Title : Love is Never Gone

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Park Chanyeol

Other Cast : Wu Yi Fan, Lu Han

Genre : Romance, angst

Chapter : 10/?
Warn : KrisHan. U've been warn!


Yifan mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran, mencari tempat yang nyaman untuk makan siang mereka. Namun detik berikutnya mata Yifan terpaku pada satu titik. Yifan menatap meja dipojok ruangan tempat dua orang pria cantik tengah terduduk dan menatap kearahnya dengan ekspresi yang tak bisa dia artikan. Yifan menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih jelas kedua sosok itu dan seulas senyum menghiasi wajah tampannya saat menyadari salah satu dari pria itu adalah Sehun. Tanpa pikir panjang Yifan menarik lengan Jongin membuat Jongin menoleh bingung.

" Ada apa?" Tanya Jongin.

Yifan hanya tersenyum licik dan melirik kearah dimana Sehun berada. Jongin mengikuti arah lirikan mata Yifan dan matanya melebar saat mendapati meja Sehun dan Luhan lah yang dimaksud kakak sepupunya. Jongin menggeleng dan segera berbalik pergi tapi Yifan lebih gesit darinya. Pria itu langsung menangkap lengan Jongin dan menariknya ke meja Sehun. Jongin berusaha bertahan ditempatnya kalau saja Yifan tak menoleh dan memberinya tatapan –mati-atau-ikuti-apa-kataku-. Jongin mendesah pasrah ditempatnya dan mengekori pria yang lebih tua meski langkahnya terasa sangat berat. Yifan menghentikan langkahnya tepat didepan meja Sehun dan Luhan. Pria blasteran Cina-Korea-Kanada itu menatap Sehun dengan sumringah sementara Jongin memilih tak menatap siapapun.

" Hai Sehun. Lama tidak bertemu." Yifan menyapa dengan ramah.

Luhan kontan dibuat terpana dengan sapaan yang keluar dari mulut Yifan. Luhan menoleh perlahan menatap Sehun tak mengerti. Sementara Sehun tercekat ditempatnya. Masih tak percaya kalau dia bisa sebodoh ini dan selama ini sama sekali tak teringat kalau rambut Yifan berwarna pirang. Luhan menyenggol Sehun membuat pria itu menoleh menatapnya. Luhan menatap Sehun dengan pandangan yang seakan berkata –kupikir-kau-tidak-kenal-pria-berambut-pirang-diperusahaan-kita-. Melihat itu Sehun balik menatap Luhan dengan pandangan –aku-bahkan-tidak-ingat-warna-rambutnya-pirang-. Luhan mendesah pasrah dalam hati dan memaklumi kebodohan Sehun.

" L-lama tak bertemu hyung." Jawab Sehun canggung dengan senyum tipis.

Sehun melirik Jongin. Pria itu masih berdiri dibelakang Yifan dan tak mau menatap Sehun ataupun Luhan. Yifan melirik Luhan yang kini sedang menyesap lemon teanya dalam diam. Seakan acuh dengan keadaan disekitarnya. Dahi Yifan berkerut sedikit melihat sosok pria cantik ini tapi detik kemudian Yifan berdecak riang.

" Hei—" Pekik Yifan tiba-tiba seraya mencondongkan tubuhnya agar bisa menatap Luhan lebih jelas. Luhan sedikit terkaget karena Yifan tiba-tiba menatapnya. Pria itu menatap Yifan bingung.

" Kau— si imut yang di lift waktu itu kan ?" Ujar Yifan membuat Luhan merona karena ternyata Yifan masih mengingat kejadian itu.

" Uh, iya. Hai." Ujar Luhan seraya mengangguk pelan.

" Hei. Apa kabarmu? Masih suka terjebak di lift lagi kah?" Canda Yifan dan tanpa dipersilakan pria tampan itu langsung duduk tepat disebrang Luhan. Membuat Luhan dan Sehun terkaget sementara Jongin hanya bisa menahan malu atas kelakuan kakak sepupunya ini.

" Untungnya tidak." Luhan mau tak mau tertawa kecil.

" Sehuna, apa dia temanmu ?" Tanya Yifan seraya beralih Sehun.

