Devangel

.

.

Dhienhie Fujoyerelf

.

.

Genre: TeenRomance, Drama, Littlehurt

.

.

Rate: T

.

Lenght: Chaptered

.

Devil Clan: Kyuhyun, Yesung, Hankyung, Heechul, Yoochun, Yunho, Taemin.

Angel Clan: Sungmin, Ryeowook, Eunhyuk, Kangin, Leeteuk, Siwon, Kibum, Minho, Jaejoong.

Tempter Clan: Dasom, Ara, Krystal, Yoona.

.

Disclaimer: KyuMin milik Tuhan. Kyuhyun milik Sungmin dan Sungmin milik Kyuhyun, mereka saling memilki dan Sungjin murni milik saya *ditabokJongjin* Tapi yang pasti FF abal ini milik saya seutuhnya. :D

.

.

Warning: YAOI, Typo(s), DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT!

.

.

.

enJOY~

CHAPTER 10

.

~(*o*)~

.

This fict is dedicated..

To the world biggest shipper..

The JOYers..

Menangis adalah hal yang paling mustahil dilakukan oleh iblis. Mereka hanya mengenal bahagia untuk kesedihan dan benci untuk kegembiraan. Mereka bahagia di atas kesedihan manusia dan benci saat melihat kegembiraan manusia. Ya, iblis memang dideskripsikan seperti itu, musuh besar manusia yang bertuhan. Namun, untuk saat ini istilah itu tak berarti. Sang iblis tengah menangis, menangis terlalu keras hingga tangisnya terdengar bagai lolongan srigala yang mencekam gelapnya malam.

Yesung menatap datar wajah Heechul, berbagai sumpah serapah terus berputar di dalam kepalanya. Sesekali matanya beralih menatap lengan Heechul, tak ada adiknya di sana. Tanpa sadar, setetes air menuruni pipinya.

'Ini salahmu. Ini salahmu, eomma!'

Heechul mendengar itu, suara Yesung terus berdengung di dalam kepalanya melontarkan kecaman atas sikap emosionalnya.

"Aku harus pergi, kuharap kalian bisa merelakan Beelzebub," ucap Shindong sambil menatap Hankyung yang belum menemukan mulutnya sejak melihat putranya menghilang.

"Tunggu. Apa maksud semua ini?" tanya Kangin menginterupsi niat Shindong.

Tak ada jawaban, juru penengah itu hanya menundukkan kepalanya dengan ekspresi sendu.

"Aku pergi."

Kangin menatap hampa ruangan di depannya, Arbiter yang memang pergi dengan sesuka hati itu kembali meninggalkan mereka dan lagi-lagi meninggalkan kejanggalan menyebalkan untuk mereka.

Leeteuk menatap Heechul dengan pada pandangan iba. Ratu klan devil itu terus saja meracau memanggil nama putranya, meminta Kyuhyun kembali.

Kenapa harus seperti ini? Kehadiran yang satu harus dibayar dengan kepergian yang lain. Bagian menyedihkannya adalah kenapa harus Kyuhyun dan Sungmin. Kenapa harus Beelzebub dan Angel?

Sebagai abdi kerajaan, Yoochun mengambil langkah untuk mendekati Heechul. Ia tahu betul jika Hankyung dan Yesung tengah menahan emosi untuk tak berteriak marah mengumpat Heechul. Apalagi Hankyung, Yoochun bisa melihat jika rajanya tengah memendam penyesalan karena membiarkan Heechul menimpakan semua kemurkaannya pada Kyuhyun yang bahkan —mungkin tak menyadari kesalahannya.

"Yang Mulia Ratu, mari kembali ke kastil," ucap Yoochun sambil membimbing Heechul untuk berdiri dari posisinya. Toh, untuk apa mereka masih di sini? Tak ada penolakan, lengan Heechul tampak gemetar. Matanya beralih menatap Sungmin yang masih berbaring dengan memejamkan matanya.

Semua ini gara-gara pangeran klan angel. Sejak awal kelahirannya, eksistensi Kyuhyun sudah terancam dan kini semuanya benar-benar terjadi. Putranya—Beelzebub telah pergi. Pangeran Angel-lah penyebab semuanya.

Inner jahat Heechul mengatakan hal itu tapi saat melihat wajah raut tenang Sungmin dan mengingat siapa yang sedang tumbuh dalam perut sang pengeran klan angel, Heechul hanya bisa mengatupkan bibirnya. Air matanya kembali menetes saat membayangkan bagaimana Sungmin dan cucunya setelah ini.

"Aku benar-benar minta maaf untuk semuanya."

Leeteuk menatap Heechul dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

"Aku benar-benar minta maaf, Heechul-ah, Hankyung-ah.."

Tak ada jawaban apapun, Heechul hanya bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah Leeteuk dan para klan angel yang tengah menatap penuh rasa bersalah terhadapnya.

"Ayo pergi," suara Hankyung terdengar, dalam satu kejaban mata para klan devil itu menghilang dari ruangan meninggalkan Yesung yang masih berdiri menatap Sungmin.

"Hyung~" panggil Ryeowook dengan suara gemetar. Yesung tak menolehkan kepalanya, pemuda bermata segaris itu hanya bisa menundukkan kepalanya sebelum menghilang dalam satu kejaban mata.

Ryeowook perlahan mengulum bibirnya berusaha menahan diri agar tidak mengeluarkan isakannya.

"Ini salahku."

Eunhyuk ingin berteriak 'Iya! Mungkin itu alasan eomma menutup instingmu! Kau memang ceroboh dan tak pernah bisa di ajak kompromi.' Namun, ia sadar betul jika semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah Ryeowook.

"Tidak, tidak ada yang salah. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu," ucap Kangin berusaha menghibur Ryeowook namun namja manis berpostur kecil itu hanya bisa menundukkan kepala sambil menggeleng kecil seolah menolak hiburan kecil yang Kangin ucapkan.

Kibum menatap Leeteuk, ia benar-benar merindukan sosok yang telah melahirkan Sungmin.

"Hyung," panggilnya dengan lirih, sengaja bersikap non formal agar ia bisa memeluk sosok lembut itu sebagai kakak-adik, bukan sebagai ratu dan sosok kepercayaannya.

Leeteuk menoleh kemudian tersenyum

"Kibum-ah, lama tidak bertemu," balas Leeteuk sambil membuka lebar dua lengannya. Kibum nyaris meneteskan air mata saat tubuhnya berhasil memeluk tubuh Leeteuk.

"Maaf."

"Tidak, harusnya aku yang meminta maaf padamu, Kibum-ah. Terimakasih sudah menjadi sosok eomma yang baik untuk Sungmin," Kibum hanya menganggukkan kepalanya, tak bisa menahan diri untuk tak terisak. Bebannya selama ini hanya ia tanggung sendiri dan untuk kali ini entah kenapa ia merasa begitu lega.

Siwon mengukir senyum sejenak, sedetik kemudian matanya tertuju pada Sungmin. Putra angkatnya itu masih setia memejamkan mata dengan wajah tenang. Lengan Siwon terulur, mengusap kepala Sungmin dengan gerakan lembut.

"Kau appa yang hebat, Siwon-ah," puji Kangin sambil menepuk-nepuk bahu Siwon.

Satu senyum kembali terlukis.

"Terimakasih hyung."

Hanya sebentar Siwon menanggapi pujian Kangin lalu wajahnya kembali terarah pada sosok Sungmin. Perlahan kepalanya menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Sungmin.

