"Aku hamil. 7 Minggu. Aku rasa Chanyeol lupa akan hal itu."

Jika sebuah ucapan bisa menjadi senjata, mungkin sekarang aku sudah mati dalam satu tusukan.

Tepat mengenai jantungku.

Aku merasa mati rasa saat ini juga.

Tapi aku bukan tipikal orang yang tidak tahu diri. Aku memberi selamat. Dengan berat hati.

"Oh, Selamat atas kehamilanmu, Tzuyu."

Aku melirik ke arah Chanyeol.

"Kau tidak memberi tahuku tentang ini, Chanyeol?"

"Ehm—aku berniat memberi tahumu, Baek. Tapi aku rasa aku lupa." Dia gugup.

Shit, apa sesuatu membentur kepalamu, Yeol? Ini adalah hal penting dan kau menyembunyikannya dariku. Sial. Aku ingin menendang selangkangannya sekarang.

Aku memandang Chanyeol penuh dengan pertanyaan dan tatapan membunuh. Kita bertiga terjebak dalam keterdiaman. Ratusan pertanyaan seolah mencekik tenggorokan Chanyeol bahkan untuk berkata-kata.

Satu menit berlalu dalam keheningan dan kecanggungan, Tzuyu membuatku tersentak saat dia berdiri dengan kasar mengangkat piringnya. Aku berdiri mencoba membantu tapi itu tidak berhasil. Aku menumpahkan Wine mahal yang baru pertama kali aku minum itu di meja cantik miliknya.

Oke. Byun Baekhyun yang ceroboh.

Tzuyu merengek dan berteriak. Lihat, moodnya bahkan lebih buruk saat hamil, lebih buruk dari milikku.

Chanyeol berusaha membantu tapi dia memperburuk keadaan. Chanyeol mengumpat didepan wanita yang sedang hamil 7 minggu dengan mood yang amat sangat buruk. Oh sayang, itu sebuah kesalahan.

"Oh Fuck." Satu umpatan lagi keluar dari bibir tebal Chanyeol, dan kami bertiga mematung.

"Chanyeol, sial, jaga bahasamu! Kenapa kau tidak bisa memakai bahasa yang lebih halus, brengsek?" Tzuyu lagi lagi memekik. Oh lihat, dia menangis dan menarik taplak meja cantiknya, dan seluruh benda tak berdosa diatas meja terbanting ke lantai.

DramaQueen.

Aku ragu apakah itu efek hormon karena dia sedang hamil atau memang dia seorang psikopat gila yang memiliki alter ego. 30 menit tadi dia masih jadi putri ayahnya yang manis. Dan lihatlah sekarang, dia bahkan lebih menyeramkan dari ibu tiri Rapunzel. Geez.

Dan lihat, setelah semua benda berserakan dilantai, dia tertawa seperti orang gila. Aku yakin gadis satu ini memang mempunyai alter ego.

"Lihat, lihatlah Chanyeol. Apa yang telah aku lakukan karena dirimu?" Dia masih tertawa dan itu mengerikan.

Chanyeol disebelahku hanya diam. Menatap Tzuyu dengan pandangan 'hei? Aku bahkan tidak menyentuhmu dan kau menyalahkanku atas kekacuan ini?

Poor Chanyeol.

"Tak apa, semua akan baik-baik saja." Lihat kali ini dia tersenyum, kembali dalam mode Tzuyu-anak-gadis-ayah-yang-manis.

Alter Ego yang mengerikan.

...

2 jam setelah kejadian paling canggung di hidupku, aku, Chanyeol, dan Tzuyu telah berada disebuah pesta peluncuran buku milik teman Chanyeol, atau mungkin teman Tzuyu, entahlah aku tidak terlalu peduli.

Yang aku tau dia bernama Jackson, seorang profesor muda aku rasa. Dia tampan, dan seksi.

Aku tidak berpikir akan mengadiri sebuah pesta formal, aku tak menyiapkan satu setelan jas atau tuxedo. Jadi, disinilah aku dengan sebuah kemeja berwarna pink pastel dengan sebuah celana kain hitam panjang, aku sedikit mengenakan makeup. Aku hanya tidak ingin terlihat seperti gembel diantara rekan Chanyeol.