" Ya. Luhan adalah sahabat baikku hyung."

Jongin kontan menoleh saat mendengar jawaban Sehun. Terjawab sudah pertanyaan yang kerap mengganggunya sejak tadi pagi. Ternyata Luhan adalah sahabat baik Sehun, jadi wajar saja jika pria cantik itu mengetahui keadaannya dengan Sehun.

" Jadi namamu Luhan? Aku Yifan. Wu Yifan. Senang bertemu denganmu lagi Lu. Eh, omong-omong kalian belum selesai makan kan? Apa aku dan Jongin boleh bergabung?" Yifan merepet panjang lebar. Membuat tiga orang yang berada di sekitarnya terpana dengan ocehannya.

Jongin mengeluh dalam hati. Ini bencana namanya. Harusnya dari awal dia memang tak perlu menuruti kemauan Yifan untuk makan siang diluar. Bukannya apa-apa tapi Jongin sudah bisa membayangkan betapa canggungnya suasana di antara mereka nanti. Masalahnya dengan Sehun yang kemarin saja belum tuntas sekarang ditambah lagi dengan kejadian Luhan tadi pagi. Mau jadi apa makan siang ini? Sementara itu Sehun dan Luhan saling bertukar pandang. Sehun menatap Luhan penuh arti membuat Luhan paham bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan Luhan. Sehun selalu begitu.

" Silahkan." Jawab Luhan pelan. Sejujurnya dia tak sepenuhnya rela. Apalagi alasannya kalau bukan karena Jongin. Luhan tidak rela pria itu berdekatan dengan sahabatnya.

" Terimakasih. Hei, Kim Jongin apa yang kau lakukan disitu ? Cepat duduk." Ujar Yifan dengan nada yang tak bisa dibantah.

Luhan terpana mendengar cara bicara Yifan kepada Jongin yang lebih terdengar seperti memerintah. Luhan sama sekali tidak mengetahui fakta bahwa Yifan adalah salah satu orang penting di perusahaan mereka yang juga merangkap sebagai sepupu Jongin. Dengan berat hati Jongin berjalan mendekat dan terpaksa duduk berhadapan dengan Sehun karena Yifan sudah mengambil tempat di seberang Luhan. Jongin melirik Sehun sementara Sehun hanya menundukan kepalanya dan menolak menatap Jongin. Yifan sejak awal sebenarnya sudah menyadari bahwa ada yang tak beres dengan Jongin dan Sehun. Mereka terlihat sangat canggung satu sama lain. Bahkan jauh lebih canggung dari pertemuan pertama mereka diruang meeting berbulan-bulan yang lalu. Melihat mereka berdua saling menghindari tatapan satu sama lain membuat Yifan yakin bahwa saat ini mereka sedang bertengkar.

" Ini hanya pikiranku atau memang atmosfer disini terasa canggung?" Tanya Yifan blak-blakan membuat mata semua orang yang ada di meja itu melebar. Sehun dan Luhan terdiam, tak tahu harus menjawab apa sementara Jongin menginjak kakinya dibawah meja, sebagai peringatan.

" Hahaha. Lupakan saja. Mari kita pesan makanan." Yifan mengalihkan pembicaraan dengan cepat dan segera mengambil buku menu. Mengacuhkan tatapan membunuh yang dilayangkan Jongin padanya.

" Apa makanan paling enak disini Luhan?" Tanya Yifan.

" Mmhh, ramen katsu miso disini enak tapi itu extra pedas." Ujar Luhan melirik mangkuk ramennya.

" Oh, sempurna. Aku suka pedas. Aku mau itu." Yifan berseru dengan semangat membuat Luhan tanpa sadar tersenyum kecil.

" Kau pesan apa Kim?" Tanya Yifan tanpa mengalihkan tatapannya dari buku menu. Sepertinya dia juga tergiur mencicipi aneka gorengan.

" Aku— ramen nagi saja—"

" Jangan Jongin, itu pedas." Sehun tanpa sadar memotong perkataan Jongin saat mendengar pesanannya.

