Wait For You

Chapter 10

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Comfort and Hurt/Romance

Pairing : SasuSaku

Saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada reader yang telah membaca fic Wait For You yang endingnya meragukan, hancur, membuat reader tidak mengerti dimana penyelesaian dan juga akhir fic tersebut. Untuk itu, saya membuat

Chapter 10 : Salah Paham

Happy Reading!

Preview : Itachi dan Sasori pun segera berlalu dari ruang keluarga untuk masuk ke kamar Sasori. Setelah sampai di kamar, Sasori langsung berbaring di ranjangnya. Sementara Itachi duduk di tepi ranjang dan bermain dengan ponselnya.

"Ng.. halo, Kaa-san," sapa Itachi dengan suara yang berubah karna hidungnya tersumbat.

"DISENSOR"

"Ini semua karna kami mengawasi anak itu! Aku jadi … Hatchi!" balas Itachi kesal.

"DISENSOR"

"Hn. Baiklah," ucap Itachi dengan pelan lalu memutus sambungan teleponnya.


"Ng.. halo, Kaa-san," sapa Itachi dengan suara yang berubah karna hidungnya tersumbat.

"Moshi-moshi. Eh, kenapa suaramu berubah, Itachi-kun?" tanya Mikoto disebrang sana.

"Ini semua karna kami mengawasi anak itu! Aku jadi … Hatchi!" balas Itachi kesal.

"Semoga lekas sembuh ya! Bagaimana mereka? Sudah baikan kan?! Iya kan?! Kaa- san benar kan?! Hhh, ya sudah selamat istirahat, dan juga jaga kesehatanmu, ya!" Mikoto berkata dengan nada menggebu-gebu.

"Hn. Baiklah," ucap Itachi dengan pelan lalu memutus sambungan teleponnya.

"Dari Kaa-sanmu?" tanya Sasori langsung.

"Ya, begitulah. Rencana ini kelewat sukses karna kita! Dan karna ini aku, maksudku, kita menjadi terbaring di sini!" jawab Itachi kesal, lalu ia pun bersin.

"Sudahlah. Yang penting, besok, kita harus sekolah!" balas Sasori sembari menarik selimutnya dan mengadapkan badannya ke arah kanan.

"Malam!" Itachi melakukan hal yang sama dengan Sasori kemudian ia mematikan lampu tidur dan memejamkan matanya.

Sakura sibuk dengan beberapa buku yang ada di ranjangnya. Di tempat tidurnya, terdampar buku pelajaran, novelnya yang terbaru, dan juga buku hariannya. Sakura menghela nafasnya, ia ambil ketiga buku yang ada di ranjang queen size-nya lalu meletakkannya di atas meja belajarnya. Di samping meja itu, tak sengaja ia menangkap tulisannya yang telah lama ia pajang di sana, tulisan saat ia pertama kali merasakan cinta dengan seseorang.

Hanya sebuah kertas note kecil yang berwarna merah yang dihiasi oleh tulisan rapi nan bagusnya yang ia goreskan dengan tinta pena gliter yang berwarna emas. Emerald-nya terpaku sejenak membaca apa yang tertulis di kertas itu.

"I will wait for you.

No matter what I have to do,

I'll wait for you!"

Sebuah tulisan kecil yang mewakili segala ucapannya. Seulas senyum kini terpatri di wajahnya, otaknya memutarkan semua masa kecilnya dengan Sasuke bagaikan film yang berdurasi pendek. Namun, mengingat sekarang, senyumnya tambah lebar, mengingat hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan dalam hidupnya, dan tentunya ia telah mencatat hari bersejarah ini di dalam buku hariannya.

Iris onyx setajam elangnya ia arahkan ke atas langit-langit kamar. Terlukis sebuah senyuman tipis yang menghiasi tampannya wajahnya. Ia rebahkan dirinya di ranjangnya, dan membuat kedua tangannya seperti bantal yang empuk baginya.

