But, I Still Want You
Genre: Fantasy, Drama, Romance, and Tragedy
Pair : Kim Namjoon and Kim Seokjin, slight Lee Jaehwan and Kim Seokjin
Rate : M
Warning! : Characters Death
Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.
Chapter 10 (Truth)
Detak jantung dan rasa hangat menyambut Seokjin saat ia membuka kedua matanya pagi itu, butuh waktu baginya untuk menyadari bahwa ia terbangun dalam rengkuhan seseorang.
Namjoon terlelap disisinya dengan sebelah tangan yang melingkar di punggung Seokjin yang sedang menyandarkan kepalanya di dada werewolf itu. Seokjin sedikit mendongak untuk menatap wajah damai Namjoon, ia tidak ingat kalau sosok yang tengah memeluknya itu ikut terlelap diatas ranjangnya, namun terbangun disisi orang yang dicintai adalah sesuatu yang baru dan hal ini cukup menyenangkan bagi Seokjin.
Dengan senyuman yang tersungging dibibirnya, Seokjin mendekatkan wajahnya, dan mengecup ujung bibir Namjoon, "Cium 'lah aku dengan benar, Kim Seokjin." Seokjin sedikit tersentak saat Namjoon berbisik dengan suara seraknya disela kecupan yang Seokjin berikan, wajah pucat Seokjin sontak memerah hingga ke telinga, "Maaf, aku membangunkanmu." Seokjin hendak menjauh, namun gerakannya tertahan oleh tangan besar yang meraih belakang kepalanya, rambut hitam Seokjin terurai disela-sela jemari Namjoon, dan tak lama setelah itu bibir mereka kembali bertaut.
Namjoon menyeringai disela ciuman mereka, ia menyesap rasa manis di bibir Seokjin dengan lembut namun juga bergairah, membuat manusia diatasnya kewalahan membalas lumatan yang Namjoon berikan.
"Hyung, Sandeul hyung sudahーeeww~ apa yang kalian lakukan?" Entah ini salah Jungkook yang masuk ke kamar Seokjin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, atau salah Namjoon yang tidak mengunci pintu semalam, atau salah Seokjin yang membangunkan Namjoon dengan kecupan manisnya yang diam-diam ia berikan hingga membuat werewolf itu tergoda? Yang pasti Jungkook telah melihat apa yang seharusnya tak ia lihat di pagi hari.
"Kalian kalau mau melakukan 'itu' jangan sekarang, kamiー" Jungkook hendak protes, namun dengan tiba-tiba Taehyung datang dari belakang untuk menutup matanya dan menyeretnya menjauhi ambang pintu kamar Seokjin seraya berucap, "Maaf, maaf, silahkan lanjutkan." Dan pintu kamar itu tertutup kembali.
Ciuman itu memang telah terlepas saat Jungkook datang, dan kini mereka berdua tertawa bersamaan. Seokjin membenamkan wajahnya di dada Namjoon, bahunya gemetar karena gelak tawa yang tak terbendung, dan Namjoon menjatuhkan kepalanya dibantal milik Seokjin, ia melepas satu helaan nafas berat sebelum ikut tertawa dengan manusia dalam rengkuhannya.
Seokjin kembali mendongak, "Namjoon-ah, Sandeul sudah berisap-siap dan aku harus mandi." Namjoon mendengus pelan, ia enggan melepaskan pelukannya, namun ia harus. Dengan gerakan malas, ia melepas rengkuhannya dan duduk bersandar di kepala ranjang Seokjin. Tindakannya membuat Seokjin gemas hingga ia tak tahan untuk memberi kecupan sekali lagi, namun kali ini ia berikan di kening Namjoon, "Aku akan kembali." Dan Namjoon tak bisa menahan senyumnya. "Kau harus kembali secepatnya padaku."
But, I Still Want You
Seokjin terbangun dari tidurnya dan wajahnya terlihat sayu saat ia memandang kosong gedung pencakar langit disekelilingnya, disebelahnya ada Sandeul, kedua matanya masih terkunci pada jalan raya Seoul yang lengang di siang hari. Mereka mengendarai mobil yang Jaehwan tinggalkan di depan rumah Seokjin malam itu, membuat Seokjin menghela nafas sedih tiap ia mengingatnya.