Jongin tak bisa makan makanan pedas karena itu lah Sehun secara refleks melarangnya. Dan karena perbuatannya, sekarang semua orang yang ada di meja itu menatapnya heran membuat wajahnya memerah malu saat dia menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Terlebih saat matanya bersitatap dengan Jongin.

" A-aku hanya memberi tahu saja." Sehun tergagap dan segera berpura-pura sibuk dengan ramennya sendiri. Berusaha tak peduli dengan senyum jahil Yifan, atau tatapan -menilai- Luhan, maupun sepasang mata Jongin yang tengah menatapnya dalam-dalam. Sehun hanya mengaduk mangkuk ramennya dengan kikuk, dalam hati merutuki lidahnya yang tak bisa di rem sampai tiba-tiba, seseorang menyodorkan buku menu di atas mangkuk ramennya, membuat Sehun mau tak mau mengangkat wajah.

" Bisakah kau memilihkan menu yang tepat untukku?"

Sehun mendapati Jongin lah yang tengah menyodorkan buku menu itu. Lengkap dengan senyum hati-hati yang tersungging di wajah tampannya yang mampu membuat jantung Sehun berdebar keras. Untuk sesaat Sehun tak tahu harus berbuat apa namun entah dorongan dari mana, Sehun menjulurkan tangannya dan mengambil buku menu tersebut dari tangan Jongin. Memilihkan menu yang menurutnya sesuai dengan selera makan mantan kekasihnya itu.

Jongin bersumpah dia berusaha sebisa mungkin menahan senyum yang kini tengah merekah bisa dia pungkiri, dadanya kini tengah berdebar senang saat tahu Sehun masih mengingat kebiasaannya yang tak bisa makan makanan pedas. Jongin tahu ini mungkin bukanlah hal besar, tapi bolehkah dia berharap? Bolehkah dia merasa senang atas perhatian Sehun yang teramat sepele ini? Bolehkah Jongin menganggap ini sebagai suatu kemajuan? Bolehkah? Jongin tidak tahu. Yang dia tahu, saat ini dia tidak bisa berhenti tersenyum. Terlebih saat dia menyaksikan semburat merah jambu dengan cantiknya menghiasi pipi Sehun saat mata mereka kembali bertemu pandang.


" Aku pulang. Sayang, kau dimana?" Seru Chanyeol saat memasuki apartemennya.

" Aku di dapur."

Jawaban Sehun membuat Chanyeol segera melangkahkan kakinya ketempat dimana Sehun berada. Chanyeol melingkarkan lengannya kesekeliling tubuh Sehun dan mengecup pipi tembam itu dengan lembut.

" Kau pulang lebih cepat." Gumam Sehun tanpa mengalihkan pandangan dari sepanci sup miso yang tengah diraciknya.

" Hmm. Tak banyak pasien hari ini." Jawab Chanyeol seadanya.

Chanyeol menatap lekat-lekat siluet Sehun yang tengah sibuk dengan masakannya. Chanyeol mengambil sendok sup dari tangan Sehun dan menaruhnya diatas konter sebelum membalikan tubuh ramping Sehun agar kekasihnya itu bisa menatapnya. Chanyeol menatap Sehun dengan seksama membuat Sehun dapat menangkap jelas rasa khawatir dari sorot matanya.

" Bagaimana tadi dikantor ?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati. Sehun terdiam untuk sesaat. Hanya sesaat karena sebenarnya dia sudah menduga kalau Chanyeol akan menanyakan hal ini.

" Baik." Jawab Sehun sewajar mungkin. Chanyeol terdiam sebentar sebelum kembali membuka mulutnya.

" Dia—tidak mengganggumu kan ?" Tanya Chanyeol lagi dan kali ini Sehun dapat menangkap kecemasan dalam suaranya meski Chanyeol berusaha sebisa mungkin menyembunyikannya.

" Bukankah sudah kukatakan padamu Chanyeol, kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi selain rekan kerja. Dia tidak menggangguku." Bohong Sehun untuk yang kesekian kalinya.