"The best day of my life!" Sasuke berpikir gembira.

"Aku akan menggapai Sakura bila begini caranya. Besok, aku harus siapkan segalanya, aku harus memiliki Sakura sebelum aku kehilangannya! Harus!" Sasuke berkata pelan dengan ambisi yang kuat.

"Hhh, tapi, aku kan tidak pandai dalam bidang percintaan seperti ini. Kira-kira, apa saja yang harus kusiapkan ya?" Sasuke bangkit dari ranjangnya dan mengambil sebuah pulpen dan secarik kertas lalu duduk di meja belajar yang ada di samping ranjang.

"Pertama, pastinya, bunga. Kedua, sebuah syair," Sasuke menuliskan apa yang ia pikirkan ke dalam kertas polos itu.

"Ketiga… apa ya?" Sasuke pun beripikir keras.

"Yang ketiga adalah…" Sasuke kembali berpikir.

"Adalah… adalah… Sial! Otak jenius ini seperti sulit sekali berpikir! Kurang ajar kau Haruno Sakura! Kau membuat otakku beku!" umpat Sasuke kesal.

"Ah, sudahlah! Lebih baik aku segera tidur lalu menjernihkan pikiranku, setelah itu, esoknya aku akan membuat rencana yang bagus!" Sasuke bertekad dan kembali ke ranjangnya lalu menggulung tubuhnya dnegan selimut dan mematikan lampu tidur, dan menyembunyikan bola mata obsidiannya yang hitam pekat itu.

.

.

.

Mentari mulai menampakkan diri di hamparan langit yang tak berujung. Sedikit embun menempel di kaca jendela. Burung-burung mengeluarkan kicauan merdunya dibantu dengan ayam jantan yang mengeluarkan kokokan nyaringnya. Dengan semua alaram yang tercipta dari alam ini, ditambah sinar mentari yang menerobos masuk, Sakura terlempar keluar dari alam mimpinya.

Segera ia mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah. Setelah ranjangnya beres, ia segera mengambil handuk lalu membasuh dirinya di kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Sakura keluar dengan seragam khas sekolahnya yang biasa ia kenakan. Lalu ia sisir helaian-helaian halus rambutnya agar rapi dan menguncirnya ekor kuda. Terakhir, ia memakai kaos kakinya, lalu menggendong tas ranselnya dan keluar dari kamarnya.

Ia arahkan iris virdian-nya ke jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Cepat-cepat Sakura melangkah ke dapur dan membuat sarapan untuk mereka berempat. Setengah jam berlalu, empat piring nasi goreng serta telur dadar juga empat gelas susu pun tertata rapi di atas meja makan. Sakura pun melangkahkan kakinya ke kamar kakaknya.

Terlihat dua orang masih asyik tidur dengan posisi digulung oleh selimut yang besar dan tebal. Dengan pelan, ia buka kain horden yang menutupi jendela sehingga sinar mentari pagi menyeruak masuk dan Itachi juga Sasori pun terpaksa membuka kedua matanya.

"Selamat pagi!" sapa Itachi yang kelihatannya sudah sehat.

"Pagi. Itachi-nii sudah sehat?" tanya Sakura lalu menempelkan telapak tangannya pada kening Sasori.

"Ya. Semalam dia bangun di tengah malam untuk membuatkan dua gelas susu jahe, dan sekarang kami menjadi mendingan," Sasori menjawab.

"Jadi, mau sekolah atau masih ingin istirahat?" tanya Sakura yang kini mendaratkan tangannya di dahi Itachi.

"Sepertinya lebih enak jika kita libur," celetuk Itachi.

Bletak!

Sasori langsung saja menjitak kepala Itachi dengan tenaganya serta menunjukkan tatapan tajamnya yang membuat dirinya sedikit menakutkan. Itachi mengusap-usap kepalanya sembari melayangkan tatapan tidak sukanya pada Sasori.

