SELAMAT HARI LEBARAN MINNA-SAN! ^^


Fandom:

oOo Naruto oOo

Disclaimer:

oOo Masashi Kishimoto oOo

Title:

oOo SEME VS UKE oOo

Author:

oOo Kiroikiru no Mikazuki Chizuka oOo

Genre:

oOo Romance/Friendship oOo

Rating:

oOo T oOo

Pairing:

oOo Uchiha Sasuke and Uzumaki Naruto oOo

oOo Hyuuga Neji and Sabaku no Gaara oOo

oOo Nara Shikamaru and Inuzuka Kiba oOo

Summary:

::: "Asal kau tahu, setelah ini… aku, akan membencimu seratus kali lipat lebih dari kau membenciku." :::


Pagi-pagi sekali, Naruto berjalan mengendap-endap di lorong sekolah. Agaknya ia sedang dalam tahap waspada tingkat tinggi, sampai-sampai beberapa siswa-siswi yang kebetulan berada di sana ber-sweatdrop ria melihat tingkah ketua Geng Kyuubi. Yah, tentu saja ada alasan tersendiri mengapa ia berperilaku begitu, alasannya karena ia sedang berusaha menghindari seseorang, dan seseorang itu ialah Uchiha Sasuke, sang ketua Geng Sharingan. Betulkan otak Naruto yang mengingat hal taruhan kemarin.

Ia berjalan mundur setelah sampai di depan pintu kelasnya sambil menoleh ke kanan-kiri tidak jelas. Entah bagaimana bisa dalam keadaan membelakangi pintu, ia tetap bisa membukanya, lalu menutup pintu tersebut sembari masih mengintip dari jendela pintu. Merasa sudah aman, Naruto menghela napas lega, sebab rencana kabur dari Sasuke berjalan dengan mulus.

"Yeah~! Sukses!" seru Naruto senang.

"Apanya yang sukses, hn?"

Sepasang tangan putih pucat melingkar di pinggang Naruto, tentu saja berhasil membuat Naruto tersentak kaget dan menolehkan kepalanya ke belakang dengan gerakkan patah-patah. Orang tersebut menyeringai seraya memeluk pemuda pirang dari belakang, juga meletakkan kepalanya di bahu Naruto di mana ketua Geng Kyuubi itu menoleh. Namun, seusai memastikan siapa orang yang memeluknya, Naruto kembali memandang ke depan dengan tubuh agak gemetar yang lemas.

"Gyaaaa! L-lepaskan aku, Teme!" seru Naruto panik.

"Kenapa kau sepanik itu, Dobe? Aku 'kan hanya memelukmu, bukan me-rape," ucap Sasuke sok polos sambil mengeratkan pelukannya.

Naruto merinding hebat saat Sasuke menghirup tengkuknya yang beraroma citrus tersebut. Ternyata kesialan sedang menemanimya kali ini. Niatnya menghindari Sasuke, malah pagi-pagi sekali bertemu sang empu.

Tak terasa waktu berlalu. Naruto merasa janggal sebab dari tadi Sasuke tidak segera merubah posisinya, memang hanya perasaannya saja atau bukan, ia merasa suhu tubuh Sasuke lebih hangat daripada yang dulu-dulu. Tiba-tiba saja pelukkan Sasuke melonggar, hal ini jelas-jelas membuat Naruto bingung mendapati reaksi Sasuke yang di luar pemikirannya. Maka dari itu, ia langsung menoleh hingga arah matanya tepat menuju saat Sasuke terjatuh pingsan di hadapannya.

"SASUKE!"


~oOo~ SEME VS UKE ~oOo~

Chap. 10 (Madu VS Racun)

Copyright © Mikazuki Chizuka


Kiba sesekali menguap lebar, bertanda bahwa rasa kantuknya belum sepenuhnya hilang. Namun sikap Kiba ini tidak menjadi penghalang bagi para fans-fansnya yang malah menganggap hal itu suatu reaksi yang keren. Yah, butalah hati mereka, tentu saja mata juga termasuk. Akan tetapi, gerak-gerik pemuda Inuzuka ini masih diawasi oleh kedua mata biji kuaci milik seseorang, dialah Shikamaru keturunan dari Klan Nara. Diam-diam ia mengendap-endap mengikuti arah pijakkan Kiba ke mana.

Langkah mereka berdua terhenti di sebuah lorong sekolah dekat gudang yang terkenal sepi. Tanpa aba-aba Kiba langsung menoleh cepat ke belakang, segera menyeringai licik melihat pemuda nanas agak sedikit tersentak sebab ketahuan sedang mengikuti.

"Heh. Tumben seorang jenius terlihat bodoh karena kepergok membuntuti orang," ejek Kiba menyilangkan tangan di depan dada.