"Jinjin?" Seokjin menoleh saat Sandeul memanggil namanya, "Hm?" Ia masih bersandar pada kaca jendela, tak terasa mereka sudah memasuki sudut kota Seoul karena lelapnya ia tidur selama perjalanan.
"Kau sudah pamitan pada mereka?" Sandeul menoleh sebentar, menatap wajah sahabatnya yang terlihat masih lelah oleh kantuk "Hu-um~" Seokjin mengangguk seraya menyugingkan senyum tipis, ia ingat wajah muram Jungkook yang seakan tidak ingin membiarkan Seokjin pergi.
"Berapa lama kau akan menetap di Seoul?" Sandeul menginjak pedal rem saat lampu merah menyala, ia menoleh ke belakang, melihat tas yang Seokjin bawa tergeletak begitu saja di kursi penumpang, "Bawaanmu hanya sedikit."
"Aku tidak tahu, tapi aku pasti akan kembali." Sandeul mengalihkan pandangannya pada Seokjin, ia memasang gigi dan kembali menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau.
"Tentu saja kau akan kembali kesana, disana 'kan ada Namjoon." Sandeul tertawa pelan saat ia berhasil menggoda Seokjin, melihat semburat pink cerah di pipi sahabatnya membuat Sandeul makin gemas, "Tidak hanya Namjoon saja. Keluargamu, Jungkook, Taehyung, Jimin, Yoongi dan Hoseok juga disana, kalian sudah seperti keluargaku juga." Sandeul terkekeh kecil seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, "Aku mengerti kenapa kau sangat menyukai mereka."
Seokjin menanggapi ucapan Sandeul dengan senyuman, "Mereka sudah seperti adik-adikku sendiri." Senyuman Seokjin menular pada sahabat disampingnya, "Ya, dan yang bernama Jungkook itu sangat mirip denganmu?"
"Huh? Mirip darimana?"
"Aku tak tahu, tapi fisik kalian mirip." Sandeul tergelak pelan, pandangannya masih terkunci pada jalan namun ia tahu sahabatnya tengah menatapnya dengan heran. "Taehyung dan Hoseok juga pernah berkata begitu." Telunjuk Sandeul mengetuk-ngetuk pelan setir dalam genggamannya, ia menyeringai lebar, "Benar kan~" Seokjin menyendikkan bahunya, ia berpegangan pada seatbelt yang melingari dadanya, "Kalian terlihat seperti anak kembar, padahal Jungkook lebih muda 5 tahun darimu." Gumam Sandeul, dan Seokjin menanggapinya dengan senyum yang lebar, "Itu berarti aku memang babyface." Ucapnya dengan percaya diri.
"Bagaimana dengan Namjoon? Apa yang sudah kalian lakukan semalam?" Pertanyaan Sandeul terdengar ambigu, Seokjin hanya berdeham pelan dan mengalihkan padangannya ke luar jendela, "Dia... hmm, memeluku, itu saja." Kali ini Sandeul yang menyeringai, ia menepuk paha sahabatnya sekali seraya berucap, "Ooh! Seokjinie malu-malu~ Oke, aku akan menanyakan detail-nya nanti saat kau kembali." Seokjin tahu, seringai jahil masih terpasang di wajah Sandeul membuat Seokjin mem-pout-kan bibirnya. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada kaca jendela dan menatap gedung pencakar tinggi di luar. Baru beberapa jam ia meninggalkan tempat itu dan ia sudah merindukan teman-temannya.