"Kami ingin sekolah saja," ujar Sasori.

"Baiklah. Aku sudah menyiapkan sarapan, jadi lekaslah mandi," balas Sakura lalu keluar dari dalam kamar itu dan meninggalkan Sasori dan Itachi.

"Kau ini hobinya menjitak kepalaku, ya?!" tanya Itachi dengan seruan tidak setuju.

"Jawabanmulah yang selalu membuatku ingin menjitak kepala dengan otak plin-planmu," jawab Sasori kalem dengan menekankan jari telunjuknya ke pelipis kanan Itachi.

"Otak plin-plan? Apa maksudmu, hah?!" tanya Itachi marah.

"Kadang-kadang dengan otakmu itu, kau menjawab dengan jenius dan penuh perhitungan, dan seperti tadi otakmu menyuruhmu mengeluarkan jawaban yang asal-asalan itu." Jawab Sasori dengan dengusan.

"Coba kau pikir, kalau kita di rumah, siapa yang mau mengawasi mereka? Kalau misalkan rencana ini kandas di akhir bagaimana? Harusnya kau berpikir ke situ!" timpal Sasori kesal, namun Itachi membalasnya dengan sebuah cengiran.

"Hehehe… iya juga ya. Ya sudah, lebih baik aku mandi dulu, dan kau bereskan ranjang ini," Itachi pun beranjak dari ranjang itu dan masuk ke kamar mandi.

"Dasar," gumam Sasori dengan gelengan kepala.

Sasuke yang sudah rapi dan siap pun ke ruang makan yang sepi seperti kuburan kosong, tetapi sudah ada sarapan yang tersaji rapi di meja makan. Sasuke pun duduk di salah satu kursi sembari memasang dasinya.

"Kemana semua orang?" gumam Sasuke.

"Sasuke?" sahut Sakura tiba-tiba yang membuat Sasuke tersentak kaget.

"Kau? Kukira siapa. Bagaimana anikiku?" tanya Sasuke yang menyembunyikan keterkejutannya, Sakura pun duduk di samping Sasuke.

"Hm? Itachi-nii dan Sasori-nii akan sekolah, tetapi mereka akan berangkat belakangan," jawab Sakura sambil mendekatkan sepiring nasi goreng ke hadapannya.

"Lebih baik pasangkan dulu dasimu itu, setelah itu kita makan, dan pergi," ujar Sakura lalu memakan nasi gorengnnya. Sasuke yang sedari tadi sibuk memandangi wajah Sakura pun segera melanjutkan kegiatannya untuk memasang dasi.

Seperti biasanya, acara makan pagi ini juga dilingkupi dengan atmosfir keheningan. Tak ada yang mau membuka mulut selain untuk mengunyah makanan. Itachi dan Sasori turun dari tangga dan berjalan ke ruang makan. Dengan cekatan, mereka duduk kemudian menyantap apa yang dimasak oleh Sakura.

"Aku duluan," Sakura langsung menutup sendok dan garpunya lalu menyilangkannya di piring dan ia pun undur diri dari meja makan, yang disusul langsung oleh Sasuke.

Di sekolah sudah cukup ramai, apalagi di kelas yang ditempati oleh Sasuke dan Sakura. Sakura langsung meletakkan tasnya dan duduk manis di bangkunya. Lain dengan teman-temannya yang sibuk mengerumuni Ino dan Team 7.

"Ino! Kau menjadi kekasih Sai, ya?! Longlast ya!" ucap salah satu siswi dengan heboh.

"Iya! Makasih ya, doanya," balas Ino dengan merangkul lengan Sai dengan mesra sedangkan Sai hanya tersenyum seperti biasanya.

"Oh iya, buat semua teman-teman. Hari ini, datang ke pesta ulang tahun aku ya! Jam tujuh malam di rumahku! Kode dress-nya ungu ya!" seru Ino ceria yang dibalas dengan sorak-sorai kegembiraan oleh semuanya, kecuali Sasuke dan Sakura yang menganggap hal itu tak penting.