"Bangun chagi, ini appa," bisik Siwon lembut kemudian mengecup lama kening Sungmin.

Benar saja, bagai sebuah mantra kepala Sungmin menunjukkan reaksi kecil setelah mendengar bisikan Siwon. Kelopak matanya perlahan melipat, menunjukkan bola mata besarnya yang langsung tertuju pada bayangan sosok-sosok di depannya. Masih tampak kabur membuat Sungmin kembali terpejam untuk memfokuskan pandangannya.

"Ini appa chagi," ulang Siwon.

Sungmin membuka mata, menatap Siwon sejenak kemudian beralih menatap sosok di sebelah Siwon yang langsung membuatnya terlonjak kaget. Matanya kembali mengerjab memastikan obyek di hadapannya.

"Appa?" panggil Sungmin tak percaya.

Kangin tersenyum kemudian mengambil posisi untuk berdiri di dekat ranjang Sungmin.

"Ya, ini appa, Minnie-ah."

"Appa!" seru Sungmin dengan gembira, pemuda manis itu langsung bangkit untuk memeluk Kangin yang tersenyum lega dan balas memeluk Sungmin dengan erat.

"Aku merindukan appa dan eomma," lirih Sungmin.

"Eomma juga di sini," ucap Leeteuk sebelum bergabung untuk sebuah pelukan erat bersama Sungmin dan Kangin.

Melihat itu Siwon tersenyum bahagia, namun tak bisa dipungkuri ada sedikit perasaan tercubit saat melihat Sungmin melupakannya. Tanpa sadar setetes air mata mengalir di pipinya.

Sungmin menolehkan kepalanya membuat Siwon bergegas mengubah ekspresi wajahnya dan melempar senyum termanis walau faktanya air mata masih membayang di sekitar pipinya. Dengan perlahan Sungmin melepaskan pelukan appa dan eomma kandungnya kemudian beralih meraih tangan Siwon mengisyaratkan agar pria Blue Angel itu duduk di ranjangnya.

Siwon masih melukiskan senyum saat tubuhnya sudah duduk di sebelah Sungmin, namun saat dua tangan Sungmin menangkup wajahnya, Siwon hanya bisa menahan diri untuk tak terisak.

"Jangan menangis appa," ucap Sungmin yang justru membuat air mata Siwon mengalir semakin deras. Sungguh ia tak rela jika Sungmin meninggalkan mereka nantinya. Pemuda manis itu mengerti perasaan ayah angkatnya. Dengan lembut Sungmin mengulurkan lengannya untuk memeluk Siwon, mencari kenyamanan seperti yang biasa ia dapatkan saat sosok kebapakan itu memeluknya.

"Aku menyayangi appa, jangan menangis," ucap Sugmin yang sukses membuat Siwon terisak dan mengeratkan pelukannya bagai tak rela melepas Sungmin, sesekali bibirnya bergerak mencium pelipis putranya.

"Aku juga menyayangi eomma," ucap Sungmin meraih lengan Kibum yang sejak tadi mengelus pelan punggung Siwon.

"Eomma juga menyayangimu, Minnie-ah," jawab Kibum kemudian menghambur untuk bergabung memeluk Sungmin dan Siwon.

Donghae masih berdiri di posisinya, menatap semuanya dengan pandangan sendu bercampur bahagia. Bahagia karena Sungmin telah menyadari instingnya, sendu untuk perasaannya yang masih diliputi kesedihan karena Kyuhyun telah pergi.

"Aku harus pergi," bisiknya pada Eunhyuk.

Eunhyuk menyusut air matanya kemudian menatap Donghae.

"Ke mana? Kau harus menjelaskan banyak hal padaku, Hae."

Donghae meneguk ludah, merasa sedikit tak nyaman saat bisikannya justru dibalas dengan nada jengkel yang cukup keras oleh kekasihnya. Tak ayal semua makhluk yang berada satu di dalam ruangan langsung menatap mereka.

"Donghae?" panggil Sungmin sambil mengukir senyum manisnya.

"Ah hai hyung, kupikir tak ingat padaku," cengir Donghae sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Aku ingat dan tahu semuanya, terimakasih sudah menjadi teman yang baik untukku."

Donghae hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kikuk.

"Itu karena hyung memang baik."

Sungmin kembali tersenyum.

"Kau lucu. Seharusnya kau tak ikutan bersikap sinis pada Kyuhyunnie."

Senyum Donghae masih terukir namun Sungmin menyadari sesuatu dan senyumnya langsung lenyap tak berbekas.

"Kyuhyun? Di mana Kyuhyun?" tanyanya dengan wajah terkejut. Matanya langsung mencari-cari berusaha menemukan Kyuhyun di dalam ruangan.

"Kyuhyun~ Kyuhyun sudah pergi, Minnie-ah."

Mulut Sungmin langsung terbuka cukup lebar.

"Pergi?"

.

~(*o*)~

.

Suasana Devil Castle yang penuh dengan kegelapan terasa semakin mencekam saat pemegang kekuasaan muncul bersama Yesung dan Yoochun dengan ekspresi suram.

"Kemana Enepsigos—Taemin? Bukannya sejak tadi dia mencari Yang Mulia Ratu?" bisik salah satu pasukan yang berjaga di sekitar pintu utama.

"Tidak tahu. Anak itu suka muncul dan menghilang sesuka hati, padahal tadi dia seperti sok penting sekali mencari Yang Mulia Ratu," balas satunya.

Yoochun menolehkan kepalanya, menatap dua pasukan yang masih asik mengobrol itu. Ya, Taemin merupakan salah satu pasukan yang sangat dekat dengan Heechul, wajar jika sesekali Taemin mencari Heechul, tapi kata sok penting yang diutarakan pasukan itu membuat Yoochun tak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening.

"Enepsigos mencari Yang Mulia Ratu? Untuk apa?" gumam Yoochun kemudian kembali mengikuti langkah Hankyung, Heechul, dan Yesung yang masih diselimuti suasana duka.

"Yang Mulia Ratu!"

Yoochun nyaris membentak siapapun yang berteriak tak sopan itu. Namun, saat melihat siapa yang berlari setengah terbang untuk menghampiri mereka, bentakannya langsung memudar. Enepsigos—Taemin, iblis paling muda itu memang sedikit aneh dan suka heboh tak jelas.

Heechul yang biasanya antusias dengan kehadiran Taemin—karena sosok itu sangat manis, kali ini tak menunjukkan respon berarti.

"Yang Mulia Ratu dari mana saja?" lihat? Bahkan cara bicaranya seperti tidak diatur secara baik. Mana ada pasukan yang berbicara seperti itu dengan Yang Mulia Ratu? Hm, namanya juga anak kecil.

"Aku sedang sibuk, kau bisa menemuiku lain kali," sahut Heechul dengan nada datar.

Taemin mengerutkan kening tak mengerti, Heechul seperti marah padanya. Apa ia membuat kesalahan?

"A-aku~"

"Enepsigos, kau bisa menemui Yang Mulia Ratu lain kali," putus Yoochun dengan tatapan mutlak membuat Taemin hanya bisa memajukan bibirnya.

Hankyung dan Yesung tak menunjukkan reaksi apapun, mereka kembali melanjutkan langkah saat suara Taemin kembali terdengar.

"Padahal aku hanya ingin bertanya Yang Mulia Ratu kemana saja? Pangeran Beel sedang kesakitan di dalam ruangannya."