"Ah, Jin aku sangat ingin menyapa ayahmu, tapi aku harus kembali lagi ke asramaku siang ini, maaf ya." Sandeul kembali melirik sahabatnya itu dari ekor matanya, "Aku mengerti, bawa 'lah mobil ini bersamamu Sandeul-ah." Seokjin menoleh untuk menatapnya, senyum tipis ia sunggingkan sebelum pandangannya kembali pada gedung-gedung tinggi yang menjulang di luar, "Tidak Jinjin~ aku akan naik bis," Sandeul tahu, Seokjin hendak memprotesnya, ia buru-buru melanjutkan kalimatnya, "akan sangat berbahaya bagiku jika mengendarai mobil mewah ini tanpa surat-suratnya." Sandeul benar, jika ia ditilang, ia tidak bisa kembali ke kampusnya.
"Setelah ini kita kemana?" Mobil putih itu melaju memasuki kawasan perumahan elite, "Di perempatan belok kiri, rumahku ada diujung jalan." Seokjin senantiasa memberi instruksi pada Sandeul.
Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di depan bangunan modern bernuansa abu-abu milik keluarga Seokjin. Sandeul memarkirkan mobil itu tepat di dekat gerbang bercat hitam yang ditutup rapat, "Seokjin-ah, maafkan aku, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini." Seokjin mengangguk pelan, ia meraih tangan kiri Sandeul seraya berucap, "Terima kasih sudah mengantarku." Pemuda dihadapannya menggeleng, ia membalas genggaman tangan Seokjin dan sesekali menggoyangkannya, "Aku tidak keberatan sama sekali, lagi pula kampusku tidak begitu jauh dari sini." Seokjin mengangguk mengerti, "Baiklah."
"Uh, Seokjin." Sandeul memanggil, ia hendak membuka mulutnya kembali, namun akhirnya bibirnya terkatup rapat. Seokjin menaikkan kedua alisnya, "Ya?" Ia tahu, pemuda dihadapannya hendak mengatakan sesuatu, "Sampai jumpa lagi, jangan lupa untuk selalu menhubungiku." Sandeul tersenyum miring, ia menatap bangunan rumah Seokjin sekali lagi, ia yakin di dalam sana ayah Seokjin tengah menanti putranya. Sandeul tidak tahu pasti namun ia juga yakin, setelah apa yang dialami putranya, ayah Seokjin akan bicara tentang semuanya, tentang ibunya, Ken dan juga tentang rahasia mereka. Biarkan Seokjin mendengarnya sendiri dari sang ayah.
"Baiklah, sampai nanti."
Setelah menitipkan salam untuk ayah Seokjin, Sandeul memohon pamit sebelum memeluk dan menepuk pundak Seokjin untuk memberinya semangat. Saat siluet punggung sahabatnya sudah menghilang dari pandangan, Seokjin membuka gerbang besi rumahnya, ia menarik nafas dalam sebelum akhirnya masuk ke pekarangan luas rumah mewah itu.
"Appa, aku pulang." Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang menyambut Seokjin, "Ahjuma?" ia mencari sosok wanita paruh baya yang biasa mengurus rumah ini seraya melihat sekeliling ruang tengah rumahnya yang terlihat masih sama seperti saat pertama kali ia tinggalkan.
Sebelum pergi, Seokjin sudah memberi tahu sang ayah akan kepulangannya, dan ayahnya bilang ia akan ada di rumah saat putranya pulang. Namun Seokjin tidak menemukan sosok ayahnya dimana pun, "Apa mungkin Appa masih di kamar?" ia melangkah melewati ruang tengah dan menuju kamar ayahnya. Sebelum Seokjin mengetuk pintu kayu mahoni di depannya, keluar sesosok laki-laki paruh baya yang tidak ia kenali.
"Ah? Apa kau putra Kyuhyun-ssi..? Hm, Seokjin-ssi?" Seokjin menatap heran pria paruh baya di hadapannya, ia membungkukkan badannya sopan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua, "Ya," ia mengangguk sekali, "maaf, anda siapa?" Meskipun pria asing di depannya ini seperti sudah mengenal ayahnya, banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Seokjin saat ini, siapa pria ini? Kenapa ia keluar dari kamar ayahnya? Ada perlu apa ia dengan ayahnya?
"Aku Dokter Song, dokter pribadi ayahmu." Dokter? Apa ayahnya sakit?
