera menemui Jimin."

Taehyung tersenyum lemas seraya mengangguk.

"Kau sangat dingin, Tae. Ini pasti selalu terjadi padamu jika kau pergi ke rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana rasanya jika harus menjadi sepertimu."

"Aku juga tidak tahu bagaimana rasanya dapat melihat masa depan tanpa tahu bagaimana jalannya.", lirih Taehyung.

Seok Jin tersenyum canggung. Ia tahu Taehyung menyindir kemampuannya. Benar juga katanya, mungkin di antara semua kelebihan yang orang miliki, pasti mereka memiliki kekurangan tersendiri.

"Bagaimana rasanya tahu jika Yoongi hyung akan meninggal tanpa tahu cara mencegahnya?", tanya Taehyung yang bersandar pada dinding di seberang cermin besar itu.

Seok Jin menghela nafasnya seraya turut menyandarkan tubuhnya di sebelah Taehyung. Netranya menatap langit-langit toilet yang remang-remang. "Sejujurnya, aku buta saat itu."

"Buta?"

"Aku tak bisa membaca masa depannya. Aku berusaha membacanya sejak aku masih muda, tapi yang kulihat hanya hitam dengan sedikit hujan debu atau salju aku juga tak yakin. Seperti itu, hampa. Mungkin… Yoongi juga memiliki kelebihan seperti kita."

"Mengendalikan pikiran orang maksudmu?"

Seok Jin mengedikkan bahunya tanda ia pun tak tahu menahu tentang itu, "Siapa yang tahu? Ia pun tak pernah cerita hal-hal seperti itu padaku. Ia banyak tahu tentangku tapi aku tak tahu banyak tentangnya.", sahut Seok Jin.

"Bagaimana dengan Jimin?"

"Aku pernah bermimpi melihatnya berdiri dengan pakaian kelulusan. Kau tersenyum seraya duduk di kursimu yang tepat ada di samping Jimin."

Taehyung tersenyum, "Pengelihatan yang sangat labil."

Seok Jin terkekeh kikuk, "Bisa dibilang begitu."

Keheningan kembali membalut kedua insan yang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sampai, sebuah pesan masuk ke ponsel Seok Jin, membuat Seok Jin tanpa aba-aba merogoh saku celananya.

"Tuan Park baru saja pergi, kemarilah. Aku yakin 100% ia tak akan kembali lagi."

"Kabar baik, Tuan Park sudah pulang. Ayo, kita pergi."

Seok Jin mampu melihat senyuman terpatri samar-samar di bibir Taehyung, membuatnya hendak tersenyum pula.

Ketika pintu dibuka, Seok Jin terkejut setengah mati hingga hendak rasanya ia menyemburkan kata-kata kasar tepat ke wajah orang di hadapannya.

"T…Tuan Park.", ucap Seok Jin tergagap-gagap.

Taehyung seketika mendongakkan kepalanya, bertemu pandang dengan pria yang mungkin sudah lewat paruh baya itu. Taehyung mampu melihat senyuman di wajah Tuan Park yang entah bagaimana justru membuat dirinya muak setengah ketakutan. Taehyung tahu, apapun bisa dilakukan Tuan Park untuk mengenyahkan dirinya. Mungkin, di sinilah pengelihatan Seok Jin tentang dirinya akan menjadi kenyataan.

"Kau cukup bernyali juga untuk menemui Jimin, Taehyung ah…", tutur Tuan Park.

Sebuah seringaian terkembang di wajah Tuan Park, membuat Seok Jin menatap tajam pria tua itu seraya mengeratkan pegangannya pada lengan Taehyung.

"Jangan takut, aku melindungimu…"


Jungkook terbaring di sofa pendek tepat di samping tempat tidur Jimin. Kedua kakinya yang tak cukup di dalam sofa harus bersedia terdepak secara ikhlas dari empuknya sofa. Mungkin tubuhnya akan pegal nanti, rutuk Jungkook. Dari sofa tersebut, ia mampu melihat bagaimana sosok yang kuat namun rapuh tersebut terbaring tak sadarkan diri di sana. Segala macam alat bantu kehidupan terpasang di tubuhnya. Sesekali Jungkook tak habis pikir bagaimana sosok seperti Jimin harus dihadapkan dengan masalah sesulit ini. Toh, Jimin adalah orang berbakat, kenapa pula Jimin harus pergi dari kediamannya dulu.