Bagaimana mungkin dia tidak merasa terganggu dengan sikap Jongin ? Bagaimana mungkin dia tidak terganggu dengan semua buket bunga dan kata-kata romantis dari Jongin? Bagaimana mungkin dia tidak terganggu dengan semua prilaku dan konfrontasi dari Jongin? Sehun jelas merasa terganggu dengan semua itu. Tapi lagi-lagi dia harus berbohong untuk menutupi semua ini. Lagi-lagi dia harus berbohong untuk menjauhkan Chanyeol dari kekhawatiran. Sehun tahu ini tidak baik tapi sejauh ini hanya inilah cara yang dia dapat untuk membuat keadaan tetap tenang. Meski sebenarnya dia tahu ini bukanlah jalan keluar yang tepat. Meski semua ini membuat Sehun semakin muak dengan dirinya sendiri tapi Sehun tak punya pilihan lain.

Chanyeol masih menatapi Sehun. Seakan sedang berusaha membaca apa yang tengah dipikirkan pria cantik itu saat ini. Sehun tahu bahwa Chanyeol meragukan jawabannya. Tiga tahun mengenal Chanyeol membuatnya tahu betul kalau kekasihnya ini bukanlah pria yang mudah percaya dengan jawaban klise. Sehun mendesah dalam hati, dia tidak ingin mengeluarkan alasan klise lainnya dan memberikan Chanyeol bualan-bualan lain, tapi tatapan intens Chanyeol saat ini membuatnya tak dapat melihat pilihan lain kecuali terus berbohong.

" Kau tak percaya padaku?" Ujar Sehun.

Rasanya Sehun semakin muak pada dirinya sendiri saat dia mengatakan hal itu. Rasanya dia ingin seseorang menamparnya karena sanggup mengeluarkan kata-kata seperti itu pada pria sebaik Chanyeol. Bagaimana bisa dia menuntut Chanyeol percaya dengan kebohongan yang dilontarkannya? Kekasih macam apa dia?

Hening sesaat diantara mereka sampai tiba-tiba Chanyeol mendaratkan bibirnya di bibir Sehun dan mengecupnya lembut dan lama.

" Aku percaya. Maafkan aku." Bisik Chanyeol dibibir Sehun.

Sehun menggigit lidahnya saat mendengar permintaan maaf Chanyeol. Sehun lah yang seharusnya memohon maaf disini. Sehun lah yang seharusnya mengemis maaf dari Chanyeol, bukan sebaliknya. Namun Sehun pikir seribu kata maaf darinya pun tak akan mampu membenarkan perbuatannya. Seribu kata maaf darinya tak akan mampu menghapus semua kebohongannya. Seribu kata maaf darinya, tak akan mampu menghilangkan rasa bersalahnya.


Luhan berjalan cepat menuju lift. Dia ingin cepat-cepat pulang kerumah. Hari ini lelah sekali. Dia terpaksa pulang terlambat karena Hideaki memaksanya untuk menyelesaikan semua data kiriman cabang Korea minggu lalu, karena lusa pria itu akan ke luar kota. Alhasil Luhan terpaksa lembur. Langit sudah gelap saat pria berdarah Cina itu berjalan keluar gedung perkantoran dan menuju parkiran mobil yang kini tampak sepi. Diliriknya sekilas Dior yang melingkar manis dipergelangan tangannya.

20.12 pm.

' Pantas saja sudah gelap.'

Pikir Luhan seraya beranjak masuk kemobilnya. Luhan melepas cardigan yang melapisi kemeja fit bodynya dan melemparkannya ke jok penumpang. Buru-buru dinyalakan mesin mobilnya dan beberapa menit kemudian mobil Luhan bergerak keluar komplek perkantoran. Luhan menyetir mobilnya seraya bersenandung pelan. Jalanan Tokyo tak terlalu macet saat ini dan itu sedikit menghibur hatinya ditengah kepenatan. Namun, beberapa saat kemudian senandung pelannya berganti menjadi rutukan sebal saat dia merasakan mobilnya berjalan semakin pelan dan tak teratur. Luhan berinisiatif menepikan mobilnya sebelum mobilnya benar-benar berhenti ditengah jalan dan membuat kekacauan. Benar saja. Tepat saat Luhan selesai menepikan mobilnya, sedan silver itu berhenti berjalan. Luhan mendesah sebal seraya berusaha menstarter ulang mobilnya. Namun usahanya sia-sia karena setelah beberapa kali mencoba, mobilnya tetap tak mau menyala. Luhan melepas safety-belt dan berjalan keluar mobil untuk sekedar mengecek mesin mobilnya. Hanya sekedar mengecek karena Luhan tak tahu apa-apa soal mesin. Pria cantik itu membuka kap mobilnya dan kepulan asap tipis langsung menyerbunya membuatnya terbatuk-batuk.