Aku berdiri ditengah ruangan, seorang diri dengan sebuah gelas berisi wine di tangan kiriku. Aku seperti orang asing karena ya, aku memang orang asing disini, aku bahkan tidak mengenal siapapun disini, kecuali Tzuyu dan Chanyeol yang berdiri 3 meter jauhnya dariku, berbincang dengan rekan mereka.

Aku akan menangis jika saja aku tak ingat umurku saat ini. Chanyeol mengabaikanku, seorang diri ditengah orang asing yang aku sama sekali tidak tahu mereka berbicara apa. Aku memutar mataku, mengalihkan pandanganku pada apasaja selain Chanyeol yang 3detik lalu melirikku dari ujung matanya.

"Hei?" Aku berbalik dan itu Chanyeol yang sudah ada dibelakangku entah sejak kapan. "Maafkan aku mengabaikanmu, Baek."

Aku hanya mengangguk. Dibelakang Chanyeol, Tzuyu berlari kecil dengan dress ketatnya ke arah kami berdua. Oh tak bisakah kau membiarkan aku dan Chanyeol hanya untuk 5 menit?

"Sayang, ada Dr. Pilss , kau harus menyapanya." Dia merengek dan menarik narik ujung lengan jas milik Chanyeol.

Oh Tuhan, butakan mataku. Aku benci dengan gadis dramaqueen ini.

Chanyeol memutar pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Tzuyu dan kembali memandangku. Aku memberinya sebuah tatapan ' Tolong, jangan tinggalkan aku atau aku akan mati' padanya.

"Uh, sebentar, sayang, oke?" Chanyeol mencoba mengelak. Terlihat gusar. Aku rasa tatapanku terbaca olehnya.

"Tapi dia Dr. Pills, Chanyeol. Kau harus menyapanya!" Tzuyu melepaskan tangannya dari tangan Chanyeol. Dia beralih menatapku dan tersenyum kaku. Seolah mengusirku hanya dengan tatapannya.

"Dia benar Chanyeol, pergilah. Aku akan menunggu disini." Aku bahkan tidak memandang Chanyeol saat mengucapkan ini. Lihat? Byun Baekhyun berhati malaikat. Menjadi tau diri dengan tidak menginvasi sahabatku dari gadisnya dan masa depannya.

"Ayo pergi."

Chanyeol berbalik dengan enggan, Tzuyu disebelahnya menarik dengan posesif.

Jika kalian mengira aku akan menunggu Chanyeol selesai menyapa rekan atau apapun itu, kalian salah.

"Heol, apa kau terlalu takut jika Chanyeol berbalik darimu, cantik?" Pikiranku seolah berputar dan memakan kesadaranku.

Tzuyu dan Chanyeol—dan beberapa orang disekitar kami—berbalik dan menoleh kearahku. Tzuyu disana, dengan penuh emosi dia seolah membunuhku hanya dengan sorot matanya.

Sebuah kenyataan baru saja menamparku telak. Bodoh, apa yang baru saja aku katakan?

Oh Tuhan. Apa yang aku lakukan disini? Tak seharusnya aku berada disini dengan semua omong kosong ini. Tidak seharusnya aku datang ke sini. Chanyeol dalam hitungan mundur akan menjadi seorang daddy untuk bayinya dengan Tzuyu. Aku seperti sebuah parasit dalam hubungan mereka.

Aku rasa aku tidak bisa lagi berada disini.

Aku berjalan keluar dengan sebuah mantel berwarna cream memelukku. Chanyeol berlari dibelakangku. Dia mengejarku setelah tanpa sopan santun aku membuat gadisnya emosi ditengah sebuah pesta sahabatnya.

"Ya, Baeki, Baek?"

Aku menulikan pendengaranku, untuk kali ini saja. Aku akan mengacuhkan Park Chanyeol.

"Baeki, kau mau kemana? Hei?" Chanyeol masih mengejarku dan berteriak seperti orang gila

"Aku akan kembali. Aku ingin pulang ke korea." Kakiku seakan kaku bahkan untuk terus berjalan menjauhinya.