Taemin sontak mundur dengan wajah kaget saat tatapan tajam sosok-sosok yang berkuasa di Devil Castle itu tertuju padanya.

"Jangan membuat lelucon, iblis kecil!" hardik Yesung membuat Taemin membulatkan mata sambil menganga lebar. Apa sih salahnya hingga sosok-sosok ini menatap setajam itu padanya.

"Enepsigos, jika Azazel—Yunho tak bisa menemanimu bermain, jangan membuat ulah seperti ini!" kali ini Yoochun yang menunjukkan aura kemarahannya.

Bibir Taemin perlahan bergetar. Sosok yang Yesung sebut iblis kecil itu memang cengeng.

"A-aku tidak berulah. Aku serius. Pangeran Beel sedang berada di ruangannya, sejak tadi mengerang kesakitan dan-"

"Taemin!"

"Aku serius Yesung hyung! Aku melihat sendiri Kyuhyun hyung mengerang kesakitan di dalam ruangannya dan sekarang Yunho hyung sedang menemani Kyuhyun hyung, kalau hyung tidak percaya lihat saja sendiri! Seharusnya Yunho hyung bilang sendiri, kenapa menyuruhku, mereka jadi tidak percaya kan! Huaaaaaa!"

Yesung mengerutkan keningnya, menatap Taemin yang sudah terbang secepat kilat dengan sayap kecil khas para pasukan sambil menangis setelah berteriak kesal padanya. Sementara Hankyung dan Heechul kompak mengerjabkan matanya.

"Saya rasa Enepsigos tidak bercanda."

"Jadi~ Beel masih di sini?" gumam Heechul.

Hankyung tak ingin berlarut-larut dalam kebingungannya, raja klan devil itu bergegas menuju ruangan Kyuhyun. Dalam hatinya ia bersumpah akan memusnahkan Taemin jika iblis kecil itu berani membohonginya.

.

.

.

"Huhuhu, seharusnya hyung yang bicara, mereka tak percaya padaku!" sungut Taemin sambil memukul keras bahu Yunho.

"Kau bodoh! Tarik kepala besar Yesung bodoh itu agar dia ikut dengamu! Argh!" omel Kyuhyun sambil mengerang kesakitan.

Taemin menyusut air matanya kemudian menatap Kyuhyun.

"Hyung sudah sakit seperti itu masih bisa marah-marah padaku!" Taemin balas mengomel.

"Dasar iblis kecil! Akh! Kau berani padaku heh!" marah Kyuhyun sambil menekan dadanya.

"Tentu saja. Tentu saja tidak berani~" lirih Taemin sambil menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Yunho.

"Kau temani Pangeran Beel di sini, aku yang akan bicara pada mereka," ucap Yunho berniat pergi saat bunyi yang cukup berisik itu menghentikan niatnya.

Suara pintu yang terbanting cukup keras membuat Kyuhyun menggeram marah, sosok bodoh mana yang berani membanting pintu sekeras itu jelas-jelas ia tengah kesakitan seperti ini.

"Pangeran Beelzeub," panggil Yoochun memastikan jika sosok yang tengah mengerang kesakitan itu benar-benar Kyuhyun.

"Azael, panggilkan appa, cepat! Arrgghh!"

Hankyung dan Heechul yang memang berada di dalam ruangan Kyuhyun itu langsung membulatkan matanya terkejut.

"Beel? Kyu? Itu benar-benar kau?" tanya Yesung dengan nada kaget bukan main.

"Bernael bodoh! Aku kesakitan seperti kau masih sempatnya bertanya seperti itu? Memangnya kau berharap aku siapa? Dasar sial!"

Mendengar nada bicara kasar nan ajaib itu, Yesung langsung berseru keras dengan nada gembira.

"Eomma! Kyuhyun masih di sini! Appa lakukan sesuatu!"

Kyuhyun hanya bisa menggeram, menahan diri untuk tak mengumpat pada makhluk-mahluk astral tolol yang sepertinya masih belum meyakini keberadaannya.

"Appa!" teriaknya membuat Hankyung tersentak.

Raja klan devil itu bergerak terbang ke arah Kyuhyun sementara Heechul masih berdiri kaku di posisinya.

Jika itu memang Kyuhyun, siapa yang membawanya ke mari? Bukankah tadi Arbiter mengatakan bahwa Kyuhyun telah pergi?

"Yunho-ya, siapa yang membawa Kyuhyun ke mari?" tanyanya penasaran.

"Saya tidak tahu Yang Mulia Ratu, salah satu pasukan yang berjaga di sekitar ruang utama menemukan Pangeran Beel terkapar kesakitan di depan pintu ruangannya. Tapi, salah satu pasukan di pintu utama mengatakan jika beberapa saat yang lalu Arbiter muncul di kastil."

Heechul mengerjab saat kebingungan kembali melandanya. Arbiter muncul beberapa saat yang lalu? Apa itu sebelum mereka tiba di kastil? Untuk apa? Kerutan di kening Heechul semakin dalam berusaha keras menebak maksud dan tujuan Shindong mengunjungi kastil jelas-jelas ia tahu jika Heechul dan Hankyung masih berada di bumi. Apa dia yang membawa Kyuhyun ke mari?

"Eh? Membawa Kyuhyun?" tanya Heechul sendiri.

"Apa masih sakit?" pertanyaan yang Hankyung tujukan pada Kyuhyun menyentak Heechul dari pemikirannya.

"Tidak, tapi aku seperti tak memiliki tenaga."

"Ya, kau memang butuh istirahat cukup lama untuk memulihkan energimu."

"Hm, appa benar. Kau harus jadi anak baik kali ini," imbuh Yesung.

Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas, walaupun tetap dan selalu menyebalkan Kyuhyun tetaplah adik tersayang untuk Yesung.

"Kyuhyun-ah, siapa yang membawamu ke mari?" tanya Heechul berusaha mencari jawaban atas rasa penasarannya.

Mendengar suara Heechul, Kyuhyun pun langsung melayangkan tatapan perang pada eommanya.

"Arbiter," jawab Kyuhyun dengan singkat dan malas.

Heechul ingin sekali membentak Kyuhyun namun ia sadar betul bagaimana posisinya saat ini. Biar bagaimanapun, saat ini dirinyalah yang bersalah.

"Bagaimana bisa? Arbiter mengatakan jika kau sudah pergi."

"Pergi ke mana? Memangnya eomma harap aku pergi ke mana?"

Heechul berusaha menekan emosinya.

"Tidak, eomma hanya mengatakan apa yang Arbiter ucapkan."

Kyuhyun mendengus kemudian mengalihkan tatapannya seolah-olah wajah Heechul adalah lukisan jelek yang sangat membosankan untuk dipandangi.

"Ya, itu hukuman kecil yang cocok untuk ratu emosional sepertimu, Amy. Sudah sering kukatakan semua yang Kyuhyun lakukan memang sesuai takdir tapi kau masih saja sibuk dengan kemurkaanmu. Lagipula, kapan lagi aku bisa mengerjaimu? Apa aktingku keren?"

Heechul bisa mendengar suara Shindong di dalam kepalanya. Ratu klan devil itu hanya bisa menahan geram saat mendengar tawa bahagia Shindong yang jelas-jelas menggelegar untuk mengejeknya.

'Sial! Jadi, pembawa berita tambun itu mengerjaiku.'