" Ya Tuhan, apa yang terjadi ?" Dumelnya.

Luhan mengibaskan tangannya untuk mengusir bau asap yang menguar dari kap mobil. Pria cantik itu memandangi satu persatu lilitan kabel nan rumit yang terhampar didepan matanya.

" Bagaimana ini? Aku benar-benar buta soal mesin." Gumam Luhan bingung.

Luhan mengedarkan pandangannya kesekitar. Berusaha mencari bantuan meski tampaknya itu suatu hal yang nihil. Dia tengah berada dijalan raya yang sepi saat ini tanpa ada satupun pejalan kaki atau siapapun yang bisa dia minta bantuannya. Luhan mendesah pelan seraya menatap kap mobilnya.

" Tak ada jalan lain selain mencoba. Semoga aku beruntung." Luhan mendesah pelan.

Detik kemudian si cantik sudah sibuk dengan mesin mobilnya. Mengutak – atik dari satu kabel ke kabel lain meski sebenarnya dia sendiri tidak tahu kabel apa yang tengah dipegangnya. Entah sudah berapa lama Luhan berkutat dengan mesin mobilnya sampai tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.

" Luhan ?" Luhan menolehkan kepalanya saat mendengar namanya dipanggil. Matanya membulat kaget melihat sosok pria yang kini tengah berdiri didepannya. Sepupu bos yang merangkap sebagai salah satu orang terpenting di perusahaannya lah yang ternyata memanggilnya. Luhan baru tahu fakta ini beberapa waktu lalu omong-omong.

" Tu-Tuan Wu? Uh, Hai." Ujar Luhan kaget seraya membenarkan posisinya yang semula membungkuk membelakangi Yifan.

" Kenapa anda ada disini?" Tanya Luhan heran.

" Ahh, itu—aku kebetulan lewat lalu melihatmu berdiri dipinggir jalan seperti ini, aku memutuskan berhenti. Ada apa ? Mobilmu mogok ?" Jelas Yifan seraya berjalan menghampiri Luhan.

" Ya. Tiba-tiba saja dia berhenti. Saat kubuka, kapnya keluar asap." Jelas Luhan sementara Yifan mengangguk mengerti seraya memperhatikan kap mesinnya.

" Apa tadi kau sedang memperbaikinya?"

" Saya— sebenarnya tidak mengerti soal mesin." Luhan meringis malu.

" Keberatan kalau aku yang bereskan?" Tanya Yifan seraya beralih menatap Luhan membuat Luhan tergagap karena tiba-tiba bersitatap dengan Yifan.

" K-kalau anda tidak keberatan—"

" Eii, tentu saja tidak." Yifan tersenyum lebar kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir beberapa meter didepan mobil Luhan.

Luhan memperhatikan punggung Yifan dengan seksama. Dalam hati dia sangat bersyukur karen Yifan lah yang datang menolongnya disaat seperti ini dan bukan pria lain. Tak lama Yifan sudah kembali dan menenteng sebuah box.

" Ini peralatan perangku." Yifan memperlihatkan isi box itu pada Luhan. Ada obeng segala bentuk, kabel dan benda-benda lainnya yang Luhan tak yakin apa namanya tapi sangat yakin itu ada hubungannya dengan mesin.

" Anda sangat mengerti mesin ya ?" Senyum Luhan mengembang melihat keantusiasan Yifan. Tangannya bergerak reflek meraih jas Yifan saat pria itu melepasnya.

" Tidak juga, tapi aku sempat belajar sedikit." Jawab pria bertubuh tinggi itu seraya membungkukkan badannya dan menatap mesin mobil Luhan. " Ini agak rumit. Sepertinya akan agak lama." Gumam Yifan seraya menaruh boxnya ditepi kap, diantara tubuhnya dan Luhan.