Jujur saja, Jungkook banyak belajar dari Jimin dan Taehyung bagaimana sebenarnya kehidupan itu. Tak selamanya bahagia, tak juga semulus yang Jungkook inginkan. Jungkook sadar, bahwa sesungguhnya sejauh ini hidupnya tak lebih dari sebuah cerita dongeng bagi Jimin dan Taehyung, sesuatu yang mereka berdua idam-idamkan sejak dahulu.

"Kalau hanya untuk bernafas saja sulit, akan seperti apa ke depannya, Hyung?", gumam Jungkook tanpa memerlukan balasan sedikit pun.

"Aku kadang khawatir pada diriku sendiri, akan seberapa sakit diriku nantinya jika kau pergi? Mungkin aku konyol bertanya seperti ini, tapi aku kadang berpikir seperti itu.", gumam Jungkook lagi.

Jungkook sedikit membenahi posisi tidurnya menatap Jimin yang terkulai lemah. "Aku yakin aku tidak mencintaimu, Hyung. Aku sudah meyakinkan diriku. Tapi bagaimana aku harus menjelaskan bagaimana aku tak ingin kehilangan dirimu, hm? Kau…mungkin seorang kakak bagiku."

Suara derit pintu mengalihkan atensi Jungkook dari sosok Jimin. Sudut matanya mampu menangkap sosok Nyonya Park yang tergopoh-gopoh dengan nafas terengahnya. Jungkook langsung mendudukkan dirinya, memberikan senyuman terbaiknya pada Nyonya Park.

"Apa kata dokter, Nyonya?"

Nyonya Park mendudukan dirinya tepat di samping Jungkook dengan wajah yang lesunya. "Dokter bilang kalau kecil kemungkinan Jimin akan sadar setelah ini. Sebelum operasi berlangsung, ia akan tetap seperti ini, hanya bergantung pada alat-alat medis."

Jungkook tak tahu harus berkata apa jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini.

Jungkook pun tak terlatih untuk membuka mulutnya.

Ia tak mengerti harus bagaimana untuk melampiaskan emosi yang ia rasakan.

"Aku yakin Jimin akan sadar dan baik-baik saja sebelum operasi itu."

Derit pintu kedua kalinya terdengar dan kini mengganggu percakapan kedua manusia berbeda generasi itu. Dari balik pintu, terlihat dua pria dengan tinggi yang tak jauh berbeda dengan Jungkook. Raut wajah mereka sedikit muram namun Jungkook dapat menyadari sisa-sisa kemurkaan ada di wajah Seok Jin.

"Hyung… kau dari mana saja? Aku menunggumu.", tanya Jungkook penasaran dan khawatir.

"Aku bertemu Tuan Park dalam perjalanan ke sini.", sahut Seok Jin dengan nada dingin.

Jungkook hendak berseru keras namun ia sadar betul akan eksistensi Nyonya Park di sana.

Nyonya Park mendekati Seok Jin ah bukan… mungkin Taehyung yang berada di belakang punggung Seok Jin. Rasa takut dan canggung terlihat jelas lewat raut wajah serta tatapannya. Semakin Nyonya Park mendekat, semakin Taehyung menundukkan kepalanya. Seok Jin mampu merasakan bagaimana pergelangan tangannya dipegang sangat erat oleh Taehyung, seerat ketika ia bersua dengan Tuan Park tadi.

Tangan penuh keriput Nyonya Park tergerak menyentuh pipi dingin Taehyung namun Taehyung bergeming. "Taehyung ah…"

"Maafkan aku, aku tak bermaksud mengganggu Jimin. Aku akan pergi jika nyonya keberatan denganku.", ucap Taehyung gemetaran.