Seokjin mengangguk paham, kedua alisnya bertaut dan telapak tangannya berkeringat, "Apa... apa ayahku sakit?" Dokter Song menghembuskan nafas beratnya, membuat aliran darah di leher Seokjin berdesir, "Maaf 'kan sikap ku yang tidak sopan ini, tapi," pria paruh baya itu menggeser tubuhnya, ia menepuk lengan Seokjin pelan seolah menyuruhnya untuk segera masuk, "kau akan tahu setelah melihat keadaannya di dalam."
Seokjin tidak curiga, ia tidak curiga sama sekali saat masuk ke kamar ayahnya. Tetapi saat Seokjin melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia seolah mendapat tamparan keras, kedua matanya membelalak, ia berusaha tidak mempercayai apa yang ia lihat.
Disana sang ayah tergeletak lemah, dengan alat-alat medis yang seolah melilit di sekujur tubuhnya untuk menopang hidup seorang pria yang Seokjin sendiri tidak yakin, apa memang sosok yang terbaring disana adalah ayahnya?
"Seokjin? Apa itu kau?" Dan memang benar, suara yang memanggilnya dengan lirih itu adalah suara Kim Kyuhyun, nafas ayahnya terdengar tersengal, "Appa?" Seokjin berbisik seraya mendekati ranjang ayahnya, "Apa yang terjadi?" Suaranya bergetar saat ia melihat sosok ayahnya dari dekat. Tubuh renta itu terlihat 'tak mempunyai harapan'.
"Duduk 'lah." Seokjin mengambil nafas dalam, sebelum ia meninggalkan kota ini, meninggalkan ayahnya untuk pindah ke tempat di mana sang ibu dilahirkan, sang ayah terlihat baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda bahwa beliau akan jatuh sakit sampai separah ini. "Apa yang terjadi padamu?" Seokjin memang tidak diperlakukan begitu 'baik' oleh ayahnya saat ibunya meninggalkan mereka, namun ia tetap 'lah ayah kandungnya, orang yang membesarkan dan merawatnya, satu-satunya keluarga Seokjin yang tersisa.
"Seperti yang kau lihat, aku sudah tua." Dengan tawa getir sang ayah berucap, "Kau terlihat lebih sehat dibanding sebelum kau meninggalkan kota ini Seokjin-ah." Seokjin tindak menjawab, kedua tangannya bertaut di paha dan kepalanya menunduk, tidak tega melihat ayahnya yang biasanya selalu terlihat tegas dan serius itu nampak begitu rapuh dan tak berdaya.
"Sebenarnya aku tidak ingin kau melihat keadaanku yang seperti ini." Ia mendongak, dengan sebelah tangan yang gemetar ia menggenggam tangan rapuh ayahnya tanpa bicara sepatah kata, "Kau memang mirip ibumu, bahkan sentuhanmu terasa sama dengannya." Seokjin mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan linangan air mata yang siap mengalir di pipinya yang putih.
"Kenapa appa tidak bilang padaku lebih awal kalau appa sakit?" Seokjin berpikir, setidaknya ia bisa merawat dan menemani ayahnya disini, meskipun ia juga sakit, tapi saat ada anggota keluarga yang menderita seperti ini, support dari anggota keluarga yang lainnya adalah hal yang penting, terlebih lagi Seokjin adalah putra kandungnya sendiri.
"Aku mengizinkanmu pindah karena selain demi kesehatanmu juga karena kondisiku," Satu tetes air mata jatuh di pipi kiri Seokjin, "aku tidak ingin melihatmu sedih saat aku tidak ada." Tidak. Seokjin tidak mau mendengarnya. Tuhan sudah memanggil ibunya dan jika ayahnya juga pergi, Seokjin akan sendirian.
"Kau akan baik-baik saja." Ia merasakan remasan tangan sang ayah pada tangannya, wajahnya kembali menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang siap jatuh kapan saja, "Seokjin, dengarkan aku." Seokjin tidak bergeming, apapun yang dikatakan ayahnya selajutnya, Seokjin tidak akan menanggapinya jika beliau mengatakan sesuatu seolah ia akan meninggalkannya.