Chanyeol berhasil menarik lenganku. Dia membuatku berbalik dan menatapnya.

"Hei, ada apa?" dia kehabisan nafas karena mengejarku.

"Ini semua terlalu berlebihan untukku, Yeol. Kau tau, aku seperti masuk kedalam hubunganmu dengan Tzuyu." Kita berdua sama sama kehabisan nafas karena emosi.

"Hei, hei, semuanya baik-baik saja, sungguh."

Apa? Baik-baik saja? Oh, aku senang bahwa kau baik baik saja, tapi aku tidak. Oke? Aku bahkan berputar dalam omong kosong harapanku sendiri.

"Apa? Apa itu baik-baik saja saat aku membuatmu tidak pulang semalam, sedangkan kekasihmu dirumah menanti kelahiran bayi kalian?" Dan aku bahkan tidak tau sedikitpun tentang ini, Yeol.

"Oh ayolah, Baek, tidak ada yang terjadi, oke. Kita hanya bersenang-senang saat itu."

Jadi, hanya sebuah kesenangan yang tidak berarti? Apa meniduri sahabat gaymu adalah sesuatu yang kau anggap sebelah mata?

"Wow, jadi hanya itu, jadi hanya karena kau ingin bersenang senang, oleh karena itu kau mengundangku kemari? Membuatku terbang ratusan mill hanya untuk ini?"

Aku menarik nafasku panjang. Ini adalah kesalahan. Aku hanyalah seorang dari masa lalu Chanyeol. Aku sudah tidak berarti apapun.

"Hei, aku merindukanmu dan ingin melihatmu. Apa aku salah jika mengundangmu kemari? For God Sake, kau itu teman baikku, Baek."

Aku bahkan hampir tersedak oleh pikiranku sendiri, menahan seluruh emosi dan air mataku karena semua yang aku lakukan hanya untuk membuatnya merasa senang? Oh Tuhan, apa ini benar sahabatku? Dan dia hanya berdiri disana, kehabisan nafas mencoba mencari berjuta alasan bodoh yang lainya.

"Apa aku masih teman baikmu, saat kau bahkan tidak memberi tahuku tentang kehamilan Tzuyu? Kau sungguh menyedihkan, Yeol." Suaraku lirih bahkan hampir habis diujungnya,

"Oke, dengar. Aku hanya ingin kau datang kemari, Baek. Kau tau, kau hampir tinggal disini, maksudku, hampir saja kita bersama sama membangun seluruh impian impian kita. Tapi karena kenaifanmu, semua itu hancur, Baek."

"Kenaifan? Jadi, maksudmu kau menyesali kenaifanku? Karena kenaifanku, Taehyung ada didunia ini Yeol. Asal kau tau, meskipun Taehyung ada didunia ini karena kenaifanku, aku tidak pernah menyesalinya. Kau bahkan menawarkan dirimu dengan suka rela untuk menjadi walinya."

Oh bagaimana aku bisa menyesali keberadaan Taehyung? Dia sangat luar biasa. Dan anehnya, Taehyung selalu mengingatkanku dengan Chanyeol daripada dengan ayah kandungnya, Daehyun. Aku rasa itu karena aku mencintai Taehyung sebanyak aku mencintai Chanyeol.

Sebuah kenyataan baru saja menamparku dengan teramat jelas. Aku mencintai sahabatku, Park Chanyeol.

"Lihatlah aku!" Aku menatapnya. "Apa yang kau pikirkan pertama kali saat melihatku? Kau akan berpikir bahwa kehidupanku kacau, tapi apa kau tau, kau yang lebih kacau disini, Yeol." Mataku mulai berarir. "Kau tau, Yeol? Kau bahkan hanya seorang pecundang yang bertekut lutut di bawah kaki pacarmu, menjadi seorang penjilat hanya untuk keberhasilan karirmu? Kau tak lebih buruk dariku. Kau berantakan, Yeol."