"Oh.. Taehyung…", seketika itu juga Nyonya Park menarik Taehyung ke dalam dekapannya, membiarkan wajah Taehyung bertumpu di pundaknya yang sedikit lebih rendah dari tubuh Taehyung. Perempuan paruh baya itu mengelus rambut hingga punggung Taehyung penuh kasih sayang, setidaknya seperti itu yang Seok Jin dapat simpulkan.

"Jimin sangat merindukanmu, Taehyung ah. Ia menunggumu di rumah tapi kenapa kau tak pernah datang? Apa kau sangat sibuk hingga tak bisa mengunjungi Jimin?", tanya Nyonya Park dibarengi isakan kecil.

Taehyung menggeleng lemah, "Aku hanya sedikit kelelahan jadi aku perlu beristirahat sejenak.", sahutnya.

Jungkook dan Seok Jin langsung melempar pandangannya satu sama lain, berpikir mengapa Nyonya Park bisa bertanya seperti itu sementara alasan terbesar Taehyung tak bisa menemui Jimin adalah Tuan Park.

Nyonya Park melepas dekapannya, menakup wajah dingin Taehyung dan menatapnya dalam-dalam, "Aku senang kau bisa datang lagi ke sini, Tae. Jimin pasti senang jika tahu kau datang mengunjunginya."

Taehyung lantas melirikkan netranya pada tubuh lemah Jimin yang terkulai di atas kasur. Taehyung menatap secara rincinya semuanya. Bagaimana infus itu tersambung pada punggung tangan Jimin, bagaimana tetes demi tetes infus itu mengalir melalui pipa elastic itu. Ia juga dapat mendengar suara alat kardiograf yang terletak di dekat Jimin. Untungnya, suaranya masih stabil di telingan Taehyung.

Dengan langkah gontai, ia melangkahkan kedua kaki lemahnya mendekati sosok sahabat karibnya yang tak sadarkan diri itu. Sosok yang taka sing namun lama tak dijumpainya itu, atau mungkin tepatnya sosok yang telah cukup lama ia tinggalkan itu. Melalui baju pasien yang tersibak, terpasang alat kardiograf di dada yang naik turun secara perlahan itu. Hingga, Taehyung berdiri tepat di samping tubuh Jimin. Ia menatap kedua netra yang tertutup rapat di balik surai hitam pekat yang berantakan. Tangan gemetar itu menggapai surai yang menutupi netra Jimin, menyibaknya hingga wajah pucat Jimin terlihat semakin jelas di pengelihatan Taehyung. Dengan tangan dinginnya, Taehyung tak mampu merasakan betapa dinginnya pula wajah Jimin kala itu.

Telunjuk Taehyung menuruni dahi Jimin menuju batang hidung bangirnya. Telunjuk itu terhalang oleh alat bantu pernafasan Jimin sehingga beralih menuju pipinya. Taehyung tersenyum bersamaan dengan tetes bening air mata yang menggelontor dari pelupuk matanya. "Tidurmu sangat nyenyak hingga tak sadar aku sudah datang. Dasar, Jimin Babo.", lirih Taehyung.

Semua tatapan tertuju pada Taehyung yang terisak di tempatnya. Seok Jin yakin hanya diri Taehyung sendiri yang mampu menghentikan tengisannya, terlebih sudah terlalu banyak penyesalan yang Taehyung tampung untuk dirinya sendiri.

"Bagaimana bisa kau sampai di sini huh? Apa kau kurang makan? Bukankah kau ingin menemui ibumu? Lalu setelah bertemu bahkan untuk makan saja kau tak mau, jadi apa maumu, huh?! Apa tidurmu kurang nyenyak? Kau punya fasilitas lebih dari seorang yatim piatu sepertiku jadi kenapa kau harus seperti ini?", lirih Taehyung seraya menggenggam tangan Jimin, menautkan kedua jari jemari mereka.

"Kenapa pula kau menungguku, huh? Aku sudah pernah katakan padamu kalau aku tak akan pernah peduli padamu, kan? Kenapa kau keras kepala sekali dan malah menungguku sampai datang?"

"Dan sekarang setelah aku datang, kau bahkan tak sedikit pun bisa makan dan sadar aku ada di sini. Jadi apa maumu, PARK JIMIN?!", bentak Taehyung yang tak akan pernah mendapat jawaban atau pun reaksi dari seorang Park Jimin.