Semenit kemudian, Yifan telah tenggelam dalam kesibukannya. Luhan melongokkan kepalanya dan mengintip apa yang tengah pria tampan itu kerjakan dengan mobilnya. Siapa tahu dia bisa mengingatnya dan mempraktekannya sendiri kalau kejadian seperti ini terulang lagi. Hening lama diantara mereka. Yifan sibuk berkutat dengan mesin mobil Luhan sementara Luhan sibuk memperhatikan langkah-langkah yang Yifan lakukan dan menyimpannya baik-baik dalam memori otaknya. Yifan menolehkan kepalanya bermaksud mengambil obeng dari dalam box , saat tatapannya tak sengaja jatuh pada wajah Luhan yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya.

Jantung Yifan berdegup lebih cepat saat menyadari jarak diantara mereka begitu dekat. Begitu dekat hingga Yifan dapat mencium jelas Wangi parfum Luhan yang lembut dan menggoda indra penciumannya. Dalam sekejap Yifan larut dalam lamunan. Pria itu meneliti wajah cantik dihadapannya. Memperhatikan garis-garis wajah Luhan yang halus dengan sepasang mata bulat yang memikat, hidung mungil yang menggemaskan, tulang pipinya yang menonjol, dan bibir ranum dengan lekuk yang sempurna. Tanpa sadar Yifan menjilat bibir bawahnya saat menatap bibir Luhan. Yifan sama sekali tak bermaksud lancang dan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang sosok disampingnya saat ini, tapi wangi parfum Luhan seakan membuatnya tak dapat berpikir jernih. Alih-alih memfokuskan dirinya, Yifan malah melanjutkan menatapi Luhan. Yifan menurunkan tatapannya. Rambut Luhan yang berwarna caramel tampak sangat lembut dan halus. Leher jenjangnya berwarna seputih susu, tubuhnya tinggi semampai, berisi tapi tetap ramping. Itu terlihat jelas dari balutan kemeja ketat yang tengah dipakainya saat ini. Kakinya panjang dan ramping, pahanya kecil dan Yifan harus akui, Luhan punya bokong yang imut.

" Berapa lama anda belajar soal mesin Tuan Wu?" Ujar Luhan tiba-tiba membuat Yifan terbangun cepat dari lamunan kotornya.

" Huh ?" Tanya Yifan gelagapan. Keringat menetes perlahan di dahinya.

" Berapa lama anda belajar soal mesin ?" Luhan tersenyum polos menatap Yifan. Tampaknya dia tak menyadari kalau pria di depannya ini baru saja menatapinya lekat-lekat.

" Uhh—hanya sebentar. Delapan sampai sembilan bulan. Sisanya aku belajar sendiri." Jawab Yifan berusaha setenang mungkin. Luhan mengangguk pelan kemudian kembali asik memperhatikan mesin mobilnya.

Yifan menghela napas lega. Dalam hati dia bersyukur karena Luhan tak menyadari kalau dia baru saja menatapinya sedemikian rupa. Yifan mengalihkan tatapan dan konsentrasi pada pekerjaannya semula. Berusaha sekuat mungkin menahan keinginannya untuk melirik tubuh Luhan lagi. Yifan menggigit bibir bawahnya, berusaha mengacuhkan wangi parfum Luhan yang terus mengusik dan menggoda naluri kelelakiannya dan membuatnya tak bisa fokus mengerjakan apa yang tengah dikerjakannya saat ini. Dia tahu dia tak akan bisa berkonsentrasi selama Luhan masih tetap ada disampingnya. Yifan menghela napas berat sebelum menegakkan tubuhnya dan menatap Luhan.

" Luhan." Panggil Yifan pelan.

" Ya?"

" Mmhh, bisakah kau tunggu didalam saja." Ujar Yifan seraya mengalihkan tatapannya dari Luhan.