"Pecundang?" Dia menatapku tepat pada kedua mataku. "Baiklah, mari kita lihat apa yang kau sebut dengan pecundang. Apartemen mewah, karir didepan mata, teman teman yang baik, pacar yang cantik, dan oh, apa kau tau, aku dan pacarku sedang menantikan kelahiran bayi yang nantinya akan punya orang tua yang utuh. Bukan orang tua tunggal."

Kalimat terakhir Chanyeol berpindah dari pendengaran ke dalam otakku, berjalan pelan menuju hatiku. Tepat. Meremas seluruh nadiku. Aku tidak ingin peduli. Tapi itu semua seperti menamparku dengan keras.

Dia disana, memandangku dengan perasaan bersalah. Dia berulang kali mengucapkan maaf, tapi itu semua hanya sebuah ucapan. Aku bahkan tidak yakin aku bisa mendengar dengan jelas. Aku hanya tidak mengerti. Apa dia disana benar benar merasa menyesal? Atau hanya untuk merasa lebih baik karena menyakitiku?

Apa yang terjadi setelahnya adalah sebuah kebingungan. Aku tidak bisa bergerak, bahkan untuk bernafas.

Aku menatap pada kedua matanya. Dari seluruh orang yang aku kenal, aku menganggap chanyeol adalah orang yang paling berarti dihidupku. Dia, Park Chanyeol, adalah poros duniaku. Aku bahkan bisa melihat dunia dari kedua manik matanya. Tapi kali ini aku tidak begitu yakin.

Dan untuk pertama kalinya, aku yakin Park Chanyeol sudah tidak berarti lagi di hidupku.

...

Pukul 1 dini hari aku berjalan menuju bandara. Aku memesan tiket penerbangan ke Korea selatan yang paling mendekati saat ini, dan yang paling murah. Dan aku dapat. 3 jam lagi aku akan berangkat ke Korea selatan, meninggalkan semua kenangan dan impian ku bersama Chanyeol. Aku tidak peduli dengan semua barangku di apartemen Chanyeol. Aku meninggalkannya, dan aku beruntung paspor dan semua yang aku butuhkan ada ditas kecil di tanganku.

Aku meraih sebuah kertas yang lusuh karena terlipat. Disana ada gambar yang Taehyung buat.

Aku bahkan belum sempat membuat Chanyeol melihat itu. Membuatnya kagum pada Taehyung.

Aku membangun sebuah tembok harapan untuk Taehyung. Membuatnya berharap bahwa aku akan membawa daddy—walinya pulang saat ini. Tapi semua itu hancur dalam satu helaan nafas. Semua yang aku bangun seperti luluh lantah. Dan dengan bodohnya kepada sahabat terbaikmu, kau jatuh cinta kepadanya.

Aku melihat diriku sendiri. Merasa sangat buruk.

Kalian tau apa yang lebih buruk dari mencintai sahabatmu sendiri? Itu adalah saat kau cemburu dengannya.

Kau cemburu karena dia menukar kehidupannya untuk orang lain dan bukan untukmu. Bahkan semua itu terasa lebih menyakitkan saat dia dengan sukarela menukar harga dirinya dan menjadi seorang yang tak lagi kau kenali.

Semuanya telah rusak. Persahabatan dan juga hati milik kami berdua.

...

15 jam setelahnya, aku sudah sampai di Incheon.

Luhan dan Taehyung menjemputku di bandara.

Aku melihat Taehyung yang berlarian ke arahku. Luhan disana dengan senyuman paling menenangkan—setelah Chanyeol.

Oh ya, dia menyakitiku dengan kejam, bukan dalam artian dia memang membuat luka secara fisik, itu lebih kepada membuatku merasa sangat buruk karena menjadi orang tua tunggal.

Dan kenapa aku harus peduli dengan itu?

Aku hanya harus membangun sebuah tembok baru, bukan harapan, untuk Taehyung kecilku.

Aku harus melanjutkan hidupku. Chanyeol tak lagi berarti apapun untukku.

...

Sehari berlalu, harusnya aku masih dalam masa cutiku, tapi aku memutuskan untuk membatalkan itu. Kehidupan tidak akan berhenti hanya karena kau patah hati. Anakku masih butuh makan, dan aku membutuhkan uang untuk mencukupinya. Dan aku membutuhkan pekerjaan untuk itu.