"Jangan hanya tidur, Jimin ah… Kau sudah ada di rumah sakit sekarang. Aku sudah datang jadi apa lagi yang kau harapkan? Aku telah mengabulkan keinginanmu tapi kau bahkan tak bisa mengabulkan keinginanku sekarang. Lihat, siapa yang jahat sekarang?"

Tetes demi tetes air mata membasahi wajahnya, mengalir bahkan hingga ke ceruk lehernya. Tak hanya isakan halus yang terdengar namun isakan yang semakin menjadi-jadi hingga Taehyung terbatuk-batuk dengan rancauannya sendiri, menunggu Jimin memberikan respon atas ucapannya.

"Kumohon, bangunlah, Jimin ah… Aku merindukanmu, sungguh. Aku tak bermaksud sama sekali meninggalkanmu saat itu. Aku sungguh tidak tahu jika kau jadi seperti ini. Kumohon, sadarlah. Aku sudah ada di sisimu, Jimin.", lirih Taehyung seraya menumpu kepalanya tepat pada tangannya yang bertautan dengan tangan Jimin.

"Kau membangunkan tidurku, Tae…"

Suara lirihan itu nyaris seperti bisikan, bahkan mungkin suara nafas Taehyung lebih terdengar dibandingkan lirihan itu. Namun, pendengaran Taehyung cukup terasah untuk mendengar suara sayup itu. Tatapannya bertemu dengan netra yang terbuka setengah sadar, menatap penuh harap dan kebahagiaan.

"Jimin ah…"

Taehyung seketika mendekap tubuh itu dengan lembut, tak ingin merusak tubuh yang telah rapuh tersebut. Ia membenamkan kepalanya tepat di ceruk leher Jimin, membuat Jimin merasakan sensasi hangat yang menggelitik dari nafas Taehyung. Tangan lemahnya yang terpasang infus mendekap balik tubuh Taehyung.

"Maaf aku meninggalkanmu, Jim…", bisik Taehyung di sela-sela isakannya.

"Aku tahu kau akan kembali jadi aku tak khawatir."

"Kau bohong, Babo."

Jimin tersenyum untuk pertama kalinya semenjak dirinya terbaring tak berdaya di rumah sakit. Ia menatap sayu pada Seok Jin dan ibunya yang menatap ke arahnya. Tanpa suara, ia berucap terima kasih pada Seok Jin karena telah membawa Taehyung kembali padanya.


Taehyung terduduk di sana dengan sebuah hoodie usang yang sedikit berdebu. Ada sedikit robekan pada bagian pundaknya, namun Taehyung lebih dari sekadar malas untuk menjahitnya kembali. Di tangannya, sepiring bubur putih menunggu untuk masuk ke perut si pasien yang menatap sayup ke arahnya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?", tanya Taehyung seraya menekuk kedua alisnya hingga tersirat lekukan di dahinya.

"Kau yang menatap tajam ke arahku terlebih dahulu, Tae.", sahut Jimin dari balik alat bantu pernafasannya. Setiap kata yang terucap dari Jimin, membuat netra Taehyung menelisik uap-uap yang berdiam sementara di dalam alat bantu pernafasan itu.

Taehyung mengambil sesendok bubur dari piringnya, namun ia tumpahkan kembali ke dalam piring. "Bagaimana kau akan makan ini jika kau masih memakai alat bantu pernafasan itu?"

"Aku tak sudi memakan makanan lembek seperti itu. Terlihat seperti muntahan paus."

"Muntahan paus itu mahal asal kau tahu. Lebih elit dari sekadar bubur seperti ini.", sahut Taehyung tak mau kalah sekaligus tak habis pikir bagaimana sahabatnya itu bisa mengabaikan fakta jika muntahan paus itu mahal adanya.

"Huft, tak ada gunanya bicara denganmu.", decak Taehyung seraya mengalihkan pandangannya pada Nyonya Park yang terduduk di sofa.