Shikamaru tak menjawab, namun malah melangkahkan kakinya menuju ke arah Kiba. Ia baru berhenti kala ada jarak satu meter di antara mereka. Sejenak kedua mata yang mirip sejenis biji-bijian berwarna hitam saling tatap.

"Mendokusei. Pintar bicara kau sekarang, Inuzuka. Tapi walaupun begitu…" Tiba-tiba Shikamaru mendorong Kiba ke samping lumayan keras hingga bahu kiri Kiba bertubrukkan dengan dinding, berakhirlah punggungnya yang bersandar di sana, "…yang terpenting kau bukan orang lain bagiku," ucapnya membingkai tubuh Kiba dengan tangan.

Kiba terhimpit, tetapi ia mencoba menahan diri dengan sikap tenang.

"Che. Mau apa kau?"

Shikamaru memosisikan bibirnya di telinga Kiba.

"Tidak ada yang khusus. Hanya saja…" bisik Shikamaru membuat Kiba merinding, "belakangan ini aku baru menyadari. Ternyata kekasihku yang tidak bisa digolongkan pintar ini memiliki insting lebih kuat dibandingkan manusia lain yang kutemui. Melogikakan sedetail mungkin perubahan-perubah yang terjadi di sekelilingnya. Merepotkan, sekarang aku jadi tahu alasan mengapa kau bisa menjadi anggota terpenting di Geng Kyuubi. Ternyata itu kelebihanmu." Ia menyeringai.

Kiba terhenyak sesaat. Ingin rasanya ia membalas tebakkan Shikamaru yang tepat sasaran itu dengan permainan Geng Sharingan terhadap Geng Kyuubi yang lama-kelamaan mulai menemui titik terang. Tapi, ia masih bisa membedakan mana waktu yang tepat dan mana waktu yang salah. Sepertinya kali ini tergolong waktu yang salah di kamusnya.

Pemuda bertatto segitiga terbalik tersenyum licik sembari mengalungkan kedua tangan di leher Shikamaru.

"Memang apa yang menjadi ancaman bagi kalian jika hanya diriku seorang yang mulai bisa mengimbangi permainan kalian, huh?" kata Kiba menempelkan pipinya di pipi Shikamaru.

Shikamaru mengecup leher Kiba lama kemudian menjilatnya kecil, hal tersebut membuat Kiba menahan napas.

"Karena orang-orang sebangsa kalian adalah racun paling mematikan di dunia kami, Kyuubi. Pedang bermata dua yang sayang dilewatkan juga dijalani. Aroma memabukkan yang berhasil menjerat kami jatuh ke dalam lubang penghianatan pada rencana yang sudah dirancang matang-matang jauh hari. Dan aku pun tak habis pikir bagaimana bisa orang sepertiku terjerat olehmu."

Sang Inuzuka menarik segaris seringai paksa.

"Sebenarnya rencana apalagi yang kau rancang dengan otak jenius dalam bidang strategimu itu, Nara Shikamaru?" kata Kiba masih bisa mempertahankan suaranya agar tidak bergetar kala Shikamaru mempermainkan daerah leher dan tengkuknya semakin menjadi. "S-satu hal yang perlu k-kau tahu. Cepat atau lambat N-Naruto pasti menyadari kemunafikkan si Uchiha b-brengsek itu."

"Itu kalau dia tahu. Lagipula Naruto itu terlalu polos, dan Ketua kami terlewat berbahaya untuknya," ujar pemuda nanas menelusupkan tangan untuk membelai lekuk tubuh Kiba.

"Mmmh… s-sialan kau N-Nara!" kata Kiba tidak jelas karena menikmati perlakuan Shikamaru terhadapnya.

"Hh… kau yang sialan, Inuzuka. Menjeratku terlalu dalam hingga aku terperosok jauh karenamu. Mmm… tanggung jawab kau…"

Kiba menengadahkan kepala kala Shikamaru mengecupi leher dan tengkuknya semakin dalam.

"K-kau yang tanggung jawab, N-Nara! M-mana kutahu bila racunku t-terlalu mengikat bagimu!"

Shikamaru menyeringai di balik kecupannya pada Kiba.

"Kita sama-sama tanggung jawab, Kiba. Sekarang tanggung jawabmu adalah pasrah padaku, sedangkan tanggung jawabku adalah memuaskanmu."

Lontaran kata protes pun tak terdengar lagi dari Kiba, sebab Shikamaru berhasil membuat kekasihnya menyanyikan beberapa desahan lagu kala ia memanjanya.