"Nanti ada penampilan spesial dari Team 7! Mereka akan membawakan single terbaru mereka, aku jamin kalian nggak bakal menyesal kalau datang nanti!" tambah Ino.

"Hey! Ayo kembali ke tempat duduk masing-masing! Sekarang waktunya untuk belajar Sejarah!" sahut Kurenai-sensei galak. Kerumunan tadi pun langsung bubar dari situ.

"Sekarang kalian masukkan buku yang ada di meja kalian ke dalam tas dan letakkan tasnya ke depan. Sekarang!" seru Kurenai-sensei dengan tak sabaran. Dengan cepat, semua melakukan apa yang diperintahkan oleh Kurenai-sensei dan kembali duduk di bangku dengan dua tangan yang dilipat manis.

Setelah keadaan menjadi tenang, Kurenai-sensei mengambil beberapa lembaran kertas yang ada di meja guru, dan mulai membagikannya. Kurenai-sensei tersenyum memandang raut wajah kecemasan para siswa.

"Kita akan ulangan. Kalian bisa mengerjakannya, mulai dari sekarang!" cetus Kurenai-sensei.

. . .

Saat pulang sekolah pun tiba, para siswa berhamburan keluar dari kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Sakura sibuk untuk membereskan barang-barangnya supaya dia dapat segera pulang ke istana ternyamannya.

"Sakura, kami tidak bisa ikut tambahanmu!" seru Naruto senang.

"Oh, ya sudah. Tak apa, lagipula aku sedang tidak mood untuk mengajar kalian," balas Sakura yang sudah menggendong tasnya.

"Eh, Sakura!" panggil Sai lalu tersenyum.

"Ada apa?" tanya Sakura singkat.

"Sasuke, dia menyuruhmu untuk datang ke taman belakang sekolah," jawab Neji.

"Untuk apa?" tanya Sakura heran karena ini baru pertama kalinya Sasuke menyuruhnya untuk pergi bertemu di taman.

"Entahlah. Sebaiknya, kau cepat datang," saran Gaara.

"Baiklah, terima kasih," balas Sakura lalu pergi menuju taman belakang.

Sakura melangkahkan kakinya untuk pergi ke taman belakang sekolah. Memang agak jauh, tapi tak apalah, demi Sasuke, pikirnya. Sakura menuruni anak tangga yang ada, lalu ia menyusuri koridor utama sekolahnya. Dan ia langkahkan kakinya menuju lapangan sepak bola kemudian berbelok ke kanan.

Mata hijaunya membulat. Dadanya serasa sakit dan sesak sekali, seperti dihujami oleh pedang yang tepat menancap di jantungnya. Apakah dia tak salah lihat? Sasuke berlutut di depan Hinata lalu memberinya se-bucket bunga? Kalau pun Sakura tak salah lihat, maksudnya Sasuke ingin dia melihat ini apa? Ingin Sakura merasa sakit hati, begitu?

"Uchiha," panggil Sakura dengan nada dingin nan menusuknya. Sasuke yang tahu bahwa itu suara Sakura pun langsung berdiri dan menatap Sakura.

"Sakura, aku bisa…"

"Untuk apa kau menyuruhku ke sini? Untuk menonton pertunjukkanmu?" potong Sakura.

"Bukan Sakura. Kau salah paham," balas Sasuke.

"Jadi apa? Jadi yang kulihat tadi apa, Uchiha Sasuke?! Jelaskan padaku! Yang kulihat barusan itu apa?!" seru Sakura keras.

"Kau cemburu?" tanya Sasuke polos. Sakura menggeram kesal lalu membuang mukanya. Melihat keadaan yang bertambah keruh pun, Hinata datang menghampiri Sasuke dan Sakura.

"Sakura-san," panggil Hinata takut-takut.