"Nyonya Park, bagaimana aku bisa menyuapinya makanan?", tanya Taehyung. Sedikit lirikan cepat mampu membuat Taehyung menyadari jika Jungkook tertidur dengan kepala yang bertumpu pada dinding di belakangnya. Wajahnya sangat polos, sungguh. Sangat berbeda dengan pembawaannya yang terlihat dewasa.

"Ibu akan melepasnya, tapi jika Jimin merasa sulit bernafas, segera pakai kembali alat bantu pernafasannya.", jelas Nyonya Park seraya melepaskan alat bantu pernafasan perlahan, tak ingin menyakiti Jimin.

Pada lirikan Taehyung selanjutnya, ia mampu melihat Jungkook yang terbangun dengan cepat ketika Nyonya Park meninggalkan sofa itu. Nampak seperti kelinci yang mabuk dengan mata yang setengah terbuka dan menagih untuk tertutup kembali.

"Bu, aku tak ingin makan bubur itu.", rengek Jimin setelah alat bantu pernafasannya dibuka.

Segera, sebuah jitakan keras mengucap salam hangat di dahinya. Beberapa helai rambutnya seketika berantakan, menutupi dahinya. Taehyung tersenyum akhirnya tak hanya tangan kecil Jimin yang mampu menjitaknya hingga meraung-raung kesakitkan. Now, he can too.

"Tae, kenapa kau menjitakku?", sebuah adu mulut telah dimulai dari emosi yang tak mampu Jimin redam lagi. Pasalnya, setelah sekian lama terpisah dari Taehyung, tak pernah ia mengekspektasikan keadaan ini terjadi lagi.

Taehyung menjuluarkan lidahnya dengan kedua bola mata yang menatap ujung hidungnya, "Memangnya kau saja yang bisa menjitakku?"

"Sini bawa dahi lebarmu itu. Sini!~~~", Jimin mulai gemas dan tangan berinfusnya itu hendak menggapai dahi Taehyung dengan gemas.

"Sudahlah, kau harus makan sekarang. Bersedia atau tidak, kau HARUS makan bubur ini.", sela Taehyung dengan penekanan pada kata 'harus'. Hal itu jelas membuat Jimin memutar bola matanya kesal.

"Sedikit saja. Kau harus janji membelikanku kimchi jjigae dan daging setelah ini."

Taehyung tersenyum kecil walau rasa-rasanya ada yang mengganjal di perasaannya. Membeli kimchi jjigae dan daging setelah ini. Kapankah 'setelah ini' yang ia maksud itu sebenarnya? Bisakah Taehyung membelikannya adalah pertanyaan terbesar di benak Taehyung.

Taehyung masih bertahan dengan senyuman tipis itu. Ia menyendok bubur dari piring itu, menyuapinya pada sosok pemuda bersurai hitam di hadapannya. "Aku tak punya uang. Aku belum sempat bekerja lagi di café Jin Hyung."

"Kalau begitu, setelah aku sembuh maka aku akan mengajakmu pergi ke restoran dekat apartment kita. Kakek tua pemilik restoran itu selalu memberi kita potongan harga, kan? Dia itu baik sekali menurutku.", ujar Jimin dengan senyuman di bibirnya. Senyuman itu terkembang lebar bahkan hingga eksistensi netranya patut dipertanyakan.

Taehyung kembali menyendok bubur untuk kedua kalinya dan menyuapi sosok kelahiran 1995 dan berwajah bak bocah itu. "Kau harus belikan aku daging yang dicampur dengan mozzarella itu berarti. Kita tak pernah bisa membelinya karena selalu kekurangan uang.", Taehyung terbahak sendiri mengingatnya. Dulu, sempat terlintas di benak Taehyung untuk membeli daging dengan keju mozzarella itu namun sebagai gantinya ia akan mencuci piring setelah itu.

"Sial, kau malah memerasku sekarang.", decih Jimin walau ia menyeringai tanpa bermaksud mengejek mitranya itu.

"Taehyung, ibu akan turun ke kantin rumah sakit bersama Jungkook untuk mencari makan malam. Taehyung ingin pesan apa?", ucap Nyonya Park yang tengah bersiap untuk turun bersama Jungkook.

"Taehyung pemakan segala, Bu.", celetuk Jimin setelah menelan buburnya.