Gaara mengetuk-ngetukkan jari gelisah di bangkunya, sebab pelajaran pertama akan segera dimulai namun kedua sahabatnya—Naruto dan Kiba, belum juga kelihatan batang hidungnya. Berulang kali ia menghubungi juga mengirimi pesan singkat pada mereka berdua, akan tetapi boro-boro arep dibales, ditelpone ora diangkat. Kesal dan sempat pula bingung darimana bisa ia menggunakan Bahasa Jawa tadi, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar demi memenuhi panggilan alamnya.

Setelah melewati perjuangan panjang yaitu teriakan dari fangirls-nya juga lirikkan mesum fanboys-nya yang mungkin berjiwa Seme (otomatis menganggap Gaara tipe Uke), akhirnya ia berhasil sampai di tempat tujuan, kemudian segera masuk dan mengambil bilik di paling ujung karena hanya bilik itu yang kosong.

"Kulihat dan kudengar, kau semakin akrab dengan anggota Geng Kyuubi yang berambut merah itu. Bagaimana ya? Maaf saja, bukankah itu sama saja melanggar peraturan Geng Sharingan?"

'Maksudnya aku?' batin Gaara mengernyitkan dahi sembari memasang kedua telinganya baik-baik.

"Huh. Sebagai anak buah Geng Sharingan kau itu lancang ya?"

'N-Neji!'

"Heh. Apa pembelaanmu?"

"Yah. Mau bagaimana lagi. Sudah menjadi peraturan jika di antara Geng Sharingan dan Geng Kyuubi tidak boleh ada hubungan khusus. Kau pikir aku mendekatinya karena apa? Tentu saja karena ada maksud tertentu."

"Waw. Apa lagi rencana yang kalian buat, heh?"

"Kuberi sedikit bocoran ya. Intinya kita akan mempermalukan Geng Kyuubi waktu lomba renang antar kelas. Demi mewujudkannya harus menggunakan pengorbanan yang besar, tidak mudah menghancurkan Kyuubi dengan rencana biasa."

"Jujur aku sempat heran. Bagaimana bisa dulu aku memutuskan untuk bergabung dengan Geng Sharingan?"

"Karena kau licik."

"Ya. Begitulah."

"Heh, perlahan, akan kita hancurkan Geng Kyuubi."

BRAKK!

"Dasar keparat kau, Shari-eh!'


Kankurou menghela napas lega setelah urusan selesai dari balik bilik toilet khusus untuk buang air besar tersebut. Oh yeah, sepertinya Temari benar-benar sedang terjangkit penyakit cabai, karena masakan untuk sarapan mereka kali ini benar-benar serba ekstra pedas. Jangan salahkan dirinya yang tidak kuat harus memakan apapun itu yang mengandung cabai. Tapi ia mencoba menahan rasa tidak kuat itu daripada dipaksa minum Jus Cabai oleh Temari. Yah sama saja makan sambal.

Saat ia hendak keluar dari bilik, sebuah percakapan langsung menghentikan niatnya sejenak.

"Kulihat dan kudengar, kau semakin akrab dengan anggota Geng Kyuubi yang berambut merah itu. Bagaimana ya? Maaf saja, bukankah itu sama saja melanggar peraturan Geng Sharingan?"

"Huh. Sebagai anak buah Geng Sharingan kau itu lancang ya?"

"Heh. Apa pembelaanmu?"

"Yah. Mau bagaimana lagi, sudah menjadi peraturan jika di antara Geng Sharingan dan Geng Kyuubi tidak boleh ada hubungan khusus. Kau pikir aku mendekatinya karena apa? Tentu saja karena ada maksud tertentu."

"Waw. Apa lagi rencana yang kalian buat, heh?"

"Kuberi sedikit bocoran ya. Intinya kita akan mempermalukan Geng Kyuubi waktu lomba renang antar kelas. Demi mewujudkannya harus menggunakan pengorbanan yang besar, tidak mudah menghancurkan Kyuubi dengan rencana biasa."

"Jujur aku sempat heran. Bagaimana bisa dulu aku memutuskan untuk bergabung dengan Geng Sharingan?"

"Karena kau licik."

"Ya. Begitulah."

"Heh, perlahan, akan kita hancurkan Geng Kyuubi."

Mendengar itu, amarah meluap-luap mampir pada Kankurou, dibukanya pintu bilik di depannya hingga menimbulkan suara gebrakan keras, sukses mengagetkan seluruh orang yang berada di sana termasuk dua anggota Geng Sharingan.

"Dasar keparat kau Shari-eh?"


"Dasar keparat kau Shari-eh?"

Tangan Kankurou yang tadinya akan ia gunakan untuk menghajar orang Sharingan, terpaksa berhenti mendadak sebab ditahan seseorang. Awalnya ia juga ingin memukul orang yang menahan tangannya itu, namun lebaran mata syok yang malah ditampilkan Kankurou.