"Ini tentang ibumu dan... Jaehwan." Dengan mata yang membulat lebar, Seokjin mendongak kembali, menatap lurus pada iris lemah ayahnya.
"Apa maksudmu?"
"Dari apa yang kau alami, sepertinya kau sudah tahu siapa Jaehwan sebenarnya." Seokjin menatap shock pada ayahnya, jadi memang sang ayah sudah tahu dari awal siapa Jaehwan sebenarnya. Ayah Seokjin masih menunggu respon putranya, dan Seokjin hanya membalas dengan anggukan pelan.
"Seokjin, maafkan aku, dari awal ini adalah salahku." Seokjin menunduk dan hanya diam mematung dalam duduknya, menunggu kejelasan lebih jauh dari kalimat yang ayahnya lontarkan. "Aku telah menutupi semuanya darimu." Tidak ada tanggapan yang berarti dari Seokjin, namun ia sepenuhnya mendengarkan.
"Dengarkan aku baik-baik."
"Ibumu, Yoonjin, tidak meninggal karena penyakit jantung bawaan yang juga diderita olehmu," tubuh Seokjin menegang dan bahunya tegak lurus, ia seketika menoleh pada ayahnya, "Ia dibunuh." Seolah atap yang ada diatas kepalanya runtuh saat ayahnya mengatakan hal itu pada Seokjin, ia terbata, hendak mengatakan sesuatu, "Memang sulit dipercaya, namun itu 'lah kenyataannya, Seokjin." Kedua bahunya melemas, genggaman tangannya pada sang ayah kian melemah dan akhirnya terlepas.
"Apa maksud appa? Siapa yang membunuh eomma?" Satu tetes air mata mengalir dengan cepat dan langsung jatuh turun ke paha Seokjin sendiri, ia ingin menanyakan rentetan pertanyaan yang menjanggal hatinya saat mendengar ucapan sang ayah, seolah tak ingin mempercayai apa yang ayahnya katakan.
"Mereka yang membunuh ibumu, adalah kaum yang sama seperti Jaehwan." Kali ini tetesan kedua, mengalir lembut di pipi pucat Seokjin, membasahinya dengan jejak air mata. Seokjin tahu, ia harus kuat menerima kenyataan yang selama ini disembunyikan ayahnya darinya, namun tetap saja, emosinya tak terbendung saat mendengarnya, perasaannya campur aduk.
"Dari mana appa tahu tentang hal ini?" Tanya Seokjin, karena ia merasa perlu mengetahui hal ini.
"Sandeul adalah saksi dari pembunuhan itu." Pupil mata Seokjin melebar, ia masih menatap kaget ayahnya yang sama sekali tidak berbalik menatapnya, "Seokjin, tidak 'kah kau bertanya-tanya mengapa Sandeul tidak pernah mengunjungimu setelah ibumu meninggal padahal ibunya berkerja di rumah sakit tempat kau dirawat?" Tentu saja Seokjin pernah menanyakan hal itu, dan ia selalu merasa heran sampai sekarang. "Aku yang melarangnya, karena menurutku, apa yang telah ia lihat dapat mempengaruhimu." Seakan tidak kaget lagi dengan ucapan sang ayah, Seokjin hanya terdiam, ia sudah terlalu terbiasa akan sikap ayahnya yang seperti ini, menutupi segalanya dari putranya yang sakit-sakitan untuk melindunginya.
"Aku yakin mereka akan menargetkanmu juga." Sejujurnya Seokjin tidak begitu peduli jika ia menjadi target atau apapun itu, ia bertanya pada ayahnya setelah berusaha menenangkan diri, "Mengapa mereka membunuh eomma?" Sang ayah terdiam dan Seokjin masih menunggu.