.

~(*o*)~

.

Lelehan liquid bening seolah tak bisa berhenti mengalir dari foxy eyes Sungmin. Ia masih tak percaya sekaligus tak bisa menerima dengan apa yang didengarnya tentang Kyuhyun. Kyuhyun pergi? Pergi ke mana? Bukankah Kyuhyun yang sejak awal berjanji jika mereka akan bersama hingga akhir, tapi ini lagi-lagi bukan akhir mereka bagi Sungmin.

Jika instingnya harus ditukar dengan eksistensi Kyuhyun, Sungmin lebih memilih tidak mengetahui siapa dirinya dan hidup sebagai manusia yang membenci Kim Kyuhyun, setidaknya Kyuhyun masih terlihat olehnya bukan menghilang atau pergi seperti ini. Seharusnya mereka memiliki akhir yang bahagia. Ya mereka. Kyuhyun Sungmin dan putra mereka.

"Minnie, ini sudah satu minggu. Kau tidak bisa seperti ini terus," ucap Leeteuk setengah membujuk putranya.

Ryeowook yang akhir-akhir ini lebih sibuk menemani Sungmin dibanding menikmati suasana kamar tenangnya masih setia menampakkan ekspresi bersalah. Ya, dia merasa ikut andil dalam semua hal yang terjadi saat ini. Seandainya waktu itu ia tak mengucapkan selamat pada Sungmin, mungkin sampai saat ini pangeran klan devil dengan marga manusia Cho itu masih bersama Sungmin.

Terkadang Ryeowook berpikir tentang keuntungan mulut tololnya, Sungmin jadi mengetahui siapa dirinya dan lebih memerhatikan calon keponakannya.

"Minnie, eomma tidak tahu putramu akan suka atau tidak suka dengan makanan manusia seperti yang biasa kau makan, tapi setidaknya kau harus makan sesuatu."

Ryeowook menganggukkan kepalanya walau pikiran polosnya bertanya-tanya dalam hati, untuk apa makan jika tidak makan sekalipun malaikat dan iblis tidak akan mati seperti manusia? Hm, mungkin ini menyangkut kebiasaan mereka yang menyukai makanan manusia.

"Mungkin hyung mau makanan sampah?"

Eunhyuk langsung melayangkan tatapan sinisnya pada sang adik.

"A~ maksudku junk food. Seperti burger, hot dog, dan apapun yang ada di Mc Donald. Walaupun manusia banyak mengatakan tidak ada makanan sehat di sana, aku suka sekali makan di sana," jelas Ryeowook dengan nada tak penting.

"Memangnya siapa yang bertanya padamu?" ejek Eunhyuk sambil memicingkan alisnya.

Ryeowook langsung memajukan bibirnya.

"Aku hanya menawarkan hyung. Kalau Sungmin hyung mau, aku bisa pergi ke sana untuk membelikan sesuatu-"

"Ya, aku tahu maksudmu. Membelikan satu porsi untuk Sungmin hyung dan 3 porsi untukmu sendiri. Aku bisa membaca semua yang ada di kepalamu, adikku."

Leeteuk hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan manis putra Ilaniel—Siwon dan Nathanael—Kibum. Sementara Kibum yang sudah terbiasa dengan perdebatan dua putra cerewet nan manisnya itu hanya bisa menghela napas.

"Jangan membuat keributan di sini. Hyung kalian butuh istirahat."

Eunhyuk dan Ryeowook saling melirik kemudian kompak mengatupkan bibirnya setelah mendengar suara Kibum.

"Tidak apa-apa. Biar mereka menemani Sungmin, Kibum-ah bisa kita bicara?"

Kibum menatap Leeteuk kemudian menganggukkan kepalanya. Dua malaikat yang penuh cinta kasih itu melangkah beriringan keluar kamar Sungmin sementara Ryeowook dan Eunhyuk hanya bisa saling melemparkan tatapan kemudian mengedikkan bahu.

"Apa ini sudah lewat dari 8 hari?" tanya Leeteuk pelan. Mereka tengah menuruni tangga sambil memulai obrolan kecil yang sangat penting.

"Aku yakin sudah jauh dari 8 hari hyung."

"Mungkin kita harus menunggu untuk bulan kedelapan."

Kibum hanya menganggukkan kepalanya, tapi pertanyaan penting itu tak mau hilang dari kepalanya.

"Hyung, mungkin angel seperti kita melahirkan keturunan di waktu kedelapan, entah itu delapan jam sejak dinyatakan hamil, delapan hari, delapan bulan, delapan tahun, atau delapan apapun. Tapi, Sungmin tak sepenuhnya sama dengan kita."

Leeteuk terdiam di undakan akhir tangga, ucapan Kibum ada benarnya juga. Mungkin Eunhyuk, Ryeowook, Sungmin, dan keturunan angel lainnya lahir dari pasangan angel dan angel. Tapi Sungmin? Sungmin memang angel namun Kyuhyun berbeda dengan mereka.

"Aku melupakan ini~" gumam Leeteuk sambil menatap gelisah apapun yang ada di hadapannya.

"Aku rasa sebaiknya kita menunggu saja hyung. Jangan-jangan dia menghabiskan sembilan bulan untuk hamil."

Leeteuk tak bisa menahan diri untuk tertawa.

"Ya kita memang terlalu sering bergaul dengan manusia, tapi aku tak berharap Sungmin hamil sembilan bulan dengan perut membuncit seperti manusia. Manusia bisa heboh membicarakan pria hamil. Cukup Dokter di rumah sakit itu yang merasa ini sebuah penemuan hebat."

Kibum tersenyum kikuk.

"Benar juga."

Leeteuk hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian melanjutkan langkahnya, menduduki sofa empuk mansion Choi diikuti Kibum.

"Ke mana Siwon?"

"Sibuk dengan urusan manusianya, hyung."

"Hm. Ya, menjadi Presdir memang sangat menyenangkan. Kangin juga sibuk seperti itu dulu."

"Emm hyung?"

"Ya?"

"Menurut hyung putra Sungmin akan lahir dari mana?" tanya Kibum membuat Leeteuk kembali mengingat satu hal penting.

"Benar juga. Sebenarnya aku butuh menanyakan banyak hal pada Heechul, tapi akan terlihat sangat egois jika aku sibuk menyanyakan hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan Sungmin sementara Heechul bahkan sudah mengorbankan satu putranya untuk putraku."

Keduanya terdiam, Kibum membenarkan dalam hati sementara Leeteuk memikirkan ucapan Kibum. Matanya meredup sedih memikirkan fakta yang mungkin sedang terjadi. Take it or leave it. Pilihan memang selalu seperti itu.

"Hyung, aku tahu mungkin kedengarannya apa yang kita pikirkan sedikit egois tapi aku rasa Ratu Amy—Heechul akan mengerti dengan sikap hyung. Biar bagaimanapun Sungmin emm hamil keturunan mereka."

Secercah binar bahagia terlukis di mata sang ratu klan angel. Ucapan Kibum seratus persen benar. Ini bukan hanya menyangkut keselamatan Sungmin tetapi juga calon penerus dari dua belah pihak.

"Kau benar Kibum-ah. Aku akan bicara dengan Kangin mengenai hal ini. Ah, apa kau bisa menebak dari mana nanti pura Sungmin lahir?"

Pose berpikir terlukis di wajah Kibum.

"Aku harap sama seperti Hyukkie dan Wookkie, dari punggung dan itu tidak terlalu menyakitkan."