"Aku… apa saja, Bu. Aku pemakan segala.", ucap Taehyung dengan senyuman kotaknya yang khas, mengundang senyuman dari seorang wanita paruh baya itu.

Nyonya Park mengelus surai Taehyung perlahan, "Jaga dirimu dan Jimin, ya. Ibu dan Jungkook akan segera kembali."

Setelah suara pintu yang tertutup bergaung di ruangan itu, Taehyung tetap menyuapi bubur itu sedikit demi sedikit. Kini, Taehyung mampu merasakan sedikit kemerdekaan setelah Nyonya Park dan Jungkook meninggalkannya sendiri bersama Jimin.

"Bagaimana bisa kau berakhir di sini?", tanya Taehyung pada akhirnya.

Jimin sedikit terperanjat mendengarnya, membuat bubur itu berhenti di dalam mulut Jimin dan memberikan efek menggembung di pipi Jimin.

"Apa kau tidak makan dan tidur dengan baik setelah aku meninggalkanmu?", tanya Taehyung dengan nada serius.

Jimin takut Taehyung marah sekarang.

Jimin menggeleng perlahan seraya menelan bubur yang masuk ke dalam mulutnya. "Aku memang sudah tidak kuat untuk menahan sakit ini. Mungkin harus ada penanganan medis untukku.", sahut Jimin yang tentunya hanya sebuah dusta belaka. "Lagi pula rumahku tetaplah hanya sekadar rumah walau ada fasilitas yang cukup memadai untuk menjagaku tetap hidup. Hanya saja, mungkin aku perlu rumah sakit bukan kamar yang dingin seperti kulkas mayat."

Taehyung hendak menyendok bubur lagi untuk Jimin ketika ia sadar bahwa netranya menangkap pemandangan di mana piring bubur itu telah kosong. "Kau sudah menghabiskan buburmu."

"Aku memang anak yang baik.", puji Jimin untuk dirinya sendiri.

Taehyung terkekeh pelan sebelum mengacak surai hitam Jimin, "Bocah nakal tepatnya."

Suara decit pintu yang nyaring mengalihkan atensi kedua pemuda tersebut. Taehyung tahu bahwa pintu itu telah dibuka dengan tergesa-gesa sementara netra Jimin memerangkap bayangan kakak sepupunya yang berdiri di ambang pintu dengan nafas yang terengah-engah. Apakah ia berlari dari rumah saking paniknya?

"Jimin ah…", Hoseok menutup pintu bangsal Jimin dengan kakinya kemudian mengambil langkah panjang menuju kasur Jimin.

"Hoseok Hyung…"

Sebuah dekapan hangat mengantarkan Jimin untuk bertumpu pada pundak lebar Hoseok. Ia membaringkan pipinya di bahu milik kakak sepupunya itu sementara Hoseok mendekapnya dengan erat dengan telapak tangan yang mencengkram erat baju Jimin.

"Bagaimana bisa kau jadi seperti ini, huh?", tanya Hoseok dengan nada kekhawatiran yang begitu kental.

Jimin terkekeh, membuat nafas hangatnya menggelitik leher jenjang Hoseok, "Aku hanya sesak tiba-tiba. Bukan apa-apa, Hyung..."

Hoseok melepas pelukannya dan mencengkram pundak Jimin. Netra tajam nan khawatir itu menusuk tetap di netra Jimin. "Bagaimana bisa kau bilang 'hanya' ketika kau membuat semua orang khawatir, Jim?"

"Apa aku membuatmu khawatir?"

"Tentu saja, Bodoh!"

"Kalau begitu, berhentilah khawatir tentangku. Aku akan baik-baik saja. Berjanjilah padaku tentang hal ini. Pergilah bersamaku ke kedai es krim itu lagi, ya. Banyak hal yang ingin kulakukan denganmu, Taehyung, Jin Hyung, Ibu dan Jungkook.", sahut Jimin seraya mengacungkan kelingkingnya, tanda meminta sebuah tanda perjanjian dari kelingking Hoseok.

Hoseok menghela nafasnya sebelum akhirnya mengaitkan kelingkingnya pada kelingking mungil Jimin, "Janji."