Entah kenapa Yifan merasa salah tingkah. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Wu Yifan bukanlah pria minim pengalaman yang akan merasa canggung jika berhadapan dengan wanita atau pria. Tapi entah kenapa, pria cantik yang satu ini sukses membuat keringatnya menetes hanya dengan menatapi pinggang rampingnya. Sementara itu alis Luhan tampak menyatu mendengar perkataan Yifan.

" Apa?"

" Kau—lebih baik tunggu didalam saja." Yifan menatap Luhan sekilas.

" Apa saya mengganggu ?" Tanya Luhan khawatir saat melihat raut wajah Yifan yang terlihat aneh.

" Iya." jawaban Yifan membuat Luhan terkaget. " Tidak. Maksudku, iya. Ehmm—Bukan-" Yifan berusaha menjelaskan tapi dia malah semakin bingung dengan jawabannya sendiri sementara Luhan masih menatapnya antara kaget dan kecewa. Yifan menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri menatap Luhan layaknya seorang pria dewasa.

" Teknisnya ya. Kau cantik, tubuhmu bagus, parfummu wangi sekali dan aku pria sehat jasmani dan rohani. Jadi— kalau kau tetap disampingku, itu—" Jelas Yifan intens membuat wajah Luhan bersemu merah saat mengerti maksud perkataannya.

" S-saya mengerti. Saya akan tunggu didalam saja." Jawab Luhan cepat dan buru-buru masuk kedalam mobilnya dengan wajah memerah.

" Terimakasih untuk pengertiannya." Gumam Yifan.

Luhan masuk kedalam mobilnya dengan jantung berdebar tak karuan. Wajahnya terasa panas dan dia dapat melihat wajahnya memerah saat ini lewat kaca spion. Mengingat kata-kata Yifan barusan membuat wajahnya terasa panas bukan main. Luhan sudah sering mendengar pujian-pujian macam itu dari banyak pria, tapi selama ini dia tidak pernah senang mendengarnya. Luhan bahkan selalu menganggap kalau itu hanya kata-kata menjijikan dan rayuan murah. Tapi entah kenapa, mendengar Yifan mengatakan hal itu padanya, jantungnya malah berdebar keras dan senyumnya terus mengembang tanpa dapat dia kendalikan.


" Terimakasih Tuan Wu." Ujar Luhan saat Yifan menutup kap mobilnya dan membereskan peralatan perangnya.

" Bukan masalah." Ujar Yifan seraya menoleh menatap Luhan.

" Saya sungguh berterimakasih. Kalau tidak ada anda saya pasti harus jalan kaki sampai halte terdekat." Ujar Luhan lagi membuat Yifan tersenyum.

" Uhmm, bagaimana kalau lain kali saya traktir anda makan? Sebagai balasan terimakasih." Tawar Luhan tulus.

" Tidak perlu."

" Mana bisa begitu. Anda sudah menolong, tidak sopan jika saya tidak membalasnya." Luhan bersikeras. Yifan terdiam sebentar menatap Luhan tapi detik kemudian seulas senyum lebar mengembang diwajahnya.

" Begini saja, daripada ditraktir bagaimana kalau kau kabulkan satu permintaanku ?" Tawar Yifan.

" Baiklah. Apa itu?"

" Berhenti menggunakan bahasa formal dan memanggilku Tuan Wu."

" Apa?"

" Kau selalu berbicara padaku dengan bahasa formal dan memanggilku Tuan Wu. Aku jadi merasa tua mendengarnya." Rajuk Yifan membuat Luhan tertawa melihat caranya merajuk yang seperti anak kecil.

" Kau bisa bicara padaku dengan santai, seperti saat kau bicara dengan Sehun atau temanmu yang lain. Bisakah? " Pinta Yifan. Hidung Luhan merengut lucu, tampak keberatan dengan permintaan Yifan.

" Ayolah..."

" Baiklah." Ujar Luhan.

" Dan panggil aku Yifan."

" T-tapi—"

" Yifan. Ayo cepat, panggil aku begitu." Perintah Yifan dengan tak sabar.

" Rasanya tidak sopan jika harus memanggil namamu begitu saja." Luhan masih menolak.

" Hmmmm, baiklah kalau begitu. Kau bisa panggil aku ge. Kau lebih muda dariku kan? Jadi mulai sekarang panggil aku Yifan ge." Titah Yifan.