"G-Gaara?"

Salah satu anggota Sharingan—Neji, langsung keringat dingin mendengar nama orang yang belakangan ini menjadi kekasih diam-diamnya. Saking syoknya, Neji tak berkutik sedikit pun saat Gaara berjalan mendekatinya, sampai mereka berdua kini saling berhadapan. Kedua bola mata pemuda merah menatap penuh gejolak emosi pada mata tak berpupil pemuda berambut coklat panjang di hadapannya yang terlihat meneguk ludah. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama sebab Gaara memutus kontak mata mereka kemudian berjalan di samping kanan Neji dan berhenti lagi.

"Resleting Anda belum dinaikan, Hyuuga-san."

Seringai kemenangan sempat terukir di bibir Gaara sebelum ia lagi-lagi menapakan kaki keluar dari toilet, meninggalkan Kankurou yang tertawa terbahak-bahak, para siswa yang tak bisa menahan kikikan mereka, dan tepukan di jidat oleh orang yang merangkap patner berbicara pemuda Hyuuga tadi, beserta Neji sendiri yang otaknya masih memproses kejadian barusan dengan lambatnya. Peristiwa yang benar-benar mempermalukan si jenius berasal dari klan Hyuuga ini.

"Neji! Kenapa kau diam saja? Baru saja bungsu Sabaku itu mempermalukanmu!" seru patner bicara Neji—Kidoumaru, sambil menabok punggung Neji lumayan keras.

Refleks Neji mengedipkan mata cepat lalu menggelengkan kepala.

"Ck, ck, ck. Tak kusangka seorang Hyuuga sepertimu bisa terkena racun sebanyak ini dari adikku tercinta," sindir Kankurou berjalan santai melewati kedua anggota Geng Sharingan, akan tetapi entah mengapa ia menghentikan langkah tepat di depan pintu keluar-masuk toilet, kepalanya sedikit tertoleh ke belakang, "Jangan remehkan Trio Geng Kyuubi, bocah Sharingan. Sekarang posisimu benar-benar di paling dasar."

Berlalunya Kankurou dari toilet, seketika Neji jatuh berlutut dengan mata terbelalak.

"Ada apa denganmu, Neji?" seru Kidoumaru panik.

Neji tak akan sesyok ini apabila hanya gara-gara ia dipermalukan Gaara, tapi dikarenakan tatapan bungsu Sabaku tadi, ia tahu, kekasihnya akan membalas segala apa yang telah ia lakukan terhadapnya. Dan peristiwa mempermalukannya tadi, itu sebagai bukti jika Gaara… telah menikmati permainan mereka, juga mengikuti rencana yang mungkin sangat keluar dari strategi.

Sebenarnya simple saja menandai maksud pemuda Hyuuga.

Neji… hanya takut kehilangan Gaara.

Dan mulai kapan serta sampai kapan, ini hal mutlak baginya.


"Jauhkan benda itu, bangsat!" seru Sasuke kasar sambil menepis tangan seorang dokter yang akan menyuntikan suatu cairan di tangannya.

"Jaga bicaramu Uchiha muda!" bentak Itachi mendelik pada Sasuke yang kini menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Naruto hanya bisa terpaku di sudut kamar mewah tersebut. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa pagi tadi ia berinisiatif mengantar Sasuke pulang ke rumahnya setelah adegan pingsan itu. Dan sekarang, ia malah tidak bisa meninggalkan Sasuke yang nampak dalam kondisi labil, diperparah Itachi yang memaksa dirinya untuk tetap berada di sana. Tetapi, hai! Walaupun hubungannya dengan Sasuke belakangan ini membaik—jika tak mau dikatakan "lebih", tetap saja status mereka musuh. Mana ada musuh membantu musuhnya kalau bukan baru kali ini?

Jujur pemuda pirang agak prihatin melihat Itachi dan dokter yang kewalahan menghadapi kekeraskepalaan Sasuke yang tidak mau disuntik ini. Padahal setahu Naruto, disuntik rasanya seperti digigit semut. Tapi, kenapa Sasuke harus setakut ini? Tiba-tiba Naruto menyeringai penuh kemenangan kala menemukan sisi lemah lawannya. Satu kalimat, Sasuke takut jarum suntik. Informasi yang lumayan menjatuhkan, pikirnya licik.

"Pergi atau kubunuh kau!" ancam Sasuke melempari sang dokter dengan bantal.