Leeteuk tersenyum kecil.

"Kau benar juga, Sungmin lahir dari tanganku dan aku harus jujur jika itu rasanya memang menyakitkan."

"Semua putra mahkota memang begitu 'kan hyung? Lahir dari tangan, saat tangan di bawah menggambarkan mereka yang rendah hati, saat tangan di atas menggambarkan betapa murah hati dan bijakasananya mereka."

Senyum tulus terukir bersamaan di bibir keduanya.

"Kau memiliki dua putra yang lahir dari punggungmu, itu berarti kau memiliki putra yang akan selalu berada di belakang orang tuanya. Putra yang patuh dan manis, seperti Hyukkie dan Wokkie," ucap Leeteuk membuat dua angel yang penuh dengan kehangatan cinta kasih itu mengurai tawa pelan.

.

.

.

Menjadi anak baik selama seminggu terakhir adalah hal yang sudah Kyuhyun lalui. Kali ini sang pangeran kedua klan devil—Beelzebub alias Cho Kyuhyun kembali dengan salah satu sifat iblisnya, keras dan tidak menerima penolakan.

"Jangan membuatku seperti tawanan, aku juga ingin menemui Sungmin!"

"Appamu belum kembali. Eomma bisa saja membiarkanmu pergi tapi tidak tanpa persetujuan appamu. Eomma juga tahu Sungmin pasti sedih memikirkanmu tapi tunggu appamu sedikit lagi."

Kyuhyun mengerang tak suka.

"Sejak seminggu yang lalu eomma sudah beralasan untuk menunggu yang sedikit lagi dan sekarang aku tidak ingin menunggu!" putus Kyuhyun membuat Heechul memutar bola matanya.

"Beel! Aku memerintahmu sebagai ratu, jadi kau jangan membantahku!"

Mata Kyuhyun langsung menggelap dengan emosi. Memerintah sebagai ratu apanya? Mana ada ratu yang mengurung pasukannya di dalam ruangan putra mahkota.

"Aku tidak mau. Dan jika eomma murka dan kembali ingin menyiksaku, lakukan saja. Aku tidak peduli dengan semua itu," ujar Kyuhyun dengan nada dinginnya. Sepasang sayap hitam besar yang tumbuh di punggung Kyuhyun mengartikan jika pangeran kedua klan devil itu tidak lagi peduli jika Heechul benar-benar murka padanya.

Sang ratu hanya bisa memejamkan matanya, membiarkan ketidaksopanan Kyuhyun yang pergi keluar ruangannya dengan terbang di atas kepalanya. Perlahan tangannya terkepal, berusaha meredam emosi dengan kepalan tangan dan pejaman matanya.

"Anak itu. Sejak dulu dia memang tak pernah bisa di atur!" geram Heechul kemudian berlalu keluar kamar Kyuhyun dengan menghentak sebelah sayap hitam besarnya.

.

~(*o*)~

.

"Sungmin hyung, tidak apa-apa 'kan kami memanggil hyung begitu?" tanya Ryeowook kembali menanyakan sesuatu yang menurut Eunhyuk tidak penting. Sekalipun Ryeowook ingin bertanya itu, seharusnya si Blue Angel bungsu ini menanyakan hal itu sejak seminggu yang lalu. Tepat saat Sungmin menyadari instingnya, bukan menanyakan hal ini setelah ia memanggil Sungmin tanpa embel-embel pangeran selama satu minggu penuh.

"Tidak apa-apa," sahut Sungmin seadanya.

"Aku ingin minta maaf hyung, seharusnya aku tak bicara tentang kehamilanmu, dengan begitu mungkin Kyuhyun tidak akan menghilang seperti ini," ujar Ryeowook penuh sesal.

Ya, mungkin Ryeowook memang ikut andil dalam semuanya tapi hal itu mungkin bagian dari alur permainan yang tengah dibuat Deity.

"Aku memang berpikir seperti itu, jika instingku harus dibayar dengan eksistensi Kyuhyun, aku memilih tak menyadari instingku daripada melihatnya pergi. Tapi kau tidak perlu merasa seperti itu, aku tidak pernah menyalahkanmu."

Eunhyuk memandang Ryeowook yang terlihat menundukkan kepalanya, tampak benar-benar sedih. Pertanyaan aneh yang seminggu terakhir menggelayuti kepala Eunhyuk langsung terlontar.

"Hyung, apa hyung yakin Kyuhyun benar-benar sudah pergi?"

Sang pangeran klan angel mengangkat kepalanya, mengalihkan perhatiannya pada Eunhyuk.

"Maksudmu?"

"Aku yakin adikku yang polos dan sedikit bodoh ini-"

"Ya hyung!" protes Ryeowook.

"Diam Wookkie! Aku belum selesai," sahut Eunhyuk langsung melayangkan tatapan mengancam pada adiknya.

"Aku tidak yakin Ryeowook menyadari ini mengingat dia tidak pernah peka dengan ekspresi kekasihnya sendiri."

Kening Ryeowook dan Sungmin menunjukkan kerutan samar membuat Eunhyuk menghela napas pelan.

"Yesung hyung memang lebih banyak diam akhir-akhir, tapi aku tidak melihat kesedihan sedikitpun di matanya. Entah kenapa aku berpikir jika Yesung hyung tengah menyembunyikan sesuatu yang penting dan aku berpikir jika yang tengah ia sembunyikan adalah hal menyangkut Kyuhyun."

Tampang berpikir serius imitasi Sherlock Holmes langsung terlukis di wajah Ryeowook sementara Sungmin masih bertahan dengan sedikit kerutan samar di keningnya. Namun, terlihat jelas jika pemuda manis itu tengah berpikir serius.

"Jadi, maksudmu Kyuhyun belum pergi?" tebak Sungmin dengan nada bertanya.

"Mungkin hyung. Appa menceritakan semuanya padaku dan aku menghubungkan ucapannya dengan segala hal yang sudah terjadi."

"Eoh? Maksud hyung?"

"Maksudku, Arbiter mengatakan jika semua yang terjadi pada Kyuhyun dan Sungmin hyung memang sudah ditakdirkan seperti itu dan appa mengatakan padaku ini seperti permainan. Tidak mungkin permainannya berakhir seaneh ini. Kalaupun ini berhubungan dengan kalah menang, aku tidak bisa melihat siapa yang kalah dan siapa yang menang. Kyuhyun pergi begitu saja dan kau terpukul dengan hal itu, bagian mananya yang menunjukkan kesenangan untuk menang dan kesedihan untu kalah?" jelas Eunhyuk.

"Hyung kau benar juga. Sebaiknya kita bicarakan ini pada appa dan eomma," ucap Ryeowook.

Eunhyuk langsung mengibaskan lengannya.

"Sebaiknya jangan dulu. Salah-salah aku dicap sok tahu."

"Tapi.." Sungmin mendongakkan kepalanya, menatap Eunhyuk dan Ryeowook dengan pandangan penuh harap. Air bening tampak mulai menumpuki pelupuk mata Sungmin saat lengan pangeran klan angel itu merasakan gerak bagai pusaran air di dalam perutnya.

"Aku harap memang begitu. Kyuhyun masih kami."

"Aku memang bersamamu, my prince."