Luhan menatap Yifan yang juga tengah menatapnya. Ada sesuatu yang terasa berdesir dalam diri mereka saat sepasang retina saling bertatapan. Yifan bahkan merasakan geli diujung perutnya. Seakan ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam sana saat matanya bertatapan dengan sepasang mata bulat yang mempesona itu.

" Baiklah. Yifan ge." Sahut Luhan pelan. Yifan tersenyum senang mendengarnya apalagi ditambah reaksi malu-malu Luhan yang membuatnya gemas.

" K-kalau begitu aku pulang dulu— Ge." Suara Luhan memecah keheningan.

" Ya." Jawab Yifan sumringah.

" Sekali lagi, terimakasih." Ujar Luhan seraya menyerahkan jas Yifan yang sejak tadi dipegangnya.

Yifan mengambil jasnya dari genggaman Luhan dan menatap pria cantik itu dalam-dalam tepat saat Luhan mengangkat wajahnya. Untuk sesaat mereka saling bertatapan membuat jantung Luhan semakin berdebar hebat.

" Sampai ketemu besok." Ujar Luhan seraya mengalihkan pandangannya dan mulai berjalan menuju mobilnya. Meninggalkan Yifan yang masih berdiri diam ditempatnya. Luhan berjalan cepat menuju mobilnya dengan wajah yang memerah. Membuka pintu mobil dan menyalakan mesinnya.

Luhan membuka kaca jendela mobilnya saat melewati Yifan. Melambai sekilas dan memberikan senyum termanisnya pada pria tampan itu. Yifan pun membalas lambaian dan senyum Luhan sebelum mobil si cantik melaju kencang meninggalkannya sendiri. Yifan terus menatapi mobil Luhan yang tampak semakin menjauh dengan senyum bahagia yang masih terlukis diwajahnya.

" Sepertinya aku jatuh cinta."

To Be Continue...

Rep's Corner :

Icha : Hamdalah. Langgeng yaa. -TTD Oh Sehun-

n4 : *bungkus pcy* *lempar ke kamar* FF ini akan hiatus dikarenakan gw mau quality time dulu sm Chanyeol #plakk

wijayanti628 : Lulu tuh emang ganas2 imut gimana gitu kannn

fyodult : Iyyaa~ Hahaha Alhamdulillah ya, Sehun sesuatuu

relks88 : Hushhh, jgn curigaan jadi orang, ga baik. Ayo tobat #plakk

AwKaiHun : Ya ampun nak.. Tuh kan ni anak ngomongnya ambigu lagi. Kacauu XD. Iya sayang thankseu ya supportnya. xoxo

auliaMRQ : Jongin dan Chanyeol harus kampanye dan menjelaskan aspirasinya. Biar Sehun ga galau lagi and ga salah coblos/?

darkisgood : Ya amppuuuun ini anak satu bahasanya. Lagian emg kata siapa punya Kai panjang? Dia mah keknya rata2 doang #upps

meliarisky7 : Uhmm we'll see ya say.. ^^

ohhanniehunnie : Aduuhh ini kenapa babies gw omongannya pada ngaco bin ambigu semua? Siapa yg udah ngajarin kalian TT_TT

MinnieWW : #TeamChanyeol

exofujosh : Besok pake bahasa Iran ya

bottomsehunnie : Ini dikasih dikit dulu. Jgn banyak2. Ntar kalian teler

YunYuliHun : Kalo sknearionya begitu ntar tambah ribet semuanya. Aku ga sejahat itu kak. Muahahahaha

izz : #ForeverTeamChanyeol

Yisabilaen : Sabar lah nak. Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar #tsaahh. Thankseu supportnya :*

yehet94: Sabar nak. Semua ada waktunya. :P

oh ana7 : Kalo Luhan suka sama Jongin nanti kalian nangis2 lagi :p

A/N : Because i love my babies and even my silent readers. Remember that reviews, subscribes and follows are love and they give me strength. I say welcome to new readers and followers. I'll see u when i see u babies. Till next time, salam cinta dari tanah KaiHun. Paipai ^^