Itachi menghela napas pasrah melihat adiknya seperti ini, namun ketika arah pandangnya tertuju pada Naruto yang terdiam di sudut sana, otaknya segera berpikir untuk memanfaatkan Naruto agar Sasuke mau disuntik. Agak sulit, sebab otaknya tak menemukan ide apapun. Sedangkan Naruto yang tidak betah melihat Sasuke semena-mena juga menanggalkan sifat sopan santunya, berjalan mendekati dokter yang kehabisan cara dan kemudian merampas suntikan di tangannya. Hal ini tentu menarik perhatian tiga orang lain terutama Itachi.

"Kalau Pak Dokter dan Itachi-nii tidak bisa membuatmu disuntik, aku sendiri yang akan menyuntikmu!" kata Naruto langsung berlari dan menerjang Sasuke yang kurang persiapan.

Alhasil, si pemuda pirang menindih Sasuke yang gencar melancarkan aksi berupa berontakan kecil saat calon uke-nya itu menahan tangan kirinya dan mengarahkan jarum suntik di sana. Namun karena tekad Sasuke yang besar, berhasil mengalahkan usaha Naruto. Akan tetapi hal yang tidak diingankan terjadi, jarum suntik tersebut malah menembus pertahanan kulit tan milik Naruto. Gara-gara itu, semua orang menghentikan segala pergerakan masing-masing, rasa syok sekaligus bersalah terukir di wajah mereka, terutama Sasuke, karena ia penyebabnya.

"Do-err… N-Naruto?" ucap Sasuke.

Naruto menghiraukan panggilan Sasuke sebab matanya terasa sangat berat. Beberapa menit kemudian, tubuhnya limbung menimpa Sasuke yang kini terduduk di ranjangnya, sukses membuat mereka berjinggat panik dan lagi-lagi terutama Sasuke.

"Dobe? Oi! Kau kenapa, Dobe? Dobe?" seru Sasuke menggoncang-goncangkan tubuh Naruto yang lemas di hadapannya, lalu ia pun memandang sang dokter yang berkeringat dingin, "Suntikan apa ini? Apa yang terjadi dengan Dobe-ku?" bentaknya men-death glare dokter, tak memedulikan alat suntik tadi jatuh ke lantai.

Dokter gelagapan, "M-maaf Uchiha-san, tadi itu s-suntikan penenang."

Lantas Sasuke mendelik sengit, "Kau kira aku sakit jiwa apa? Untuk apa suntikan penenang itu diberikan padaku? Sekarang malah si Dobe 'kan yang kena imbasnya!"

"Aku yang meminta Dokter memberimu suntikan penenang. Salahmu disuntik langsung obatnya malah meronta seperti gadis mau diperkosa begitu," ejek Itachi menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menyeringai kecil.

Sasuke berusaha keras menahan emosinya yang siap meledak, bahkan ia lebih mementingkan keadaan Naruto yang ada di pelukannya sekarang, membaringkannya di ranjang, kemudian menatap dokter setengah hati.

'Cepat suntikkan obatku di tanganku," perintah Sasuke datar,

Itachi dan dokter sempat berpandangan sejenak dalam kejut. Namun pada akhirnya sang dokter mengangguk dan langsung menyuntikan obat di tangan Sasuke, sedangkan Sasuke sendiri menggigit bibir merasa agak sedikit gentar ketika jarum suntik menusuk kulit pucatnya sejenak. Hingga dokter menyabut suntikan tersebut, ia menahan perasaan campur aduknya dan mulai membuka mata yang sempat tertutup.

"Sekarang, pergi kalian dari hadapanku!" seru Sasuke sambil menunduk.

Itachi menghela napas lalu mengiring sang dokter keluar dari kamar adiknya. Ia tahu mood Sasuke mungkin sendang buruk, maka dari itu ia menuruti perintahnya daripada mendapat permasalahan rumit. Dan sosok mereka pun menghilang dari ruangan tersebut, menyisakan Sasuke yang masih terduduk di samping kiri Naruto yang tertidur di ranjangnya. Perlahan, ia membaringkan tubuhnya menghadap pada Naruto, mengambil tangan tan itu perlahan kemudian mengecup bekas suntikan di sana, beralih menarik kepala pemuda pirang dan mengecup singkat bibir lembut tersebut.

"Maaf…" lirih Sasuke mencium kening Naruto, "maafkan keegoisanku."

Rasa kantuk pengaruh obat, membuatnya merengkuh tubuh Naruto sebelum ia terlelap menyusul sebagian jiwanya yang sudah bermimpi tenang dalam balutan selimut tebal.