"Dan kau harus mentraktirku dan Taehyung seporsi besar daging dan keju mozzarella, okay?"

"Huh… Janji."

"Sekarang kau malah memeras kakak sepupumu sendiri.", celetuk Taehyung yang tengah duduk di pinggir kasur Jimin.

"Kau…"

Sebuah jitakan melayang tepat di dahi Taehyung.

"...sudah membuatku.."

Sebuah jitakan untuk kali kedua melayang secara tiba-tiba ke dahi Taehyung. Taehyung hanya mampu termangap bak orang bodoh tanpa mampu mengucap satu kata pun.

"…khawatir juga…"

Kini sebuah cubitan keras menyapa pipi Taehyung.

"…Tuan Kim Taehyung."

"Hyung, lepaskan! Sakit!", mohon Taehyung dengan sebuah raungan kesakitan. Tangannya memukul-mukul tangan Hoseok yang mencubit pipinya gemas.

"Dengar, ya! Aku tak akan pernah membiarkan membolos lagi dari tempat kuliah sekarang. Kau memang dasar anak nakal. Siapa yang mengajarkanmu untuk membolos, hah? Aku tak pernah mengajarkanmu berbuat begitu."

"Maafkan aku… Maafkan aku.", seru Taehyung bersamaan dengan Hoseok yang melepas cubitan mautnya dari pipi Taehyung.

Jimin terbahak di tempat tidurnya, "Pipimu memerah, Tae. Persis berbentuk seperti jari Hoseok Hyung."

Taehyung menatap kesal pada Hoseok lalu memalingkan wajahnya layaknya anak kecil yang tak dibelikan permen.

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu dan Jimin untuk pergi kea tap rumah sakit, tapi karena kau marah ya…aku urungkan saja.", ucap Hoseok dengan senyuman jahil.

Taehyung seketika menoleh gembira pada Hoseok, "Benarkah?" Aku tidak jadi marah kalau begitu.", ucap Taehyung namun sedetik kemudian, wajah sumringah itu menghilang menjadi kemurungan, "Tapi tidak mungkin membawa Jimin ke atap. Udara dingin tidak baik untuknya. Lagi pula Jimin harus beristirahat."

"Aku sudah meminta ijin pada dokter yang menangani Jimin tadi. Boleh saja katanya asalkan tidak terlalu lama."

Wajah bahagia Taehyung kembali terpanggil bersamaan dengan sebuah pelukan erat di tubuh Hoseok, "Terima kasih, Hyung."


Suara decit halus dari kursi roda yang didorong oleh Hoseok dan langkah Taehyung menambah nada alam di atap rumah sakit. Angin berhembus sepoi-sepoi, tak terlalu dingin pula saat itu. Tangan Jimin memerangkap di bawah selimut yang ada di pangkuannya, menghindari rasa-rasa dingin yang mampu menyerang tubuhnya kapan saja tanpa aba-aba. Dapat dipastikan surai ketiga pemuda itu berantakan sekarang.

Taehyung mendongakkan kepalanya, tanpa sadar berjalan mendahului Hoseok dan Jimin. Kala itu, ratusan bintang telah membubuhi langit malam kota Seoul yang nyaris berwarna hitam. Mereka terlihat bagaikan kesempatan terakhir di dalam ketidak-adaannya lagi sesuatu yang disebut 'kesempatan' bagi Taehyung.

Hoseok tersenyum menatap bagaimana Taehyung terhipnotis dengan segala kerlap kerlip bintang di langit. Ia nampak seperti anak kecil yang menari-nari dalam kebahagiaan tersendiri dan imajinasi seorang bocah.

"Aku akan membeli minum untuk kalian. Kau bisa menggerakkan kursi rodamu sendiri, kan?", tanya Hoseok dengan volume agak kecil.

Jimin mengangguk dengan senyumannya.

"Jaga dirimu baik-baik, ya…", ujar Hoseok seraya mengacak-acak surai hitam pekat Jimin sebelum meninggalkan Jimin dan Taehyung di atap rumah sakit itu hanya berdua, bermandikan cahaya bulan dan kerlap kerlip bintang.