Tubuh Sungmin beringsut untuk duduk di atas ranjang. Kepalanya langsung bergerak cepat, menoleh ke setiap sudut ruangan berusaha menemukan sosok kekasihnya. Sedangkan Eunhyuk dan Ryeowook terlihat membulatkan mata dan mulut mereka. Ya, itu memang suara Kyuhyun.

"Kyunnie?"

"Ya sayang, ini aku."

Melihat Sungmin sibuk mencari-cari Kyuhyun, Eunhyuk dan Ryeowok juga ikut terpancing untuk melongokkan kepalanya.

"Aku benar 'kan? Kyuhyun, benar-benar kau ya?" kali ini Eunhyuk yang bertanya.

"Menurutmu? Apa suaraku menyerupai suara Donghae?"

Decihan pelan refleks terlontar dari bibir Eunhyuk. Sama darimananya? Jelas-jelas suara kekasihnya itu lebih mirip orang flu berat dan lagi lidahnya seperti terbelit sesuatu saat melafalkan huruf L dan R. Dikatakan cadel tidak mau, dasar Donghae yang aneh.

"Sepertinya benar-benar Pangeran Beelzebub, memangnya siapa lagi yang memiliki cara bicara menyebalkan selain dia," bisik Ryeowook pada Eunhyuk. Namja bergummy smile itu langsung mengangguk setuju.

"Aku mendengarmu Haniel!" gertak Kyuhyun membuat Ryeowook tersenyum kikuk.

"Kau di mana, Kyunnie?" tanya Sungmin dengan nada sedih.

SRET!

"Di sini."

Sungmin nyaris memekik kaget sedangkan Eunhyuk dan Ryeowook langsung memundurkan tubuhnya. Mata dua Blue Angel itu menatap kagum akan pemandangan di depannya. Sungmin terlihat sangat kecil dan bersinar cantik di tengah tangkupan dua sayap hitam besar milik Kyuhyun.

"Kyunnie~" panggil Sungmin tak percaya. Lengannya terulur, memastikan jika wajah yang ada di hadapannya adalah wajah sosok yang begitu ia cintai. Entah itu Beelzebub, Cho Kyuhyun, maupun Kim Kyuhyun, yang terpenting adalah wajah kekasihnya.

"Hai baby Ming."

Senyum tipis mulai terukir di bibir Sungmin walau matanya sudah mengabur dengan tumpukan air bening. Memang Kyuhyunnya. Cho Kyuhyun. Senyum Sungmin melebar, matanya mengerjab membuat tumpukan air di pelupuk matanya bergerak dengan cantik menuruni pipi putih Sungmin.

"Kyu!" sebut Sungmin dengan keras. Kyuhyun hanya tertawa ringan kemudian mengulurkan lengannya untuk memeluk tubuh Sungmin seolah memberikan sandaran agar Sungmin bisa melegakan perasaannya dengan menangis.

"Aku pikir kau meninggalkanku lagi."

"Aku pikir aku hanya sendiri."

"Maaf sudah membuatmu menanggung semuanya, Kyunnie."

Kalimat itulah yang Sungmin lafalkan berulang kali walaupun Kyuhyun sudah mengusap punggungnya, merapatkan dua sayap besarnya untuk membungkus tubuh Sungmin seolah menunjukkan jika semua yang terjadi bukan salah kekasih manisnya.

"Hei~ sudahlah. Yang terpenting sekarang kita sudah bersama."

Eunhyuk dan Ryeowook tak bisa menutupi rona haru di wajah mereka.

Akhirnya~

Mungkin kata itulah yang melintas dipikiran dua sosok Choi itu. Akhirnya mereka bersama. Dengan begini, mereka bisa menghadapi apapun yang terjadi setelah ini. Bukan hanya Kyuhyun sendiri ataupun Sungmin sendiri melainkan menghadapinya bersama.

Dua sosok lain yang tengah mengintip lewat celah kamar Sungmin itu menampakkan ekspresi tak percaya.

"Hyung, Kyuhyun tidak hilang," ucap Kibum sambil mengerjabkan matanya, memastikan jika ia tidak salah lihat.

"Kibum-ah, aku tidak percaya ini. Apa yang terjadi? Bukankah Arbiter mengatakan~"

"Hyung memang harus menanyakan semua ini pada Ratu Amy."

"Ya, kau benar. Aku akan pergi sekarang."

Kibum menganggukkkan kepalanya, cahaya putih mulai berpendar diiringi desauan angin menandakan Leeteuk telah menghilang dari hadapannya. Pasangan Choi Siwon itu mengukir senyum lebar.

Akhirnya~

Kata itu jugalah yang melintas di kepalanya.

"Deity yang penuh kasih. Terimakasih Tuhan," ucap Kibum kemudian melangkahkan kakinya ke lantai dasar. Tidak ada salahnya menghubungi Siwon untuk mengabarkan hal ini.

"Kami akan keluar, nikmati waktu kalian," ucap Eunhyuk sambil menyeret Ryeowook yang masih tak bisa melepas pandangannya dari sayap besar Kyuhyun—yang menurutnya sangat keren.

"Hyung, sayap Kyuhyun keren sekali."

"Kekasihmu juga putra mahkota. Jadi, bisakah kau bersikap biasa saja karena bukan hanya Kyuhyun yang memiliki sayap sebagus itu, Yesung hyung juga punya Ryeowok-ah!" jelas Eunhyuk dengan jengkel.

"Benarkah hyung? Waaahhh, aku jadi ingin berduaan dengan Yesung hyung seperti yang Kyuhyun dan Sungmin hyung lakukan. Aku ke kamar dulu ya hyung!" seru Ryeowook sambil berjalan cepat meninggalkan Eunhyuk sendirian di depan pintu kamar Sungmin.

Helaan napas terdengar sangat pelan dari bibir Eunhyuk, dengan langkah gontai sosok berkulit putih porselen itu melangkah sambil menundukkan kepala menuju kamarnya.

"Dan Lee Donghae. Aku tidak mengerti siapa kau. Kau memanggil sosok itu appa, tapi saat kutanya kau hanya tersenyum sok tampan. Kenapa sulit sekali mengakui siapa dirimu?" gumam Eunhyuk sambil menendang gusar pintu kamarnya.

"LEE DONGHAE KAU MENYEBALKAN!"

.

~(*o*)~

.

Mereka tengah berbaring, melepas kerinduan dengan saling berpelukan. Kyuhyun tak bisa melenyapkan senyumnya karena sejak tadi Sungmin tak mengerjabkan mata sedikitpun. Menatap Kyuhyun seolah iblis Cho itu adalah pahatan sempurna dan termahal di dunia.

"Aku masih tampan kan?"

Sungmin menganggukkan kepalanya dengan jujur. Kyuhyunnya memang tampan dan tak pernah berubah sedikitpun sejak mereka saling mengenal. Ya~ lagipula akan berubah dari mananya? Raga makhluk seperti mereka akan berhenti tumbuh pada usia manusia ke 25 tahun dan mereka telah melewati masa itu walaupun wajah mereka tetap terlihat seperti remaja 17 tahun.

"Kyunnie."

"Hng?"

"Mereka mengatakan padaku jika kau sudah pergi. Aku tak percaya itu tapi mereka meyakinkanku. Kau pergi ke mana?"

"Tidak kemana-mana, sayang. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Yang kuingat terakhir kali adalah eomma datang dengan marah, menyiksaku karena kesalahan yang tidak kuketahui, kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku baru sadar lagi setelah Arbiter membawaku ke kastil dan mereka apalagi eomma terlihat kaget sekali saat melihatku, dan ya setelah itu mereka mengatakan padaku bahwa kau sudah menyadari semuanya" jelas Kyuhyun.