Neji menatap khawatir pada sekelebat bayangan merah dari pintu ruang kolam renang. Bayangan merah alias Gaara kekasihnya tersebut nampak tiada lelah berenang ke sana kemari seperti ikan yang memang ditakdirkan hidup di air. Tetapi perlu ditekankan di sini, Gaara bukan ikan, ia manusia yang punya keterbatasan daya tahan tubuh. Ingin rasanya Neji menghentikan aktifitas Gaara saat ini ketika melihat kondisi kekasihnya yang sudah tak memungkinkan itu. Akan tetapi saat dirinya teringat kejadian di toilet yang lalu, niatnya pun terurungkan, dan sekarang, yang ia bisa hanya melihat Gaara dari sana.

Mata tak berpupilnya membulat waktu mendapati gaya berenang Gaara agak sedikit berbeda. Lama-kelamaan semua organ tubuhnya yang bergerak tidak menunjukkan fungsi apapun. Hingga bayangan sang pemuda merah mulai menghilang perlahan, Neji yang syok baru menyadari apa baru saja terjadi. Sebuah fakta, Gaara tenggelam.

"GAARA!" seru Neji langsung berlari mendekati kolam renang.

Tak sempat ia melepas segala sesuatu yang melekat pada dirinya kecuali sepatu, kemudian suara dirinya yang tercebur ke dalam kolam membelah keheningan yang ada. Dengan hati gelisah ia berenang secepat yang ia bisa ke arah sosok Gaara yang benar-benar hilang ditelan air. Sesampainya di sana, tak ada basa-basi apapun ia membawa Gaara yang ternyata tak sadarkan diri ke tepi kolam, membaringkannya di sana dan menatap panik pada kulaian lemah tubuh tersebut.

"Bangun, Gaara!" bentak Neji mengguncang-guncangkan bahu Gaara.

Tak hanya itu, kedua tangannya menekan dada Gaara agar ia cepat tersadar. Tapi karena tidak ada respon sama sekali, ia nekat memberi napas buatan, bahkan untuk hal ini ia tak berniat mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Baginya, keadaan Gaara lebih penting di atas segalanya. Setelah beberapa kali memberi napas buatan, akhirnya Gaara terbatuk keras juga bermili air keluar dari mulutnya. Kedua matanya pun mulai membuka dan berusaha membiasakan diri.

Alangkah terkejutnya Gaara mendapati sosok Neji yang basah kuyub sedang menatapnya penuh perhatian, tangan sang Hyuuga yang menggenggam tangannya sedikit bergetar, dan entah ia mendapat fakta darimana bila Neji dilanda ketakutan yang amat sangat, yang sayang sekali Gaara tidak tahu bahwa pemuda coklat ini takut kehilangannya.

Teringat peristiwa, Gaara mulai terduduk dan menepis tangan Neji kasar.

"A-apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gaara datar menatap Neji yang terkejut.

Mungkin karena saking syoknya, Neji tidak bisa menjawab pertanyaan Gaara, namun ketika kekasihnya berdiri, ia tersadar sepenuhnya.

"Pergilah. Aku sedang tidak ingin diganggu. Lagipula, jam pelajaran sudah dimulai dari tadi," ucap Gaara berjalan ke tepi kolam, bersiap-siap untuk berenang kembali.

Tapi sebuah pelukan dari belakang rupanya berhasil membuat Gaara mengurungkan niatnya dan membeku seketika, apalagi pelakunya sendiri adalah Neji, kekas—ralat, musuhnya. Pelukan Neji terasa semakin erat di tubuhnya, bahkan napas sang Hyuuga yang begitu terasa di kepala bagian belakangnya pun sedikit banyak mengharuskan hati Gaara agak bergetar.

"Kumohon… jangan sakiti dirimu sendiri…" lirih Neji memeluk Gaara lebih erat dan mengecup rambut merahnya.

Gaara mengepalkan kedua tangan, berusaha menenangkan dirinya sendiri agar tidak terhanyut omong kosong pemuda yang masih betah memeluknya.

"Kau masih ingat taruhan di rumah Uchiha kemarin? Aku belum mengajukkan satu permintaan yang harus kau penuhi," katanya menundukkan kepala sembari memejamkan kedua mata rapat-rapat, "dan sekarang, aku minta, hubungan kita cukup sampai di sini."

Tak pernah terbayangkan bagi Neji sendiri, hatinya akan terasa sesakit ini mendapati kenyataan Gaara memutuskan ikatan di antara mereka dengan begitu mudahnya. Kala Gaara berhasil melepaskan pelukannya, Neji sama sekali tak bereaksi apa-apa karena perasaannya yang campur aduk sukses membuatnya mati rasa.

Saat itu pula, Gaara melangkahkan kaki meninggalkan Neji yang masih membatu, seraya membawa beribu rasa sakit jauh di dalam hatinya sebab ia sudah mengingkari perasaannya.