"Ah! Sudahlah! Aku tak perduli lagi! Permisi!" Sakura pun pergi meninggalkan taman itu dengan langkah kaki yang dihentak-hentak dengan keras pertanda bahwa ia sedang dilanda rasa kesal yang membara.

"Si bodoh! Aku bertahun-tahun menunggunya, tetapi dia malah suka pada Hinata. Percuma saja kami satu sekolah tiga kali berturut-turut tapi perasaan yang membelenggu ini hanya aku yang merasakannya. One side love sialan!" gerutu Sakura kesal sembari melangkah dengan langkah yang sengaja dihentak-hentaknya.

"Sakura!" seru Sasuke sembari mengejar Sakura terus-terusan.

"Untuk apa dia memanggilku? Mendingan teriakkan saja nama Hinata!" batin Sakura dengan memacu langkahnya lebih cepat.

"Teme! Kita ada talk show hari ini!" teriak Naruto keras, namun Sasuke mengacuhkannya dan terus berlari agar dia bisa mengejar Sakura.

"Dasar Teme yang sedang dimabuk asmara!" gumam Naruto.

Sasuke yang sudah kesal langsung saja menambah kecepatan larinya dan dengan kuat ia menarik lengan Sakura yang membuat Sakura menoleh ke belakang dan jatuh dalam pelukan hangat Sasuke.

"Kau! Lepaskan aku!" Sakura memberontak.

"Tidak sebelum kau mendengarkan penjelasanku!" balas Sasuke.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" seru Sakura marah.

"Semuanya harus diluruskan, Sakura. Dengarkan aku dulu," Sasuke menjawab.

"Baik! Tapi hanya dalam kurung waktu lima menit!" Sasuke pun tersenyum.

"Aku mencintaimu," Sasuke berlutu lalu memberikan bucket bunga mawar pada Sakura.

"Apa-apaan? Kalimat yang kau ucapkan itu bukan kalimat penjelas!" tolak Sakura dengan wajah yang sudah memerah.

"Memang bukan. Tetapi yang harusnya terjadi adalah yang seperti ini," jawab Sasuke, Sakura menautkan kedua alisnya.

"Maksudmu apa? To the pointnya saja," Sakura merotasikan bola mata emeraldnya.

"Yang tadi adalah latihan untuk melakukan adegan sebenarnya. Hinata hanya membantuku berlatih untuk menyatakan perasaanku padamu," Sasuke mengatakannya dengan jujur.

"Hhh, lalu kau juga bermaksud untuk membuatku supaya cemburu begitu?" tanya Sakura yang sudah reda amarahnya.

"Ya, begitulah. Jadi bagaimana?" balas Sasuke dengan sedikit gugup.

"Maaf, aku tidak bisa," jawab Sakura dengan wajah datarnya. Wajah Sasuke yang tadinya berseri-seri menjadi murung seketika. Bunga yang ia pegang ia jatuhkan ke tanah.

"Naruto, ayo kita pergi!" seru Sasuke kesal dan meninggalkan Sakura sendirian.

Sakura tersenyum miris. Ia ambil bunga itu dan melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumahnya. Tidak ada penyesalan di matanya, hanya ada senyum tipis yang ia tunjukkan secara kadang-kadang di sepanjang jalan yang ia jalani. Begitu ia masuk, rumahnya kosong. Sakura masuk ke kamarnya dan membenahi segala keperluannya dan membersihkan dirinya. Bunga yang ditinggalkan Sasuke itu ia simpan baik-baik di meja belajarnya. Ia ambil buku hariannya dan mulai menggoreskan tinta pena untuk menceritakan ulang hari ini. Tak lama kemudian, tangannya berhenti menulis, dan ia tutup buku itu.

"Kau tidak mengerti, Uchiha. Ini semua hanyalah salah paham," gumam Sakura lalu memejamkan matanya.


To Be Continue

Terima kasih telah membaca dan tinggalkan post di kotak review untuk saran, kritik, dan juga komentar.