Aku kembali pada aktifitasku, membersihkan pintu kaca dari hotel tempat ku bekerja.

Disana, disisi lain pintu itu, berdiri Daehyun.

For god sake, apa aku mulai gila? Apa aku terobesi dengan seorang pendamping hidup?

Oh ayolah, aku tidak akan berharap membayangkan Daehyun. Sangat tidak mungkin, setelah apa yang dia lakukan padaku. Meninggalkan benihnya didalam perutku dan hilang begitu saja.

Tapi dia memang Daehyun. berdiri disana dengan tux yang membungkus tubuhnya, seksi. Masih sama seperti dulu, hanya lebih seksi.

"Senang melihatku, dear?" dia membuka pintu itu.

"H—hey, apa yang kau lakukan disini?" sial aku bahkan tergagap didepannya. Apa yang kau harapkan Byun? Sebuah tanggung jawab? Ini bahkan sudah 5 tahun.

"Ehei, jangan seperti itu, manis. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku."

Shit. Darimana dia tau tentang Taehyung? Apa ini Jiyeon lagi? Dan apa itu ditangan kirinya sebuah corsage bunga?

"Aku melihat postingan SNS mu Baek, dan aku yakin bahwa gambar yang kau posting itu adalah gambar milik Taehyung."

"Oh tidak Daehyun, aku hanya memposting hal hal random, dan aku tidak bermaksud apapun." Aku mulai panik. Tidak, aku tidak tau jika gambar Taehyung yang aku posting di SNS akan berakhir seperti ini. Aku hanya ingin menyindir Chanyeol. Bukan Daehyun.

Aku mendorongnya keluar dari pintu hotel. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi aku tidak ingin ada keributan disini.

"Ayolah Baek, aku ayahnya. Aku ingin bertemu dengannya. aku bahkan langsung memesan tiket pesawat saat melihat foto Taehyung di SNS mu."

Wow?

"AYAH? Apa kau pikir kau layak disebut ayah? YA! Apa kau ada disana menjadi ayahnya saat dia bangun tengah malam karena sakit perut? Apa kau disana bahkan saat gigi pertanya tumbuh? Apa kau bahkan ada disana ketika dia berusia tri semester pertama di perutku? Kau tidak, Daehyun."

Tidak cukupkah dengan Chanyeol, dan sekarang Daehyun?

"Kau semakin cantik saat sedang marah, Baek."

Bajingan ini.

Aku berbalik masuk kedalam hotel dan dia membuntutiku dibelakang dan berhasil menarik lenganku pada langkahku yang ke lima. Memutar tubuhku menghadapnya.

"Baekhyun, aku minta maaf, oke? Aku tau aku menjadi seorang bajingan dengan menelantarkanmu saat itu. Tapi apa kau tau, tidak ada satu haripun dalam hidupku selama 5 tahun ini dimana aku tidak menyesal. Aku setiap hari membayangkan bagaimana rupa anakku, apakah dia mirip denganku atau denganmu ."

Persetan dengan mulut manisnya. Aku mulai frustasi dengan ini.

"Ayolah, Baek. Beri aku satu kesempatan untuk bertemu dengan ankku, apa aku harus merangkak dan memohon di kakimu agar kau memberiku kesempatan?"

Dia menjatuhkan lututnya dan bersimpuh di kakiku, memohon sebuah kesempatan layaknya gentleman.

Sialan, apa yang dia inginkan?

Aku tidak tahan dengan ini.

"Baiklah, satu kesempatan. Dan jika kau mengacaukannya, kau akan selesai, Jung Daehyun."

.

.

.

TBC.

Daehyun is back.

Terimakasih untuk review yang sudah masuk.

Huh, harusnya bisa lebih panjang dari ini. Aku minta maaf karena update yang lama, aku akan usahakan untuk update tiap minggunya. Dan berusaha untuk membuat cerita yang lebih menarik.

Aku mencintai kalian semua, to the yeol and baek.

Regard-

Parkbaekhy.