Perasaan bila sampai kapan pun, hatinya, jiwanya, raganya, hanya untuk Hyuuga Neji. Lalu kini, pernyataannya hanya tinggal sebuah nama.


Naruto membuka kedua mata perlahan, berusaha untuk mulai membiasakan diri pada apapun di lingkungan sekitar. Ketika kepalanya tertoleh ke samping, terkejutlah ia mendapati dirinya dipeluk Sasuke. Entah apa yang melintas di kepala Naruto hingga ia menyibakan selimut yang membungkusnya, langsung menghela napas lega melihat pakaiannya masih ada di tubuhnya. Hai, ayolah, berjaga-jaga itu penting kan? Apa salahnya curiga mengingat seberapa mesum patnermu? Memang sih, ia jadi terkesan gadis takut diperkosa, dan perlu diralat semua gadis memang tidak mau diperkosa, kecuali bagi para uke pasti rela diperkosa seme mereka.

Pemuda pirang tersebut menyingkirkan tangan Sasuke yang melingkari tubuhnya, agar ia bisa terduduk seperti saat ini, walau kepalanya agak sedikit berat karena mungkin pengaruh obat dalam suntikan tadi. Sedikit mengaduh, ia turun dari ranjang Sasuke saat mengingat buku penuh puisi sang pemuda raven masih bersarang di tasnya, tentu saja berniat mengembalikannya.

Nakitsu kareta tanda, tori kakeru basho mo naku…

Tiba-tiba sebuah alunan musik terdengar di telinga Naruto, berhasil menarik perhatian sang Ketua Geng Kyuubi menuju ke meja belajar Sasuke berbekal sebuah buku di tangannya. Setelah sampai, ia meraih handphone milik Sasuke itu. Terbaca nama "Sakon" di layarnya. Terdorong inisiatif, ia menerima panggilan tersebut. Niatnya baik kok, hanya ingin memberi tahu orang yang bernama Sakon bahwa Sasuke sedang sakit.

"Hal…"

"Kami sudah tahu markas utama milik Kyuubi, Ketua! Kami semua tinggal menunggu perintah Ketua untuk menghancurkan markas Geng Kyuubi dan menangkap beberapa sandera seperti rencana awal! Haha! Tak kusangka rencana kita akan semudah ini! Ternyata ketiga anggota terpenting Geng Kyuubi sebodoh itu gara-gara cinta! Sek…"

KLAK!

Handphone Sasuke yang semula berada di tangan Naruto jatuh ke lantai, diiringi belalakan mata syok dari orang yang memegang benda elektronik tadi.

#

Sasuke membuka kedua mata, tidurnya terusik oleh suara benda yang terdengar jatuh. Ia sedikit mengernyit kala tidak mendapati Naruto terbaring di sampingnya.

BLAK!

Refleks ia menoleh ke belakang, terkejut melihat Naruto berdiri dalam keadaan tercengang. Tanpa basa-basi, ia berdiri dari tidurannya kemudian berlari mendekat pada Naruto seraya menghiraukan rasa pening di kepala.

"Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke memegang masing-masing bahu Naruto.

"Hallo? Ketua? Apa kau masih di sana? Bagaimana rencana selanjutnya?"

Serentak arah mata Sasuke mencari-cari asal suara tersebut, dan tepat ketika ia menoleh ke bawah di mana ia dan Naruto berdiri, kedua mata onyx-nya melebar sempurna melihat handphone-nyalah yang mengeluarkan suara, terlebih lagi nama "Sakon" terukir di layarnya. Beruntunglah ia diberkahi otak jenius, sebab untuk saat-saat seperti ini sangatlah dibutuhkan, terbukti dengan ia yang segera memahami permasalahan yang ada. Sebab tak mau memperparah keadaan, sengaja ia menginjak handphone-nya berulang-ulang hingga mati fungsi, langsung menatap Naruto yang ekspresinya tidak bisa tergambarkan.

"N-Naruto, ini tidak seperti yang k-kau pikirkan. S-semuanya hanya salah paham," jelas Sasuke gagap sebisa mungkin berusaha meyakinkan pemuda di hadapannya.

Kepala Naruto tertunduk berbekal kedua tangan yang terkepal.

"Kenapa…?"

Sasuke hendak mengangkat wajah Naruto dengan tangannya, namun yang bersangkutan menepisnya kasar.

"Kenapa Sasuke…? Padahal… kukira kau sudah tidak membenciku lagi. Ternyata, sifat baikmu belakangan ini hanya untuk menghancurkanku dan teman-temanku, bukan?"

Sasuke menggeleng cepat, "Dengarka…"

"Sangat bencikah kau padaku hingga kau sanggup berbuat hal sejauh ini?"