"Ibumu adalah salah satu korban dari kejadian mengenaskan yang pernah terjadi disana." Kedua bibir Seokjin mengatup rapat, ia tak menyangka akan kebenaran yang selama ini ditutupi darinya. "Ibumu ditemukan tewas bersama seseorang." Tatapan Seokjin kosong, kedua bola matanya kian memerah, "Aku mengenal orang itu, ia adalah orang yang spesial bagi ibumu."
Orang yang spesial? Apa maksudnya?
Seokjin hendak menanyakan hal itu, namun suaranya seolah tertelan begitu saja, ia masih terlalu shock. "Sebelum bertemu denganku, ibumu memiliki sosok yang spesial di hatinya." Perkataan sang ayah berhasil membuat Seokjin menoleh ke arahnya, "Ibumu memiliki ikatan dengan orang itu yang tak bisa kutembus." Ekspresi shock di wajah Seokjin berubah menjadi raut wajah yang penuh akan tanda tanya.
"Orang itu, sama dengan Jaehwan." Otak cerdas Seokjin dengan cepat memproses kata-kata ayahnya, ia mengerti apa yang dimaksud sama oleh ayahnya. Orang special bagi ibunya adalah seorang werewolf.
Namun Seokjin berpikir keras dalam benaknya, kata-kata yang pernah ia dengar dari Jungkook tentang mate dan kata-kata yang diucapkan ayahnya barusan seolah tersambung, menjadi sebuah kesimpulan. 'Ikatan yang tidak dapat ditembus? Ikatan eomma dengan seroang werewolf?'
Seokjin menyimpulkan, Ibunya yang seorang manusia adalah mate dari seorang werewolf.
"Meskipun ibumu menikah denganku, tapi hatinya tak sepenuhnya milikku." Seokjin bisa merasakan kesedihan sang ayah, ia kembali meraih tangan ayahnya dengan gerakan lembut, "Appa..." Bisiknya, ia kembali terisak pelan.
"Namun ini tak sepenuhnya salah ibumu,"
disela nafasnya yang tersengal, ayah Seokjin tetap melanjutkan kisahnya, "aku telah merebut ibumu dari kekasihnya, namun aku yakin, ibumu menerimaku bukan karena sebuah paksaan." Isakan Seokjin perlahan berhenti, ia menarik nafas dalam, menelan kembali rasa sedih yang tidak nyaman didadanya.
"Ibumu sadar kalau ia tidak bisa bersatu dengannya, karena hukum mereka yang melarang hal itu." Bahu Seokjin kembali menegang, ia menggeleng pelan, apa yang dialami ibunya sama dengan apa yang dialaminya saat ini, ia teringat akan sosok Namjoon.
"Tidak ada hukum yang mengatakan hal itu." Seokjin menggumam, namun ayahnya masih bisa mendengarkannya, dengan helaan nafas berat, sang ayah menyanggah ucapan putranya, "Jin, mereka membenci manusia, mereka tidak akan membiarkan manusia berjodoh dengan kaum mereka, apalagi memiliki keturunan darinya, karena hal itu dianggap najis oleh mereka." Seokjin tahu hal ini, Namjoon pernah bilang padanya tentang mereka yang membenci manusia tapi tidak semua werewolf seperti itu.
Seokjin yakin, kematian ibunya adalah karena waktu dan tempat yang salah. Dan ayahnya tidak mengerti akan hal itu.
"Appa, aku bertemu dengan seseorang disana, aku jatuh cinta padanya." Senyuman Seokjin kembali hadir di wajah pucatnya saat ia kembali memutar memori kebersamaannya bersama Namjoon dan teman-temannya, jejak air mata itu masih ada, namun rasa bahagia kembali mengisi benaknya.
Diam. Ayahnya hanya diam, dan Seokjin berusaha membaca ekspresi ayahnya namun hanya tatapan datar dari sang ayah yang ia dapatkan.
"Apa dia juga berbeda?" Seokjin tersentak saat ayahnya membuka suara, tanpa berkata apa-apa, ia hanya mengangguk pelan. "Kukira kau akan berjodoh dengan Jaehwan." Seokjin terdiam.