Jimin mengambil tempat tepat di sisi Taehyung yang terduduk di beton pembatas. Taehyung benar-benar manusia yang tak kenal rasa takut untuk duduk di sana padahal atap gedung dan daratan di bawah berjarak cukup jauh. Jimin menelisik inci demi inci sosok pemuda bersurai dirty brown tersebut. Wajah sosok itu begitu berbinar ketika netranya dapat kembali menatap bintang-bintang itu bertaburan tepat di atasnya. Ingin rasanya Jimin bertanya bagaimana perasaan Taehyung sekarang kita ia mampu melihat bintang setelah sekian lama tak melihatnya namun Jimin takut malah mengganggu saat-saat langka bagi Taehyung ini. Dalam palung terdalam hati Jimin, ia tak mengerti bagaimana bintang begitulah berarti bagi Taehyung sejak dulu.

"Kenapa kau menyukai bintang, eoh?", tanya Jimin pada akhirnya setelah kita nyaris tenggelam dalam keterdiaman dan keheningan yang berlarut-larut.

Taehyung menatap Jimin lembut, tersenyum kecil, "Kau tahu, hanya dengan melihat bintang, aku bisa tahu siapa lagi selanjutnya yang akan pergi dari sisiku…"

Jimin seketika tertawa hambar, bertindak selayaknya apa yang Taehyung ucapkan hanya sebuah omong kosong belaka. Sebetulnya, Jimin akui, Jimin takut jika orang yang selanjutnya akan pergi dari sisi Taehyung adalah dirinya. "Jadi siapa yang akan pergi?"

Taehyung kembali menatap kumpulan bintang itu, "Tidak ada…"

Saat itu juga, Jimin mampu menghela nafasnya yang tertahan di tenggorokannya selama beberapa detik lamanya. Hatinya lega telah mendengar ungkapan itu. "Apa bintang merupakan hal terpenting untukmu? Hanya bintang-bintang itu yang–"

"Biarkan aku bertanya sesuatu padamu terlebih dahulu…", Taehyung tiba-tiba menyela penuturan Jimin. Taehyung tak pernah seperti ini sebelumnya.

"Bertanyalah…"

"Apa sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu, hem?"

Butuh waktu untuk Jimin berpikir kembali jawaban atas pertanyaan itu. Pada awalnya, Jimin yakin jawabannya itu tepat namun ketika ia berpikir untuk mengungkapkannya pada Taehyung, kurasa itu terlalu melankolis dan itu jelas bukan tipenya walaupun Jimin tahu, hidupnya mungkin telah berada di ujung tanduk.

"Er…nyawaku kurasa.", jawab Jimin pada akhirnya, mengakhiri seluruh gemelut pemikiran-pemikiran di benaknya. "Kau sendiri?"

Taehyung terdengar terkekeh hambar seakan menertawakan pilihan jawaban Jimin. Netranya tak sedikit pun menatap Jimin, masih terfokus dengan cahaya bintang. Mungkinkah ia kecewa akan jawaban Jimin? "Kau adalah sesuatu yang paling berharga bagiku. Percayalah, aku rela membayar nyawamu dengan nyawaku…."

Seketika itu juga, Jimin tertawa sumbing mendengar penunturan Taehyung, seakan-akan Taehyung baru saja menyatakan perasaan cinta pada Jimin. "Uruslah urusanmu sendiri, kita sama-sama punya nyawa, bukan? Tak perlu saling tukar menukar seperti itu. Toh, lagi pula aku akan baik-baik saja."

Taehyung seketika menatap Jimin dengan wajah serius dan datar, menyulut beberapa pertanyaan di benak Jimin.

"Apa menurutmu, ketika kau baik-baik saja, aku juga akan baik-baik saja?"

.

.

.

TBC

HUAAAAAAAAAAAAAAA! Aku gatau kudu ngomong apa wkwkw. Aku ngerjain ini ngebet banget biar selesai hari ini hauahhaha :V. So, bagaimana dengan chapter ini, guys? Please tinggalkan review yahh… Thankk you and see u in the next chapter. Bye bye /lambai-lambai bareng si enchim/