"Jangan memotong perkataan orang, Naruto!" bentak Sasuke geram sembari mencengkram lengan Naruto.

Lagi-lagi Naruto menepis kasar tangan Sasuke, "Cukup! Lancang sekali kau Uchiha-san memanggil nama kecil orang lain dengan nada memerintah seperti itu!" bentak Naruto seraya berjalan mundur menjauhi Sasuke yang tidak berkutik di tempatnya. Sampai Naruto berdiri di ambang pintu kamar Sasuke, ia kembali membuka mulut, "Asal kau tahu, setelah ini…" lanjutnya memantabkan hati, "…aku, akan membencimu seratus kali lipat lebih dari kau membenciku."

Seketika, Naruto langsung berlari keluar dari kediaman Uchiha. Tanpa sadar, kini dirinya sudah berada di dalam taksi yang kebetulan tadi sedang mencari penumpang di sekitar sana, meninggalkan Sasuke yang mengejarnya di belakang.

Tak perlu mengorbankan air mata untuk menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu, yang perlu ia lakukan hanya mengorbankan biaya untuk menghubungi seseorang menggunakan handphone-nya, yaitu demi…

"Shion, dalam satu jam kedepan, cepat pindahkan markas utama Kyuubi ke ruang rapat bawah tanah sebelum kita kedatangan tamu tak diundang."

…demi teman-temannya.

#

#

#

Renzoku…


OMAKE!

"Karena orang-orang sebangsa kalian adalah racun paling mematikan di dunia kami, Kyuubi. Pedang bermata dua yang sayang dilewatkan juga dijalani. Aroma memabukkan yang berhasil menjerat kami jatuh ke dalam lubang penghianatan pada rencana yang sudah dirancang matang-matang jauh hari. Dan aku pun tak habis pikir bagaimana bisa orang sepertiku terjerat olehmu."

#

Shino hanya tersenyum simpul mendengar percakapan yang diakhiri cumbuan tersebut, kemudian ia mengambil handphone di saku celananya dan menghubungi seseorang hingga tersambung.

"Racun pun tertawan oleh madu."

~oOo~

"Kau masih ingat taruhan di rumah Uchiha kemarin? Aku belum mengajukkan satu permintaan yang harus kau penuhi, dan sekarang, aku minta, hubungan kita cukup sampai di sini."

#

Matsuri hanya menyeringai kecil mendengar percakapan tragis tersebut dari balik pintu, lalu ia menekan suatu tombol di handphone-nya untuk menghubungi seseorang.

"Madu pun lebih mematikan daripada racun."

~oOo~

"Asal Anda kau, setelah ini… aku, akan membencimu seratus kali lipat lebih dari kau membenciku."

#

Sai hanya bisa melukiskan senyum tipis di wajahnya melihat peristiwa tersebut di sudut lain, getaran handphone yang berada di tangannya, berhasil menghapus semuanya.

"Madu vs Racun pun akan dimulai sebentar lagi."

OWARI!


Author Note:

Pertama, silahkan bunuh Zuki karena meng-update cerita ini dalam jangka yang sangat lama. T^T

Kedua, silahkan mutilasi Zuki karena langsung memberikan chapter yang 'berat' tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. T_T

Ketiga, silahkan tampar Zuki karena lupa sudah me-reply review atau belum. TOT #plakplakplak

Btw, untuk Zukito Kiku-san yang me-review dan menanyakan siapa Author dari S vs U di Fic Cadeau milik Zuki, hehe, Zuki 'lah Authornya. ^o^v *nyengir kuda* #digibeng

Zuki memang sempet kehilangan inspirasi, tidak hanya Fic S vs U, bahkan Y n S, K H, und T S o S juga.

Bayangkan saja, update-an Fic2 di atas yang tinggal di-post ke FFn, terhapus secara otomatis berserta seluruh data2 di flashdisk saya dengan tidak berperikeflashdiskan(?), tak ada satu pun yang tersisa, dan sialnya, Zuki sama sekali gax punya kopiannya, cukup membuat Zuki syok berat dan enggan bertemu flashdisk/laptop/computer/buku catatan selama dua bulan. DX

Huwaaaaaanggg~! T^T

Trauma Zuki!

Belum lagi, update-an Fic Zuki yang Y n S baru saja keluar dari RS, dan untungnya bagian terpentinglah yang bisa diselamatkan dari virus corrupt coretsialancoret itu! Padahal niatnya mau Zuki post-in bareng update-an Fic yang ini, tapi gagal deh. ._.

~o#O#o~

o- Review or Flame? -o

o- With D'H -o

o- Kiroikru no Mikazuki Chizuka -o