"Ibumu pernah menolong Jaehwan," Kali ini sang ayah menoleh padanya untuk menatap langsung kedua bola mata putranya, "setidaknya itu yang ia katakan padaku." Kedua bola mata Seokjin mengerjap bingung, jadi Jaehwan sudah mengenal lama ibunya?
"Dulu, Jaehwan bilang ibumu adalah sosok ibu yang sempurna," Seokjin tenggelam dalam tegunannya, jadi memang Jaehwan juga berasal dari sana? Dari tempat di mana ibunya, kawanan Namjoon, dan Sandeul dilahirkan.
"Jaehwan ingin membalas budi pada ibumu, dan ia bilang padaku kalau ia ingin melindungimu, Seokjin." Tubuh Seokjin sedikit tersentak, pandangannya beralih pada cincin perak di jari manis kirinya, cincin pertunangannya dengan Jaehwan masih terpasang indah disana. "Tentu saja aku menganggapnya omong kosong belaka saat itu," Sang ayah sempat berpikir, apa yang bisa anak semuda itu lakukan untuk melindungi putra semata wayangnya?
"Seorang pemuda yang entah datang dari mana, mengaku bahwa ia
mengenal mendiang istriku," Ayah Seokjin menerawang mengingat kembali pertemuannya dengan Jaehwan muda saat itu, "aku mempercayai perkataannya saat ia menceritakan tentangmu, dulu, ibumu sering bercerita padanya." Seokjin kembali menunduk, ia tak tahu bagaimana caranya menanggapi apa yang ayahnya katakan.
"Dan Jaehwan mengaku padaku, kalau ia bukan manusia biasa." Sang ayah menghela nafas untuk kesekian kalinya, sebelum akhirnya melanjutkan, "Ia bilang padaku, kalau kau bisa saja menjadi target pembunuhan mereka selanjutnya. Aku tak tahu apa maksudnya, tapi aku cukup ketakutan saat mendengarnya."
"Itu sebabnya aku memanfaatkan Jaehwan, aku menyekolahkannya hingga ke luar negri, dan setelah ia siap, aku mengenalkannya padamu sebagai seorang dokter," Seokjin ingin menangis lagi saat itu juga, ia ingin memprotes tindakan sang ayah bahwa dengan memanfaatkan Jaehwan hanya akan menyakitinya, "aku berpikir bahwa, ia bisa melindungimu karena aku sendiri tidak akan sanggup melindungimu dari mereka."
"Kenapa... appa tidak bilang apa-apa padaku?" Dengan helaan nafas pelan dan suara yang datar ayahnya menjawab, "Karena kurasa itu tidak diperlukan, kau hanya perlu fokus pada kesembuhanmu." Ini 'lah yang Seokjin tidak sukai dari ayahnya, beliau selalu menutupi hal-hal penting dengan alasan agar Seokjin fokus pada kesembuhannya dan juga ia tidak ingin menambah beban pikiran putranya.
"Jaehwan jatuh cinta padamu Seokjin." Seokjin tahu hal itu, dan kenyataan itu membuatnya sedih, ia sedih karena ia tak bisa membalas perasaan Jaehwan dan hal itu menyakitinya juga.
"Aku tak mengira kalau Jaehwan akan melukaimu." Seokjin menatap sayu sang ayah, ia hendak terisak saat mengingat kembali kejadian malam itu, "Apa yang membuatnya melakukan hal itu?" Ia menggeleng pelan, kedua mata Seokjin terpejam erat sebelum akhirnya terbuka kembali, "Kurasa, Jaehwan hyung marah karena sesuatu, tapi aku tidak tahu alasan pastinya."
"Seokjin, apa kau akan baik-baik saja?" Seokjin menghapus jejak air mata yang masih membekas dipipinya, ia mengangguk pelan dan menyunggugingkan senyuman tulus seraya berkata, "Aku punya Namjoon, aku akan baik-baik saja."