Sungmin mengangguk-angukkan kepalanya.

"Emm, Kyunnie."

"Hm?"

"Aku minta maaf padamu."

"Untuk?"

"Untuk semuanya."

Kyuhyun mengangguk.

"Kau tidak bertanya semuanya untuk apa?" tanya Sungmin sambil menatap onyx teduh Kyuhyun.

"Tidak. Karena sekalipun kau membunuhku dengan sengaja, aku tak menganggapmu bersalah. Kau tau kenapa?"

Kaca bening kembali menghiasi mata rubah Sungmin. Begitu terharu dengan kalimat Kyuhyun.

"Karena aku mencintaimu," jawab Sungmin dengan suara sedihnya.

Kyuhyun terkekeh kemudian menempelkan keningnya di kening Sungmin.

"Karena Kyuhyun selalu mencintai Sungmin," ralat Kyuhyun. Sungmin memejamkan matanya, menyentuhkan ujung hidung lancipnya dengan hidung mancung Kyuhyun.

"Kau bodoh," ucap Sungmin membuat Kyuhyun membuka matanya menatap kelopak mata Sungmin yang masih menyembunyikan magical eye milik sang kekasih.

"Bodoh?"

"Kau bodoh sejak dulu Kyunnie."

"Hm?"

"Kau bodoh karena terlalu mencintaiku. Kau bodoh karena kau bertahan dengan manusia kekanakan seperti Lee Sungmin dan manusia menyebalkan seperti Choi Sungmin. Kau bodoh karena kau rela mempertaruhkan eksistensimu hanya untuk Pangeran Angel yang bahkan tak mengetahui siapa Pangeran Beelzebub. Kau bodoh-"

"Ya aku memang bodoh dan aku tak peduli semua itu karena aku melakukan itu untukmu. Untuk kita. Untukku, untukmu, dan untuk-" Kyuhyun sedikit melirik perut Sungmin yang masih dilapisi kaos rumahannya. Setelahnya mata iblis tampan itu kembali terarah pada Sungmin, lengannya terulur mengusap pipi chubby Sungmin membuat angel manis itu membuka matanya.

"Apa 'dia' masih di sana?"

Sungmin mengerti maksud Kyuhyun. Jemari lembutnya terulur meraih jemari Kyuhyun kemudian meletakkan telapak tangannya di atas perutnya sendiri.

"Kau ayahnya, seharusnya kau tahu dia masih di sana atau tidak."

Telapak tangan Kyuhyun bergerak dengan hati-hati, melakukan gerakan memutar seolah memancing agar gerakan bak pusaran air itu muncul di bawah telapak tangannya.

DUG!

Kyuhyun tersentak. Tangannya sedikit terangkat dari perut Sungmin karena terkejut. Sementara Sungmin hanya bisa terkekeh pelan kemudian menarik wajahnya menjauhi wajah Kyuhyun.

"A-apa itu?" tanya Kyuhyun sambil menarik tangannya untuk keluar dari kaos Sungmin.

"Awalnya aku juga tidak tahu apa itu. Setiap aku menyentuhnya, dia akan bergerak seperti itu. Mungkin itu salah satu caranya untuk merespon sentuhan orang tuanya."

Kyuhyun sedikit mengernyit tak percaya. Tubuhnya bangkit diikuti Sungmin yang juga memilih duduk bersandar pada headboard kasurnya.

"Aku ingin melihatnya, bolehkah?" tanya Kyuhyun, matanya terlihat menampakkan sinar penuh tuntutan membuat Sungmin terkekeh geli, menyadari jika sang kekasih enggan menerima penolakan.

"Tentu," ucap Sungmin sambil mengangkat kaosnya menunjukkan baby belly imutnya. Kyuhyun tahu perut Sungmin memang selucu perut bayi tapi ini bukan saatnya untuk mengagumi atau berpikir mesum tentang perut Sungmin. Saat ini ia lebih fokus untuk melihat langsung perut Sungmin—lebih tepatnya jika dikatakan ingin mengetahui kemunculan sosok di dalam perut Sungmin.

Kyuhyun tertegun, matanya sedikit mengedip tak percaya saat melihat sesuatu yang menyerupai tungkai terlihat samar di permukaan perut Sungmin. Raga Sungmin bukan hologram, tidak tembus pandang tapi Kyuhyun melihat itu perut Sungmin seperti benda transparan.

"Ming, itu seperti tangannya," ucap Kyuhyun saat melihat sesuatu yang menyerupai tangan muncul ke permukaan perut Sungmin, terlihat bergerak mencari-cari tautan. Tanpa sadar lengan Kyuhyun terulur, telapak tangannya ia tempelkan di atas perut Sungmin, tepatnya di atas tangan kecil itu.

DUG!

Senyum ke-bapakan sontak terlukis di bibir Kyuhyun. Devil yang selalu merutuk Deity itu refleks melukiskan ekspresi bahagia tak terkira.

"Ming, dia mendorong tanganku," ucapnya tak percaya.

"Sebenarnya aku ingin sekali menempelkan wajahku di sana, tapi kau tahu 'kan aku tak bisa melakukan itu."

"Biar aku saja," ucap Kyuhyun dengan semangat.

Sedikit tak sabaran ia mencium kecil perut Sungmin kemudian menempelkan pipinya di sana.

DUG!

Calon orang tua itu terkekeh bersamaan. Kyuhyun mengangkat kepalanya kemudian menatap perut Sungmin, matanya sedikit memicing saat melihat sesuatu yang menyerupai telapak kaki terlihat di perut Sungmin.

"Hei bayi kecil, kau menendang wajahku tadi ya? Tidak sopan sekali kau ini!" sungut Kyuhyun sambil menunjuk-nunjuk perut Sungmin.

"Kyu, jangan memarahinya nanti dia takut padamu," protes Sungmin.

Kyuhyun ingin membantah namun niatnya urung dilakukan saat matanya kembali melihat telapak tangan kecil itu berusaha mencari-cari tautannya.

'Dia pasti sendiri di dalam sana,' inner Kyuhyun bicara, mengulum senyum tulus melihat bagaimana usaha sosok yang ia panggil bayi kecil itu untuk menemukan sentuhan.

Pikiran kekanakan tiba-tiba melintas di kepala Kyuhyun. Namja usil itu meletakkan telapak tangannya di sekitar perut Sungmin dan telapak tangan kecil di dalam perut Sungmin itu akan bergerak untuk berusaha mendorong telapak tangan Kyuhyun.

Sungmin terkekeh saat Kyuhyun melakukan itu berkali-kali seolah tengah bermain dengan putra mereka.

"Haha, kau tidak bisa mendorongku. Ayo bayi kecil, aku di sini," ucap Kyuhyun sambil memindah-mindahkan tangannya.

"Kyu, jangan begitu nanti dia kesal karena tidak menemukan tanganmu."

"Biar saja, dia harus jadi anak yang tangguh. Bermain seperti ini saja tidak menang, apalagi battle game denganku nantinya."

Rolling eyespun dilakukan Sungmin.

"Kau masih menyukai game?"

"Ya, permainan manusia yang satu itu memang menyenangkan. Aku masih dengan Starcraft, Ming."

Sungmin langsung mengerucutkan bibirnya.

"Sejak dulu aku jengkel dengan kegiatanmu yang satu itu," protesnya. Kyuhyun terkekeh pelan. Kemudian menundukkan kepalanya untuk menempatkan satu ciuman kecil di perut Sungmin.

"Selamat tidur bayi kecil, cepat besar ya," ucap Kyuhyun kemudian menarik turun kaos Sungmin.

"Kyu, yang namanya bayi tidak langsung sebesar kita."

"Aku tahu. Maksudku dia harus menjadi bayi kecil yang tangguh. Cha~ kau akan menjadi eomma yang tangguh karena itu kau harus istirahat."

Tatapan protes Sungmin langsung tertuju pada Kyuhyun.

"Kau menyuruhku istirahat dan kau akan menghilang saat aku bangun nanti," rengutnya.

"Hehe. Tidak akan begitu lagi Ming, aku sudah bebas menemuimu. Ah, bahkan aku belum menyapa yang lain."

"Memang seharusnya begitu Kyunnie. Yang harus kau temui pertama kali itu aku!" sahut Sungmin dengan posesif.

"Dan aku sudah melakukan itu, my prince. Jadi, hilangkan kerutan jelek itu dari kening cantikmu," balas Kyuhyun sambil menyentil lembut kerutan di dahi Sungmin.

"Kau sih, seperti menyesal karena menemuiku lebih dulu. Memangnya siapa yang kau maksud 'yang lain'? Aglaope—Yoona atau Peisione—Krystal?"

Kyuhyun yang menangkap nada cemburu dari kalimat Sungmin langsung menyunggingkan seringaiannya.

"Oh, jadi kau memikirkan mereka. Apa jangan-jangan kau sedang memikirkan guru spesialmu?" ejek Kyuhyun sambil menekankan kata guru spesialmu. Sungmin kembali merengut sebal kemudian memukul bahu Kyuhyun.

"A-aku 'kan tidak tahu apa-apa saat itu dan dia sangat baik. Jadi, kupikir dia guru yang sangat baik."

Kyuhyun mengangguk maklum.

"Hmm, kau memang begitu. Tidak pernah curiga dengan orang lain, sedikit bodoh sih tapi karena itulah aku memilihmu. Kau tidak pernah berpikir buruk tentang siapapun dan itu menjadi kebanggan tersendiri untukku karena kau telah menjadi pasanganku."

Senyum tipis terlukis dengan malu di bibir Sungmin. Ya, dia juga bangga karena telah menjadi pasangan Kyuhyun. Mereka sudah terikat. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka. Kutukan itu sudah pergi. Kyuhyun sudah kembali padanya dan Sungmin sudah menyadari siapa dirinya.

Akhir yang sangat indah, tinggal menunggu bayi kecil mereka.

Membayangkan hal itu membuat Sungmin merasakan kehangatan di dalam dadanya.

"Bahagia hm?" bisik Kyuhyun yang sudah kembali mengeratkan rengkuhannya di tubuh kekasihnya.

"Sangat. Terimakasih untuk semuanya, Beelzebub."

Kyuhyun terkekeh kemudian mencium gemas hidung Sungmin.

"Apapun untukmu, my Angel."

Baik Kyuhyun maupun Sungmin tertawa pelan, merasa sedikit lucu saat mereka menyebut nama non human pasangannya. Ya, itu memang nama mereka 'kan? Tapi Kyuhyun selalu memiki cara untuk membuat panggilan yang bagus dan manis untuk dirinya.

"Kyunnie, apa perutku akan buncit seperti manusia hamil?"

"Aku tidak tahu itu sayang. Sebaiknya kau bertanya pada eomma."

"Aku bertanya menurutmu, Kyunnie?"

"Menurutku tentu tidak, Ming."

"Kenapa?"

Kyuhyun menumpukan dagunya di atas kepala Sungmin, lengannya kembali terulur menyentuh perut Sungmin dan kembali merasakan respon lucu bayi kecilnya.

"Sekarang aku bertanya padamu, apakah ada bayi manusia yang langsung memiliki bentuk sesempurna bayi kecil kita sedangkan usia kehamilanmu masih cukup baru?"

"Hmm-" Sungmin terlihat berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya membuat dagu Kyuhyun berkali-kali terantuk mengenai pucuk kepalanya.

"Benar juga."

"Memang benar Ming, kau tidak lupa kan kalau kekasihmu ini sangat jenius."

"Dan tampan."

"Ya iblis memang diciptakan tampan untuk menggoda manusia tapi hebatnya aku justru berhasil menggoda malaikat paling cantik di Angel Palace."

"Kyunnie~" rengek Sungmin dengan suara malu. Ck, Beezebub yang kekanakan itu pandai sekali kalau ditugaskan untuk menggombalinya.

"Hihi. Aku rindu sekali denganmu yang manja seperti ini."

"Tapi aku merepotkan Kyunnie."

"Aku senang direpotkan pengeran merepotkan sepertimu."

Kali ini Sungmin mencubit kesal pinggang Kyuhyun.

"Jangan menggodaku lagi."

"Aku serius Ming."

"Iya aku tahu, tapi jangan menggodaku."

"Hahh, aku tidak menggodamu sayang."

"Apanya yang tidak menggoda, jelas-jelas kau-"

Pasangan iblis dan malaikat itu masih setia melakukan perdebatan manis. Perdebatan manis yang akan menjadi hiasan indah untuk mereka ke depannya. Ya mereka, Beelzebub, Angel, dan bayi kecil mereka.

Sangat bagus untuk akhir yang indah.

Tapi~

"Kenapa mereka berpikir ini sudah berakhir. Ini bahkan masih setengah untuk menuju akhir."

Siapa yang muncul untuk mengacaukan situasi jika bukan sang pembawa berita menyebalkan!

TBC

Hai hai hai~

Ah, pertama mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk abang ChoKyu. Wish you all the best buat semua dalam hidupmu ya, bang :D *iya makasih ya, bocah* #oke sama-sama, bang# -_-

Selanjutnya cuap-cuap. Sesi paling menyenangkan buat saya tapi mungkin paling menyebalkan buat chingudeul. Gyahahahahahah :D

Oke, buat yang belum nangkep clue yang saya sebutkan tentang siapa Donghae, baca lagi chapter 9 soalnya yang lain udah pada pasang emot gini :-o sambil bilang "Ooohhh, jadi Donghae itu ya~". Iya Donghae ikan *duagh* dibaca lagi ya chingu #kiss

Kyuhyunnya mati? Gak, saya gak sekejam itu, tapi sempat berpikir gitu sih #digaplok Enggak, enggak, serius saya gak ada pikiran begitu mengingat saya ini adalah orang yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung uang bapak ibuk saya, dan istrinya Lee Sungjin yang paling penting *lagi-lagi Sungjin* Maklum belum move on -_-

Ah~ perjuangan untuk semester 3 berakhir dengan IP: 3, 77. Thanks God! Jatuh bangun berjuang biar dapat nilai bagus dan akhirnya benar-benar memuaskan. Terimakasih Ya Allah :D Dan saya juga mau berterimakasih sama chingudeul yang selalu support saya. Terimakasih sudah mengerti kesibukan saya. Terimakasih sudah dukung saya sejauh ini. Terimakasih banget pokoknyaaaaaa! #hugtight

Okelah, tulis review kalian untuk chapter ini.

Mian for typos!

NEXT!

RCL please~

Gomawo udah baca \(*o*)/