But, I Still Want You
Hoseok memperhatikan Taehyung, Jimin dan Jungkook yang bermain dalam wujud wolf mereka di atas rerumputan. Ia masih dalam wujud manusianya dan memandang dari teras rumah mereka. "Sudah tiga hari Seokjin hyung belum kembali." Sebelah tangannya menopang dagu, helaan nafas sesekali ia keluarkan, "Apa ia baik-baik saja disana?" Yoongi yang baru saja datang, duduk disebelahnya dan segera memeluk kedua lututnya, "Seokjin hyung akan segera pulang, ia sudah janji."
"Jungkook dan Taehyung sampai stress, untung ada Jimin." Yoongi mengacak rambut pirang-putihnya yang memang sudah acak-acakan, "Kalau mereka ingat Seokjin hyung lagi, mereka akan stress kembali."
Hoseok dan Yoongi sama-sama sadar, bahwa mereka semakin terikat dengan Seokjin, dan mereka yakin, tidak hanya Seokjin adalah mate dari alpha mereka, tapi mereka juga menganggap Seokjin sebagai bagian dari kawanan ini, eksistensi Seokjin bagaikan bagian yang mereka cari dan telah lama hilang, kelengkapan menyelemuti mereka saat Seokjin ada diantara mereka.
"Mana Namjoon?"
"Sedang ganti pakaian."
"Kukira ia yang akan stress saat Seokjin pergi, ternyata dia terlihat biasa saja." Yoongi menyendikan bahunya, ia menatap kebelakang, ke arah pintu ruangan di mana Namjoon sedang mengganti pakaiannya yang masih tertutup
"Ya, dia terlihat biasa saja, tapi kemarin dia memeluk Jungkook tiba-tiba dari belakang karena mengira ia adalah Seokjin." Hoseok menutup mulutnya untuk menahan tawa, ia juga ada disana, saat Jungkook terlihat menggila karena Namjoon mendadak memeluknya.
"Ah? Apa sudah ada pergerakan dari kawanan Hakyeon?" Yoongi menoleh pada Hoseok, mereka bertukar pandang. "Belum." Werewolf yang lebih tua itu menggeleng, ia melepaskan pelukan dilututnya untuk merenggangkan kakinya. "Mereka tak terlihat dimanapun."
"Sebentar lagi festival itu akan dimulai." Kali ini Hoseok menatap lurus adik-adiknya yang berguling-guling dibawah pohon, "Bagaimana jika mereka muncul disana?" Yoongi mengepalkan kedua tangannya, masih dalam wajah datar, ia berucap, "Kita tidak akan membiarkan itu terjadi."
to be continued
[A/N] aduh drama banget nih ff, makin gaje ya? jadi pengen mengubur diri hahahaha reader-nim, masih sudi 'kah kalian membaca ff ga jelas ini? huhuhuhu
special thanks to : yianitalifa, lingbius93, minshootinguard, syoosh, noonim, Nury630, guest#1, csiwistika, QnQueen, guest#2, goldenaidakko, dncrdng, Nitnaatin, dan untuk Hanna Shinjiseok, terima kasih banyak atas review beruntunnya, maaf saya tidak mencantumkan nama kamu di chap sebelumnya karena reviewnya belum terbaca oleh akun saya, Terima Kasih Banyak ff ini sudah mencapai 100 review huhuhu saya kira ga akan sampe segini TT terharu banget sumpah~ i purple you guys so much
P.S : maaf kan saya, saya lupa nambah keterangan hahaha ada yang ngira saya namja, saya 100% yeoja kok, umur saya baru 22 hehehe saya menolak dipanggil eonnie karena suatu alasan, saya trauma TT dulu orang yang deket banget sama saya sering manggil kaya gitu, tapi akhirnya dia malah nusuk saya dari belakang, jd kalo ada yang manggil 'eonnie' suka keinget hahahaha aduh maaf drama banget sih saya /sujud/ terserah reader-nim mau panggil saya apa aja ngga apa-apa kok, senyaman kalian aja, kalian sudah saya anggap keluarga sendiri uwu
sampai jumpa di chapter depan~ (kalo masih ada yang nungguin wkwkwk)
review juseyo~
